Blog Archives

[FF] The Different Path (Chapter 3)

wpid-pt2015_06_11_23_11_42.jpg

Author : Ashiya

Main Cast :

  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Choi Sooyoung (Girls’ Generation)
  • Seo Joohyun (Girls’ Generation)

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Jung Yonghwa (CNBLUE)

Genre :

  • Romance Comedy

Disclaimer : This fiction is mine. DILARANG COPAS TANPA IJIN!! Inspired by webtoon titled The Stories of Those Around Me

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2015. All Rights Reserved.

Read the rest of this entry

Advertisements

[FF] The Different Path (Chapter 2)

wpid-pt2015_06_11_23_11_42.jpg

Author : Ashiya

Main Cast :

  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Choi Sooyoung (Girls’ Generation)
  • Seo Joohyun (Girls’ Generation)

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Jung Yonghwa (CNBLUE)

Genre :

  • Romance Comedy

Disclaimer : This fiction is mine. DILARANG COPAS TANPA IJIN!! Inspired by webtoon titled The Stories of Those Around Me

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2015. All Rights Reserved.

Read the rest of this entry

[FF] The Different Path (Chapter 1)

image

Author : Ashiya

Main Cast :

  • Choi Sooyoung (Girls’ Generation)
  • Seo Joohyun (Girls’ Generation)
  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)

Support Cast :

  • Jung Yonghwa (CNBLUE)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)

Genre :

  • Romance Comedy

Disclaimer : This fiction is mine. DILARANG COPAS TANPA IJIN!! Inspired by webtoon titled The Stories of Those Around Me

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2015. All Rights Reserved.

Read the rest of this entry

[FF] Seoul Camp Lake (Last Chapter)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Im Yoona (Girls’ Generation), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-previous chapter-

Beberapa saat kemudian Sooyoung berbaring di tempat tidurnya sambil tersenyum. “aku telah mendapat tiga orang teman.” Batin Sooyoung. “mereka benar-benar membuatku gembira.”

Namun tidak lama kemudia senyum itu langsung meredup ketika ia mendengar bisikan dalam gelap. “Sooyoung.. Choi Sooyoung..” Sooyoung menahan napas. Tiba-tiba saja suara itu sudah begitu dekat..begitu dekat dengan telinganya. “Soo, kukira kita berpasangan. Kenapa kau meninggalkanku?”

“andwae…andwae..!” ucap Sooyoung memohon.

“Soo, aku sudah menunggumu begitu lama.” Suara itu berbisik. “ikutlah denganku. Ikutlah denganku, Soo..” dan tiba-tiba pundaknya digenggam tangan yang sedingin es.

“oh!!” Sooyoung langsung duduk tegak dan kemudian menatap mata Tiffany yang gelap.

Ia menurunkan tangannya dari pundak Sooyoung, “Soo, ada apa? Kau merintih-rintih tadi.”

“eh?? Apa??” suara Sooyoung gemetar, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya bermandikan keringat.

“kau merintih-rintih.” Ulang Tiffany. “jadi kupikir lebih baik kau di bangunkan saja.”

“ehm…gomawo.” Ujar Sooyoung. “mungkin gara-gara mimpi buruk.”

Tiffany mengangguk dan kembali ke tempat tidurnya. Sooyoung tidak bergerak, ia terus duduk sambil menatap kegelapan di sekelilingnya. “mimpi buruk?” tanya Sooyoung dalam hati. “rasanya bukan..”

-Chapter 6/Ending-

“kau tidak perlu ikut acara renang jarak jauh hari ini,” Yuri memberitahu Sooyoung waktu sarapan keesokan paginya.

“ehm.. seberapa jauh kita harus berenang?

“kita berenang sampai ke tengah danau,” jawab Yuri. “sampai ke tengah, lalu kembali lagi. Aku akan naik perahu ke tengah. Jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi kalau kau ragu-ragu..”

Sooyoung menaruh sendoknya dan melihat Tiffany dan Taeyeon yang memperhatikannya dari ujung meja. Disampingnya ada Jessica.

“ayolah ikut saja,” desak Tiffany.

“biar aku yang jadi pasanganmu,” kata Jessica. “aku akan berenang bersamamu, Soo.”

Sooyoung teringat kejadian mengerikan di perahu dayung. Ia kembali teringat bagaimana Jessica terjun ke air, membalikkan perahu, dan meninggalkannya seorang diri ditengah danau.

Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, pikir Sooyoung. Mereka sekarang sudah berteman. Ia harus melupakan kejadian di perahu dayung. Ia harus melupakan bahwa perkenalan mereka pada awalnya kurang mulus.

“oke,” jawab Sooyoung akhirnya. “gomawo, Sica. Aku akan berpasangan denganmu.” Sooyoung kembali berpaling pada Yuri. “aku siap ikut berenang.”

**

Matahari pagi masih rendah di langit, dan berulang kali tertutup awan kelabu. Setiap kali matahari menghilang, udara langsung sedingin air danau. Air danau itu sangat dingin pada pagi hari. Para peserta tampak enggan memasuki air. Semuanya menggigil dan mengeluh. Sooyoung pun berhenti di air sedalam mata kaki dan menunggu sampai ia terbiasa dengan dinginnya air.

Sooyoung menoleh ketika mendengar suara perahu motor. Yuri sedang menuju ke tempatnya di tengah danau. Begitu sampai, ia langsung mematikan mesin kemudian ia meraih megafon.

“ayo pemanasan dulu semuanya!” Yuri memberi instruksi namun para peserta itu malah tertawa.

“pemanasan? Bagaimana caranya? Udaranya begitu dingin!”

Sooyoung maju beberapa langkah lagi sambil merapikan baju renangnya yang berwarna biru. “mestinya kita pakai baju penyelam.” Ucapnya pada Jessica.

Jessica mengangguk lalu maju ke air sedalam pinggang. “ayo, Soo. Kita tidak boleh berpencar.” Jessica memberi isyarat agar Sooyoung mengikutinya.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam dan kemudian terjun ke dalam air. Hawa dingin menyerang dari segala arah. Tapi ia tetap meluncur di bawah permukaan dan berenang beberapa meter. Kemudian ia menyembulkan kepalanya dan berpaling pada Jessica.

“tukang pamer,” gumam Jessica sebelum akhirnya ia mencelupkan(?) kedua tangannya ke dalam air.

Sooyoung tertawa, “segar kok! Ayo, terjun saja. kau bakal lebih cepat terbiasa.”

Jessica mengikuti saran Sooyoung. Sebagian peserta sudah berada di dalam air. Ada yang berenang berputar, ada yang  mengapung, ada juga yang mengerakkan kaki seperti mengayuh sepeda.

“silakan ambil posisi semuanya!” Yuri memberi aba-aba dari perahunya. Suaranya terdengar keras dan memantul pada pepohonan. “baris dua-dua! Ayo, cepat!”

Mereka butuh waktu agak lama sebelum semuanya siap. Jessica dan Sooyoung berada di baris kedua. Di belakang mereka tampak Taeyeon berbaris dengan Tiffany.

“Taeyeon, aku ke belakang sebentar ya.” Ucap Tiffany.

“mau kemana?”

“toilet.” Jawab Tiffany sambil pergi menuju toilet meninggalkan Taeyeon.

“lalu aku berpasangan dengan siapa?” gumam Taeyeon.

“denganku saja.” ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.

“Kyu?”

Kyuhyun tersenyum, “tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan berenang cepat-cepat.”

“n..ne..” sahut Taeyeon dengan gugup.

Pasangan pertama berangkat, 2 anak perempuan. Yang satu berenang dengan mantap, yang satu lagi membuat air bercipratan ke segala arah. Yang lainnya bersorak-sorai untuk memberi semangat kepada mereka.

2 menit kemudian, Sooyoung dan Jessica hendak menyusul namun Kyuhyun menahan keduanya. “boleh aku dan Taeyeon duluan?” tanya Kyuhyun membuat Sooyoung dan Jessica mengerutkan keningnya.

“nanti saja, Kyu..”

“tidak apa-apa, kan?” tanya Kyuhyun lagi tidak memperdulikan ucapan Taeyeon.

“baiklah.” Jawab Jessica akhirnya. “silahkan.” Jessica memberi jalan untuk Kyuhyun dan Taeyeon untuk maju bersiap-siap.

“kajja!” Kyuhyun menarik lengan Taeyeon. Dan kemudian mereka berenang bersama dengan mantap. Kyuhyun tidak terlalu cepat berenangnya karena ia tidak mau Taeyeon ketinggalan.

Saat di tengah-tengah danau tiba-tiba Kyuhyun berhenti dan berbalik pada Taeyeon.

“kenapa berhenti?” bingung Taeyeon ikut berhenti berenang.

“apa kau sudah memikirkan ucapanku semalam?”

“Kyu, kumohon jangan begini. Aku hanya menganggapmu teman..”

“apa setelah aku lakukan ini kau masih menganggapku teman?” ucap Kyuhyun cepat dan meraih Taeyeon ke dalam air. Di bawah permukaan air, Kyuhyun memanggut bibir Taeyeon. Taeyeon berontak namun ia tidak bisa melepaskan pegangan Kyuhyun. Kyuhyun memeluknya sambil terus menciuminya d bawah air itu selama beberapa detik hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan ciuman itu dan kembali ke permukaan karena kehabisan napas. “mianhae..” lirih Kyuhyun melihat Taeyeon yang tampak menangis.

Taeyeon tidak memperdulikannya dan segera berenang mendekati perahu Yuri, tidak berniat berbalik kembali ke tepi danau meneruskan renangnya. Kyuhyun hanya memandanginya dan kemudian ikut menyusulnya.

Yuri menarik Taeyeon ke atas perahu dan kemudian disusul Kyuhyun. Taeyeon duduk terdiam menunduk di salah satu sisi perahu itu dan Kyuhyun duduk di seberangnya sambil terus memperhatikannya.

“Taeyeon, kenapa kau berhenti? Kau juga, Kyu?” tanya Yuri.

“aku.. lenganku pegal tidak kuat berenang lebih lama lagi.” Jawab Taeyeon.

“oh.. baiklah. Lalu kau?” Yuri berbalik pada Kyuhyun.

“bukannya kita harus berpasangan dalam sistem keselamatan di air? Jika aku meneruskan berenang berarti aku berenang sendirian tidak ada pasangannya.”

“ah, benar juga.” Sahut Yuri. “ya sudah kalian tunggu saja disini sampai semua selesai.”

Di tepi danau Sooyoung dan Jessica bersiap-siap meluncur ke air. Sooyoung berusaha tidak menciptakan cipratan ke segala arah. Ia berusaha untuk tidak kikuk di perhatikan semua peserta perkemahan itu. Tidak lama kemudian Jessica mendahuluinya. Sambil berenang berulang kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan ia tidak meninggalkan Sooyoung terlalu jauh. Titik untuk berbalik arah terletak di dekat perahu motor Yuri. Sooyoung terus menatap titik itu sambil terus mengikuti Jessica yang berada di depannya.

Jessica berenang semakin cepat, Sooyoung mulai merasakan lengannya pegal padahal jaraknya masih jauh dari perahu. Perahu Yuri berayun-ayun di depan Sooyoung. Yuri sedang menyerukan sesuatu melalui megafon tapi Sooyoung tidak bisa mendengarnya karena suara percikan air di sekelilingnya.

Jessica semakin jauh, “hei, jangan cepat-cepat!” seru Sooyoung namun ia kemudian sadar Jessica pasti tidak akan mendengar suaranya.

Sooyoung mengabaikan rasa pegal di lengannya dan berusaha mengejar Jessica. Ia mengayunkan kakinya lebih keras sehingga air pun bercipratan ke segala arah.

Matahari kembali menghilang di balik awan tebal. Langit menjadi gelap dan air danau langsung bertambah dingin. Sooyoung sudah hampir sampai di perahu yang dinaiki Yuri. Pandangannya tertuju pada Jessica. Sooyoung memperhatikan ayunan kakinya yang berirama. Rambutnya yang pirang mengapung di permukaan air, bagaikan sejenis makhluk penghuni laut. Kalau Jessica berbalik, aku juga ikut berbalik, pikir Sooyoung.

Sooyoung berenang sedikit lebih cepat. Perahu Yuri sudah lewat. Mereka sudah boleh berbalik. Tapi diluar dugaan Sooyoung, Jessica terus berenang mengayunkan kaki dan tangannya. Kepalanya terbenam. Lengannya bergerak dengan ringan dan anggun, dan Sooyoung tertinggal semakin jauh.

“Jess..?” panggil Sooyoung. Lengannya sudah berat sekali. Dadanya serasa terbakar. “hei, Jess! Kita sudah boleh balik!” namun Jessica terus berenang. Sooyoung mengerahkan segenap tenaga untuk menyusulnya, “Sica, tunggu!” seru Sooyoung. “kita harus balik!”

Jessica berhenti.

“apa ia mendengarku?” pikir Sooyoung sambil menghampirinya dengan napas terengah-engah.

Ia berbalik pada Sooyoung.

“Sica??” Sooyoung memekik tertahan.

Bukan. Bukan Jessica. Ternyata bukan Jessica. Tapi…Yoona! Matanya yang gelap tampak berseri-seri ketika mengembangkan senyumnya.

“ayo berenang terus, Soo,” bisik Yoona. “kita harus berenang lebih jauh dan lebih jauh lagi. Kau sudah jadi pasanganku sekarang.” Yoona langsung meraih lengan Sooyoung. Sooyoung berusaha membebaskan diri dan hampir berhasil melepaskan lengannya yang basah dari genggaman Yoona tapi kemudian ia mencengkram pergelangan tangan Sooyoung dan menariknya keras-keras.

“akh!” pekik Sooyoung. Yoona cukup kuat. Sangat kuat untuk seorang perempuan yang tampak begitu rapuh. Bukan, bukan seorang perempuan tapi hantu yang tampak begitu rapuh. “lepaskan aku!” Sooyoung meronta-ronta, menendang-nendang dan berputar-putar. “Yoon, aku tidak mau ikut denganmu!” Sooyoung berbalik dan berhasil melepaskan diri. Kepalanya terbenam dalam air. Terbatuk-batuk dan mengangkat kedua tangannya lalu naik ke permukaan air.

“dimana Yoona?” batin Sooyoung mengedarkan pandangannya mencari hantu itu. “apakah ia persis di belakangku? Apakah ia sudah siap menyeretku ke tengah danau, supaya aku tidak bisa berenang ke tepi?” dengan kalang kabut ia memandang ke segala arah.

Awan-awan di atas seakan-akan melintas dengan kecepatan tinggi.

“Sooyoung.. Sooyoung..” Sooyoung mendengar suaranya namun ia tidak bisa melihatnya. Sooyoung kembali berbalik, pandangannya tertuju pada perahu motor. Tanpa menghiraukan jantungnya yang berdetak kencang, tanpa menghiraukan lengannya yang pegal, ia mulai melesat maju. “aku harus mencapai perahu sebelum Yoona kembali menyeretku.” Batin Sooyoung.

Sooyoung mengerahkan segenap tenaganya yang masih tersisa untuk berenang ke perahu motor. Tangannya menjangkau….dan berhasil meraih pinggiran perahu. Dengan terbatuk-batuk, ia berusaha naik. “Yul, tolong!” Sooyoung memohon dengan suara parau. “bantu aku naik!” matahari muncul dari balik awan. Sooyoung menatap cahaya keemasan yang menyilaukan. “Yul, tolong..” Sooyoung melihat sepasang tangan terulur kearahnya. Ia membungkuk untuk menarik Sooyoung naik ke perahu. Ia mencondongkan badan ke depan dan menariknya ke atas. Sooyoung mengedip-ngedipkan matanya ketika menatap wajah orang yang menolongnya.

“andwae!!” Pekik Sooyoung tiba-tiba. Yang dilihatnya bukan wajah Yuri! Tapi wajah Yoona! Yoona menariknya naik ke perahu.

“ada apa, Soo?” ia berbisik sambil menarik Sooyoung. “jangan khawatir, kau tidak apa-apa.”

“lepaskan aku!!” jerit Sooyoung berusaha membebaskan diri dari pegangan Yoona. Matanya berkedip-kedip karena silau. Dan kemudian ia melihat wajah Yuri dihadapannya. Bukan wajah Yoona, tapi wajah Yuri. Wajah yang tampak cemas.

“Soo, kau tidak apa-apa?”

Sooyoung menatapnya dengan membelalakan matanya menyangka wajahnya akan berubah lagi menjelma menjadi Yoona.

“apa aku salah lihat?” pikir Sooyoung. “mungkinkah aku salah lihat karena silau akibat sinar matahari?” ia menghela napas membiarkan dirinya di tarik naik oleh Yuri dan juga di bantu Kyuhyun.

Sooyoung berlutut di perahu yang terayun-ayun. Taeyeon yang duduk di sebelahnya menatapnya sambil memicingkan matanya, “apa yang terjadi?” belum Sooyoung menjawab pertanyaan Taeyeon, ia mendengar bunyi gemericik di samping perahu.

“Yoona!” pikir Sooyoung. Ia langsung diam seperti patung.

Ternyata bukan. Jessica memanjat ke perahu. “Soo, kenapa kau tidak mendengarku memanggil-manggil tadi?” tanya Jessica.

“Jes, aku tidak melihat. Kupikir kau..” suaranya tercekat di tenggorokan.

“kenapa kau meninggalkanku?” tanya Jessica lagi. “kita kan harus berpasangan!”

**

Yuri mengantar Sooyoung ke tepi danau. Ia berganti baju lalu menemui Leeteuk. Ia berada di ruang kerjanya, sebuah ruangan kecil di gedung utama. Ia sedang duduk sambil menaikan kaki ke meja dan memandang selembar foto di tangannya.

“oh, Soo! Ada apa?” ia tersenyum ramah dan memberi syarat agar Sooyoung duduk di kursi lipat di depan mejanya. Ia mengamati Sooyoung dengan seksama. “aku dengar ada masalah lagi didanau.” Ucap Leeteuk dengan lembut. Foto yang semula ia pegang cepat-cepat ia masukan ke laci mejanya. “ada apa sebenarnya?”

Sooyoung menarik napas dalam-dalam memikirkan apa ia harus berterus terang kalau ia diikuti arwah seorang gadis? Arwah penasaran yang menginginkannya menjadi pasangannya.

“kau mengalami kejadian yang sangat mengejutkan kemarin.” Ujar Leeteuk. “kami sempat menyangka kau tenggelam.” Ia mencondongkan badannya ke arah Sooyoung. “barangkali kau terlalu cepat kembali ke danau. Barangkali kau seharusnya menunggu dulu.”

“mungkin juga.” Gumam Sooyoung dan kemudian ia melontarkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya. “Teuk, tolong ceritakan tentang yeoja yang tenggelam di sini.”

Leeteuk langsung melongo, “hah?”

“aku tahu ada yang pernah tenggelam di danau perkemahan ini!” ucap Sooyoung bersikeras. “aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Leeteuk menggelengkan kepalanya, “belum pernah ada yang tenggelam di danau perkemahan ini.” Jawab Leeteuk. “belum pernah.”

Sooyoung merasa ia bohong. Ia punya bukti, ia telah melihat Yoona. Dan bahkan sempat berbicara dengannya. “Leeteuk-ssi, aku perlu tahu. Tolong ceritakan tentang dia.”

Leeteuk mengerutkan kening. “kenapa kau tidak percaya, Soo? Aku tidak bohong. Belum pernah ada yang tenggelam di danau. Baik yeoja maupun namja.”

Tiba-tiba Sooyoung mendengar suara mendesah. Ia melirik ke arah pintu yang terbuka, dan……melihat Yoona berdiri disitu. Sooyoung kaget setengah mati. Serta merta ia berdiri dan menunjuk. “Teuk! Itu yeoja yang kumaksud! Dia berdiri disitu! Masa kau tidak mellihatnya???”

Leeteuk menoleh ke arah pintu. “ne.” ucapnya pelan. “aku melihatnya.”

“eh?” Sooyoung memekik tertahan. “kau melihatnya??”

Leeteuk mengangguk, raut wajahnya serius. “kalau itu bisa membuatmu lebih tenang, maka akan kubilang bahwa aku melihatnya.”

“kau tidak benar-benar melihatnya??”

“tidak. Aku tidak melihat apa-apa.”

Sooyoung berpaling ke ambang pintu. Yoona menatapnya sambil tersenyum lebar.

“duduklah.” Ucap Leeteuk. “kadang-kadang kita bisa dikelabui oleh daya khayal kita sendiri. Terutama kalau kita baru saja mengalami sesuatu yang sangat menakutkan.”

Sooyoung tetap berdiri di depan meja Leeteuk dan menatap Yoona. Pandangannya menerobos tubuh Yoona yang tembus pandang. “aku tidak mengada-ada! Dia ada disitu!” seru Sooyoung. “dia berdiri di pintu! Namanya Yoona. Dia tenggelam di danau perkemahan ini. Dan sekarang dia berusaha membuatku celaka. Dia ingin aku tenggelam juga!”

“Soo, tenang dulu.” Leeteuk berkata dengan lembut. Ia berjalan mengitari meja dan meletakkan sebelah tangan di pundak Sooyoung. Kemudian ia menggiring Sooyoung ke pintu, berhadap-hadapan dengan Yoona. Yoona menjulurkan lidahnya pada Sooyoung. “tuh, tidak ada siapa-siapa, kan?”

“tapi..tapi..”

“bagaimana kalau kau tidak usah ke danau dulu selama beberapa hari.” Usul Leeteuk, “kau bisa bersantai di perkemahan.” Yoona meniru ucapan Leeteuk dengan menggerak-gerakan bibirnya tanpa suara. Sooyoung memalingkan wajahnya membuat Yoona tertawa cekikikan.

“tidak pergi ke danau?” Tanya Sooyoung.

“ne. Beristirahatlah selama beberapa hari. Aku yakin kau akan merasa jauh lebih enak nanti.”

Sooyoung tahu cara itu takkan berguna. Ia tahu Yoona tetap akan membuntutinya kemana pun ia pergi untuk menjadikannya pasangannya. Sooyoung menghela napasnya, “rasanya percuma.”

“kalau begitu aku ada ide lain. Bagaimana kalau kau pilih olahraga baru? Olahraga yang belum kau coba? Sesuatu yang benar-benar sulit, misalnya, ski air.”

“aku tidak mengerti.” Sahut Sooyoung. “untuk apa?”

“karena kau akan begitu sibuk sehingga tidak sempat memikirkan soal hantu.”

“ne, pasti.” Ujar Sooyoung sinis.

“aku hanya mau membantu,” ujar Leeteuk dengan ketus. “atau bagaimana kalau kau membantuku?”

“membantu? Membantu apa?”

“jadi begini.. Apa kau tahu beberapa hari ini Taeyeon tampak dekat dengan namja salah satu peserta perkemahan ini.”

“maksudmu Kyuhyun?”

“ne, Kyuhyun.” Jawab Leeteuk mengiyakan.

“lalu apa hubungannya denganku?”

“mm…bagaimana ya? Mm…apa kau mau membantuku dengan berpura-pura menjadi yeojaku di depan Taeyeon supaya ia cemburu?” Tanya Leeteuk malu-malu. “tapi aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau.” Sambungnya cepat.

“ehm..aku..aku tidak tahu.” Jawab Sooyoung tidak tahu harus berkata apa, “kurasa sudah waktunya makan siang.” lanjut Sooyoung mengalihkan pembicaraan dan berjalan meninggalkan ruang kerja Leeteuk yang sempit.

Setelah berada di luar, ia menarik napas dalam-dalam. Udaranya jauh lebih sejuk di tempat itu. Ia berjalan menuju bangsal utama bagian depan. Tapi ketika ia sedang menyusuri lorong, ia kembali mendengar suara Yoona di belakangnya. “kau tidak bisa lolos, Soo. Kau pasanganku. Percuma saja kau berusaha kabur. Kau akan selalu menjadi pasanganku.”

Sooyoung merinding ketika mendengar bisikan itu. Bisikan yang diucapkan begitu dekat dengan telinganya. Tiba-tiba ia kehilangan kendali, “DIAM!!” pekik Sooyoung. “DIAM!! DIAM!! DIAM DAN JANGAN GANGGU AKU LAGI!!” Sooyoung berbalik untuk melihat apakah ia mendengar ucapannya. Saat Sooyoung berbalik, ia membelalakan matanya.

Tiffany berdiri di belakangnya. Saking kagetnya, ia sampai melongo. “oke, oke, aku pergi.” Ucap Tiffany sambil mundur teratur. “jangan marah-marah begitu, dong. Aku kan cuma mau tanya bagaimana keadaanmu.”

Mendengar Tiffany berkata seperti itu membuat Sooyoung tidak enak. Tiffany pasti mengira ia yang di caci-maki oleh Sooyoung. “aku..aku..”

“kupikir kita berteman,” kata Tiffany ketus. “aku tidak bilang apa-apa tadi, tapi kau langsung membentak-bentak!”

“bukan kau yang kuajak bicara tadi!” Sooyoung berusaha menjelaskan. “aku berbicara dengan dia!” Sooyoung menunjuk Yoona yang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar di dekat jendela. “aku sedang berbicara dengan dia!” ujar Sooyoung lagi.

Tiffany menoleh ke arah jendela yang di tunjuk Sooyoung, lalu mengerutkan kening. Raut mukanya berubah jadi aneh.

**

Keesokan pagi setelah sarapan, Sooyoung pergi menuju dermaga. Ia memutuskan untuk mencoba ski air. Entah kenapa ia ingin mencoba mengikuti saran Leeteuk. Mungkin karena ia kasihan pada Minho. Semalam ia kembali memohon-mohon agar jangan menelpon orangtuanya. Minho benar-benar tidak mau pulang. Menurutnya inilah liburan musim panas paling mengasyikan yang pernah dialaminya. “kau memang bisa menikmati liburan ini. Kau tidak terus dibuntuti hantu kemana pun kau pergi.” Pikir Sooyoung.

Semalam Sooyoung memutuskan untuk tidak pergi ke danau dan menghabiskan waktu di pondok dengan membaca tapi keesokan paginya ia sadar bahwa rencana itu tidak sehebat perkiraannya. Mana mungkin ia berani sendirian di pondok sementara semua orang berada di danau. Tidak akan ada yang bisa melindunginya dari Yoona. Seharusnya ia menjauhi danau tapi ia benar-benar tidak ingin sendirian. Karena itu ia mengikuti saran Leeteuk. Ia pergi ke dermaga dan memberitahu Yuri bahwa ia ingin belajar ski air.

“bagus, Soo!” seru Yuri sambil tersenyum lebar. “kau sudah pernah mencobanya? Main ski air sebenarnya lebih mudah dari  yang kita sangka.” Yuri mengambil jaket pelampung berwarna kuning dan sepasang ski air dari gudang perlengkapan. Kemudian ia memberikan kursus singkat pada Sooyoung. Ia memperlihatkan bagaimana harus mencondongkan badan ke belakang dan menekuk lutut.

Tak lama kemudian Sooyoung sudah berada di air sambil menunggu giliran di tarik perahu motor. Taeyeon sedang melaju dengan kencang. Baju renangnya yang berwarna jingga tampak berkilauan dalam cahaya pagi.

Dengung mesin perahu bergema. Gelombang yang ditimbulkan perahu itu menjilat-jilat tepi danau. Taeyeon berseru keras-keras dan melepaskan tali penarik ketika perahu melesat melewati dermaga. Ia menjatuhkan diri ke air, lalu segera melepaskan ski-nya. Kemudian ia naik ke darat.

Tidak jauh dari situ, Kyuhyun tersenyum dan hendak menghampiri Taeyeon sambil membawakan  handuk. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Taeyeon berlari kecil menuju Leeteuk yang langsung memberikan handuk padanya. Kyuhyun memandangnya dengan pandangan perih dan ia meremas kencang handuk di tangannya. Ia dapat melihat bagaimana Taeyeon tertawa lepas dengan Leeteuk dan Leeteuk membantu mengeringkan rambutnya.

Sooyoung bersiap-siap dengan ski-nya. Dengan susah payah ia memasang ski di kakinya. Kemudian ia meraih tali penarik, dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Sooyoung mengambil posisi seperti yang contohkan Yuri.

“siap!” seru Sooyoung.

Mesin perahu terbatuk-batuk dan kemudian meraung-raung. Perahu itu melesat begitu kencang sehingga tali yang digenggamnya nyaris terlepas dari tangannya. Sooyoung memekik nyaring ketika ia mulai terangkat dari air. Kedua ski yang dipakainya meluncur di permukaan. Ia menekuk lutut dan menggenggam tali penarik erat-erat.

“aku berhasil! Aku bisa bermain ski air!” perahu meluncur semakin kencang, melesat lurus melintasi danau yang berkilau-kilau. Wajah dan rambutnya basah terkena percikan air danau yang dingin. Tidak lama kemudian ia mulai kehilangan keseimbangan, tapi kemudian berhasil menegakkan kembali badannya. Ia menggenggam kencang tali penarik dan terus melesat dengan kencang. “yes!!” seru Sooyoung.  “menyenangkan sekali!”

Tapi kemudian pengemudi perahu motor itu menoleh ke belakang. Sooyoung mengenal senyum itu.

Yoona!

Senyumnya semakin lebar ketika ia melihat ketakutan yang terlukis di wajah Sooyoung. “kembali! kembali ke tepi!” ujar Sooyoung memohon. Tapi ia membelokkan perahu itu dengan tajam membuat Sooyoung nyaris jatuh. Tali penariknya ia cengkram erat-erat. Kedua ski di  kakinya menampar-nampar permukaan air. Tubuhnya basah kuyup terkena cipratan air dingin. Sooyoung megap-megap seraya berusaha menarik napas.

Yoona mendongakkan kepala dan tertawa, tapi suara tawanya ditenggelamkan oleh deru mesin perahu. Sooyoung bisa melihat langit lewat tubuhnya yang tembus pandang. Tubuhnya di terobos sinar matahari. “kembalilah!” teriak Sooyoung. “stop! Aku mau dibawa kemana??”

Yoona tidak menyahut. Ia kembali menghadap ke depan. Rambutnya berkibar-kibar karena tiupan angin. Perahunya meloncat-loncat, meninggalkan gelombang buih dan percikan air dibelakangnya. Gelombang itu menerjang Sooyoung, ia menggigil kedinginan. Ia tidak bisa melihat karena pandangannya terhalang gelombang itu. Saking paniknya, ia perlu waktu lama untuk menyadari bahwa sebenarnya ada cara mudah untuk meloloskan diri. Ia tinggal melepas tali penariknya.

Sooyoung mengangkat tangan, dan talinya pun jatuh ke air. Ia meluncur sejenak kemudian jatuh ke air dan tenggelam. Jaket pelampung yang dikenakannya membawanya kembali ke permukaan. Ia megap-megap dan menyemburkan air yang sempat masuk ke mulutnya. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya terasa sangat pening seakan-akan dikelilingi cahaya matahari yang terang benderang. “dimana permukaan air? Dimana tepi danau?” pikir Sooyoung. Ia berbalik dan melihat perahu motor melaju di kejauhan. “kali ini kau tidak berhasil!” seru Sooyoung pada Yoona. Tapi sesaat kemudian ia segera terdiam. Perahu itu berputar arah. Yoona membelokkan perahu dan menuju tepat kearahnya. Sooyoung menahan napas ketika mendengar mesin perahu meraung-raung. Ia terapung-apung di permukaan, tak berdaya sama sekali.

Perahu motor mulai melesat kencang. “ia datang!” pikir Sooyoung. “ia mau menjadikanku sebagai pasangannya untuk selama-lamanya! Aku terperangkap disini. Ia mau menabrakku?!!”

Sooyoung mengayunkan kakinya didalam air. Dengan mata terbelalak ia memperhatikan perahu motor yang melesat kearahnya.

“aku harus menyelam!” ucapnya dalam hati. Satu-satunya cara untuk lolos adalah melalui bawah air.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam. Setiap otot ditubuhnya menegang. Ia sadar harus menunggu saat yang tepat untuk menyelam.

Perahu motor semakin dekat. Raungan mesinnya semakin keras. Ia melihat Yoona mengarahkan perahu. Perahu itu dibidikkannya kearah Sooyoung. Sooyoung kembali menarik napas dalam-dalam. Tapi tiba-tiba ia sadar bahwa ia tidak bisa menyelam. Jaket pelampung yang dipakainya menahannya di permukaan.

Sambil memekik nyaring, ia meraih bagian depan jaket pelampung dengan kedua tangannya dan menariknya keras-keras. “ah, tidak bisa! Aku tidak bisa melepasnya!”

Permukaan danau kian bergolak ketika perahu motor semakin dekat. Seluruh danau seperti ikut bergoyang dan berputar. “a..aku akan tercabik-cabik!” Ia terus menarik dan mendorong jaket pelampungnya berharap bisa terlepas. “tidak ada waktu lagi! Aku tidak bisa menyelam!”

Raungan mesin perahu mengalahkan jeritannya. Sambil mengerahkan segenap tenaga, akhirnya ia berhasil menarik jaket pelampung ke atas melewati pundaknya.

Tapi terlambat!

Haluan perahu melesat melewatinya. Detik berikutnya, baling-baling perahu terasa memancung kepalanya.

**

Sooyoung menunggu rasa sakit yang akan menyerangnya. Ia menunggu kegelapan yang akan menyelubunginya. Tapi air disekelilingnya hanya bergolak hebat dan berubah warna. Mula-mula biru, lalu hijau

Sooyoung muncul di permukaan sambil terbatuk-batuk. Ia megap-megap dan terombang-ambing mengikuti alunan gelombang. “jaket pelampungku!” seru Sooyoung melihat jaket pelampungnya yang terbelah menjadi dua karena baling-baling perahu motor itu. “aku hidup!!” pekik Sooyoung. “aku masih hidup!!” ia berbalik dan melihat perahu motor melaju melintasi danau. “ia pasti menyangka aku sudah mati.” Sooyoung mengamati sekeliling untuk mencari tepi danau, lalu segera berenang menepi. Seakan-akan mendapat energi baru, arus yang deras ikut mendorongnya kearah perkemahan.

Beberapa peserta perempuan memanggil-manggilnya ketika ia naik ke darat. Ia melihat Yuri bergegas menghampirinya. “Soo…!” seru Yuri. “Sooyoung, tunggu!” Sooyoung tidak menggubrisnya. Semua orang tidak ia hiraukan. Ia malah mulai berlari.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus pergi dari perkemahan itu. Ia harus pergi sejauh mungkin. “aku tidak akan aman disini. Aku tidak akan aman selama Yoona menginginkanku sebagai pasangannya! Selama Yoona ingin agar aku juga tenggelam.” Ia tahu tidak ada yang mempercayainya. Semua bilang mereka mau membantu. Tapi tidak ada yang bisa menolongnya. Tidak ada yang sanggup melawan hantu.

Sooyoung menyerbu ke pondoknya dan segera berganti pakaian. Pakaian renangnya yang basah ia campakkan ke lantai, kemudian memakai celana pendek dan T-shirt. Ia menyibakkan rambut, lalu mengenakan kaus kaki dan sepatu kets. “aku harus pergi, harus pergi!” ia terus bergumam. “aku akan  menerobos hutan dan menuju ke kota di seberangnya. Aku akan menelepon eomma dan appa. Aku akan memberitahu mereka bahwa aku bersembunyi di kota. Aku akan meminta mereka datang untuk menjemputku.” Selesai mengemasi barangnya ia segera pergi namun sampai pintu ia menghentikan langkahnya. “apa aku perlu memberitahu Minho?” pikir Sooyoung. “ah, ani. Tidak usah. Ia pasti akan berusaha mencegahku.”

Akhirnya Sooyoung memutuskan untuk mengabari adiknya itu setelah sampai di kota, di tempat yang lebih aman. Sooyoung melongok dari pintu dan memandang ke kiri-kanan untuk memastikan keadaan  diluar aman. Kemudian ia melangkah keluar dan menyelinap ke belakang pondok. Namun kemudian ia bertabrakan dengan Tiffany. Ia mengamati wajah Sooyoung sambil memicingkan matanya. “kau mau pergi?” tanya Tiffany.

Sooyoung mengangguk, “ne. aku mau pergi.”

Sekali lagi raut wajah Tiffany berubah. Sorot matanya seakan-akan mati. “semoga berhasil.” Bisik Tiffany.

“kenapa ia bersikap aneh?” tanya Sooyoung dalam hati. Ia tidak sempat memikirkannya, ia melambaikan tangan pada Tiffany, lalu bergegas memasuki hutan.

Saat berjalan menyusuri jalan setapak diantara pohon-pohon, Sooyoung menoleh ke belakang dan melihat Tiffany masih berdiri di belakang pondok. Ia memandang ke arah Sooyoung. Sooyoung menarik napas dalam-dalam kemudian berbalik dan bergegas melangkah.

Pohon-pohon di kiri-kanan jalan setapak menghalangi sebagian besar sinar matahari. Semakin lama keadaan semakin gelap dan dingin. Duri tajam pada semak belukar menggores-gores lengan dan kakinya membuatnya menyesal karena tidak memakai celana panjang dan baju lengan panjang.

Sepatu ketsnya tergelincir karena menginjak lapisan daun mati. Berulang kali ia harus melewati dahan-dahan tumbang dan rumpun ilalang berduri. Akar-akar pohon tumbuh melintang di jalan setapak.

Akhirnya ia tiba di jalan bercabang. Ia berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal sambil menentukan jalan yang akan ia lewati. “apakah kedua cabang jalan itu menuju kota?”

Tiba-tiba Sooyoung menahan napasnya ketika mendengar suara bernyanyi. “seekor burung?” pikir Sooyoung. “bukan. Suaranya lembut sekali. Suara seorang perempuan.” Sooyoung menoleh ke arah sumber suara dan ia langsung mengerang ketika melihat Yoona duduk di sebuah dahan pohon yang rendah. Ia benyanyi sambil memiringkan kepala ke kiri-kanan. Matanya yang gelap tampak berkilauan ketika menatap Sooyoung.

“kau..kau membuntutiku?!” Sooyoung tergagap-gagap. “bagaimana kau bisa tahu bahwa aku..”

Yoona tertawa cekikikan. “kau pasanganku.” Sahutnya. “kita harus selalu bersama-sama.”

“tidak! Tidak bisa!” teriak Sooyoung. “kau kalah, Yoon! Aku tidak akan jadi pasanganmu karena aku tidak akan pernah lagi pergi ke danau. Aku tidak akan tenggelam seperti kau!”

Senyum Yoona lenyap, “tenggelam?” ia menggelengkan kepala. “Soo, kenapa kau berpikir begitu? Tampaknya kau bingung sekali. Aku tidak tenggelam.”

“hah?” Sooyoung tercengang karena terkejut.

“jangan bengong, Soo. Nanti kemasukan lalat.” Yoona menengadahkan kepala dan tertawa kemudian ia kembali menggelengkan kepala. “mana mungkin ada yang tenggelam di Seoul Camp Lake?” ujarnya. “setiap lima menit ada ceramah tentang keselamatan di air! Belum pernah ada yang tenggelam di Seoul Camp Lake!”

“kau tidak tenggelam?” pekik Sooyoung. “kalau begitu, bagaimana kau mati?”

Yoona mencondongkan badan ke depan dan menunduk menatapnya. Pandangan Sooyoung menerobos tubuhnya yang tembus pandang. Daun-daun di belakangnya tampak bergoyang karena tiupan angin.

“mau tahu?” tanya Yoona. “oke. Suatu malam pada waktu acara api unggun, aku tidak tahan lagi mendengar ceramah tentang keselamatan di air. Karena itu aku menyelinap ke hutan.” Ia menyibakan rambutnya ke belakang. “tapi aku melakukan satu kesalahan,” ia melanjutkan. “aku tidak tahu bahwa hutan ini penuh ular beracun yang mematikan.”

Sooyoung memekik tertahan. “di hutan ini ada ular??”

Yoona mengangguk. “hampir tidak mungkin ada yang bisa melintasi hutan ini tanpa digigit. Aku mati karena digigit ular, Soo.”

“tapi..tapi..” Sooyoung tergagap. “tapi kau selalu muncul didanau. Kenapa kau selalu muncul disana?”

“masa kau belum mengerti juga?” sahut Yoona. “itu memang sengaja. Aku sengaja membuatmu takut terhadap danau. Karena aku tahu kau akan berusaha kabur melalui hutan. Aku tahu kau akan lari ke hutan dan mati seperti aku… lalu jadi pasanganku.”

“andwae!!” pekik Sooyoung. “aku tidak mau! Aku..”

“Soo, lihat!” Yoona menunjuk ke tanah. Sooyoung menoleh dan melihat seekor ular gendut berwarna hitam melingkar di kakinya. “kita akan jadi pasangan abadi.” Yoona berkata dengan gembira. “pasangan abadi.”

Sooyoung berdiri seperti patung. Tanpa berkedip, ia memperhatikan ular gendut itu melilit di kakinya. “ahhh!!!” ia mengerang ketika ular itu mengambil ancang-ancang untuk memanggutnya.

“sakitnya tidak seberapa, kok,” Yoona menjelaskan. “rasanya seperti disengat tawon. Cuma begitu saja.” Ular itu mendesis nyaring. Mulutnya menganga lebar. Tubuhnya semakin kencang melilit kaki Sooyoung. “pasangan abadi,” Yoona bersenandung. “pasangan abadi…”

“bukan! Sooyoung bukan pasanganmu!” sebuah suara berseru.

Sooyoung hendak berpaling kearah suara itu, tapi ia tidak bisa bergerak. Lilitan ular di kakinya terlalu keras. “Tiffany!” seru Sooyoung. “sedang apa kau disini?”

Dengan  gerakan gesit, Tiffany meraih ular di kaki Sooyoung. Menariknya sampai terlepas, lalu melemparnya ke antara pohon-pohon. Tiffany menoleh ke arah Yoona. “Sooyoung tidak akan jadi pasanganmu, karena dia pasanganku!” seru Tiffany.

Yoona membelalakan mata, ia memekik kaget. Ia segera berpegangan pada dahan pohon agar tidak jatuh. “kau?!” seru Yoona. “kenapa kau ada disini??”

“ya, aku!” balas Tiffany. “aku datang lagi, Yoona!”

“tapi..tapi bagaimana kau..”gumam Yoona.

“kau berusaha mencelakakan aku tahun lalu,’ ujar Tiffany. “sepanjang musim panas kau berusaha menjadikan aku sebagai pasanganmu. Kau terus menakut-nakutiku. Ya, kan, Yoon?” ia mendengus. “kau pasti tidak menyangka bahwa aku akan kembali. Tapi aku datang lagi…untuk melindungi korbanmu berikutnya!”

“andwae!!” Yoona meraung.

Akhirnya Sooyoung mengerti. Ia menghampiri Tiffany dan berdiri disampingnya. “Tiffany pasanganku!” tegas Sooyoung. “dan tahun depan aku akan kembali untuk melindungi korban berikutnya!”

“andwae! Andwaeeee!!” Yoona meratap. “kau tidak boleh begitu! Aku sudah menunggu begitu lama! Sangat lama!!” ia melepaskan dahan pohon dan mengacungkan tinju ke arah Tiffany dan Sooyoung namun ia kehilangan keseimbangan. Ia berusaha meraih dahan pohon , tapi melesat. Tanpa suara ia terhempas ke tanah. Dan langsung lenyap. Hilang.

Sooyoung bangkit sambil menghela napas. “apakah ia pergi untuk selama-lamanya?” gumam Sooyoung.

Tiffany angkat bahu. “molla. Aku tidak tahu.”

Sooyoung berpaling pada Tiffany. “kau..kau telah menyelamatkanku!” seru Sooyoung. “gomawo, Tif!” Sooyoung menghampirinya sambil bersorak gembira. Ia ingin memeluknya karena telah menyelamatkannya.

Tapi……tangan Sooyoung menembus tubuhnya. Ia menahan napas. Ia meraih bahu Tiffany, tapi tangannya tidak merasakan apapun. Serta merta ia melompat mundur dengan mata terbelalak.

Tiffany menatapnya sambil memicingkan matanya. “Yoona membunuhku waktu liburan musim panas tahun lalu.” Ia berkata dengan suara pelan. “pada hari terakhir. Tapi aku tidak mau berpasangan dengannya. Aku tidak menyukai anak itu.” Ia mulai melayang kearah Sooyoung. “tapi aku perlu pasangan,” bisiknya. “semua orang harus punya pasangan. Kau mau jadi pasanganku, Soo?”

Sooyoung melihat ular berdesis-desis ditangannya tapi ia tidak bisa bergerak.

“kau mau  jadi pasanganku, kan?” Tiffany bertanya sekali lagi. “kau akan menjadi pasanganku untuk selama-lamanya.”

 THE END

Huaaaah selesai juga. Gimana endingnya? Ngegantung ya? kkkkkk~ Nasib Kyuhyun disini agak tragis ya? *dipelototin KyuTae shipper*

Yang mau ikutan Giveaway mana nih? Belum ada yang masuk ke email author. onion-emoticons-set-6-121onion-emoticons-set-6-113 Baru satu orang onion-emoticons-set-6-92onion-emoticons-set-6-100

Ditunggu ya sampe tanggal 30 April fan art-nya. onion-emoticons-set-6-72

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 5)

Di part ini ada KyuTae moment nyempil(?). 😀

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-Previous Chapter-

“d..dari mana kau tahu namaku??” kejut Sooyoung.

Ia tersenyum lebar. “aku sudah lama menunggumu.” jawabnya. “namaku Yoona.” Ia bangkit, berbalik, dan mengeluarkan sesuatu dari balik tangga. Jubah mandi berwarna putih. Ia merentangkannya dan menaruhnya di pundak Sooyoung yang gemetaran. Tangannya begitu ringan, Sooyoung nyaris tak merasakan sentuhannya. Ia membantu Sooyoung menalikan tali pinggang kemudian ia mundur dan kembali tersenyum, “aku sudah menunggumu, Sooyoung.” ucapnya dengan suara pelan sekali, bagaikan bisikan angin.

“a..apa? menunggu?”

Ia mengangguk. Rambutnya berkibar-kibar setiap kali ia menggerakan kepala. “aku tidak bisa pergi tanpamu, Soo. Aku perlu pasangan.”

Sooyoung menatapnya dengan kening berkerut. “mana yang lainnya? kemana mereka? Kenapa hanya kita berdua yang ada disini?” Sooyoung menyeka sebutir salju yang menempel di alisnya. “Yoona, kenapa tiba-tiba sudah musim dingin?”

“kau mau jadi pasanganku, kan, Soo?”

“aku tidak mengerti, tolong jawab pertanyaanku!”

“kau mau berpasangan denganku, kan?” ia bertanya lagi dengan pandangan memohon, “sudah begitu lama aku menunggu seseorang yang mau berpasangan denganku, Soo. Lama sekali.”

“tapi, Yoona..”

Yoona mulai bernyanyi lagi. Sooyoung heran kenapa ia begitu sedih saat menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake itu? Kenapa ia tidak mau menjawab pertanyaan Sooyoung? dari mana ia tahu nama Sooyoung dan kenapa ia bilang ia sudah menunggunya?

“Yoona, tolonglah..” Sooyoung mencoba membujuk.

Sambil terus bernyanyi ia melayang ke teras gedung utama. Gumpalan-gumpalan kabut bergeser sedikit setiap kali ia bergerak. “oh!” Sooyoung memekik ketika sadar pandangannya bisa menembus tubuh Yoona. “Yoona?”

Ia melayang ke teras sambil mengayunkan kepala ke kiri dan ke kanan, seirama dengan lagu yang dinyanyikannya. “Yoona?” Yoona terdiam dan kembali tersenyum menatap Sooyoung. Butir-butir salju tersangkut di rambutnya.

“Soo, mulai sekarang kau pasanganku.” ia berbisik. “aku butuh pasangan. Setiap orang di Seoul Camp Lake perlu pasangan.”

“tapi..tapi kau sudah mati!” seru Sooyoung baru menyadarinya. “ia sudah mati dan aku pasangannya?” batin Sooyoung. “berarti….berarti aku juga sudah mati???”

-Chapter 5-

Yoona melayang-layang di atas Sooyoung. Rambutnya berkibar-kibar karena tiupan angin.

“kau sudah mati.” Gumam Sooyoung. “dan..aku juga?” Seketika ia langsung merinding ketika mengucapkan kata-kata itu. Ia mulai mengerti apa yang telah terjadi. Rupanya Yoona tenggelam di perkemahan ini. Di danau itu. Itu sebabnya semua orang di perkemahan begitu serius soal peraturan keselamatan di air. Pantas Yuri selalu berceramah panjang lebar tentang peraturan yang begitu banyak itu dan juga para pembina selalu menekankan bahwa semua peserta kemah harus berpasang-pasangan didanau. Karena Yoona mati tenggelam di danau itu.

“dan sekarang aku menjadi pasangannya? Aku jadi pasangannya….karena aku juga tenggelam.” Batin Sooyoung. “Aaaaaaaaaahhhhhh!!!” pekik Sooyoung. Ia mendongak dan meraung-raung seperti hewan utnuk melampiaskan kesedihannya.

Yoona memperhatikannya sambil terus melayang-layang. Ia menunggu Sooyoung tenang. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan Sooyoung. Yoona menunggu Sooyoung dengan sabar.

Sooyoung mulai berpikir berapa lama Yoona menunggunya? Menunggu seseorang sebagai pasangannya. Pasangan yang sama-sama sudah mati. Sudah berapa lama ia menunggu orang lain tenggelam?

“ANDWAE!!” erang Sooyoung. “aku tidak mau! Aku tidak mau jadi pasanganmu! Aku tidak mau!” Sooyoung berbalik karena saking peningnya, ia hampir jatuh. Ia langsung kabur. Jubah mandinya terbuka dan mengepak-ngepak bagaikan sepasang sayap ketika ia lari menjauhi Yoona. Dengan kaki telanjang ia melintasi salju di tanah. Menembus gumpalan kabut, menerobos suasana yang serba kelabu.

“kajima, Sooyoung.” Sooyoung mendengar Yoona memanggil. “jangan pergi. Kembalilah! Kau harus jadi pasanganku! Aku terperangkap disini. Arwahku tidak bisa meninggalkan perkemahan. Aku tidak bisa masuk ke duniaku yang baru sebelum aku aku dapat pasangan!”

Sooyoung tidak berhenti, ia terus berlari melintasi perkemahan. Melewati pondok-pondok, melewati gudang persediaan di tepi hutan. Ia terus menjauhi suara Yoona yang begitu menyeramkan. “aku tidak mau jadi pasangannya. Aku tidak mau mati!”

Sooyoung berlari menerobos hutan salju, menyusup di antara pohon-pohon gundul tanpa daun yang berderak-derak. Berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia baru berhenti setelah kakinya terbenam dalam air danau yang dingin. Air yang dingin dan suram.

Sooyoung megap-megap mengatur napasnya. Saat ia menoleh, ia melihat Yoona melayang ke arahnya di antara pohon-pohon.

“kau tidak bisa pergi tanpa aku, Soo!” seru Yoona. “kau tidak bisa pergi!”

Sooyoung berpaling darinya. Berpaling ke arah air.

Dadanya, kepalanya, semuanya terasa sakit. Ia tidak bisa bernapas. Dadanya seperti mau meledak. Ia terjatuh ke lumpur dan keadaan serba kelabu di sekelilingnya berubah menjadi hitam pekat.

**

Titik-titik cahaya yang terang benderang tampak menari-nari di atas kepalanya. Seperti kunang-kunang yang beterbangan di lapangan rumput pada malam hari.

Titik-titik itu semakin terang. Bulat, seperti berkas cahaya senter. Semakin terang hingga seolah tengah menatap bola emas yang berkilauan. Ia mengedipkan mata. Baru setelah beberapa lama akhirnya ia sadar ia sedang menatap matahari.

Tiba-tiba ia merasa berat. Ia bisa merasakan tanah di bawah tubuhnya. Ia bisa merasakan bobot tubuhnya yang di topang oleh tanah. Tubuhnya kembali seperti semula. Ia mengerang. Sesuatu bergerak di atasnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Dan melihat Yuri. Wajahnya merah. Tampangnya tegang.

“ohh!” Sooyoung mengerang ketika Yuri menekan dadanya dengan dua tangan. Ia melepaskan tangannya, lalu kembali menekan. Sooyoung merasakan air mengalir dari mulutnya yang terbuka. Ia terbatuk-batuk. Semakin banyak air mengalir lewat dagunya.

“dia mulai siuman!” seru Yuri. “dia selamat!” Dibelakangnya Sooyoung melihat kaki-kaki telanjang, baju-baju renang, para peserta perkemahan itu.

Sooyoung kembali mengerang dan Yuri terus menanganinya dengan cara yang sama. Tidak lama kemudian Sooyoung sadar dan telentang di tanah. Ia telentang di tepi danau sementara Yuri terus memberinya napas buatan. Ia di kelilingi semua peserta perkemahan, mereka semua menonton bagaimana Yuri menyelamatkan nyawa Sooyoung.

“aku…selamat!” kata itu terlontar dengna nyaring dari tenggorokan Sooyoung. Ia duduk tegak dan memandang sekeliling. “semua sudah kembali.” Batin Sooyoung. “sekarang sudah musim panas lagi. Pohon-pohon kelihatan hijau, matahari bersinar cerah. Dan semuanya sudah kembali! Termasuk aku!”

Yuri menghela napas, lalu berlutut disamping Sooyoung. “gwaenchana?” ia bertanya dengan napas terengah-engah.

“kurasa aku baik-baik saja.” gumam Sooyoung. Mulutnya terasa masam dan ia masih merasakan kepalanya agak pusing.

Beberapa anak di belakang Yuri bersorak-sorai dan bertepuk tangan. “kami sempat khawatir kau celaka.” Ucap Yuri. “napasmu berhenti. Benar-benar menyeramkan!”

Dua pembina lain membantu Sooyoung berdiri. “aku baik-baik saja!” seru Sooyoung. “berkat kau, Yul. Kau menyelamatkanku!” Sooyoung memeluk Yuri kemudian ia berbalik dan memeluk Minho. Tiffany dan Taeyeon berdiri didekatnya. Keduanya kaget ketika tiba-tiba Sooyoung memeluk mereka.

Sooyoung begitu gembira karena masih hidup. Ia begitu gembira karena bisa lolos dari musim dingin yang serba kelabu dan lolos dari si gadis hantu di perkemahan itu.

“Soo, apa yang terjadi?” tanya Yuri.

“molla.” Sahut Sooyoung. “nan jeongmal mollaseyo.”

“ketika napasmu berhenti, aku…. Aku ketakutan sekali.” Ucap Yuri gemetaran.

“aku sudah tidak apa-apa sekarang.” Ujar Sooyoung tersenyum. “berkat kau.”

“dia cuma mau cari perhatian.” Tiba-tiba Sooyoung mendengar seseorang bergumam. Ia menoleh dan melihat Jessica berbisik pada orang disebelahnya. “sekarang semua orang harus merasa kasihan padanya,” Jessica mencemooh. “kita semua harus bersikap lebih ramah padanya.”

Sooyoung merasa sakit hati dengan ucapan Jessica. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Jessica tapi ia begitu gembira karena bisa kembali dengan selamat, sehingga ia memilih untuk diam saja.

Sooyoung memegang pundak Minho dan kemudian mengantarnya ke pondoknya, “aku akan menikmati sisa liburan ini.” Ucap Sooyoung pada Minho.

**

Petugas P3K memeriksa Sooyoung dengan teliti. Setelah itu ia pun beristirahat sepanjang sore. Setelah tidur lama, ia merasa perutnya lapar ketika bangun dan ia baru menyadari bahwa ia belum makan apapun dari pagi. Ia pun segera bergegas memakai sweater seragam perkemahan lalu menuju ke api unggun. Bau barbeque tercium jelas saat ia menuju lapangan di tepi hutan.

Leeteuk menyambutnya, “Soo, kau sudah segar lagi!” seru Leeteuk. “aku sudah dengar tentang….tentang apa yang terjadi di danau tadi siang..”

“aku sudah tidak apa-apa sekarang.” Ujar Sooyoung.

“hei, jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi.” Ia menegur Sooyoung. “atau kau akan kusuruh berenang di kolam balita saja.”

“aku akan lebih hati-hati.”

“sebaiknya begitu. Soalnya disini tidak ada kolam balita!” Leeteuk berkelakar membuat Sooyoung tertawa. “duduklah.” Setelah menyuruh Sooyoung duduk ia pun menengok ke sebelahnya. Ia langsung terkejut dengan tampang bete Taeyeon. Sepertinya ia cemburu karena Leeteuk begitu perhatian pada Sooyoung. “Ta..Taeyeon-ah, kenapa dengan tampangmu?”

“pikirkan sendiri!” sahut Taeyeon berbalik meninggalkan Leeteuk.

“ya! Kau marah?”

Taeyeon tidak menjawab dan ia menghempaskan dirinya di kotak kayu yang di jadikan tempat duduk. Ia duduk bersebelahan dengan salah satu peserta perkemahan itu juga, Cho Kyuhyun. Taeyeon mengaitkan tangannya di tangan Kyuhyun membuat namja itu mengerjap-ngerjapkan matanya bingung.

“ya! Kenapa kau menggandeng anak itu?!” sembur Leeteuk. Taeyeon tidak meresponnya dan malah semakin mengeratkan tangannya. “ya! Kim Taeyeon!”

“wae? Memangnya kau siapa melarang-larangku?” balas Taeyeon menjulurkan lidahnya. “pergi sana pada Sooyoung!”

Sesaat kemudian Leeteuk menyeringai, “hei, kau cemburu?” goda Leeteuk.

“aniyo!!” elak Taeyeon.

“jinjja?” tanya Leeteuk semakin melebarkan senyumnya. “kalau tidak, kenapa kau tampak kesal?”

“siapa yang kesal?!”

“lalu kenapa kau lari ke anak ini?” ucap Leeteuk menunjuk Kyuhyun.

“karena… karena aku menyukainya!”

“mwo??” kejut Leeteuk dan Kyuhyun pun ikut terkejut.

“ne! aku menyukainya!” sahut Taeyeon.

“haha.. mana mungkin!”

“kau tidak percaya? Baiklah akan kubuktikan.” CHU~ Tiba-tiba Taeyeon mencium pipi Kyuhyun membuat Kyuhyun dan Leeteuk membelalakan matanya. Begitu juga dengan peserta lain yang sedari tadi menonton. Taeyeon menatap Leeteuk sambil mengeluarkan senyum evilnya. “bagaimana?”

“ya! Kau..”

“keumanhae!” potong Yuri menghentikan pertengkaran konyol itu. “lanjutkan pertengkaran kalian nanti saja! sekarang semuanya harus duduk dan mengadakan pertemuan dulu sebelum makan!”

Dengan raut wajah kesal, Leeteuk duduk di samping Taeyeon. Ia terus memelototi Taeyeon yang masih saja menggandeng tangan Kyuhyun. “ya! Lepaskan tanganmu dari anak itu!”

“sireo!” tolak Taeyeon.

“aisshh..”

Melihat wajah kesal Leeteuk, Kyuhyun terpancing untuk membuatnya mengeluarkan kejahilannya. “Taeyeon-ah..”

“ne?”

“bagaimana kalau kita duduk disana saja?” ajak Kyuhyun menunjuk kursi di sebrangnya yang di peruntukan hanya untuk 2 orang.

Taeyeon menoleh menatap Kyuhyun dan mengerti maksudnya, “ah~ tentu. Kajja!” Taeyeon menyeret Kyuhyun menuju kursi itu meninggalkan Leeteuk yang menganga lebar melihatnya. Dari jauh Taeyeon dan Kyuhyun melihat wajah kesal Leeteuk. “haha.. ia tampak sangat kesal.”

Kyuhyun menoleh pada Taeyeon melihat wajahnya yang tampak puas, “ne.” sahutnya. “Taeyeon-ah..”

“hm?”

“setelah acara ini selesai, bisa bicara sebentar berdua saja?”

Taeyeon mengernyitkan dahinya dan beralih menatap Kyuhyun. “memangnya ada apa?”

“aniyo. Aku hanya ingin mengobrol sebentar.”

“kenapa tidak disini saja sekarang?”

“tidak bisa. Bukannya Yuri menyuruh kita mengikuti rapat? Tentu kita harus memperhatikannya.”

“ah~ benar juga.” Sahut Taeyeon. “baiklah.”

Kyuhyun tersenyum dan mengelus rambut Taeyeon. Dari jauh Leeteuk melihatnya dan wajahnya semakin memanas. Dengan emosi, ia menyeruput secangkir kopi di tangannya dan “akh panas! Panas!!” ia memuntahkan kembali kopi itu dan menjulurkan lidahnya yang kepanasan.

Yuri hendak memulai rapat dan sebagian para peserta telah mengambil tempat duduk masing-masing. Sooyoung memandang sekeliling untuk mencari tempat kosong.

“Sooyoung…?” terdengar sebuah suara memanggilnya. “Sooyoung.. sebelah sini!” Saat Sooyoung menoleh kearah suara, ia memekik kaget. Ia melihat Yoona di dekat tepi hutan. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar di terpa angin dan cahaya senja yang kemerahan menembus tubuhnya. “kemarilah, Soo!” Yoona memanggil. “ayo temani aku. Kita kan berpasangan!”

Sooyoung menempelkan tangan ke pipi dan menjerit sejadi-jadinya.

“tidak mungkin! Kau tidak mungkin disini!” pekik Sooyoung. “kau hantu! Aku masih hidup!” Sooyoung berbalik dan melihat Yuri serta Leeteuk bergegas kearahnya. Minho pun bangkit dan berlari menghampirinya.

“noona! Wae??” cemas Minho.

“apa kalian tidak melihatnya??” ujar Sooyoung dengan suara melengking. Ia menunjuk balok kayu di tepi hutan. “dia hantu! Tapi aku masih hidup!”

Yuri segera merangkul Sooyoung, “tenang, Soo.” Bisik Yuri. “kau tidak apa-apa.”

“tapi..tapi dia duduk disitu!” ucap Sooyoung tergagap-gagap. Semuanya menoleh ke balok kayu itu.

“tidak ada siapa-siapa disitu.” Ujar Leeteuk dan kemudian ia menoleh ke arah Taeyeon dan Kyuhyun tidak jauh darinya. Ia terlihat marah melihat Kyuhyun melingkarkan tangannya di pundak Taeyeon yang tampak mencemaskan Sooyoung.

“mungkin kau masih bingung karena kejadian tadi.” Ucap Yuri dengan lembut. “itu wajar saja.”

“tapi..tapi..” Sooyoung tergagap-gagap. Ia melihat Tiffany dan Jessica berkumpul sambil berbisik-bisik dan kemudian Taeyeon ikut mendengar apa yang dibisikan kedua yeoja itu sambil terus memperhatikan Sooyoung. “apa yang sedang mereka pikirkan tentangku?” tanya Sooyoung dalam hati.

“kau mau diantar ke pondok?” tawar Leeteuk. Taeyeon menoleh kearahnya dan mengerutkan keningnya.

“tidak usah.” Jawab Sooyoung. “aku lapar sekali.”

Yuri tertawa, “mungkin itu masalahmu. Saking laparnya kau mulai melihat yang bukan-bukan. Ayo, biar kuambilkan makanan untukmu.”

Setelah makan cukup banyak, ia mulai merasa lebih baik. Pertemuan api unggun dibuka. Sooyoung duduk bersama beberapa peserta perempuan dari pondok lain. Sementara Leeteuk terus berbicara sambil sesekali melirik Taeyeon yang tampak akrab dengan Kyuhyun.

Sooyoung memperhatikan wajah para peserta perkemahan yang tampak kemerahan karena memantulkan cahaya api unggun. Sooyoung mengamati mereka satu persatu. “kenapa Taeyeon terlihat mesra dengan anak itu?” pikir Sooyoung. Sedetik kemudian ia teringat kembali pada Yoona. “dimana Yoona? Apa ia masih disini mengawasiku? Masih menunggu agar aku berpasangan dengannya?”

Sooyoung duduk dengan tegang. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Matanya mencari-cari wajah Yoona yang pucat. Tapi ia telah lenyap. Untuk sementara.

Yuri menggantikan Leeteuk didepan. Hampir semua peserta mengeluh ketika ia mulai berceramah lagi tentang keselamatan di air. “kita mengalami kejadian yang tidak diinginkan hari ini,” ucap Yuri. “salah satu teman kita nyaris celaka.” Setelah Yuri mengatakan itu, semua orang langsung menoleh kearah Sooyoung. Ketika Sooyoung menoleh, ia melihat Tiffany, Jessica, dan Taeyeon di balok kayu sebelah. Mereka tampak masih berbisik-bisik. Namun tampaknya hanya Tiffany dan Jessica yang terus berbisik, sedangkan Taeyeon sesekali ia mengobrol dengan Kyuhyun yang duduk disebelahnya.

“peraturan keselamatan air sangat penting di perkemahan ini.” Kata Yuri. “di antara kalian ada yang menganggap bahwa banyaknya peraturan disini merupakan kutukan bagi Seoul Camp Lake.” Yuri berdiri sambil bertolak pinggang, menatap semua peserta satu persatu, “tapi seperti yang kita lihat tadi sore, sistem pasangan bukan kutukan, melainkan cara yang ampuh untuk menjaga keselamatan.”

Saat mendengar ucapan Yuri, Sooyoung menahan napas. Ia melihat sebuah wajah muncul di balik api unggun.

Yoona!

Namun kemudian…bukan! Ternyata ia anak perempuan dari pondok lain yang mau mengambil makanan lagi. Sooyoung menarik napas lega.

“aku harus pergi dari sini.” Ujar Sooyoung dalam hati. “aku tidak akan bisa bergembira disini. Aku pasti waswas terus karena terbayang-bayang wajah Yoona.”

Yuri kembal menjelaskan semua peraturan. Kemudian Leeteuk membacakan beberapa pengumuman, lalu semua bernyanyi bersama.

Sehabis acara semua peserta langsung bangkit dan menuju ke pondoknya masing-masing. Namun tidak dengan Kyuhyun dan Taeyeon. Diam-diam Kyuhyun membawa Taeyeon ke tempat lain yang cukup sepi.

“kenapa kau membawaku kemari?” tanya Taeyeon tampak waswas memperhatikan sekelilingnya yang begitu sepi.

“jangan takut. Aku tidak akan berbuat macam-macam.” Ucap Kyuhyun.

“lalu….ada apa?” tanya Taeyeon lagi sambil memeluk tubuhnya sendiri karena tiupan angin malam itu lumayan kencang. Kyuhyun melepas sweaternya dan mengenakannya di pundak Taeyeon.

“aku hanya ingin bertanya tentang…” Kyuhyun berhenti sejenak, “tentang ucapanmu tadi di depan Leeteuk.”

“hm?” Taeyeon mengerutkan keningnya, “yang mana?”

“soal kau…menyukaiku.” Sahut Kyuhyun pelan sambil menggaruk tengkuknya.

“oh soal itu.” Taeyeon mengangguk-angguk mengerti.

“jadi?”

“aku memang menyukaimu.”

Kyuhyun melebarkan matanya, “jinjja??”

“ne. Kau menarik, lucu, dan juga senang menjahili orang.” Ucap Taeyeon tertawa. “aku juga senang dengan caramu tadi mengerjai Leeteuk.

“hanya itu?” tanya Kyuhyun pelan. Terdengar seperti kekecewaan. Taeyeon mengangguk mengiyakan pertanyaan Kyuhyun. “tidak lebih?”

“hm? Maksudmu?” bingung Taeyeon.

“apa kau hanya mencintai Leeteuk?” tanya Kyuhyun membuat Taeyeon semakin bingung. “jadi ucapanmu tadi itu hanya untuk mengerjainya?”

“kau ini bicara apa?”

“Taeyeon-ah..” Kyuhyun meletakan kedua tangannya di pipi kiri dan kanan Taeyeon membuatnya terkejut. “apa kau tidak pernah melihatku?”

“Kyu..”

“apa aku tidak bisa menggantikan posisi Leeteuk di hatimu?”

“Kyu, jangan begini.” Ucap Taeyeon berusaha melepaskan kedua tangan Kyuhyun di wajahnya namun Kyuhyun menolaknya dan terus menangkup wajahnya.

“aku tidak peduli kau mempunyai hubungan dengan Leeteuk tapi tidak bisakah kau mulai mencintaiku dan….kita lakukan saja hubungan kita diam-diam di belakang Leeteuk.”

Ucapan Kyuhyun itu membuat Taeyeon membelalakan matanya. “mianhae, Kyu. Aku tidak bisa melaku…”

Kyuhyun tidak membiarkan Taeyeon melanjutkan ucapannya dengan membungkam mulutnya dengan bibirnya. Taeyeon membelalakan matanya menerima serangan(?) bibir Kyuhyun yang tiba-tiba. Taeyeon mendorong tubuh Kyuhyun dan seketika ia menamparnya. Taeyeon menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan kemudian ia melepaskan jaket Kyuhyun yang melekat di tubuhnya dan mengembalikannya pada Kyuhyun. Tanpa berkata-kata ia pergi meninggalkan Kyuhyun yang berdiri mematung di tempat itu melihat Taeyeon yang berjalan semakin menjauhinya.

“ku harap suatu hari kau bisa melihatku.” Gumam Kyuhyun.

Di tempat lain, Sooyoung berjalan menuju pondoknya. Di tengah perjalanan, ia mendengar suara langkah di belakangnya. Ia juga mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mulai waswas khawatir jika itu adalah Yoona. Namun kemudian ia bisa bernapas lega saat melihat Minho berlari menyusulnya.

“kenapa kau jerit-jerit tadi?” tanya Minho “kau benar-benar percaya kau melihat hantu?”

“kenapa aku harus menjelaskannya padamu?” ketus Sooyoung sambil kembali berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah-langkah panjang. “paling-paling kau hanya akan menertwakanku nanti.”

“coba dulu.” Ucap Minho. “aku tidak akan tertawa. Aku janji!”

“aku melihat seorang perempuan yang sudah jadi hantu,” sahut Sooyoung. “sungguh. Dia memanggilku. Dia ingin aku jadi pasangannya.”

Minho tertawa, “yang benar saja. jangan bercanda.”

“aku serius!!” pekik Sooyoung kesal karena Minho menertawakannya. “aku mau pergi dari sini. Aku harus pergi! Aku harus cari telepon untuk menghubungi appa dan eomma malam ini juga! Aku akan menelepon mereka dan minta jemput!”

“hajima!” sahut Minho. Ia meraih lengan Sooyoung dan memaksanya berhenti.

“eomma dan appa pasti tidak mau dua kali kemari. Kalau kau menelepon mereka, aku pasti di suruh pulang sekalian.” Minho memprotes. “aku tidak mau pulang. Aku senang disini!”

“kau tidak mengerti! Aku tidak bisa tinggal disini. Aku tidak…”

“jebal.” Minho memohon. “coba lagi saja dulu. Kau masih bingung karena kejadian di danau tadi sore tapi sebentar lagi kau pasti sudah lupa.”

Sooyoung tidak menjawab ya dan juga tidak menjawab tidak. Ia hanya mengucapkan selamat mlaam pada adiknya itu lalu menuju ke pondoknya.

Sesampainya di pondok, Sooyoung berhenti di depan pintu. Semua lampu masih menyala. Ia mendengar Tiffany dan Jessica mengobrol pelan-pelan. Ia tidak mendengar suara Taeyeon.

Ketika Sooyoung masuk, Tiffany dan Jessica mndelik. Taeyeon ada disitu namun ia berbaring menelungkup di tempat tidurnya. Wajah Tiffany dan Jessica tampak tegang dan tiba-tiba mereka bergerak dengan cepat. Dalam sekejap saja, Sooyoung sudah terkepung.

“a..ada apa ini?” ucap Sooyoung tergagap-gagap. “kalian mau apa??”

“kami mau minta maaf.” Ujar Tiffany. Taeyeon mendengar ucapannya dan segera bangkit namun sebelum itu ia tampak mengusap matanya yang memerah.

“kami memang agak keterlaluan selama ini,” sesal Jessica.

“kami sempat membahas masalah ini,” kata Tiffany, “tapi…”

“kami merasa kami tidak adil padamu,” ucap Taeyeon sambil berjalan mendekat. “maafkan kami, Soo.”

Hal ini benar-benar di luar dugaan Sooyoung. Saking terkejutnya, ia nyaris tidak bisa berkata apa-apa.

“bagaimana kalau kita mulai dari awal lagi?” usul Tiffany. Ia meraih tangan Sooyoung. “mari berkenalan, Soo. Namaku Tiffany.”

“benar. Kita mulai dari awal!” seru Jessica.

“gomawo. Nan jeongmal haengbokhae.” Jawab Sooyoung bersungguh-sungguh.

Jessica berpaling pada Taeyeon. “hei, kapan kau mengecat kuku seperti itu?”

Taeyeon tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. Kukunya berwarna ungu cerah. “ini warna baru. Warna favoritku. Aku mencat kuku sehabis berenang tadi.”

“wah, warna favoritmu sama dengan Kyuhyun.” Seru Tiffany membuat Taeyeon terkejut dan menoleh kearahnya. Mendengar nama Kyuhyun membuatnya teringat kembali kejadian beberapa waktu lalu. “warna apa sih itu?” tanya Tiffany lagi.

“eh? Mm..ini..Grape Juice, kalau tidak salah.” Jawab Taeyeon.

“kenapa kau terdengar gugup?” heran Jessica. “Grape Juice? Nama cat kuku memang selalu aneh-aneh. Boleh aku coba?”

“tentu.” Jawab Taeyeon. “Soo, kau mau juga?”

“mm…boleh.” Jawab Sooyoung. “tapi.. Taeyeon apa kau baik-baik saja? kenapa matamu merah seperti habis menangis?”

“eh? aniyo.” elak Taeyeon diselingi tawa kecil. “mungkin karena tadi aku sudah hampir tertidur dan tiba-tiba saja terbangun lagi.”

“oh begitu..” sahut Sooyoung manggut-manggut.

Akhirnya mereka larut dalam acara(?) itu hingga tidak peduli bahwa waktu untuk mematikan lampu telah lewat. Mereka terlalu asyik mengecat kuku.

Beberapa saat kemudian Sooyoung berbaring di tempat tidurnya sambil tersenyum. “aku telah mendapat tiga orang teman.” Batin Sooyoung. “mereka benar-benar membuatku gembira.”

Namun tidak lama kemudia senyum itu langsung meredup ketika ia mendengar bisikan dalam gelap. “Sooyoung.. Choi Sooyoung..” Sooyoung menahan napas. Tiba-tiba saja suara itu sudah begitu dekat..begitu dekat dengan telinganya. “Soo, kukira kita berpasangan. Kenapa kau meninggalkanku?”

“andwae…andwae..!” ucap Sooyoung memohon.

“Soo, aku sudah menunggumu begitu lama.” Suara itu berbisik. “ikutlah denganku. Ikutlah denganku, Soo..” dan tiba-tiba pundaknya digenggam tangan yang sedingin es.

“oh!!” Sooyoung langsung duduk tegak dan kemudian menatap mata Tiffany yang gelap.

Ia menurunkan tangannya dari pundak Sooyoung, “Soo, ada apa? Kau merintih-rintih tadi.”

“eh?? Apa??” suara Sooyoung gemetar, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya bermandikan keringat.

“kau merintih-rintih.” Ulang Tiffany. “jadi kupikir lebih baik kau di bangunkan saja.”

“ehm…gomawo.” Ujar Sooyoung. “mungkin gara-gara mimpi buruk.”

Tiffany mengangguk dan kembali ke tempat tidurnya. Sooyoung tidak bergerak, ia terus duduk sambil menatap kegelapan di sekelilingnya. “mimpi buruk?” tanya Sooyoung dalam hati. “rasanya bukan..”

To be continue..

Abis ini part terakhir dan TIDAK AKAN DI PROTEKSI! 😀

RCL, please! 😉

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 3)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-Previous Chapter-  

“AKU BENCI PERKEMAHAN INI!!” aku menjerit. Beberapa laba-laba kusingkirkan dengan menggunakan senter.

Dan tiba-tiba aku mendapat ide. Apa salahnya kalau aku membalas perbuatan Tiffany dan Taeyeon  padaku? Mereka telah mempermalukanku didepan semua peserta perkemahan. Padahal aku tidak berbuat apa-apa terhadap mereka.

Aku mengeluarkan baterai senter. Aku  menarik napas dalam-dalam, lalu aku membungkuk dan memasukkan segenggam laba-laba kedalam selongsong senter.

Isshh. Aku sampai merinding! Bayangkan saja aku harus memegangi laba-laba! Tapi aku tahu pengorbananku takkan sia-sia. Aku mengisi senterku dengan makhluk-makhluk hitam yang bergeliut tanpa henti. Setelah penuh. tutupnya kupasang lagi.

Kemudian aku mencari jalan pulang. Aku melangkahi pohon tumbang. Dalam waktu singkat, jalan setapak sudah ku temukan kembali. Sambil membawa senter dengan hati-hati, aku bergegas ke pondokku.

Aku berhenti didepan pintu. Lampu-lampu di dalam masih menyala. Aku mengintip lewat jendela yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa didalam. Aku pun menyelinap masuk.

Aku menyibak selimut di tempat tidur Tiffany. Kemudian kutuangkan setengah dari laba-labaku ke tempat tidurnya. Selimutnya kurapikan kembali. Sekarang aku akan menuangkankan sisa laba-laba itu di tempat tidur Taeyeon  namun saat aku sedang menuangkannya, terdengar suara langkah di belakangku. Cepat-cepat aku merapikan selimut Taeyeon dan berbalik.

Seseorang muncul di pintu, “hei, apa yang kau lakukan?!”

-Chapter 3-

Jessica muncul di pintu.

“eo..eobseo!” jawab Sooyoung menyembunyikan senternya di belakang punggung.

Jessica menguap. “sepuluh menit lagi lampu-lampu harus dimatikan.”

“n..ne. araseumnida.” Jawab Sooyoung. Ia melirik ke tempat tidur Tiffany. Salah satu sudut selimutnya belum sempat ia rapikan. Tapi Tiffany tidak akan tahu, pikir Sooyoung.

Tanpa sadar, Sooyoung senyum-senyum sendiri. Tapi kemudian ia cepat-cepat pasang tampang serius tidak ingin Jessica melihatnya dan mencurigainya.

“besok kau ikut kegiatan apa?” tanya Jessica sambil berlalu menuju lemarinya mengeluarkan piyamanya. “renang bebas?”

“bukan. Dayung.” Jawab Sooyoung. “aku ingin naik perahu dayung yang kering dan aman. Aku tidak berminat mondar-mandir di danau kotor yang penuh ikan dan makhluk lainnya.”

“hei, aku juga!” seru Jessica.

Sooyoung hendak bertanya apakah Jessica mau jadi pasangannya untuk berdayung besok, namun Tiffany dan Taeyeon keburu masuk. Mereka melihat Sooyoung dan langsung tertawa terbahak-bahak mengingat keusilan mereka.

“seru sekali tarian yang kau bawakan waktu api unggun tadi,” ucap Tiffany menertawai Sooyoung.

“gayanya seperti kalau ada ular dipunggungmu!” Taeyeon menimpali dan mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak.

“tertawalah sepuas-puasnya. Beberapa menit lagi giliranku yang tertawa. Aku sudah tidak sabar.” Batin Sooyoung.

Beberapa menit kemudian, Jessica mematikan lampu.

Sooyoung berbaring di kasurnya yang keras dan menatap kasur Tiffany di atasnya. Ia cengar-cengir sendiri dan menunggu..

Menunggu..

Tiffany berbalik di tempat tidurnya. Sooyoung bisa mendengarnya menarik napas keras. Dan kemudian Taeyeon dan Tiffany mulai menjerit-jerit. Sooyoung tertawa keras, ia tidak sanggup menahan diri.

“aku digigit! Aku digigit!” panik Tiffany. Lampu-lampu dinyalakan kembali.

“tolong!” Taeyeon memekik. Ia melompat turun dari tempat tidur.

“aku digigit!” teriak Tiffany lagi. Ia dan Taeyeon melompat-lompat dan menggeliat-geliut. Mereka menepuk-nepuk lengan, kaki, dan punggung masing-masing. Sooyoung sampai harus menggigit bibir untuk menahan tawa.

“laba-laba! Mereka ada di mana-mana!” Taeyeon memekik. “akh!! Mereka menggigitku!” ia menarik lengan baju tidurnya, “akh!! Appo!” pekiknya mulai menangis.

Jessica berdiri di samping saklar lampu. Sooyoung masih duduk di tempat tidur menonton Taeyeon dan Tiffany yang masih disibukan oleh laba-laba itu. Tapi kemudian, ucapan Jessica menyingkirkan senyum dari wajah Sooyoung.

“Sooyoung yang menaruh laba-laba di tempat tidur kalian!” ia memberitahu Tiffany dan Taeyeon. “aku memergokinya mengotak-atik tempat tidur kalian waktu aku masuk tadi.”

“Dasar tukang ngadu!” batin Sooyoung. “Mungkin ia masih marah padaku karena aku menumpahkan obat asmanya.”

Sedetik kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Jessica segera membukakannya.

“ada apa malam-malam begini ribut-ribut?” heran Leeteuk. Ia segera melihat Taeyeon yang sudah berurai airmata, “ya! Taeyeon-ah! Waegeurae?” paniknya menghampiri yeojanya itu. Ia tercengang melihat tangan dan kaki Taeyeon serta Tiffany yang memerah.

“oppa, Sooyoung menaruh laba-laba di tempat tidur Taeyeon dan Tiffany!” lapor Jessica pada Leeteuk.

“mwo?” kejut Leeteuk berganti menatap Sooyoung tidak percaya. “ah, sebaiknya kalian segera ke ruang P3K untuk memastikan laba-laba itu tidak beracun. Kajja!” Leeteuk pun membawa Taeyeon dan Tiffany menuju ruang P3K.

“kau ingin mereka masuk rumah sakit karena di gigit laba-laba itu??” sinis Jessica.

“mana ku tahu laba-laba jenis itu beracun.” Sahut Sooyoung tanpa bersalah, “lagi pula mereka pantas menerimanya karena telah mengerjaiku terlebih dahulu!”

Jessica hanya mencibir dan kembali ke tempat tidurnya.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Tiffany masuk seorang diri.

“bagaimana luka gigitannya? Mana Taeyeon?” tanya Jessica menghampiri Tiffany.

“aku sudah di obati. Taeyeon terpaksa harus menginap di ruang P3K karena luka gigitannya cukup parah.” Jawab Tiffany dan ia melirik Sooyoung dengan tatapan marah.

“mianhae..” ucap Sooyoung namun Tiffany tidak menanggapinya.

“Sica, aku tidur denganmu ya. Aku takut laba-laba itu masih berkeliaran di tempat tidurku.” Jessica pun mengangguk.

“mereka tidak mau berteman denganku? Sepertinya mereka semakin tidak menyukaiku. Tapi…ya sudah, aku akan mencari teman lain.” Batin Sooyoung.

Sementara itu di ruang P3K, Leeteuk menunggui Taeyeon yang terus menangis kesakitan akibat gigitan laba-laba itu.

“uljima.” Leeteuk menyeka airmata Taeyeon.

“temani aku disini. Aku takut tidur sendirian disini.”

“ne.”

“kalau kau ngantuk berbaring saja di sebelahku.” Ucap Taeyeon menggeser tubuhnya memberikan sedikit tempat untuk Leeteuk.

“baiklah.” Leeteuk beranjak dan membaringkan dirinya disebelah Taeyeon dan memeluknya.

“gomawo, ajussi.”

Leeteuk tertawa mendengar ucapan Taeyeon, “cheonma, ajumma!” ucap Leeteuk semakin mengeratkan pelukannya.

“ajussi..”

“hm?”

“terlalu erat.” Ucap Taeyeon. “sesak.”

“o..oh..ne.” sahut Leeteuk tergagap dan melonggarkan pelukannya.

**

Keesokan pagi, di bangsal asrama, Sooyoung sarapan seorang diri. Diruangan itu ada 2 meja panjang yang membentang dari dinding ke dinding. Satu untuk anak laki-laki, satu lagi untuk perempuan.

Sooyoung duduk di ujung meja dan makan sereal tanpa berkata apa-apa. Semua yeoja yang duduk disitu asyik bercerita. Taeyeon sudah lebih baik dan kini ia duduk disamping Tiffany dan menatap Sooyoung dengan pandangan tidak menyenangkan.

Sooyoung mengacuhkan tatapan Tiffany dan Taeyeon, kini ia beralih melihat Minho di meja lain. Ia dan teman-temannya asyik bercanda. Minho menaruh sepotong kue panekuk di  keningnya, dan anak lain menepuknya sampai jatuh. “paling tidak ada yang gembira.” Pikir Sooyoung. Ingin rasanya ia menghampiri Minho dan memberitahunya betapa tertekannya ia di tempat ini. Tapi ia tahu pasti Minho akan menyuruhnya jangan terlalu serius. Karena itu Sooyoung memilih untuk diam di meja itu sambil mengunyah sarapannya.

“apakah keadaan nanti akan bertambah baik dalam kegiatan dayung?” batin Sooyoung.

**

Tiba waktunya kegiatan dayung. Peserta lain sudah mulai mendorong perahu masing-masing ke dalam air. Mereka semua sudah punya pasangan. Kecuali Sooyoung.

Yuri menghampiri Sooyoung. Pagi itu Yuri begitu sexy dengan pakaian yang dikenakannya. Tak sedikit namja yang bersuit-suit melihat kemolekan tubuhnya.

tumblr_lf7eo3qgSC1qb8lxuo1_500

“siapa namamu?” tanyanya sambil terus mengawasi peserta lain.

“Sooyoung.” Jawab Sooyoung. “aku mendaftarkan diri untuk kegiatan dayung, tapi…”

“kau perlu pasangan.” Yuri menyela. “cari pasangan dulu. Perahu-perahu disimpan disebelah sana.” Ia menunjuk, lalu berjalan menjauh.

Satu persatu perahu itu meluncur ke air. Gemericik air terdengar dimana-mana. Sooyoung bergegas ke tempat perahu sambil mencari pasangan. Sooyoung hampir menyerah saat ia melihat Jessica yang sedang menyeret perahunya ke air.

“kau sudah dapat pasangan?” tanya Sooyoung. Jessica menggelengkan kepala. “bagaimana kalau kita bergabung saja?”

“tidak usah.” Balas Jessica dengan ketus. “jangan-jangan ada serangan laba-laba lagi nanti.”

“oh, ayolah~!” Sooyoung berusaha membujuknya.

“kalian berpasangan?” tanya Yuri yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Sooyoung dan Jessica.

“aniyo. Aku..”

“aku ingin berpasangan dengannya tapi ia tidak mau.” Sooyoung menyela. Jessica tampak kesal.

“kalau begitu bawa perahu kalian ke air.” Yuri memerintahkan. “tinggal kalian yang masih di darat.”

Jessica hendak memprotes tapi akhirnya ia angkat bahu dan menghela napas, “oke, Soo. Kajja.”

Sooyoung dan Jessica mengenakan jaket pelampung kemudian meraih dayung dan memegang haluan perahu. Mereka menyeret perahu itu ke air.

Perahu kecil itu berayun-ayun. Arusnya kecil namun ternyata cukup deras. Ombak kecil terus menjilati  tepi danau yang ditumbuhi rumput.

Jessica masuk ke perahu dan mengambil tempat duduk di depan. “terima kasih kau telah mempermalukanku didepan Yuri.” Ucap Jessica.

“aku tidak bermaksud..” Sooyoung berusaha menjelaskan namun Jessica cepat-cepat menyelanya.

“dorong perahunya!”

Sooyoung melemparkan dayungnya ke dalam perahu. Kemudian membungkuk dan mendorong perahu itu. Perahu meluncur, ia melangkah ke air dan memanjat masuk ke perahu.

“aduh!” perahu itu nyaris terbalik ketika Sooyoung menaiki perahu itu.

“ya! Hati-hati!” bentak Jessica. “huh, dasar! Begini saja tidak bisa!”

“mianhae.” Ucap Sooyoung. Ia tidak mau kehilangan pasangannya dan berusaha tidak membuat masalah lagi.

Sooyoung duduk di belakang Jessica. Perahunya berayun-ayun ketika mereka mulai mendayung.  Permukaan danau berkilau terkena pantulan sinar matahari pagi yang cerah. Keduanya membisu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah gemericik air dari kayuhan dayung itu. Beberapa perahu berada didepan dan Jessica serta Sooyoung tertinggal jauh di belakang.

Jaket pelampung yang mereka kenakan membuat mereka gerah. Mereka melepas pelampung itu dan meletakkannya di dalam perahu itu. Mereka mendayung dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan.

Sooyoung menoleh ke belakang. Tepi danau tampak jauh sekali. Ia langsung merinding. Ia tidak terlalu pintar berenang. Mendadak ia ragu apakah ia bisa berenang ke tepi danau itu jika terjadi sesuatu.

“hei!” kejut Sooyoung saat perahu itu tiba-tiba terombang-ambing. “ah!!” Sooyoung berpegangan pada pinggiran perahu.

Sooyoung menoleh ke depan dan  ia terkejut melihat Jessica berdiri! “Sica, apa yang kau lakukan??!”

Perahu semakin oleng. Sooyoung mencengkram tepi perahu erat-erat. Jessica maju selangkah. Perahu bertambah miring. Air segera masuk dan  membasahi kaki Sooyoung. “Sica, stop!!” Sooyoung berteriak. “duduklah! Kau  mau apa??!!”

Jessica berbalik menatap Sooyoung sambil memicingkan mata. “selamat tinggal, Sooyoung!” ia membuka T-shirt yang menutupi baju renangnya, lalu membuangnya ke danau.

“andwae!!” Sooyoung memohon. “jangan tinggalkan aku disini. Aku tidak jago berenang! Bagaimana kalau perahunya terbalik?? Aku tidak sanggup berenang ke tepi danau!”

“gara-gara kau liburanku jadi kacau!” tukas Jessica dengan sengit. “gara-gara kau  juga aku  tidak boleh ikut perjalanan enam hari menjelajahi danau dengan perahu.”

“t..tapi aku tidak sengaja..” Sooyoung tergagap.

“dan kau juga mencari gara-gara dengan Tiffany dan Taeyeon,”

“a..ani!” Sooyoung berusaha menyela. “aku sudah minta maaf. Aku tidak bermaksud..”

Jessica bergeser sedikit, sehingga perahu itu oleng ke arah berlawanan. Kemudian ia bergeser lagi ke arah semula. Sekali lagi. Dan sekali lagi. Ia sengaja membuat perahu oleng, ia sengaja menakut-nakuti Sooyoung.

“jangan, Sica! Nanti perahunya terbalik!” Sooyoung memohon. Namun tingkahnya malah semakin menjadi. “aku tidak pandai berenang. Aku tidak bisa…”

Jessica mendengus kesal. Kemudian ia mengangkat tangannya, menekuk lutut, bertolak kuat-kuat dan terjun ke danau.

“ANDWAE!!!” pekik Sooyoung sementara perahu terombang-ambing dengan hebat. Air bercipratan ke segala arah.

Perahu itu oleng.. berayun-ayun.. dan akhirnya terbalik!

Sooyoung terpental dan disambut air danau yang dingin. Saking kagetnya, ia tidak bisa bergerak. Perahu itu terombang-ambing di  permukaan danau. Sooyoung terbatuk-batuk karena mulut dan hidung yang kemasukan air. Ia mengayunkan tangan dan kakinya. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil naik ke permukaan air.

Terbatuk-batuk, menarik napas dalam-dalam. Ia melakukan itu berkali-kali. Sooyoung memandang sekeliling, dan melihat perahu mengapung dalam posisi terbalik. Sesaat kemudian napasnya mulai normal, begitu juga detak jantungnya.

Ia berenang ke perahu, memeluknya dengan sebelah tangan, dan berpegangan erat-erat. Sambil memicingkan mata karena silau, ia menoleh ke kiri-kanan untuk mencari Jessica.

“Sica? Sica? Dimana kau?” Sooyoung berbalik dan memandang ke segala arah. Dadanya seakan-akan di cengkram tangan-tangan dingin. “Sica? Sica? Kau bisa mendengarku?”

Sebelah tangannya berpegang pada perahu, dan tangan yang satunya lagi melindungi matanya dari sinar matahari. “Sica? Jessica!?” ia memanggil nama itu sekeras mungkin. Dan tidak lama kemudian, ia melihatnya. Sooyoung melihat rambut pirangnya yang berkilau terkena cahaya matahari. Ia juga melihat baju renangnya yang berwarna merah. Lengannya bergerak dengan mantap. Tendangan kakinya meninggalkan buih di permukaan air. Ia sedang berenang ke tepi danau.

Sooyoung berbalik dan mencari perahu-perahu lain. Sambil memicingkan mata, ia melihat semua perahu jauh di depan. Terlalu jauh untuk mendengar teriakannya. “mungkin perahunya bisa ku tegakkan lagi. Dan aku bisa naik lalu mendayungnya hingga ke tepi.” Gumam Sooyoung. “tapi…mana dayungnya??”

Sooyoung memandang ke arah perkemahan dan melihat Jessica yang berbicara dengan Yuri. Ia melambai-lambaikan tangan dan menunjuk-nunjuk ke danau. Menunjuk kearah Sooyoung. Peserta lain mulai berkerumun di sekeliling mereka. Kemudian terlihat Yuri menyeret perahu ke air.

“ia mau menyelamatkanku?” pikir Sooyoung. “sepertinya Jessica memberitahunya bahwa aku tidak sanggup berenang ke tepi.”

Anak-anak itu memperhatikan Sooyoung dan Sooyoung berpikir mereka menganggap dirinya payah yang tidak bisa berenang ke tepi namun Sooyoung tidak peduli dengan itu. Yang ia inginkan hanya bisa kembali ke daratan yang aman dan kering.

Yuri tidak butuh waktu lama untuk berdayung ke tempat Sooyoung mengapung. Saat Sooyoung naik ke perahunya, ia bermaksud segera berterima kasih namun Yuri tidak memberinya kesempatan berbicara. “kenapa kau melakukannya, Soo??”

“eh? Melakukan apa?” bingung Sooyoung.

“membalikkan perahu!!” Yuri mendesak. Sooyoung hendak memprotes tapi suaranya seakan-akan tersangkut di tenggorokan. Yuri menatapnya sambil mengerutkan kening, “Jessica bilang kau sengaja membalikkan perahu. Apa kau tidak tahu itu sangat berbahaya?!”

“tapi..tapi..”

“aku akan mengadakan pertemuan khusus karena kejadian ini.” Ujar Yuri. “keselamatan di air sangat penting. Semua peraturan harus selalu di taati! Seoul Camp Lake tidak akan ada kalau peserta tidak mentaati semua peraturan.”

“kenapa malah jadi begini?” gumam Sooyoung.

**

Yuri mengadakan pertemuan di bangsal utama. Dan semua peserta diwajibkan hadir. Ia kembali membahas semua peraturan keselamatan satu persatu. Setelah itu ia menjelaskan kembali tentang sistem pasangan.

Sooyoung duduk sambil menundukan kepala. Tapi setiap kali ia menoleh, ia melihat Tiffany, Taeyeon, dan Jessica melotot dengan gusar ke arahnya. Peserta yang lain juga menatapnya sambil mendelik. Sepertinya mereka semua menganggap Sooyoung sebagai penyebab pertemuan yang membosankan itu. Mungkin Jessica memberitahu mereka bahwa Sooyounglah yang membalikkan perahu itu.

“aku minta kalian menghapal kedua puluh peraturan keselamatan di air.” Kata Yuri membuat peserta itu semakin banyak yang melotot ke arah Sooyoung.

“mereka semua membenciku.” Batin Sooyoung. Ia menundukkan kepala dengan sedih dan tak ada yang bisa ia lakukan.

Lalu, tiba-tiba saja, Sooyoung mendapat ide.

**

“aku mau kabur!!” ujar Sooyoung pada Minho.

“selamat jalan.” sahutnya dengan tenang. “semoga berhasil.”

“aku serius, Choi Minho!!” pekik Sooyoung. “aku tidak main-main! aku benar-benar mau kabur dari perkemahan ini!

“jangan lupa kirim kartu.” kata Minho.

Sooyoung menyeretnya keluar dari bangsal utama seusai makan malam. Sooyoung menggiringnya ke tepi danau. Disana tidak ada siapa-siapa karena semua orang berkumpul di bangsal utama. Sooyoung menoleh ke arah perahu-perahu yang ditumpuk tiga-tiga di tepi air. Ia kembali teringat rambut Jessica yang pirang dan baju renangnya yang merah. Ia teringat bagaimana Jessica berenang menjauh, meninggalkannya di tengah danau. Dan juga Jessica telah berbohong pada Yuri sehingga ia yang mendapat masalah.

Sooyoung mengguncang-guncang pundak Minho, “kenapa kau tidak percaya? aku serius!” gertak Sooyoung. Namun Minho malah tertawa.

“orang yang baru makan kenyang jangan di guncang-guncang.” kata Minho yang kemudian bersendawa keras.

“ish! jorok!” gerutu Sooyoung. Minho hanya nyengir lebar. “jangan bercanda! Aku benar-benar tidak betah disini, Minho! Aku benci perkemahan ini. Disini tidak ada telepon yang bisa kita pakai. Aku tidak bisa menelepon eomma dan appa. Jadi aku terpaksa kabur!”

Raut wajah Minho berubah, ia baru sadar bahwa Sooyoung tidak main-main. “kau mau kabur kemana?”

“aku mau menerobos hutan.” jawab Sooyoung sambil menunjuk. “ada sebuah kota di balik hutan itu. Aku akan menelepon eomma dan appa dari situ supaya mereka bisa menjemputku.”

“andwae!”

“wae??”

“kita dilarang masuk hutan.” sahutnya. “Leeteuk pernah bilang hutan ini berbahaya, kan?”

“aku tidak peduli Leeteuk bicara apa! Pokoknya aku mau kabur!”

“Jangan terburu-buru, noona.” Minho mendesak. “kita belum satu minggu disini. Lebih baik kau tunggu saja dulu.”

“aku paling sebal kalau melihatmu sok kalem begini!” Sooyoung mendorongnya keras-keras dengan kedua tangan.

Minho kaget dan kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke belakang. Ia terhempas ke lumpur tepi danau.

“akh!!”

“mian!” Sooyoung segera meminta maaf. “aku tidak sengaja. aku…”

Minho bangkit dengan susah payah. Punggungnya kotor oleh lumpur bercampur ganggang. Ia mengacungkan tinju sambil mencaci-maki. Sooyoung menghela napas. Sekarang adiknya sendiri pun marah padanya.

“apa yang harus kulakukan?” batin Sooyoung. “apa yang bisa kulakukan?”

**

Ketika Sooyoung kembali ke pondok, sebuah rencana baru mulai terbentuk dalam benaknya. Rencana yang benar-benar nekat. Rencana yang benar-benar berbahaya.

“besok!” gumam Sooyoung. “aku akan memberi pelajaran kepada mereka semua!”

**

To be continue..

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 2)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

Previous Chapter onion-emoticons-set-2-150

“Taeyeon, kau harus selalu berpasangan denganku! Jangan lirik-lirik yang lain!” ucap Leeteuk membuat tawa Taeyeon yang tadinya bercanda dengan Tiffany menurun.

“shireo! Memangnya kau siapa?” balas Taeyeon.

“ya! aku ini namjachingu mu!”

Yuri menarik napas dalam-dalam berusaha tidak memperdulikan ocehan kedua orang itu. “ada pertanyaan?”

“mau kah kau jadi pasanganku?” seru salah satu peserta laki-laki.

Semuanya tertawa. Aku juga. Canda anak itu memang benar-benar pas. Tapi sekali lagi Yuri tidak terpengaruh. “sebagai coordinator olahraga air, aku akan bertindak sebagai pasangan semua peserta kemah,” ia menjawab dengan serius. “sekarang, peraturan nomor dua,” ia melanjutkan. “jangan berenang terlalu jauh dari perahu-perahu pengaman. Peraturan nomor tiga, dilarang berteriak atau berpura-pura mengalami kesulitan di dalam air. Jangan bergurau. Jangan main-main. Peraturan nomor empat…” ia terus berbicara sampai kedua puluh peraturan selesai dibacakannya.

Aku menghela napas. Yuri memperlakukan kami seperti anak-anak lima tahun. Padahal usia kami semua tidak begitu jauh. Banyak sekali peraturan yang harus dihapal.

“aku akan mengulang sekali lagi soal system pasangan..” Yuri berkata.

Aku memandang lewat api unggun dan melihat danau yang gelap. Permukaannya tampak licin dan hitam dan tenang. Di danau itu Cuma ada riak kecil. Tak ada arus. Tak ada gelombang pasang yang berbahaya.

Jadi kenapa harus ada begitu banyak peraturan? Apa yang harus ditakuti?

Chapter 2 onion-emoticons-set-2-143

Sooyoung POV

Yuri terus berbicara selama paling tidak setengah jam. Leeteuk terus melucu dan berusaha membuat rekannya tertawa. Tapi sia-sia. Bahkan sekedar tersenyum pun Yuri tampak enggan. Ia kembali membahas setiap peraturan yang ada dalam daftarnya. Kemudian ia menyuruh kami membaca daftar itu dengan seksama setelah kami kembali ke pondok masing-masing.

“selamat berlibur semuanya!” ia berseru. “sampai ketemu di danau!”

Semua bersorak sorai dan bersuit-suit ketika Yuri menjauhi api unggun. Aku menguap dan meluruskan tangan keatas kepala. Ini benar-benar membosankan. Baru sekarang aku tahu ada tempat yang punya begitu banyak peraturan. Aku kembali menepuk nyamuk yang hinggap di tengkukku. Badanku mulai gatal-gatal. Begitulah akibatnya kalau aku berada di alam bebas. Aku langsung gatal-gatal.

Api unggun telah padam. Bara berwarna ungu teronggok di tanah yang gelap. Udara malam makin dingin. Untuk menutup acara api ungun, Leeteuk meminta semua anak berdiri dan menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake.

“para peserta baru tentu belum tahu liriknya,” ia berkata. “kalian beruntung!”

Semua tertawa. Kemudian Leeteuk mulai bernyanyi sambil berjalan menghampiri Taeyeon. Semuanya langsung angkat suara. Aku pun berusaha ikut. Tapi liriknya cuma kutangkap sepenggal demi sepenggal.

Wetter is better

Get in the swim

Show your vigor and vim

Every son and daughter

Should be in the water

The cold, cold water

Of Seoul Camp Lake

Wah, ternyata aku sependapat dengan Leeteuk. lirik lagu itu memang konyol minta ampun! Aku memandang ke seberang api unggun dan melihat Minho bernyanyi sepenuh hati. Tampaknya ia sudah hapal seluruh syairnya. Bagaimana caranya? Aku bertanya dalam hati sambil menggaruk kakiku yang gatal. Kok ia bisa begitu cepat hapal? Dan begitu mudah bergaul?

Setelah lagu itu berakhir, Leeteuk kembali ke tengah lapangan sambil mengangkat tangan supaya semua tenang. “masih ada beberapa pengumuman,” ia berseru. “pertama, suara kalian sumbang! Kedua..”

Aku tidak mendengar sisanya. Aku menoleh dan melihat Tiffany dan Taeyeon berdiri disampingku. Aku langsung mundur selangkah. “mau apa kalian?” tanyaku dengan ketus.

“kami ingin minta maaf,” ujar Tiffany.

Taeyeon mengangguk. “ne. kami mau minta maaf karena lelucon konyol tadi.”

Leeteuk masih terus berpidato dibelakang kami. Tiffany meletakkan sebelah tangan dipundakku. “perkenalan kita kurang enak,” katanya. “bagaimana kalau kita mulai dari awal lagi? Kau setuju, Sooyoungie?”

“ye. kita mulai dari awal saja,” Taeyeon menimpali.

Aku langsung mengembangkan senyum. “setuju.” Kataku. “setuju sekali.”

“oke!” ujar Tiffany. Ia juga tersenyum lebar hingga kedua bola matanya tidak terlihat. Ia menepuk punggungku. “mari kita mulai dari awal.”

Leeteuk masih sibuk memberikan pengumuman. “jam setengah lima sore besok, semua yang berminat pada selancar angin…”

Minho pasti akan mencobanya. Aku memperhatikan Tiffany dan Taeyeon berjalan menjauh. Awal yang baru, pikirku. Perasaanku mendadak jauh lebih enak.

Tapi perasaan gembira itu cuma bertahan sekitar dua detik. Tiba-tiba punggungku gatal-gatal.

Aku berbalik ke api unggun dan melihat Tiffany dan Taeyeon memandang ke arahku. Keduanya tertawa cekikikan. Peserta lain mulai mengalihkan perhatian dari Leeteuk dan menatapku.

“oooh.” Aku mengerang ketika merasakan sesuatu yang hangat dan kering bergerak-gerak dibalik T-shirt-ku. “ah!!.” Aku menyelipkan sebelah tangan ke balik bajuku. Apa itu? apa yang ditaruh Tiffany dipunggungku tadi? Aku menggenggamnya dan menariknya keluar. Dan aku pun langsung menjerit.

Ular itu menggeliat-geliut ditanganku. Bentuknya seperti tali sepatu berwarna hitam. Dengan mata! Dan mulut yang menyambar-nyambar, membuka dan menutup. “aaaaaaaarghhhh!” aku menjerit sejadi-jadinya. Kemudian kulempar ular itu dengan sekuat tenaga. Ular itu terpental ke hutan. Punggungku masih gatal-gatal. Aku masih bisa merasakan ular tadi menggeliat-geliut di kulitku. Aku berusaha menggaruk punggung dengan kedua tangan.

Anak-anak disekitarku mulai tertawa. Berita mengenai keisengan Tiffany menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Aku tidak peduli. Aku terus menggaruk-garuk. Seluruh tubuhku terasa gatal. Aku berteriak dengan gusar. “apa-apaan sih kalian??!” aku menghardik Tiffany dan Taeyeon. “apa sih yang kalian inginkan?”

Minho menghampiriku. Ia pasti sudah siap untuk bersikap sok tahu lagi. Huh, menyebalkan!

“noona, kau digigit?” ia bertanya dengan suara pelan.

Aku menggeleng kepala. “rasanya ular itu masih merambat dipunggungku!” aku berseru. “kau lihat, tidak? Panjangnya hampir satu meter!”

“tenang dulu,” bisik minho. “semua orang menoleh kemari.”

“Kau pikir aku tidak tahu?” balasku dengan ketus.

“hmm, itu kan cuma ular kecil,” ujar Minho. “sama sekali tidak berbahaya. Kau tidak perlu sewot begini.”

“aku-aku…” aku tergagap-gagap. Tapi aku terlalu emosi hingga tak sanggup bicara.

Minho menoleh kearah Tiffany dan Taeyeon. “kenapa mereka terus menggangumu? Ia bertanya.

“mana kutahu!” jawabku. “karena.. karena mereka memang brengsek! Itu sebabnya!”

“coba tenang dulu,” kata Minho. “tubuhmu sampai gemetaran, noona.”

“bagaiman aku tidak gemetaran? Kau pasti juga gemetaran kalau ada ular dipunggungmu!” aku menyahut. “dan aku tidak butuh nasihatmu, Choi Minho! Aku tidak butuh!”

“ya, sudah,” kata Minho. Serta merta ia berbalik dan kembali ke tempat temaan-temannya.

“aissh..jinjja!” aku bergumam.

Appa kami dokter, dan Minho persis seperti appa. Ia pikir ia harus mengurusi semua orang didunia. Hah, aku bisa mengurus diri sendiri. aku tidak butuh nasihat dari adikku.

Leeteuk memanggil temannya untuk melanjutkan pidato. Dan kulihat ia menarik Taeyeon entah kemana menjauh dari kerumunan. Aku tidak peduli. Akhirnya aku meninggalkan tempat api unggun dan kembali ke pondok.

Aku melewati jalan setapak yang menembus hutan dan menaiki bukit. Suasananya benar-benar gelap. Ditengah kegelapan itu, samar-samar aku mendengar suara tawa seorang perempuan. Aku mengikuti arah suara itu. Dan mataku terbelalak ketika kulihat dengan jelas Leeteuk dan Taeyeon yang asyik berciuman. Ya Tuhan! Aku pun segera meninggalkan tempat itu tanpa meninggalkan suara sedikit pun. Bisa-bisanya mereka bermesraan ditempat menakutkan seperti ini. Aku hanya menghela napas mengingat kejadian itu.

Aku kembali berjalan dengan memilih jalan lain yang menuju pondok. Aku menyalakan senter dan mengarahkan sinarnya ke tanah didepan kakiku. Sepatuku menginjak daun mati dan ranting kering. Pohon-pohon disekililingku berdesir-desir.

Kenapa jadi begini? Kenapa Tiffany dan Taeyeon begitu benci padaku? mungkin mereka memang konyol. Mungkin mereka bersikap seperti itu kepada semua orang. Mereka pikir mereka paling hebat karena tahun lalu sudah kemari.

Tanpa sadar, aku menyimpang dari jalan setapak. “hei..!” aku mengarahkan senter ke sekelilingku untuk mencari jalan itu. cahaya senter menyapu batang-batang pohon rumpun ilalang, dan sebatang pohon tumbang.

Aku mulai panic. Mana jalannya?? Aku maju beberapa langkah. Daun-daun kering bekersak-kersak terinjak olehku.

Berikutnya kakiku terbenam dalam sesuatu yang lembek.

Pasir hisap!!

Tapi….

Bukan. Bukan pasir hisap.

Pasir hisap sebenarnya tidak ada. Buku IPA yang kubaca dikelas lima menyatakan hal itu. aku mengarahkan sentar kebawah. “ohhh!” ternyata lumpur. Lumpur yang kental dan lengket. Sepatu sneakersku terbenam dalam lumpur itu. aku mengangkat kaki sambil mengerang dan nyaris jatuh terjengkang. Tenang saja, ini cuma lumpur. Memang menjijikkan tapi bukan sesuatu yang aneh.

Tapi kemudian aku melihat gerombolan laba-laba itu. jumlahnya lusinan. Laba-laba paling besar yang pernah kulihat. Rupanya mereka bersarang didalam lumpur. Makhluk-makhluk itu merangkak melewati sepatuku, menaiki kaki celanaku. “OMMONA!! Ih!” lusinan laba-laba bergelantungan padaku. Aku mengayunkan kaki keras-keras. Aku mulai menepis-nepis dengan tanganku yang bebas. “AKU BENCI PERKEMAHAN INI!!” aku menjerit. Beberapa laba-laba kusingkirkan dengan menggunakan senter.

Dan tiba-tiba aku mendapat ide. Apa salahnya kalau aku membalas perbuatan Tiffany dan Taeyeon  padaku? Mereka telah mempermalukanku didepan semua peserta perkemahan. Padahal aku tidak berbuat apa-apa terhadap mereka.

Aku mengeluarkan baterai senter. Aku  menarik napas dalam-dalam, lalu aku membungkuk dan memasukkan segenggam laba-laba kedalam selongsong senter.

Isshh. Aku sampai merinding! Bayangkan saja aku harus memegangi laba-laba! Tapi aku tahu pengorbananku takkan sia-sia. Aku mengisi senterku dengan makhluk-makhluk hitam yang bergeliut tanpa henti. Setelah penuh. tutupnya kupasang lagi.

Kemudian aku mencari jalan pulang. Aku melangkahi pohon tumbang. Dalam waktu singkat, jalan setapak sudah ku temukan kembali. Sambil membawa senter dengan hati-hati, aku bergegas ke pondokku.

Aku berhenti didepan pintu. Lampu-lampu di dalam masih menyala. Aku mengintip lewat jendela yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa didalam. Aku pun menyelinap masuk.

Aku menyibak selimut di tempat tidur Tiffany. Kemudian kutuangkan setengah dari laba-labaku ke tempat tidurnya. Selimutnya kurapikan kembali. Sekarang aku akan menuangkankan sisa laba-laba itu di tempat tidur Taeyeon  namun saat aku sedang menuangkannya, terdengar suara langkah di belakangku. Cepat-cepat aku merapikan selimut Taeyeon dan berbalik.

Seseorang muncul di pintu, “hei, apa yang kau lakukan?!”

To be continue… onion-emoticons-set-6-48

TaeNy yang evil! onion-emoticons-set-6-109 Siapa yang mergokin Soo ya? onion-emoticons-set-2-62

Ingat! onion-emoticons-set-6-155 Budayakan meninggalkan jejak onion-emoticons-set-5-31onion-emoticons-set-5-25

[FF] Seoul Camp Lake (Teaser + Chapter 1)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ’em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

Teaser onion-emoticons-set-4-5

Seharusnya ikut perkemahan itu asyik, tapi Sooyoung membenci Seoul Camp Lake! Danau di perkemahan itu kotor dan berlendir! Ia tidak mau berenang disana! teman-teman sekamarnya membencinya, sehingga mereka selalu membuat gara-gara dengannya.

Jadi Sooyoung menyusun rencana! Ia akan berpura-pura tenggelam sehingga mereka akan menyesal telah bersikap jahat padanya.

Tapi rencana itu tidak sejalan sesuai keingin Sooyoung! Karena jauh di dasar danau yang dingin dan gelap, arwah seorang gadis membayanginya! Menghantui kemana pun ia pergi! Gadis yang mati penasaran itu menginginkan kematian Sooyoung, agar bisa menemaninya di alam kubur…

Chapter 1onion-emoticons-set-4-9

Sooyoung POV

Hari pertamaku di Seoul Camp Lake tidak bisa dibilang asyik. Aku gugup sekali ketika baru datang. Dan rasanya sempat melakukan hal-hal konyol. Habis, aku memang tidak berniat menghabiskan liburan musim panas diperkemahan yang menempatkan olahraga air sebagai atraksi utamanya. Aku tidak suka berada di alam bebas. Aku tidak suka kalau rumput menyerempet pergelangan kakiku. Aku bahkan tidak suka menyentuh pohon. Dan yang paling penting, aku tidak suka basah-basahan.

Memang sih, sesekali aku juga senang berenang. Tapi jangan setiap hari! Itu kan keterlaluan! Aku suka berenang di kolam renang yang bersih. Jadi begitu aku melihat danau didekat perkemahan, aku langsung merinding. Danau itu pasti penuh makhluk mengerikan. Pasti banyak makhluk seram yang mengintai dibawah permukaan air sambil berpikir: “ayo, Choi Sooyoung, kami sudah menunggumu. Terjun dan berenanglah. Kami akan menggosokkan tubuh kami yang berlendir ke kakimu. Dan kami juga akan menggigit jari kakimu sampai putus, satu persatu!”

Hih! Siapa yang mau berenang di air berlendir? Reaksi Minho justru berlawanan. Saking gembiranya, ia seolah mau meledak.

Ketika kami turun dari bus, ia melompat-lompat sementara mulutnya nyerocos tanpa titik dan koma. Sepertinya ia berbakat menjadi seorang rapper! Aku sempat mengira dia bakal buka baju dan langsung terjun ke danau. Adikku ini memang senang perkemahan musim panas. Ia suka olahraga dan kegiatan di alam bebas. Ia menyukai segala hal dan bisa akrab dengan semua orang. Semua orang juga menyukai Minho. Soalnya ia selalu penuh semangat dan selalu gembira.

Hei, jangan salah sangka, aku bukannya seorang pemurung tapi bagaimana kita bisa gembira kalau tidak ada mall, bioskop atau restoran untuk membeli pizza atau kentang goreng? Bagaimana kita bisa gembira kalau setiap hari harus berendam di danau sedingin es? Di bumi perkemahan yang jaraknya berkilo-kilometer dari kota terdekat? Ditengah hutan lebat lagi?

“wah, liburan disini bakal heboh” seru Minho. Ia menyeret ranselnya dan bergegas untuk mencari pondoknya.

“apanya yang heboh?” aku bergumam dengan lesu. Jadi, kenapa aku datang ke Seoul Camp Lake? Jawabannya cukup dengan 4 kata; karena eomma dan appa.

Mereka bilang aku akan tambah percaya diri kalau berlibur diperkemahan olahraga air. Mereka bilang aku akan merasa lebih nyaman di alam bebas. Mereka juga bilang akan punya kesempatan bertemu teman-teman baru. Memang sih, aku agak sulit berteman. Tidak seperti Minho. Aku tidak bisa menghampiri seseorang dan langsung mengajaknya mengobrol dan bercanda. Aku agak pemalu. Mungkin karena tubuhku lebih jangkung dibanding yeoja lain seusiaku pada umumnya. Aku dan Minho hanya selisih 1 tahun. Aku 19 tahun dan Minho 18 tahun. Aku jangkung dan kurus sekali. Sebanyak apapun aku makan, tubuhku tidak akan bertambah gemuk. Kadang-kadang aku dipanggil “Shikshin” oleh keluargaku karena aku ini sangat doyan makan. Terus terang aku sebal dengan julukan itu, sama sebalnya dengan berenang di danau dingin yang penuh makhluk tersembunyi.

“cobalah untuk menikmati pengalaman ini, Sooyoung.” Eomma berpesan. Aku Cuma bisa menghela napas panjang.

“ne, coba lihat dulu bagaimana keadaan disana” appa menambahkan. “siapa tahu kau menyukainya.” Aku kembali menghela napas panjang. “nanti, kalau tiba waktunya pulang, bisa-bisa kau malah memohon-mohon untuk diajak berkemah lagi!” appa berkelakar.

Aku hendak menghela napas panjang lagi, tapi tiga kali berturut-turut rasanya terlalu banyak. Aku Cuma mendesah, merangkul eomma dan appa, lalu menyusul Minho yang sudah naik ke bus.

Sepanjang jalan Minho terus cengar-cengir. Ia sudah tidak sabar untuk belajar main ski air. Dan ia juga terus bertanya apakah dibumi perkemahan ada menara untuk belajar lompat indah. Minho mendapat tiga atau empat teman baru dalam perjalanan ke perkemahan.

Akhirnya kami tiba di Seoul Camp Lake. Semua peserta perkemahan ini membawa tas masing-masing. Semua tertawa dan bercanda gembira. Rombongan kami disambut sekelompok pembina yang memakai T-shirt biru shappire. Perasaanku mulai lebih enak.

Hmm, mungkin aku bisa mendapat teman baru disini. Mungkin ada anak-anak yang seperti aku dan kami bisa menikmati liburan musim panas bersama-sama.

Aku masuk ke pondokku. Aku melihat ketiga teman sekamarku, lalu memandang sekeliling. Dan kemudian aku berseru, “oh, ini tidak bisa! Pokoknya, tidak bisa!”

**

Aku tahu reaksiku agak berlebihan. Aku tahu baru muncul aku sudah memberi kesan buruk. Tapi bagaimana lagi? Di dalam pondok ada dua tempat tidur tingkat. Ketiga teman sepondokku semuanya yeoja dan mereka sudah memilih tempat tidur. Jadi hanya ada satu yang tersisa, tepat di depan jendela. Dan jendela itu tidak ada kawat nyamuknya. Berarti tempat tidurku akan di hinggapi serangga yang merayap-rayap. Aku langsung tahu semalam suntuk aku bakal sibuk mengusir nyamuk. Di samping itu, aku tidak bisa tidur di bagian atas tempat tidur tingkat. Kalau aku tidur di atas, aku pasti jatuh. Aku harus tidur di bawah, di tempat tidur yang paling jauh dari jendela.

“a…aku tidak bisa!” aku tergagap-gagap.

Ketiga teman sepondokku langsung menoleh. Satu berambut pirang terurai. Di dekatnya duduk seorang yeoja yang sepertinya berdarah campuran Korea-Amerika berambut coklat. Dan ditempat tidur yang bersebrangan dengan jendela berdiri yeoja mungil dengan rambut berwarna kecokelatan yang menatapku sambil mengerutkan kening.

20120326 taeyeon 1

Kurasa mereka ingin menyapaku dan memperkenalkan diri. Tapi aku tidak memberi kesempatan pada mereka.

“salah satu dari kalian harus tukar tempat tidur denganku!” aku memekik. Aku sebenarnya tidak bermaksud memekik. Tapi aku benar-benar panik.

Pintu pondok terbuka sebelum mereka sempat menyahut. Seorang namja berambut pirang dengan T-shirt seragam biru shappire masuk.

“namaku Leeteuk.” katanya. “aku bos disini, alias Pembina kalian. Bagaimana, semuanya beres?”

“tidak!” seruku. Aku tidak sanggup menahan diri. Aku begitu gugup dan tegang. “aku tidak bisa tidur disitu!” ujarku. “aku tidak mau didekat jendela. Dan aku harus tidur ditempat tidur bagian bawah.” Ketiga yeoja itu tercengang melihat tingkahku.

Leeteuk berpaling pada yeoja yang berdiri di samping tempat tidur di seberang jendela. “Taeyeon-ah, maukah kau bertukar tempat tidur dengan…”

“Sooyoung” aku memberitahunya.

“maukah kau bertukar tempat tidur dengan Sooyoung?” Leeteuk bertanya pada Taeyeon. Sepertinya mereka sudah saling mengenal.

Yeoja itu langsung menggeleng kepala dengan tegas, “shireo!” ujarnya. Ia menunjuk yeoja yang duduk sambil memegang tasnya. “Tiffany dan aku tidur sama-sama tahun lalu.” Kata Taeyeon kepada Leeteuk. “jadi tahun ini kami ingin bersama-sama lagi.” Tiffany mengangguk.

“pokoknya aku tidak bisa tidur di depan jendela” aku berkeras. “sungguh. Aku takut serangga.”

Leeteuk menatap Taeyeon dengan tajam. “bagaimana?”

Taeyeon menghela napas. “Baiklah.” Ia meringis padaku. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.

“terima kasih” ujar Leeteuk sambil meraih lengan kiri Taeyeon tapi Taeyeon menepisnya dengan kasar dan menatapku marah. Aku pasti dianggapnya tukar pembuat onar. Taeyeon menyeret tasnya ke tempat tidur di depan jendela.

“biar ku bantu..” Leeteuk menawarkan diri.

“andwae! Shireo!” gertak Taeyeon. Leeteuk hanya menghela napas.

“kita harus bicara nanti.” Ucap Leeteuk pada Taeyeon sebelum keluar dari kamar ini.

“tuh, pakai saja tempat tidurku!” ia bergumam. Nada suaranya sama sekali tidak bersahabat. Aku merasa tidak enak. Belum apa-apa aku sudah dibenci teman-teman sekamarku. Kenapa aku selalu begitu? Kenapa aku selalu gugup dan memberi kesan awal yang buruk kepada orang lain?

Sekarang aku harus berusaha ekstra keras untuk berteman dengan mereka. Tapi semenit kemudian, aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

**

“terima kasih kau mau bertukar tampat tidur, Taeyeon.” Kataku. “kau baik sekali.”

Ia mengangguk tapi tidak mengatakan apa-apa. Tiffany membuka tasnya dan mulai memindahkan pakaiannya ke lemari pakaian. Yeoja berambut pirang menatapku sambil tersenyum.

-c3-Pr-nc3Ss-jessica-snsd-23577682-480-800

“annyeong, aku Jung Sooyeon” ia menyapa. Suaranya seperti anak kecil. “tapi semua orang memanggilku Jessica atau Sica.” Sica tersenyum ramah. Rambutnya yang pirang panjang dan dibiarkan tergerai.

“kau juga berlibur disini waktu musim panas tahun lalu?” aku bertanya padanya.

Ia menggelengkan kepala. “tidak. Taeyeon dan Tiffany memang berlibur disini. Tapi ini pertama kali aku kemari. Tahun lalu aku berlibur di perkemahan tenis.”

“aku baru sekali ini berlibur di perkemahan,” aku berterus-terang. “jadi aku agak gugup.”

“kau jago berenang?” tanya Taeyeon.

Aku mengangkat bahu. “lumayan, sih. Tapi aku jarang berenang. Aku kurang suka.”

Tiffany berpaling dari lemari pakaian. “kau tidak suka berenang, tapi kau berlibur di perkemahan olahraga air?” Taeyeon dan Sica langsung tertawa.

Wajahku mendadak panas. Aku enggan mengaku bahwa aku kemari karena disuruh orangtuaku. Kedengarannya payah banget. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa.

“aku..ehm.. aku suka kegiatan lain.” Aku tergagap-gagap.

“oh, baju renangmu bagus sekali!” seru Tiffany. Ia mengambil baju renang berwarna pink dari tas Taeyeon yang sedang dirapikan pemiliknya dan mengamatinya dengan seksama.

Taeyeon segera merebutnya. “memangnya kau muat!” ia bergumam.

“apa kau tambah kurus selama musim dingin?” Tiffany bertanya padanya. “kau tampak kurusan.”

ashiya19.wordpress.com_Profil_Tiffany_SNSD_02

“berat badanku memang turun sedikit.” Sahut Taeyeon. Ia menghela napas. “tapi aku tidak tambah tinggi.”

“aku tambah tinggi sekitar tiga puluh senti waktu SD.” Aku menimpali. “aku anak perempuan paling jangkung di sekolah. Semua orang menoleh kalau aku lewat.”

“oh, kasihan.” Taeyeon berkomentar sambil meringis. “mungkin kau lebih suka jadi kurcaci seperti aku?”

“ehm.. tidak juga sih” jawabku.

Oops! Baru sekarang aku sadar aku seharusnya tidak berkata begitu. Taeyeon tampak sakit hati. Kenapa aku bilang begitu? Kenapa aku selalu keseleo lidah?

Aku meraih tas ranselku yang masih tergeletak dilantai. Aku membawanya ke tempat tidurku untuk ku bongkar isinya.

“hei, itu ranselku! Mau dibawa kemana?” Sica bergegas menghampiriku.

Aku menatap ransel yang kubawa. “bukan. Ini punyaku.” Aku berkeras.

Aku menarik resletingnya. Dan ransel itu jatuh dari tempat tidur. Setumpuk barang langsung berserakan di lantai pondok. “oh!” aku memekik tertahan. Barang-barang itu bukan milikku. Aku melihat botol-botol obat dan alat pernapasan dari plastik. “obat asma?” seruku.

Jessica cepat-cepat berlutut dan memungut barang-barangnya. Ia menatapku dengan gusar. “kenapa kau harus memberitahu semua orang bahwa aku asma? Kenapa tidak sekalian saja kau mengumumkannya saat acara api unggun nanti malam?”

“mianhae..” aku bergumam.

“kan sudah ku bilang itu ranselku!” hardik Sica.

Tiffany membungkuk dan membantu mengumpulkan barang-barang Sica. “kau tidak perlu malu karena asma” katanya.

“itu urusanku sendiri.” balas Sica dengan ketus. Ia memasukkan semua obat-obatan kedalam kantong dan menarik ranselnya.

“mianhae,” aku berkata lagi.

Mereka bertiga menatapku tajam. Tiffany geleng-geleng kepala. Taeyeon berdecak-decak. Mereka membenciku. Aku sedih sekali.

Mereka membenciku, padahal ini baru pertama. Aku baru satu jam berkenalan dengan mereka. Aku menghela napas dan duduk di tempat tidur. Rasanya tidak ada keadaan yang lebih parah dari pada ini, pikirku.

Tapi ternyata aku keliru.

**

Malam itu pertama kali kali membuat api unggun di lapangan luas di dekat hutan. Balok-balok kayu di susun melingkar untuk di gunakan sebagai bangku. Aku mencari tempat kosong dan duduk membelakangi pepohonan. Api unggun besar di hadapanku menari-nari dan menerangi langit senja yang kelabu. Para Pembina melemparkan lebih banyak ranting ke dalam api. Dalam sekejap lidah apinya sudah lebih tinggi dari mereka. Aku berbalik dan memandang ke hutan. Pohon-pohon yang gelap tampak berayun pelan karena tiupan angin. Dalam cahaya remang-remang, aku melihat seekor tupai melintas diantara alang-alang. Aku bertanya-tanya, makhluk apa lagi yang mengintai di hutan gelap itu? pasti ada binatang yang lebih besar daripada tupai. Lebih besar dan lebih berbahaya.

KRAK!!

Bunyi patahan api unggun membuatku tersentak kaget. Seram juga di luar kalau sudah gelap. Kenapa api unggunnya tidak di buat didalam ruangan saja? di tempat perapian, misalnya?

Aku melihat Tiffany dan Taeyeon duduk di salah satu balok kayu. Mereka sedang tertawa-tawa sambil mengobrol dengan Leeteuk dan seorang pria yang tidak kukenal tapi dilihat dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya ia juga salah satu dari pembina kami.

Aku melihat Minho duduk diseberang api unggun. Ia sedang bercanda dengan dua anak laki-laki. Mereka bergulat dan saling dorong. Aku menghela napas. Minho sudah mendapat teman-teman baru. Semua sudah mendapat teman baru, kecuali aku.

Di balok kayu sebelah, tiga orang yeoja duduk sambil mendongakkan kepala. Mereka sedang menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake. Aku mendengar mereka sambil mencoba menghapal syair lagu itu. tapi ditengah jalan mereka mulai tertawa cekikikan dan berhenti bernyanyi.

Dua yeoja yang merupakan Pembina kami duduk di ujung balok yang ku duduki. Aku menoleh untuk menyapa mereka tapi mereka terlalu asyik mengobrol berdua.

Leeteuk, si ketua Pembina, melangkah ke depan api unggun. Ia memakai topi rusa yang membuatnya tampak menggelikan. Setidaknya menurutku begitu.

teuk561

Celananya tampak kotor akibat mempersiapkan api unggun tadi. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “semua sudah kumpul?” ia berseru. Suaranya nyaris tidak terdengar. Semua masih asyik mengobrol dan tertawa. Dibalik api unggun aku melihat Minho bangkit dan menggeliat-geliut tak karuan. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka mengajak Minho berhigh-five.

“sudah bisa dimulai?” Leeteuk berseru. “acara api unggun selamat datang sudah bisa dimulai?”

Sebuah balok kayu berderak di makan api. Bunga api berwarna merah beterbangan ke segala arah. “oh!” aku memekik ketika ada yang menyentuh pundakku.

“nugu..?” aku langsung berbalik dan melihat Tiffany dengan Taeyeon. Mereka berdiri dihadapannku. Raut muka mereka ketakutan.

“Soo, lari!” Tiffany berbisik.

“ireona, ppali~!” Taeyeon menarik-narik lenganku. “lari!”

“wae?” tanyaku kalang kabut. Aku cepat-cepat berdiri. “ada apa, sih?”

“namja-namja itu,” Taeyeon berbisik. Ia menunjuk ke seberang api unggun. “mereka melempar petasan ke dalam api. Sebentar lagi petasannya akan meledak!”

“lari!!!” keduanya berseru. Taeyeon mendorongku dari belakang. Aku terhuyung-huyung sejenak. Lalu melesat maju. Sambil berlari aku memejamkan mata rapat-rapat. Petasannya sudah mau meledak! Apakah aku sempat lari? Apakah Taeyeon dan Tiffany juga bisa meloloskan diri?

Aku mendadak berhenti ketika mendengar suara tawa. Tawa berderai-derai.

“hah?” aku menelan ludah dan menoleh ke belakang.

Ternyata separuh peserta perkemahan sedang menertawakanku. Taeyeon dan Tiffany berhigh-five.

“oh, aisshh,” aku mendengus. Bisa-bisanya aku ketipu. Dan tega-teganya mereka mempermainkanku seperti ini. Mereka pasti telah menyuruh semua anak memperhatikanku. Rasanya semua mata tertuju kearahku ketika aku berdiri sendirian di tepi hutan. Aku melihat Sica tertawa. Dan aku melihat Leeteuk dan beberapa Pembina lain tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Ara! Ara! Seharusnya aku ikut tertawa. Seharusnya aku menganggap semuanya cuma lelucon saja. Seharusnya aku tidak kesal. Tapi sejak awal kedatanganku kesini perasaanku sudah tidak enak. Aku gugup sekali. Aku berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan lagi.

Pundakku mulai bergetar. Dan mataku mulai berair. Andwae! Jangan menangis! Kau tidak boleh menangis didepan seluruh peserta perkemahan. Memang, kau pasti malu sekali, Choi Sooyoung. Tapi sudahlah. Ini Cuma lelucon. Lelucon konyol. Seseorang menggamit lenganku. Aku segera melepaskan diri.

“noona..” Minho muncul disampingku. Ia menatapku dengan matanya yang bulat.

“aku tidak apa-apa,” ujarku dengan ketus, “pergilah!”

“jangan sewot gitu dong!” ia berkata pelan. “kenapa sih kau susah sekali diajak bercanda? Ini kan cuma lelucon. Kenapa kau harus marah-marah gara-gara lelucon konyol?”

Kau tau apa yang paling kubenci? Aku paling benci kalau ucapan Minho benar. Maksudku, Minho adikku kan? Kenapa justru Minho yang selalu tenang dan kalem? Aku benar-benar sebal kalau Minho bersikap seakan-akan ia kakakku.

“jangan sok tahu!” aku menggeram. “sudah, jangan ganggu aku lagi.” Aku mendorongnya kearah api unggun. Ia hanya angkat bahu dan kembali ke teman-temannya. Aku berjalan lambat-lambat tapi tidak kembali ke tempat dudukku tadi. Balok itu terlalu dekat dengan api unggun….dan terlalu dekat dengan Taeyeon dan Tiffany. Aku memilih balok kayu didekat tepi hutan, yang tak terjangkau cahaya api unggun. Kegelapan di sekelilingku terasa menyejukkan dan sekaligus membantu menenangkan diriku.

Sejak tadi Leeteuk terus berbicara. Aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakannya. Ia berdiri di depan api unggun. Suaranya besar dan lantang. Tapi semua anak mencondongkan badan ke depan untuk mendengar lebih jelas.

Aku memandang berkeliling. Wajah para peserta perkemahan bersinar jingga karena memantulkan cahaya api unggun. Mata mereka tampak berbinar-binar. Dalam hati aku bertanya apakah ada diantara mereka yang sepertiku? Aku tahu aku mengasihani diriku sendiri dan bertanya-tanya, adakah diantara mereka yang baru sekali ini berkemah yang merasakan perasaan yang sama.

Suara Leeteuk terngiang-ngiang di telingaku. Ia mengatakan sesuatu tentang bangunan utama. Lalu ia menyinggung soal jadwal makan. Lalu ia berbicara tentang handuk. Dan kemudian secara mengejutkan ia berkata bahwa ia mencintai seseorang. Kau tahu siapa? Yeoja mungil yang memiliki mata indah dan sekamar denganku. Ya, Taeyeon. Aku baru tahu ternyata marganya adalah Kim. Ia terlihat tersipu-sipu saat Leeteuk menariknya ketengah lapangan dan menyatakan perasaannya. Hmh.. kapan aku bisa seperti itu? beruntung sekali Taeyeon.

Setelah selesai sesi “katakan cinta” itu, Leeteuk memperkenalkan coordinator kegiatan olahraga air. Namanya Kwon Yuri.

Semua orang bertepuk tangan ketika Yuri melangkah maju. Salah satu namja peserta perkemahan malah bersuit-suit.

“wow, boleh juga!” seru yang lainnya. Semuanya tertawa. Yuri pun tersenyum. Ia sadar penampilannya memang heboh. Ia mengenakan celana pendek dan atasan tanpa lengan membentuk tubuhnya yang langsing dan sexy.

kkab-yul1

Aku menoleh kearah Minho. Kulihat ia tampak terpesona dengan Yuri. Ternyata uri dongsaeng sudah besar.

Yuri melambaikan tangan, meminta semuanya tenang. “kalian semua senang disini?” ia berseru. Semua peserta bersorak-sorai dan bertepuk tangan. Beberapa laki-laki kembali bersuit-suit. “nah, besok adalah hari pertama di danau.” Yuri mengumumkan. “tapi sebelum kalian masuk ke danau, ada beberapa peraturan yang harus kalian ketahui.”

“Misalnya, jangan minum air danau!” Leeteuk menimpali. “kecuali kalau kalian benar-benar haus!” beberapa anak tertawa. Aku diam saja. Ish, mana mungkin ada yang mau minum air kotor berlendir itu?

Yuri juga tidak tertawa. Ia menatap Leeteuk sambil mengerutkan kening. “kita harus serius,” ia menegur rekannya.

“aku memang serius!” Leeteuk berkelakar. Yuri tidak menggubrisnya.

“ya! ajussi, lebih seriuslah sedikit. Kau membuatku malu saja!” teriak Taeyeon dari bangku balok kayu.

“mwo?? Ajussi?? Ya, ajumma! Kenapa kau memanggilku ajussi??”

“karena kau seperti ajussi penjual baso ikan dekat  rumahku!” balas Taeyeon. Semua peserta kembali tertawa-tawa. Pasangan yang aneh. Baru saja mereka bermesra-mesraan sekarang mempertengkarkan hal tidak penting seperti itu.

“kalau kalian kembali ke pondok masing-masing nanti, kalian akan menemukan daftar peraturan di tempat tidur,” Yuri melanjutkan sambil menyibakkan rambutnya yang panjang. “ada 20 peraturan pada daftar itu dan kalian harus menghapal semuanya.”

Mwo?? Dua puluh peraturan? Mana mungkin ada dua puluh peraturan? Kenapa banyak sekali?! Liburan musim panas kurang panjang untuk menghapalkan dua puluh peraturan.

Yuri mengangkat selembar kertas. “kita akan membahas semuanya satu persatu sekarang. Silakan tanya kalau kurang jelas.”

“apakah kami sudah boleh berenang sekarang?” seru anak laki-laki yang bermaksud melucu. Sebagian besar anak tertawa. Tapi Yuri diam saja. jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. “itu peraturan nomor delapan,” jawab Yuri. “dilarang berenang pada malam hari, meskipun kalian ditemani Pembina.”

“jangan sekali-kali berenang kalau ada Pembina!” Leeteuk bergurau. “soalnya mereka semua membawa kuman!”

Leeteuk memang kocak, tapi Yuri kelihatan begitu serius. “peraturan paling penting di Seoul Camp Lake adalah sistem pasangan.” Yuri mengumumkan. “setiap kali kalian bermain di danau, kalian harus didampingi pasangan kalian.” Ia menatap para peserta yang duduk disekelilingnya. “walaupun kalian cuma jalan-jalan di air semata kaki, kalian harus didampingi pasangan,” katanya. “kalian bebas berganti pasangan setiap kali. Atau bisa juga kalian memilih satu pasangan untuk sepanjang liburan. Tapi kalian harus selalu punya pasangan.”

“Taeyeon, kau harus selalu berpasangan denganku! Jangan lirik-lirik yang lain!” ucap Leeteuk membuat tawa Taeyeon yang tadinya bercanda dengan Tiffany menurun.

“shireo! Memangnya kau siapa?” balas Taeyeon.

“ya! aku ini namjachingu mu!”

Yuri menarik napas dalam-dalam berusaha tidak memperdulikan ocehan kedua orang itu. “ada pertanyaan?”

“mau kah kau jadi pasanganku?” seru salah satu peserta laki-laki.

Semuanya tertawa. Aku juga. Canda anak itu memang benar-benar pas. Tapi sekali lagi Yuri tidak terpengaruh. “sebagai coordinator olahraga air, aku akan bertindak sebagai pasangan semua peserta kemah,” ia menjawab dengan serius. “sekarang, peraturan nomor dua,” ia melanjutkan. “jangan berenang terlalu jauh dari perahu-perahu pengaman. Peraturan nomor tiga, dilarang berteriak atau berpura-pura mengalami kesulitan di dalam air. Jangan bergurau. Jangan main-main. Peraturan nomor empat…” ia terus berbicara sampai kedua puluh peraturan selesai dibacakannya.

Aku menghela napas. Yuri memperlakukan kami seperti anak-anak lima tahun. Padahal usia kami semua tidak begitu jauh. Banyak sekali peraturan yang harus di hapal.

“aku akan mengulang sekali lagi soal system pasangan..” Yuri berkata.

Aku memandang lewat api unggun dan melihat danau yang gelap. Permukaannya tampak licin dan hitam dan juga tenang. Di danau itu hanya ada riak kecil. Tak ada arus. Tak ada gelombang pasang yang berbahaya.

Jadi kenapa harus ada begitu banyak peraturan? Apa yang harus ditakutkan?

To be continue…onion-emoticons-set-4-8

Jangan lupa RCL!  onion-emoticons-set-2-59