[FF] Unforgettable Days in Japan (Oneshot)

japan

Author : Ashiya Cast :

  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Kris Wu (EXO)
  • Kim Yoojung

Disclaimer : This fiction is mine. Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

***

SSRTT Taeyeon meresleting tas punggung atau backpacknya yang berukuran cukup besar berwarna hitam dan biru itu. “sudah kau masukan semuanya?” seorang yeoja memasuki kamarnya yang cukup berantakan karena sejak pagi hingga siang ini ia mengobrak-abrik isi lemarinya memasukan beberapa pasang pakaian ke dalam tas punggung tadi. “mmm….sepertinya sudah.” Taeyeon membaca kembali daftar barang bawaan yang akan ia bawa. “oh ya, Yoojung-ah, bisa tolong ambilkan tas ransel kecil dan kamera sakuku?” pinta Taeyeon pada gadis tadi, Kim Yoojung, sepupunya yang tinggal bersama di apartemennya. “ne. Tunggu sebentar.” Yoojung berjalan ke meja belajar di dekatnya dan mengambil barang yang di minta Taeyeon. “gomawo.” Ucap Taeyeon menerima barang itu. “eonni, kau tidak akan membawa kamera SLR-mu?” “aniyo. Terlalu memakan banyak tempat. Kau tahu sendiri aku tidak suka membawa terlalu banyak barang. Lagipula kamera itu terlalu mencolok. Aku tidak mau mengambil resiko di curi orang. Makanya kemarin aku pergi ke mall dan membeli kamera ini” Sahut Taeyeon. “oh pantas saja rasanya aku belum pernah melihat kamera itu. Pasti mahal sekali, ya?” Tanya Yoojung kini ia duduk di tempat tidur Taeyeon. “yah, lumayan. Tapi sebanding dengan spesifikasinya.” Sahut Taeyeon memasukan kamera kecil beresolusi tinggi itu ke dalam tas punggung yang lebih kecil.” “geurae? Semoga perjalananmu menyenangkan.” “ne.” Sahut Taeyeon sebelum akhirnya Yoojung keluar dari kamarnya. Sejak dulu Taeyeon bercita-cita untuk bisa pergi keliling dunia dan menjadi seorang travel writer .*ini mah authornya!! xD* dan sebentar lagi impiannya akan terwujud. Ia akan melakukan perjalanan pertamanya ke luar negeri setelah sebelumnya ia telah mengelilingi hampir seluruh kota di Korea Selatan itu. Taeyeon belum pernah ke luar negeri sebelumnya dan ia ingin mengawalinya dengan melakukan perjalanan seorang diri. Ia bisa saja mengajak Yoojung namun ia ingin mencoba memberanikan dirinya pergi sendiri ke negara lain. Selain ia tidak mau mengganggu studi Yoojung yang masih duduk di bangku SMA. Besok ia akan pergi ke Jepang untuk mengawali perjalanannya ini selama seminggu. Ia sudah mencatat initerary perjalanannya dan juga sudah membooking sebuah hostel co-ed di kawasan Shibuya. Hostel. Ya, hostel. Bukan hotel. Ia ingin merasakan tidur di hostel co-ed atau hostel yang penghuninya di campur antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah kamar seperti asrama yang di huni paling sedikit 6 orang. Namun ada juga hostel yang satu kamarnya berisi wanita semua atau laki-laki semua. Ada pula yang private seperti hotel. Perbedaannya hostel dengan hotel adalah selain harganya yang relatif lebih murah, hostel ini juga biasa di gunakan untuk penginapan para backpackers dimana satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, biasanya model tempat tidur tingkat atau bunk bed. Taeyeon tidak sembarangan memilih hostel. Ia mencari hostel yang sudah masuk dalam jaringan International Youth Hostel Federation (IYHF), organisasi non-profit dengan lambang pohon cemara biru yang tersebar di 80 negara. Saat ia melakukan perjalanan di Korea pun ia sering menginap di hostel, namun tentu saja menginap di hostel di luar negeri pasti akan menimbulkan kesan tersendiri. Yoojung sempat tidak setuju ketika Taeyeon memutuskan untuk menginap di hostel co-ed, namun Taeyeon berhasil meyakinkannya karena setiap penghuni hostel sudah tahu etika menginap di hostel. Ya, hostel memiliki aturan tersendiri mengingat akan banyak orang yang berbaur dalam satu kamar dan bersama-sama memakai fasilitas yang di sediakan pengelola. Taeyeon sudah tidak sabar menunggu hari esok. Passport, tiket pesawat, visa *emang orang Korea pake visa kalo ke Jepang? Author ngarang banget!! Kkk*, kamera saku, daftar initerary, ia masukan ke dalam ransel kecilnya, dan juga dompet berisi sejumlah uang, kartu kredit dan ATM. Ia juga memasukan dompet lainnya ke dalam tas ransel besarnya. Ia sengaja membagi-bagi uangnya ke beberapa tempat untuk mencegah jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Misalnya kecopetan atau semacamnya. “Japan, I’m comiiiiiiiiiiing!!” seru Taeyeon dengan sumringah.

***

Dengan beban ransel di punggungnya Taeyeon memasuki pintu terminal bandara internasional Incheon di temani Yoojung yang mengantarnya. Taeyeon berangkat pagi sekali agar sesampainya di Jepang ia bisa langsung jalan-jalan. “eonni, apa tidak sebaiknya kau bawa koper saja? Tas punggung itu terlihat lebih besar daripada tubuhmu sendiri.” Taeyeon tertawa mendengar ucapan Taeyeon. “aniyo. Tas ini lebih praktis daripada koper meskipun jadi lebih berat. Lagipula mana ada backpacker bawa koper. Menginap di hostel backpacker lagi.” “hm.. terserah kaulah.” Tidak lama kemudian terdengar pengumuman yang memberitahukan saatnya penerbangan menuju Jepang. “selamat jalan, eonni. Hati-hati, jangan berbuat hal konyol yang akan menyusahkan dirimu sendiri.” Ucap Yoojung sembari memeluk Taeyeon. “ne. Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa jaga diri. Aku kan sudah pernah ikut club Taekwondo.” “kalau ada apa-apa jangan lupa langsung menghubungiku.” Pesan Yoojung sembari melepas pelukannya. “kau terdengar seperti ibuku saja.” Gurau Taeyeon. “ya! Eonni!” “baiklah. Aku pergi ya. Selama seminggu ke depan kau akan tidur sendirian dan hati-hati apartemen kita berhantu lho!!” canda Taeyeon lagi. “aissh, sudah pergi sana. Nanti kau ketinggalan pesawat.”

–SKIP–

Deru pesawat Korean Air terdengar di lapangan udara bandara Haneda Jepang. Tidak lama kemudian para penumpang keluar dan bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Taeyeon mengambil tas punggungnya yang terpaksa harus masuk bagasi karena berat dan ukurannya yang tidak memungkinkan jika harus masuk kabin. Sehingga yang di bawa ke kabin hanya tas punggung yang kecil berisi dokumen-dokumen penting seperti passport dan yang lainnya. Saat akan menaikan ransel itu ke punggungnya, ia tampak kesulitan namun beruntung seorang petugas bandara melihatnya dan membantunya menaikan ransel itu ke punggungnya. “arigato!” ucap Taeyeon berterima kasih sambil sedikit membungkukan badannya. Sebelumnya Taeyeon telah belajar bahasa Jepang terlebih dahulu supaya memudahkannya berkomunikasi dengan masyarakat lokal. Walaupun seadanya. Selain itu ia juga sudah mati-matian belajar bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan karena ia tahu akan kesulitan jika tidak menguasai bahasa internasional itu, terlebih niatnya adalah berkeliling dunia. Taeyeon berjalan keluar dari pintu kedatangan dan duduk di sebuah bangku. Ia menghidupkan kembali ponselnya yang sempat ia matikan selama berada di dalam pesawat. Dengan memanfaatkan fasilitas wi-fi gratis di bandara itu, ia mengirim pesan email pada Yoojung.

To : yjkim@naver.co.kr

From : kimtaengoo@naver.co.kr

Subject : Japan

Yoojungie, aku baru saja tiba di bandara Haneda. Sekarang aku akan menuju pengingapan.

Taeyeon memasukan kembali ponsel itu ke ransel kecilnya. Ia segera beranjak dengan memeluk ransel kecil itu menuju tempat pemberhentian taxi. Namun sebelum keluar bandara itu, ia mengambil sebuah peta kecil yang di letakkan di sebuah rak dekat pintu keluar. Lalu ia pun menyetop taxi dan membawanya menuju hostel yang telah ia booking secara online di kawasan Shibuya. Sesampainya di hostel, ia berjalan menuju counter receptionist. Dengan bahasa Jepang yang terbata-bata, Taeyeon berhasil check-in di hostel itu setelah menunjukan bukti reservasinya. Ia pun di beritahukan kamarnya yang berada di lantai 2 nomor 20. Kondisi kamarnya tidaklah buruk. Seperti sebagaimana umumnya hostel. Kamar itu di peruntukan untuk 16 orang dengan 8 tempat tidur bunk bed yang berjejer saling berhadapan. Di kamar itu Taeyeon melihat 3 laki-laki dan 4 wanita ras kaukasoid, seorang wanita ras kulit hitam, serta 2 laki-laki dan 2 wanita Asia. Ternyata kamar itu hanya di huni 12 orang. Di tambah Taeyeon menjadi 13 orang. Taeyeon berjalan menuju kasur bunk bed yang masih kosong di atas maupun di bawahnya. Lalu dengan bahasa Inggris ia menanyakan pemilik tempat tidur itu pada teman sekamarnya dan ternyata kasur itu tidak ada yang menempati. Lalu ia berjalan menuju lemari yang setara dengan tinggi badannya kemudian mengeluarkan kunci yang di berikan receptionist saat ia check-in tadi. Ia menaruh ranselnya ke dalam lemari itu setelah mengeluarkan handuk & peralatan mandi. Lalu ia bergegas ke kamar mandi yang berada di luar kamar itu. Kamar mandinya berjejer 7 ruangan. Taeyeon mengantri karena semua kamar mandinya di pakai. Ya begitulah konsekuensi menginap di hostel. Fasilitas di nikmati bersama dengan tamu lain.

***

Jam 1 siang, setelah mendapatkan makan siang yang di berikan pihak hostel, Taeyeon bergegas keluar hostel dengan menggendong ransel kecilnya. Ia berjalan menuju Hachikō Hakusei, tempat wisata yang cukup unik dimana terdapat patung anjing sebagai monumen mengenang seekor anjing yang memiliki kisah mengharukan dan selalu di kenang masyarakat Jepang. Patung ini berada di stasiun kereta Shibuya. Kemudian ia melanjutkan ke sebuah jalan yang sangat terkenal di Jepang, yaitu Harajuku Street. Tempat berkumpulnya anak muda Jepang yang mengenakan berbagai fashion unik khas anak muda Jepang. Di tempat itu sangat ramai. Orang-orang dengan gaya dan fashion unik berseliweran hilir-mudik di tengah lautan manusia. Taeyeon memotret mereka yang berpenampilan menarik. Tentu saja setelah meminta ijin terlebih dahulu. Decora, maid cafe, gothic lolita, visual kei, cosplayer anime, film, dan game, dan sebagainya Taeyeon ambil potret mereka. Bahkan hingga anak-anak sekolah yang memakai seifuku. Padahal di negaranya pun hampir semua anak sekolah berpakaian seperti itu. Kemudian ia mengunjungi tempat lainnya di sekitaran kota Tokyo. Ia mengunjungi lambang atau maskot kota Tokyo, yaitu Tokyo Tower. Menara pemancar TV dan radio setinggi 332,6 meter. Ia pun menyempatkan diri berfoto di depan Tokyo Tower dengan meminta bantuan orang lain untuk memotretkannya. Tidak lupa ia pun membelikan sebuah T-shirt bertuliskan Harajuku Street sebagai oleh-oleh untuk Yoojung. Ia melanjutkan perjalanan menuju Shinjuku. Di Shinjuku, ia melihat deretan toko penjual pakaian yang sebagian besar menjual perlengkapan cosplay dan pakaian ala harajuku. Namun tidak sedikit juga yang menjual pakaian dan cendera mata untuk oleh-oleh. Taeyeon pun membeli sebuah T-shirt bertuliskan Shinjuku dengan huruf hiragana untuk dirinya.

***

Perjalanan siang itu cukup melelahkan. Akhirnya malam hari sekitar pukul 8 malam, setelah mendapat jatah makan malam dari hostel, ia keluar dari hostel menuju onsen yang terletak tidak jauh dari hostel tempatnya menginap. Onsen itu di buka 24 jam. Onsen atau hot spring adalah sumber mata air panas yang di alirkan ke tempat pemandian umum yang berasal dari gunung yang masih aktif. Dengan banyaknya gunung api di Jepang, orang-orang banyak yang membuat onsen ini. Bahkan hampir semua rumah memiliki onsen pribadi. Saat Taeyeon tiba di pintu masuk onsen itu, ia melihat 2 wanita asing yang tampak ragu-ragu untuk memasuki onsen itu. Karena penasaran, diam-diam Taeyeon mendengarkan percakapan mereka yang berbahasa Inggris. Ternyata mereka ragu masuk kesana karena mereka memiliki tato. Peraturan di onsen melarang orang bertato masuk karena takut di sangka anggota Yakuza (mafia Jepang). Dengan memasang tampang ramah, Taeyeon mendekati kedua wanita bule itu. “it’s okay. You both are foreigners. Just act like you don’t know the rules.” Kedua wanita itu akhirnya bernapas lega dan berterima kasih padanya. “so, are you Japanese, too?” tanya salah seorang turis wanita itu. Ia berambut pirang sebahu dengan mata hijau yang cemerlang. “no, I’m Korean. I’m from South Korea.” “oh! Dong Bang Shin Ki!!” seru 1 wanita turis yang satunya. Ia berambut pendek berwarna kecoklatan dan memiliki mata berwarna biru. “do you know them??” Taeyeon merasa takjub ada orang asing yang mengenal boy group asal negaranya itu. “of course! She’s a big fan of them.” Sindir si rambut pirang. “hehe… yeah, I’m Cassiopeia as you know.” Sahut si rambut coklat. “ah~ nice!” sahut Taeyeon dengan senyum terkembang. “by the way, what’s your name?” tanya si rambut pirang “Kim Taeyeon. just call me Taeyeon. And you?” “I’m Ashley.” Sahut si rambut pirang yang ternyata bernama Ashley. “I’m Ada. We’re from U.S.” Sahut yang berambut coklat memperkenalkan diri. “nice to meet you.” Ujar Taeyeon. Akhirnya mereka masuk ke dalam onsen itu bersama-sama setelah membayarkan sejumlah yen sebagai biaya masuk. Beruntung Taeyeon karena keramahannya, kedua wanita asing itu mentraktirnya masuk osen tersebut. Meskipun Taeyeon bukan orang Jepang, namun ia tahu banyak soal dos and don’ts atau peraturan yang boleh dan tidak boleh di lakukan di dalam onsen. Taeyeon pun menjelaskan peraturan-peraturannya pada 2 wanita Amerika itu. Pertama mereka harus mengenakan yukata atau kimono casual berbahan katun yang telah di sediakan pengelola onsen dan juga membawa handuk kecil yang juga di sediakan pengelola. Onsen itu terbagi 2 tempat, untuk wanita di tandai dengan kain di pintunya yang berwarna merah dan pria berwarna biru. Sampai di ruang ganti, disediakan keranjang untuk menaruh baju. Di situ mereka harus menanggalkan SELURUH pakaiannya. Memang begitulah peraturan di onsen: semua orang harus telanjang bulat. Memakai celana pendek atau bikini pun tidak di perbolehkan. Namun tentu saja disana ada etikanya, tidak boleh menatap langsung tubuh orang lain. Di onsen ini, onsen untuk pria dan wanita di pisahkan, namun di tempat lain ada onsen yang campur. “and now we’re going to bathroom.” Taeyeon memberikan instruksi. Mereka memasuki kamar mandi. Ruangan itu tidak bersekat, namun di sepanjang sisinya berjejer cermin, shower dan kursi pendek kecil. Peraturan sebelum masuk kolam onsen, mereka di haruskan mandi dulu di bawah shower sambil duduk di kursi kecil tadi karena dilarang mandi berdiri sebab bisa menciprat ke orang lain di sebelahnya. Disana juga disediakan 3 botol besar berisi sabun cair, shampoo, dan conditioner. Handuk kecil yang mereka bawa di gunakan untuk menggosok sabun ke badan. Setelah bersih, barulah mereka masuk ke dalam kolam onsen. Taeyeon langsung mengajak 2 teman barunya itu ke rotenburo atau outdoor bath pool atau kolam onsen yang berada di luar ruangan. Meskipun saat ini musim semi, namun suhu udara mencapai 5°C. Sambil berlari-lari kecil tanpa mengenakan sehelai benang pun, mereka segera menceburkan diri ke kolam dengan suhu berkisar 42°C sampai 50°C. Hawa panas dari kolam onsen itu membuat mereka langsung rileks dan nyaman. Cukup panas untuk berlama-lama di dalamnya. Di kolam itu juga terdapat beberapa wanita lain. Mereka mengobrol, berenang, atau memandang bintang-bintang di langit yang terbuka. Setelah puas berada di kolam outdoor, Taeyeon, Ashley dan Ada pindah ke kolam semioutdoor, lalu terakhir ke kolam indoor. Setelah dirasa cukup, mereka beranjak mengakhiri acara berendam di onsen itu kemudian berlalu ke ruang ganti dan berpakaian. Kemudian mereka pindah lagi ke ruang kosmetik tempat di sediakan alat pengering rambut dan aneka lotion wajah. Taeyeon dan 2 turis itu akhirnya berpisah di depan onsen. Awalnya Taeyeon ingin mengajak mereka traveling bersama namun ternyata mereka sudah harus pulang ke Amerika keesokan harinya. Tetapi mereka sempat bertukar alamat email dan berjanji akan saling bertukar kabar. Bahkan Ada berencana akan melakukan perjalanan ke Korea Selatan.

Ya itulah salah satu keuntungan dari traveling. Menambah teman baru dan membuat kita menjadi open minded.

***

Taeyeon duduk di atas kasurnya mengecek email melalui ponselnya.

From : yjkim@naver.co.kr

To : kimtaengoo@naver.co.kr

Subject : Japan

3 PM

Syukurlah. Selamat bersenang-senang! Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh.

Yuri Chinen, misalnya. Kekekeke~

Taeyeon terkekeh membaca email balasan dari Yoojung. “ternyata dia bisa genit juga.” Taeyeon meletakan kembali ponselnya ke dalam tas lalu memasukannya ke lemari dan menguncinya. Kunci tersebut ia masukan ke saku celananya. “haaaah hari yang menyenangkan!” batin Taeyeon berbaring di ranjang bunk bednya dan perlahan ia memejamkan matanya, rasa lelah dan kantuk mengantarnya ke alam mimpi sebelum akhirnya kembali berpetualang keesokan harinya.

***

“…so, where’s your destination today?” Taeyeon bertanya pada seorang warga asing yang sekamar dengannya saat menikmati sarapan yang di berikan hostel. “Fujiyama, Disneyland, and Akihabara.” Sahut wanita asing yang ternyata berkebangsaan Italia. Disana juga ada 3 pria asing lainnya dan seorang wanita bangsa kulit hitam. Mereka mengobrol membicarakan pengalaman mereka selama menjadi backpacker. Di antara mereka, ternyata si wanita kulit hitam yang paling banyak mengunjungi negara-negara lain. Ia telah mengunjungi 27 negara, termasuk Korea Selatan. Setelah itu, Taeyeon bergegas menuju Chidorigafuchi yang terletak di sebelah barat dari istana kekaisaran Jepang di Chiyoda, Tokyo. Tempat wisata ini termasuk paling populer dan banyak di kunjungi wisatawan. Chidorigafuchi adalah semacam tempat berjalan-jalan yang di lengkapi dengan sebuah parit atau sungai kecil yang cukup panjang. Di tempat ini wisatawan dapat menikmati keindahan bunga sakura yang terkenal itu dengan jumlah yang sangat banyak. Taeyeon menyewa sebuah perahu untuk menyusuri sungai kecil sepanjang Chidorigafuchi ini. Beruntung Taeyeon datang saat awal bulan April yang berarti tengah musim semi sehingga ia dapat melihat keindahan bunga sakura yang sedang mekar dari 250 batang pohon sakura. Sungguh keindahannya tak terbantahkan. Kemudian Taeyeon melanjutkan ke kebun binatang Ueno yang berada di area Taman Ueno. Kebun binatang Ueno merupakan kebun binatang tertua di Jepang yang memiliki sekitar 500 spesies hewan langka. Setelah perjalanan itu, Taeyeon mulai merasa lapar hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Tsukiji Market, sebuah pasar ikan yang juga merupakan tempat wisata di Tokyo. Di tempat ini di jual segala macam hasil laut seperti ikan, udang, cumi, dan lainnya. Selain itu disini juga merupakan pasar pusat hasil pertanian, seperti sayuran dan buah-buahan. Di pasar yang berada di kawasan Tsukiji, distrik Chuo, Tokyo ini, Taeyeon memasuki sebuah rumah makan seafood dan memesan sushi. Selesai makan, Taeyeon menghentikan perjalanannya saat melihat kerumunan orang yang tidak hanya di penuhi warga lokal tapi juga warga asing. Setelah Taeyeon mendekat, ternyata disana sedang ada lelang ikan. Berbagai macam ikan dengan berbagai ukuran di lelang disana. Kemudian ia pun kembali berjalan menuju destinasi selanjutnya. Saat melewati Tokyo Dome, sebuah arena baseball di daerah Bunkyo, Tokyo, Taeyeon melihat kerumuman orang. Taeyeon pun turun dari trem yang di tumpanginya dan turun disana. Setelah mendekat, ternyata di tempat itu akan di adakan konser sebuah band legendaris Jepang. Di stadion ini memang sering kali di jadikan tempat konser dan pertandingan lainnya seperti sepak bola, basket, gulat, pacuan kuda, dan lain-lain karena stadion ini cukup besar hingga dapat menampung 55.000 pengunjung. Selain itu di Tokyo Dome ini juga di lengkapi dengan pusat hiburan, tempat bermain, resort, spa, gedung pertunjukan, dan lain sebagainya. Saat sedang asyik memotret sekitaran Tokyo Dome, tanpa sengaja Taeyeon menubruk seorang pria yang sedang berjalan kaki. “oh, I’m sorry!” seru Taeyeon. “ah, it’s okay.” Sahut pria itu. Mengotak-atik kamera SLR yang di pegangnya. “is it broke?” Taeyeon merasa bersalah dan takut jika kamera pria itu rusak. Setelah mengecek, pria itu menyunggingkan senyumnya dan memandang Taeyeon. “nope.” Pria itu berambut pirang keemasan dan memiliki postur yang sangat tinggi sehingga Taeyeon harus sedikit mendongakan wajahnya untuk memandangnya. “are you Korean?” tanya pria itu tiba-tiba. Taeyeon tertegun, “how could you know? Yes, I’m Korean.” “lucky guess.” Sahut pria itu menyunggingkan kembali senyumnya. “aku pernah tinggal di Korea selama 2 tahun.” Lanjut pria itu dengan bahasa Korea yang fasih. “eh??” kejut Taeyeon. “aku Wu Yi Fan. Panggil saja Kris.” Pria yang bernama Kris itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan. “oh. Kim Taeyeon.” Taeyeon membalas uluran tangan Kris. “bangapseumnida.” Ujar Kris. Sejak itu, mereka pun bersama-sama mengunjungi tempat wisata lain di sekitar Tokyo. “kau sendiri darimana asalmu?” “Kanada.” Sahut Kris. Taeyeon mengerutkan keningnya dan memperhatikan Kris dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kris terkekeh melihat reaksi Taeyeon. “kau pasti bingung karena aku tidak tampak seperti orang barat, kan?” ucapan itu membuat Taeyeon sedikit malu. “sebenarnya aku berasal dari China. Tapi sejak kecil tinggal di Kanada.” “Geuraesseo?” “ne. Aku kesini untuk mengumpulkan data untuk projek kuliahku.” “oh, kau masih kuliah? Dimana?” “aku mengambil jurusan fotografi dan juga sastra di Hansa College.” “wah, kau mengambil 2 program studi sekaligus?” kagum Taeyeon. “ya, karena aku menggemari fotografi dan juga aku ingin menjadi seorang penulis. Khususnya travel writer. Karena itu, fotografi dan sastra sangat relevan untuk profesi itu.” “waah, sepertinya kita memiliki ketertarikan yang sama.” Ujar Taeyeon. “hanya saja aku sedikit melenceng dari program studiku.” “benarkah? Memangnya kau kuliah dimana?” “kedokteran di Yonsei University.” “waaah bukankah itu universitas yang sangat bergengsi di Korea Selatan?” seru Kris. “tapi setidaknya kau tahu apa yang harus kau lakukan jika sakit saat dalam perjalanan. Oh ya, berapa usiamu?” “25. Kau?” “25? Kau tidak korupsi umur, kan?” “maksudmu?” Taeyeon mengernyitkan dahinya tidak mengerti. “kau tampak seperti anak 15 tahun.” Sahut Kris terkekeh. “ya!” hardik Taeyeon namun ikut tertawa juga. “berarti aku harus memanggilmu noona. Aku lebih muda 2 tahun darimu.” “haha… tidak, panggil saja Taeyeon. sebab jika kau memanggilku noona, aku jadi merasa tua.” “benar. Lagipula kau tidak cocok menjadi noona-ku. Kau lebih cocok menjadi dongsaeng-ku.” “aigoo, berhentilah menggodaku.”

***

“setelah ini kau akan kemana?” tanya Kris saat keduanya duduk di bangku Taman Ueno sembari menikmati keindahan bunga seroja dan juga sakura yang bermekaran. Mereka menghadap sebuah kolam yang bernama Shinobazu yang di penuhi dedaunan bunga seroja yang hijau dan juga burung-burung kecil yang bermigrasi pada musim semi ini. “nanti sore aku akan check-out dan pindah ke Nagoya.” Sahut Taeyeon sembari melihat-lihat hasil jepretan kamera Kris. “Aku berencana akan mengunjungi museum Ninja di kota Iga.” “benarkah?? Aku juga berniat kesana!” “jinjjayo??” seru Taeyeon beralih dari kamera itu menoleh pada Kris yang duduk di sebelahnya. Kris menganggukan kepalanya cepat. “aku juga akan check-out sore ini. Bagaimana kalau kita pergi bersama saja?” “ide yang bagus!” seru Taeyeon. “kalau begitu, kita harus segera bergegas. Kita bertemu di stasiun Tokyo nanti sore. Sampai jumpa!” “em.. Taeyeon!” panggil Kris, namun terlambat, gadis itu sudah berlari meninggalkannya. Ia hendak meminta nomor kontaknya agar mudah saat menghubunginya. Sesaat kemudian sebuah senyuman tampak di wajah tampan Kris. Setelah itu ia pun bergegas menuju penginapannya.

***

Dengan membawa ransel di punggungnya, Kris berkali-kali mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Setelah itu ia akan menolehkan kepalanya ke kanan kiri depan belakang. Ia tampak gusar karena sedari tadi menunggu Taeyeon, gadis asal Korea Selatan yang baru di kenalnya tadi siang. Tidak lama kemudian, samar-samar ia melihat gadis itu berjalan sembari menunduk mengotak-atik ponselnya. Senyuman lega terkembang di wajah Kris. Ia pun bergegas menghampiri gadis itu. “hei!” sapa Kris ketika sudah berhadapan dengan gadis itu. “oh! Kris!” “akhirnya kita bertemu lagi.” Ujar Kris. Taeyeon tersenyum dan menganggukan kepalanya. “kajja! Sebentar lagi keretanya berangkat.” Kris menarik lengan Taeyeon menuju pintu masuk. Setelah memberikan JR Pass (Japan Rapid Pass)nya sebagai tiket kereta atau subway yang akan ia naiki pada petugas yang berjaga di pintu masuk, Kris dan Taeyeon berjalan menuju kereta yang telah menunggu mereka. Mereka menggunakan kereta Shinkansen atau kereta tercepat di dunia, menuju Nagoya. “apa kau sudah memesan penginapan selama di Nagoya?” tanya Taeyeon. “sudah. Aku akan tinggal di Hostel Ann di Kanayama.” “jinjjayo?? Ya! Aku juga sudah memesan kamar disana!” seru Taeyeon. “wah! Kenapa kebetulan sekali? Jangan-jangan kita berjodoh!” gurau Kris di balas tawa renyah Taeyeon. Dari stasiun Tokyo mereka hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk mencapai Nagoya. Mereka segera melanjutkan perjalanan ke penginapan yang sudah mereka pesan di Kanayama. Sebuah hostel backpacker dengan model original ryokan hotel yang sangat kental dengan unsur Jepang. Tidak seperti hostel sebelumnya yang menggunakan tempat tidur bunk bed, di Nagoya ini menggunakan tatami dan futon. Di setiap kamar terdiri dari sekitar 10 futon untuk 10 orang. Setelah check-in, ternyata mereka di tempatkan dalam kamar yang sama. Karena hari sudah gelap, mereka memutuskan untuk beristirahat setelah sebelumnya membersihkan diri.

***

“kau siap?” tanya Kris keesokan harinya. Mereka tengah bersiap-siap menuju museum Ninja di kota Iga, Prefecture Mie. “tentu!” sahut Taeyeon. “let’s go!!” Bersama-sama mereka naik subway jurusan Iga Line. Mereka hanya memerlukan beberapa menit saja untuk sampai di Uenoshi Station, Iga City. Kemudian di lanjutkan dengan berjalan ke arah Ueno Park. “apa kau tahu dimana museumnya?” Kris menganggukan kepalanya. “Iga-Ryū Ninja Museum merupakan sebuah kompleks besar di tengah hutan di Ueno Park.” Tidak lama kemudian mereka tiba di museum yang di tuju. Pertama-tama mereka di sambut oleh seorang pria Jepang berpakaian serba hitam yang bertugas sebagai guide atau pemandu mereka. Ia dapat berbahasa Inggris dengan lancar. Selain Taeyeon dan Kris, ada pula beberapa turis asing yang juga sangat tertarik dengan wisata ini. Kemudian mereka di bawa ke sebuah ampiteater kecil untuk menonton pertunjukan ninja. Mulai dari pengenalan terhadap senjata-senjata ninja dan cara penggunaannya. Seperti Shuriken (senjata pipih berbentuk bintang terbuat dari besi dan di lempar), Kusarigama (tongkat besi yang ujungnya seperti clurit dan berantai besi), serta Katana (pedang samurai). Pertunjukannya sendiri di bintangi 3 orang yang di sampaikan secara lucu, komikal, interaktif dengan sense of humor yang kental akan nuansa Jepang. Bahkan Taeyeon pun terperangah kagum dan juga tertawa-tawa menonton pertunjukan itu. “ninja adalah mata-mata atau spionase yang di hire oleh kaum bangsawan di Jepang sejak abad ke-4.” Salah seorang dari bintang pertunjukan itu memberikan penjelasan singkat tentang ninja. “ninja mengumpulkan intelijen, menganalisis kekuatan militer, memikirkan cara untuk mengalahkan musuh namun tidak melawan musuh secara langsung. Mereka menurunkan kemampuan musuh untuk melawan. Adapun senjata mereka di gunakan hanya untuk bela diri. Bela diri atau seni perang itulah yang di sebut ninjutsu dan orang yang mempraktikan ninjutsu di sebut ninja.” Para wisatawan pun mengangguk mengerti. Sebagian besar dari mereka menyangka ninja seperti di film-film kebanyakan yang bertugas sebagai pembunuh bayaran. “wah, ternyata ninja itu hebat sekali, ya?” ucap Taeyeon terkagum-kagum. “benar. Aku juga jadi tertarik untuk mempelajari Ninjutsu.” Sahut Kris. Kemudian pemandu itu membawa para wisatawan tersebut keluar gedung. Di luar gedung itu, para wisatawan dapat belajar langsung cara menggunakan Shuriken yang di ajari langsung oleh pemandu tadi yang juga adalah seorang ninja. Dengan antusias Taeyeon dan Kris mempelajarinya. Setelah itu mereka berpindah ke rumah bekas seorang ninja yang terbuat dari kayu, tampak sederhana dan biasa-biasa saja. Di rumah itu ada terdapat seorang ninja lain yang akan menjadi pemandu selanjutnya, sedangkan pemandu yang semula kembali ke gedung ampiteater tadi. Mereka di bawa masuk ke rumah itu dan di dalamnya, ninja tersebut menunjukan “kecanggihan” rumah itu dan rupanya setiap sudut rumah itu penuh kejutan. Ninja itu memperagakan cara bagaimana dia bisa tiba-tiba menghilang dalam waktu sepersekian detik di tembok rumah. Tentu saja hal itu membuat para pengunjung berdecak kagum. “jangan lebar-lebar, nanti lalat masuk.” Ucap Kris dengan jahil melihat Taeyeon yang terperangah. “issh. Kau ini.” Taeyeon memukul lengan Kris. Kemudian ninja itu mengulang gerakannya dengan slow motion. “oh, ternyata tembok itu bisa berputar!” Taeyeon terperangah kagum. “hanya dengan sekali tekan, dia sudah berada di dalam. Daebak!!” “kau mau mencobanya?” tawar Kris. “eh? Memangnya boleh?” “tentu saja. Kau tidak dengar tadi ia berkata kita boleh mencobanya.” “kalau begitu, ayo kita coba!” seru Taeyeon. “kau ini hyperactive sekali!” dengan gemas Kris mengacak rambut Taeyeon. Taeyeon hanya terkekeh dan bersiap mencoba melakukan apa yang di lakukan ninja tadi. Taeyeon, Kris, dan pengunjung lain telah mencoba namun tidak bisa menghilang tiba-tiba seperti ninja tadi. “ah, ternyata tidak mudah ya jadi ninja.” Gumam Taeyeon. “di balik tembok ini terdapat lorong-lorong tersembunyi yang tersambung dengan loteng dan ruang bawah tanah.” Pria ninja itu menjelaskan. “jadi sebelum musuh masuk, ninja sudah menghilang. Bahkan kami, para ninja, bisa mengintip musuh dari lubang loteng.” Kemudian ninja itu memperlihatkan bermacam bentuk pintu rahasia yang canggih yang bisa menghilangkan ninja dalam sekejap. Ada yang bisa berputar, ada pintu yang hanya bisa di buka memakai secarik kertas, ada pintu yang di dalamnya ada pintu lagi, ada pintu yang jika di tekan akan keluar tangga, dan lain-lain. Bahkan dapurnya yang terlihat kuno model kayu bakar itu bisa jadi tempat penyimpanan dokumen penting didalam pasirnya. Lantai rumahnya yang terbuat dari papan kayu, di jadikan tempat penyimpanan senjata seperti pisau atau pedang dan dapat di buka dalam waktu hanya sepersekian detik. Setelah itu mereka berbondong-bondong ke museum ninja yang terbagi menjadi 2, yaitu Ninja Experience Hall dan Ninja Tradition Hall. Mereka pun masuk dengan cara ninja, yaitu melalui lorong bawah tanah. Koleksi museum itu membuat Taeyeon terkagum-kagum. Di mulai dengan pakaian ninja yang di jahit khusus sehingga memiliki saku-saku tersembunyi yang berfungsi sebagai tempat senjata sampai besi pelindung jantung. Kepala ninja sendiri di tutup kain berukuran panjang 2 meter dan lebar 25 cm. “kain ini berfungsi untuk menutup wajah, seperti ini.” Ninja itu mempraktikan bagaimana memakaikan kain itu hingga akhirnya yang terlihat hanya bagian matanya saja. “selain itu, bisa di pakai juga untuk menggendong ninja yang terluka, bahkan bisa juga untuk memanjat dinding.” Koleksi lainnya di museum itu adalah kronologis sejarah, tokoh-tokoh ninja, segala macam senjata, dan peralatan ninja. Mulai dari alat khusus untuk membuka kunci pintu sampai sepatu khusus untuk berjalan di lumpur. “karena pekerjaan ninja sembunyi-sembunyi, ninja tidak makan daging karena bau badan mereka bisa tercium.” Lanjut ninja itu. Kemudian tiba-tiba Kris mengangkat sebelah tangannya dan bertanya, “apakah benar bahwa ninja selalu tidur miring supaya jantungnya terlindung dari serangan musuh?” Ninja itu tersenyum setelah mendengar pertanyaan Kris. “benar. Kami harus selalu waspada dalam keadaan apapun. Dan juga ninja harus mempunyai ingatan yang kuat tapi tidak boleh menulisnya di kertas.” “lalu apa lagi kelebihan-kelebihan seorang ninja?” kali ini Taeyeon bertanya. “ninja bisa menghipnotis orang, mendengar dengkuran orang yang tidur melalui pipa khusus yang didengarkan melalui tanah, meramal angin dan cuaca, mengetahui kapan hujan akan turun dengan melihat bulan dan kapan berhenti dari bentuk sarang laba-laba. Bahkan dapat mengetahui waktu dengan melihat bola mata kucing.” Akhirnya perjalanan di museum ninja selesai. Taeyeon dan Kris keluar dari area itu. “wah, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada ninja. Mereka sangat pintar dan penuh kejutan.” Celetuk Taeyeon . Kris yang berjalan disampingnya tertawa kecil, “ah, sepertinya aku juga harus mulai masuk sekolah ninja dan menciptakan berbagai kejutan.” Ucapan Kris itu kembali di sambut tawa renyah Taeyeon. “selanjutnya kemana?” “aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?” sahut Taeyeon. “baiklah. Tidak jauh dari sini ada restoran dengan menu khas Jepang. Kajja!” akhirnya mereka pergi makan di restoran yang masih berada satu komplek dengan museum ninja itu. Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju Inuyama Castle yang merupakan sebuah kastil dengan bangunan asli tertua di Jepang. Inuyama Castle sendiri terletak di luar kota Nagoya, tepatnya di kabupaten Inuyama namun masih satu perfektur dengan Nagoya, yaitu sama-sama berada di perfektur Aichi. Tidak lupa mereka selalu sibuk membidik kameranya di bangunan bersejarah itu. Saat Taeyeon mengambil gambar, diam-diam Kris mengarahkan lensa kameranya pada Taeyeon. Ia pun tersenyum sendiri melihat hasil jepretannya. “kawaii.” Gumam Kris pelan. Setelah itu mereka pergi ke kuil yang paling terkenal di Nagoya, yaitu kuil Atsuta. Kuil Atsuta adalah kuil Shinto (Jinja/Shrine) dan termasuk salah satu kuil Shinto terbesar dan terpenting di Jepang. Setelah puas berkeliling dan mengambil foto di kuil itu, mereka melanjutkan ke tempat-tempat lainnya. Seperti Nagashima Spa Land, Nagoya Castle, bahkan mereka menyempatkan diri berbelanja di kawasan bisnis Sakae yang merupakan kawasan yang penuh dengan pertokoan yang menjual barang-barang branded dan mahal. “kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?” keluh Taeyeon. “tempat seperti ini tidak cocok untukku. Selain harganya yang tidak akan sanggup ku beli, aku juga tidak suka shopping.” “kau tidak suka shopping? Baru kali ini aku dengar wanita tidak suka belanja.” Kris menaikkan sebelah alisnya. “kau benar-benar menarik.” “hm? Menarik? Maksudmu?” tanya Taeyeon mengernyitkan dahi. Kris hanya menyunggingkan sedikit senyumnya dan menggelengkan kepala. “kajja!” Kris menarik lengan Taeyeon pergi dari tempat itu. “eh, kita mau kemana??” kaget Taeyeon yang di tarik secara tiba-tiba. “kita ke Oosu Kannon. Disana harganya jauh lebih murah. Aku yakin kau akan suka.” “hei, aku kan sudah bilang aku tidak suka belanja.” “apa kau tidak mau membelikan oleh-oleh untuk keluarga, teman, atau pacarmu nanti di Korea?” “aku belum punya pacar.” Sahut Taeyeon. “tapi bolehlah. Ayo kita kesana.” “serius kau belum punya pacar?” entah kenapa Kris seperti terkejut. Taeyeon menggelengkan kepalanya. “tidak. Kajja!” kali ini Taeyeon yang menarik lengan Kris. “tapi tadi aku melihat kau berfoto dengan laki-laki di kamera sakumu.” “oh, itu kakakku. Namanya Kim Jiwoong.” “oooh.” Kris menganggukan kepalanya tanda mengerti. Lalu mereka bersama-sama pergi menuju Oosu Kannon. Disana Taeyeon membeli beberapa pakaian untuk keluarganya dan ternyata Kris seorang yang gila belanja. Kantong belanjaannya lebih banyak daripada Taeyeon. “wah, wah, ternyata kau seorang penggila shopping ternyata. Pantas kau terkejut saat aku bilang tidak suka shopping.” “ya begitulah.” Sahut Kris tampak malu-malu. *duh Kris malu-malu jadi pengen gampar mukanya! #PLAKKK!! xD* Kemudian mereka kembali ke penginapan. Dan malam harinya sekitar pukul 11 malam, mereka kembali ke Sakae, namun kali ini bukan untuk berbelanja. Melainkan untuk clubing. Saat siang hari Sakae merupakan tempat wisata belanja namun pada malam hari tempat itu beralih rupa menjadi kawasan penuh night-club dan bar. Disana juga terdapat sebuah menara yang mirip dengan Tokyo Tower bernama Nagoya TV Tower, menara itu bersinar terang pada malam hari. Mereka menghabiskan waktu bersenang-senang hingga pukul 3 dini hari sampai mereka setengah mabuk. Beruntung mereka bisa kembali ke penginapan dengan selamat dan tanpa nyasar. Tidak heran jika keesokan harinya mereka bangun kesiangan.

***

Keesokan harinya jam 12 siang mereka sudah siap-siap check out. Taeyeon akan ke Hokkaido untuk mengunjungi Sapporo dan Otaru. Kris pun tertarik dan akhirnya ikut ke Hokkaido. Setelah keluar penginapan, Kris dan Taeyeon pergi ke stasiun Nagoya menuju Hokkaido dengan menggunakan kereta Shinkansen. Sesampainya di Hokkaido mereka beralih naik bis menuju Sapporo selama 1 jam. “Kris, kita kesana dulu!” Taeyeon menunjuk sebuah toko cemilan khas Jepang. “baiklah. Kajja!” Di toko itu Taeyeon membeli banyak makanan manis karena Hokkaido terkenal dengan makanan manisnya. Taeyeon mengambil koeda rasa yubari melon, kacang azuki yang merupakan khas Hokkaido, jamur susu, dan botamochi atau kue bola dengan selai kacang merah. “kau mau?” Taeyeon menawarkan koeda itu pada Kris sambil berjalan menuju penginapan yang telah mereka pesan sebelumnya di Nagoya. “thanks.” Sahut Kris menerima koeda itu. “sepertinya kau sangat menyukai makanan manis?” “tentu saja. Karena itulah wajahku bisa semanis ini.” “kau ini percaya diri sekali.” “lebih baik percaya diri daripada minder.” Sahut Taeyeon membuat Kris tertawa geli. Sesampainya di Sapporo mereka mengunjungi menara jam yang terkenal di Sapporo. Kemudian menuju Taman Odori yang terdapat patung 3 wanita telanjang. “perutku lapar. Kita makan dulu.” Ajak Kris menuju sebuah stand makanan. “ne. Aku juga lapar. Kajja!” mereka menghampiri stand itu dan memesan nasi salem. Makanan itu disajikan dalam sebuah kotak bento dan mereka membawanya kembali ke bangku di taman Odori. “wah telur ikan salem ini enak sekali.” Ujar Taeyeon menikmati makanan itu. “tapi aku tidak suka terongnya. Kau mau?” Tanpa menunggu jawaban Kris, Taeyeon meletakkan terong itu kedalam bento Kris. “ya! Kapan aku bilang aku mau? Aku juga tidak suka.” Sahut Kris pura-pura kesal. “hehehe…” cengir Taeyeon. “habis ini aku ingin jagung bakar yang disebrang sana.” “mwo?? Memangnya perutmu masih mampu menampung makanan??” “kau tenang saja. Aku sudah terbiasa makan banyak.” “hmmmh… aku tidak mau tahu kalau nanti pencernaanmu bermasalah.” Dengus Kris. “aigoo, kau terdengar seperti eomma’ku saja, Kris. Kekeke” “mwoya!!” sembur Kris. “aku hanya tidak mau kerepotan menunggumu di toilet.” Taeyeon hanya tertawa menanggapi Kris. “sayang sekali kita tidak datang di musim dingin. Kau tahu, di musim dingin kita bisa melihat banyak patung salju berwarna warni di taman ini.” “kurasa pemandangan dengan bunga sakura yang bermekaran dan suhu udara yang cukup hangat lebih baik.” Taeyeon hanya mengerdikan bahunya mendengar jawaban Kris. Setelah selesai makan dan juga memakan jagung bakar yang akhirnya Kris pun ikut makan juga, mereka kembali berkeliling. Pertama mereka berpose di Black Slide Mantra, lalu ke patung anak gembala, berpindah ke depan kantor pemerintahan kuno Hokkaido, dan terakhir sore hari mereka menuju Hitsujigaoka Observation Hill atau di kenal juga dengan sebutan gardu pandang Hitsujigaoka. “wah baru kali ini aku bisa melihat garis horizontal bumi.” Kagum Taeyeon menatap lapangan rumput luas yang juga terdapat banyak domba berkeliaran disana. Disana juga terdapat sebuah patung Dr. William S. Clark yang terbuat dari perunggu. “ah, Taeyeon, cepat kau berpose disana. Biar aku ambilkan fotonya.” “oh! Ne!” seru Taeyeon antusias dan segera berpose. Kris mengabadikan foto Taeyeon dengan kamera SLRnya. Ia pun tersenyum puas dengan hasilnya. “giliranmu, Kris!” seru Taeyeon tiba-tiba. “eh? Aku? T-tidak usah. Kau saja. Ayo ku potretkan lagi!” “aniyo! Kau juga harus berpose disini. Kemarikan kameramu, biar aku yang memotret.” Taeyeon merampas kamera Kris dan mendorongnya memaksa untuk segera mengambil posisi. “ayo cepat! Kau pasti akan tampak seperti model.” “model?” Kris tertawa geli. “model apa?” “model majalah domba. Kekekeke~” “mwo! Ya!!” hardik Kris. “hehe.. bercanda. Ppaliwa~!” Kris mulai bergaya dengan pose coolnya. Taeyeon pun diam-diam terkesima dengan ketampanan Kris. “aissh, apa yang kau pikirkan, Kim Taeyeon!” batin Taeyeon menggelengkan kepalanya. “wae?” tanya Kris yang heran melihat Taeyeon tiba-tiba menggelengkan kepalanya dengan heboh. “ah? aniyo!” “mana coba lihat hasilnya.” Kris mengambil kameranya. “ternyata aku keren juga ya!” “dasar narsis!” Kris tertawa. “sini pinjam kamera sakumu!” “untuk apa?” bingung Taeyeon namun ia tetap memberikannya. “kita ambil foto bersama.” Sahut Kris menghidupkan kamera milik Taeyeon. “cha!” Kris meraih Taeyeon mendekat padanya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. “hana, dul, set! Kimchiiiii!!!” mereka mengambil banyak selca di tempat itu. Setelah itu mereka mengakhiri perjalanan hari itu dengan melihat sunset dari bukit Hitsujigaoka tersebut.

***

Dalam beberapa hari itu, Taeyeon dan Kris semakin dekat. Hingga akhirnya Taeyeon harus kembali lagi ke Korea Selatan keesokan harinya. Di hari terakhir ini, mereka pergi ke Otaru untuk berwisata kuliner. “Kris, ayo kita ke perempatan Marchen! Di sana ada toko soft ice cream yang sangat lezat.” Seru Taeyeon setelah mereka mengunjungi air terjun Shiraito. “ice cream?” Kris menaikan sebelah alisnya. “kalau hanya untuk makan ice cream, kenapa harus jauh-jauh ke Jepang? Memangnya di Korea tidak ada? Apa perlu ku kirimkan ice cream dari Kanada setiap hari?” “aissh, bukan begitu. Ice cream disana sangat terkenal dan rasanya berbeda dengan yang ada di tempat lain. Ayolah!” sahut Taeyeon memaksa. “beda apanya, sama-sama terbuat dari susu.” Kris mendumal sendiri namun ia mengikutinya juga. “tapi setelah itu kita makan, ya! Perutku sudah menjerit-jerit kelaparan.” “arasseo! Kajja!” Taeyeon menggandeng tangan Kris berjalan menuju tempat yang sangat di idamkannya itu. Sesampainya di salah satu toko soft ice cream di perempatan Marchen, ternyata Taeyeon dan Kris harus mengantri karena begitu banyaknya pembeli. “kau tunggu saja disana. Biar aku yang mengantri.” Ujar Kris melihat Taeyeon yang terlihat sudah pegal mengantri selama 15 menit, sedangkan antrian di depannya masih panjang. “oh, baiklah. Kakiku pegal sekali.” Sahut Taeyeon. “ini uangnya!” Taeyeon memberikan beberapa lembar uang yen, namun Kris menolaknya. “tidak usah. Aku yang traktir.” “waah, kau baik sekali. Padahal aku yang mengajakmu kesini tapi kau yang mentraktir. Jeongmal gomawoyo~!” “ne. Sudah pergi sana. Kau hanya membuat antrian semakin panjang saja.” “hehe.. baiklah. Aku tunggu disana, ya!” Taeyeon menunjuk sebuah bangku panjang didepan sebuah restoran. Kris menganggukan kepalanya dan Taeyeon segera berbalik menuju bangku panjang itu. Beberapa menit kemudian… “doushite… kimi wo suki ni natte shimattan darou? Donna ni toki ga nagaretemo kimi wa zutto koko ni iru to, omotteta no ni..” Taeyeon bersenandung pelan sambil menutup matanya, kepalanya bergerak-gerak(?) ke kiri-kanan dan kakinya menghentak-hentak di tanah mengikuti irama lagu yang mengalun lembut dari headset yang terpasang di kedua telinganya. “ternyata suaramu bagus juga.” Tiba-tiba terdengar suara Kris dan spontan Taeyeon menghentikan nyanyiannya serta membuka kedua matanya. Di hadapannya Kris sudah berdiri sambil memegangi 2 cone soft ice cream berwarna hijau muda lalu memberikan salah satunya pada gadis itu. “oh. Gomawoyo~” ucap Taeyeon menerima ice cream itu dan melepas headset yang terpasang di telinganya. “waah, yubari melon, ya?” tebak Taeyeon setelah menjilat ice cream itu. “ne. Aku lupa tidak bertanya soft ice cream yang kau suka. Tapi aku ingat saat itu kau membeli Koeda rasa yubari melon sebelumnya. Jadi kupikir kau menyukai melon. Apa kau suka?” “ah~ sebenarnya rasa apa saja juga aku suka.” Sahut Taeyeon tertawa kecil. Kris mengangguk mengerti. “lagu yang kau nyanyikan tadi itu, lagu TVXQ, kan?” “kau tahu??” seru Taeyeon. “tentu saja. Mereka boy group Korea legendaris . Awalnya aku pikir mereka itu berasal dari Jepang karena mereka sangat populer disini.” Ucap Kris yang di tanggapi senyuman manis Taeyeon. “sepertinya mereka sangat terkenal juga ya di Amerika? Beberapa hari yang lalu aku berkenalan dengan 2 wanita asal Amerika dan salah satunya adalah seorang Cassiopeia.” “ah~ mungkin karena mereka tahu musik yang bagus itu seperti apa.” Sahut Kris. “ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita makan di restoran ini saja?” tunjuk Kris ke restoran yang berdiri di belakangnya. “tidak masalah. Kau mau makan sekarang?” Kris mengangguk. “kajja!” Taeyeon beranjak lebih dulu dan memasuki restoran itu. Sesampainya didalam, seorang pelayan menghampiri mereka dan melayani dengan ramah. Dengan bahasa Jepang yang terbata-bata Taeyeon menunjuk sebuah gambar di daftar menu, ramen dengan aneka topping di atasnya dan tampak menggugah selera. Sedangkan Kris hanya memesan Misochasu. “kau bilang lapar, kenapa hanya memesan sup misho?” heran Taeyeon. Kris hanya mengangkat bahu dan menuangkan sake yang telah tersedia di atas meja ke dalam gelas kecil dan meminumnya dalam sekali tegukan. Tidak lama kemudian, pelayan tadi kembali menghampiri mereka. “OMONA!!” kejut Taeyeon melihat ramen yang di pesannya. Ramen ukuran besar dengan berbagai macam topping seperti kepiting, jagamaruto, telur, mentega, jagung, skalop, udang, gurita, dan ikan salmon. “kupikir tidak sebanyak ini.” Kris tertawa terkekeh, “kau yakin bisa menghabiskannya?” tanya Kris sembari menikmati semangkuk Mishocasu’nya. “Kris, bantu aku menghabiskannya, ne!” pinta Taeyeon setengah memelas. “untung aku hanya memesan misho.” Sahut Kris. Ia menyingkrikan sup misho’nya dan Taeyeon meletakan mangkuk ramen yang besar itu ke tengah meja supaya Kris bisa menjangkaunya. SLURRPPP Bunyi hisapan(?) ramen keluar dari mulut Taeyeon dan Kris. Mereka tampak menikmati semangkuk ramen itu bersama. Sesekali dahi mereka bertubrukan saat mencondongkan badannya, menyumpit ramen itu dan setelah itu mereka tertawa geli. Beberapa saat kemudian.. “huaaah, perutku penuh sekali.” Taeyeon menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan. “habis ini aku tidak mau makan ramen selama seminggu.” Oceh Kris yang juga merasa sesak di perutnya. “masih sore, kita akan kemana lagi?” tanya Taeyeon. “entahlah. Kau ada ide?” Kris balik bertanya. “mmm…sebenarnya aku masih ada satu lagi 1 tempat yang ingin aku kunjungi.” “kemana?” “Moiwayama.” “mau apa kesana? Disana kita hanya melihat kota dari atas bukit.” “ya sudah kalau kau tidak mau. Lagipula aku juga tidak mengajakmu.” Ketus Taeyeon pura-pura kesal. “aigoo, kau ini gampang sekali marah. Baiklah kita akan kesana.” Ucap Kris membuat Taeyeon kembali tersenyum lebar.

***

“huuuuuaaaaa…. udaranya segar sekali.” Taeyeon menghirup udara dalam-dalam sembari merentangkan kedua tangannya. Kris berdiri di sampingnya menatap pemandangan kota yang mulai menerangkan lampu-lampunya. “Kris, besok aku sudah harus pulang.” Ucap Taeyeon beberapa saat kemudian. Kris terdiam. “apa nanti malam kau ada kegiatan?” “tidak. Kenapa?” “aku ingin pergi ke onsen untuk terakhir kalinya malam ini. Kau bisa menemaniku?” tanya Taeyeon menolehkan pandangannya pada pria jangkung di sampingnya. “baiklah. Kalau tidak salah, tidak jauh dari penginapan ada onsen yang di buka 24 jam.” Sahut Kris menolehkan pandangannya menatap balik Taeyeon. Taeyeon menyunggingkan senyumnya. “ah, Kris, tolong ambilkan fotoku!” Kris terkekeh, “kau ini narsis sekali.” Balas Kris sembari mengeluarkan kameranya. Kemudian mereka pun kembali berfoto bersama. Jarak mereka sangat dekat dan berpose dengan berbagai gaya. Mereka tersenyum cerah ke arah kamera dan Kris menempelkan pipinya di pipi Taeyeon. posisi lainnya, Kris merangkul Taeyeon dengan erat, dan masih banyak gaya lainnya. Tidak jarang Taeyeon memasang tampang aegyo’nya.

***

Malam harinya sekitar pukul 9 malam, Taeyeon dan Kris keluar dari penginapan menuju onsen yang terletak tidak jauh dari tempat mereka menginap. Berbeda dengan onsen yang pernah Taeyeon datangi sebelumnya dengan 2 turis asing beberapa hari yang lalu, onsen ini tidak di pisah antara laki-laki dan perempuan. Setelah membayar biaya masuk, mereka di beri yukata dan handuk kecil kemudian berlalu menuju ruang ganti yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Setelah membersihkan diri, Taeyeon keluar dari kamar mandi menuju kolam onsen. Tentu saja tidak mengenakan pakaian. Naked. Saat berbelok di ujung koridor, ternyata Kris sudah menunggunya, dengan keadaan yang sama. Naked. Taeyeon merasakan pipinya yang tiba-tiba memerah saat melihat tubuh atletis Kris. Walaupun ia tidak menatap langsung, namun tetap saja mau tidak mau ia melihatnya. Kris tersenyum melihat Taeyeon yang berjalan mendekatinya. Lalu bersama-sama mereka berjalan menuju kolam onsen yang hangat dan nyaman. “jadi setelah ini, kau berencana kemana lagi?” tanya Kris setelah keduanya berada di dalam kolam. Kris dan Taeyeon berendam bersampingan dan mereka menyandarkan punggung mereka di sisi kolam dan meletakan kepalanya di pinggiran kolam itu menatap taburan bintang yang bisa langsung terlihat karena kolam itu tidak beratap. Di kolam itu hanya ada Taeyeon, Kris, dan 3 orang pengunjung lain. “sepulang dari sini aku kembali ke Korea dan setelah itu aku berencana ke Indonesia.” “oh. apa kau pernah kesana sebelumnya?” “belum. Bahkan ini perjalanan pertamaku ke luar negeri.” “jinjja? Wah kau berani sekali. Perjalanan pertama keluar negeri seorang diri. Apa kau tidak takut?” Taeyeon menyunggingkan senyumnya, “jika terus ketakutan, kau tidak akan pernah bisa pergi kemana pun. Worry just takes you nowhere. Itu motto’ku untuk melakukan perjalanan ini.” “ah, benar juga.” “bagaimana denganmu?” tanya Taeyeon. “aku masih ada waktu 2 hari lagi disini dan setelah itu kembali ke Kanada dan beraktifitas seperti biasa.” “oh, geurae.” Taeyeon menganggukan kepalanya mengerti. Mereka terus berbincang hingga 2 jam kemudian mereka kembali ke penginapan.

***

Keesokan harinya waktunya Taeyeon kembali ke Korea. Setelah check-out, Taeyeon bergegas ke bandara. Kris turut mengantar kepulangannya. “Kris, terima kasih untuk beberapa hari ini menemaniku. Aku sangat senang bertemu denganmu. Kau teman yang menyenangkan.” Ucap Taeyeon ketika menunggu pesawatnya. “sama-sama. Aku juga senang bisa mengenalmu. Walaupun pertemuan kita sangat singkat, aku tidak akan melupakan kebersamaan kita selama beberapa hari ini.” Tidak lama kemudian dari pengeras suara terdengar pemberitahuan penerbangan menuju Korea. “aku harus pergi sekarang.” Ucap Taeyeon tampak enggan. “ku harap kita bisa bertemu lagi. Annyeong.” Taeyeon pun berbalik dan berjalan menuju counter check-in. “TAEYEON!” panggil Kris membuat Taeyeon berbalik. Kris melangkahkan kakinya menghampiri Taeyeon. Kris menatap Taeyeon selama beberapa detik hingga akhirnya berkata, “boleh aku meminta alamat email dan nomor kontakmu?” Taeyeon sedikit terkejut dengan permintaan Kris itu, namun kemudian ia merogoh sesuatu dari ransel kecilnya. “ini kartu namaku. Ambilah!” Taeyeon menyerahkan kartu namanya. Kris menerima kartu itu dan tiba-tiba saja ia menarik lengan Taeyeon dan membawanya kedalam pelukannya. Hal itu tentu saja membuat Taeyeon terkejut. Kris mengeratkan pelukannya sebelum berbisik, “semoga kita bertemu kembali, Kim Taeyeon.”

***

Pesawat menuju Korea Selatan sudah take-off sekitar 30 menit yang lalu. Didalam pesawat itu, Taeyeon mengambil ransel kecilnya dan mengeluarkan kamera sakunya. Ia menghidupkan kamera itu dan melihat-lihat foto-foto yang di ambilnya selama seminggu di Jepang. Mulai dari ketika ia tiba di hostel, di Shibuya, di Harajuku Street, Tokyo Tower, Shinjuku, Nagoya, taman, museum, Sakae, Hokkaido, Sapporo, Otaru, hingga akhirnya jarinya terhenti si sebuah foto dirinya dan Kris ketika di Moiwayama sehari sebelumnya. Ia memandangi foto itu dan sebuah senyuman tipis terutas di bibirnya. Ia menyandarkan kepalanya ke jendela dan memandangi gumpalan awan di luar pesawat itu. Ia pun bergumam, “unforgettable days in Japan. See you later, Kris.”

–THE END–

End for Japan. Nanti ada semacam sequelnya. Mungkin cerita selanjutnya di Indonesia atau bisa juga di negara lainnya. 😀  Mian kalo ada typo. Jangan lupa tinggalkan jejak!

Advertisements

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on May 2, 2014, in EXOTAENG, Kristae, Oneshot and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 32 Comments.

  1. Krisyeon? Waaah aku suka pairing ini… Oh ya aku reader baru. Maaf ya author aku baru koment sekarang, tp aku suka semua ffnya. Daebakkk.

  2. Nji sone yeoja

    Selain menikmati cerita krisyeon couple, aku juga baru tau nama2 tempat wisata di jepang 😀 daebakkk eon buat ff nya

  3. Keren thor, authornya tumben gak neko neko, kk, tapi author ngiklanin TVXQ, hoho, bagus thooor, sequelnya di raja ampat coba thor, keren kan

    • hahaha.. iya ntar sequelnya mau pelajarin dl tmpat2 wisatanya. 😀
      cuma itu ada yg salah pnulisan genre & length’nya. lupa ga d ubah. maklum copas dr ff sbelumnya. hahaha
      moga aja abis bikin ff ini ada yg ngasih sponsor traveling. haha #ngarep

  4. Seru Thor.. Jd pgn Berpetualang…

    Sequelna di INA aja

  5. Kristae so sweet
    buat squel.ya chingu jgn lma2 hehe

  6. seriously ?! ohmygattt (?) ini begitu sweet ^^
    kirain dari tadi mana sih krisnya kagak nongol nongol , eh baru dikatai muncul diakk~
    okelah sequelnya ditunggu ^^
    hwaiting

  7. unnie ah sequel ya please *tampangmelas* nice thor(y) ntar buat exotaeng ya *bnykmaunya* :v

  8. Aku suka banget pairing ni eon..hehehe
    tu dong bang shin ki ikut eksis yah..tpi ga sa di pungkiri klo TVXQ trkenal dmna-mna..hehehe
    tpi tu nnti tae eonni ktmu lgi ga yah ma kris gege…??

  9. Aku suka banget pairing ni eon..
    Dong bang shin ki.y keren yah…trkenal dmna-mna..hehehe
    mnta sequel yah eon…wajib pokok.y…hehehehe

  10. aku suka pairingnya eon ^^

  11. suliskhasanah

    kris taeyeon??? bagus bagus thor.. ok ditunggu deh thor sequelnya…. 🙂

  12. Ini udah end??
    Cuma gitu doang unn??
    Yah..
    Pdahal aq kira kristae bkalan jadian..
    Eh ternyata… ;(

  13. Daebak thor!! Sequelnya donk 🙂

  14. wah crtax seru 🙂
    sequelx jgn lama2 y thor..

    #keep writing n Hwaiting !!

  15. della kristina

    wahh authornya cocok deh jadi travel writer,,, berbakat bangt,,,sequelnya jgn lama2 y thor FIGHTAENG!! 😉

  16. Daebak bangetzzz..
    Ada sequelny pula..
    Waaaaaawww…
    Lanjjjoottt..

  17. Krisyeon’ suka suka… Sequel dunggu jelass.. Eonni cerita negara jepang jadi pengen kesana rsanya indah bgt…
    Bwat mreka jadian donk.. Ohh yee ntu aps dipemandian serius ya eonn peraturannya bgtu gak kebayang >,< udah gtu taeng ama kris jga kestu yang gak dipisah aigoooo

  18. Ah…..akhirnya kurang puas thor…bikin squel boleh dong?

  19. jujur kristaeng moment nya dikit hihi
    nice ff unn;; SEQUEL? SEQUEL! lol

  20. Wow ini mah kaya lg diceritain tentang perjalanan seseorang..
    Sampe kebyang2 padahal ga tau tmpat nya kaya apa xD..
    Author daebak bngt bikin readrs melting aja xD kekeke..

  21. daebak daebaaakk**** ceritanyaa keren eonniii 😀
    Oya… Boleh request ff lutae ga? Keke~ soalnya aku fans berat Luhan taeyeon #gaadayangtanya>_<
    figthing buat kedepannya eonii^^

  22. Ahh end nya gantung chin xD

    KrisTae ❤ sequel ya? Kk

  23. Sakura Kimimika

    sequel???
    aaaa KrisYeon^^ walaupun cuma bertemu beberapa hari tapi itu berkesan banget dan juga selagi aku baca ff ini aku bisa tau tmpt wisata” lainnya yg berada d japan^^

    d tunggu ff selanjutnya thor^^ Hwaiting!!!^^

  24. Xiao Xian Han

    Wahhh! TaeKris! Daebakkk thor (y).. Sequelnya cepetan yah chingu :)… Maunya sih ntar di Indonesia taeyeon ketemu Junsu JYJ gtu, trus abis itu Taeng Unnie kemana lg gtu (Paris/Milan:Italy / Glassglow:Inggris) trs ketemu lg sma Kris #Maksabanget #dikeroyokreader…. 😀 aku bener2 suka sama FF Ini! Glassglow tempat wisatanya juga banyak kok thor… Ayolaaahhh.. Bikin FF TaeKris/KrisTae lagi thor #lupakan … Keep Writing n Sequeelllnyaaaaaaaa GPL Ya thor -#ReaderGila

  25. Kimyoungmihyukjaejoongtaegangster

    안녕하세요, Reader baru nih. Aku 94 Line ^^ Kayak Thehunnie Ya #plakk. Authornya Line berapa?. Untuk FF Ini, D.A.E.B.A.K. Aku paling suka pairing KrisYeon/TaeRis. Soalnya muka kayak angry bird *ampun Krismatic* dicampur sama muka baby face-nya Taeng Unnie ngerasanya beda gitu. Unik. >,< Author, bisa buatin FF TaeRis lagi gakk??

  26. Ouh my god!! Kenapa tidak jadian aja sih, terlalu bnyak menggambrkan kota jepang dibandingkan kisah percintaannya, tapi aku suka..dengan begitu wawasanku bertambh lagi hehe

  27. Ah…. gewwwlllllllllaaaaaaaa panjang banget :). FF Terpanjang yang pernah gua baca :v. Dan itu pun gua jeda 2× :v wkwkwk

    I Like KrisYeon. Kapan-kapan bikin yang mereka berdua nikah thor :v wkwkwk

    HAPPY WRITING!!!!!

  28. keren deh…..
    baca cerita ini jadi buat aku Bener-bener Pengen ke Jepang, bukan hanya sekedar mimpi. asik jalan-jalan sekalian cari jodoh….

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: