[FF] The Weird Sister (Chapter 5)

the weird sister

Author : Ashiya

Cast :

  • Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Soyeon (T-ARA)
  • Eunji (A-Pink)
  • Sehun (EXO)
  • Chorong (A-Pink)
  • Suho (EXO)

Genre :

  • Mystery

Length :

  • Multichapter

Disclaimer : This fiction is mine. Adapted by R.L Stine’s novel ‘The Stepsister’

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

Previous Chapter

Setiba di rumahnya, Taeyeon membuat coklat panas dan duduk berdempetan dengan Suho di sofa ruang baca. Berduaan begitu, Taeyeon jadi lupa pada Sehun. Dan Soyeon. dan semua yang lain.

Suho menarik Taeyeon ke dalam pelukannya. Taeyeon mendongakkan wajahnya hingga tatapan mereka bertemu. Suho mengangkat dagu Taeyeon dan mencondongkan badannya mendekatkan wajahnya dengan wajah Taeyeon. Namun saat bibir mereka hampir bersentuhan, mendadak Taeyeon menjauhkan diri.

“waegeurae?” tanya Suho heran.

Taeyeon menatap ke pintu. Ada yang berdiri di luar pintu itu. Taeyeon yakin. “lepaskan aku,” bisik Taeyeon.

Suho menuruti permintaannya. Taeyeon cepat-cepat bangkit.

Sekarang dia dapat melihat bayangan kaki seseorang di bawah pintu. Ada orang disana. Ada orang yang mengintip mereka!

‘Soyeon!’ Taeyeon menduga-duga.

Apakah Soyeon mulai berulah lagi? Dengan hati berdebar-debar, Taeyeon berjinjit ke pintu dan membukanya secara mendadak.

BRAKK!!!

***

“Chorong!!!” seru Taeyeon.

“mian!” kata Chorong, cepat-cepat mundur. “aku…kupikir Eunji ada di dalam. Sungguh. Aku tidak bermaksud mengganggumu.”

“annyeong, Chorong-ah!” tegur Suho dari sofa.

“apa?” tanya Chorong, seolah tidak mendengar ucapan Suho. “oh, annyeong!” Ia melambai.

“gwaenchana, Chorong-ah.” Taeyeon menenangkan gadis itu. ia sendiri merasa lega.

Ternyata bukan Soyeon.

“masuklah,” kata Taeyeon pada Chorong. “kau tidak perlu kabur.”

Wajah Chorong memerah. “oh, tidak usah. Kau mengerti kan? aku tidak mau mengganggu. Mungkin lain kali. Sekali lagi maaf.” Ia mundur-mundur terus sampai punggungnya menabrak tembok. Ia berbalik dan cepat-cepat berlalu.

Suho memberi isyarat agar Taeyeon kembali ke sofa.

Tapi bayangan tentang Soyeon yang mengintai di balik pintu, meskipun itu ternyata bukan Soyeon, membuat Taeyeon tak berminat lagi untuk bermesra-mesraan dengan kekasihnya. Dengan lesu ia menjatuhkan diri ke sofa.

“Chorong yang malang,” gumam Taeyeon. “aku kasihan sekali padanya. Nasibnya memang jelek.”

“Taeyeon-ah, kau kasihan pada setengah dari orang-orang yang kau temui.”

“habis, setengah dari orang-orang yang ku temui semuanya bersedih hati.” Suho memutar bola matanya. “aku serius, oppa! masalah Chorong sungguh berat. Kedua orangtuanya bertengkar terus. Beberapa minggu terakhir ini Chorong sering sekali kesini, sehingga ia praktis tinggal di sini. Ia tidak tahan diam di rumahnya sendiri. Bukankah itu menyedihkan? Awas kalau kau meledekku lagi!”

Taeyeon bersandar ke sofa, membiarkan lengan Suho melingkari bahunya. Ia memenyandarkan kepalanya ke bahu Suho.

“aku benar-benar suka pada Chorong—“

“lalu aku?? Kau tidak menyukaiku??”

“aissh.. bukan begitu maksudku! Jangan potong ucapanku! Aku tadi mau bilang, aku benar-benar suka pada Chorong, tapi tingkahnya terlalu di buat-buat. Dia begitu ingin menyenangkan setiap orang. Dia tidak bisa santai dan bersikap wajar.”

“malam minggu nanti kau sibuk?” ucap Suho.

“kau tidak mendengarkan perkataanku!” Taeyeon mengomel. “coba ku pikir sebentar. Malam minggu.. Sepertinya aku akan di ajak pergi oleh pacarku.”

Suho tertawa kecil mendengar ucapannya, “mau pergi ke Growl Club?”

“Growl Club? Berdansa sepanjang malam denganmu? Oh, tidak. Terima kasih.”

“oke, nanti ku jemput ya!” sahut Suho tidak menghiraukan ucapan Taeyeon.

Taeyeon mengantar Suho ke pintu depan. Acara perpisahan mereka berlangsung agak lama. Tapi Taeyeon sama sekali tidak keberatan. Ketika Taeyeon akhirnya naik ke kamarnya, didapatinya Eunji sedang duduk di depan komputer. “wah, wah!” seru Taeyeon. “seorang Eunji mulai mengerjakan PR pada pukul 5 sore? Hebat!” Eunji memundurkan kursinya sehingga Taeyeon dapat melihat layar monitor. Ternyata adik tirinya ini sedang main Poker. “nah, ini baru masuk akal.” Komentar Taeyeon.

Taeyeon mengambil botol parfumnya dari atas meja rias. Botol itu sudah kosong, namun harum buah persik dan bunga mawarnya masih tersisa. Ia menghirupnya dalam-dalam.

“menggelikan.” Gerutu Eunji.

Taeyeon berpaling. “apa?”

“sikapmu yang mabuk kepayang membuatku sebal, tahu!” Eunji menatapnya dengan cermat. “kau sadar tidak, betapa beruntungnya kau?”

Taeyeon tersenyum lebar, “tentu saja.”

“ya! Apa kau belum bosan dengan Suho?” tanya Eunji tiba-tiba, seakan-akan pikiran itu  baru saja muncul dalam kepalanya. “barangkali kau ingin mengganti suasana, mencoba-coba kencan dengan namja lain. Aku siap menampung mantanmu lho.”

“tidak lucu!” tukas Taeyeon, memutar bola matanya. Ia paling sebal kalau Eunji bergurau semacam ini tentang Suho. karena ia merasa Eunji tidak bergurau. Kecemburuan Eunji mulai membuat Taeyeon resah. “mau bikin  PR bahasa Prancis sama-sama?” Taeyeon menawarkan. Ia sengaja mengganti pokok pembicaraan.

Eunji berdiri, menggeliat, dan menguap. “tidak usah, terima kasih. Aku mau makan.”

Setelah Eunji meninggalkan kamar, Taeyeon berbaring di kamarnya. Ia senang mendapat kesempatan untuk menyendiri. Di tutupnya matanya, membayangkan Suho. kemudian dipaksanya dirinya untuk mulai mengerjakan PR Prancis itu.

Setelah urusan itu beres, ia beralih ke kalkulus, yang lebih di sukainya. Ketika ia melihat jam di samping tempat tidurnya, ternyata sudah pukul enam. Bahunya terasa kaku, karena ia menulis sambil telungkup. Tenggorokannya kering.

“haus,” gumamnya keras-keras. Ia keluar ke koridor. Pintu kamar Soyeon terbuka lebar. Ia menjulurkan kepalanya ke dalam. “mau minum?” tanyanya.

Ternyata kamar Soyeon kosong. Pandangan Taeyeon terpaku pada kain putih di dinding. Ia menoleh ke belakang. Hatinya tergoda untuk menyibakkan kain putih itu.

‘hajima! Apa-apaan aku ini?’ Taeyeon memarahi dirinya sendiri. Memata-matai Soyeon tidak akan membuat kakaknya itu makin betah di rumah. Taeyeon berbalik dan menuju ke tangga. Ia tiba di puncak tangga dan berhenti mendadak. Soyeon ada di kaki tangga, siap melangkah ke atas.

“eonni.” Panggil Taeyeon.

“ne.”

Mereka berdua mulai berjalan; yang satu ke atas, yang lain kebawah. Soyeon membawa kuas lukisnya, bulu-bulunya bersih dan basah seperti baru di cuci. Namun berhenti beberapa langkah di bawah Taeyeon.

“kau tidak masuk ke kamarku, kan?” tanyanya ngotot.

“masuk? Tidak. Maksudku, aku menjulurkan kepala ke dalam, tapi…”

“kau melihat muralku?”

“aniya!” jawan Taeyeon tajam. Ia merasa lega karena tidak jadi melihat mural itu. taeyeon tidak biasa berbohong dan Soyeon pasti langsung tahu kalau perkataannya tidak benar.

“mian..” ucap Soyeon. “sepertinya aku mengada-ngada, ya?”

“a-aniyo. Gwaenchana.” Sahut Taeyeon cepat. Kakaknya itu tidak mengada-ngada. Tebakannya hampir tepat.

“aku hanya… aku hanya tidak ingin lukisan itu di lihat orang sebelum selesai.” Soyeon menjelaskan.

“oh, ne.” entah kenapa ia merasa canggung. Ia merasa tiba-tiba di antara mereka berdua tiba-tiba saja ada ketegangan. Soyeon melanjutkan langkahnya. “selamat bersenang-senang.” Ucap Taeyeon saat berpapasan dengan kakaknya.

Taeyeon sedang memandang ke bawah, ke anak tangga yang di pijaknya. Jadi tatapannya juga tertuju pada kaki Soyeon juga. Tiba-tiba saja……………….Soyeon menjulurkan kakinya!

Seperti dalam mimpi, Taeyeon melihat dirinya sendiri jatuh. Ia tidak sempat bertahan. Ia tidak sempat meraih susuran tangga. Ia bahkan tidak sempat berteriak. Taeyeon tersandung kaki Soyeon dan jatuh berguling ke kaki tangga.

Bahu Taeyeon membentur tembok. Tangannya tergores susuran tangga yang terbuat dari besi. Sikut dan lututnya sakit terantuk anak-anak tangga kayu. Kulit mulusnya lecet-lecet. Rasa nyeri menjalari seluruh tubuhnya. Ia terjungkal lagi. Terbentur lagi. Berkali-kali. Hingga kemudian di benturan terakhir ia terengah-engah. Pandangannya tiba-tiba mengabur. Pandangan kabur itu kemudian ia tidak merasakan nyeri yang tadi sempat menghujamnya dan kemudian ia melihat sesuatu yang tampak bercahaya di atas tangga sebelum semuanya menjadi gelap.

***

Apakah sesaat tadi dia pingsan? Apakah cukup lama dia pingsan? Dia tidak tahu.

Ketika dia membuka matanya, mencoba menajamkan penglihatannya sementara kepalanya terasa berdenyut-denyut, di lihatnya Soyeon sedang membungkuk di atasnya.

“Taeng! Taeyeon-ah!” Soyeon berulang kali memanggil namanya.

“kau..” Taeyeon menutup matanya kembali. Berjuang untuk berbicara. Berjuang untuk mengatasi rasa sakit yang kembali mendera.

“Taeng-ah, apa perlu ku panggilkan ambulans? Apa kau mendengarku? Kau baik-baik saja?”

Taeyeon dapat merasakan tangan Soyeon yang diletakkan di atas bahunya. Lembut tapi kuat, tangan itu menariknya. Menariknya dari rasa sakit yang membutakan.

“kau… mencoba membunuhku!” pekik Taeyeon dengan suara serak yang seakan-akan bukan suaranya sendiri.

“ne?” Soyeon tersentak. Dia terlihat kaget sekali.

Taeyeon bangkit duduk sambil mengerang. Sadar bahwa dia telah jatuh dari atas tangga ke bawah. Dia mengusap-usap belakang kepalanya untuk mengurangi sakitnya. “kau membuatku tersandung! Kau sengaja menjulurkan kakimu!”

“ANIYA!!” pekik Soyeon menjerit dengan panik. Ia melompat bangkit, matanya tampak liar. “tidak! Jangan, Taeyeon! jangan berbicara seperti itu!”

“aku melihatnya!” Taeyeon bersikeras. “aku melihat kakimu—“

“aku tidak sengaja membuamu tersandung!” teriak Soyeon.  “itu kecelakaan, Taeng, kecelakaan yang mengerikan.”

Taeyeon mengerang. Kalau saja ia bisa melenyapkan rasa sakitnya. Lengan kanannya perih. Kedua lututnya nyeri. Ia menggelengkan kepalanya seolah-olah mencoba mengusir rasa sakit itu. “aku melihat kakimu. Itu bukan kecelakaan!”

Soyeon berlutut di samping Taeyeon. “kau tidak mengerti. Ini gara-gara pil itu. pil-pil yang harus ku minum. Maksudnya untuk melemaskan otot-ototku, tapi gerakanku malah jadi kaku.”

“eh?” Taeyeon menatap kakaknya, mencari tahu apakah Soyeon tidak berbohong.

“gerakanku kaku. Otot-ototku tak terkendali. Gara-gara pil itu.” Soyeon menangis terisak. “aku tahu kau jatuh karena salahku. Tapi aku tidak sengaja. Itu kecelakaan. Kecelakaan.”

Taeyeon hanya mengerang. Denyut jantungnya kembali normal. Ia mulai merasa lebih enak.

Mungkin benar itu kecelakaan.

“apa perlu kupanggilkan ambulans?” tanya Soyeon masih terisak. “Taeyeon-ah? Akan ku panggilkan ambulans.”

Taeyeon menggelengkan kepalanya. “tidak. Tidak perlu. Aku—“ ia menggerakkan sebelah tangannya. Kemudian sebelah lagi. Tak ada yang patah. Ajaib!

Tapi seluruh tubuhnya memar. Ia mengarahkan pandangannya ke tangga. Ia tidak percaya dirinya telah jatuh dari tempat yang begitu tinggi.

“ayo, Taeng.” Bujuk Soyeon sambil mengulurkan tangannya. “ku bantu kau berdiri.”

“oh, ne.” jawaban Taeyeon hanya berupa bisikan.

Dengan lembut dan hati-hati, Soyeon menopang Taeyeon. taeyeon berdiri selama beberapa saat, lalu perlahan-lahan membungkuk dengan tangan di lututnya, menundukan kepala, beristirahat. Beberapa saat kemudian ia mencoba melangkah. Langkahnya sempoyongan, tapi ia masih bisa jalan. Taeyeon merasa sangat lega. Ia tidak apa-apa.

“kau yakin tidak mau kupanggilkan dokter?” tanya Soyeon.

“ne.” jawab Taeyeon pendek. Ia merasa bingung. Sebenarnya ia berhak marah atau tidak.

“bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Soyeon was-was, sambil mengamati wajah adiknya.

“baikan. Jauh lebih baik.” Tapi pandangannya masih berputar-putar seolah dia masih berguling-guling di tangga.

Apakah kejadian tadi benar-benar kecelakaan? Ia terus bertanya-tanya. Apakah Soyeon benar-benar tidak sengaja?

***

Petugas kantin berseragam putih itu menuangkan sup ke dalam mangkuk dan meletakkannya di atas nampan makan milik Taeyeon.

“gomaseumnida~!” ucap Taeyeon pada petugas itu dan membalasnya dengan sebuah senyuman. Taeyeon membawa nampannya dan melayangkan pandangannya ke seluruh kantin yang ramai itu, mencari Suho, pacarnya, namun ia tidak menemukannya. Di salah satu sudut kantin ia melihat seorang pria mengenakan tuxedo putih dan mengenakan topi tinggi yang berwarna senada dengan pakaiannya. Wajahnya tidak terlihat karena ia menunduk dan tertutupi topinya. Taeyeon tidak memperdulikannya. Kemudian ia mencari-cari Eunji, adik tirinya. Namun ia juga tidak ada di kantin itu. di ujung kantin itu, dengan kepala tertunduk di atas nampan, terlihat sahabat Eunji. Park Chorong.

Taeyeon berjalan menghampiri gadis itu. “kemana Eunji?” tanyanya sambil duduk di seberang Chorong.

Sejenak Chorong menatapnya dengan wajah datar. Kemudian ia tersenyum. “oh, hei! Molla. Aku tidak melihatnya. Mungkin sembunyi dariku.” Ia meringis. “aku terlalu sering berada di dekatnya.”

“aniyo. Tidak mungkin Eunji berpikir begitu.” Sahut Taeyeon.

Chorong yang malang. Ia tampak sedih. Matanya agak merah. “kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon.

“aku? Oh, tentu.” Chorong mendesah.”kau sendiri bagaimana?” Taeyeon tidak menjawab. Ia terus menatap gadis di depannya itu. keteguhan hati Chorong tak bertahan lama. “aku kelihatan kacau ya? Aku tahu. Yah, sebenarnya tidak apa-apa. Hanya saja…” ia menggosok-gosok wajahnya. “urusan rumah. Kau tahu sendirilah.”

“urusan rumah memang membuat pusing.” Taeyeon sependapat. “Sehun berencana untuk membunuhku. Dan aku curiga Soyeon sengaja membuatku jatuh di tangga. Aku jadi ketakutan terus di rumah.” Ia mulai memakan menu makan siangnya, menunggu tanggapan Chorong. “ya! Kau dengar aku tidak?”

Chorong menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian cepat-cepat menariknya kembali. “mianhae. Aku hanya berpikir walaupun keluargamu kacau, kau masih punya keluarga. Sedangkan aku… appa meninggalkan rumah minggu lalu.”

Taeyeon terkejut mendengar penjelasan Chorong. Eunji tidak pernah menceritakan hal ini padanya. “aigoo.. aku turut prihatin.”

Chorong menarik napas panjang. “aku belum pernah mengatakan ini pada siapapun, bahkan Eunji pun tidak. Aku masih berharap appa akan kembali.”

Taeyeon mengerti perasaan Chorong karena ia pun masih berharap ayahnya akan kembali. Walaupun beliau sudah meninggal. “itu berat sekali.” Ucap Taeyeon. “aku ikut bersedih.”

“kau tidak tahu apa yang kuhadapi.” Kata Chorong dengan penuh emosi. “eomma sangat terpukul. Itu dapat kupahami, perasaanku pun begitu tapi sepertinya eomma sama sekali tidak menghiraukanku. Sepertinya ia lupa bahwa aku masih hidup. Aku sendirian menghadapi semua ini. Umurku baru 17 tapi aku sudah sebatang kara.”

“Chorong-ah..” kata Taeyeon lembut. “kau masih punya kami.”Taeyeon merasa bersalah, sebab ia sering berharap Chorong tidak sekerap itu main di rumahnya. Ia bahkan pernah mengatakannya pada Eunji. Semoga saja Eunji tidak menyampaikannya pada Chorong.

“BOM SUSU!!” teriak seseorang.

“SIAP!!” sambut yang lain.

Sebuah kotak susu melayang di atas kepala Taeyeon. kotak itu membentur dinding, isinya berhamburan. Terdengar suara sorak-sorai menggebu dan teriakan-teriakan penuh kemarahan.

“kekanak-kanakan,” komentar Taeyeon. “sulit di percaya bahwa sebagian dari mereka tahun depan akan masuk universitas.” Taeyeon mengangkat pandangannya dan melihat Eunji, di seberang ruangan, dengan nampan makanan di tangannya. Taeyeon melambai.

Eunji menatapnya, kemudian berpaling seakan-akan tidak melihatnya.

‘aneh. Apa Eunji marah padaku?’ Pikir Taeyeon. “semoga saja tidak. Ia tidak sanggup kalau sekarang harus menghadapi permusuhan lagi.

Setelah makan siang, Taeyeon harus mengikuti praktikum kimia. Karena banyak masalah membebani pikirannya, Taeyeon sulit berkonsentrasi. Rekan kerjanya menjadi tidak sabar, lebih-lebih setelah Taeyeon memecahkan 2 gelas beaker.

Akhirnya bel berdering. Taeyeon bersama teman-teman sekelasnya berdesak-desakkan keluar dari laboratorium. Ia terkejut ketika Eunji tiba-tiba muncul di depannya.

“apa yang kau bicarakan dengan Chorong?” tanyanya garang. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

“oh, Eunji-ya. Kau membuatku kaget. Ku kira kau melihat lambaianku tadi! Kenapa kau tidak menghampiri kami?”

Lorong didepan kelas-kelas itu semakin padat dan ramai. Murid-murid berteriak-teriak, membanting pintu loker, mengeluarkan buku-buku untuk pelajaran berikutnya. Taeyeon hampir-hampir tak menangkap perkataan Eunji.

Eunji mencengkram lengannya. “aku tanya apa yang kau bicarakan dengan Chorong?  setiap kali aku menengok, kalian berdua sedang asyik. Sepertinya diskusinya serius sekali.”

“kami mengobrol tentang keluarganya,” jawab Taeyeon. “ayahnya meninggalkan rumah.” Taeyeon merasa aneh karena menceritakan masalah pribadi Chorong ini dengan suara begitu keras, tapi kalau tidak, Eunji tidak akan mungkin mendengarnya.

Bel kedua berdering, bunyinya menembus keramaian. Lorong itu mulai sepi. “ayahnya meninggalkan rumah?” tanya Eunji heran. “Chorong tidak pernah mengatakan apa-apa padaku.”

“ara. Memang begitulah Chorong. mungkin dia ingin meraih hadiah Nobel untuk sikapnya yang manis. Dia bilang tidak mau merepotkan kita dengan masalahnya.”

“ne, tapi kenapa dia bercerita padamu bukan padaku?” tanya Eunji dengan nada tersinggung.

Taeyeon mengangkat bahu, “kau kan tidak ada disitu.”

Eunji memelototinya, kemudian berbalik, menuju lokernya. Ia menudungkan jari pada Taeyeon, “Chorong itu temanku. Jangan lupa itu!”

Taeyeon mengawasi Eunji yang bergegas menelusuri lorong. “astaga, Eunji benar-benar cemburu padaku. Apakah dia juga membenciku? Eunji, Soyeon, Sehun. Apakah seluruh keluargaku memusuhiku?”

***

Sejak dulu Taeyeon tidak suka pada ruang bawah tanah rumahnya. Tempat itu di penuhi sarang laba-laba dan sudut-sudut yang berdebu. Dia jarang sekali turun ke sana. Tapi pada Sabtu sore, ia terpaksa menyisihkan keengganannya dan memenuhi ajakan Eunji serta Chorong untuk main tenis meja di ruang bawah tanah.

Belum lama bermain, mereka sudah bosan. Eunji memukul bola dengan asal-asalan dan menyuruh Ginger memungut bola-bola yang nyasar ke sudut-sudut yang gelap.

“kau tidak perlu merasa bersalah, Taeng.” Ucap Eunji dengan nada menyindir. Bola yang di pukulnya terlontar jauh lagi. Kali ini Ginger tidak mau mengambilnya. “hanya karena kau ada kencan malam ini, sementara aku dan Chorong mendekam di rumah.”

Chorong memutar-mutar betnya di meja. “ya! Jangan muram begitu!” ucapnya pada Eunji. “satu malam Minggu kita tidak berkencan. Itu perkara kecil.”

Eunji menaikkan sebelah alisnya, “satu malam Minggu?”

“oke. Dua malam Minggu berturut-turut.” Chorong mengakui.

Taeyeon nyaris tidak percaya peruntungan Eunji begitu buruk menyangkut urusan pria. Mengingat Eunji begitu cantik, seharusnya banyak laki-laki yang mengantri mengajaknya kencan. Tapi nyatanya, satu pun tidak ada yang menelpon.

Taeyeon berlutut dan mengambil jigsaw puzzle yang tertinggal di lantai dalam keadaan setengah jadi. Gambarnya adalah kincir angin di Negeri Belanda. Ia berusaha menempatkan sebuah gambar tulip. “siapa yang mengerjakan puzzle ini? Kau?” tanya Taeyeon pada Eunji.

“aniyo.” Sahut Eunji.

“bukan aku.” Chorong menambahkan.

“pasti Soyeon-eonni.” Ucap Eunji.

Taeyeon mengarahkan tatapannya ke langit-langit, seakan-akan takut Soyeon sedang bersembunyi di tempat gelap dan mengawasinya secara diam-diam. Beberapa hari ini Soyeon lebih sering mengurung diri di kamarnya. Itu sudah membuat Taeyeon tidak enak. Bayangan tentang Soyeon yang mengerjakan jigsaw puzzle seorang diri di ruang bawah tanah, membuat Taeyeon ingin menangis.

“bagaimana kabar Soyeon-eonni sekarang?” tanya Chorong dengan berbisik. Ia pasti menangkap perasaan Taeyeon,

Sejak Soyeon kembali dari rumah sakit, Taeyeon selalu merasa kakaknya memata-matainya, mendengarkan pembicaraannya, mengikuti gerak-geriknya. Taeyeon mengangkat bahu. “baik, kukira. Tapi dia terkurung di rumah sepanjang hari. Maksudku, dia tidak punya teman, dan tidak pernah berkencan.”

“ha, itu memang masalah berat.” Kata Eunji dengan getir.

Pintu ruang bawah tanah berderit membuka. Mereka bertiga terpaku.

“hello?” panggil Soyeon. “ada orang disana?”

“hei!” balas Taeyeon.

Soyeon menuruni tangga kemudian mengintip dari balik susuran tangga. “oh, kalian disitu?” tanyanya. Ia memegang sebuah kotak kecil gepeng. “tebak, apa yang ku temukan di pojok lemariku?” ia mengguncang-guncang kotak itu. terdengar bunyi kertak-kertuk(?). “scrabble!” katanya penuh kemenangan.

Taeyeon mengeluh. Soyeon jago bermain scrabble. Sudah lama dia dan Taeyeon tidak pernah bermain scrabble, sebab Taeyeon bukan lawan yang seimbang baginya. “kalian mau main?” tanya Soyeon

“Taeyeon tidak bisa,” jawab Eunji. “dia ada janji dengan Suho.”

Soyeon mengerutkan dahi, “oh. Bagaimana dengan—“

“aku mau main!”seru Chorong.

Chorong dan Taeyeon sama-sama menatap Eunji. Terpojok, Eunji mengangkat bahu dan berkata, “geurae, aku ikut.”

Soyeon berseru senang. Ia bergegas menuruni tangga, sambil mengguncang-guncang kotak itu di atas kepalanya. “kita akan bermain scrabble!” ia tertawa dan menari-nari. Soyeon yang malang,Taeyeon tidak percaya ada orang yang begitu senang hanya karena mau main scrabble.

“hei, kalau kau mau, kau bisa ikut acara kami malam ini. Chorong sudah menyewa dua CD film.”

Soyeon mencengkram kotak scrabble itu dengan kedua tangannya. “oh, aku senang sekali pulang ke rumah!” teriaknya tiba-tiba.

“karena kita akan main scrabble?” tanya Eunji.

“percayalah padaku! Setelah pengalamanku selama setahun ini, nonton film dan main scrabble merupakan kegiatan paling menyenangkan!”

Sudah beberapa lama Taeyeon tidak pernah lagi berpikir tentang kehidupan Soyeon sewaktu di rawat di rumah sakit jiwa. Sekarang ia teringat lagi pada hal itu. tapi setidaknya Soyeon bahagia sekarang, pikir Taeyeon menghibur diri.

Soyeon menyingkirkan majalah-majalah lama yang bertumpuk di atas meja yang tak terpakai lagi, kemudian mengelap debu di atasnya dengan tangan telanjang. Ia membuka kotak scrabble itu dan mengeluarkan huruf-hurufnya.

“aku tidak begitu ingat bagaimana cara memainkannya,” ucap Chorong sambil mengamati tumpukan huruf-huruf itu.

“jangan khawatir, aku akan mengajarimu.” Tukas Soyeon.

Taeyeon bangkit berdiri. “sepertinya aku harus bersiap-siap,” katanya dengan berat hati. Ia tidak suka mengingatkan ketiga gadis di depannya bahwa ia akan pergi berkencan. Entah kenapa hal itu membuat Taeyeon merasa mengkhianati mereka.

“sampai jumpa!” seru Soyeon tanpa mengangkat muka. “nah, mula-mula semua hurufnya harus kita balikkan,” ucapnya pada Eunji dan Chorong. Dengan gesit Soyeon mulai menelungkupkan huruf-huruf yang terbuat dari kayu itu.

“apa kita sudah boleh menyusun kata?” tanya Eunji saat Taeyeon bergegas menuju tangga.

Taeyeon hanya punya waktu sepuluh menit untuk berpakaian. Tapi itu bukan masalah baginya. Ia sudah tahu baju apa yang hendak di kenakannya untuk  acara dansa di Growl Hall. Gaun hitamnya. Gaun mini hitamnya yang sexy.

Eunji pernah meminjam gaun itu beberapa kali, bahkan pernah pula memakainya ke Growl Club. Waktu itu dia dan Chorong nekat pergi ke club disco itu tanpa teman kencan. Mereka berharap akan bertemu laki-laki disana. Tentu saja Eunji tampak sangat menarik dengan  gaun mini hitam itu. Tapi Taeyeon tidak mau menccemaskan itu. bagaimana pun juga gaun itu miliknya. Dan Suho pacarnya.

Taeyeon membuka pintu kamarnya. Kantong laundry itu masih tergantung di tempatnya, di bagian dalam lemari pakaiannya. Gaunnya terkena makanan ketika Eunji terakhir kali memakainya, namun petugas laundry itu dapat meyakinkan Taeyeon bahwa noda itu dapat di hilangkan.

Taeyeon mengangkat kantong itu dan menempelkannya di tubuhnya. Ia suka pada cara pihak laundry membungkus pakaian-pakaian bersih dengan kantong kertas kaca. Itu membuatnya merasa seakan-akan ia di beri hadiah besar yang akan di bukanya dengan hati berdebar-debar.

Taeyeon menarik kertas kaca itu dan melepaskan bajunya dari gantungannya.

“oh, ANDWAE!!” serunya  ternganga kaget. “ANDWAE!!”

Gaun  hitamnya telah di gunting persis di tengah-tengah.

Taeyeon bahkan tidak menyadari bahwa dia berteriak sampai Eunji, Chorong, dan Soyeon semua menerobos masuk ke kamarnya.

“ada apa?? Apa yang terjadi??” tanya Eunji.

“kami mendengar teriakanmu. Kau menjerit begitu keras sampai terdengar ke ruang bawah tanah,” kata Chorong terengah-engah. “gwaenchanayo?”

Hanya Soyeon yang tidak bertanya tentang apa yang telah terjadi, Taeyeon menyadarinya.

Mengapa Soyeon tidak bertanya? Karena dia sudah tahu. Tanpa berkata apa-apa, Taeyeon mengacungkan gaun hitamnya. Ia tidak berani membuka mulut, khawatir kalau-kalau akan menjerit lagi. Atau menangis.

Chorong menghembuskan napas panjang. Ia maju dan dengan hati-hati mengambil gaun sobek itu. ia memeriksanya dengan cermat dan kemudian berkata, “kurasa ini akibat mesin pengepres di laundry.”

“mwo?” tanya Taeyeon tidak percaya.

“mesin pengepres. Blouse-ku juga pernah jadi begini. Petugas laundry memasukkan semua pakaian yang di cuci kering ke dalam mesin pengepres, dan kadang-kadang—“

“jadi kau pikir ini bukan kesengajaan?” tanya Taeyeon dengan suara meninggi.

“Chorong menatapnya dengan was-was, “yah, aku—“

“ini pasti disengaja!” jerit Taeyeon.

“boleh ku lihat?” tanya Soyeon mendekati mereka dan mulai mengamati gaun itu.

Taeyeon menyentakkan gaunnya dari pegangan Soyeon. “kau sudah melihatnya,” kata Taeyeon dengan suara bergetar.

Soyeon kelihatan terkejut, “ne?? Tadinya kupikir aku mungkin bisa menjahitnya,” ia menatap Taeyeon sekilas, kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada gaun itu. “tapi rasanya….” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Soyeon dan tipuan-tipuannya yang licik, pikir Taeyeon dengan gemas. Mungkin Soyeon juga telah menipu para dokter. Mengelabui mereka sehingga mereka mengira ia sudah sembuh dan mengijinkannya pulang. Taeyeon menatap kakaknya dengan dingin.

Soyeon balas menatapnya. Matanya melebar, “kau pikir aku yang melakukan ini?” suaranya bergetar.

Taeyeon ingin mengatakan tidak. Ia ingin mengatakan pada Soyeon bahwa ia mempercayainya. Tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. “apakah kau melakukannya?” tanyanya pelan.

“wae?”Soyeon balas menatapnya, di gigitnya bibirnya. “kenapa aku harus merusak bajumu? Bisa kau beri tahu alasannya?”

“eonni, Taeyeon tidak bilang bahwa kau yang merusaknya,” Chorong mencoba menengahi. Di letakkannya tangannya di lengan Soyeon.

Soyeon menarik tangannya, “ya, dia mengatakannya. Dia menuduhku seperti biasanya!”

“aniyo! Aku tidak bilang apa-apa!” Taeyeon bersikeras.

Soyeon menggeleng-gelengkan kepalanya dengan getir, “setiap kau mendapat masalah, kau selalu menganggap…” Soyeon tidak dapat lagi menahan emosinya. Sambil terisak, ia berbalik dan berlari keluar kamar itu. Pintu di bantingnya hingga menutup.

“Taeng…” Eunji mulai berkata.

Taeyeon tidak menunggu kelanjutannya. Ia bergegas menyusul Soyeon. ia tidak tahan melihat kesedihan kakaknya, kalaupun benar kakaknya itu yang menggunting gaunnya.

Ia mengetuk pintu kamar Soyeon. Tak ada jawaban. “eonni, ayolah~!” panggilnya. “aku tidak bilang kau menggunting bajuku. Jeongmal. Aku bahkan tidak berpikir kesitu,” dustanya. Ia dapat mendengar Soyeon bergerak di kamarnya. Kemudian sunyi. Ia mencoba memutar pegangan pintu. Terkunci. Ia berdiri di depan pintu itu selama beberapa saat, memohon agar di ijinkan masuk. Akhirnya ia menyerah.

Di ujung koridor, pintu kamar Sehun tampak terbuka. Taeyeon mendekati kamar itu.

Sehun ternyata sedang duduk di lantai, asyik memotong selembar kertas karton biru dengan gunting besar. Mata gunting itu berkilat-kilat terkena cahaya. Sehun mengangkat wajahnya, membalas tatapan Taeyeon.

Ia tersenyum masam. Kemudian mengangkat guntingnya, “kres, kres,” ucapnya.

To be continue…

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on March 20, 2014, in EXOTAENG, Series, SeYeon, TaeHun and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. Itu pasti Sehun deh yg gunting baju Taeng!!
    Jahat bgt yaa ..
    Tip gatau jga sih itu Sehun, Seyeon atau bsa juga Eunji??
    Tau ah, pkoknya next chap jgn lama2 .
    Update soon authornim, fighting!!!!

  2. Knapa si eunji kok rada gmana gtu yahh…
    Haduhh q bener2 ga bsa nebak jalan ceritanyaaa yang jelas penasaran akut deehh…
    Yg jahat sbenernya siapa pokonya nunnggu next chapter aj dehh ,…

  3. aku takut soyeon kambuh lagi….
    pasti yang ngebuat gaun taeyeon bolong pasti sehun…..
    jail amat tu anak…..
    terus apa maksudnya di ngucapin ‘kres,’kres’ eonn ???
    aku bingung…
    lanjut eonn…. !!😀

  4. ko kya.y firasatku blang klo yg gunting bju taeng eonni tu sehun yah…
    aku tu sbner.y pnsran bngt eon alesan sehun bnci sma taeng eonni…

  5. OHMYGOD!
    kehidupan keluarganya sungguh rumit , eunji mulai cemburu ? taeng selalu menuduh seyeon ! sehun selalu evil.-.! suho yang PERVERT!!
    oh ya , well kenapa kebencian sehun ke taeyeon itu gak pernah terungkap (?) alasan resminya(?)
    aissshh , *penasaran akutt .-.
    ahh eonni , mian mian mian , kalau aku baru comment ._. tapi dichap sebelumnya aku ada like kok ^^
    next chap ditunggu ,HWAITINGG !!

  6. kok lama lama jadi kesel juga ya sama taeng nuduh ke soyeon terus-___-

  7. Pasti sehun deh yg gunting baju taeng,ih bandel bet itu anak. Kalo dia jadi adek gua pasti aku jitak -,,-
    :v keren lah keren,fighting!!

  8. intan sekarsari

    knp aku mikirnya sehun ya -_-
    keluarga yg aneh
    taeng eonni jangan asal nuduh ya mungkin aja itu bukan soyeon
    next eon mian baru comment

  9. jangan – jangan yang gunting bajunya Taeng eonni itu Sehun ,, wah bener-bener bikin penasaran ma ff nya ..

  10. Tang unnie brd d ff yg hrus muer otak bnr2…tpi daebak…
    Author blh mnta pasword buat ff yg ad password a gx?

  11. Kok taeyeon pikirannya jahat bnget sih ma Soyeon….

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: