[FF] I’ll Protect You (Chapter 2)

taejae

Author : Ashiya

Cast :

  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Kim Jaejoong (JYJ)
  • Kim Junsu (JYJ)

Other cast :

  • Park Bom (2NE1)
  • Gong Minzy (2NE1)
  • Choi Seunghyun (Big Bang)
  • Kim Bum
  • Kim Soeun
  • etc. You’ll find them later..

Genre :

  • Fantasy, Action, Mystery

Length :

  • Multichapter

Disclaimer : This fiction is mine. Adapted by Charlaine Haris’s novel “Dead Until Dark”

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

Warn : Tokoh Choi Dongwook/Se7en di chapter 1 di ganti oleh Choi Seunghyun/TOP Big Bang. Soalnya agak kurang sreg SE7EN di pasangin sama Bom. :3 TOP juga sih sebenernya kurang sreg juga. tapi ga pa-pa deh. hihi..

Happy reading~

 

Teaser | Chapter 1

 

Sepulang kerja malam itu, Taeyeon menyetir pulang, 7 km arah selatan dari bar tempatnya bekerja. Kim Bum (dan Soeun) telah pergi saat Taeyeon kembali bekerja. Sepanjang perjalanan menuju rumah neneknya, yang juga tempat tinggalnya, ia terus memikirkan kejadian itu. Rumah nenek Taeyeon letaknya bersebrangan dengan pemakaman Tall Pines, di pisahkan oleh jalan distrik 2 jalur. Kakek dari kakek buyut Taeyeon yang membangun rumah itu dan dia memiliki gagasan tentang privasi. Jadi, untuk mencapai rumah, harus melewati hutan dan kemudian akan sampai di tanah terbuka yang luas di mana rumah itu berdiri.
Rumah itu jelas bukan bangunan bersejarah karena bagian-bagian kunonya sudah di hancurkan dan di ganti sejak beberapa tahun silam. Dan tentu saja di pasangi peralatan modern. Seperti, listrik, pipa air, dan insulasi.
Taeyeon tinggal di rumah itu sejak berumur 7 tahun. Sebelum itu pun, dia sudah sering mengunjungi rumah tersebut. Sebuah rumah keluarga yang besar dan tua, dan menurut Taeyeon terlalu besar untuk hanya di tinggali berdua dengan neneknya.
Taeyeon berjalan masuk rumah melintasi ruang tamu luas yang didalamnya bertebaran perabot usang, lalu melewati lorong menuju kamar tidur pertama dan terbesar di sebelah kiri. Disana, neneknya sedang duduk di ranjangnya yang tinggi, dan beberapa bantal menyangga bahunya yang kurus. Lampu di sisi tempat tidur masih menyala. Sebuah buku terbuka di pangkuannya.
“halmoni,” sapa Taeyeon.
“oh, Taeyeon-ah. Kau sudah pulang.” Nenek Taeyeon sangat mungil dan sangat tua, tapi dia masih memiliki rambut yang tebal meskipun sudah memutih. Kesenangan utama nenek Taeyeon adalah membaca buku The Great of Queen Seondeok, menonton drama-drama kolosal era choseon, dan menghadiri banyak pertemuan klub yang tampaknya sudah diikuti wanita itu sepanjang masa dewasanya. Klub favoritnya adalah Perkumpulan Ahli Waris Pahlawan dan Klub Berkebun Paju.
“tebak, apa yang terjadi malam ini?” tanya Taeyeon.
“mwoji? Seseorang mengajakmu kencan?”
“aniyo.” Sahut Taeyeon, berusaha tetap tersenyum. “seorang vampir datang ke bar Xiah.”
“oh, apakah dia bertaring?”
Taeyeon memang melihat taringnya berkilau terkena cahaya lampu pelataran parkir ketika pasangan Trouble Maker menguras darahnya. Tapi, sepertinya hal itu tidak perlu dia ceritakan pada neneknya.
“tentu saja, tapi dia menarik masuk taringnya.”
“ah, seorang vampir di pinggiran kota Paju,” ujar nenek Taeyeon terkesan. “apakah dia menggigit orang di bar?”
“oh, andwaeyo. Dia hanya duduk dengan segelas anggur merah. Yah, dia memesannya tapi tidak meminumnya. Kupikir dia butuh teman.”
“dimana dia tinggal?”
“dia tidak akan memberitahu sembarang orang, halmoni.”
“ah, geurae.” Sahut nenek Taeyeon, setelah memikirkannya sesaat. “apa kau menyukainya?”
Pertanyaan yang sulit di jawab bagi Taeyeon. “entahlah. Dia benar-benar menarik.” Taeyeon menjawab hati-hati.
“aku pasti senang kalau bisa betemu dengannya,” ujar nenek Taeyeon. Taeyeon tidak kaget mendengarnya karena sama sepertinya, neneknya itu menyukai hal-hal baru. Dia bukan salah satu reaksionaris yang menganggap vampir makhluk terkutuk dan patut di benci. “sebaiknya aku tidur sekarang. Aku hanya menunggumu pulang sebelum mematikan lampu.”
Taeyeon membungkuk dan menciumnya. “selamat malam, halmoni.”
Taeyeon keluar meninggalkan pintu kamarnya setengah terbuka. Kemudian ia melihat kucingnya, Jiji (Author: bang Jeje pinjem kucingnya yaaaa :3) beranjak dari tempat tidur dan menggosok-gosokkan bulunya ke kaki Taeyeon. Taeyeon membungkukan badannya dan menggendong serta membelainya sebelum menurunkannya kembali. Taeyeon melirik jam dinding. Hampir jam 2 pagi, dan ranjangnya sudah memanggil-manggil.
Kamar Taeyeon terletak di sebelah kanan, tepat di seberang kamar neneknya. Dia pertama kali pindah ke rumah itu setelah kedua orangtuanya meninggal. Neneknya memindahkan semua perabotan dari kamarnya dulu ke rumah itu agar Taeyeon merasa lebih kerasan.
Taeyeon menutup pintu kamarnya dan menyalakan lampu, lalu ia mulai menanggalkan baju. Malam itu ia terlalu lelah untuk pergi mandi sehingga ia hanya menggosok gigi dan membersihkan riasannya.
Taeyeon merangkak ke tempat tidur dengan mengenakan piyama Mickey Mouse’nya. Ia tidur berbaring miring dan menikmati kesunyian malam. Saat ini, hampir semua orang sudah tidur dan benaknya pun beristirahat, jadi gelombang yang memaksa masuk pikirannya pun lenyap. Hampir tak ada gangguan. Dalam keadaan damai seperti itu, ia hanya punya waktu untuk memikirkan mata Jaejoong yang gelap, lalu tidur pulas karena kelelahan.

***

Pada jam makan siang keesokan harinya, Taeyeon duduk di beranda depan rumah neneknya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi mobil mendekat. Truk hitam Kim Bum dengan aksen merah muda dan biru muncul tak lama kemudian, dan di parkir di halaman pekarangan yang luas itu.
Kim Bum meloncat turun dari mobil yang beroda besar dan tinggi itu, kemudian bergegas ke arah Taeyeon. Kim Bum memakai seragam kerjanya yang biasa; setelan kemeja dan celana panjang khaki. Penampilannya seperti kebanyakan pekerja proyek bangunan jalan. Hanya dari caranya melangkah, bisa di tebak dia sedang kesal.
“kenapa kau tidak bilang kau telah menghajar Hyunseung dan Hyuna semalam?” dia menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Taeyeon. “mana halmoni?”
“sedang mencuci pakaian,” jawab Taeyeon. “halmoni sudah membuat kimchi dan kimbab untuk makan siang.” Tambah Taeyeon, tahu bahwa itu akan sedikit mengalihkan perhatian Kim Bum. Ia berharap neneknya tetap di belakang, tidak ingin mendengar pembicaraannya. “kecilkan suaramu,” Taeyeon memperingatkan kakaknya itu.
“Seunghyun tidak sabar menungguku datang ke tempat kerja pagi ini untuk bercerita. Semalam, dia mampir ke trailer Hyunseung untuk membeli ganja, dan Hyuna menyetir seperti ingin membunuh orang. Seunghyun bilang dia hampir saja tertabrak. Hyuna begitu marah. Mereka berdua harus memapah Hyunseung dari mobil ke trailer. Lalu mereka  membawanya ke rumah sakit di kota.” Mata Kim Bum menatap Taeyeon penuh tuduhan.
“apa Seunghyun-oppa memberitahumu kalau Hyunseung menyerangku dengan pisau?” tanya Taeyeon, memutuskan bahwa menyerang balik adalah cara terbaik untuk menangani masalah ini. Dia merasa kekesalan Kim Bum sebagian besar karena mendengar dari orang lain, bukan darinya.
“kalaupun Hyuna memberitahunya, Seunghyun tidak bilang padaku,” jawab Kim Bum pelan. Wajahnya menggelap karena marah. “dia menyerangmu dengan pisau?”
“ne, jadi aku harus membela diri.” Jawab Taeyeon, seolah-olah seperti itulah kenyataannya. “lalu, dia pergi membawa rantaimu.” Semua itu benar, walaupun agak di putar balikkan. “aku masuk lagi ke bar untuk memberitahumu, tapi kau dan Soeun sudah pergi. Kupikir, karena kau tidak apa-apa, aku tidak perlu mencarimu. Aku tahu kau pasti ingin mengejar Hyunseung kalau aku memberitahumu tentang pisau itu,” lanjut Taeyeon diplomatis. Dia tidak mengada-ada dalam hal ini karena di balik wajah tampannya, Kim Bum memang senang berkelahi.
“tapi apa yang kau lakukan di luar semalam?” tanya Kim Bum, suaranya sudah lebih tenang, sehingga Taeyeon menganggap bahwa dia dapat menerima alasannya.
“kau tahu, selain menjual narkoba, pasangan Trouble Maker adalah penguras vampir?”
“tidak, lalu?” Kim Bum tampak mulai tertarik.
“salah satu pengunjung Xiah semalam adalah vampir, dan para pembuat onar itu berusaha menguras darahnya di pelataran parkir Xiah! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
“ada vampir disini? Di Paju??”
“ne. Kalaupun kau tidak ingin bersahabat dengan vampir, kau tidak bisa membiarkan sampah seperti Trouble Maker mengeringkan darahnya. Menguras darah kan tidak sama dengan menyedot bensin dari mobil. Sesudah itu mereka pasti akan meninggalkannya di hutan untuk mati.” Walaupun Hyunseung tidak mengatakannya tapi begitulah perkiraan Taeyeon. Kalaupun mereka meletakkan vampir itu di bawah naungan agar selamat dari sinar matahari, vampir yang darahnya di kuras perlu sedikitnya 20 tahun untuk benar-benar pulih. Itu pun kalau ada vampir lain yang merawatnya.
“vampir itu ada di bar sewaktu sewaktu aku disana?” tanya Kim Bum tercengang.
“ne. Namja berambut gelap yang duduk bersama pasangan Trouble Maker.”
“bagaimana kau bisa tahu dia seorang vampir?” dari caranya menatap Taeyeon, Taeyeon tahu dia menyesali pertanyaan itu.
“aku tahu begitu saja.” Jawab Taeyeon datar.
“ah, benar.” Lalu, mereka terdiam.
“di Jeonju tidak ada vampir,” kata Kim Bum.
“ne.” Taeyeon menyetujui. Jeonju adalah kota yang menjadi “musuh” Paju. Mereka selalu bersaing dalam pertandingan sepak bola, basket, dan sejarah-sejarah penting, dari generasi ke  generasi.
“begitu juga di Daegu,” kata nenek mereka yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Taeyeon dan Kim Bum melompat bangun. Kim Bum selalu memeluk neneknya setiap kali ia melihatnya.
“halmoni, kau punya cukup makanan untukku, kan?”
“untukmu dan 2 orang lagi,” sahut neneknya tersenyum. “aku baru dapat telepon dari ibunya Minyoung. Dia bilang kau kencan dengan Soeun semalam.”
“aigoo. Tidak bisa melakukan apapun di kota ini tanpa ketahuan,” keluhnya.
“Soeun itu,” nenek memperingatkan saat mereka semua memasuki rumah, “dia sedang hamil waktu aku pertama kali melihatnya. Kau harus berhati-hati, jangan sampai dia hamil olehmu, karena kau akan membayar perbuatan itu sepanjang hidupmu. Walau tentu saja, sepertinya itu satu-satunya caraku mendapatkan buyut!”
Makan siang sudah tersaji di meja. Mereka segera duduk dan berdoa. Tidak lama kemudian nenek dan Kim Bum mulai bergunjing tentang orang-orang di kota kecil itu, walaupun mereka menyebutnya ‘bertukar kabar’. Kim Bum bekerja untuk pemerintah, mengawasi para pekerja pembangunan jalan. Kegiatannya sehari-hari adalah berkeliling dengan truknya sendiri. Seunghyun adalah salah satu pekerja yang sering di temui Kim Bum. Mereka berdua pernah satu sekolah sewaktu SMA.
“Taeng, aku harus mengganti pemanas air di rumah,” ujar Kim Bum tiba-tiba. Kim Bum tinggal di rumah orang tua mereka. Mereka tinggal bersama neneknya setelah kedua orangtuanya meninggal dalam banjir bandang. Ketika Kim Bum melewati 2 tahun kuliahnya dan mulai bekerja untuk pemerintah, dia pindah kembali ke rumah tersebut. Setengah bagian dari rumah itu adalah milik Taeyeon.
“apa kau butuh uang?” tawar Taeyeon.
“ani. Sudah kusediakan.”
Mereka berdua sudah bekerja, tetapi mereka juga memperoleh sedikit pendapatan dari sumur minyak yang keluar dari tanah orangtuanya. Minyak itu berproduksi dalam beberapa tahun, dan nenek serta orangtuanya memastikan uangnya di investasikan. Uang itu membantu mereka bertahan hidup.
“pemanas seperti apa?” tanya Taeyeon menunjukan sedikit perhatian.
Namun tiba-tiba ia mengubah pembicaraan, “oh, Taeng, kau ingat Goo Hara?”
“tentu saja.” Jawab Taeyeon. “kami pernah sekelas.”
“dia terbunuh di apartemennya semalam.”
Taeyeon dan neneknya langsung terpancang pada topik itu.
“kapan?” tanya neneknya, bingung karena dia belum mendengar kabar itu.
“mereka menemukan mayatnya pagi ini di ranjangnya. Bosnya mencoba menelpon untuk mencari tahu kenapa dia tidak datang bekerja sejak kemarin, tapi tidak di angkat, jadi dia mendatangi kediamannya dan meminta manajer tempat itu untuk membantunya membuka pintu Hara yang terkunci. Apa kau tahu, apartemennya bersebrangan dengan apartemen Soeun?”
Di daerah mereka hanya memiliki 1 kompleks apartemen bonafid; terdiri dari 3 gedung berlantai 6 yang berbentuk huruf U, jadi mereka tahu pasti tempat yang dimaksud Kim Bum.
“dia di bunuh di apartemennya?” entah kenapa Taeyeon merasa mual. Ia ingat Hara adalah perempuan bermata besar, rambut hitam indah, dan bertubuh mungil. Hara adalah gadis yang kerap kali menggoda beberapa pria di kota itu, namun dia bukan jenis orang yang ambisius. Yeoja itu bekerja di restoran cepat saji yang merangkap dengan pom bensin.
“ya, dia sudah bekerja di tempat itu selama 1 tahun.” Kata Kim Bum menjelaskan.
“bagaimana kejadiannya?” ada sorot ‘cepat-katakan-padaku’ di mata neneknya itu, seperti yang biasa di tunjukkan orang baik-baik ketika menanyakan kabar buruk.
“ada bekas-bekas gigitan vampir di…umm..paha bagian dalam.” Jawab Kim Bum sambil menatap piringnya. “tapi bukan itu yang membuatnya meninggal. Dia di cekik. Soeun bilang, Hara sering datang ke bar vampir di Daegu waktu libur, jadi mungkin dari situ dia mendapatkan gigitan vampir. Mungkin bukan oleh vampirnya Taeyeon.”
“Hara seorang fang-banger?” Taeyeon seperti ingin muntah membayangkan Hara mengenakan gaun hitam eksotis yang selalu di pakai para fang-banger.
“fang-banger itu apa?” tanya nenek.
“fang-banger itu manusia yang senang berkumpul bersama vampir dan membiarkan darahnya di sedot dengan senang hati. Penggemar vampir. Mereka tidak pernah bertahan hidup cukup lama. Kupikir karena mereka ingin digigit terus menerus, cepat atau lambat, mereka akan mendapat gigitan terakhir.”
“tapi bukan gigitan vampir yang membunuh Hara?” nenek ingin memastikan yang didengarnya benar.
“’bukan, dia di cekik.” Kim Bum menghabiskan makan siangnya.
“bukannya kau selalu mengisi bensin di tempat itu?” tanya Taeyeon.
“dan kau juga pernah berkencan dengannya?” tanya nenek.
“ehmm… sekali-kali.” Jawab Kim Bum hati-hati. Itu artinya, dia baru akan menemui Hara jika tidak ada wanita lain.
“kuharap polisi tidak merasa perlu berbicara denganmu.” Ujar neneknya, menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan dengan begitu kemungkinannya menjadi lebih kecil.
“maksudnya?” Kim Bum memerah, tampak defensif.
“kau selalu mengobrol dengan Hara setiap kali membeli bensin, kau ‘sekali-kali’ berkencan dengannya. Sekarang dia di temukan mati di apartemen yang sering kau kunjungi.” Taeyeon membuat ringkasannya. “Mungkin itu tidak berarti apa-apa tapi bisa mengundang kecurigaan. Tidak banyak kasus pembunuhan misterius di kota ini dan ku pikir setiap hal kecil bisa mengubah arah penyelidikan.”
“aku bukan satu-satunya yang beli bensin disana. Banyak laki-laki lain juga, dan semuanya kenal Hara.”
“ya, tapi kenal bagaimana?” tanya nenek gamblang. “dia bukan pelacur, kan? Jadi, dia pasti pernah bercerita dengan siapa dia berkencan.”
“Hara hanya ingin bersenang-senang.” Kim Bum membela Hara. “sepertinya dia kesepian,” tambahnya. Kim Bum menatap Taeyeon dan neneknya dan melihat wajah mereka terkejut. “berbicara soal pelacur,” lanjut Kim Bum dengan buru-buru. “di Gongju ada pelacur yang khusus melayani vampir. Dia selalu didampingi penjaga yang siap dengan pasak kalau-kalau pelanggannya kehilangan kendali. Dia juga minum darah sintetis agar kebutuhan darahnya tetap terpenuhi.”
“aku jadi penasaran berapa tarifnya,” ucap Taeyeon, dan saat Kim Bum mengatakan tarif yang pernah ia dengar, ia dan neneknya terkesiap dengan harga yang fantastis itu.
Begitu mereka menghentikan pembicaraan tentang pembunuhan Hara, makan siang berlanjut seperti biasa hingga waktunya Kim Bum melirik jam tangannya dan berseru bahwa dia harus pergi. Namun Taeyeon tahu benak neneknya masih dipenuhi vampir. Ia masuk ke kamar Taeyeon dan berbincang.
“kira-kira, vampir yang kau temui itu berapa umurnya?”
“aku tidak tahu.” Sahut Taeyeon.
“menurutmu, dia masih mengingat masa-masa perang?”
Taeyeon mengerti perang yang dimaksud. Neneknya adalah pengurus Perkumpulan Ahli Waris Pahlawan. Pahlawan disana adalah mereka yang melawan pasukan Utara dan gugur dalam perang sipil sekitar tahun 1800an.
“mungkin,” jawab Taeyeon.
“menurutmu, mungkinkah dia bersedia datang dan bercerita pada kami tentang perang itu? Kami bisa mengadakan pertemuan khusus.”
“di malam hari.” Taeyeon mengingatkan.
“oh, tentu saja.” Para ahli waris biasanya bertemu siang hari di perpustakaan sambil membawa makanan.
Taeyeon mempertimbangkannya. Ia merasa tidak sopan meminta seorang vampir untuk berbicara di perkumpulannya hanya karena dia telah menyelamatkannya dari para penguras. Taeyeon tidak menyukai gagasan itu namun demi neneknya, dia akan melakukannya. “aku akan menanyakannya begitu dia muncul lagi,”
“atau paling tidak, dia bisa datang kesini untuk berbicara padaku dan mungkin aku bisa merekamnya?” usul neneknya. Taeyeon dapat mendengar benaknya meloncat-loncat cepat memikirkan berbagai kemungkinan. “ini pasti akan sangat menarik bagi semua anggota klub.”
“aku akan tanyakan itu padanya. Kita lihat saja nanti.”

***

Taeyeon tidak mengira Choi Seunghyun akan memberitahu Junsu tentang perkelahian di pelataran parkir semalam. Ketika Taeyeon memasuki bar itu, Junsu langsung menggiringnya ke gudang penyimpanan. Dia terlihat marah sekali. Taeyeon belum pernah melihat Junsu marah padanya, dan segera air matanya merebak.
“kalau kau merasa salah satu pelanggan kita dalam bahaya, kau bilang padaku! Aku akan membereskannya, bukan kau!” ujarnya berkali-kali. Namun kemudian Taeyeon menyadari bahwa pria itu mengkhawatirkannya.
Taeyeon memperkuat pagar penjaga pikirannya sebelum pikiran Junsu menyerbu masuk ke benaknya. Membaca pikiran bosmu bisa membawa bencana.
“dan kalau kau pikir seseorang sedang disakiti di tempat parkir kita, kau telepon polisi! Bukannya keluar untuk jadi pahlawan,” seru Junsu dengan kesal. Wajahnya yang selalu tampak pucat sekarang menjadi merah.
“geurae,” sahut Taeyeon, dengan suara yang dibuat sedatar mungkin dan mata terbuka lebar-lebar agar air mata tidak menggelinding keluar. “apa kau akan memecatku sekarang?”
“tidak. Tidak, Kim Taeyeon!” serunya,  tampak semakin marah. “aku tidak mau kehilanganmu!” Junsu memegang kedua bahu Taeyeon dan mengguncangkannya. Lalu dia menatap Taeyeon dengan mata coklatnya dan tiba-tiba Taeyeon merasakan gelombang panas memancar keluar darinya. Sentuhan dapat memperkuat kemampuan Taeyeon untuk membaca pikiran orang yang menyentuhnya. Taeyeon memandangi Junsu tepat di kedua matanya lama-lama, lalu dia tersadar dan tersentak mundur ketika tangan Junsu merosot dari bahunya.
Dengan perasaan ngeri, Taeyeon terhuyung-huyung keluar dari gudang. Dia membaca hal-hal yang membingungkan dari benak Junsu. Cinta.
Tapi anehnya, Taeyeon hanya mendapatkan gelombang kesan tentang perasaannya, dia tidak bisa membaca pikirannya. Seperti lingkaran mood alih-alih pesan yang dipancarkan.
Jadi, apa yang harus dia lakukan dengna informasi baru ini? Tidak ada. Karena berbagai alasan, Taeyeon tidak pernah menganggap Junsu sebagai pria yang bisa dia kencani. Alasan yang paling sederhana, dia memang tidak pernah menganggap pria, siapapun itu, bisa menjadi kekasihnya. Bukan karena dia tidak tertarik, tetapi lebih karena hubungan dengan pria baginya adalah bencana.

Bisa kau bayangkan jika kau mengetahui segala hal yang dipikirkan pasangan kita? Ya, pikiran-pikiran kritis mereka tentang penampilan fisik kita, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pikiran-pikiran seperti itu membuat Taeyeon hilang selera. Alasan lainnya, Taeyeon menyukai Junsu sebagai bosnya.
Jadi, saat ini, dia ingin merenungkan gelombang hasrat yang terpancar darinya. Junsu tidak mengatakan isi hatinya secara langsung. Taeyeon hanya merasakan apa yang dia rasakan, dan bisa saja mengabaikannya jika mau. Dia menghargai betapa sensitifnya hal ini bagi dirinya, tapi dia juga ingin tahu, apakah Junsu mengetahui kemampuannya dan menyentuhnya dengan sengaja? Sebisa mungkin Taeyeon menghindari berduaan dengan Junsu, dan Taeyeon harus mengakui bahwa dia merasa terguncang malam itu.

***

Dua malam berikutnya menjadi lebih baik. Hubungannya dengan Junsu kembali normal. Dia lega namun entah kenapa dia juga merasa kecewa. Dia juga menjadi sangat sibuk sejak berita kematian Hara merebak dan membuat bar Xiah menjadi ramai. Berbagai isu tentang Hara terus berhembus di kota kecil itu, bahkan para wartawan dari luar kota seperti Cheonan, meliput peristiwa mengerikan itu. Taeyeon tidak menghadiri pemakamannya namun menurut neneknya, gereja menjadi sangat penuh. Dia merasa kasihan pada Hara, dengan bekas gigitan vampir di pahanya, kematiannya menjadi jauh lebih menarik ketimbang semasa hidupnya.
Tidak lama lagi dia libur kerja 2 hari, tetapi dia khawatir kehilangan kesempatan bertemu dengan vampir itu, Jaejoong. Sejak kejadian malam itu, vampir itu belum terlihat lagi di bar dan Taeyeon mulai bertanya-tanya apakah dia kan kembali?
Pasangan Trouble Maker juga tidak muncul di bar Xiah. Seunghyun dan temannya, Kwon Jiyong, terus menyakinkan Taeyeon bahwa dia dalam bahaya seandainya mereka kembali. Namun Taeyeon tidak terlalu mencemaskannya karena orang-orang kriminal seperti mereka selalu berada di jalan, berpindah-pindah dari taman trailer satu ke taman lainnya di seluruh Korea.
Taeyeon tidak menghiraukan peringatan Seunghyun namun jelas sekali dia senang mengulang-ulang peringatan tentang Hyunseung. Seunghyun berperawakan tinggi dan besar. Lebih tinggi dan kakaknya. Dia sering datang ke bar untuk minum dan mengunjungi Bom, mantan istrinya. Dia memiliki 3 mantan istri (WOW!! fantastic, baby! wkwkwk). Sedangkan Kwon Jiyong lebih mungil darinya. Dia selalu tampak riang, berpakaian nyentrik dan suka memberi tip yang cukup besar pada pelayan-pelayan di bar itu.
Taeyeon lega Seunghyun dan Jiyong sudah  tidak berada di bar lagi ketika akhirnya vampir itu kembali.
Dia duduk di meja yang sama.
Entah kenapa Taeyeon merasa malu saat akhirnya vampir itu ada di hadapannya. “mau pesan apa?” tanya Taeyeon.
Vampir itu, Jaejoong, menatapnya. Dia tidak tersenyum ataupun berkedip; dia hanya bergeming. Untuk kedua kalinya Taeyeon merasa santai dalam kesunyiannya.
“makhluk apa kau?” Jaejoong bertanya hal yang sama untuk kedua kalinya, seperti di malam saat Hyuna dan Hyunseung menguras darahnya.
“aku seorang pelayan,” jawab Taeyeon, lagi-lagi pura-pura tidak mengerti maksudnya. Taeyeon bisa merasakan senyum tegangnya muncul lagi, kedamaiannya perlahan menghilang.
“anggur merah.” Pesan Jaejoong.
“baik.” Sahut Taeyeon. “darah sintetisnya akan datang besok. Oh ya, boleh aku bicara denganmu sepulang kerja nanti? Aku butuh bantuanmu.”
“tentu saja. Aku berutang padamu.” Jelas sekali dia tidak terdengar senang tentang hal itu. Dan Taeyeon menyadarinya.
“bukan untukku!” Taeyeon mulai merasa jengkel. “ini untuk nenekku. Jika kau masih bangun—-ya, tentu saja kau masih bangun—-saat aku selesai bekerja pukul setengah dua, apa kau bersedia menemuiku di pintu karyawan di belakang bar?” Taeyeon menunjuk pintu itu dengan gerakan kepala, membuat kunciran ekor kudanya bergoyang di sekitar bahunya.
“dengan senang hati.”
Kemudian Taeyeon berbalik dan melangkah ke bar. Saat dia menyuguhkan anggur untuknya, Jaejoong memberi tip 20%. Tak lama setelah itu, Taeyeon melihat ke mejanya dan dia sudah menghilang. “apa dia akan menepati janjinya?” gumam Taeyeon.
Bom dan Minzy sudah pulang sebelum Taeyeon selesai berbenah. Taeyeon mengambil tas kecilnya dari loker di ruang kerja Junsu dan berpamitan padanya.
Saat melangkah keluar, lampu di pelataran parkiran untuk pelanggan sudah di matikan. Kini, lapangan itu hanya diterangi satu lampu temaram dari tiang listrik di depan trailer Junsu. Seperti biasa, truk milik Junsu terparkir di depan trailernya. Jadi, tinggal mobil Taeyeon yang tersisa di tempat parkir.
Taeyeon menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada Jaejoong. Taeyeon terkejut sendiri dengan kekecewaannya yang begitu besar. Dia benar-benar berharap Jaejoong adalah pria yang menepati janjinya.
Mungkin dia akan meloncat dari pohon seperti vampir Edward Cullen di film itu, atau tiba-tiba menjelma di hadapannya mengenakan jubah hitam bergaris merah, pikir Taeyeon tersenyum. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Akhirnya, dia menyeret kakinya menuju mobil dengan enggan.

Taeyeon memang mengharapkan kejutan, tapi bukan kejutan yang dia dapat ini. Hyunseung melompat keluar dari belakang mobil Taeyeon. Dalam satu gerakan, dia cukup untuk memukul rahang Taeyeon. Hyunseung terus memukuli Taeyeon hingga dia tersungkur ke tanah. Taeyeon menjerit saat terjatuh, tapi benturan dengan tanah mencekik suaranya. Kulitnya terparut permukaan tanah. Taeyeon diam kehabisan napas, tak berdaya. Kemudian, dia melihat Hyuna. Dia melihat Hyuna mengayunkan sepatu botnya ke arahnya, dan waktu yang tersisa baginya hanya cukup untuk bergulung seperti bola sebelum Hyuna dan Hyunseung mulai menendanginya.
Seketika rasa sakit yang luar biasa dan tak tertahankan menghantamnya. Taeyeon menutupi wajah dengan tangan secara refleks, menerima pukulan di lengan, kaki, dan punggung.
Awalnya , Taeyeon mengira mereka hanya ingin memperingatkannya, lalu berhenti memukulinya dan pergi. Setelah berapa lama dia baru menyadari bahwa mereka ingin membunuhnya. Taeyeon tergeletak di tanah sementara mereka terus memukulinya. Namun Taeyeon tidak mau berbaring saja di sana dan mati. Kali berikutnya sebuah tendangan menghampirinya dan dengan cepat Taeyeon menangkap kaki itu dan memeganginya. Taeyeon berusaha menggigitnya, paling tidak untuk menandai salah satu dari mereka.
Lalu tiba-tiba dari belakang, terdengar suara geraman. “oh, tidak. Mereka membawa anjing.” Pikir Taeyeon. Geraman itu jelas-jelas menunjukkan permusuhan.
Taeyeon menerima sekali lagi tendangan di tulang belakangnya, lalu siksaan itu berhenti. Tendangan terakhir itu berefek mengerikan. Darah kental menyembur keluar dari mulutnya.
“apa itu?” Hyunseung terdengar sangat takut mendengar geraman itu.

Taeyeon POV
Geraman itu terdengar lagi, semakin dekat, tepat di sebelahku. Kemudian, dari arah lain terdengar raungan. Hyuna mulai melolong ketakutan. Hyunseung merutuk. Hyuna menyentakkan kakinya dari genggamaku yang semakin lemah. Tanganku terjatuh di tanah, tampaknya aku sudah tidak dapat mengendalikannya lagi. Walaupun penglihatanku kabur, aku bisa melihat tangan kananku patah. Wajahku terasa basah. Aku terlalu takut untuk meneruskan memeriksa cedera di tubuhku.
Hyunseung mulai menjerit, lalu Hyuna, tampaknya banyak hal yang terjadi di sekelilingku, tapi aku tidak bisa bergerak. Yang terlihat olehku hanyalah lenganku yang patah, lututku yang terluka, dan kegelapan di bawah mobilku.
Tidak lama kemudian, hanya ada kesunyian. Di belakangku, anjing itu melolong. Sebuah hidung yang dingin menyodok telingaku, lalu sebuah lidah hangat menjilatinya. Aku berusaha mengangkat tanganku untuk membelai anjing yang telah menyelamatkan nyawaku itu, tapi aku tidak bisa. Aku bisa mendengar desahanku sendiri dan rasanya suara itu terdengar dari tempat yang sangat jauh.
Menghadapi kenyataan ini, aku berkata, “aku sekarat.” Gagasan itu mulai terasa semakin nyata bagiku. Jangkrik dan katak yang biasanya berbunyi pada malam hari kini diam, jadi suaraku yang lemah terdengar sangat jelas di kegelapan malam. Anehnya, tak lama setelahnya aku mendengar dua suara lain.
Kemudian, sepasang lutut berbalut celana jeans berlumur darah terlihat dalam pandanganku. Vampir Jaejoong membungkuk sehingga aku bisa melihat wajahnya. Ada darah di sekitar mulutnya, dan taringnya mencuat keluar, mengilap di atas bibir bawahnya.
“aku akan mengangkatmu,” kata Jaejoong. Dia terdengar tenang.
“aku akan mati kalau kau melakukannya,” bisikku.
Dia memeriksaku dengan seksama. “kau tidak akan mati sekarang.” Katanya setelah melihat keadaanku. Anehnya, kata-katanya itu membuatku merasa lebih baik; pasti dia pernah melihat lebih banyak luka di sepanjang hidupnya.
“kau akan merasa sakit,” katanya memperingatkanku. Sulit membayangkan hal lain yang tidak akan membuatku kesakitan seperti ini.
Lengannya sudah berada di bawahku sebelum aku sempat merasa takut. Aku berteriak, tetapi itu teriakan yang lemah.
“cepat,” desak sebuah suara.
“kami akan kembali ke hutan agar tidak terlihat,” ujar Jaejoong sambil menggendong tubuhku seakan-akan aku tidak punya berat badan. Entah pada siapa dia berkata.
Apakah dia akan menguburku di hutan? Di tempat yang tidak terlihat? Setelah dia menyelamatkanku dari para penguras itu? Aku hampir tidak peduli.
Aku hanya merasa sedikit lega saat dia membaringkanku di tanah di kegelapan hutan. Rambutku lengket oleh darah, tanganku patah dan terasa nyeri, begitu pula memar-memar di sekujur tubuhku. Tetapi, yang paling menakutkan adalah apa yang tidak kurasakan.
Aku tidak dapat merasakan kakiku. Perutku terasa penuh sekali, sesak. Frase “luka dalam” melintas di pikiranku, tampaknya itulah yang kualami.
“kau akan mati kecuali menuruti kata-kataku,” Ucap Jaejoong.
“mianhae, aku tidak ingin menjadi vampir,” suaraku lemah dan terbata-bata.
“tidak, kau tidak akan menjadi vampir,” ujarnya dengan lebih lembut. “kau akan pulih dengan cepat. Aku punya obatnya. Tetapi, kau harus benar-benar menginginkannya.”
“kalau begitu cepat berikan obatnya,” bisikku. “aku hampir mati.”
Benak kecilku yang masih menerima sinyal-sinyal dari dunia luar mendengar Jaejoong mengeluh seolah-olah dia terluka. Lalu, sesuatu di tekankan ke mulutku.
“minum!” perintahnya.
Aku terkejut, dia melukai pergelangan tangannya sendiri. Namun aku menuruti perintahnya, aku berusaha menjulurkan lidahku, berhasil. Dia berdarah dan menekan-nekan pergelangan tangannya untuk melancarkan aliran darahnya ke mulutku. Aku tersedak, tetapi aku masih ingin hidup. Aku memaksa diriku untuk menelan darahnya. Dan menelan lagi.
Tiba-tiba darahnya terasa enak, asin, sumber kehidupan. Lenganku yang tidak patah terangkat, tanganku mencengkram pergelangan tangan Jaejoong ke mulutku. Aku merasa lebih baik di setiap tegukan. Dan setelah semenit, aku jatuh tertidur.
Saat aku terbangun, aku masih berada di hutan, masih terbaring di tanah. Seseorang berbaring di sampingku; vampir itu. Aku bisa melihat tubuhnya bersinar. Aku bisa merasakan lidahnya bergerak di kepalaku. Dia sedang menjilati luka-lukaku. Aku tidak mampu melarangnya.
“apakah rasaku berbeda dari orang lain?” tanyaku.
“ne.” Jawabnya dengan suara yang dalam. “makhluk apa kau?”
Ini ketiga kalinya dia bertanya. Kali ketiga, mantra pun bekerja, halmoni selalu berkata seperti itu.
“hei, aku tidak mati!” ujarku. Tiba-tiba aku ingat untuk memeriksa keadaanku. Aku menggoyangkan tanganku yang semula patah. Masih lemas, tapi sudah tidak layuh seperti tadi. Aku bisa merasakan kakiku lagi, lalu kugoyangkan kedua kakiku. Aku menarik napas dan mengembuskannya, senang karena kegiatan ini hanya menimbulkan sedikit rasa sakit. Aku berusaha bangun. Memang agak sulit. Rasanya seperti hari pertama aku sembuh dari demam akibat radang paru-paru waktu aku kecil. Lemah, tapi damai. Aku sadar bahwa aku telah selamat dari sesuatu yang sangat buruk.
Sebelum aku selesai meluruskan tubuh, Jaejoong mengangkatku ke dalam pelukannya. Dia bersandar pada sebatang pohon dan rasanya nyaman sekali berada di pangkuannya dengan kepalaku bersandar di dadanya.
“aku telepat,” kataku. “aku bisa mendengar pikiran orang lain.”
“bahkan pikiranku?” dia terdengar penasaran.
“tidak, itulah sebabnya aku sangat menyukaimu,” ujarku dengan pipi merona. Aku merasa tidak perlu menutupi kenyataan itu. Aku merasakan dadanya brguncang saat dia tertawa. “aku tidak bisa mendengar sama sekali,” ujarku dengan kantuk yang tak tertahankan. “kau tidak tahu betapa damainya perasaan itu. Setelah seumur hidup mendengarkan racauan orang di kepalanya… sekarang hening.”
“bagaimana kau berkencan? Pria seusiamu tentu sering berpikiran macam-macam.”
“aku tidak berkencan. Dan aku baik-baik saja. Jujur saja, di usia berapapun, laki-laki selalu berpikiran macam-macam tentang perempuan. Jadi, aku tidak berkencan. Semua orang menganggapku gila, aku tahu, karena kau tidak bisa memberitahu mereka yang sebenarnya; bahwa aku dibuat gila oleh semua pikiran orang-orang itu. Saat pertama kali bekerja di bar, aku pernah berkencan beberapa kali dengan pria-pria yang tidak pernah mendengar tentang ‘kegilaanku’. Tapi sama saja. Susah untuk merasa nyaman dengan seseorang kalau kau mendengar mereka berpikiran mesum atau ternyata memikirkan wanita lain.”
Seketika aku merasa waspada dan menyadari bahwa aku terlalu banyak mengungkap tentang diriku pada makhluk ini.
“mianhae.” Lanjutku. “Bukan maksudku membebanimu dengan masalahku. Terima kasih kau telah menyelamatkanku dari Hyuna dan Hyunseung.”
“ini salahku sampai mereka bisa melukaimu.” Ujarnya. Ada kemarahan di bawah permukaan suaranya yang tenang. “kalau saja aku datang tepat waktu, ini tidak akan pernah terjadi. Jadi, aku berutang padamu sebagian darahku. Aku berutang kesembuhanmu.”
“apakah mereka mati?”
“ne.”
Aku meneguk ludah. Aku tidak menyesal orang-orang seperti pasangan Trouble Maker menghilang dari dunia ini. Tapi aku harus memikirkan hal ini dengan benar; aku tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa aku duduk di pangkuan seorang pembunuh. Namun aku merasa bahagia disini, dengan tangannya memelukku.
“seharusnya aku merasa cemas, tapi ternyata tidak,” ujarku tanpa pikir. Aku mendengar lagi tawa seraknya.
“Taeyeon-ssi, kenapa kau ingin bicara denganku malam ini?”
Aku berusaha mengingat-ingat. Meskipun secara ajaib tubuhku berhasil selamat dari hantaman itu, mentalku belum jernih sepenuhnya.
“nenekku benar-benar penasaran dengan usiamu,” kataku, ragu-ragu. Aku tidak tahu seberapa pribadinya pertanyaan itu untuk seorang vampir. Jaejoong mengelus punggungku seolah menenangkan seekor anak kucing.
“aku di ubah menjadi vampir sejak tahun 1870, saat aku berusia 28 tahun.” Aku menatap ke atas; wajahnya berkilau tanpa ekspresi, matanya seperti lubang hitam di kegelapan malam.
“apakah kau ikut bertempur dalam perang sipil?”
“ne.”
“aku takut kau marah dengan ide ini, tapi nenekku dan klubnya akan sangat senang kalau kau mau berbagi cerita tentang perang, tentang seperti apa perang itu.”
“klub?”
“nenekku tergabung dalam Perkumpulan Ahli Waris Pahlawan.”
“pahlawan,” suara Jaejoong tak terbaca, tapi aku cukup yakin dia tidak senang.
“dengar, kau tidak usah bercerita tentang hal-hal yang menyakitkan. Mereka memiliki bayangan sendiri tentang perang dan walaupun mereka bukan orang-orang bodoh, karena mereka juga berhasil selamat melewati perang-perang yang lain, mereka pasti ingin tahu gaya hidup masyarakat di masa itu. Seperti apa seragamnya atau bagaimana pergerakan pasukan.”
“hal-hal yang aman dan bersih.”
Aku menarik napas dalam-dalam. “ne.”
“apa kau akan senang jika aku melakukannya?”
“apa bedanya? Itu akan membuat nenekku senang dan karena kau ada disini dan ingin tinggal disini, hal itu akan menjadi semacam promosi untukmu.”
“apa kau akan senang jika aku melakukannya?” dia adalah jenis laki-laki yang tidak bisa kau elakkan.
“tentu saja.”
“kalau begitu, aku akan melakukannya.”
“halmoni bilang sebaiknya kau makan dulu sebelum datang ke pertemuan itu.” Ujarku. Dan lagi-lagi suara tawanya bergemuruh.
“sekarang aku tidak sabar ingin bertemu dengan nenekmu. Boleh aku menunjungimu kapan-kapan?”
“tentu. Besok adalah malam terakhirku bekerja karena aku libur dua hari. Hari kamis aku bisa.” Kuangkat tanganku untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Jam itu masih hidup, tetapi layarnya tertutupi oleh darah kering. “oh, menjijikkan,” aku membasahi jariku dan membersihkan permukaan jam dengan ludah. Aku terkesiap ketika melihat sudah jam berapa itu.
“ommona! Aku harus segera pulang. Kuharap halmoni sudah tidur.”
“dia pasti sangat mengkhawatirkanmu sendirian di luar rumah tengah malam,” ujar Jaejoong, terdengar tak setuju.  Apakah dia sedang memikirkan Hara? Selama beberapa saat, aku merasa tidak tentram, bertanya-tanya apakah Jaejoong mengenal Hara, apakah dia pernah mengundang Jaejoong pulang ke apartemennya. Namun aku segera mengubur pikiran itu karena aku tidak ingin menggali lebih dalam tentang kehidupan dan kematian Hara yang tidak alami, aneh, dan mengerikan itu. Aku tidak mau menjadi ketakutan dan merusak perasaan senangku saat ini.
“ini bagian dari pekerjaanku,” jawabku. “mau tidak mau aku harus keluar malam. Aku juga tidak bekerja malam setiap saat. Tapi jika bisa, aku akan melakukannya.”
“wae?” dia membantuku berdiri, lalu dengan mudah dia bangkit dari duduknya.
“tip besar. Pekerjaan fisik yang lebih berat. Tidak ada waktu untuk berpikir.”
“tapi malam hari itu berbahaya,”
“sekarang kau terdengar seperti nenekku,” olokku ringan. Kami hampir mencapai pelataran parkir.
“aku lebih tua dari nenekmu,” dia mengingatkan dan menutup pembicaraan dengan kata-kata itu.
Begitu kami keluar hutan, aku berdiri menatap tempat parkir yang tampak sama seperti biasanya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah di tempat itu aku tidak di pukuli sampai hampir mati beberapa jam sebelumnya. Seolah-olah pasangan Trouble Maker belum menemui ajal mereka. Lampu di bar dan trailer milik Junsu padam, kerikil-kerikil itu basah tapi bukan oleh darah. Tas kecilku tergeletak di atap mobilku.
“lalu , bagaimana dengan anjing itu?” tanyaku. Aku berbalik mencari penyelamatku.
Dia sudah tidak ada.

To be continue…

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on April 12, 2014, in Series, TaeJae, TaeSu and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 19 Comments.

  1. nice chapter(y) next cepet ya eon, penasaran ama anjing(?)
    oiya only one kapan?😥

  2. wwuuuaaahhh…jaejeong oppa keren bangeuutttttt…
    tae eonni ma halmoeni.y kompak bnget yah..
    tp q pnsran sma pembnuh.y hara eonni…spa yah???
    next.y jngn lma” yah eon..

  3. Tiba2 lngsung horror aja pas Taeng dgebukin (?) sma trouble maker, aneh yaa, mungkin krna faktor malam kali, jdi ngeri (?) ..
    Jgn lma2 lgi yaa, msh bnyk hutang nih btw .
    Updatesoon, fighting!!!

  4. Aw… Di awal” aku sempet ngarep sama taesu.. Tapi setelah itu aku suka jaejoong. Hahaha
    hem.. Sempet ngeri pas tadi taeng di kroyok sama troble maker.. Errr… Segitunya tapi untung taeng buru-buru di selamatkan. Dan kyaaaaa… Moment mereka bikin senyam-senyum.. Kekeke.. Mereka sosweeet bngiiittt…!
    Taeng duduk di pangkuang jaejoong. Omg… Itu mains banget!
    Hahaha
    *komen aku tadi ilang. Dan semoga itu gak akan muncul? Karna rada mirip sama ini, tapi beda bhsanya. Hahaha
    kan gak lucu pas udh ngomen ini eh yg tadi muncul juga. Wkwkw
    DAEBAK THOR.. AKU SUKA INI DI TUNGGU YAH.

  5. Aigoo ff’na bener2 keren awalnya rada bingung tntang keluarga taeng wkkwwk crtanya bener2 misterius
    jaejoong bikin penasaran akut si trouble maker jahat bgt taeng eonni untung msh tertolong…
    Next chap dtunggu
    ff lainnya jgaa dtunggu

  6. ,Aigoo ff’na bener2 keren awalnya rada bingung tntang keluarga taeng wkkwwk crtanya bener2 misterius
    jaejoong bikin penasaran akut si trouble maker jahat bgt taeng eonni untung msh tertolong…
    Next chap dtunggu
    ff lainnya jgaa dtunggu

  7. AAAAAAAAAAAAAAA AKHIRNYA UPDATE JUGA YG INI;A;
    taejoong nya imut ih romantis/? x3
    horor ih wkt taengnya sekarat;_;
    trus itu yg nyuruh jaejoong cepet siaapa thor.__.
    YA INTINYA NEXT CHAPT DITUNGGU YA EON<3 DAEBAKX3

  8. Keren keren keren😀
    Penasaran sama next chapter nyaa
    Lanjut ditunggu😀

  9. Keren..
    Thor aku suka ff ini,suka bgd couple yg Jarang di Temukan
    wkwkwkwk.. Di tggu Next chap..
    Aku suka sMua ff yg cast utama na Taeng.. cz Aku Taenggangerster
    SaLam kenal ya Thor

  10. Wow daebak
    jaejoong oppa keren utng cpat nlongin tae unnie.
    Tpi ksian tae unnie tgan.ya smpe ptah.misterius abis dech.he

  11. Sebenernya agak nggak terlalu mudeng baca ff ini unn, hehe

  12. akhirnya dilanjut juga ff ini, bagus thor.. daebak author!!🙂 next chap nya yang cepet ya thor? gak sabar nih…

  13. huh untung aja taeyeon eonni selamat trouble maker berkat jaejoong oppa #lucky girl hehehe
    makin seru aja nih ff dan pengen tahu kelanjutannya eonn cepat update eonni….

  14. della kristina

    eon aku meninggalkan jejak d chapt 2 dlu y soalnya aku blom bca yang chpter 1😉

  15. Aduh terlambat bngt nih q konwnt a…gx pt y?yg pntng ad jejaknya…..daebak thor ….d tnggu krya selanjutnya..

  16. yuhuu..part 2 ini aku suka banget. Si Jaejoong tertawa gmn ekspresinya ya ??

    Nggk sabar nih gmn nnti pas jaejoong bertemu dgn halmoni-ny Taeyeon. Hehehehe..

    Ditunggu next chapterny ya, klo boleh jgn lama2 nge-post part 3-nya.
    hehehehe…

    semangat trus buat cerita ff yg daebak lagi ya🙂

  17. eon… ini ff nta kapan di lanjut lagi eon? mau taejae u.u

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: