[FF] Trouble Maker – Chapter 24

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 24 : The Scary Experience
Bulan Desember tiba. Sekolah SM sibuk mempersiapkan berbagai pertunjukan untuk akhir semester nanti. Cuaca sering buruk, sehingga banyak kegiatan di luar gedung terpaksa dibatalkan.
“bahkan untuk berkebun juga tidak baik,” gerutu Changmin, kemudian melihat keluar jendela. “tanah begitu lembek sehingga tidak bisa digali.”
“bisa sih bisa tapi kau akan basah kuyup,” kata Sunny. “seharusnya kau cari kesibukan lain. Tapi mestinya kau akan sibuk menekuni buku-buku berkebunmu.”
Sunny bangga sekali menjadi Pengawas. Dilakukannya semua tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh kebanggaan. Diperhatikannya betul-betul bahwa anak-anak dibawah pengawasannya tidak ada yang melanggar peraturan. Dan kalau mereka datang padanya minta bantuan atau pertolongan, maka ia berusaha keras untuk bisa membantu, paling tidak dengan nasihat. Ia juga harus bertindak selalu bijak dan sabra, dan ini tak begitu sulit baginya, karena pada dasarnya ia memang anak yang bijak dan baik hati.
Taeyeon merasa sangat gembira Sunny menjadi Pengawas. Ia sama sekali tidak merasa iri, walaupun ia punya keinginan juga menjadi Pengawas. Lagi pula Sunny telah berada lebih lama darinya. Ia harus mampu menunggu gilirannya dengan sabar, walaupun sabar bukan salah satu sifat Taeyeon.
Taeyeon dengan tekun berlatih music, dan melatih duetnya dengan Kangta berkali-kali. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa bermain sangat bagus dibidang music. Mr. Shin sering memujinya.
“Taeyeon, kau berlatih terlalu rajin. Permainanmu sangat luar biasa baiknya semester ini.”
Taeyeon merasa bangga. Asha! Akan ditunjukkannya pada semua orang betapa pandainya dia bermain music. Kalau orangtuanya hadir, pasti mereka heran dan bangga melihat dia bermain duet begitu sulit dengan orang sehebat Kangta.
“kau tampaknya jadi terlalu sombong akan permainanmu, Taeyeon,” kata Kangta. Kangta kalau bicara memang selalu ceplas-ceplos, tidak pernah dipikir sebelumnya, kadang-kadang memang menyakitkan hati. “sayang sekali. Aku menyukai permainanmu. Tapi aku tidak suka kalau kau jadi sombong karenanya.”
“jangan bicara begitu, oppa,” kata Taeyeon, meluap amarahnya tapi ditahannya. “bukankah aku tidak berkata padamu bahwa kau juga sombong?”
“aniya. Sebab aku memang tidak sombong. Aku tahu benar aku punya bakat music. Aku tahu benar itu anugrah Tuhan, sesuatu yang membuatku bersyukur. Dan aku akan selalu menggunakan bakatku itu sebaik mungkin. Tapi aku tidak akan pernah menyombongkannya.
Taeyeon merasa tersinggung. Terutama karena ia tahu bahwa kata-kata Kangta ada benarnya. Ia memang sedikit besar kepala karena terlalu sering dipuji!
“tapi kenapa aku tidak boleh membanggakan kepandaianku,” pikir Taeyeon. “aku tidak memiliki bakat hebat seperti Kangta. Kepandaianku karena hasil jerih payahku, sudah selayaknya aku patut berbangga, bukan?”
Karena itu Taeyeon tetap saja merencanakan untuk memamerkan kepandaiannya pada pertunjukan akhir semester. Ia akan membuat semua orang kagum akan kepandaiannya memainkan piano. Tapi memang, siapa sombong akan terdorong, siapa angkuh akan jatuh, dan siapa takabur akan hancur. Taeyeon juga akan tahu itu, dengan cara yang cukup mengerikan.
Taeyeon, Yesung, Changmin, dan Amber telah merencanakan untuk pergi berkuda disuatu sore, sebelum waktu latihan olahraga. Sehun mendadak muncul dan minta pada Yesung agar ia juga diperbolehkan ikut.
“tidak bisa, Sehun-ah,” kata Yesung. “kuda yang biasa kau tunggangi pincang, dank au belum begitu bisa menguasai yang lain. Tunggu saja sampai kudamu sembuh.”
“oh, ayolah, biarkan aku naik kuda yang lain,” pinta Sehun. “kau kan tahu, aku sudah cukup bisa berkuda.”
“biarlah dia ikut, Yesung,” kata Taeyeon. “ia bisa naik Genie.”
“Tapi Genie hari ini agak aneh,” kata Yesung. “baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau keadaan Genie membaik jam 2 nanti, kau boleh ikut.”
Sudah jam 2. Ternyata Yesung belum berada di kandang. Yang lain sudah berkumpul. Taeyeon memasang pelana pada kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Dan Yesung belum juga muncul.
“aigoo..” keluh Taeyeon. “ini sudah jam 2 lebih 10 menit. Yesung kemana sih? Kita membuang-buang waktu saja.”
Sehun cepat berlari untuk mencari Yesung. Tapi beberapa menit kemudian ia telah kembali dan berkata bahwa ia tak bisa menemukan Yesung.
“geurae, kalau kita ingin berkuda, sebaiknya cepat berangkat,” kata Taeyeon. “bisa habis waktu kita nanti.” Ia memanggil pengurus kuda.
“Hey, Tao! Bolehkah aku memasang pelana Genie? Apa Genie sudah baik?”
“dia tampaknya agak gelisah,” sahut Tao. “lihat saja sendiri.”
Taeyeon pergi ke kandang Genie. Kuda kecil itu segera menciumi tangannya. Taeyeon menggaruk-garuk hidung Genie dan berpikir, “sepertinya kuda ini baik-baik saja.” dan ia berkata pada Sehun, “kurasa kuda ini sudah baik, Sehun-ah. Baiklah kupasangkan pelanamu. Aku yakin Yesung akan berkata bahwa kau boleh menungganginya.”
Cepat-cepat Taeyeon memasang pelana pada Genie, dan Sehun langsung melompat kepunggung kuda itu. keempat anak itu tak lama kemudian sudah berkuda di padang rumput.
“kita tak punya banyak waktu!” seru Taeyeon. “tinggal 20 menit! Setelah sampai di bukit, kembali lagi saja!”
Mereka berderap di jalan yang menuju ke bukit. Dan terjadi sesuatu!
Ketika mereka menikung, dari arah depan ternyata sebuah mesin penggilas muncul, menderu-deru dan menderam-deram. Genie melonjak ketakutan. Sehun mencengkram kendalinya.
Cepat-cepat Taeyeon memajukan kudanya, mencoba menyambar kendali Genie. Tapi Genie mengibaskan kepala, meringkik keras dan melesat memasuki sebuah gerbang yang terbuka kearah sebuah padang.
Dan Genie melarikan diri! Ketiga anak yang tertinggal itu sesaat ternganga ketakutan, kasihan sekali Sehun! Dibawa lari Genie, berpegangan erat-erat ketakutan, sementara kudanya bagaikan gila berlari menyebrangi padang berbatu menuju bukit.
“akan kukejar dia!” teriak Taeyeon. Dibelokkannya kudanya, berpacu cepat memasuki padang. Ia berteriak pada kudanya, ia menepuk punggung kuda itu. dan sang kuda mengerti ia harus mengejar Genie yang lari tak terkendali itu.
Menyebrangi padang berbatu itu Taeyeon terus mengejarnya, sementara Changmin dan Amber terpaku ketakutan. Dikejauhan Genie juga terus berpacu, membawa Sehun dipunggungnya.
Kuda Taeyeon jauh lebih besar dan lebig cepat daripada Genie. Dan ia pun sangat senang berlari cepat. Kakinya mengepak keras membuat kerikil beterbangan. Dan Taeyeon terus saja membujuk agar ia berlari lebih cepat lagi! Untunglah ia cukip pandai berkuda dan ia sangat mempercayai kudanya. Mereka berpacu terus, dan makin lama makin dekat dengan Genie.
Saat itu Genie sudah mulai terengah-engah, sebab mulai menanjak lereng bukit yang terjal. Kini ia mulai menderap lambat, sementara Sehun berusaha keras menghentikannya. Tapi Genie masih ketakutan.
Taeyeon terus berpacu dan akhirnya menyusul Genie. Tapi Genie jadi ketakutan lagi melihat kedatangannya. Ia menjulurkan leher dan mulai berlari cepat lagi.
Untung Taeyeon berhasil menyambar cepat kendalinya. Dan saat Genie merasakan tangan kecil tapi kuat menahan kendalinya, ia mulai tenang. Taeyeon membujuknya terus. Taeyeon tahu cara berbicara dengan kuda, Genie hanya sekali mencoba membebaskan diri, kemudian dengan patuh ia memperlambat langkahnya, gemetar sekujur badannya.
Sehun juga gemetar. Ia segera turun. Taeyeon melompat turun dari kuda dan cepat memegang kepala Genie. Dalam beberapa menit saja ia telah membuat tenang kuda itu. tapi ia belum berani menungganginya.
“Sehun-ah, naiklah kudaku dan pergilah ke anak-anak yang lain,” kata Taeyeon. “aku akan menuntuk Genie pulang. Katakana pada Choi seonsaengnim aku tidak bisa datang tepat pada waktunya untuk latihan. Cepat berangkatlah!”
Sehun anik kuda Taeyeon segera pergi menemui yang lain. Rasa takutnya segera hilang dan ia mulai membual pada Changmin dan Amber tentang pengalamannya di atas kuda yang melarikan diri tadi. Ketiga anak itu langsung pulang, menyampaikan pesan Taeyeon, sementara Taeyeon harus berjalan menuntun Genie, menempuh jarak yang lumayan jauhnya!
Tak lama Taeyeon sudah merasa letih dan kesal. Kejadian tadi mengakibatkan suatu kecelakaan yang mengerikan. Mungkin saja Sehun jatuh dan terluka parah. Kenapa ia memperbolehkan Sehun menaiki Genie sebelum dapat persetujuan dari Yesung? Tapi Yesung juga salah, mengapa ia tidak datang tepat waktu?
Tangan kirinya terasa sakit. Tadi ia menggunakan tangan itu untuk menyambar tali kendali Genie. Dan sepertinya karena tarikan Genie maka terjadi salah urat pada tangan kirinya itu. Dimasukannya tangan itu kedalam mantelnya, berharap semoga kehangatan bisa membuatnya lebih baik. Sungguh sengsara ia berjalan menyebrangi padang dan menyusuri jalan sambil menuntun kuda yang mendengus-dengus dan terengah-engah karena kelelahan.
Pengurus kuda tampak gusar waktu ia datang. Yesung juga lari keluar dan langsung memarahinya.
“Kim Taeyeon! Sudah kudengar semuanya!” kata Yesung. “bodoh sekali kau memperbolehkan Sehun naik Genie. Aku terpaksa terlambat datang karena harus mengerjakan sesuatu untuk Sooman sajangnim. Harusnya kau menunggu sampai aku datang! Kalau saja kau menungguku, peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi, sebab pasti aku tidak akan mengijinkan Genie ditunggangi. Kau ini selalu saja tak pernah berpikir kalau bertindak!”
Taeyeon begitu letih, tangannya begitu sakit. Tak terasa air matanya mengalir.
“bagus sekali, kau jadi bayi sekarang, hah?” Yesung berkata mengejek. “kau kira kalau kau menangis aku akan kasihan? Lalu aku tidak akan memarahimu? Dasar yeoja! Untung saja Sehun dan Genie tidak apa-apa.”
“Yesung! Jangan terlalu keras memarahiku!” Taeyeon tersedu-sedu. “tanganku sakit sekali, dan aku memang sangat meyesal telah memperbolehkan Sehun menaiki Genie.”
“oh, ya Tuhan!” seru Tao yang semula diam saja melihat pertengkaran keduanya. “tanganmu bengkak, Taeng!”
“coba kulihat tanganmu,” kata Yesung agak lebih lembut. Dan kemudian tampak cemas dan khawatir. “cepat pergi ke Ibu Asrama. Sepertinya cukup gawat tanganmu ini. jangan terlalu bersedih, nasi sudah jadi bubur. Lain kali berpikirlah 2 kali sebelum mengambil keputusan. Sudah,uljima!” Kata Yesung sambil menghapus air mata Taeyeon kedua jari jempolnya penuh perhatian.
“bukan karena itu aku menangis,” kata Taeyeon kesal. “aku menangisi kuda yang begitu binal itu, dan tanganku yang sangat sakit!”
Taeyeon bergegas ke tempat Ibu Asrama. Kasihan sekali. Selalu ada saja yang terjadi pada Taeyeon.
“Taeyeon!” panggil Yesung dari kejauhan membuat Taeyeon menoleh ke belakang. “berhentilah membuatku khawatir!”
to be continue..

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on December 27, 2012, in SMTOWN and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Awh… so sweet… Aduh melting juga kalau Yesung Oppa pake hapus air mataku… jiah…
    Hmmm.. iya betul. Aku juga sempet sebel ama Taengoo. Di sini kerasa banget dia jadi agak sok.
    Ayolah Taengoo, jangan lupa untuk sesekali tetap berjalan sambil menunduk!

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: