[FF] The Weird Sister (Chapter 4)

page Author : Ashiya

Cast :

  • Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Soyeon (T-ARA)
  • Eunji (A-Pink)
  • Sehun (EXO)
  • Chorong (A-Pink)
  • Suho (EXO)

Genre :

  • Mystery

Length :

  • Multichapter

Disclaimer : This fiction is mine. Inspired by R.L Stine’s novel ‘The Stepsister’

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Previous chapter

“musibah.” Gumam Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia ingin percaya bahwa kejadian itu hanya kesialan yang kebetulan menimpanya. Ia sungguh-sungguh ingin percaya.

“wow!” terdengar seruan dari ambang pintu. Taeyeon mengangkat wajahnya. Sehun berdiri di ambang pintu sambil mengendus-ngendus. Ia mempelihatkan tampang jijik. “ewww, bau apa ini?”

Sehun! Taeyeon belum sempat berpikir bahwa mungkin Sehun pelakunya. “tunggu pembalasanku!” kata Sehun tadi pagi. Kini Taeyeon menatap Sehut lekat-lekat. “apa kau yang melakukannya?” tanyanya penuh tuntutan. “kau yang menumpahkan parfumku?”

Perlahan Sehun tersenyum lebar. Begitu lebar senyumnya hingga nyaris memenuhi seluruh wajah. “mungkin.” Jawabnya santai.

***Chapter 4***

“ya! Kenapa kau melakukan itu??”berang Taeyeon berjalan mendekati Sehun hingga akhirnya mereka saling berhadapan.

Sehun kembali tersenyum menyeringai. Senyuman yang di benci Taeyeon. “babo!” Sehun tertawa mengejek.

Taeyeon mengepalkan kedua tangannya di sisi badannya, berusaha menahan emosinya. Eunji dan Chorong tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya berdiri menonton kedua adik kakak itu.

“eonni, sudahlah.” Chorong berusaha melerai. “Sehun-ah, sebaiknya kau kembali ke kamarmu.”

Sehun kembali melempar tatapan tajam pada Taeyeon, “tunggu saja kejutan-kejutan lainnya!” ia memperlihatkan kembali seringaiannya sebelum akhirnya melenggang meninggalkan kamar itu dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celananya.

Taeyeon jatuh terduduk di sisi tempat tidur. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Tubuhnya tampak gemetar. Eunji dan Chorong duduk di samping kiri dan kanannya. Memeluk Taeyeon yang tampak terguncang dengan kejadian itu.

Sehun membanting pintu kamarnya sebelum menghempaskan dirinya ke tempat tidur empuknya. Raut wajahnya tampak lelah. Ia memejamkan matanya dan memijit-mijit pelan pelipisnya sambil memejamkan matanya. Ia membayangkan kembali kejadian-kejadian yang tidak mengenakan saat dia bertengkar dengan kakak-kakaknya. Sehun membuka kedua matanya dan memukul tempat tidurnya dengan kesal.

***

Keesokan paginya, hari minggu, Taeyeon tidur sampai siang. ia terbangun ketika mendengar ayah tirinya  berteriak dengan riang dari lantai bawah. “aegideul, ireona!! Ppali!!”

Taeyeon agak kaget karena ayah tirinya itu ternyata telah merencanakan  untuk mengajak mereka sarapan di restoran wafel dan pancake yang baru saja di buka, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sepanjang tahun ini, ayah tiri mereka mengeluhkan tentang penurunan omzet penjualan di pabrik roti yang di pimpinnya, dan berulang-ulang ia menekankan bahwa mereka sekeluarga harus berhemat. Tapi hari ini hari besar. Keluarga mereka telah berkumpul kembali. Restoran pancake yang ramai dan bising merupakan tempat yang cocok untuk merayakan reuni itu.

Taeyeon berpakaian dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan sweater kuning cerah sebagai padanan celana ketat hitamnya. Ia ingin penampilannya memberi kesan cerah-ceria.

“Sehun! Cepat siap-siap! Dimana kau?” teriak ayah Sehun dari bawah. “Sehun!”

Beberapa lama kemudian, barulah terdengar jawaban malas dari dalam kamar Sehun. “aku tidak ikut. Bukankah kau melarangku keluar rumah?”

“aissh, anak itu! jinjja!!” kesal ayahnya.

“ajussi, aku pamit pulang dulu.” Ucap Chorong tiba-tiba.

“kau tidak mau ikut kami?” tanya ibu Taeyeon.

“sudahlah, kau ikut saja!” ajak Eunji.

“mianhae, aku senang sekali kalian mengajakku. Tapi aku sudah ada janji dengan eomma.” Sahut Chorong.

Akhirnya Chorong pulang dan mereka pun berangkat tanpa Sehun. Ayah dan ibu mereka duduk di kursi depan dalam mobil mereka. Soyeon, Eunji, dan Taeyeon duduk berdesakan di kursi belakang, sambil terus mengoceh seakan-akan mereka baru bertemu.

Sesampainya di restoran. Mereka memesan pancake dan telur. Ayah mereka memesan setumpuk besar pancake yang di atasnya di beri telur dan steak. Ketika hidangan itu tiba, ia menyiram semuanya dengan mentega dan sirup maple.

Eunji sedikit bergidik melihat menu makan ayahnya itu. ‘aigoo, appa ini jorok sekali.’ Eunji mendumal dalam hati. Ayahnya ini selalu berpura-pura keren, padahal sikapnya begitu kampungan. Saat dia membungkuk di atas piring, kepalanya yang botak berkilauan terkena sinar lampu.

“Mmmm. Ini hidangan terlezat yang pernah kumakan selama setahun!” puji Soyeon. Di dagunya terlihat bercak sirup. “kalian tahu, aku pernah memimpikan makan pancake!”

“aku pernah mimpi makan roti isi selai kacang,” Eunji menanggapi.

“kacangnya halus atau kasar?” tanya Soyeon.

“tentu saja kasar!” sahut Eunji. “ketika aku bangun, gigiku sakit hingga akhirnya aku terpaksa ke doter gigi.”

Sebenarnya lelucon itu tidak lucu, tapi semua orang tertawa.

‘Sikap Soyeon sudah lebih normal pagi ini.’ Pikir Taeyeon dengan gembira.

“kalian tahu tidak, apa namanya wafel yang di buat dari telur busuk?” timbrung ayah mereka. Ia berbicara dengan mulut penuh makanan.

Soyeon meladeni dengan gurauannya, “aniyo, apa namanya?”

“wafel busuk!”

Ketiga anak gadisnya mengerang, “appa, itu tidak lucu!” seru Taeyeon. Sudah beberapa bulan ia memanggil ayah tirinya dengan sebutan “appa”. Ia mulai terbiasa dan tidak canggung lagi. Ibu Taeyeon tertawa. Matanya berbinar-binar. Taeyeon tidak percaya ibunya bisa benar-benar menikmati gurauan aneh tadi. Ibunya benar-benar mencintai orang ini, Taeyeon menyadarinya. Meskipun sudah lewat setahun, hal ini masih membuat Taeyeon terheran-heran. Taeyeon melihat senyum ayah tirinya perlahan-lahan memudar.

“aku hanya berharap Sehun bisa memperbaiki diri,” katanya dengan wajah muram. Dilemparkannya serbetnya ke meja. “aku agak khawatir memikirkan Sehun.”

‘nado.’ Sahut Taeyeon dalam hati. Taeyeon terlonjak ketika pergelangan tangannya di sentuh. Ia menoleh dan mendapati Soyeon sedang tersenyum padanya.

“setiba di rumah nanti, kita mengobrol yuk!” ajak Soyeon. “semalam aku terlalu capek, padahal ingin rasanya bertukar cerita.”

“oh ya, sepertinya menyenangkan!” Taeyeon menyetujui dengan gembira. “aku.. aku juga ingin ngobrol denganmu.” Taeyeon melihat ibunya memandangi mereka sambil tersenyum senang. ‘Keadaan benar-benar sudah membaik,’ pikir Taeyeon.

Makan pagi itu berlangsung selama 2 jam. Acara makan pagi keluarga yang paling lama dan paling berisik yang bisa diingat Taeyeon.

***

Ketika mereka akhirnya tiba di rumah, Soyeon dan Taeyeon  menyelinap ke ruang baca. Ruangan itu gelap. Tirai-tirainya tertutup. ‘Sehun pasti baru dari sini, nonton film horor lagi.’ Pikir Taeyeon. Sehun paling senang bergelap-gelapan begini, menutup semua tirai sehingga ruangan itu menjadi segelap gua.

Taeyeon meraba-raba dinding, mencari tombol lampu. Namun sebelum ia sempat mencapainya, dirasakannya tangan dingin Soyeon mencengkram tenggorokannya. Taeyeon terengah ketika Soyeon mencekiknya. “ahhh..,” Taeyeon berseru lemah. Dia mundur dengan terhuyung-huyung ke belakang. Soyeon segera melepas cekikannya.

Selang beberapa saat, Taeyeon tidak mampu bergerak saking kagetnya. Kemudian dengan tergesa-gesa dia mundur, tangannya mencakar-cakar dinding yang dilapisi kayu. Ia menabrak sofa dan jatuh terduduk di sofa itu.

Lampu tiba-tiba menyala dengan terang. Saking terangnya, sinarnya membutakan mata Taeyeon. Kemudian dilihatnya Soyeon. Ia berdiri di ambang pintu dan dengan tatapan sulit di mengerti ia memandangi Taeyeon. “kenapa kau melakukan itu??” tanya Taeyeon dengan tenggorokan tercekat, di usap-usapnya lehernya dengan kedua tangannya. “sebenarnya apa maumu??” Jantung Taeyeon berdegup keras, napasnya terengah-engah. Suaranya nyaring dan melengking.

Soyeon masih menatapnya dengan tatapan dingin dan mulai kembali berjalan mendekatinya. Taeyeon refleks mundur menjauh.

“Taeyeon…” lirih Soyeon. “mianhae.” Ucapnya pelan.

“eh?”

“mianhae. Aku harus membuktikan sesuatu.”

“mwo?? Membuktikan sesuatu??” jerit Taeyeon. “dengan mencekikku??”

“ketika aku menyentuh tanganmu di di restoran, kau terlonjak,” kata Soyeon pelan dan tenang. “aku tidak tahu apa yang kuhadapi ketika aku pulang,” kata Soyeon melanjutkan. Pandangannya tidak pernah lepas dari adiknya itu, “sudah kukira bahwa kau belum memaafkanku. Tapi tentu saja aku tidak menduga bahwa kau akan melonjak ketakutan setiap kali aku menyentuhmu.”

“eonni….kau.. kau baru saja mencoba mencekikku.” kata Taeyeon terbata-bata.

Soyeon menggelengkan kepalanya. “tidak. Aku hanya meletakkan tanganmu di lehermu. Aku tidak meremasnya. Aku tidak mencoba mencekikmu. Tapi kau… kau takut padaku.” Suara Soyeon sarat dengan emosi. “aku tidak pernah menduga kau akan bersikap begini.”

Taeyeon dengan ragu-ragu melangkah menghampiri kakaknya. “kau mengagetkanku, Cuma itu. aku tidak takut padamu. Jeongmal. Tapi kenapa kau harus berpura-pura mencekikku untuk membuktikan—“

“aku hanya ingin menunjukan padamu betapa ketakutannya kau,” tukas Soyeon. Ia menyipitkan matanya dengan ekspresi serius. “dengar, aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kau takut. Tapi kau harus percaya bahwa aku sudah sembuh sekarang. Aku tidak akan pernah mencoba melukaimu lagi. Kau harus janji tidak akan takut padaku. Sebab…” suaranya terputus. Soyeon berhenti sejenak. “sebab itu membuat hatiku sakit.” Soyeon menghela napas. Butir-butir air mata mengalir turun di pipinya yang pucat. “menangis itu tidak apa-apa, kok.” Lirih Soyeon. “menangis itu bagus. Perasaan itu bagus. Bukan jelek. Kita tidak perlu malu akan perasaan kita.” Ia tersenyum. “dokter yang mengatakan itu padaku.”

“oh, geurae.” Taeyeon menganggapi dengan salah tingkah.

“kau percaya padaku, kan?” tanya Soyeon. “kau bisa lihat bahwa aku sudah sembuh, kan?”

Taeyeon ingin sekali mempercayai perkataan kakaknya. Tapi, kenapa Soyeon memakai cara yang begitu mengerikan untuk membuktikan pendapatnya? Taeyeon menyingkirkan pertanyaan itu dari benaknya. Ia tersenyum. “aku percaya.”

Soyeon menyeka airmatanya. “ayo, kita ke kamarku supaya bisa ngobrol. Ruangan ini membuatku tertekan.” Ajak Soyeon. “kau masih jalan dengan Suho?” tanyanya lagi ketika mereka menaiki tangga. Dia melontarkan pertanyaan itu dengan nada biasa, seakan-akan menanyakan jam saja. Padahal Suho adalah mantan pacar Soyeon, sebelum akhirnya berpacaran dengan Taeyeon.

“ne,” jawab Taeyeon, berusaha menanggapi dengan nada biasa juga. “aku masih jalan dengannya.”

“wow!” komentar Taeyeon ketika memasuki kamar Soyeon. “kamarmu mulai kelihatan seperti dulu.”

Minggu sebelumnya, ibu mereka bekerja keras memindahkan harta benda Soyeon seperti manik-manik, boneka, dan lain-lain, dari ruang bawah atap kembali ke kamarnya. Soyeon menjatuhkan diri ke kursi goyang rotan. Ia mengawasi Taeyeon yang sedang menginspeksi seluruh kamar.

“kenapa dinding itu ditutup dengan kain?”tanya Taeyeon.

“itu untuk melindungi muralku. Aku baru mulai melukis tadi pagi.”

“kau membuat lukisan dinding? Kau melukis di dinding? Apa eomma sudah tahu?”

“eomma bilang aku boleh melakukan apapun yang aku mau. Itu salah satu keuntungannya jadi orang gila, Taeyeon-ah. Karena otak kita kurang beres, semua orang jadi baik pada kita. Kau coba sendiri deh!”

Taeyeon tertawa, “jadi, apa yang kau lukis?” tanyanya, bersiap-siap untuk menyibakkan kain putih itu.

“hajima!!” Soyeon membungkuk ke depan dan mengibaskan tangan Taeyeon. “kau tidak boleh mengintip sebelum lukisannya jadi. Aku hanya bisa memberitahumu bahwa ini akan menjadi mahakarya yang mewakili semua perasaanku. Oh, lihat apa yang kutemukan.” Soyeon mengacungkan beberapa brosur perguruan tinggi. “sepertinya sudah waktunya aku mendaftar ulang.”

Sepertinya Soyeon benar-benar sudah sembuh. Harapan Taeyeon mulai berkobar. Bila Soyeon sudah kembali menjadi dirinya yang dulu, berarti mereka berdua mempunyai masa depan yang cerah. Mereka bisa hidup  sebagai dua saudara untuk selama-lamanya.

“bagus sekali. Kau yakin kau sudah siap untuk masuk universitas?” tanya Taeyeon dengan hati-hati, agar Soyeon tidak tersinggung.

“kalau aku di terima, aku akan minta cuti setahun. Supaya aku betul-betul sembuh.”

Taeyeon mengangguk, “ne, mestinya memang begitu.”

Selama setahun penuh Taeyeon telah membayangkan adegan ini. Dia dan Soyeon berhadap-hadapan. Dalam bayangan itu, dia kadang menangis, atau menjerit-jerit. Tak terpikirkan olehnya bahwa pertemuan mereka ternyata akan seperti ini. Mereka berdua mengobrol dengan tenang.

“bagaimana hubungan eomma dan appa baru kita?” tanya Soyeon. “aku ingin dengar yang jelek-jeleknya. Mereka tidak lagi bertingkah seperti sepasang merpati, kan?”

“sayang sekali mereka memang masih seperti itu,” sahut Taeyeon sambil tertawa.

“wow, daebak!” seru Soyeon, matanya berbinar. Mereka berdua cekikikan. “dan bagaimana hubunganmu dengan Eunji?” Soyeon melanjutkan ’interogasi’nya.

“Eunji? Kami…” Taeyeon berhenti. Hei, hati-hati, ia mengingatkan dirinya sendiri. Hampir saja ia keceplosan bicara, menceritakan betapa akrabnya dia dengan saudara tiri mereka itu sekarang.

“bisa berteman?” bantu Soyeon.

“ne, kurang lebih begitu.” Jawab Taeyeon.

“hmm.. hebat juga ya, kalian berdua bisa berteman, padahal dulu aku sudah bersusah payah untuk membuatmu mencurigainya.” Soyeon mengatakan itu dengan nada datar, tapi kemudian ia tersenyum pada Taeyeon. senyum bersalah. Senyum penyesalan.

‘Pasti sulit baginya untuk memaafkan dirinya sendiri,’ pikir Taeyeon. tiba-tiba saja Taeyeon di penuhi rasa iba terhadap kakaknya.

Soyeon mendongakkan kepalanya dan menatap langit-langit. Taeyeon mengamatinya dan mau tidak mau mengaguminya. Soyeon sangat cantik. Soyeon mengalihkan tatapannya pada Taeyeon dan tersenyum geli.

“wae?” tanya Taeyeon.

“noda di langit-langit masih ada sampai sekarang.” Taeyeon memandang ke atas dan tertawa.

Dulu saat dia dan Soyeon  masih kecil, mereka mengisi pistol air mereka dengan root beer. Mereka pikir minum soda dari pistol air pasti lebih asyik daripada minum dari botol. Tapi akhirnya, bukannya minum mereka malah main perang-perangan, dengan akibat noda di langit-langit itu.

“appa marah sekali.”Taeyeon mengenang ayah kandungnya sambil tertawa, “belum pernah aku melihatnya semarah itu.”

“waktu itu appa baru saja memplester langit-angit, setelah membetulkan bocor di ruang bawah atap.” Ucap Soyeon.

Soyeon menoleh. Pandangan mereka bertemu. Taeyeon merasa sangat santai. Seluruh ketegangannya sudah lenyap. Bukan hanya percakapan itu yang membuat Taeyeon lega. Ia lega karena dengan kembalinya Soyeon, ia seakan-akan mendapatkan kembali sebagian dari ayahnya. Karena hanya Soyeon dan dan ibunya yang dapat di ajaknya bernostalgia mengenang ayahnya.

“eonni,” kata Taeyeon lembut, tenggorokannya tersumbat. “aku senang kau sudah pulang.”

Soyeon mengerutkan dahi. “kau tidak berani bertanya? Jangan begitu. Aku ini bukan orang lain.”

Taeyeon mengerutkan dahinya, “tidak berani bertanya apa?”

Soyeon menirukan suara Taeyeon. “jadi, eonni, bagaimana pengalamanmu di rumah sakit?”

“oh, geurae? Okay! Eonni, bagaimana pengalamanmu di rumah sakit?” Mereka berdua tertawa.

“kau tahu tidak? Menurutku hidup di RSJ itu asyik!”

“jinja? Kau pasti bercanda.” Ibunya selalu mengatakan bahwa Soyeon di perlakukan dengan baik di Rumah Sakit Jiwa itu. tempatnya bagus dan dikelola dengan sempurna. Pokoknya, tidak seperti rumah sakit jiwa dalam film-film. Namun sekeras apapun Taeyeon mencoba untuk mempercayainya, ia tidak dapat menghilangkan bayangan tentang siksaan-siksaan yang dialami Soyeon disana. “kau benar-benar senang disana?”tanya Taeyeon lagi. “apa enaknya tinggal di tempat itu?”

“di rumah sakit, semuanya sudah diatur untuk kita. Setiap hari ada jadwal yang harus di ikuti dan banyak kegiatan yang menarik. Seperti membuat patung tanah liat, melukis, mendengarkan cerita, pertukangan, bahkan reparasi mobil.”

“kedengarannya memang menyenangkan,” komentar Taeyeon. “mungkin aku harus masuk ke sana.”

Soyeon tergelak. “semua kegiatan itu tentu ada maksudnya. Kita diharapkan dapat menyalurkan semua kemarahan kita.”

“oh.” Taeyeon mengangguk mengerti.

Soyeon menunduk mengamati kedua tangannya. Taeyeon melihat kukunya yang kasar dan pecah-pecah. Dulu Soyeon begitu memperhatikan keindahan kukunya. Soyeon melipat tangannya. “mestinya aku tidak menimpakan kesalahan padamu.” Wajahnya diliputi perasaan bersalah. “hal itu begitu…gila…ya…gila.”

Taeyeon menelan ludah. “kau menyalahkanku atas kematian appa. Hei, aku juga berpikir begitu. Bahkan sampai sekarang aku masih menyalahkan diriku sendiri.”

“jangan! Jangan berpikir begitu lagi! Rasa bersalah adalah racun. Racun yang sangat berbahaya. Appa meninggal karena kecelakaan yang mengerikan. Kebetulan saja kau ada di sana. Titik. Ceritanya sudah tamat.”

‘hanya saja ceritanya tidak berakhir sampai disitu.’ Pikir Taeyeon dengan sedih.

Ia sedang berpesiar dengan ayahnya ketika musibah itu terjadi. Perahu motor yang mereka tumpangi terbalik. Dan dengan mata kepalanya sendiri, Taeyeon menyaksikan ayahnya tenggelam. Sampai sekarang adegan itu masih menghantuinya. Ayahnya tenggelam lagi dan lagi… dalam pikirannya, dalam ingatannya, dan dalam mimpinya. Pasti Soyeon mengalami hal yang sama. Dan kemarahannya membuatnya jadi gila.

“aku sudah belajar untuk menerima itu.” ucap Soyeon. “kadang-kadang hal yang tidak mengenakkan bisa terjadi. Musibah menimpa kita. Tapi dokter-dokterku menunjukkan padaku bahwa aku telah keliru menempatkan kemarahanku. Aku sebenarnya marah pada alam. Tapi bagaimana aku membalas dendam padanya? Karena itu kau yang menjadi sasaranku.”

“arasseo.” Jawab Taeyeon.

Soyeon tersenyum penuh harapan. “tapi aku punya kabar baik. Sekarang semua kemarahanku sudah hilang dan….” Suara Soyeon semakin mengecil. “dan kuharap suatu hari kau akan memaafkanku.”

Taeyeon mengangguk. “sekarang pun kau sudah memaafkanmu.”

Soyeon menggeleng. “kau tidak perlu bicara begitu.”

“tapi aku bersungguh-sungguh. Aku memaafkanmu.” Soyeon menatap Taeyeon lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca. Taeyeon mendongak melihat jam dinding. “ommo, aku terlambat! Aku mestinya menemui Suho 20 menit yang lalu.”

Soyeon meletakkan sebelah tangannya di lengan adiknya. “gomawo, Taeng. Terima kasih atas pengertianmu.”

Tiba-tiba pintu ruang baca terbuka, dan Ginger menghambur menghampiri mereka. Ia menyalak-nyalak, melompat-lompat, dan menggaruk-garuk kaki Soyeon dan Taeyeon, meminta perhatian. Taeyeon menggendong Ginger hingga anjing itu bisa menjilat wajah Soyeon. Taeyeon tertawa melihat anjing peliharaannya. “ini Soyeon-ajumma, Ginger.” Kata Taeyeon seolah berbicara dengan anak kecil. “bagus. Cium dia!”

Soyeon tertawa cekikikan sambil berusaha memundurkan kepalanya. Tapi Ginger melepaskan diri dari gendongan Taeyeon dan melompat ke pelukan Soyeon. ia menggeliat-geliat sambil menjilati pipi dan leher Soyeon. Soyeon balas mencium hidungnya. “gomapta, Ginger-ah.” Katanya senang, “perlakuanmu ini benar-benar membuatku merasa di terima kembali menjadi anggota keluarga ini.”

***

“oke, sekarang aku akan melompat tiga kali, kemudian memutarmu sehingga kau bisa melakukan lompatan di udara. Kau mendarat dengan satu kaki dan…..”

“oppa, hajima! Jangan memutarku! Jangan!”

Tapi Suho membandel dan tetap memutarnya. Taeyeon menjerit-jerit. Dirasakannya bagaimana pisau-pisau sepatu luncurnya berbenturan dan tersangkut. Ia kehilangan keseimbangan. Suho berusaha membantunya. Mereka berdua tergelincir di atas es yang licin. Meluncur tak terkendali sepanjang danau. Dan akhirnya jatuh tertelungkup.

“gwaenchana?” tanya Suho.

“maksudmu, selain patah tulang?” dengan susah payah Taeyeon membalikkan badannya dan berbaring telentang.

“mian.” Kata Suho tersengal-sengal.

“mian?” ulang Taeyeon. “sudah tiga kali kau meminta maaf, tapi tetap saja kau memutarku dan membuatku terjerembab di es.”

Suho tertawa, “baiklah, aku menyesal. Benar-benar menyesal.” Ia berpaling sehingga wajahnya bersentuhan dengan wajah Taeyeon. Tapi sebenarnya Taeyeon tidak menyesal, karena dia sangat menyayangi namjanya itu.

Saat ini mereka berada di sebuah danau es di pedalaman kota Ilsan, jauh dari pemukiman dan cukup sepi. Saat musim dingin, danau itu membeku dan beberapa kali Taeyeon dan Suho datang ke tempat ini sekedar untuk berkencan. Mereka hanya berdua di tempat sepi itu. Di kelilingi salju yang berkilauan, dinaungi langit yang cerah khas musim dingin. Sempurna. Kecuali bahwa tubuh Taeyeon terasa sakit semua.

“kali ini aku tidak mau bangun lagi.” Ucap Taeyeon.

Mata Suho berkilat-kilat nakal. “bagus!” sahutnya, lalu mencium bibir mungil Taeyeon. Suho tersenyum saat ia merasakan Taeyeon mulai membalas ciumannya. Ia melumat bibir atas dan bawah Taeyeon bergantian. Suho berada di atas tubuh Taeyeon. semakin lama, ciuman mereka semakin menuntut. Tangan kanan Suho menyelinap di balik sweater yang di kenakan Taeyeon. Saat tangannya menyentuh bra Taeyeon, Taeyeon mendorongnya hingga ciuman mereka terhenti. “wae?” bingung Suho menatap Taeyeon yang masih terbaring di bawahnya.

“aku belum siap.” Ucap Taeyeon dengan wajah memerah.

“arata.” Suho menghela napasnya. Ia mengecup dahi Taeyeon sebelum akhirnya menyingkir dari atas tubuh Taeyeon dan berbaring di sebelahnya. “jadi bagaimana keadaan Soyeon sekarang?” tanya Suho mengalihkan pembicaraan sambil menatap langit yang terhalangi rimbun pepohonan.

Taeyeon di gelitiki rasa cemburu, perasaan yang selalu muncul  setiap kali Suho bertanya tentang kakaknya. Namun Taeyeon berusaha mengusir perasaan itu. “kurasa cukup baik. Mengingat… kau tahu sendirilah, kami memang perlu waktu untuk kembali mengakrabkan diri, tapi….”

“tapi apa?”

Taeyeon mengangkat bahu. “tapi aku senang dia sudah pulang.” Taeyeon bangkit duduk. “dan sekarang dia sedang sibuk membuat mural di dinding kamarnya.”

Suho berdiri, lalu membungkuk untuk membantu Taeyeon berdiri. Taeyeon terpeleset di atas es. Hampir saja mereka berdua jatuh lagi.

“gambarnya apa?” tanya Suho, membantu Taeyeon menyeimbangkan tubuhnya.

“gambar? Oh maksudmu mural itu? molla. Soyeon-eonni tidak mau memperlihatkannya. Dia tidak ingin kami melihatnya sebelum mural itu selesai.” Taeyeon menggigil, membayangkan kain putih yang di gantungkan Soyeon di dinding. Setelah peristiwa tahun lalu, Taeyeon paling benci menghadapi kejutan dan hal-hal yang tak terduga.

“oke,” kata Suho, mengambil ancang-ancang. “ayo kita pulang.” Ia meluncur ke tepi danau. “kajja! Kelihatannya kau sudah hampir beku.”

Taeyeon tidak membantah. Ia meluncur dengan hati-hati dan berhasil tiba di tepi danau denga selamat. Mereka duduk diatas dua batu besar dan melepaskan sepatu luncur mereka, kemudian menggantinya dengan sepatu bot. setelah itu mereka menempuh perjalanan pulang meninggalkan danau beku itu.

Mereka hampir mencapai jalan raya ketika Taeyeon mendengar dengungan bernada tinggi. Seperti bunyi gergaji listrik yang sedang dipakai menebang pohon. Dengungan itu semakin keras. Taeyeon melayangkan pandangannya dan melihat 3 pengendara sepeda motor melaju kearah mereka.

Ketiga motor yang khusus dipakai di medan berat itu dengan lincahnya menembus serpihan-serpihan salju yang beterbangan di belakangnya. Suho dan Taeyeon berdiri terpaku. Ketiga motor itu terus melaju ke arah mereka.

Makin dekat.

Makin dekat!

‘Mereka tidak akan berhenti. Mereka akan menabrak kami!’ pikir Taeyeon dengan ngeri. Kemudian dia melihat salah satu pengendaranya dan berteriak terkejut. “SEHUN!!!” teriak Taeyeon.

Sehun mengerem dengan mendadak.  Motornya berhenti hanya beberapa inci di depan Taeyeon. Sehun membuka kacamata pelindungnya dan membiarkannya bertengger di dahi. Ia menatap Taeyeon dengan galak. Kedua teman Sehun berhenti di belakangnya. Mereka duduk di atas motor dengan ekspresi murung. Kacamata pelindung mereka mirip dengan topeng hantu. Taeyeon mengenali Tao, salah satu teman Sehun dari rambutnya yang hitam cepak.

Sehun-ah!” panggil Taeyeon lagi. “sedang apa kau disini??”

“main sepeda motor,” balas Sehun dengan ketus. “memangnya kau pikir aku sedang apa? Berbuat mesum sepertimu?” ejek Sehun membuat Taeyeon menggertakan giginya. Sehun tertawa, seolah ia baru saja membuat lelucon yang sangat lucu. “hei, Suho!” sapa Sehun sambil menggerung(?) motornya.

“ne.” sahut Suho, menatap Sehun dengan dingin.

“perhatikan dengan siapa kau kau bicara! Dia lebih tua darimu.” Ujar Taeyeon pada Sehun. Taeyeon bersyukur sekali Suho ada di sampingnya. Ulah Sehun makin lama makin keterlaluan. Mungkin dia harus menyewa Suho sebagai pengawal pribadinya. “Sehun-ah,” kali ini Taeyeon berusaha bicara dengan nada bersahabat, “aku bukannya mau mencampuri urusanmu. Tapi………” Taeyeon memelankan suaranya, melirik kedua teman Sehun, “kau sedang di hukum, ingat? kalau appa tahu——-“

“kau pasti akan mengadukannya, kan?” sinis Sehun. “dasar cerewet!” ia berpaling pada kedua temannya, “kakakku ini mata-mata. Ia melaporkan semua perbuatanku pada appaku.” Ia kembali menghadapi Taeyeon. “kalau kau mengadukanku lagi, aku akan——“

“kau akan apa?” tukas Suho penuh ancaman. Taeyeon melihat rasa takut berkelebat di mata Sehun.

“yang pasti dia akan menyesal.” Jawab Sehun menatap Suho dengan garang. Ia kembali menoleh pada Taeyeon. “aku sudah memperingatkanmu.”

Taeyeon tertawa mengejek. “sudahlah, Sehun, jangan sok aksi! Kita tinggal serumah. Aku tahu siapa kau. Kau tidak seperti yang ingin kau tampilkan ini. Kita berbaikan saja, oke?”

Sehun tidak menjawab. Ia hanya menatap Taeyeon dengan sinis. Kemudian menggas motornya dan berlalu dari situ.

Taeyeon berpaling. Suho mengangkat bahu dengan rupa jengkel. “oppa, aku benar-benar khawatir dengan anak itu.”

“tidak perlu.” Ucap Suho mulai berjalan meninggalkan Taeyeon. Taeyeon bergegas menghempirinya.

“wae?”

Suho tidak menjawab.

“oppa, aku serius. Bagaimana mungkin  aku tidak merasa khawatir? Sehun tidak pernah bicara dengan siapapun selain dengan teman-temannya yang nyentrik itu. ia terus menerus bertengkar dengan appa. Ia sering mengalami kesulitan., dan sekarang ia pun berpikiran aneh bahwa aku yang merupakan sumber masalahnya.”

“dia berumur 14.” Kata Suho seakan-akan jawaban itu menjelaskan semuanya.

“jadi?”

“usia 14 adalah masa sulit  bagi anak laki-laki.”

“oh, jadi masalahnya sekarang adalah urusan laki-laki? Omong kosong. Tahun lalu saja ia sudah begini, waktu umurnya 13 tahun.”

“oh ya? 13 tahun juga masa sulit bagi laki-laki. Aku bersikap seperti Sehun ketika umurku 13 tahun.”

Taeyeon tertawa. Tapi dia masih merasa cemas dan sedikit takut karena Sehun dan ancaman-ancamannya.

Setiba di rumahnya, Taeyeon membuat coklat panas dan duduk berdempetan dengan Suho di sofa ruang baca. Berduaan begitu, Taeyeon jadi lupa pada Sehun. Dan Soyeon. dan semua yang lain.

Suho menarik Taeyeon ke dalam pelukannya. Taeyeon mendongakkan wajahnya hingga tatapan mereka bertemu. Suho mengangkat dagu Taeyeon dan mencondongkan badannya mendekatkan wajahnya dengan wajah Taeyeon. Namun saat bibir mereka hampir bersentuhan, mendadak Taeyeon menjauhkan diri.

“waegeurae?” tanya Suho heran.

Taeyeon menatap ke pintu. Ada yang berdiri di luar pintu itu. Taeyeon yakin. “lepaskan aku,” bisik Taeyeon.

Suho menuruti permintaannya. Taeyeon cepat-cepat bangkit.

Sekarang dia dapat melihat bayangan kaki seseorang di bawah pintu. Ada orang disana. Ada orang yang mengintip mereka!

‘Soyeon!’ Taeyeon menduga-duga.

Apakah Soyeon mulai berulah lagi? Dengan hati berdebar-debar, Taeyeon berjinjit ke pintu dan membukanya secara mendadak.

BRAKK!!!

To be continue…..

RCL, please. Mian kl banyak typo. :3

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on March 13, 2014, in Series, SuTae and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 18 Comments.

  1. siapa itu thor??
    Seyeon atau Eunji atau ortu Taeng??
    tau ah gelap..
    updatesoon ya authornim, FIGHTAENG!!!

    thor, nanya yaa.. aku udh baca semua ff bercast Taeng kayak I Got A Boy, One Liter of Tears, Purple Butterfly, banyak deh.. tapi pas udah final chapter malah pake password, gimana dapatin passwordnya itu thor????????????🙂

  2. wah wah wah………
    siapa tuh yang ngintip.. ?? apa soyeon atau eunji atau sehun (gk mungkin) atau ortu nya taeyeon ????
    mmmmmmmmmmm….,,, penasaran…….
    lanjut eonn.. !!!😀

  3. Wah siapa itu…aku ko jdi deg deg.an gni yah eon…
    bgus bgus.,.saya suka saya suka. . .hehehe..

    Next.y jngn lma” yah eon ..

  4. Putri Wardania

    Tebakan aku salah/? Udahlah aku ga mau nebak2 lagi._. Yang pasti makin kesini makin penasaran sebenernya siapa sih yang ga bener/? Idialah next thor penasaran nih curious…..

  5. Kyaaaa ya ampun itu siapa yg ngintip? jadi penasaran lagi huwaaaaa T.T
    next chapnya ditunggu thor😉

  6. Huaaaa aigo seneng deh scene taeng am seyeon?? Trus suho am taeng berbuat mesum aigo2 si sehun mahh??? Apa sehun suka taeng eonni yah?? Penasarann?????
    Duhh deg2an trus siap ntuh yg ngintip..
    Next eonni

  7. Aku takut misterinya sama kaya orphad..serem….ini aja udh rada serem…

  8. intan sekarsari

    yak tutup mata🙂 wah wah suho oppa disini menjadi pervert,dimana sikap malaikatmu oppa🙂
    entah knp aku berfikir jika sehun itu menyukai taeyeon eonni #lol dan yg mengintip itu juga sehun #justmyopinion🙂
    fighting buat ngelanjutin eon🙂

  9. Melati virella

    Hai unnie ^^
    ffnya bgus, salut sma unnie dh bkin crta ini, ak ngbyangin soyeon itu sooyoung eg un, hehe, gtau jga knpa, tpi crtanya bgus, feel.nya dpet ..
    Un, yg only one dong hehe ^^

  10. sapa tuh??
    aduh aq g prcya sm siapapun nih d cerita’a selain ma taeyeon…sehun jg knpa ya bsa gto… pasti da sebabnya walaupun kt’a umur 13-14 lelaki tuh ky gto….au ahhhh poek!

  11. Sebenarnya knp si sehun selalu berbuat aneh sma taeyeon dan bwt kejutan yg bwt aku pnsrn sm si sehun…Aah sehuniee knp kmu misterius bgt sie hehe. Kya suho prevent nie….lalu siapa yg ngitip moment sutae sih ah jadi penasaran nie please update cepat nie ff nya…

  12. taeng kenapa sih kok kaya nuduh soyeon mulu-_-

  13. Eunji!! Cuma nebak -_-

  14. Sambunganny mana INI??
    Penasaran bnget sama perilakuny Soyeon..

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: