[FF] The Weird Sister (Chapter 3)

page

Author : Ashiya

Cast :

  • Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Soyeon (T-ARA)
  • Eunji (A-Pink)
  • Sehun (EXO)
  • Chorong (A-Pink)
  • Suho (EXO)

Genre :

  • Mystery

Length :

  • Multichapter

Disclaimer : This fiction is mine. Inspired by R.L Stine’s novel ‘The Stepsister’

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

Chapter 1  | Chapter 2

***Previous Chapter***

Pintu depan terbuka. Taeyeon berhenti mendadak membuat Eunji dan Chorong menabraknya dari belakang.

“hai!” ibu Taeyeon tersenyum pada mereka. Senyumnya terlalu lebar, sehingga terkesan agak di paksakan. “pagi Taeyeon, pagi Eunji… oh, hai, pagi Chorong-ssi! senang sekali kau bisa berkunjung ke sini.”

Taeyeon selalu tahu kalau ibunya sedang bingung dan gugup, dia jadi terlalu sopan. Ayah Eunji berjalan di belakang istrinya (ibu Taeyeon). Ia masuk sambil membuka topi skinya yang berwarna hitam. Kepalanya yang botak kini terlihat jelas.

“susuran tangga itu sudah longgar lagi. Anak-anak sudah kuperingatkan untuk tidak duduk diatasnya, tapi apa mereka mendengarkan?” dia mengangkat kepala menatap mereka, “oh, hai!”

Taeyeon, Eunji, dan Chorong semuanya sudah tiba dibawah sekarang. Taeyeon mencoba melihat melewati bahu ayah tirinya. Ia tak sanggup lagi menahan ketegangan. “Soyeon-eonni, eodiga?” tanyanya.

Ayah tirinya telah membiarkan pintu terbuka di belakangnya.

Sekarang Soyeon melangkah masuk. Taeyeon langsung membeku di tempat.

Soyeon tampak begitu aneh, seperti orang tersihir. Ia masuk dengan terhuyung-huyung. Matanya melotot.

“ANDWAEEEE!!!” pekik Taeyeon, melihat pisau berlumuran darah di tangan Soyeon.

Soyeon mengacungkan pisau itu. Taeyeon berteriak dan dengan melangkah mundur.

***Chapter 3***

Soyeon mengacungkan pisau itu. Taeyeon berteriak dan dengan melangkah mundur.

“aku menemukan ini di dekat pagar tanaman,” ucap Soyeon sambil menyipitkan matanya. Ia menoleh dan menatap ke belakang lewat pintu yang terbuka. “kenapa pisau ini bisa ada di luar?”

“di dekat pagar tanaman?” seru ayah tirinya. Ia mengulurkan tangannya. “sini, biar kulihat.”

Taeyeon membekap mulutnya. Dia merasa sangat malu karena telah berteriak. Telinganya terasa panas. Chorong melongok dari balik tubuh ayah Eunji, kemudian tertawa. “oh, aku tahu pisau itu!” seru Chorong. “itu salah satu perlengkapan untuk The 14th Friday.”

“untuk apa?” tanya ayah Eunji lagi, masih mengamati pisau tadi.

The 14th Friday. Film horor yang sedang di buat Sehun dan teman-temannya.” Eunji menjelaskan.

“dia tidak akan terlibat lagi dalam pembuatan film itu!” kata ayah Eunji dengan tegas. “Yeonie, aku benar-benar menyesal, kau harus menghadapi hal seperti ini pada hari kepulanganmu. Ini tidak akan terjadi lagi, percayalah.”

Soyeon tersenyum. Senyum tipis dan terkesan di paksakan. “gwaenchana. Bagiku tidak jadi masalah. Jeongmal.”

‘Suaranya jauh lebih pelan daripada dulu.’ Pikir Taeyeon. Hal ini membuat hatinya pedih. Selain itu, ia juga tampak lebih kurus. Tubuhnya nyaris tidak kelihatan di balik mantel tebalnya. Taeyeon mendesak ayah tirinya ke samping dan maju menghampiri kakaknya. “eonni!” ia merentangkan lengannya lebar-lebar dan memeluk Soyeon. Soyeon tidak membalas pelukannya, tapi juga tidak menolaknya. Ia berdiri diam saja. “bogoshipoyo.” Bisik Taeyeon di telinga Soyeon. Soyeon tersenyum padanya, namun tidak berkata apa-apa. ‘apa yang telah mereka lakukan padanya di rumah sakit jiwa itu?’ pikir Taeyeon was-was.

“annyeong, eonni!” sapa Eunji sambil mendekati Soyeon. Ia mengulurkan lengannya, namun kemudian berubah pikiran dan memeluknya juga. Ibu Soyeon juga ikut-ikutan merangkulnya.

“eomma,” kata Soyeon pelan. “kita sudah melakukan ini tadi di rumah sakit. Apa kau lupa?” semua orang tertawa mendengar ucapan Soyeon.

Ayah tiri Soyeon masih memegang-megang pisau berdarah itu.

“yeobo, kenapa tidak kau buang saja pisau itu?” tegur istrinya.

“ide bagus.” Ia melangkah ke luar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian kembali dengan membawa tas besar Soyeon yang berwarna putih.

“eonni, kenalkan ini temanku, Park Chorong.” Eunji mengenalkan Chorong pada Soyeon.

Chorong maju, wajahnya bersemu merah. “mianhaeyo. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian. aku.. aku lupa hari ini kau pulang dan..”

Soyeon tersenyum. “aniyo. Aku justru senang. Sambutannya jadi lebih meriah.”

“oh, kata-katamu manis sekali.” Ucap Chorong. “Taeng-eonni benar. Kau benar-benar hebat.”

Taeyeon tidak ingat pernah mengatakan hal seperti itu pada Chorong. tapi dia senang Chorong menyinggung hal itu di depan Soyeon. Soyeon tidak bereaksi. Tatapannya kosong. ‘mungkin ia bingung karena semua perhatian ini,’ pikir Taeyeon.

Chorong tiba-tiba memekik, “eonni, aku suka anting-antingmu!”

Soyeon menyibakkan rambutnya ke samping memperlihatkan anting-anting mungil dari kulit kerang. “ini kubuat sendiri,” ucapnya dengan bangga.

Namun kemudian ekspresinya kembali kosong. Hati Taeyeon mencelos. Ibunya berkali-kali mengatakan bahwa  Soyeon sudah sembuh tapi tidak boleh berharap banyak dari Soyeon ketika ia baru pulang. “beri dia waktu,” ucap ibu Taeyeon berkali-kali. Namun demikian, Soyeon tampak begitu pucat, begitu terasing, begitu tak bergairah. Kelihatannya Soyeon bergerak secara otomatis dan hanya berpura-pura mengikuti pembicaraan mereka.

Soyeon akhirnya menaruh perhatian pada Ginger yang melompat-lompat mengitarinya. Soyeon membungkuk untuk mengusap-usapnya. Ginger langsung berbaring telentang, kaki depannya terangkat. Ia menunggu Soyeon menggelitik perutnya.

“itu Ginger,” ucap Taeyeon pada Soyeon. “sepertinya ia menyukaimu.”

Soyeon tersenyum. “perasaan kami sama.” kemudian Soyeon seperti baru menyadari kehadiran Taeyeon. “annyeong, Taeyeon-ah!” sapanya lembut.

Hati Taeyeon luluh. Tiba-tiba saja Soyeon yang dulu kembali lagi. Ia tersenyum lebar. “annyeong.” Keduanya berpelukan. Kemudian sambil berangkulan, mereka berbalik menghadapi anggota keluarga yang lain.

“nah, adegan seperti ini yang ingin ku lihat.” Komentar ayah tiri Taeyeon dengan wajah berseri-seri. “sebuah keluarga yang bahagia.”

Taeyeon mendengar ibunya terisak. Semua orang menoleh dengan terkejut. “mian,” ucap wanita paruh baya itu, merogoh tasnya mencari tisu. “aku hanya…”

“ck!” decak Eunji tiba-tiba, ia melihat jam tangannya. “eomma bertahan tidak menangis selama 2 menit 29 detik. Kau memenangkan taruhan kita, Taeyeon.” semua tertawa termasuk ibunya yang tertawa sambil membersit hidung.

“mana Sehun?” tanya ayah Eunji sambil berkerut dahi. “dia seharusnya ada di sini.” Ia melayangkan pandangannya ke anak tangga.

“yeobo,” istri keduanya itu meletakkan sebelah tangannya di lengannya. “jangan mencari masalah.”

“geurom, dimana dia?”

“ngambek di kamarnya,” sahut Eunji. “appa melarangnya keluar, bukan?”

“hukumannya akan ku tambah kalau tidak turun sekarang juga. Kakaknya baru saja pulang setelah pergi setahun, masa dia mengunci di kamar?” pria itu menggelengkan kepalanya. “keterlaluan!”

“yeobo~” istrinya memperingatkan.

“jangan khawatir. Aku tidak akan memulai pertengakaran dengannya. SEHUN!!” panggilnya. “Soyeon sudah datang. Cepat turun, Scout!”

“appa, Sehun sudah 14 tahun.” Keluh Eunji.

“wae?”

“appa memanggilnya Scout waktu dia baru 7 tahun dan ikut Pramuka.”

“sikapnya sekarang masih sama seperti anak 7 tahun” gerutu ayah Sehun. Ia melangkah ke kaki tangga dan berteriak dengan sebelah tangan berpegangan pada susuran tangga. “Sehun, turun sekarang juga atau kau tidak boleh keluar rumah selama 12 minggu! Arasseo?! Aku akan menghitung! Lima…. Empat….”

Terdengar suara pintu di banting dan beberapa saat kemudian, Sehun muncul di puncak tangga dengan kedua tangan di masukan ke saku celananya. Mereka semua menatapnya ketika ia dengan enggan menuruni tangga. Ia melewati Taeyeon dengan sengaja menyenggolnya.

“YA!!” tegur Taeyeon. Sehun menoleh dan tersenyum lebar pada Taeyeon. bagi Taeyeon senyum itu lebih mirip seringai.

“annyeong,” sapa Sehun pada Soyeon. Di keluarkannya sebelah tangannya untuk melambai dengan asal-asalan. “apa kabar?”

“baik.” Jawab Soyeon sambil tersenyum kecil.

Sejenak suasana terasa kaku. Sehun kembali melontarkan pandangan marah pada Taeyeon. kemudian membalikkan badan dan mulai berjalan menuju tangga. Ayahnya langsung menepuk bahunya, “kau mau kemana?” tanyanya dengan nada keras.

“kembali ke kamarku.” Sehun menjawab dengan tak acuh.

“neo michyeoseo? Kakakmu baru pulang!”

‘Michyeoseo? Pilihan kata yang jitu,’ pikir Taeyeon dengan kecut.

“hei, Sehun-ah!” sapa Chorong tiba-tiba, “aku baru ingat. Ada film bagus yang ku tonton di bioskop tadi malam, dan aku ingin menanyakan sesuatu tentang itu. Judulnya Sadako 3D 2. Horor Jepang. Kau pasti tahu, kan?”

‘bagus, Park Chorong!’ puji Taeyeon dalam hati. Ia sangat berterima kasih karena teman Eunji ini sekali lagi menyelamatkan suasana.

Mulut Sehun ternganga ketika Chorong sedikit berkomentar tentang film itu. “kau suka film horor?” ia bertanya pada Chorong dengan curiga.

“oh, aku suka sekali!” Chorong menjawab dengan cepat.

Sehun mengangguk. “apa film horor favoritmu?”

‘oh-oh, Sehun mengujinya.’ Pikir Taeyeon. ‘Semoga saja Chorong tidak berbasa-basi ketika dia bilang bahwa ia menyukai film horor, sebab..’

“eum, kurasa The Shining,” jawab Chorong. “kau baca bukunya, tidak? Bukunya lebih seram daripada filmnya.”

“hei, sepertinya menyenangkan.” Kata Sehun. Ia tersenyum penuh persahabatan. Park Chorong  telah lulus.

‘mungkin aku akan meminta Eunji untuk mengajak Chorong tinggal disini selamanya. Dan bukan hanya pada malam-malam ketika orang tua Chorong sedang berkelahi.’ Batin Taeyeon.

“eonni, kau tidak mau memuji penampilanku?” Taeyeon kembali mencoba mencairkan suasana. Ia mengangkat bagian bawah celana montirnya dan berputar-putar seperti model. Ia menunggu Soyeon melontarkan komentar pedasnya. Dulu Soyeon selalu melakukan itu.

Tapi sekarang kakaknya hanya mengatakan, “bagus sekali.”

Tubuh Taeyeon terasa dingin. Ia bertukar pandang dengan Eunji. Tatapan mereka sama-sama menyiratkan kekhawatiran.

“geurom,” kata Soyeon sambil meraih tas kanvasnya, “kurasa sebaiknya kubereskan barang-barangku.” Semua orang dengan serta-merta maju menghampirinya, berebut mengambil tas itu akan membawakannya ke atas. Soyeon tertawa, “tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri.” Ia mulai menaiki tangga. Semua orang mengawasinya. Di tengah tangga ia menoleh dan melempar senyum. “jangan khawatir.” Ia menenangkan mereka. “aku baik-baik saja. Aku hanya tegang karena semua kesibukan ini. Maksudku, pulang ke rumah dan lain-lainnya. Kupikir aku perlu membereskan kamarku. Mengeluarkan barang-barang di tas. Aku akan baik-baik saja. Aku janji.”

Semua orang serempak membuka mulut mengutarakan keyakinan mereka bahwa Soyeon akan baik-baik saja. Mereka juga mempersilakannya untuk beristirahat sepuas-puasnya.

‘kami semua jadi salah tingkah.’ Pikir Taeyeon dengan pahit.

Soyeon tersenyum kecil kemudian berbalik dan meneruskan langkahnya.

“geuraesseo,” ucap ayah Eunji keras-keras setelah Soyeon lenyap dari pandangan. “pertemuan pertama ini berjalan dengan baik.” Ia tersenyum senang.

‘apa dia menyadari bahwa kenyataannya tidak begitu?’ keluh Taeyeon dalam hati. Ayah tirinya ini benar-benar tidak peka!

Ayah Eunji menepukkan kedua tangannya. “oke. Aku mau nonton pertandingan tim Seagull. Kalian…”

“kami bisa mencari kesibukan sendiri, yeobo,” tukas ibu Taeyeon. “jangan khawatir.

Ia mengangkat bahu, “aku tidak khawatir. Kau yang khawatir. Mau kemana kau?”

“menyiapkan makan siang, tentu saja.” jawab ibu Taeyeon sambil menghela napas. Ia menuju ruang makan sementara suaminya bergegas ke ruang baca.

‘ternyata eomma jauh lebih gelisah daripada yang kukira,’ pikir Taeyeon.

Sehun sekali lagi melontarkan tatapan mengancam ke arah Taeyeon, sebelum kembali ke kamarnya di lantai atas.

“hei, Chorong-ah,” Eunji menarik lengan baju temannya itu, “aku ingin menunjukkan padamu cara baru untuk memakai eyeliner.” Ia menggiring Chorong menaiki tangga.

Taeyeon berdiri sendirian di ruang depan. Ia berpegangan pada susuran tangga, berusaha menguasai perasaannya. Mencoba meresapi kenyataan bahwa Soyeon sudah kembali ke rumah. Ia merasa agak kecewa. Sudah lama ia membayangkan peristiwa ini. Membayangkannya dengan penuh ketakutan sekaligus kerinduan. Sekarang saat itu sudah datang dan berlalu. Dia dapat mendengar bunyi langkah kaki Soyeon di kamarnya di lantai atas. Hatinya melonjak. Soyeon! Soyeon sudah pulang! Betapa inginnya ia berlari ke atas dan menemui kakaknya itu. menggelitiki dan menggodanya. Memeluknya. Tapi mungkin lebih baik kalau untuk sementara dia dibiarkan sendiri. Itu memang keinginannya Soyeon sendiri.

Akhirnya Taeyeon pergi ke dapur. Ibunya sedang berdiri di bak cuci, membelakanginya.

“eomma,” panggil Taeyeon.

Ibunya berpaling. Matanya sembab dan berair. Ia meraih gulungan serbet kertas dan membersit hidungnya keras-keras pada kertas kasar itu.

“jangan pakai itu. biar kuambilkan tisu.” Ucap Taeyeon.

“mian,”

“jangan begitu! Kenapa eomma harus minta maaf?”

“eomma.. eomma hanya senang sekali akhirnya ia pulang.”

“jinjja? Tapi kenapa sikap eomma malah sebaliknya?” Taeyeon memutar bola matanya. “aku juga senang.” Tambahnya. Dia tahu ucapannya itu akan membuat ibunya senang.

“oh, aegiya..” ia menekati Taeyeon dan memegangi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “kau sungguh-sungguh?”

Kenapa ibunya terus-menerus khawatir begini? Kenapa sulit sekali bagi ibunya untuk mempercayai ucapan orang?

“ani, aku bohong pada eomma, seperti biasanya.” Jawab Taeyeon jengkel. “eomma~ tentu saja aku bersungguh-sungguh!”

Ibunya mendengus, “Taeng-ah, eomma tahu ini akan sulit untukmu. Tapi…”

“tapi kita harus berusaha sebisa mungkin untuk membuat Soyeon-eonni betah dan merasa nyaman di rumah,” Taeyeon memotong perkataan ibunya. Ceramah seperti ini sudah ratusan kali didengarnya selama beberapa minggu terakhir ini.

“benar.”

“eomma, aku tahu ini sulit bagimu, tapi jangan khawatir. Eonni sudah sembuh. Dia sudah pulang. Keluarga kita sudah berkumpul lagi,” Taeyeon mengecup pipi ibunya. “semuanya akan beres. Aku yakin!”

Ibunya tersenyum dan menyapu air matanya lagi.

Taeyeon kembali ke ruang depan. Dapat didengarnya suara ayah tirinya yang sedang meneriaki para pemain base ball di layar kaca. Rupanya tim Seagull kalah.

Taeyeon perlahan-lahan menaiki tangga. Soyeon masih mondar-mandir di kamarnya, bunyi langkah kakinya tertangkap oleh Taeyeon. Pintu kamar Sehun di ujung koridor tertutup, seperti biasanya. Dari ujung lain koridor itu, terdengar suara orang cekikikan. Pasti Eunji dan Chorong sedang mencoba-coba makeup di kamar ibunya.

Taeyeon mendengus. Harum wewangian yang dikenalnya memenuhi udara. Harum buah persik dan bunga mawar. Aneh. Jangan-jangan Eunji…

Taeyeon bergegas menuju kamarnya yang pintunya terbuka. Bau itu semakin menusuk. Taeyeon berhenti di ambang pintu. Ia ternganga kaget.

Botol parfumnya. Parfum Ma Chérie kesayangannya pemberian Suho, kekasihnya. Botolnya terbalik. Tutupnya terbuka. Isinya mengalir dan membasahi meja riasnya, dan menimbulkan genangan kecil di karpet.

“siapa yang melakukan ini?? Siapa??” pekik Taeyeon. teriakannya di susul oleh bunyi gedebak-gedebuk(?), bunyi langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa menyusuri koridor.

Eunji dan Chorong melompat masuk kamar. “ada apa?” tanya Eunji terengah-engah.

“lihat!” Taeyeon menunjuk meja rias dan parfum tumpah itu.

“o-ow,” gumam Eunji. Dia cepat-cepat melangkah maju dan menegakkan botol parfum berbentuk seruling itu.

“percuma,” ucap Taeyeon, menghela napas. “dia menumpahkan semuanya.”

“dia?” tanya Chorong. “dia siapa?” matanya yang berwarna gelap melebar.

“Soyeon, tentu saja!” bentak Taeyeon. “memangnya kau kira siapa??” Taeyeon melhat Chorong dan Eunji bertukar pandang. ‘bukan aku yang gila.’ Pikir Taeyeon sengit. Soyeon belum satu jam di rumah dan masalah sudah timbul lagi.

“Taeyeon, lihat ke jendela!” tunjuk Eunji. Taeyeon menolehkan kepala. Jendela kamarnya masih terbuka, angin dingin menerpa dan mengangkat-angkat tirai. “kau meninggalkan kamar tanpa menutup jendela.”

“memangnya kenapa??” tanya Taeyeon ngotot.

“jadi, mungkin botol parfummu terbalik karena tertiup angin.” Jawab Eunji.

“tidak mungkin!” bantah Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi kemarahannya mulai surut. “aku akan bicara pada Soyeon.” Taeyeon berjalan ke pintu, tapi Eunji menghadangnya. Taeyeon melihat Chorong memandangi mereka dengan cemas.

“hajima!” tegas Eunji. ”eomma dan appa akan memenggal kepalamu kalau kau seenaknya melemparkan tuduhan pada Soyeon. Dia baru pulang!”

“ne, tenanglah, eonni.” Bujuk Chorong. “maksudku, apa kau akan menyalahkan Soyeon-eonni untuk setiap musibah yang terjadi?”

Taeyeon mendadak merasa tubuhnya merasa lemas. Ia terhenyak di tepi tempat tidur. “aku tidak tahu aku ini kenapa.” Ia mendesah. “aku hampir saja melakukan sesuatu yang bodoh, bukan?”

Eunji dan Chorong mengangguk dengan kompak.

“musibah.” Gumam Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia ingin percaya bahwa kejadian itu hanya kesialan yang kebetulan menimpanya. Ia sungguh-sungguh ingin percaya.

“wow!” terdengar seruan dari ambang pintu. Taeyeon mengangkat wajahnya. Sehun berdiri di ambang pintu sambil mengendus-ngendus. Ia mempelihatkan tampang jijik. “ewww, bau apa ini?”

Sehun! Taeyeon belum sempat berpikir bahwa mungkin Sehun pelakunya. “tunggu pembalasanku!” kata Sehun tadi pagi.

Kini Taeyeon menatap Sehut lekat-lekat. “apa kau yang melakukannya?” tanyanya penuh tuntutan. “kau yang menumpahkan parfumku?”

Perlahan Sehun tersenyum lebar. Begitu lebar senyumnya hingga nyaris memenuhi seluruh wajah. “mungkin.” Jawabnya santai.

To be Continue~!^^ Don’t be silent reader! (-,-\)

Leave comment, please!^^

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on March 12, 2014, in Series, SuTae and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. Aku sukaa thorr daebakk!thor lanjutin ff luhan taeyeon dongg heheehe semangat ya thor!

  2. Iiihhhh…sehun,jhat bnget c…
    Kya”.y c da yg ga bres sma soyeon eonni…hehehe

  3. sehun gila.. pengen deh masukin sehun ke rumah sakit jiwaaa.. sebel banget punya adek tiri kyak gituuuu..
    kira-kira Seyeon itu bener2 udah sembuh ga yaa??
    update soon thor, fighting!!!
    #lebihcepatlebihbaik

  4. Sehun udah gila tuh,gila gila :p eh tapi jngan deh,sayang kan han nanti ngak punya uke lagi T,T *lupakan*

    TBC nya nga nyenengin amet dah,lagi asik bca eh malah keluar tulisan itu ._. Gapapa deh wkwk *labil*

    Keep write,dan Fighting!!

  5. aku masih curiga sama soyeon,, kayaknya aneh gitu….
    dan apa bner sehun yg numpahin botol parfum taeyeon..???
    kayaknya iya deh, tpi gk tau…. klo iya sehun jhat bnget…..
    hhmmm…..
    lanjut eonn… kerennn !!!!

  6. Sehun kenapa ??? Mungkinkah?? Aigo gak nyangka deehh eon trus taeng unni knap nuduh seyeon??
    Penasaran
    next chap~ dtunggu

  7. Putri Wardania

    Aku sebel sama sehun disini ilah pengen aku apain deh gemes greget, untung ini cuma cerita wkwk, aku semakin penasaran nih soyeon itu bener2 udah sembuh ato mungkin dia emang bener2 pengen ngebunuh taeyeon tapi gak gila? Idialah penasaran banget, terus sehun kok serem banget yah, tapi kayaknya anceman sehun itu lebih parah dari parfum itu deh, soalnya kayak nya sehun gak suka banget sama taeyeon, waeeeee padahal aku SeYeon shipper #abaikan

  8. Bener2 penasaran sama tingkah laku sehun, kenapa dia benci banget sama taeng? Ya ampun ffnya daebak, bikin penasaran gini u.u

  9. Masih penasaran~

  10. lm klmaan taeyeon nih yg d krim ke rsj…
    kasian bgt ih…

  11. Ih nyebelin bgt nie sehun trlalu misterius bgt…kyk ketakutan taeyeon udh parah bgt th sampai ska2 berpikir aneh deh..ah ini gra seyeon eonni bwt tae eonni ke takuttan nih hehe

  12. udah tegang kirain pisau apaan eh ternyata properti film /?
    taeng kenapa sih suujon mulu sama soyeon-_-

  13. Part 1-3 says comment disini y! Dari part 1-3 DAEBAK Thor!

  14. Kereeenn semoga endingya soyeon baiiikk amin

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: