[FF] Trouble Maker – Chapter 16

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
kalo sempet mo d tamatin hari ini juga (sampe chapter 26). mudah-mudahan aja ya! maklum, jarang-jarang punya waktu luang kayak gini.

–Trouble Maker– Chapter 16 : Amber Escapes
Amber mengambil tasnya dan keluar. Sunny mengejarnya memegang tangannya. “Jangan bodoh, Amber! Kau tidak bisa melarikan diri dari sekolah ini!”
“bisa saja,” kata Amber. “aku akan melakukannya sekarang. Jangan coba menghalangiku, Sunny! Aku akan jalan kaki ke stasiun.”
Amber menepis tangan Sunny dan berlari menuruni tangga. Tidak ada gunanya mengejar dia. Ia telah bertekad bahwa tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Taeyeon, Sunny dan Sulli hanya bisa memandanginya.
“aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Kata Sulli tiba-tiba dengan suara gemetar. “kalau saja aku tidak menirukan Han seonsaengnim, mungkin keadaannya tidak seperti ini.”
“eotteokke?” bisik Sunny khawatir. “kita harus melaporkan bahwa Amber melarikan diri. Tapi kurasa memang tidak ada gunanya mencegahnya lari. Sebab kalau aku jadi dia, aku juga tidak berani menghadapi Rapat Besar. Kalaupun tidak sekarang, sesudah menghadapi Rapat Besar ia pun tidak akan tahan dan pasti juga tetap akan melarikan diri. Ia sama sekali tidak punya keberanian.”
Saat itu Sooyoung muncul. Ia heran melihat ketiga anak itu berdiri mematung di pintu kamar mereka dan tampak khawatir.
“kenapa kalian ada disini?” tanya Sooyoung. “apa kalian tidak tahu kalau pertunjukan music akan segera dimulai? Ppali! Wae? Ada apa?”
“banyak sekali yang terjadi,” kata Taeyeon. “sampai-sampai kami tidak tahu harus berbuat apa. Benar-benar gawat, Soo!”
“aigoo! Kalau begitu kalian harus segera memberitahuku, sebab aku Pengawas kalian.”
“kukira memang itulah yang seharusnya kami lakukan,” kata Sulli. “izinkan kami tidak menghadiri pertunjukan music itu, Soo, dan ayo kita pergi ke studio dance. Sepertinya sekarang ruangan itu kosong, jadi kita bisa ceritakan apa yang terjadi.”
Seminggu sekali, sebuah pertunjukan music diadakan oleh anak-anak yang bermain piano, biola, menyanyi, atau berdeklamasi. Biasanya seluruh warga sekolah menghadirinya, sebab mereka ingin melihat bagaimana teman-teman sekelas mereka beraksi. Benar kata Sulli, studio dance kosong. Sulli segera bercerita. Ia menceritakannya dari awal, Sooyoung mendengarkannya dengan tenang.
“kasihan, Amber!” sahut Sooyoung. “ia benar-benar mengacaukan segalanya! Kita harus segera bertindak, aku tidak tahu harus bagaimana. Lebih baik kita temui Boa dulu, dan kita minta ia mengantarkan kita ke Mrs. Park dan Mrs. Seo.”
“aigoo, apa mereka juga harus tahu?” tanya Taeyeon kecewa.
“tentu saja. masa seorang siswa melarikan diri dari sekolah dan kepala sekolah tidak mengetahuinya? Kajja! Kita tidak boleh membuang-buang waktu!”
Mereka menemui Boa di kamarnya. “Boa, ikutlah dengan kami menemui Mrs. Seo dan Mrs. Park.” Pinta Sooyoung. “seorang anak di kelas Taeyeon melarikan diri, dan kami kira kami harus menceritakan segalanya pada kepala sekolah.”
“tentu!” kata Boa terkejut. “kita harus mengajak Siwon juga. Ia harus tahu masalah ini, dan akan menghemat waktu kalau ia mengetahuinya sekarang.”
Beberapa menit kemudian 6 orang anak berkumpul didepan ruang tamu tempat kedua pimpinan sekolah itu. Mrs. Seo dan Mrs. Park sedang menulis surat waktu Boa mengetuk pintu.
“masuklah,” terdengar suara tenang dari dalam. Dan mereka pun masuk. Ternyata Sooman sajangnim juga ada disitu. Ketiga guru kepala itu sangat heran melihat banyak anak datang.
“ada apa ini?” tanya Mrs. Park segera.
“ada suatu kejadian yang memerlukan perhatian anda,” kata Boa. “Taeyeon, tolong ceritakan yang terjadi.”
Taeyeon menceritakan semuanya. Pada waktu ceritanya sampai pada saat Amber berangkat ke stasiun, Sooman sajangnim segera bangkit berdiri. “aku harus mengejarnya,” katanya. “mudah-mudahan tidak terlambat.”
“tapi kereta pasti sudah berangkat,” kata Sooyoung.
“jadwal perjalanan kereta api sudah diubah bulan ini,” kata sajangnim. “kereta yang semestinya berangkat jam ini sudah dihapus, digantikan kereta yang berangkat 1 jam lagi. Kalau aku berangkat cepat-cepat, mungkin anak itu bisa kususul. Boa, ikut aku!”
Keduanya berangkat. Beberapa saat kemudian terdengar pintu depan berdebam. Taeyeon tak henti-hentinya berharap semoga Amber tersusul sebelum naik kereta. Sekarang setelah para pimpinan sekolah mengetahuinya, Taeyeon merasa bebannya sedikit ringan. Orang dewasa tampaknya selalu bisa membereskan persoalan apapun.
“menurutku, 2 hal harus segera diselesaikan,” kata Mrs. Park. “pertama, untuk menyadarkan Amber bahwa melarikan diri sama sekali tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk keadaan. Ia harus bisa mengembalikan kepercayaan dirinya. Ia mengira dirinya gagal, ia harus sadar bahwa seseorang tidak perlu sampai menganggap dirinya gagal. Kalau dia bisa kita sadarkan bahwa masih bisa berusaha lagi, maka segalanya akan beres.”
“aku tahu yang kedua,” kata Taeyeon. “yaitu membersihkan nama baik Yesung dari berbagai tuduhan. Aku benar-benar merasa tidak enak kalau berpikir bahwa aku telah menuduhnya sembarangan, tanpa bukti. Dan yang lebih tidak enak bagiku, ternyata ia menerima saja hukumannya. Aku benar-benar malu.”
“aku senang kau merasa malu, Taeyeon.” Kata Mrs. Seo. “kita semua tahu bahwa kau sebenarnya adil dan jujur. Tapi kau tidak akan bisa mencapai apa-apa kalau selalu terburu-buru memutuskan sesuatu, tidak bisa mengendalikan kemarahanmu.”
“memang. Aku sudah banyak belajar tentang itu,” kata Taeyeon. “tapi anda tidak tahu seberapa sulitnya mengendalikan diri.”
“tentu saja aku tahu,”Mrs. Seo tersenyum. “sebab aku dulu juga tidak bisa mengendalikan diriku, aku dulu juga sangat cepat naik darah.”
Mrs. Seo tersenyum manis sekali. Kelima anak itu ternganga heran. Mrs. Seo yang selalu tampak berwajah manis itu penaik darah? Unbelieveable!
“sekarang apa yang akan kita lakukan kalau Sooman sajangnim berhasil membawa Amber kembali?” tanya Mrs. Park. “aku berpikir bahwa Siwon dan Boa merupakan orang yang paling tepat untuk menghadapinya. Mereka tidak akan membuat canggung, seperti kalau ia harus menghadapi kami, atau Sooman sajangnim.”
“ia bilang kalau ia tak sanggup menghadapi Rapat Besar, jika mereka membicarakan tentang perbuatannya itu,” kata Taeyeon. “ia tak terlalu pemberani. Walaupun kadang-kadang ia menentang guru di kelas, yang tidak akan pernah berani kulakukan.”
“itu namanya bukan pemberani,” kata Mrs. Park. “itu sesuatu yang sering dilakukan oleh orang-orang lemah namun keras kepala. Mereka selalu takut kalau dianggap bodoh sehingga mereka selalu mencoba untuk menarik perhatian dengan cara apapun. Bertengkar, membual, atau membantah, apa saja yang bisa membuat orang lain memperhatikan mereka! Kita tidak akan pernah melihat orang-orang yang berkepribadian kuat, orang-orang bijaksana bertengkar, atau membual, atau menarik perhatian orang. Itu dilakukan hanya oleh orang-orang yang berkepribadian lemah! Dan dalam kasus Amber, ini berarti bahwa ia merasa dirinya gagal. Dia mencoba menyembunyikan kenyataan itu dari dirinya sendiri dan orang lain. Sekarang ia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Dan ia melarikan diri. Tepat seperti yang biasa dilakukan orang-orang lemah.”
“jika sudah diterangkan dengan jelas, segalanya tampak berbeda, bukan?” kata Sulli. “aku tidak akan pernah menirukan Amber kalau saja aku tahu apa yang menyebabkan ia berbuat begitu. Sekarang aku merasa kasihan padanya dan berjanji akan membantu apa saja untuk kebaikannya.”
“ia bahkan malu akan bintik-bintik dimukanya,” kata Taeyeon. “padahal bintik-bintik itu muncul karena kegemarannya makan permen.”
“ia tampak manis saat tersenyum,” kata Sunny. “sudah kukatakan hal seperti itu padanya.”
“bagus!” kata Mrs. Seo. “sepertinya kalau saja Amber mau merapikan diri dan merawat dirinya, serta menghilangkan bintik-bintik di mukanya, maka anak itu akan mengawali perbaikan dirinya dengan baik. Siwon, apa kau pikir bisakah kau dan Boa memberi pengertian padanya? Tampaknya semester ini kau banyak sekali menghadapi persoalan berat. Tapi aku yakin kau akan bisa menanggulangi semuanya dengan baik.”
“dan bagaimana dengan kemungkinannya untuk menghadapi Rapat Besar?” tanya Siwon.
“kau dan Boa yang harus menentukan hal itu.” kata Mrs. Park. “kami menyerahkannya padamu. Kalau kalian berpikir tidak baik untuk memaksanya menjadi berani sebelum waktunya, maka lebih baik kalian hanya membebaskan Yesung dari tuduhan terhadapnya, kemudian kita tunggu sampai Amber cukup berani untuk mengakui perbuatannya. Mungkin sebelum akhir semester ini ia sudah berani berbuat itu, kalau kita menanganinya secara baik.”
Sungguh mengherankan betapa mudahnya kini persoalan yang mereka hadapi, setelah semuanya dibicarakan dan diteliti. Kebiasaan jahat Amber ternyata bersumber dari sesuatu yang sangat sederhana. Perasaan bahwa dia gagal dalam hidup ini. kalau perasaan itu bisa dihilangkan, maka sebagian besar kesulitan yang dialami Amber akan lenyap. Dan itu akan menyenangkan banyak orang.
Terdengar suara mobil memasuki halaman, lalu suara pintu mobil dibanting. Pasti suara taxi. Semuanya berdebar-bedar menunggu munculnya Sooman sajangnim dan Boa dengan Amber. Apakah mereka berhasil menyusul anak itu?
Terdengar langkah kaki mendatangi. Pintu terbuka. Hanya Sooman sajangnim yang ada diambang pintu. Boa tidak ada. Amber juga tidak ada.
“apa anda tidak bisa menemukannya?” tanya Mrs. Seo harap-harap cemas.
“oh, bisa,” kata sajangnim. “ia tadi kami temukan di ruang tunggu stasiun. Kasihan sekali. Begitu sedih dan tampaknya sangat menyesal sudah melarikan diri. Waktu Boa mendekatinya, ia langsung menangis, dan menurut saja kami ajak pulang. Untunglah jadwal perjalanan kereta api diubah, sehingga ada waktu baginya untuk berpikir lagi. Kalau saja kereta api datang sebelum kami tiba, maka sudah pasti ia akan berangkat, dan tidak terkejar lagi.”
“dimana dia?” tanya Siwon.
“di kamar Boa,” jawabnya. “lebih baik kau juga kesana, Siwon. Aku yakin kau bisa membantunya. Biarkan dia berbicara apa saja, biarkan ia mengeluarkan segala perasaan hatinya.”
“baiklah,” kata Siwon. Dan ia pun pergi. Keempat anak lainnya juga ikut meninggalkan tempat itu.
“aku akan mencari Yesung,” kata Taeyeon. “ini tugasku, dan harus kulakukan segera. Walaupun aku tahu pasti akan sangat berat bagiku.”
to be continue..

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on December 27, 2012, in SMTOWN and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Nurati Suchi

    Koreksi sedikit ya, Chingu,
    Aku agak terganggu sama kata -Penaik Darah-. Menurutku, itu artinya ‘Si Pembuat’ Naik darah, alias pembuat marah. Mungkin lebih enak kalo pake kata -Mudah naik darah -.
    Bukan sok tau atau apa, tapi setau aku, artinya memang begitu. Tapi mungkin juga pengetahuanku aja yg masih terbatas.
    Jadi, maaf kalo fakta diatas benar.
    Gomawo, Chingu^^

  2. Wah… dag-dig-dug nunggu keputusan Boa dan Siwon!
    Apa yang akan dilakukan Taeyeon untuk menyelesaikan salah pahamnya dengan Yesung??
    Cuuuz ke chapter berikutnya!

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: