[FF] Trouble Maker – Chapter 22

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 22 : Taeyeon Got a Problem (again)
Waktu berlalu dalam suasana bahagia. Dengan tak adanya pertengkaran antara Amber dan yang lain, serta antara Yesung dan Taeyeon, keadaan jadi lebih menyenangkan.
Taeyeon belajar dengan rajin, dan dengan mudah berada di puncak urutan peraih angka terbaik dikelasnya. Yesung kadang-kadang nomor 2, kadang-kadang nomor 3. Tapi ini sudah membuat Mrs. Song senang, sebab sebenarnya Yesung bukanlah anak pandai jadi keberhasilannya menandakan bahwa anak itu benar-benar bekerja keras. Amber juga belajar sebaik-baiknya, dan tak pernah membantah secara keterlaluan seperti dulu. Khususnya pada mata pelajaran bahasa Perancis ia memperoleh kemajuan pesat, sampai Mrs. Han suatu hari menyatakan kegembiraannya.
“anak dikelas ini yang mencapai kemajuan pesat adalah Amber,” kata Mrs. Han. “ah, dulu kukira dia bodoh sekali. Dulu aku sering memarahinya. Tapi sekarang karangan bahasa Prancisnya yang terbaik. Dan ia mengucapkan ‘r’ dalam bahasa Prancis tepat seperti semestinya. Tidak sepertimu Yesung! Kau tak pernah mengucapkan huruf ‘r’ secara tepat!”
Yesung tersenyum. Amber tersipu-sipu, tapi merasa sangat senang. ia belum pernah dipuji dikelas. Ia jadi heran juga kenapa dulu ia selalu memperoleh nilai buruk.
“kekuatan otakku tampaknya makin baik juga,” pikir Amber. “dan aku sekarang meyukai pelajaranku. Dulu aku bosan sekali pada pelajaran. Mungkin aku bisa terhindar dari kedudukan juru kunci. Wah, pasti hebat! Eomma akan sangat senang kalau peringkatku setidaknya mendekati peringkat atas.”
Ia memang khusus belajar lebih rajin pada pelajaran Mrs. Han. Ini suatu perubahan besar bagi Amber. Dulu setelah Mr. Han memarahinya, ia langsung tidak menyukai bahasa Prancis, termasuk gurunya, dan sembarangan saja belajar. Tapi sekarang segalanya berubah. Misalnya saja, Amber sekarang tampak lebih sehat. Ia sering berkuda, berjalan-jalan, dan bahkan menawarkan diri untuk membantu Changmin, Taeyeon, dan Sehun di kebun sekolah.
“ommo, aku tak pernah menyangka kau punya pikiran untuk membantu kami. Apa kau mengerti tentang berkebun?” tanya Changmin.
“tidak banyak,” jawab Amber secara jujur. 3 minggu sebelumnya mungkin ia akan berbohong dan membual serta mengatakan bahwa ia tahu banyak tentang berkebun. “tapi, Changmin, pasti aku bisa membantu sedikit-sedikit, bukan?”
“tentu, dorong gerobak isi sampah itu ke tempat sampah, tuangkan disana dan ambil sampah berikutnya,” kata Changmin. “pekerjaan itu terlalu berat untuk Sehun.”
Sehun sangat ingin membantu Changmin. Dan Changmin senang anak itu menaruh perhatian lebih pada pekerjaan di kebun sekolah. Sehun sering bercerita pada Changmin bahwa Yesung membawanya berkuda. Changmin lama-lama tertarik juga untuk mencoba.
“aku harus mencobanya sekali-kali,” kata Changmin. “walaupun dulu aku tak punya minat sama sekali. Memang waktu pertama kali masuk SM ini aku sering berkuda, tapi kemudian aku lebih tertarik berkebun, dan jadi lupa segala-galanya. Tapi besok aku akan mencobanya, Sehun.”
Sehun berbicara tentang hal itu pada Yesung. Dan ia setuju. Ia mengatur sehingga keeseokan harinya Changmin, Sehun, Taeyeon, Amber, dan ia sendiri bisa berkuda bersama. Menjelajahi padang rumput, perbukitan, dibawah cahaya pucat matahari musim dingin. Ternyata Changmin sangat menyukainya!
“aku akan ikut lagi lain waktu,” kata Changmin melompat turun dari pelananya. “benar-benar menyenangkan! Ommo, Amber, pipimu merah sekali! Padahal dulu kau begitu pucat. Ngomong-ngomong, apa kau bisa membantuku di kebun akhir minggu ini?”
“tentu!” seru Amber senang.
Senang sekali dimintai bantuan oleh seseorang. Ia sekarang merasa betapa indahnya mempunyai sahabat. Bila kita membantu seorang sahabat, maka sahabat kita itu pasti akan membalas membantu kita suatu hari. Dengan begitu akan lebih menyenangkan kalau kita punya sahabat banyak.
“benar juga kata Siwon dan Boa,” pikir Amber. “dulu aku iri pada Sulli, dan kukatakan dia sangat beruntung punya sahabat begitu banyak. Dan kukatakan hanya karena aku tak punya nasib baik sajalah maka aku tidak punya sahabat. Tapi sekarang karena aku bersikap manis, banyak peristiwa manis terjadi padaku. tepat sekali kata Boa. Diri kita sendirilah yang menentukan nasib kita. Aku selalu mengeluh, menggerutu tentang apa saja, menyalahkan nasibku bila aku tak memperoleh apa yang kuinginkan. Tapi begitu aku mengubah pribadiku, semuanya berubah! Sayang sekali tidak semua orang mengetahui hal itu.”
Taeyeon tekun sekali belajar music, Mr. Shin sangat gembira atas kemajuannya. Ia dan Kangta sekali lagi berlatih berduet. Namja itu senang sekali berduet dengan yeoja mungil yang lincah jarinya itu. taeyeon juga suka pada Kangta karena ia seorang pemusik luar biasa.
“bolehkah kita bermain duet dalam pertunjukan music akhir semester nanti? Seperti dulu?” tanya Taeyeon. “aku ingin sekali, Shin seonsaengnim. Apa kami akan cukup baik?”
“oh, ne,” kata Mr. Shin. “disamping itu Kangta juga akan memainkan biolanya. Apa kau pernah mendengarkan ia memainkan lagu seperti yang ada di CD, Taeyeon?”
“belum, belum pernah.” Kata Taeyeon. “coba mainkan untukku, oppa!”
Kangta segera mengambil biolanya. Kemudian namja yang tampak selalu melamun itu, memainkan sebuah lagu yang amat indah untu kgurunya dan untuk Taeyeon. Mereka berdua terpesona mendengarkannya.
“oh, indah sekali,” kata Taeyeon sewaktu lagu tersebut selesai. “ingin sekali aku bisa memainkannya seindah itu. bisakah aku belajar biola, seonsaengnim?”
“Taeyeon, hari-harimu sudah terlalu sibuk,” kata Mr. Shin, tertawa. “tidak. Lebih baik kau belajar piano saja.”
“tapi Kangta oppa bisa belajar dua-duanya, piano dan juga biola,” kata Taeyeon.
“ne, tapi selain kedua kegiatan itu, ia tak mempunyai kegiatan lainnya,” kata Mr. Shin. “tidak ada yang menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang lain, jadi ya lebih baik ia mengisi waktu dengan kedua hal tadi. Tidak aka nada orang yang menyuruh Kangta menyiangi kebun, naik kuda lebih dari satu kali, memelihara tikus putih, dan sebagainya. Hanya satu pikirannya, music.”
“akan kubuat agar ia memikirkan hal lain,” kata Taeyeon. “ayolah ikut berlatih lacrosse besok, oppa. Kau belum merasakan betapa senangnya bermain begitu bagus hingga terpilih untuk bermain dalam sebuah pertandingan penting.”
Tapi Kangta menolak ajakan itu. memang pernah juga ia bermain dalam suatu permainan olahraga, tapi permainannya buruk sekali. Bahkan si kepala batu Taeyeon tak sanggup membuat Kangta meninggalkan musiknya. Taeyeon tak meneruskan usahanya. Dalam hati ia bangga terpilih bermain duet bersama namja luar biasa itu.
“suatu hari ia akan menjadi seorang pemusik dan pengarang lagu yang terkenal,” kata Taeyeon pada Sunny dan Sulli. “dan aku akan dengan bangga bisa menyatakan bahwa aku pernah bermain duet dengannya.”
Di pertunjukan akhir semester, akan dipentaskan juga sebuah drama. Anak-anak dikelas Taeyeon mendapat tugas untuk menulis scenario juga. Lama sekali mereka memikirkan ceritanya. Hingga Donghae ketiduran menunggu ide teman-temannya karena ia terlalu malas untuk berpikir.
Dan ketika garis besar cerita sudah mereka sepakati, mereka sampai pada pekerjaan berat yaitu menuangkan cerita tadi kedalam naskah drama atau scenario.
Ternyata Sulli dan Amber sangat pandai menulis naskah drama. Sulli pandai membuat dialog, Amber penuh khayalan untuk menciptakan berbagai suasana. Sebelum minggu itu lewat, kedua anak tersebut sudah menyusun naskah dramanya, dibantu oleh kritik positif dan negative dari teman-teman mereka.
Lucu juga melihat kedua anak yang tadinya bermusuhan sekarang bekerja sama begitu rukun. “sungguh aneh melihat Sulli dan Amber, persis seperti aku dan Yesung,” batin Taeyeon. “bodoh sekali kami bertengkar. Aku berjanji akan selalu menghindari pertentangan.”
Sungguh sayang mengucapkan hal itu. sebab pada hari berikutnya terjadilah pertentangan antara Taeyeon dan Changmin.
Mereka berdua telah membuat tumpukan sampah yang menggunung. Changmin bilang ia akan menyulutnya kalau kebetulan ada waktu luang. Tapi ketika ia mencari Changmin untuk membakar sampah itu, ternyata Changmin tidak ada!
“ah, sial,” kata kata Taeyeon dalam hati. “padahal aku ingin melihat api unggun itu. yah, kalau dalam beberapa menit ini Changmin tidak muncul, akan kunyalakan sendiri api unggun ini. Changmin pasti tak keberatan.”
Seharusnya Taeyeon tahu bahwa Changmin pasti merasa keberatan. Walaupun ia telah mempercayai Taeyeon untuk berbagai hal, untuk pembakaran sampah ia selalu mengerjakannya sendiri.
Taeyeon mengambil sekotak korek api. Dinyalakannya selembar kertas, lalu disesapkannya diantara tumpukan smapah. Api berkobar. Dan jadilah api unggun menyala dengan hebat! Besar sekali kobaran apinya. Asap biru menjulur ke atas dan meliuk-liuk mencapai gudang tua didekat situ.
Taeyeon meloncat-loncat dengan gembira. Ini bagus sekali! Rugi Changmin tidak segera datang.
Kemudian tiba-tiba ia melihat sesuatu. Angin meniup kobaran api unggun kearah gudang!
“astaga! Mudah-mudahan saja gudang itu tidak terbakar!” seru Taeyeon terkejut. “ommo! Benar-benar terbakar! Oh! Changmin! Changmin! Ppalli! Eodisseo?”
Changmin berlari mendatangi. Ia sedang berada di sudut lain kebun itu, dan cepat-cepat datang waktu dilihatnya kobaran api dari kejauhan. Ketika dilihatnya jilatan api telah hampir mencapai gudang, ia juga sangat terkejut.
“Taeyeon! Ambil pipa air!” teriaknya. Kedua anak itu berlarian mengambil pipa air, membuka gulungannya dan memasangnya di keran. Changmin membuka keran, dan mengarahkan pipa air ke api unggun. Tak berapa lama api unggun itu padam, meninggalkan asap mengepul.
“untuk apa kau nyalakan api unggun itu??!” hardik Changmin marah pada Taeyeon. “baboya!! Apa kau tidak tahu aku yang memimpin dikebun ini?? semuanya harus dilakukan dengan perintahku!! Kalau terlambat tadi, gudang itu sudah terbakar!!”
“jangan bicara begitu padaku!!” teriak Taeyeon marah. “kau bialng kalau kau yang akan membakar tumpukan sampah itu! dan kalau kau lakukan toh kejadiannya akan sama saja!!”
“aku tidak sebodoh kau! Aku tidak akan mungkin membakar tumpukan sampah itu begitu saja disitu, dan pada saat angin bertiup kearah gudang seperti ini! aku akan membakarnya setelah angin berganti arah! Bukan hari ini! kau tak ada urusan untuk membakarnya, arasseo??! Padahal seharusnyatumpukan sampah itu akan jadi api unggun yang bagus. Kau sudah merusaknya! Kau hanya membuat repot saja! aku tak mau kau membantu di kebun lagi!!”
“oh!” airmata menggenang di mata Taeyeon.
“nappeun namja! Kau mengusirku setelah begitu banyak yang kulakukan, setelah begitu lama aku membantumu!”
“kau tidak melakukan semua itu untukku!” tukas Changmin. “semuanya untuk keperluan sekolah. Pergilah, Taeyeon! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
“keurae! Aku juga tidak sudi kemari lagi!” seru Taeyeon sambil berlari pergi dengan marah dan menghapus airmatanya menuruni pipinya.
Tapi setengah jam kemudian dalam hati Taeyeon berkata, “kau kan sudah berjanji tidak akan bertengkar lagi dengan siapapun. Padahal memang hak Changmin untuk memarahimu. Karena kalau api itu tidak segera dipadamkan, maka bisa membakar gudang, menghabiskan semua alat-alat didalamnya. Kau juga sudah merusak api unggun indah yang telah direncanakan!”
Dan dalam hati Changmin, juga berkata, “Taeyeon tak bermaksud buruk. Ia hanya kurang berpikir. Bukannya jahat. Ia pasti juga sangat kecewa karena api unggun itu tidak jadi. Dan kau tahu, ia telah banyak membantu di kebun ini. bagaimana kalau ia tidak mau datng lagi ke kebun ini? rasanya tidak akan begitu menyenangkan!”
“aku akan mencarinya,” akhirnya Cahngmin memutuskan. Dan pada saat yang sama Taeyeon juga berpikir, “akan kutemui Changmin.”
Maka mereka berdua bertemu di tikungan jalan di kebun sekolah. Keduanya tampak malu-malau. Dan bersamaan mereka mengeulurkan tangan.
“mianhae, aku telah bersikap kasar padamu.” kata Changmin.
“nado. Jeongmal mianhaeyo.” Kata Taeyeon. “Oh, Changmin..”
“dulu ku suruh kau memanggil aku apa?”
“hmmmpp.. ne, oppa. Oppa, padahal baru kemarin aku berjanji dalam hati untuk tidak bertengkar dengan siapa pun. Dan ternyata aku malah bertengkar denganmu.”
“kau akan selalu begitu,” Changmin tertawa. “tapi tidak apa-apa kalau kau juga cepat-cepat menyesali tindakanmu. Jigeum, kajja! Kita menggali tanah, biar hati kita tenang kembali.”
Mereka berdua kembali ke kebun, bersahabat. Persahabatan memang takkan putus hanya karena sebuah pertengkaran, bukan?
to be continue..

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on December 27, 2012, in SMTOWN and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Hahahahahaha…(kenapa tiap mau mulai komen aku harus ketawa dulu??)
    Hmmm… persahabatan memang takkan putus karena sebuah pertengkaran… tapi persahabatan kebanyakan berubah menjadi cinta dan menghasilkan pertengkaran juga yang ujungnya bisa berakhir putus! Wkwkwkwkwkwkwk-apa sih aku ini, OOT banget-mian Chingu, biasa… bercanda…
    Horeee… ChangTae bertengkar terus baikan! Gitu dong… wah, persahabatan yang indah. Lebih indah lagi kalau bisa jadi cinta *maksa mode on* #diteriakin off side sama Taegangsters
    Oke mari lanjut lagi!!

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: