Blog Archives

[FF] Trouble Maker – Chapter 26 (Last Part)

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Here we go! the last part of Trouble Maker! 😀
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Last Chapter : Sweet Surprise
Minggu terakhir semester. Ulangan dilakukan setiap hari. Semua bekerja keras untuk meraih nilai-nilai terbaik. Terutama Taeyeon, Yesung, dan Amber. Mereka belajar lebih keras dari anak-anak lain! Taeyeon ingin berada diurutan teratas di kelasnya. Begitu juga Yesung. Sedangkan Amber ingin mendapat angka tertinggi paling tidak disalah satu mata pelajaran, dan bisa berada pada posisi mendekati urutan teratas. “senang sekali jika bisa kukatakan pada eomma bahwa aku mencapai angka tertinggi disalah satu pelajaran.” Pikir Amber. “dulu aku selalu dekat dengan kedudukan juru kunci, dan eomma tidak pernah marah. Akan merupakan kejutan manis baginya kalau ternyata aku meraih angka tertinggi disalah satu mata pelajaran!”
Pergelangan tangan Taeyeon sudah jauh lebih baik. Tapi masih tak boleh menggunakannya untuk main piano, berkuda, berolahraga, atau menggali tanah di kebun.
Di pertunjukan akhir nanti ia akan bernyanyi bersama Kyuhyun, Jessica, dan Donghae dengan membawakan lagu Way Back Into Love. Hanya itu.
Ia tidak main drama, dan tidak duet piano dengan Kangta. Sungmin yang menggantikan tempatnya.
Ia mencoba bersikap ceria. Ia berusaha agar tak ada yang tahu bahwa sebenarnya kadang-kadang ia merasa sangat sedih. Ia telah mencoba bangkit dari kesedihannya dan berusaha keras untuk membantu yang lain, dengan cara apapun. Ia telah mengecat mahkota-mahkota untuk pertunjukan drama. Ia telah membuat lukisan pemandangannya sangat indah.
Ia telah membuat 12 buku acara terbaik yang pernah dibuat disekolah itu. Mrs. Park akan menerima salah satu buku acara itu. begitu juga Mrs. Seo dan Mr. Sooman. Taeyeon sangat bangga karenanya.
Ia telah membacakan buku bagi Kris.
Menemaninya memainkan berbagai permainan tiap hari, sampai Kris boleh meninggalkan Sanatorium. Sementara itu berbagai pekerjaan Ibu Asrama dikerjakannya juga. Ia tidak bisa membantu Changmin dikebun seperti biasanya, tapi ia bisa membantu menulis daftar benih bunga yang akan ditanamnya musim semi nanti. Ia pun dengan penuh perhatian mendengarkan cerita Changmin tantang apa yang sedang dikerjakannya bersama Sehun.
“Taeyeon benar-benar luar biasa,” kata Sunny. “ia bisa jadi anak paling badung di sekolah kita, ia juga bisa jadi anak terbaik!”
Taeyeon ikut menonton pertandingan hockey, atau lacrosse. Ia bersorak-sorai gembira walaupun dalam hati ia merasa sedih karena tak bisa ikut main. Sungguh tidak menyenangkan untuk tidak bisa melakukan apa saja yang disenanginya.
“satu hal yang paling kusukai darimu adalah kemampuanmu untuk menanggung kesedihan dengan hati riang.” Kata Kangta pada Taeyeon.
Rasanya 2 minggu terakhir ini Taeyeon memberikan kesan tersendiri bagi semua murid SM. waktu yang 2 minggu itu membuat nama Taeyeon membumbung tinggi di mata mereka. Apa pun yang dilakukannya di masa lalu, terhapus oleh apa yang apa yang dilakukannya saat itu. semua anak mengaguminya. Semua tahu betapa pemarahnya ia dulu, tak sabaran dan bandel! Mereka tahu pasti, sangat berat untuk mengubah pribadi seperti itu menjadi seorang yang selalu ceria, sabar, dan siap membantu anak lain. Semua bangga pada Taeyeon.
Akhirnya hari terakhir tiba. Pertunjukan akhir semester yang dinanti-nantikan itu pun tiba. Sore yang semarak. Semua orangtua murid yang tak berhalangan, datang untuk menyaksikannya. Kedua orangtua Taeyeon, Mr. Kim dan Mrs. Kim, juga hadir. Mereka tinggal di sebuah hotel di dekat SM, agar keesokan harinya bisa membawa Taeyeon pulang. Taeyeon gembira sekali dengan kehadiran keduanya. Dipeluknya mereka erat-erat. Keduanya merasa sedih bahwa pergelangan tangan yang sakit membuat Taeyeon tak jadi menunjukan kemahirannya bermain piano.
“gwaenchanha, appa, eomma,” kata Taeyeon. “aku tetap akan tampil bernyanyi dengan beberapa temanku.”
Orangtuanya sangat mengagumi buku acara yang khusus dibuat oleh Taeyeon.
“ini kubuat untuk eomma dan appa,” bangga Taeyeon. “bagus, kan? Ketiga pimpinan sekolah juga memiliki buku acara buatanku. Dan, eomma, appa, pada pementasan drama nanti harap kalian perhatikan mahkota-mahkota emasnya. Semuanya aku yang mengecat. Juga pepohonan di panggung.”
Pertunjukan sukses. Dramanya lucu, hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sulli dan Amber sangat bangga karena merekalah yang menulis skenarionya. Kangta memainkan biolanya dengan sangat indah mempesona, kemudian ia berduet dengan Sungmin pada piano, penampilan yang sebenarnya akan dimainkan oleh Taeyeon.
Taeyeon merasa sedih mendengarkan duet tersebut, tapi ia berhasil memaksa diri untuk tersenyum dan bertepuk tangan paling keras saat duet itu berakhir. Dari sudut matanya Taeyeon melihat bahwa Sunny, Sulli, Yesung, Amber, Sooyoung, dan Changmin memperhatikannya.
Ia tahu bahwa sahabat-sahabatnya itu pasti bangga padanya, sebab ia masih mampu tersenyum dan bertepuk tangan, walaupun mereka tahu dalam hati sangat kecewa.
Penampilan terakhir adalah pertunjukan kwartet Taeyeon, Kyuhyun, Jessica, dan Donghae. Mereka naik ke panggung berpasangan. Alunan piano lagu Way Back Into Love yang dimainkan Kangta memulai pertunjukan itu dengan disusul suara merdu Taeyeon dan langsung mendapat applause yang meriah.
[Taeyeon] I’ve been living with a shadow over head, I’ve been sleeping with a cloud above my bed
[Jessica] I’ve been lonely for so long, trap in the past I just can’t seem to move on
[Kyuhyun] I’ve been hiding all my hopes and dreams away, just in case I ever need ‘em again someday
[Donghae] I’ve been setting aside time, to clear a little space in the corners of my mind
[KyuTae] All wanna do is find a way back into love, I can’t make it true without a way back into love
[Taeyeon] I’ve been watching but the stars refuse to shine, I’ve been searching but I just don’t see the signs
[Jessica] I know that it’s out there, there’s gotta be something for my soul somewhere
[Kyuhyun] I’ve been looking for someone to shed some light, not somebody just to get me through the night
[Donghae] I could use some direction and I open to your suggestion
[KyuSica] All I wanna do is find a way back into love
[KyuTaeHae] I can’t make it through without a way back into love
[KyuSica] And if I open my heart again, I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end
[Taeyeon] There are moments when I don’t know if it’s real, or if anybody feels the way I feel
[Jessica] I need inspiration not just another negotiation
[KyuSicaHae] All I wanna do is find a way back into love, I can’t make it through without a way back into love
[KyuTae] And if I open my heart to you, I’m hoping you’ll show me what to do, and if you help me decide again, you know that I’ll be there for you in the end~
Sorak-sorai, riuh-rendah, tepuk tangan di akhir 2 couple itu. Taeyeon tampak senang berhasil menampilkan penampilannya.
“good job, Taeng!” kata Kyuhyun sambil memegang tangan kanan Taeyeon membantunya menuruni tangga panggung.
“nado, gomawo, Kyu!”
Diakhir pertunjukan hasil ulangan umum terakhir diumumkan. Taeyeon mendengarkan dengan dada berdebar keras. Begitu juga Yesung dan Amber. Sulli tidak begitu peduli, asal dekat dengan kedudukan puncak ia sudah akan merasa senang. Amber lebih tegang sebab ia telah berusaha keras. Paling tidak jangan sampai ia masih berada dekat dengan juru kunci.
Akhirnya Mrs. Park sampai pada laporan untuk kelas Taeyeon. “Song seonsaengnim berkata bahwa kelas ini telah membuat kemajuan pesat. Semuanya berusaha keras. Beberapa orang murid memperoleh kemajuan luar biasa. Di tempat pertama, Kim Taeyeon dan…”
Kata-kata Mrs. Park terputus oleh sorak-sorai gemuruh. Semuanya tampak sangat gembira bahwa Taeyeon mencapai kedudukan puncak di kelasnya. Yesung juga bertepuk tangan kuat-kuat. Ia berharap ia bisa mencapai kedudukan nomor 2. Tadinya ia memang mengincar kedudukan pertama, tapi, yah, nomor 2 pun boleh.
Mrs. Park mengangkat tangan minta agar anak-anak diam. “chakkaman,” katanya. “biarkan aku menyelesaikan kalimatku. Di tempat pertama; Kim Taeyeon dan Kim Yesung! Keduanya mencapai nilai yang sama, maka keduanya menduduki tempat pertama!”
Yesung duduk tegak. Wajahnya berseri oleh rasa terkejut dan gembira. Jadi ia dan Taeyeon menduduki tempat teratas bersama-sama! Ini jauh lebih menyenangkan daripada berada sendirian di puncak atas. Taeyeon yang duduk dibelakangnya langsung menepuk punggungnya keras-keras.
“Yesung!” kata Taeyeon dengan wajah bersinar gembira. “jeongmal haengbokhae! Aku lebih suka berada dipuncak teratas bersamamu daripada sendirian! jinjja!”
Yesung mengangguk dan tersenyum. Ia tak bisa berbicara karena begitu gembira. Ia tidak sepandai Taeyeon, jadi keberhasilannya mencapai puncak teratas adalah semata-mata hasil kerja kerasnya! Betapa bangganya ayah dan ibunya, tampak dari tempat dia duduk.
Mrs. Park membaca daftarnya. Sulli keempat. Sunny kelima. Dan kedua anak itu sangat gembira. Amber keenam, jauh dari kedudukan juru kunci. Dan ia memeproleh nilai terbaik di mata pelajaran sejarah! Pipinya memerah saat Mrs. Park membacakan hal itu. ia dekat kedudukan puncak, dan mendapat nilai tertinggi dalam sejarah! Amber berpaling kearah tempat duduk para tamu. Dilihatnya ibunya. Sekali lihat saja Amber merasa ibunya sama bangganya dengan ibu-ibu lain!
“aku tak tahu apa yang dilakukan oleh SM pada uri-Amber,” pikir Mrs. Liu, ibu Amber. “ ia tampak berbeda. Tadinya ia begitu biasa wajahnya. Kini tampak cantik bila tersenyum. Dan betapa bahagia dan riangnya ia berkumpul dengan teman-temannya!”
Suatu sore yang indah. Dan malam harinya Rapat Besar terakhir diadakan. Siwon baru mengumumkan bahwa aka nada suatu kejutan nanti setelah segala kegiatan selesai dilaksanakan.
Kotak uang dikosongkan, isinya dituang dimeja dan dibagi rata untuk semua murid. Ini selalu dilakukan setiap akhir semester. Anak-anak gembira menerimanya, sebab ini berarti mereka akan memulai masa liburan mereka dengan sejumlah uang di saku.
Kemudian Siwon berkata, “dengan sangat menyesal aku mengumumkan bahwa kita akan kehilangan Key dalam semester mendatang. Ayah-ibu Key akan pergi ke luar negeri dan ia akan ikut mereka. Maka kita tidak akan bertemu dengannya lagi sampai ia kembali. Dan itu mungkin memakan waktu 6 bulan.”
Keadaan hening. Semua mendengarkan dengan penuh perhatian. “disini aku merasa terpanggil untuk berkata, bahwa kami sangat berterima kasih pada Key. Ia telah melakukan tugasnya sebagai Pengawas dengan sangat baik dan bijaksana selama beberapa semester. Ia telah melakukan banyak sekali tindakan yang menggambarkan kebaikan hatinya, tindakan yang sering tidak pernah kita ketahui dan hanya dinikmati oleh mereka yang dibantunya. Kami akan sangat kehilangan dia, dan kami akan sangat gembira bila ia nanti kembali ke tengah-tengah kita.”
“gomaseumnida,” sambut Key dengan muka merah. Ia seorang anak yang pendiam dan pemalu, tapi sangat disukai oleh semua anak. Seluruh sekolah memang merasa kehilangan atas kepergiannya.
“karena Key tidak akan berada diantara kita semester mendatang, maka kita harus memilih seorang Pengawas baru untuk menggantikannya,” kata Boa. “kalau kalian kehendaki, tentu saja Kris bisa kembali menjadi Pengawas, menggantikan Key. Tapi kalian boleh juga memilih orang lain, yang kalian anggap patut menjadi Pengawas. Sooyoung, bagikan kertas suara!”
Sooyoung berdiri, membagikan secarik kecil kertas kepada setiap murid yang ada disitu. anak-anak itu agak lama termenung, berpikir. Agak sulit juga tiba-tiba harus memilih, tanpa lebih dahulu mereka membicarakannya. Taeyeon menggigit-gigit pensilnya. Ia harus menulis nama siapa?
Akhirnya ia memutuskan untuk memilih nama Shim Changmin. Walaupun dalam hati ia merasa bahwa Changmin bukanlah pilihan yang tepat untuk dijadikan Pengawas dengan hanya satu hal yang sangat diketahui Changmin, yaitu berkebun. Tapi tidak apa kalau ia diberi kesempatan. Maka akhirnya Taeyeon menulis di kertasnya : Shim Changmin.
Segera juga yang lain selesai menulis. Kertas-kertas dikumpulkan oleh Dewan Juri, dibuka dan dihitung. Setelah diketahui nama tiga calon dengan suara terbanyak, para Juri menuliskan pilihan mereka, dan menyerahkannya pada kedua Hakim.
Siwon dan Boa membaca kertas-kertas pilihan para Juri, membicarakannya dengan perlahan. Kemudian, Siwon mengetuk meja.
“tiga nama telah memperoleh suara terbanyak,” kata Siwon. “Shim Changmin, Kim Yesung, yang terutama dipilih oleh anak-anak kecil dank au mesti bangga untuk itu, Yesung, dan………Kim Taeyeon!”
Terlompat Taeyeon dari tempat duduknya. Tak pernah terpikir olehnya bahwa ada yang memilih namanya. Tak pernah terpikir olehnya ada anak yang menganggap ia cukup bijaksana untuk menjadi Pengawas! Suatu kejutan besar!
“dalam semester ini, kita telah mendengar banyak tentang Kim Taeyeon,” kata Siwon. “ada yang baik, ada yang buruk. Tapi baik Boa maupun aku telah memperhatikan betapa baiknya Taeyeon menanggung beban kekecewaan akhir-akhir ini. ia melupakan kekecewaannya, melupakan kepentingan dirinya dan giat membantu anak lain, membantu kelasnya. Maka tidak heran kalau banyak yang memilihnya.”
“kami tahu bahwa kekecewaannya itu datang padanya karena ulahnya sendiri,” Boa melanjutkan kata-kata Siwon. “tapi kita tidak boleh lupa bahwa ia sampai mengorbankan pergelangan tangannya karena mencoba menghentikan kuda Sehun. Itu suatu tindakan yang sangat berani. Taeyeon, kau memang campuran berbagai sifat. Kau bisa berbuat konyol, tapi kau juga bisa berlaku bijaksana. Kau bisa tidak sabaran, tapi kau juga bisa bersabar. Kau bisa bertindak keji, tapi kau juga bisa baik hati. Diatas semua itu kita tahu bahwa kau selalu berusaha untuk berlaku adil, bijaksana, dan setia.”
Boa berhenti sejenak. Taeyeon menunggu, dadanya berdebar keras. Apakah Boa akan mengatakan bahwa ia harus mencoba lagi, berusaha lagi, dan baru semester yang akan datang bisa jadi Pengawas kalau ia berusaha lebih baik?
Tidak. Boa ternyata tidak mengatakan begitu. Ia tersenyum pada Taeyeon dan berkata lagi, “Taeyeon, baik aku maupun Siwon telah sangat mengenalmu sekarang. Dan kami yakin kalau kami mengangkatmu menjadi Pengawas, kau tidak akan mengecewakan kami. Kau akan memperlakukan anak lain lebih daripada kau memperlakukan dirimu sendiri. karena itu kami merasa cukup aman untuk memanggilmu maju, dan duduk di meja para Pengawas, serta minta padamu untuk berusaha menjadi yang terbaik dalam semester yang akan datang.”
Dengan pipi serasa terbakar dan mata bersinar-sinar Taeyeon maju ke meja juri. Belum pernah ia begitu bangga dan bahagia. Ia tak peduli tak bisa berduet dengan Kangta di pertunjukan sekolah. ia tak peduli tak bisa main di berbagai pertandingan dan permainan olahraga. Nasib sialnya ternyata telah berubah menjadi nasib luar biasa baiknya. Ia telah diangkat menjadi Pengawas!
Ia mengambil tempat disamping Sunny yang langsung menjabat tangannya dan berbisik, “Taeyeon-ah, aku senang sekali!”
Dan disinilah kita meninggalkan Taeyeon. Duduk di meja Pengawas, melamunkan berbagai rencana hebat yang akan dilaksanakannya semester berikutnya. Ia jadi Pengawas! Jinjja? Si Trouble Maker itu sekarang jadi Pengawas?
“walaupun aku jadi Pengawas, mungkin sekali aku masih akan melakukan beberapa tindakan konyol.” Pikir Taeyeon. “Tapi tidak apa. Aku telah mendapat kesempatan ini. dan akan kutunjukkan pada semua orang bahwa aku mampu berbuat sesuatu dalam semester nanti!”
Kita harap Taeyeon akan mampu membuktikan kemampuannya!

-THE END-

[FF] Trouble Maker – Chapter 25

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 25 : Taeyeon is Annoying
Taeyeon mengetuk pintu Sanatorium. Ibu Asrama sedang berada didalam, merawat 2 orang anak yang sedang sakit. Ibu Asrama keluar mendengar ketukan Taeyeon.
“ada apa?” tanya Ibu Asrama. “kau tidak boleh masuk.”
“arasseo,” kata Taeyeon. “tanganku terkilir. Mugnkin anda bisa mengobatinya.”
Ibu Asrama memeriksa pergelangan yang bengkak itu. “wah, pasti sakit sekali rasanya. Bagaimana kejadiannya?”
Taeyeon menceritakan apa yang terjadi. Ibu Asrama merendam kain perban dalam air dingin dan membebatkannya erat-erat dipergelangan yang sakit itu.
“apakah bisa cepat sembuh?” tanya Taeyeon. “untung bukan tangan kananku.”
“kukira agak lama. Jangan digerak-gerakkan, ya. begini, akan kubuatkan penggantung tangan dari saputangan ini, dan ku belitkan ke lehermu. Nah, kurasa ini cukup membantu.”
Sudah lewat waktu minum teh. Ibu Asrama mengajak Taeyoen ke kamarnya, dan ia diberi beberapa potong roti bakar. Taeyeon sangat lelah dan pucat. Rasanya ia tak ingin makan apapun, tapi tergiur juga oleh roti bakar selai strawberry itu. tak lama ia telah memakannya sambil minum coklat hangat yang juga dihidangkan oleh Ibu Asrama.
Kemudian ia kembali ke kamarnya, teman-temannya telah menunggunya didepan asrama. Sunny segera berlari menjemputnya, bertanya khawatir, “Taeng? Apa kau luka? Parah?”
“ani. Hanya sakit sekali rsanya,” kata Taeyeon. “tapi lumayan juga karena Ibu Asrama telah membebatnya. Seperti biasa ini memang salahku sendiri. aku tak sabar menunggu Yesung. Lalu kupasang pelana pada Genie untuk Sehun. Dan ternyata Genie melarikan diri!”
“kasihan sekali kau.” Kata Sulli.
Yesung tak berkata apa-apa. Wajahnya tampak masih marah.
Tak lama kemudian Suhun muncul. “nunna, bagaimana pergelangan tanganmu? Aku sangat menyesal. Kurasa kau tidak akan bisa main piano.”
Taeyeon belum pernah memikirkan hal itu. ia ternganga terkejut oleh kata-kata Sehun.
“ommo! Benar juga! Aku lupa itu. oh, padahal aku ingin sekali berlatih lebih keras lagi minggu ini. dan sekarang aku hanya punya satu tangan!”
Semua anak merasa kasihan padanya. Yesung mengangkat kepalanya dan berkata, “sayang sekali, taeng. Kuharap tanganmu sudah sembuh nanti pada saat pertunjukan akhir semester.”
Taeyeon gusar sekali. Tak terasa airmatanya mulai menetes lagi, dan cepat-cepat ia menghapusnya. Ia tidak ingin teman-temannya tahu ia menangis. Ia pergi ke salah satu ruang latihan music. Sendiri ia duduk dikursi piano, menopang kepalanya ke standar buku music. Ia sangat marah pada dirinya sendiri, berbuat sebuah kebodohan yang seperti biasa membuahkan kesulitan bagi dirinya sendiri.
Kangta masuk menggumamkan sebuah lagu. Ia tak melihat Taeyeon, sampai kemudian ia menyalakan lampu. Ia heran melihat Taeyeon sendirian di ruangan gelap itu.
“ada apa?” tanya Kangta. “kenapa kau menangis?”
“sebab yang kau katakan terjadi,” kata Taeyeon dengan sedih. “kau mengatakan bahwa aku jadi sombong akan permainan pianoku. Dan kau berkata pula yang angkuh akan jatuh. Kau benar. Aku telah melakukan sesuatu yang bodoh. Dan pergelangan tanganku sekarang sakit. Aku tidak akan bisa main piano bersamamu. Aku tidak akan bisa memainkan duit denganmu di akhir semester nanti.”
“oh, sayang sekali.” Kata Kangta kecewa. “jadi aku akan terpaksa bermain dengan Sungmin. Padahal ia jauh sekali darimu, Taeyeon, dalam hal kepandaian bermain piano.”
“harusnya kau tidak berkata’yang angkuh akan jatuh’,” tangis Taeyeon. “aku merasa seolah-olah kaulah yang membuat semua ini terjadi.”
“babo! Benar-benar kekanak-kanakan pikiranmu, ateng. Bagaimanapun, bergembiralah. Mungkin keadaan ini tidak akan seburuk yang kau duga. Hmm..kau masih bisa tampil dengan Kyuhyun, Jessica dan Donghae. Kupikir kemampuan menyanyimu jauh diatas permainan pianomu. Sudahlah, sekarang akan kumainkan sebuah lagu untukmu. Turunlah dari kursimu.”
Taeyeon turun dari kursi piano, dan duduk dikursi disudut ruangan. Marah dan lelah. Ia tak senang pada Sehun dan kudanya yang melarikan diri. Ia tak senang pada Kangta. Ia tak senang pada Yesung. Ia tak senang pada dirinya sendiri. ia marah. Kesal. Lelah. Tak ingin merasa senang pada siapapun dan apa pun. Tapi music Kangta membuat segalanya berbeda. Sedikit demi sedikit kerut di kening yeoja itu menghilang. Ia menyandarkan diri, merasakan nada-nada lembut piano mengisi kesunyian ruangan itu. Kangta tahu benar bahwa music akan bisa menyejukkan hati Taeyeon.
Sebelum lagu Kangta habis, Taeyeon menyelinap keluar, kembali asrama. Mungkin pergelangan tangannya akan membaik besok. Mungkin ia terlalu khawatir untu ksuatu persoalan kecil.
“Taeyeon, ayo bantu aku menyelesaikan puzzle ini,” ajak Amber, “entah yang mana yang bisa masuk tempat ini.”
Semua bersikap baik pdanya. Taeyeon bersyukur tapi ia lebih gembira lagi waktu lonceng tidur berbunyi, sebab kakinya terasa kaku, dan pergelangan tangannya sakit. Ibu Asrama memeriksanya sekali lagi, mengganti bebatnya dan menaruhnya digantungan tangan.
“lebih baik kau memakai gantungan tangan itu dulu,” kta Ibu Asrama, “agar tak banyak bergerak dan tak terlalu terasa sakit.”
Taeyeon berharap mudah-mudahan sakitnya sembuh saat ia bangun besok. Tapi ternyata tidak, tangannya masih bengkak dan memar, walaupun tak begitu terasa sakit. Ia tidak akan mungkin main piano. Tapi setidaknya ia memutuskan akan bernyanyi berempat bersama Jessica, Kyuhyun, dan Donghae.
Kemudian Taeyeon baru sadar betapa sulitnya mengerjakan hal-hal sepele dengan satu tangan. Ia tak bisa mengikatkan pita rambutnya. Ia tak bisa mengikatkan tali sepatunya. Ia tak bisa mandi dengan baik. Bahka ia tak bisa mengancingkan bajunya sendiri.
Teman-temannya semua membantu apa yang bisa mereka lakukan. Tapi Taeyeon begitu kesal hingga sulit untuk dibantu. Ia tak mau berdiri tenang. Ia menggeleng-gelengkan kepala waktu Sunny mencoba merapikan rambutnya. Ia menghentakkan kaki waktu Amber mencoba mengancingkan bajunya, sehingga kancing-kancing itu banyak yang salah lubang karena Taeyeon tidak bisa diam.
“aigoo!” seru Sunny. “kau kembali jadi yeoja badung lagi! Kau benar-benar menyebalkan bagi semua orang!”
“kau juga pasti begitu kalau mengalami kejadian seperti ini,” kata Taeyeon mara, “kalau saja yang sakit tangan kananku, makan aku pasti boleh tidak mengikuti semua ulangan akhir semester. Tapi karena tangan kiriku yang sakit, maka aku harus tetap mengikuti semua ulangan, sementara aku terpaksa tak bisa mengikuti semua kegiatan yang paling kusukai. Olahraga, naik kuda, berkebuh, music,…oh, betul-betul sial aku ini!”
Beberapa hari kemudian Ibu Asrama berkata bahwa Taeyeon sudah boleh menggunakan tangannya lagi. Tapi malang bagi Taeyeon, tangan kirinya itu kini serasa tak punya kekuatan, hingga ia tak berani sering-sering menggunakannya. Dokter juga berkata ia tak boleh memaksa tangan kiri itu, segalanya harus dilakukan secara bertahap. Ia harus bersabar.
Itulah salah satu yang paling tak bisa dilakukan Taeyon. Bersabar! Ia sedang gusar, dan itu tak menyembunyikannya. Ia cepat tersinggung. Semua anak segera tahu hal itu. ia marah pada Kangta karena sekarang Kangta berlatih duet dengan Sungmin.
Dan ternyata ia juga tak bisa ikut bermain drama, sebab ia berperan sebagai prajurit yang harus melakukan beberapa gerakan dengan senjata yang tak bisa dilakukannya dengan pergelangan tangannya yang lemah itu. habis kesabaran Taeyeon.
Teman-temannya sanat khawatir akan perkembangannya. Juga sangat kecewa. Mereka terus membicarakannya.
“maikn lama ia makin menyebalkan,” kata Sulli. “makin pemarah. Tak seorang pun bisa melakukan sesuatu untuknya. Ada-ada saja alasan baginya untuk marah. Ia tak bisa tidak menaruh kasihan pada dirinya sendiri yang telah kehilangan begitu banyak kegiatan yang digemarinya. Sayang sekali ia tidak bisa ikut berolahraga, padahal ia sangat menyukai semua cabang olahraga.”
“ayo kita pikirkan sesuatu yang bisa dilakukannya,” kata Sunny. “misalnya saja berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Atau mungkin ia bisa menghibur Kris yang masih harus berbaring di Sanatorium, membacakan buku untuknya misalnya. Banyak sekali yang bisa dikerjakan. Taeyeon juga pandai merancang dan melukis, mungkin ia bisa membantu dengan membuat beberapa buku acara untu kpertunjukan drama kita. Ia masih bisa menulis dan melukis dengan tangan kanan. Kita juga memerlukan mahkota-mahkota emas, Yesung berjanji akan membuatnya, dan Taeyeon mungkin bisa membantunya mengecatnya dengan cat emas.”
Semua setuju bahwa jika Taeyeon diberi tugas-tugas, mungkin sekali ia akan melupakan kemarahannya. Maka satu persatu mereka mendatangi Taeyeon untuk minta dibantu ini-itu.
Taeyeon anak cerdas. Ia segera mencium maksud teman-temannya itu. mula-mula ia cenderung untuk langsung menolak permintaan mereka. Untuk apa ia melakukan sesuatu untuk kesenangan orang lain, padahal dirinya sendiri tak bisa merasa senang? Sunny melihat air muka masam Taeyeon, lalu segera menuntunnya keluar.
“kajja, ikut jalan-jalan,” kata Sunny. “dan kita bisa mengobrol. Aku sekarang seorang Pengawas dan aku punya hak untuk menasihatimu dan menolongmu.”
Mereka berjalan-jalan di taman. “aku tahu apa yang akan kau katakan,” kata Taeyeon. “kau akan berkata bahwa tindahku buruk sekali. Aku tidak akan bisa jadi Pengawas sepertimu, aku tidak akan bisa melupakan kepentingan diriku sendiri, aku tidak akan bisa turun tangan jika ada sesuatu yang kuanggap tidak beres.”
“Taeyeon, kau benar-benar bodoh.” Kata Sunny dengan sabar. “kau tidak tahu apa yang bisa kau lakukan sebelum kau mencobanya. Semester ini tinggal 2 minggu lagi. Jangan membuat waktu yang singkat itu tak menyenangkan bagimu. Kami semua menyukaimu, mengagumimu. Jangan sampai hal kecil seperti sakit pergelangan tanganmu itu membuat perasaan kami padamu berubah, membuat kami tak senang padamu, tak kagum padamu. Kau sebenarnya memang sangat mengesalkan. Kau membuat segalanya sulit bagi sahabat-sahabatmu.”
Taeyeon menendang sebuah batu dijalan. Mengapa ia membuat teman-temannya kesal, pikirnya, padahal sakit tangannya itu karena kesalahannya sendiri. ia benar-benar tak bisa berpikir dewasa! Akhirnta Taeyeon memegang tangan Sunny.
“baiklah, Pengawas! Akan ku bantu kau sejauh aku mampu. Aku akan membuat buku acara, kau akan berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Aku akan membacakan buku untuk Kris. Aku akan mengecat mahkota emas itu. kalau tinggal 2 minggu saja aku tak bisa bersikap baik, sungguh keterlaluan, bukan?”
“sebenarnya karena kami tahu bahwa kau mempunyai pribadi yang kuat, maka kami tak rela tiba-tiba kau berkepribadian lemah. Baiklah, lakukan apa saja yang kau rasa baik.”
“sekali Taeyeon membaut keputusan, maka keputusan itu pasti dilakukannya. Seperti juga ia bisa tak sabaran, maka ia pun bisa bersabar hati. Seperti juga ia bisa jadi pemurung, ia pun bisa bersikap ceria. Dan perubahan ini berlangsung seketika!
Ia langsung membuat rencana buku acara. Ia bisa memegang kertas dengan tangan kiri, hingga dengan mudah ia bisa menggambar dengan tangan kanan. Tak lama ia sudah menyelesaikan 6 buah buku acara. Indah dan menarik, dan dikagumi teman-teman sekelasnya. Taeyeon sangat gembira.
“sekarang aku akan menjadi anak baik dan aku akan berlatih vocal bersama Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Yah, setidaknya aku bisa tampil di pertunjukan akhir semester meskipun tidak bermain piano. Dan kemudian mengunjungi Kris. Membacakan sebuah buku untuknya,” katanya sambil tersenyum riang pada siapa saja. begitu ia keluar ruangan, semua tertawa.
“ia memang bukan main badungnya, tapi kita menyukainya,” kata Sulli. Dan semua anak setuju pada pendapat itu.
to be continue..

readers, 1 chapter lagi tamat nih, hohoho

[FF] Trouble Maker – Chapter 24

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 24 : The Scary Experience
Bulan Desember tiba. Sekolah SM sibuk mempersiapkan berbagai pertunjukan untuk akhir semester nanti. Cuaca sering buruk, sehingga banyak kegiatan di luar gedung terpaksa dibatalkan.
“bahkan untuk berkebun juga tidak baik,” gerutu Changmin, kemudian melihat keluar jendela. “tanah begitu lembek sehingga tidak bisa digali.”
“bisa sih bisa tapi kau akan basah kuyup,” kata Sunny. “seharusnya kau cari kesibukan lain. Tapi mestinya kau akan sibuk menekuni buku-buku berkebunmu.”
Sunny bangga sekali menjadi Pengawas. Dilakukannya semua tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh kebanggaan. Diperhatikannya betul-betul bahwa anak-anak dibawah pengawasannya tidak ada yang melanggar peraturan. Dan kalau mereka datang padanya minta bantuan atau pertolongan, maka ia berusaha keras untuk bisa membantu, paling tidak dengan nasihat. Ia juga harus bertindak selalu bijak dan sabra, dan ini tak begitu sulit baginya, karena pada dasarnya ia memang anak yang bijak dan baik hati.
Taeyeon merasa sangat gembira Sunny menjadi Pengawas. Ia sama sekali tidak merasa iri, walaupun ia punya keinginan juga menjadi Pengawas. Lagi pula Sunny telah berada lebih lama darinya. Ia harus mampu menunggu gilirannya dengan sabar, walaupun sabar bukan salah satu sifat Taeyeon.
Taeyeon dengan tekun berlatih music, dan melatih duetnya dengan Kangta berkali-kali. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa bermain sangat bagus dibidang music. Mr. Shin sering memujinya.
“Taeyeon, kau berlatih terlalu rajin. Permainanmu sangat luar biasa baiknya semester ini.”
Taeyeon merasa bangga. Asha! Akan ditunjukkannya pada semua orang betapa pandainya dia bermain music. Kalau orangtuanya hadir, pasti mereka heran dan bangga melihat dia bermain duet begitu sulit dengan orang sehebat Kangta.
“kau tampaknya jadi terlalu sombong akan permainanmu, Taeyeon,” kata Kangta. Kangta kalau bicara memang selalu ceplas-ceplos, tidak pernah dipikir sebelumnya, kadang-kadang memang menyakitkan hati. “sayang sekali. Aku menyukai permainanmu. Tapi aku tidak suka kalau kau jadi sombong karenanya.”
“jangan bicara begitu, oppa,” kata Taeyeon, meluap amarahnya tapi ditahannya. “bukankah aku tidak berkata padamu bahwa kau juga sombong?”
“aniya. Sebab aku memang tidak sombong. Aku tahu benar aku punya bakat music. Aku tahu benar itu anugrah Tuhan, sesuatu yang membuatku bersyukur. Dan aku akan selalu menggunakan bakatku itu sebaik mungkin. Tapi aku tidak akan pernah menyombongkannya.
Taeyeon merasa tersinggung. Terutama karena ia tahu bahwa kata-kata Kangta ada benarnya. Ia memang sedikit besar kepala karena terlalu sering dipuji!
“tapi kenapa aku tidak boleh membanggakan kepandaianku,” pikir Taeyeon. “aku tidak memiliki bakat hebat seperti Kangta. Kepandaianku karena hasil jerih payahku, sudah selayaknya aku patut berbangga, bukan?”
Karena itu Taeyeon tetap saja merencanakan untuk memamerkan kepandaiannya pada pertunjukan akhir semester. Ia akan membuat semua orang kagum akan kepandaiannya memainkan piano. Tapi memang, siapa sombong akan terdorong, siapa angkuh akan jatuh, dan siapa takabur akan hancur. Taeyeon juga akan tahu itu, dengan cara yang cukup mengerikan.
Taeyeon, Yesung, Changmin, dan Amber telah merencanakan untuk pergi berkuda disuatu sore, sebelum waktu latihan olahraga. Sehun mendadak muncul dan minta pada Yesung agar ia juga diperbolehkan ikut.
“tidak bisa, Sehun-ah,” kata Yesung. “kuda yang biasa kau tunggangi pincang, dank au belum begitu bisa menguasai yang lain. Tunggu saja sampai kudamu sembuh.”
“oh, ayolah, biarkan aku naik kuda yang lain,” pinta Sehun. “kau kan tahu, aku sudah cukup bisa berkuda.”
“biarlah dia ikut, Yesung,” kata Taeyeon. “ia bisa naik Genie.”
“Tapi Genie hari ini agak aneh,” kata Yesung. “baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau keadaan Genie membaik jam 2 nanti, kau boleh ikut.”
Sudah jam 2. Ternyata Yesung belum berada di kandang. Yang lain sudah berkumpul. Taeyeon memasang pelana pada kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Dan Yesung belum juga muncul.
“aigoo..” keluh Taeyeon. “ini sudah jam 2 lebih 10 menit. Yesung kemana sih? Kita membuang-buang waktu saja.”
Sehun cepat berlari untuk mencari Yesung. Tapi beberapa menit kemudian ia telah kembali dan berkata bahwa ia tak bisa menemukan Yesung.
“geurae, kalau kita ingin berkuda, sebaiknya cepat berangkat,” kata Taeyeon. “bisa habis waktu kita nanti.” Ia memanggil pengurus kuda.
“Hey, Tao! Bolehkah aku memasang pelana Genie? Apa Genie sudah baik?”
“dia tampaknya agak gelisah,” sahut Tao. “lihat saja sendiri.”
Taeyeon pergi ke kandang Genie. Kuda kecil itu segera menciumi tangannya. Taeyeon menggaruk-garuk hidung Genie dan berpikir, “sepertinya kuda ini baik-baik saja.” dan ia berkata pada Sehun, “kurasa kuda ini sudah baik, Sehun-ah. Baiklah kupasangkan pelanamu. Aku yakin Yesung akan berkata bahwa kau boleh menungganginya.”
Cepat-cepat Taeyeon memasang pelana pada Genie, dan Sehun langsung melompat kepunggung kuda itu. keempat anak itu tak lama kemudian sudah berkuda di padang rumput.
“kita tak punya banyak waktu!” seru Taeyeon. “tinggal 20 menit! Setelah sampai di bukit, kembali lagi saja!”
Mereka berderap di jalan yang menuju ke bukit. Dan terjadi sesuatu!
Ketika mereka menikung, dari arah depan ternyata sebuah mesin penggilas muncul, menderu-deru dan menderam-deram. Genie melonjak ketakutan. Sehun mencengkram kendalinya.
Cepat-cepat Taeyeon memajukan kudanya, mencoba menyambar kendali Genie. Tapi Genie mengibaskan kepala, meringkik keras dan melesat memasuki sebuah gerbang yang terbuka kearah sebuah padang.
Dan Genie melarikan diri! Ketiga anak yang tertinggal itu sesaat ternganga ketakutan, kasihan sekali Sehun! Dibawa lari Genie, berpegangan erat-erat ketakutan, sementara kudanya bagaikan gila berlari menyebrangi padang berbatu menuju bukit.
“akan kukejar dia!” teriak Taeyeon. Dibelokkannya kudanya, berpacu cepat memasuki padang. Ia berteriak pada kudanya, ia menepuk punggung kuda itu. dan sang kuda mengerti ia harus mengejar Genie yang lari tak terkendali itu.
Menyebrangi padang berbatu itu Taeyeon terus mengejarnya, sementara Changmin dan Amber terpaku ketakutan. Dikejauhan Genie juga terus berpacu, membawa Sehun dipunggungnya.
Kuda Taeyeon jauh lebih besar dan lebig cepat daripada Genie. Dan ia pun sangat senang berlari cepat. Kakinya mengepak keras membuat kerikil beterbangan. Dan Taeyeon terus saja membujuk agar ia berlari lebih cepat lagi! Untunglah ia cukip pandai berkuda dan ia sangat mempercayai kudanya. Mereka berpacu terus, dan makin lama makin dekat dengan Genie.
Saat itu Genie sudah mulai terengah-engah, sebab mulai menanjak lereng bukit yang terjal. Kini ia mulai menderap lambat, sementara Sehun berusaha keras menghentikannya. Tapi Genie masih ketakutan.
Taeyeon terus berpacu dan akhirnya menyusul Genie. Tapi Genie jadi ketakutan lagi melihat kedatangannya. Ia menjulurkan leher dan mulai berlari cepat lagi.
Untung Taeyeon berhasil menyambar cepat kendalinya. Dan saat Genie merasakan tangan kecil tapi kuat menahan kendalinya, ia mulai tenang. Taeyeon membujuknya terus. Taeyeon tahu cara berbicara dengan kuda, Genie hanya sekali mencoba membebaskan diri, kemudian dengan patuh ia memperlambat langkahnya, gemetar sekujur badannya.
Sehun juga gemetar. Ia segera turun. Taeyeon melompat turun dari kuda dan cepat memegang kepala Genie. Dalam beberapa menit saja ia telah membuat tenang kuda itu. tapi ia belum berani menungganginya.
“Sehun-ah, naiklah kudaku dan pergilah ke anak-anak yang lain,” kata Taeyeon. “aku akan menuntuk Genie pulang. Katakana pada Choi seonsaengnim aku tidak bisa datang tepat pada waktunya untuk latihan. Cepat berangkatlah!”
Sehun anik kuda Taeyeon segera pergi menemui yang lain. Rasa takutnya segera hilang dan ia mulai membual pada Changmin dan Amber tentang pengalamannya di atas kuda yang melarikan diri tadi. Ketiga anak itu langsung pulang, menyampaikan pesan Taeyeon, sementara Taeyeon harus berjalan menuntun Genie, menempuh jarak yang lumayan jauhnya!
Tak lama Taeyeon sudah merasa letih dan kesal. Kejadian tadi mengakibatkan suatu kecelakaan yang mengerikan. Mungkin saja Sehun jatuh dan terluka parah. Kenapa ia memperbolehkan Sehun menaiki Genie sebelum dapat persetujuan dari Yesung? Tapi Yesung juga salah, mengapa ia tidak datang tepat waktu?
Tangan kirinya terasa sakit. Tadi ia menggunakan tangan itu untuk menyambar tali kendali Genie. Dan sepertinya karena tarikan Genie maka terjadi salah urat pada tangan kirinya itu. Dimasukannya tangan itu kedalam mantelnya, berharap semoga kehangatan bisa membuatnya lebih baik. Sungguh sengsara ia berjalan menyebrangi padang dan menyusuri jalan sambil menuntun kuda yang mendengus-dengus dan terengah-engah karena kelelahan.
Pengurus kuda tampak gusar waktu ia datang. Yesung juga lari keluar dan langsung memarahinya.
“Kim Taeyeon! Sudah kudengar semuanya!” kata Yesung. “bodoh sekali kau memperbolehkan Sehun naik Genie. Aku terpaksa terlambat datang karena harus mengerjakan sesuatu untuk Sooman sajangnim. Harusnya kau menunggu sampai aku datang! Kalau saja kau menungguku, peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi, sebab pasti aku tidak akan mengijinkan Genie ditunggangi. Kau ini selalu saja tak pernah berpikir kalau bertindak!”
Taeyeon begitu letih, tangannya begitu sakit. Tak terasa air matanya mengalir.
“bagus sekali, kau jadi bayi sekarang, hah?” Yesung berkata mengejek. “kau kira kalau kau menangis aku akan kasihan? Lalu aku tidak akan memarahimu? Dasar yeoja! Untung saja Sehun dan Genie tidak apa-apa.”
“Yesung! Jangan terlalu keras memarahiku!” Taeyeon tersedu-sedu. “tanganku sakit sekali, dan aku memang sangat meyesal telah memperbolehkan Sehun menaiki Genie.”
“oh, ya Tuhan!” seru Tao yang semula diam saja melihat pertengkaran keduanya. “tanganmu bengkak, Taeng!”
“coba kulihat tanganmu,” kata Yesung agak lebih lembut. Dan kemudian tampak cemas dan khawatir. “cepat pergi ke Ibu Asrama. Sepertinya cukup gawat tanganmu ini. jangan terlalu bersedih, nasi sudah jadi bubur. Lain kali berpikirlah 2 kali sebelum mengambil keputusan. Sudah,uljima!” Kata Yesung sambil menghapus air mata Taeyeon kedua jari jempolnya penuh perhatian.
“bukan karena itu aku menangis,” kata Taeyeon kesal. “aku menangisi kuda yang begitu binal itu, dan tanganku yang sangat sakit!”
Taeyeon bergegas ke tempat Ibu Asrama. Kasihan sekali. Selalu ada saja yang terjadi pada Taeyeon.
“Taeyeon!” panggil Yesung dari kejauhan membuat Taeyeon menoleh ke belakang. “berhentilah membuatku khawatir!”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 23

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 23 : Surprise For Sunny
2 bulan dari semester Natal telah lewat. Rapat Besar telah diadakan 7 kali. Dan yang kedelapan akan diadakan Jumat ini. dalam rapat nanti itu akan dipilih seorang Pengawas baru, sebab salah seorang Pengawas lama, Kris, terpaksa harus tinggal di Sanatorium selama 1-2 minggu karena flu.
“bagaimana cara memilih Pengawas baru?” tanya Yesung. “belum ada Pengawas baru yang dipilih sejak aku ada disini. Semula kukira masa jabatan Pengawas satu bulan. Tapi sudah 2 bulan kita memiliki Pengawas yang sama.”
“ne, sebab Pengawas yang ada cukup bagus sehingga kita tidak menginginkan mereka diganti,” kata Sunny. “kalau kita menghendaki, setiap bulan kita bisa memilih Pengawas baru. Tapi tak ada gunanya memilih Pengawas baru kalau kita puas dengan Pengawas yang lama. Kukira saat ini semua Pengawas kita sangat bagus.”
“benar,” kata Taeyeon. ‘tadinya kukira jadi Pengawas sungguh tidak enak, harus menaati semua peraturan dan menjaga agar anak lain juga menaati peraturan itu. tapi sekarang berubah pendapat. Kurasa pasti menyenangkan kalau kita dipercaya oleh begitu banyak anak, dan menjadi tempat meminta tolong dan nasihat.”
“memang orang yang akan menjadi cukup berarti di dunia ini adalah mereka yang bisa dipercaya orang lain dan bisa dimintai pertolongan,” kata Sulli. “dan kita mendapat pelajaran untuk itu di SM ini. suatu hari nanti aku ingin sekali menjadi seorang Pengawas. Tapi seperti kau, taeng, rasanya keinginan tersebut tidak akan mungkin terkabul.”
“tapi belum ada yang menjawab pertanyaanku,” kata Yesung .
“apa pertanyaanmu tadi?” tanya Taeyeon.
“aku bertanya bagaimana Pengawas dipilih. Mereka dipilih oleh kita, oleh Juri, oleh hakim, atau oleh siapa?”
“mula-mula seluruh sekolah yang memilih,” kata Changmin. “tiap anak menulis di atas kertas nama anak yang mereka anggap baik untuk menjadi Pengawas, lalu ditutup rapat, dan diserahkan pada Juri.”
“lalu bagaimana?” tanya Yesung.
“lalu DewanJuri memilih 3 nama yang emndapat suara terbanyak,” kata Changmin. “kemudian setiap anggota Dewan Juri itu memilih satu nama yang terbaik menurut mereka masing-masing. Hasil pemilihan mereka diserahkan pada Hakim, Siwon dan Boa.” Kedua Hakim itu lalu memilih satu nama dari hasili pilihan Dewan Juri, dan terpilihlah seorang Pengawas baru.”
“oh, begitu.” Kata Yesung mengangguk-angguk. “sepertinya memang adil, semua memperoleh kesempatan untuk menyatakan pendapat. Itulah salah satu yang kusukai di SM ini. semua diberi kesempatan berbicara.”
“aku tak bisa berpikir siapa yang akan kupilih,” kataSulli. “sulit sekali menentukannya.”
“nado,” Sunny merenung. “sungguh suatu kehormatan untuk dipilih, jadi kita harus berpikir baik-baik, yang kita pilih haruslah orang yang memang pantas mendapat kehormatan itu.”
“bolehkah aku berjalan bersamamu dalam perjalanan pengamatan alam nanti?” Amber bertanya pada Sunny. “TAeyeon tidak bisa ikut, ia harus berlatih music dengan Kangta.”
“boleh,” kata Sunny. “tapi jangan datang terlambat, sebab aku yang harus memimpin nanti. Jadi kalau kau ingin berjalan bersamaku, kau harus datang tepat waktu.”
Amber datang tepat pada waktunya. Kedua anak itu berangkat dengan membawa buku catatan mereka, diikuti anak-anak lain yang juga berjalan berdua-dua. Mereka diharuskan mencari bunga ivy, jenis tanaman sulur-suluran, santapan terakhir serangga-serangga musim itu. mereka harus mencatat dan menggambar serangga-serangga yang mereka dapati pada bunga tersebut.
Sungguh menyenangkan berjalan-jalan berdua di sepanjang jalan setapak dan melintasi padang. Matahari musim dingin yang pucat bercahaya lembut, langit pun berwarna biru muda. Semua pohon sudah tak berdaun lagi, kecuali pohon pinus dan pohon fir yang ujung daun-daunnya berkilauan karena tetasan embun beku.
Amber menggumamkan sebuah lagu sambil matanya mencari bunga ivy. Sunny memandang heran padanya.
“aneh juga perubahan yang terjadi pada seseorang,” kata Sunny. “semester yang lalu aku menyaksikan betapa Taeyeon yang badung dan nakal berubah menjadi baik dan manis. Aku dan Yesung yang semula pemalu dan selalu merasa kesepian berubah menjadi senang bergaul. Dan sekarang aku juga berubah!”
“ne, ara. Tapi ada satu hal dariku yang tak bisa berubah, Sunny. Aku tetap seorang penakut.”
“apa maksudmu? Apa kau takut pada sapi, misalnya?” tanya Sunny heran.
“aniyo, tentu tidak. Aku takut akan pikiran orang lain. Itu lebih mengerikan daripada sapi! Tak seorang pun kecuali kau, Sulli, Sooyoung, dan Taeyeon yang tahu perbuatan jahatku. Ah, ya, juga Siwon dan Boa. Dan aku tahu pasti, misalkan saja yang berbuat itu kau, atau Sulli, atau Taeyeon, pastilah kalian dengan berani mengakuinya dihadapan seisi sekolah waktu Rapat Besar. Tapi aku tidak berani berbuat seperti itu.”
“tapi kenapa tidak? Kau tahu bahw seluruh murid akan sangat memuji keberanianmu mengaku. Dan ini akan mengurangi rasa marah mereka pada perbuatan jahatmu. Lain halnya kalau, entah karena apa, tersebar berita bahwa kaulah yang berbuat dan tidak mau mengaku. Semua akan tambah membencimu. Bahkan kau sendiri akan merasa benci pada caramu mengambil keputusan. Semua orang emmiliki keberanian yang sama. Hanya ada yang tidak bisa memutuskan kapan menggunakan keberanian tersebut.”
“jinjja?” tanya Amber. “maksudku, apakah aku juga punya keberanian? Apakah kau bisa menggunakannya kalau aku menghendakinya? Aku tidak harus menjadi penakut?”
“kau sungguh bodoh,” kata Sunny menggandeng tangan Amber. “bear! Tak seorang pun harus menjadi penakut. Setiap orang bisa menggunakan keberanian mereka pada saat mereka memutuskan utnuk menjadi berani. Cobalah di Rapat Besar nanti. Kau akan mengerti apa yang kumaksud.”
Saat itu mereka menemukan sekelompok bunga ivy yang sedang berkembang, dan percakapan mereka pun terputus. Mereka sibuk menulis dan menggambar. Namun Amber sebenarnya masih memikirkan kata-kata Sunny. Sungguh bagus kalau kata-kata itu benar. Kalau memang semua orang punya keberanian tersembunyi, tidak perlu ada penakut didunia ini! mereka tinggal menentukan saja kapan harus menggunakan keberanian itu.
“akan kucoba apakah aku bisa menggunakan keberanianku di Rapat berikutnya,” kata Amber dalam hati, walaupun makin dipikir, ia makin takut. “sungguh mengecilkan hati melihat anak-anak lain dengan mudah berdiri dan memberikan pengakuan mereka, sementara aku membuka mulut saja tidak berani.”
Sore itu sewaktu Rapat akan dimulai, Amber duduk dengan kaki gemetar, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia tak berkata apa-apa pada sahabatnya. Dan Rapat pun di mulai. Uang dikumpulkan ,dibagikan, lalu diberikan tambahan pada mereka yang membutuhkan. Ada yang ditolak, ada yang diterima. Kemudian sampailah pada acara keluhan dan laporan.
Hanya ada satu laporan dan satu keluhan. Semuanya ditanggapi dengan cepat.. kemudian sebelum melanjutkan acara dengan pemilihan Pengawas Baru, Siwon minta waktu untuk bicara.
“ada pengumuman sedikit,” kata Siwon. “dengan ini diumumkan bahwa Suho telah kembali ke kamar tidurnya, dan sekarang ia tak lagi mendengkur.”
Semua tertawa dan bebapa anak malah bertepuk tangan. Suho pun ikut tertawa.
Kemudian Siwon minta agar hadirin tenang. “aku juga ingin mengumumkan bahwa berdasarkan pengamatan banyak orang, maka dengan bangga dan gembira kami menyatakan sangat puas akan perkembangan yang terjadi pada diri Yesung. Dari semua pengawas, Boa dan aku menerima laporan-laporan yang sangat memuaskan. Dari pengurus kuda didapat keterangan bahwa ia hampir tak bisa bekerja lagi tanpa Yesung.”
Yesung berseri-seri kegirangan. Dan semua hadirin juga merasa senang bahwa bantuan mereka untuk memperbaiki pribadi Yesung telah berhasil dengan baik.
Dan saat itulah Amber mendapatkan keberaniannya. Tahu-tahu ia sudah berdiri, kakinya tak lagi gemetar dan suaranya mantap. Ia memandang para Hakim dan Dewan Juri lurus ke depan.
“aku ingin mengatakan sesuatu yang mestinya sudah kukatakan sejak dulu.” Kata Amber. “aku ingin mengatakan bahwa akulah yang melakukan perbuatan-perbautan yang dituduhkan pada Yesung. Sebelum ini aku terlalu takut untuk mengakui perbuatan itu.”
Hening seketika. Semua orang terpesona. Mereka yang belum tahu merasa terkejut akan kenyataan itu. mereka yang sudah tahu terkejut melihat keberanian Amber. Apa yang menyebabkannya mengaku?
Kemudia Boa berbicara, “lalu apa yang membuatmu berani mengaku kali ini?”
“sesuatu yang dikatakan Sunny padaku. ia berkata bahwa tak ada perlunya bagi seseorang untuk merasa takut. Menurutnya semua orang punya keberanian, yang jadi soal adalah bagaimana kita bisa menggali keberanian itu dan menggunakannya. Aku telah menggali keberanianku, dan menggunakannya. Sunny memang benar. Sekarang aku tak merasa takut lagi.”
“gomawo, Amber,” kata Boa.
Amber duduk. Kepalanya terasa ringan. Seakan beban berat telah diambil dari pundaknya. Ia telah mendapatkan keberaniannya dan tidak akan melepaskannya lagi.
“kita tidak akan membicarakan apa yang baru saja diakui oleh Amber,” kata Boa. “kami sangat gembira bahwa akhirnya ia punya keberanian untuk mengaku. Tentu saja aku dan Siwon sudah mengetahuinya, dan kami berharap suatu hari ia akan cukup berani mengaku pada kalian semua. sekarang ia sudahmengakui perbuatannya, dan kami semua sangat senang.”
“sekarang kita akan melanjutkan acara dengan pemilihan Pengawas baru,” kata Siwon. “seohyun, tolong bagikan kertas-kertas suara.”
Seohyun pun membagikan kertas yang dipotong kecil-kecil itu.
Setiap anak menuliskan nama anak yang dipilihnya, nama seseorang yang mereka anggap cukup baik untuk dijadikan Pengawas. Kertas-kertas tadi kemudian dikumpulkan oleh Juri, dibuka, dan dihitung. Tiga nama yang memiliki suara terbanyak disisihkan. Dan anggota Dewan Juri memilih dari ketiga anak ini, siapa yang dianggap terbaik. Juri-juri ini juga menulis di kertas, yang secara tertutup diberikan pada kedua Hakim.
Siwon dan Boa membuka kedua belas kertas itu dan membaca pilihan Dewan Juri. Mereka berunding dengan suara perlahan, sementara hadirin menunggu dengan perasaan tegang, sunyi senyap, menunggu siapa yang akan terpilih.
Kemudian Siwon mengetuk meja. Kesunyian mekin terasa. “tampaknya tak terlalu sulit untuk menjatuhkan pilihan kali ini,” kata Siwon. “tampaknya hampir semua diantara kalian telah memilih nama yang sama. Nama ini muncul di hampir semua kertas suara. Lee Sunny!”
Riuh rendah sorak-sorai dan tepuk tangan. Muka Sunny merah padam bagaikan kepiting rebus. Ia sama sekali tak menduga akan terpilih! Agaknya seluruh isi sekolah telah mendengar betapa bijaksananya Sunny dari apa yang dikatakan oleh Amber. Sekarang Sunny memperoleh pahalanya. Ia jadi Pengawas!
“kami memperoleh laporan yang sangat baik tentangmu dari para Pengawas,” kata Boa. “kami tahu bahwa kau bisa dipercaya, kau baik hati, dan cukup bijaksana bila mengingat umurmu. Kami yakin kau akan berusaha sebaik mungkin untuk sekolah kita. Majulah dan duduklah di meja Pengawas, Sunny. Kami dengan gembira menerimamu di meja Juri.”
Sunny pergi ke meja Juri, bangga dan bahagia. Taeyeon bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Ia begitu bangga dan gembira karena Sunny memperoleh kesempatan itu.
“Sunny pantas menerimanya.” Batin Taeyeon. “sangat pantas! Ya Tuhan, senang sekali kalau aku bisa jadi Pengawas. Tapi kurasa aku sama sekali tak punya bakat untuk itu. sama sekali tidak.”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 22

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 22 : Taeyeon Got a Problem (again)
Waktu berlalu dalam suasana bahagia. Dengan tak adanya pertengkaran antara Amber dan yang lain, serta antara Yesung dan Taeyeon, keadaan jadi lebih menyenangkan.
Taeyeon belajar dengan rajin, dan dengan mudah berada di puncak urutan peraih angka terbaik dikelasnya. Yesung kadang-kadang nomor 2, kadang-kadang nomor 3. Tapi ini sudah membuat Mrs. Song senang, sebab sebenarnya Yesung bukanlah anak pandai jadi keberhasilannya menandakan bahwa anak itu benar-benar bekerja keras. Amber juga belajar sebaik-baiknya, dan tak pernah membantah secara keterlaluan seperti dulu. Khususnya pada mata pelajaran bahasa Perancis ia memperoleh kemajuan pesat, sampai Mrs. Han suatu hari menyatakan kegembiraannya.
“anak dikelas ini yang mencapai kemajuan pesat adalah Amber,” kata Mrs. Han. “ah, dulu kukira dia bodoh sekali. Dulu aku sering memarahinya. Tapi sekarang karangan bahasa Prancisnya yang terbaik. Dan ia mengucapkan ‘r’ dalam bahasa Prancis tepat seperti semestinya. Tidak sepertimu Yesung! Kau tak pernah mengucapkan huruf ‘r’ secara tepat!”
Yesung tersenyum. Amber tersipu-sipu, tapi merasa sangat senang. ia belum pernah dipuji dikelas. Ia jadi heran juga kenapa dulu ia selalu memperoleh nilai buruk.
“kekuatan otakku tampaknya makin baik juga,” pikir Amber. “dan aku sekarang meyukai pelajaranku. Dulu aku bosan sekali pada pelajaran. Mungkin aku bisa terhindar dari kedudukan juru kunci. Wah, pasti hebat! Eomma akan sangat senang kalau peringkatku setidaknya mendekati peringkat atas.”
Ia memang khusus belajar lebih rajin pada pelajaran Mrs. Han. Ini suatu perubahan besar bagi Amber. Dulu setelah Mr. Han memarahinya, ia langsung tidak menyukai bahasa Prancis, termasuk gurunya, dan sembarangan saja belajar. Tapi sekarang segalanya berubah. Misalnya saja, Amber sekarang tampak lebih sehat. Ia sering berkuda, berjalan-jalan, dan bahkan menawarkan diri untuk membantu Changmin, Taeyeon, dan Sehun di kebun sekolah.
“ommo, aku tak pernah menyangka kau punya pikiran untuk membantu kami. Apa kau mengerti tentang berkebun?” tanya Changmin.
“tidak banyak,” jawab Amber secara jujur. 3 minggu sebelumnya mungkin ia akan berbohong dan membual serta mengatakan bahwa ia tahu banyak tentang berkebun. “tapi, Changmin, pasti aku bisa membantu sedikit-sedikit, bukan?”
“tentu, dorong gerobak isi sampah itu ke tempat sampah, tuangkan disana dan ambil sampah berikutnya,” kata Changmin. “pekerjaan itu terlalu berat untuk Sehun.”
Sehun sangat ingin membantu Changmin. Dan Changmin senang anak itu menaruh perhatian lebih pada pekerjaan di kebun sekolah. Sehun sering bercerita pada Changmin bahwa Yesung membawanya berkuda. Changmin lama-lama tertarik juga untuk mencoba.
“aku harus mencobanya sekali-kali,” kata Changmin. “walaupun dulu aku tak punya minat sama sekali. Memang waktu pertama kali masuk SM ini aku sering berkuda, tapi kemudian aku lebih tertarik berkebun, dan jadi lupa segala-galanya. Tapi besok aku akan mencobanya, Sehun.”
Sehun berbicara tentang hal itu pada Yesung. Dan ia setuju. Ia mengatur sehingga keeseokan harinya Changmin, Sehun, Taeyeon, Amber, dan ia sendiri bisa berkuda bersama. Menjelajahi padang rumput, perbukitan, dibawah cahaya pucat matahari musim dingin. Ternyata Changmin sangat menyukainya!
“aku akan ikut lagi lain waktu,” kata Changmin melompat turun dari pelananya. “benar-benar menyenangkan! Ommo, Amber, pipimu merah sekali! Padahal dulu kau begitu pucat. Ngomong-ngomong, apa kau bisa membantuku di kebun akhir minggu ini?”
“tentu!” seru Amber senang.
Senang sekali dimintai bantuan oleh seseorang. Ia sekarang merasa betapa indahnya mempunyai sahabat. Bila kita membantu seorang sahabat, maka sahabat kita itu pasti akan membalas membantu kita suatu hari. Dengan begitu akan lebih menyenangkan kalau kita punya sahabat banyak.
“benar juga kata Siwon dan Boa,” pikir Amber. “dulu aku iri pada Sulli, dan kukatakan dia sangat beruntung punya sahabat begitu banyak. Dan kukatakan hanya karena aku tak punya nasib baik sajalah maka aku tidak punya sahabat. Tapi sekarang karena aku bersikap manis, banyak peristiwa manis terjadi padaku. tepat sekali kata Boa. Diri kita sendirilah yang menentukan nasib kita. Aku selalu mengeluh, menggerutu tentang apa saja, menyalahkan nasibku bila aku tak memperoleh apa yang kuinginkan. Tapi begitu aku mengubah pribadiku, semuanya berubah! Sayang sekali tidak semua orang mengetahui hal itu.”
Taeyeon tekun sekali belajar music, Mr. Shin sangat gembira atas kemajuannya. Ia dan Kangta sekali lagi berlatih berduet. Namja itu senang sekali berduet dengan yeoja mungil yang lincah jarinya itu. taeyeon juga suka pada Kangta karena ia seorang pemusik luar biasa.
“bolehkah kita bermain duet dalam pertunjukan music akhir semester nanti? Seperti dulu?” tanya Taeyeon. “aku ingin sekali, Shin seonsaengnim. Apa kami akan cukup baik?”
“oh, ne,” kata Mr. Shin. “disamping itu Kangta juga akan memainkan biolanya. Apa kau pernah mendengarkan ia memainkan lagu seperti yang ada di CD, Taeyeon?”
“belum, belum pernah.” Kata Taeyeon. “coba mainkan untukku, oppa!”
Kangta segera mengambil biolanya. Kemudian namja yang tampak selalu melamun itu, memainkan sebuah lagu yang amat indah untu kgurunya dan untuk Taeyeon. Mereka berdua terpesona mendengarkannya.
“oh, indah sekali,” kata Taeyeon sewaktu lagu tersebut selesai. “ingin sekali aku bisa memainkannya seindah itu. bisakah aku belajar biola, seonsaengnim?”
“Taeyeon, hari-harimu sudah terlalu sibuk,” kata Mr. Shin, tertawa. “tidak. Lebih baik kau belajar piano saja.”
“tapi Kangta oppa bisa belajar dua-duanya, piano dan juga biola,” kata Taeyeon.
“ne, tapi selain kedua kegiatan itu, ia tak mempunyai kegiatan lainnya,” kata Mr. Shin. “tidak ada yang menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang lain, jadi ya lebih baik ia mengisi waktu dengan kedua hal tadi. Tidak aka nada orang yang menyuruh Kangta menyiangi kebun, naik kuda lebih dari satu kali, memelihara tikus putih, dan sebagainya. Hanya satu pikirannya, music.”
“akan kubuat agar ia memikirkan hal lain,” kata Taeyeon. “ayolah ikut berlatih lacrosse besok, oppa. Kau belum merasakan betapa senangnya bermain begitu bagus hingga terpilih untuk bermain dalam sebuah pertandingan penting.”
Tapi Kangta menolak ajakan itu. memang pernah juga ia bermain dalam suatu permainan olahraga, tapi permainannya buruk sekali. Bahkan si kepala batu Taeyeon tak sanggup membuat Kangta meninggalkan musiknya. Taeyeon tak meneruskan usahanya. Dalam hati ia bangga terpilih bermain duet bersama namja luar biasa itu.
“suatu hari ia akan menjadi seorang pemusik dan pengarang lagu yang terkenal,” kata Taeyeon pada Sunny dan Sulli. “dan aku akan dengan bangga bisa menyatakan bahwa aku pernah bermain duet dengannya.”
Di pertunjukan akhir semester, akan dipentaskan juga sebuah drama. Anak-anak dikelas Taeyeon mendapat tugas untuk menulis scenario juga. Lama sekali mereka memikirkan ceritanya. Hingga Donghae ketiduran menunggu ide teman-temannya karena ia terlalu malas untuk berpikir.
Dan ketika garis besar cerita sudah mereka sepakati, mereka sampai pada pekerjaan berat yaitu menuangkan cerita tadi kedalam naskah drama atau scenario.
Ternyata Sulli dan Amber sangat pandai menulis naskah drama. Sulli pandai membuat dialog, Amber penuh khayalan untuk menciptakan berbagai suasana. Sebelum minggu itu lewat, kedua anak tersebut sudah menyusun naskah dramanya, dibantu oleh kritik positif dan negative dari teman-teman mereka.
Lucu juga melihat kedua anak yang tadinya bermusuhan sekarang bekerja sama begitu rukun. “sungguh aneh melihat Sulli dan Amber, persis seperti aku dan Yesung,” batin Taeyeon. “bodoh sekali kami bertengkar. Aku berjanji akan selalu menghindari pertentangan.”
Sungguh sayang mengucapkan hal itu. sebab pada hari berikutnya terjadilah pertentangan antara Taeyeon dan Changmin.
Mereka berdua telah membuat tumpukan sampah yang menggunung. Changmin bilang ia akan menyulutnya kalau kebetulan ada waktu luang. Tapi ketika ia mencari Changmin untuk membakar sampah itu, ternyata Changmin tidak ada!
“ah, sial,” kata kata Taeyeon dalam hati. “padahal aku ingin melihat api unggun itu. yah, kalau dalam beberapa menit ini Changmin tidak muncul, akan kunyalakan sendiri api unggun ini. Changmin pasti tak keberatan.”
Seharusnya Taeyeon tahu bahwa Changmin pasti merasa keberatan. Walaupun ia telah mempercayai Taeyeon untuk berbagai hal, untuk pembakaran sampah ia selalu mengerjakannya sendiri.
Taeyeon mengambil sekotak korek api. Dinyalakannya selembar kertas, lalu disesapkannya diantara tumpukan smapah. Api berkobar. Dan jadilah api unggun menyala dengan hebat! Besar sekali kobaran apinya. Asap biru menjulur ke atas dan meliuk-liuk mencapai gudang tua didekat situ.
Taeyeon meloncat-loncat dengan gembira. Ini bagus sekali! Rugi Changmin tidak segera datang.
Kemudian tiba-tiba ia melihat sesuatu. Angin meniup kobaran api unggun kearah gudang!
“astaga! Mudah-mudahan saja gudang itu tidak terbakar!” seru Taeyeon terkejut. “ommo! Benar-benar terbakar! Oh! Changmin! Changmin! Ppalli! Eodisseo?”
Changmin berlari mendatangi. Ia sedang berada di sudut lain kebun itu, dan cepat-cepat datang waktu dilihatnya kobaran api dari kejauhan. Ketika dilihatnya jilatan api telah hampir mencapai gudang, ia juga sangat terkejut.
“Taeyeon! Ambil pipa air!” teriaknya. Kedua anak itu berlarian mengambil pipa air, membuka gulungannya dan memasangnya di keran. Changmin membuka keran, dan mengarahkan pipa air ke api unggun. Tak berapa lama api unggun itu padam, meninggalkan asap mengepul.
“untuk apa kau nyalakan api unggun itu??!” hardik Changmin marah pada Taeyeon. “baboya!! Apa kau tidak tahu aku yang memimpin dikebun ini?? semuanya harus dilakukan dengan perintahku!! Kalau terlambat tadi, gudang itu sudah terbakar!!”
“jangan bicara begitu padaku!!” teriak Taeyeon marah. “kau bialng kalau kau yang akan membakar tumpukan sampah itu! dan kalau kau lakukan toh kejadiannya akan sama saja!!”
“aku tidak sebodoh kau! Aku tidak akan mungkin membakar tumpukan sampah itu begitu saja disitu, dan pada saat angin bertiup kearah gudang seperti ini! aku akan membakarnya setelah angin berganti arah! Bukan hari ini! kau tak ada urusan untuk membakarnya, arasseo??! Padahal seharusnyatumpukan sampah itu akan jadi api unggun yang bagus. Kau sudah merusaknya! Kau hanya membuat repot saja! aku tak mau kau membantu di kebun lagi!!”
“oh!” airmata menggenang di mata Taeyeon.
“nappeun namja! Kau mengusirku setelah begitu banyak yang kulakukan, setelah begitu lama aku membantumu!”
“kau tidak melakukan semua itu untukku!” tukas Changmin. “semuanya untuk keperluan sekolah. Pergilah, Taeyeon! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
“keurae! Aku juga tidak sudi kemari lagi!” seru Taeyeon sambil berlari pergi dengan marah dan menghapus airmatanya menuruni pipinya.
Tapi setengah jam kemudian dalam hati Taeyeon berkata, “kau kan sudah berjanji tidak akan bertengkar lagi dengan siapapun. Padahal memang hak Changmin untuk memarahimu. Karena kalau api itu tidak segera dipadamkan, maka bisa membakar gudang, menghabiskan semua alat-alat didalamnya. Kau juga sudah merusak api unggun indah yang telah direncanakan!”
Dan dalam hati Changmin, juga berkata, “Taeyeon tak bermaksud buruk. Ia hanya kurang berpikir. Bukannya jahat. Ia pasti juga sangat kecewa karena api unggun itu tidak jadi. Dan kau tahu, ia telah banyak membantu di kebun ini. bagaimana kalau ia tidak mau datng lagi ke kebun ini? rasanya tidak akan begitu menyenangkan!”
“aku akan mencarinya,” akhirnya Cahngmin memutuskan. Dan pada saat yang sama Taeyeon juga berpikir, “akan kutemui Changmin.”
Maka mereka berdua bertemu di tikungan jalan di kebun sekolah. Keduanya tampak malu-malau. Dan bersamaan mereka mengeulurkan tangan.
“mianhae, aku telah bersikap kasar padamu.” kata Changmin.
“nado. Jeongmal mianhaeyo.” Kata Taeyeon. “Oh, Changmin..”
“dulu ku suruh kau memanggil aku apa?”
“hmmmpp.. ne, oppa. Oppa, padahal baru kemarin aku berjanji dalam hati untuk tidak bertengkar dengan siapa pun. Dan ternyata aku malah bertengkar denganmu.”
“kau akan selalu begitu,” Changmin tertawa. “tapi tidak apa-apa kalau kau juga cepat-cepat menyesali tindakanmu. Jigeum, kajja! Kita menggali tanah, biar hati kita tenang kembali.”
Mereka berdua kembali ke kebun, bersahabat. Persahabatan memang takkan putus hanya karena sebuah pertengkaran, bukan?
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 21

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Chapter kali ini aku masukin beberapa artis dari JYP Nation. Enjoy, readers!
Don’t forget RCL

-Trouble Maker- Chapter 21 :Final
“tinggal 3 menit, Yesung!” seru Taeyeon terengah-engah. “kita harus berusaha lebih keras. Jangan sampai mereka mencetak gol lagi!”
Bola cepat melesat dari satu pemain ke pemain lainnya. Taeyeon lari untuk menyergap seorang pemain lawan yang larinya sangat cepat. Dibenturkannya tongkatnya pada tongkat lawan itu. bola meloncat ke udara. Taeyeon mencoba menangkapnya, tapi bola jatuh ke tanah. Disambarnya dengan jaring tongkatnya dan dibawa lari dengan cepat.
Tapi seorang anggota regu lawan menyergapnya.
Walaupun Taeyeon mencoba menghindar, tak ada gunanya. Ia terjatuh lagi, bola lepas. Anak JYP langsung menyambarnya dan melesat ke arah gawang SM. dilemparkan ke anak JYP lainnya. Di lemparkan kembali ke seorang teman mereka dekat gawang.
Dan anak itu langsung menembak ke arah gawang! Cepat sekali laju bolanya. Sepertinya akan masuk. Tapi Seohyun langsung membuang diri, meluncur tepat untuk menangkap bola tersebut. Seohyun terjatuh keras, namun gawangnya selamat. Dan bola dilempar ke arah seorang anak SM. anak tersebut segera lari ke arah gawang lawan.
“lemparkan! Lemparkan!” teriak Taeyeon, meloncat kesana kemari. “awas! Lawan dibelakangmu! Lemparkan!”
Anak SM itu melepaskan bolanya tepat pada saat ia diserang lawan. Bola langsung menuju Taeyeon. Ia menangkapnya dan lari secepat angin diikuti oleh seorang anak JYP yang terus membayanginya.
Taeyeon melontarkan bola pada Yesung. Yesung diserang lawan. Yesung melemparkan bola ke Taeyeon yang telah berlari maju. Gawang sudah dekat. Apakah ia harus menembak langsung? Mungkin akan masuk. Dan ia akan memenangkan SM.
Tetapi Yesung telah berlari maju, dan sekarang lebih dekat dengan gawang! Ia harus melemparkannya pada Yesung! Dan tanpa ragu-ragu Taeyeon melakukannya.
Yesung menangkap bola dengan cermat. Langsung menembak ke arah gawang. Penjaga gawang berusaha menangkap bola itu. tapi bola melewati tongkat jaringnya, dan bersarang di sudut gawang! Gol untuk SM!
Dan hampir bersamaan terdengar peluit berbunyi. Pertandingan selesai!
“3 gol untuk SM!” seru wasit. “3-2! Untuk kemenangan SM!”
Kemudian semua penonton pendukung JYP juga bersorak ramai menyambut kemenangan lawan mereka. Sebuah pertandingan yang cukup menarik. Semua pemain telah bermain sebaik-baiknya.
“oh, hampir saja terlambat, Yesung,” kata TAeyeon terengah-engah kehabisan napas. “tepat sekali tembakanmu tadi!”
“tapi tidak mungkin itu kulakukan kalau kau tidak begitu tepat melemparkannya padaku,” Yesung juga kehabisan napas, harus bertopang pada tongkat lacrosse-nya. Mukanya merah padam. Badannya basah oleh keringat. “gila, Taeyeon! Kita menang! Coba pikirkan itu! kita belum pernah mengalahkan JYP. Aku senang sekali kau juga mencetak 1 gol! Oh, ya, luka di lututmu sebaiknya cepat diobati.”
Kedua tim meninggalkan lapangan. mandi. Sungguh segar terasa air dingin, sebab semuanya begitu kepanasan. Kemudian semua berjabat tangan. Kapten tim JYP menepuk punggung Seohyun, kapten tim SM.
“bagus sekali pertandingan tadi,” katanya. “ini pertama kalinya kami kalah dalam semester ini. selamat, ya!”
Mereka dijamu acara minum teh. Taeyeon tak begitu banyak makan siang tadi. Sekarang ia melahap apa saja yang terhidang. Sandwich, macam-macam kue, dan kimchi yang sangat lezat. Semua makan dengan lahap.
“aku ingin sekali segera pulang ke SM,” kataYesung pada Taeyeon. “untuk segera menceritakan berita baik ini. akhirnya aku bisa ikut main. Mudah-mudahan kita masih bisa bermain bersama untu kbanyak pertandingan lagi.”
“kau mencetak gol kemenangan itu begitu bagus,” kata Taeyeon dengan riang. “huff aku lelah sekali. Tapi juga senang sekali! Rasanya aku tidak bisa berdiri lagi. Kakiku begitu berat!”
Mereka memang kecapekan, tapi mereka masih bisa sibuk bercakap-cakap, tertawa, dan bercanda sambil duduk di ruang tunggu, menunggu kedatangan bus mereka. Senangnya bisa pulang membawa kemenangan!
Semua naik ke bus dan melambaikan tangan pada anak-anak JYP yang juga bersorak-sorai meriah sampai bus keluar dari sekolah itu.
Tak berapa lama kemudian anak-anak telah duduk kelelahan didalam bus. Muka mereka masih merah padam dan kaki mereka masih pegal-pegal karena terlalu banyak berlari. Hampir tak ada yang berbicara lagi.
Tetapi begitu mendekati sekolah SM, mereka duduk tegak, tak sabar untuk segera melihat sekolah mereka, tak sabar untuk melihat teman-teman mereka yang sudah pasti menunggu.
Selama setengah jam Sunny dan Sulli serta Amber menunggu. Dan begitu terdengar suara bus datang, mereka bersorak berlari ke pintu gerbang, diikuti oleh puluhan anak lainnya. Memang sudah menjadi kebiasaan sekolah SM untuk menyambut dengan meriah tim yang baru bertanding di tempat lawan.
Tim lacrosse itu juga bersorak-sorai liar saat bus mereka masuk.
“kita menang! Menang! 3-2! 3-2!
“kita menang! Hebat sekali permainan tadi!”
“ini pertama kalinya JYP kalah!”
“3-2! 3-2!”
Anak-anak SM bersorak-sorai seperti orang gila. Mereka menghambur mengerumuni bus, membantu anggota tim yang sudah hampir tak kuat lagi melangkah.
“hidup SM! hidup SM!” semua anak berteriak-teriak. “ayo cepat, ceritakan pada kami!” pinta Eunhyuk, Leeteuk dan Sungmin.
Tim lacrosse diarak menuju ruang auditorium. Para pimpinan sekolah ikut datang untuk mendengarkan peristiwa yang menggembirakan itu. Mr. Choi berpidato beberapa saat bahawa semua anggota tim telah main sangat baik. Kemudian Changmin bertanya.
“siapa yang mencetak gol?”
“Taeyeon, Sooyoung, dan Yesung!” kata Mr. Choi. “gol-gol yang indah. Gol Yesung sangat mendebarkan, sebab bebrapa detik terlambat saja maka waktu akan habis.”
“hidup Sooyoung! Hidup Taeyeon! Hidup Yesung!” gemuruh anak-anak berteriak. Ketiga anak itu berseri-seri bangga. Taeyeon hampir tak bisa menahan tangisnya. Bagaimana tidak bangga, pada pertandingan pertamanya ia telah menyumbangkan satu gol! Hampir tak bisa dipercaya.
Sooyoung sudah sering bertanding, maka ia hanya tersenyum-senyum saja. tapi bagi Yesung dan Taeyeon tentu saja sambutan meriah itu sungguh luar biasa.
Taeyeon menggandeng tangan Yesung dan berkata, “aku gembira kita bisa bermain bersama! Dan aku sangat senang bisa menyumbangkan sesuatu untuk SM walaupun hanya berbentuk sebuah gol. Waktu pertama kali kesini, aku sangat membenci sekolah ini. tapi sekarang aku menyukainya. Tunggulah sampai kau disini 1-2 semester. Kau akan menyukainya juga.” Kata Taeyeon terharu.
“aku bahkan sudah menyukainya sekarang,” kata Yesung mempererat genggaman tangan Taeyeon. “dan aku bertekad untuk menyumbangkan tidak hanya gol-gol dalam pertandingan, tapi lebih dari itu!” Taeyeon tersenyum senang mendengarnya.
Malam itu dihidangkan makanan khusus bagi anggota tim. Sosis panas muncul di meja makan mereka. Masing-masing anggota tim memperoleh 2 buah sosis. Jeongmal mashita! Lebih dari itu, semua anak yang kebetulan mempunyai makanan kecil juga membagikannya pada anggota tim, hingga saat lonceng untuk tidur berbunyi, perut Yesung dan Taeyeon sudah penuh dan sesak.
Amber merasa gembira seperti yang lain juga. Mukanya berseri-seri sewaktu membawa sekaleng permen untuk Taeyeon. Taeyeon memandangnya heran.
“Amber, kau sangat berbeda,” kata Taeyeon. “matamu selalu tersenyum, rambutmu berkilau. Kau berjalan seolah menari, dan bintik-bintik di wajahmu telah lenyap!”
Amber tertawa.
Ia telah menepati janjinya pada dirinya sendiri, tak makan permen sebutir pun. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri, selalu ikut bergaul dan bercanda dengan yang lain. Sekarang ia berjalan dengan kepala diangkat, dan senyumnya siap terpancar. Kini ia merasa heran mengingat kenapa dulu ia bisa melakukan hal-hal yang bersifat nakal.
Ia telah mengembalikan buku Taeyeon yang dulu disembunyikannya, setelah membersihkannya dengan hari-hati. Dengan pipi merah ia mengembalikan buku-buku itu. hampir saja Taeyeon meluapkan amarahnya jika mengingat ia harus menderita karena ulah Amber. Tapi ia cepat menguasai diri dan mengucapkan terima kasih.
Dengan tekun dan rajin Amber mengerjakan scarfnya dengan sulaman halus. Ia membuat 2. Masing-masing bertuliskan kata ‘chingu’ dengan huruf Hangeul dan diberi gambar bunga-bunga ungu kecil untuk Taeyeon. Dan satu lagi mawar merah untuk Sulli.
Tepat saat Amber menyelesaikan sulamannya, Sulli datang dan melihatnya bekerja di kamarnya itu.
“wah, senangnya kalau aku juga ikut bertanding,” Sulli mulai berkata, dan menjatuhkan dirinya duduk dipinggir ranjangnya. “apa saja mau kulakukan asal diberi hadiah sosis panas untuk makan malam. Hei, Amber, kau sedang apa? Coba lihat.”
Sulli mendekati Amber dan memperhatikan pekerjaan Amber. “wah, halus sekali sulamanmu! Bunga-bunganya juga sangat cantik. Aku tidak yakin apa aku bisa menyulam sehalus ini. aku ingin memiliki scarf ini.”
“kau bisa memilikinya. Ini memang untukmu. Dan yang ini untuk Taeyeon.”
“wah! Tapi untuk apa?” heran Sulli.
“hanya sekedar untuk menghilangkan rasa kesalmu karena aku dulu mempermainkanmu,” Amber tersenyum. “nah, ini punyamu, Sulli. Pakailah, udara mulai dingin. Aku senang bisa memberikannya padamu.”
Sulli sangat berterima kasih. Diterimanya pemberian Amber itu. “kau baik sekali! Gomapta! Oh, itu Taeyeon! Hey, taeng! Lihat, kau dapat hadiah bagus nih!”
Segera keduanya asyik mengagumi pemberian indah itu. anak-anak lain yang melihatnya juga memuji-muji keindahannya. Amber merasa sangat bangga mendengar kata-kata mereka.
“rasanya lebih menyenangkan mengerjakan sesuatu untuk kesenangan mereka daripada untuk mencelakakan mereka,” batin Amber. “tapi rasanya aku tak akan pernah cukup berani untuk mengakui kesalahanku dihadapan seluruh sekolah. Sekarang aku lebih baik hati, lebih manis pula. Tapi aku tetap penakut.”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 20

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Chapter kali ini aku masukin beberapa artis dari JYP Nation. Enjoy, readers! 😀
Don’t forget RCL

–Trouble Maker– Chapter 20 : Lacrosse
Hari Sabtu tiba, cuaca cerah. Rumput-rumput berkilau oleh tetesan embun. Tapi semua lenyap ketika matahari muncul, dan semua orang setuju bahwa hari itu hari yang sangat sempurna bagi pertandingan lacrosse.
Taeyeon berusaha keras untuk ikut merasa gembira karena hari itu begitu cerah. Beruntung sekali Yesung. Dan sungguh kecewa dia. Rasanya tak adil. Sabtu yang lalu ia punya kesempatan untuk main, tapi hari hujan. Sabtu ini bukan kesempatannya, tapi hari begitu cerah.
“ya! salahmu sendiri Kim Taeyeon!” katanya dalam hati. “kalau kau tidak melakukan keputusan konyol itu, kau yang bertanding hari ini.”
Taeyeon mendekati Yesung saat melihatnya.
“senang sekali melihat hari ini begitu cerah untukmu, Yesung,” katanya. Yesung melihat padanya dan tahu bagaimana perasaan hatinya.
“lebih menyenangkan seandainya kau juga ikut main.” Kata Yesung. “tapi tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain bagimu.”
Hari cerah terus. Mereka yang akan bertanding tampak begitu gembira, tapi juga khawatir. Sooyoung yang juga ikut main mengatakan bahwa tim JYP belum pernah dikalahkan oleh SM.
“Kalau saja kali ini kita bisa mengungguli mereka, sekali saja!” kata Sooyoung. “tapi kudengar tim mereka malah maikn kuat. Seohyun bilang tim itu belum pernah kalah semester ini. mereka luar biasa! Mudah-mudahan setidaknya kita bisa mencetak satu gol.”
“Soo, kita harus lebih banyak lagi mencetak gol,” kata Sehun. Sehun anak yang kuat, langsing, namun berotot. Sehun bisa berlari cepat, dan ia penangkap bola yang baik. “kita harus berusaha semaksimal mungkin!”
“ne, kita harus berusaha!” kata Yesung.
“aku setuju dengan kalian. FIGHTING!!” seru Yoona yang juga masuk tim.
Pagi itu terasa berjalan lambat. Waktu makan siang tiba. Anggota tim tak bisa makan dengan santai, sebab mereka terlalu tegang. Taeyeon mengalami perasaan itu Sabtu lalu. Betapa senangnya kalau kali ini ia pun ikut! Ia sangat kecewa. Tapi ia juga bangga sebab bisa mengalahkan kepentingan dirinya sendiri, demi keadilan, dengan memberikan tempatnya pada Yesung.
Sinar matahari masuk lewat jendela. Hari ini tetap cerah! Hari yang sangat menyenangkan untuk bertanding. Sesak kerongkongan Taeyeon. Memang membanggakan bisa bersikap adil, tapi kebanggan itu tidak mengurangi kekecewaan dihatinya. Sunny melihat wajahnya dan meremas tangannya.
“jangan bersedih, Taeng,” kata Sunny. Taeyeon mencoba untuk bersikap riang. Kemudian dilihatnya sesuatu terjadi di meja dekat mereka. Beberapa anak datang mendekat dan ribut berbicara. Ada apa?
“Sehun! Ia sakit!” kata Sunny. “lihat, wajahnya pucat sekali. Mungkin ia akan muntah. Ah, aku ingat, waktu sarapan tadi ia juga tampak tak begitu sehat.”
Sehun bergegas keluar ruangan dibantu oleh Sungmin. Mukanya pucat. Mr. Moon ikut bergegas keluar. Mr. Choi melihat arlojinya. Ia berharap Sehun segera sehat kembali, sebab 20 menit lagi bus yang menjemput tim lacrosse akan datang.
5 menit kemudian Mr. Choi masuk, dan mengatakan sesuatu pada Mr. Moon. Mr. Moon tampak sangat kecewa. “kenapa Sehun?” tanya Changmin yang kebetulan berada satu meja dengan Mr. Moon.
“sakit perut,” jawab Mr. Moon. “memang sering kambuh. Dan kali ini agak berat. Ibu Asrama menyuruhnya tidur di Sanatorium.”
“astaga!” seru Changmin. “jadi ia tidak bisa main?”
“tidak,” kata Mr. Choi. “sungguh sial. Sehun salah seorang pemain terbaik kita. Kita harus mencari penggantinya.”
Berita itu segera tersebar ke seluruh ruang makan. Semua merasa kecewa, sebab Sehun memang pemain yang baik. Tapi kemudian dari mulut ke mulut terdengar satu nama. Kim Taeyeon.
“biar digantikan Taeyeon saja!”
“bagaimana kalau diganti Taeyeon saja?”
“tidak bisakah Taeyeon dipasang? Ia menyerahkan tempatnya pada Yesung.”
“benar!” kata Mr. Choi melihat buku catatannya. “sebenarnya aku merencanakan untuk memasang anak lain, tapi karena Taeyeon pantas diberi kesempatan, baiklah, Taeyeon akan menggantikan Sehun.”
Jantung Taeyeon bagaikan melonjak karena kegirangan. Ia tak percaya pada berita yang begitu bagus itu. wajahnya jadi merah seketika, matanya bersinar-sinar. Ia menyesal bahwa Sehun tak bisa main, tapi Sehun sudah ikut main dalam sekitar 12 pertandingan. Dan sekarang ia, Kim Taeyeon, akan ikut main!”
“hidup Taeyeon!” beberapa sahabatnya bersorak, ikut bergembira karena Taeyeon tampak senang. semua tahu bahwa Taeyeon secara sukarela telah memberikan tempatnya pada Yesung, dan sekarang semua merasa ikut gembira karena perbuatan tak mementingkan diri sendiri itu kini mendapat balasan yang setimpal. Beberapa saat Taeyeon tak bisa berkata-kata karena gembiranya.
Sunny menepuk punggungnya, Sulli hanya meringis. “selalu ada saja yang terjadi padamu, Taeng,” kata Sulli. “kau pantas menerima keberuntungan ini!”
“Taeyeon! Chukkaeyo!” teriak Yesung dari pojok meja sana. “kita akan bermain bersama-sama dalam pertandingan pertama kita! Daebak!”
Taeyeon tak bisa makan lagi. Disingkirkannya gelas ice creamnya.
“Kalau aku makan juga, maka aku akan sakit seperti Sehun,” katanya.
“kalau begitu jangan kau makan,” kata Sooyong. “kalau kau sakit juga, tidak ada lagi yang menggantikanmu!”
Taeyeon bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian olahraga. Ia menyempatkan diri menjenguk Sehun di Sanatorium dengan membawakannya sebuah buku. “sayang sekali, Sehun,” katanya. “mudah-mudahan kau cepat sembuh. Nanti akan kuceritakan jalannya pertandingan padamu.”
“mainlah sebaik mungkin,” kata Sehun yang masih pucat. “cetaklah gol sebanyak mungkin! Selamat bertanding!”
Taeyeon berlari lagi, berkumpul dengan teman-temannya. Hatinya bagaikan bernyanyi terus. Begitu gembira dia! Semua orang tertawa padanya, semua orang senang bahwa akhirnya ia bisa ikut. Digandengnya tangan Yesung.
“duduklah di dekatku nanti di bus,” kata Taeyeon. “hanya kita berdua yang belum pernah bertanding. Oh, haengbokhae~. Keundae, aku sedikit gugup juga.”
“kau gugup?” Yesung tertawa. “Aku tidak percaya. Anak galak sepertimu bisa gugup juga!”
Tapi Taeyeon memang gugup. Ia khawatir akan mengecewakan teman-temannya. Ia harus berusaha bermain sebaik mungkin! Apa jadinya kalau Ia bermain buruk. Kalau ia tidak bisa menangkap bola, sangat memalukan!
“untung tidak ada yang datang menonton dari SM,” pikir Taeyeon mencoba menghibur hatinya. “kalau aku bermain buruk tidak akan ada yang melihat.” Dipandangnya Yesung yang duduk disampingnya. Anak itu tampak tabah, tenang, gagah, dan kuat. Sama sekali tidak gugup. Senang rasanya jika bermain dengan anak setabah itu. “aku tidak tahu bagaimana dulu aku bisa membencinya. Sepertinya jika kita membenci seseorang maka yang kita lihat adalah yang terburuk saja dari orang itu, sebab memang itulah yang kita cari. Sebaliknya bila kita menyukai seseorang maka orang tersebut akan tersenyum pada kita dan hanya menampakan yang terbaik saja pada kita. Aku harus mencoba member kesempatan pada asiapa saja. akan kucoba untuk menyukai siapa saja agar siapapun akan menunjukkan yang terbaik dari dirinya padaku.”
Bus segera tiba di sekolah JYP. Tim SM melihat tim tuan rumah, dan mereka merasa bahwa tuan rumah benar-benar kuat.
Kedua tim sudah berada dilapangan. Saling berhadapan. Peluit berbunyi, dan pertandingan pun dimulai. Terbukti tim JYP memang kuat, tapi tim SM memiliki beberapa orang pelari cepat yang cukup di kenal. Seperti Taecyeon, Jia, dan Nickhun.
Mereka kehilangan Sehun, pelari tercepat SM, tapi baik Yesung maupun Taeyeon seperti mempunyai sayap dikaki mereka, berlari begitu cepat. Tak pernah mereka berlari secepat itu sebelumnya.
Kedua anak itu merasa mendapat kehormatan untuk bisa bermain dalam pertandingan besar itu, karenanya mereka bermain sebaik mungkin. Rasa gugup Taeyeon segera hilang setelah pertandingan mulai. Ia lupa pada dirinya, yang dipikirkannya hanyalah pertandingan yang sedang dihadapinya.
Sering Yesung dan Taeyeon saling melempar bola. Mereka telah berlatih beberapa minggu sehingga sanggup melakukannya dengan cepat dan tepat. tak sekalipun bola mereka jatuh. Setiap lemparan dapat ditangkap dengan tepat.
“bagus, Yesung! Bagus, Taeyeon!” seru Mr. Choi dari pinggir lapangan. ia ikut mengantarkan tim SM dalam perlawatan ini. “cepat! Cepat! Tembak, Taeyeon!” Taeyeon melihat gawang tak jauh didepannya. Dilemparkannya bola dengan sekuat tenaga. Bola lurus langsung menuju gawang. Tapi penjaga gawang lawan sangat gesit. Bola ditampar terpental keluar.
“percobaan bagus, Taeyeon!” seru Mr. Choi.
Tim JYP membawa bola. Cepat sekali menuju gawang SM, bola dilemparkan dari pemain ke pemain lain sementara mereka berlari cepat. Kemudian bola diterima kapten mereka. Sebuah tembakan hebat…gol! Seohyun penjaga gawang SM, sia-sia saja menangkap bola yang datang begitu cepat itu.
“1-0 untuk JYP!” seru wasit. Peluit berbunyi lagi. Permainan mulai lagi. Baik Yesung amupun Taeyeon bertekad untuk menjaga bola sebaik-baiknya, jangan sampai terebut oleh lawan.
Taeyeon membawa bola di tongkat lacrossenya. Ia berlari cepat kedepan. Ia sedang akan melontarkannya pada Yesung yang selalu berada didekatnya, saat tiba-tiba seorang lawan menyerbunya. Taeyeon tersandung dan jatuh. Lututnya sedikit lecet dan berdarah tapi dengan cepat ia berdiri lagi. Seorang yeoja dari JYP membawa bola.
Kencang juga larinya. Dilemparkannya pada temannya yang juga lari kea rah gawang.
“tembak! Tembak!” seru penonton dari JYP. Bola melesat ke gawang Seohyun. dan masuk!
“2-0 untuk JYP!” kata wasit, dan kemudian ia meniup peluit. Waktu istirahat. Para pemain mengerumuni pelatih masing-masing, sambil makan dengan rakus potongan jeruk yang disediakan, rasanya manis-asam, menyegarkan!
“kalian harus berusaha lebih keras!” kata MR. Choi menasehati timnya. “Yesung, kau harus selalu berada dekat Taeyeon. Taeyeon, cepat lontarkan bolanya pada Yesung kalau kau diserang. Kalian berdua berlari seperti angin hari ini. langsung tembak kea rah gawang kapan saja ada kesempatan. Sooyoung, kau harus lebih sering member umpan pada Taeyeon. Mungkin ia cukup cepat untuk mengalahkan anak JYP yang bertugas membayanginya. Yoona, kau terus bayangi Taecyeon itu.”
“ne, seonsaengnim!” kata Yoona.
Anak-anak SM mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka agak kecewa, sudah kalah 2-0. Peluit berbunyi. Pertandingan mulai lagi. Yoona terus membayangi namja bertubuh tinggi bernama Taecyeon.

Sooyoung mendapat bola, lalu segera melontarkannya pada Taeyeon, mengikuti petunjuk pelatih tadi. Yesung berada didekat Taeyeon. Dengan tepat ditangkapnya lontaran dari Taeyeon, yang langsung berlari ke depan. Yesung kembali melontarkan bola ke arah Taeyeon. Taeyeon menangkapnya dan terus lari ke arah gawang lawan.
Dilontarkannya bola dengan sekuat tenaga, keeper lawan mengulurkan tongkat lacrosse-nya, bola membentur tongkat jaring tadi, mental dan….masuk!
“kedudukan sekarang 2-1!” seru wasit. “2-1 masih untuk kemenangan JYP!!”
Taeyeon begitu gembira. Ia tak bisa diam. Lari kesana kemari walaupun bola tak didekatnya. Sooyoung mendapat bola. Dikirimkannya ke Yesung. Yesung menerima bola tersebut, membawa lari, melemparnya kembali ke Sooyoung. Sooyoung lari ke arah gawang. Melontarkan bola dan masuk! Hampir tak bisa dipercaya! Sebuah gol manis lagi!
“2-2 dan waktu tinggal 10 menit lagi!”
Anak-anak sekolah JYP yang menonton di tepi bersorak-sorak ramai, “ayo, JYP, serang! Serang! Ayo!”
Didorong oleh sorak-sorai ini tim JYP lebih menggebu-gebu lagi menyerbu. Mereka membawa bola. Mereka menyerbu ke arah gawang. Mereka menembak! Tapi Seohyun dengan cekatan menangkap bola tersebut, melemparkannya kembali ke tengah lapangan. selamat!
2-2. dan waktu tinggal 3 menit. Ayo JYP! Ayo SM! tinggal 3 menit lagi!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 19

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 19 : The Peace Sunday
Seohyun sedang berada di ruang senam. Ia memang sangat pandai dalam berbagai cabang olahraga. Ia sedang bersenam saat Taeyeon datang dan minta bicara dengannya.
“ada apa, Taeyeon?” tanyanya ramah.
“Seohyun, bagaimana kalau Yesung saja yang bermain hari Sabtu ini,” kata Taeyeon. “alasannya begini. Ternyata bukan dia yang mempermainkanku dan Sulli seperti yang ku tuduhkan padanya dulu di Rapat Besar. Jadi kukira cukup adil kalau kali ini aku memberinya kesempatan untuk main dalam pertandingan nanti. Sebab Sabtu lalu ia tidak jadi main karena aku.”
“boleh saja,” kata Seohyun yang kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan dan menuliskan sesuatu didalamnya. “akan kuatur itu. seperti katamu, memang inilah yang paling adil bagi Yesung. Sayang sekali kau tidak jadi main, Taeng, tapi yakinlah bahwa kau telah bertindak dengan tepat.”
Taeyeon mencari Yesung. Tapi tidak ditemukannya. Dan sebelum ia bisa bercerita sendiri pada Yesung, Seohyun telah memasang pengumuman baru, mengganti pengumuman sebelumnya.
“Kim Yesung akan ikut bermain dalam pertandingan melawan sekolah JYP Sabtu ini,” demikian bunyi pengumuman baru itu. Yesung membaca pengumuman tersebut sewaktu akan pergi makan. Ia sangat heran. Bukankah tadi anak-anak berkata bahwa yang terpilih adalah Taeyeon? Dengan kening berkerut dibacanya pengumuman tadi berulang-ulang. Dan pada waktu itulah Ryeowook datang, ikut membaca. Ia pun heran.
“annyeong,” kata Ryeowook. “kenapa pengumuman ini diubah? Semula isinya Kim Taeyeon yang terpilih untuk bermain melawan JYP. Aku ingat betul itu!”
“ne, menurutku isinya memang begitu,” kata Yesung masih bingung. “kenapa diubah? Memang berita yang menyenangkan bagiku, apalagi aku sangat kecewa tadi pagi,”
“aku berani bertaruh Taeyeon akan merasa kecewa sekarang,” kata Ryeowook, dan mereka pun masuk ke ruang makan. Yesung tak ingin membicarakan pengumuman itu dengan Taeyeon dihadapan orang banyak, dan sepertinya Taeyeon pun begitu.
Sooyoung-lah kemudian yang bercerita tentang apa yang terjadi pada Yesung, “apa kau sudah melihat pengumuman?” tanya Sooyoung. “ternyata akhirnya kau juga yang bermain di pertandingan nanti.”
“ya, tapi kenapa?” tanya Yesung. “kenapa Taeyeon tidak dipasang?”
“itu atas permintaan Taeyeon sendiri. ia minta agar kau saja yang dipasang,” kata Sooyoung. “katanya dengan begitu barulah adil. Dan aku setuju dengan pendapatnya.”
“sangat adil memang,” pipi Yesung jadi merah. “tapi seharusnya tak perlu dilakukannya. Aku tahu bahwa ia sangat ingin bermain mewakili sekolah kita.”
Yesung segera mencari Taeyeon.
Didapatinya Taeyeon sedang berada di kebun, sedang menanam umbi berbagai macam bunga bersama Changmin.
“hei, Taeng,” sapa Yesung. “terima kasih atas kebesaran hatimu yang memungkinkan aku dipasang di tim sekolah. Tapi aku lebih senang kalau kau saja yang bermain Sabtu ini. kalau kau tidak keberatan.”
“gwaenchana,” kata Taeyeon tersenyum. “aku telah mengambil keputusan. Kurasa itu cara terbaik untuk menebus kesalahan yang kubuat padamu. Aku akan merasa sangat malu kalau tidak memberikan kesempatan itu padamu.”
“tapi aku tak peduli apa kau menebus kesalahanmu atau tidak,” kata Yesung.
“ne, tapi aku keberatan kalau tak memberimu ganti rugi atas kesalahanku dulu itu. aku merasa lega setelah aku berbuat ini. benar-benar tak punya beban pikiran lagi.”
“geuraesseo. Gomapta! Aku hanya berharap kau bisa datang untuk menontonku, Taeng.”
“aku harap kau bisa mencetak gol banya sekali,” kata Taeyeon, kembali meneruskan pekerjaannya. Berat juga. Umbi bunga krokus yang mereka pesan telah tiba. Bidang-bidang rumput harus diangkat sebelum umbi-umbi itu boleh ditanam. Kemudian ada juga umbi-umbi daffodil dan tulip. Namun yang ini mudah cara penanamannya.
“begitu banyak pekerjaan, dan begitu sedikit waktu untuk mengerjakannya,” keluh Taeyeon. “aku ingin lebih sering berkuda, aku ingin berkebun sepanjang hari, aku ingin lebih sering bermain music, aku ingin lebih sering bermain bersama kelinci-kelinciku, dan aku ingin lebih sering berolahraga. Oh, Changmin aku..”
“panggil aku oppa!” potong Changmin.
Taeyeon menghela napasnya, “sebegitu tertariknya kah kau ingin dipanggil oppa?” tanya Taeyeon yang dibalas tawa kecil Changmin. “Baiklah. Oppa, kadang-kadang aku ingin sepertimu, hanya mempunyai satu kegemaran, jadi tidak sebingung aku yang mempunyai sepuluh kegemaran.”
“tapi kau lebih banyak merasakan kegembiraannya daripada aku,” kata Changmin bersungguh-sungguh. “Kwon seonsaengnim sering berkata padaku bahwa mestinya aku punya perhatian lain daripada berkebun melulu. Kata beliau dengan hanya mempunyai kegemaran berkebun, maka aku akan membosankan kalau diajak bicara.”
“aniyo!” potong Taeyeon cepat. “aku tak berpendapat kau membosankan,” kata Taeyeon. “kau sungguh menarik bila mulai berbicara tentang berkebun.”
“itu hanya karena kau juga suka berkebun dan mengerti tentang berkebun,” kata Changmin. “tapi kalau yang kuajak bicara tidak menyukai berkebun, pasti ia akan mengira aku bodoh. Tolong pikirkan hal lain kecuali berkebun untukku, Taeng.”
“bagaimana kalau berkuda? Oppa, aku belum pernah melihatmu menunggang kuda. Mintalah Yesung untuk mengajakmu menunggang captain. Pasti kau kaan terlihat keren. Dan Yesung juga akan senang bisa membantumu, dank au akan senang memperoleh pengalaman baru.”
Hari-hari terus berlalu. Hari Jumat tiba. Waktu untuk mengadakan Rapat Besar. Anak-anak memasuki ruangan tanpa bersikap sungguh-sungguh seperti minggu lalu, sebab kali ini tidak aka nada perkara berat yang akan dibicarakan. Anak-anak selalu senang menghadiri Rapat Besar, sebab mereka senang bisa memerintah diri sendiri, membuat berbagai peraturan dan menjaga agar peraturan dipatuhi.
Uang-uang tambahan dimasukkan ke dalam kotak. Dengan bangga Key memasukkan sejumlah won, kiriman pamannya. Kemudian uang saku dibagikan.
Shim Changmin minta uang untuk pembelian umbi krokus. Uang tersebut diberikan. Kemudian ia juga minta uang tambahan untuk membeli garpu tanah yang lebih kecil dari yang biasa digunakannya.
“Sehun akan membantuku menggali tanah,” kata Changmin. “dan garpu tanah kami terlalu besar untuknya. Selama ini kita tidak punya alat kebun yang sesuai untuk anak kecil.”
Permintaan itu pun dikabulkan. Kangta minta uang tambahan untuk membeli CD permainan biola seorang musisi terkenal. Ia ingin memainkan lagu yang sama, dan Shin seonsaengnim berkata ia bisa belajar banyak dari CD itu. Siwon langsung mengabulkan permintaan tersebut. Seluruh sekolah merasa sangat bangga punya seseorang seperti Kangta yang juga mampu memainkan alat music piano dan biola.
“ada laporan atau keluhan?” tanya Siwon.
Ryeowook bangkit. Sedikit segan ia berkata, “keluhanku ini sedikit konyol, memang. Tentang Suho. Ia mendengkur terlalu keras di malam hari. Aku jadi tak bisa tidur. Dan kalian tahu, aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk memerah susu. Kalau malamnya aku tidak bisa tidur, maka sulit bagiku untuk bangun pagi. Kami semua sudah membicarakan hal ini dengan Suho. Tapi Suho tak bisa menghilangkan dengkurnya itu.”
Suho berdiri.
“aku sedang pilek,” katanya. “kukira dengkuranku itu akan lenyap kalau aku sudah sembuh nanti. Mungkin aku boleh tidur di Sanatorium sampai Ibu Asrama menyatakan aku sudah tidak mendengkur lagi?”
“ne, kupikir itu jalan keluar yang tepat,” Siwon tersenyum. “terus terang saja ini keluhan paling lucu yang pernah kudengar. Tapi memang Ryeowook harus bisa tidur nyenyak. Kalau tidak, kita semua tidak akan bisa memperoleh susu waktu sarapan.”
Semua tertawa . siwon mengetuk meja, minta agar semua diam.
“sebelum kita membubarkan rapat ini,” kata Siwon, “Taeyeon ingin mengatakan sesuatu. Berdirilah, Taeyeon.”
Taeyeon berdiri, mukanya terasa panas. Ia telah memikirkan baik-baik apa yang akan dikatakannya, maka ia bisa berbicara dengan lancar, tanpa tertegun atau pun berhenti.
“aku ingin menyampaikan tentang tuduhanku pada Yesung minggu lalu. Aku menuduhnya mempermainkau dan Sulli dengan berbagai tipuannya. Dan kalian semua percaya pada tuduhanku itu, sehingga memutuskan untuk menghukum Yesung dengan jalan melarangnya ikut bertanding. Ternyata tuduhanku salah. Yang melakukan perbuatan keji itu sama sekali bukan Yesung, tapi orang lain.”
“nuguji? Malhaebwa!” seru beberapa orang anak, ada yang bernada gusar. Siwon mengetuk meja dengan palunya, dan semua terdiam.
“chankkaman, Taeyeon.” Kata Siwon. “Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku dan Boa, sebagai Hakim, telah memutuskan bahwa untuk saat ini sungguh tidak bijaksana untuk mengumumkan nama anak yang bersalah itu. kalian mestinya setuju bahwa ada kalanya tidak bijaksana untuk mengumumkan sesuatu pada orang banyak. Dan perkara ini adalah salah satu perkara seperti itu. kuharap kalian mengerti dan puas, sebab ini kami lakukan demi kebaikan kita bersama juga.”
“arasseo,” kata beberapa orang anak. Siwon dan Boa memang disenangi dan dikagumi. Semua anak percya bahwa apa yang dilakukan keduanya pastilah bijaksana.
Amber yang malang mau tak mau gemetar kakinya. Sesaat ia mengira bahwa seluruh sekolah telah mengetahui bahwa dialah yang berbuat begitu keji. Ia tak berani mengangkat muka. Rasanya ingin lenyap dari situ. Sulli dan Sunny yang duduk mengapitnya merasakan betapa Amber gemetar. Keduanya segera merapat untuk menenangkan anak malang itu. untung sekali kedua Hakim tidak membicarakan perkara itu secara berkepanjangan.
Taeyeon masih berdiri. Pembicaraannya belum habis. Ia menunggu sampai anak-anak tenang, lalu berkata lagi, “tak banyak lagi yang ingin aku sampaikan. Aku hanya ingin meminta maaf sedalam-dalamnya pada kalian akan apa yang kukatakan minggu lalu. Aku berjanji bahwa kelak aku akan selalu berhati-hati dan baru setelah yakin benar aku akan menuduh seseorang. Yesung benar-benar pengertian tentang kesalahanku ini.”
Taeyeon duduk. Siwon sudah mengangkat palu untuk membubarkan Rapat waktu Yesung berdiri. Mukanya berseri, matanya bersinar-sinar. Sungguh sangat berbeda (selain rambutnya yang di cat pirang) dengan Yesung yang minggu lalu diadili oleh Rapat.
“bolehkah aku berkata sesuatu, Siwon?” tanyanya. “begini, Taeyeon telah mengundurkan diri dari anggota tim lacrosse untuk memberiku kesempatan terpilih menjadi anggota tim. Itu dilakukannya untuk menebus kesalahannya karena minggu lalu ia merasa telah menuduhku secara keliru. Aku berpikir tindakannya itu sungguh sangat baik, dan aku ingin agar seluruh sekolah mengetahuinya.”
“hidup Taeyeon!!” seseorang berseru. Semua anak merasa bahwa tindakan Taeyeon sangat tepat dan adil. Taeyeon sendiri merasakan perasaan hangat ini, dan ia benar-benar bahagia.
Rapat Besar bubar. Anak-anak keluar untuk melakukan apa saja sesuai kegemaran mereka dalam waktu setengah jam, sebelum makan malam.
Sunny menulis surat untuk ibunya. Sulli menyetel gramofon, lalu menggoyang-goyangkan badannya dengan kocak ditengah ruangan, membuat yang ada disitu tertawa tergelak.
Taeyeon berlatih music dan vocal disalah satu ruang latihan music.
Yesung membaca buku tentang kuda.
Amber sibuk dengan alat menjahitnya. Ia telah menghabiskan seluruh uang sakunya untuk membeli 2 tempat syal untuk di sulam. Dan sekarang ia mulai menyulam syal tersebut. Bila selesai nanti, kedua benda itu akan diberikan pada Taeyeondan Sulli. Boa bilang bahwa sungguh mungkin menebus kesalahan seseorang dengan berbuat kebaikan. Dan sekarang Amber berharap bisa berbuat kebaikan, membuatkan syal untuk teman-temannya itu.
“kami belajar banyak sekali, disamping pelajaran sekolah, di SM School ini,” batin Amber sementara ia menjahit. Dan Amber memang benar!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 18

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 18 : It’s Better
Taeyeon bangun pagi-pagi sekali, dan langsung pergi ke kandang. Yesung sudah ada disana, memasang pelana pada kuda-kuda peliharaannya, bersiul-siul bahagia. Ia melakukan suatu tugas yang disenanginya, merawat kuda-kuda yang tampak langsung membalas cintanya juga.
“suatu perasaan yang menghangatkan hati,” katanya pada Taeyeon. “dulu aku tak pernah merasakan seperti ini, sebab dulu aku tak punya binatang peliharaan. Lagipula waktu itu aku sama sekali tidak menyukai hewan. Kecuali kuda. Kurasa Boa dan Siwon tidak akan bisa memikirkan yang lebih baik lagi untukku. Aneh bukan? Bukannya di hukum, aku malah mendapat sesuatu yang ku gemari. Tapi dengan begini aku bisa menghilangkan sifat burukku lebih cepat daripada dihukum. Sekarang aku sama sekali tidak mau berbuat buruk lagi.”
“kita tidak bisa berbuat jahat pada siapapun saat kita merasa bahagia,” kata Taeyeon bijak, “paling tidak begitulah yang terjadi padaku. jika aku bahagia, aku hanya ingin bersikap hangat dan murah hati. Kajja, kita berangkat. Oh, Yesung, aneh bukan bahwa kita bisa bersahabat sertelah musuhan begitu sengit.”
Yesung tertawa, melompat ke punggung Horsie. Kuda itu meringkik, menengadahkan kepala. Ia sangat senang mengetahui bahwa Yesung yang menungganginya. Kedua kuda mereka berjalan pelan sepanjang jalan berumput, kemudian berpacu kearah perbukitan. Taeyeon sudah pandai menunggang kuda sejak beberapa tahun, jadi ia bisa berkuda dengan baik walaupun ia selalu kesulitan saat hendak menaikinya. Mereka menikmati perjalanan pagi itu. mereka saling berteriak, berbicara. Kemudian taeyeon mengemukakan sebuah usul.
“hei, bagaimana kalau kapan-kapan kau ajak Liu Amber berkuda bersama? Biar pipinya merah sehat!”
“Amber? Aku tidak menyukainya!” teriak Yesung. “dia itu anak nakal! Apa kau akan bermain dengannya?”
“memang!” sahut Taeyeon. “dulu aku juga tidak menyukainya, seperti halnya aku tidak menyukaimu. Tapi kukira aku telah sudah sering salah menafsir orang. Mungkin juga aku bisa berteman dengannya. paling tidak ia akan ku beri kesempatan. Kau mau membantukukan?”
“geurae,” kata Yesung. “ia cukup pandai berkuda. Tapi kau juga harus ikut. Aku tidak akan tahan berdua saja dengannya. bisa kaku karena bosan! Satu hal tentangmu, Taeyeon, kau tidak pernah membosankan. Kalau kau sedang baik hati, kau bisa baik sekali, begitu juga sebaliknya, kalau sedang jahat, kau bisa jahat sekali!”
“YA!! jangan ingatkan aku tentang itu!” kesal Taeyeon memperlambat kudanya, “aku sedang berusaha memperbaiki diri. Aku ingin agar selamanya aku jadi anak yang baik. Malah waktu aku kembali ke sekolah ini aku telah bertekad untuk berusaha keras menjadi anak terbaik. Tapi ternyata aku membuat begitu banyak kesalahan dan kekeliruan! Rasanya aku tidak akan mungkin jadi Pengawas.”
“kau tahu tidak, sebenarnya aku juga ingin jadi Pengawas,” kata Yesung, “mestinya senang sekali merasa bahwa kita dipercaya dan disegani oleh seisi sekolah, segala pendapat kita didengar dan dipatuhi. Dan betapa bangganya duduk sebagai anggota Dewan Juri. Tapi..yah, tidak mungkin seorang diantara kita berdua bisa sampai terpilih. Aku membuat awal yang buruk semester ini. dan kau adalah anak paling badung semester yang lalu. Tak bisa ku bayangkan betapa nakalnya kau dulu sampai memperoleh julukan seperti itu.”
Waktu keduanya memasuki ruang makan untuk sarapan, Yesung dan Taeyeon sama-sama tampak sangat berbahagia. Pipi mereka merah oleh angin dingin, mata mereka bersinar-sinar. Taeyeon tersenyum pada Amber yang duduk di tempat biasanya, tampak sedikit ceria tapi agak gugup.
“annyeong, Amber! Annyeong yeorobun,” sapa Taeyeon, “wah, aku lapar sekali! Rasanya aku bisa menghabiskan 20 sosis dan 12 telur.”
“baru berkuda, ya?” tanya Amber sambil mendorong piring tempat roti panggang kearah Taeyeon. “wah, kau benar-benar merah seperti orang Indian.”
Taeyeon tertawa. “tapi sungguh menyenangkan! Mestinya kau juga bangun pagi dan berkuda bersama kami,”
“ne, ayolah,” ajak Yesung. “kau kan cukup pandai berkuda, Amber. Datang saja, dan mari berkuda denganku dan Taeyeon. Kita bisa berkuda sampai bermil-mil!”
Amber berseri-seri kegirangan. Ia tersenyum lebar, “oh, aku akan senang sekali,” katanya. “gomapta. Aku sangat menyukai kuda bernama Horsie itu.”
“jeongmal?” tanya Yesung heran. “aneh, aku juga menyukai kuda itu! ia memang kuda yang sangat manis! Kemarin kakinya pincang dan aku benar-benar khawatir…”
Dan Yesung langsung saja tenggelam dalam percakapan yang hangat dengan Amber, membicarakan Horsie dan Captain. Percakapan mereka cukup seru, karena Amber cukup banyak tahu tentang kuda. Kali ini ia sama sekali tidak membual. Ia menahan diri untuk bisa mendengarkan dengan sopan, sementara hatinya begitu gembira karena ada seseorang yang berbicara dengan begitu hangat dan bersahabat. Ia berusaha keras untuk tidak membuat bibirnya melengkung turun di ujung-ujungnya, sesuatu yang membuat wajahnya tampak bodoh. Dengan berseri-seri ia mengikuti pembicaraan Yesung, dan sekali-kali tertawa ceria karena lelucon Yesung.
Tadinya ia sangat takut unutk ikut sarapan. Pastilah akan sangat berat baginya untuk duduk berhadapan dengan Taeyeon, Sulli, Sunny, dan Sooyoung. Keempat anak itu tahu rahasianya. Tapi setelah duduk bersama ternyata dugaannya salah. Keempatnya menyambutnya secara wajar saja, walaupun jelas lebih hangat dan ramah dari biasanya. Sikap mereka membuat Amber merasa sangat bersyukur dan berbahagia, bukannya kikuk dan malu.
Sungguh menyenangkan suasana sarapan itu. tapi beberapa anak ada juga yang heran melihat Yesung dan Taeyeon tiba-tiba saja tampak begitu akrab.
“kau benar-benar aneh, Taeng,” kata Key. “suatu hari kau bermusuhan setengah mati, dan hari berikutnya kau sudah bersahabat begitu akrab!”
“semester lalu Taeyeon pernah menjadi musuhku yang paling kubenci,” kata Sungmin sambil tertawa. “sampai di punggungnya ku tempelkan kertas dengan tulisan ‘Aku anak badung, bandel, Bengal! Aku menyalak! Aku menggigit! Awas!’ wah. Waktu itu kau marah sekali, Taeyeon.”
“memang,” kata Taeyeon teringat saat ia diusili Sungmin. “tapi sekarang peristiwa itu terasa lucu bagiku. Eh, ayo kita lihat papan pengumuman, kayaknya ada pengumuman baru.”
Mereka menyeberangi ruangan. Memang ada pengumuman baru.
“Kim Taeyeon terpilih untuk ikut main dalam pertandingan lacrosse melawan Sekolah JYP,” demikian bunyi pengumuman tersebut.
Taeyeon ternganga membacanya. Pipinya serasa terbakar.
“Ommo!!” ia berseru. “saekarang aku benar-benar terpilih! Dulu Yesung yang terpilih, tapi karena ia dihukum aku yang ditunjuk untuk menggantikannya. Tapi sekarang aku benar-benar terpilih!”
“tentu saja, apa lagi kali ini adalah pertandignan perlawatan, bertanding di kandang lawan!” kata Sungmin. “kau bisa pergi naik bus ke sekolah JYP. Kau benar-benar beruntung!”
“memang menyenangkan!” seru Taeyeon. Bagaikan menari ia langsung mendekati Sulli dan Sunny untuk memberitahu tentang pengumuman tersebut. Amber msih bersama mereka berdua, dan berempat mereka membicarakan hal itu dengan gembira.
“kalau saja kami bisa ikut pergi untuk menyaksikan kau menembakkan bola ke gawang lawan, pasti menyenangkan!” Sunny kegirangan menggandeng lengan sahabatnya. “mudah-mudahan kali ini tidak hujan lagi, Taeng.”
“oh, jangan sampai hujan lagi!” seru Taeyeon. “Sunny, Amber, nanti bantu aku berlatih, ya, sebelum makan siang!”
Amber semakin berseri. Jarang sekali ada anak yang meminta bantuannya. Sungguh menyenangkan merasa bahwa dirinya dianggap teman sekelompok sekarang.
“hei, senyummu benar-benar manis,” kata Sunny memperhatikan Amber. “kajja! Lonceng sudah berbunyi. Jangan sampai aku terlambat. Kemarin aku hanya setengah detik, tapi Song seonsaengnim sudah ngamuk-ngamuk!”
Tak terasa Amber bernyanyi kecil saat pergi ke kamarnya untuk mengambil buku. Betapa baik hati teman-temannya! Ternyata memang sangat mudah untuk tersenyum bila kita merasa bahagia. Pagi ini Amber sudah bisa tersenyum di kacanya. Diperhatikannya wajahnya. Kini sudah berbeda, tidak sederhana lagi, tapi berseri-seri dan manis! Dengan tegas ia berbicara pada bayangan wajahnya di cermin.
“sekarang kau tidak boleh lagi makan permen. Kau tidak boleh rakus! Tak boleh berbuat bodoh sedikit pun! Senyumlah dan jadilah anak manis!”
Dan wajah di cermin itu tersenyum membalasnya.
Ketika pelajaran pagi selesai, Taeyeon, Amber, dan Sunny bergegas mengambil tongkat-tongkat lacrosse, untuk berlatih menangkap dan memukul bola. Mereka bertubrukan dengan Yesung di gang.
“aigoo.. kalian ini seperti topan saja!” seru Yesung. “mau kemana tergesa-gesa?”
“kami mau membantu Taeyeon menangkap bola,” kata Sunny. “apa kau tidak tahu? Taeyeon terpilih untuk ikut main dalam pertandingan di Sekolah JYP sabtu depan.”
“jinja?” sesaat wajah Yesung terlihat sangat kecewa. Ia telah begitu berharap dirinya akan terpilih kembali. Sebab dulu dia yang dipilih, dan akhirnya Taeyeon menggantikannya, walaupun akhirnya pertandingan dibatalkan kareana hujan lebat. Yah, tak apalah.
“aku tidak boleh merasa iri,” katanya dalam hati. “toh masih banyak kesempatan untuk bisa dipilih.“ dan ia berseru pada Taeyeon, “chukkae, Taeyeon! Betapa menyenangkannya kalau aku bisa melihatmu memasukkan bola ke gawang lawan!”
Ia berlari meninggalkan yeojadeul itu. Taeyeon berpaling pada Sunny, “Yesung baik sekali, kan?”
Sunny menatap wajah Taeyeon, “kau perhatikan wajahnya waktu ia ku beritahu bahwa kau yang terpilih?”
“ani, wae?” tanya Taeyeon heran.
“ia terlihat sangat kecewa,” kata Sunny mengeluarkan tongkat lacrosse-nya. “mungkin sekali ia berharap akan terpilih kali ini, sebab dulu ia dihalangi oleh keputusan rapat.”
“oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Taeyeon. Ia juga mengeluarkan tongkat lacrosse-nya, dan ketiga yeoja itu pergi ke lapangan. tak lama mereka telah sibuk, saling melempar, saling menangkap bola. Kemudian Amber menjadi penjaga gawang, sementara kedua rekannya berusaha memasukkan bolanya.
Tapi sekarang Taeyeon tak begitu menikmati latihannya. Ia berpikir tentang Yesung. Sabtu lau, dengan tuduhannya ia berhasil mencegah Yesung bermain di pertandingan. Makin dipikirkannya terasa makin tak adil bahwa sekarang dialah yang bermain dan bukan Yesung.
“walaupun akhirnya aku tak jadi main karena hujan,” demikian pikirnya sambil menangkap bola dan melontarkannya pada Sunny.
“tapi kalau tidak hujan, maka mestinya aku sudah main satu kali. Jadinya kalau sabtu ini aku main lagi, itu berarti aku main dua Sabtu berturut-turut, sementara Yesung sama sekali belum bermain sekali pun. Padahal sebenarnya dialah yang terpilih minggu lalu. Rasanya hatiku tidak enak. Biarlah kutanyakan hal ini pada Sooyoung.”
Sehabis makan, Taeyeon menemui Sooyoung.
Sebagai pengawas, maka Sooyoung selalu siap untuk mendengar kesulitan anak-anak dibawah pengawasannya. Sebaliknya mereka yang diawasi selalu dengan senang hati minta nasihat seorang pengawas bila memang diperlukan.
“Soo, bagaimana menurutmu kalau aku minta agar Yesung bermain dalam pertandingan hari Sabtu ini, dan bukannya aku?” tanya Taeyeon. “kau tahu, Sabtu kemarin ia tak jadi main karena aku telah menuduhnya berbuat salah. Dan aku tahu ia sangat kecewa sekali. Bagaimana kalau aku minta pada Seohyun agar mengganti namaku dengan nama Yesung?”
“ne, kukira itu sangat adil, Taeng.” Kata Sooyoung segera. “bagus sekali keputusanmu ini. aku sangat senang kau berpikir sampai ke situ. Ada satu hal sangat kukagumi pada dirimu, kau selalu berusaha untuk bertindak sangat adil.”
“aku akan mencari Seohyun sekarang juga,” kata Taeyeon, dan berlari meninggalkan Sooyoung, takut kalau pikirannya berubah lagi. Hal ini memang tidak enak bagi Taeyeon, tapi akan merupakan kejutan manis bagi Yesung!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 17

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 17 : remedy the situation
Taeyeon merasa marah pada dirinya sendiri saat ia mencari Yesung.
”sungguh buruk kelakuanku,” pikirnya. “aku menuduh seseorang melakukan banyak sekali perbuatan jahat, dan ternyata tak satu pun dilakukannya. Aku telah meminta dan berhasil membuatnya dihukum pada saat ia memutuskan untuk mengubah kelakuannya. Semua orang menolongnya. Aku satu-satunya yang telah membuatnya marah dan kecewa. Aku benci pada diriku sendiri!”
Ia tak bisa menemukan Yesung dimana pun. Hingga seseorang menghampirinya.
“hey, Taeyeon!” seru orang itu menepuk pundak Taeyeon.
“oh, kau Leeteuk.” kejut Taeyeon. “mengagetkanku saja!”
“hehe.. mian.” Ucap Leeteuk. “kau sedang mencari apa?”
“aku mencari Yesung.” Kata Taeyon. “Apa kau melihatnya?”
“Yesung?” tanya Leeteuk. “Tidak. Memangnya kenapa?”
“aku ada urusan dengannya.”
“wah, kau mau berkelahi lagi dengan anak itu?”
“ya! memangnya kerjaanku hanya berkelahi saja?” Taeyeon meninju kecil perut Leeteuk, namun keduanya tertawa cekikikan. *inget TaeTeuk moment di SUKIRA 😉
“Leeteuk!” teriak seseorang menghampiri keduanya.
“ne? ada apa Kyu?” jawab Leeteuk.
“oh, Taeng, annyeong!” sapa Kyuhyun yang dibalas sapaan balik Taeyeon. “ya!! aku tunggu dilapang basket, malah pacaran disini!”
“YA!! Siapa yang pacaran!” bantah Taeyeon dan Leeteuk bersamaan dan membuat keduanya saling melirik lalu melempar pandangan kearah lain dan membuat Kyuhyun terkekeh.
“aku pergi.” Ucap Taeyeon melewati Kyuhyun.
“mau kemana?” tanya Kyuhyun. “tidak mau menonton kami berlatih basket?”
“aniyo. Lain kali saja.” kata Taeyeon. “aku harus mencari Yesung.”
“Yesung? Tadi kulihat dia ada di kandang kuda.”
“oh, gomawo, Kyu.” Ucap Taeyeon segera pergi menuju kandang kuda.
Disana Taeyeon bertemu Ryeowook. “hari ini Horsie sedikit pincang,” kata Ryeowook. “dan Yesung sekarang ada di kandang, merawatnya bersama para pengurus kuda. Aku baru saja melihatnya, waktu pulang dari kandang sapi. Aku dan Victoria setiap pagi bertemu dengannya, saat kami berdua harus memerah sapi. Dan kau tahu, Taeyeon, kami merasa dia anak yang sangat menyenangkan. Ia berusaha keras untuk menyenangkan semua anak yang dulu diganggunya. Mau tidak mau aku harus mengaguminya.”
“aku juga mengaguminya,” kata Taeyeon. “tapi jelas ia tidak akan mengagumiku kalau ia mendengar apa yang akan ku ceritakan padanya nanti.”
“mwoya?” tanya Ryeowook. Tapi Taeyeon tidak mau menceritakannya.
Diluar hari sudah gelap. Taeyeon merapatkan syalnya dan mendekat ke kandang kuda. Didengarnya Yesung bercakap-cakap dengan pengurus kuda didalam kandang. Ia pun menjengukkan kepalanya ke dalam.
“Yesung,” katanya. “bisakah aku bicara sebentar denganmu?”
“nugu?” tanya Yesung heran. “oh, kau, Taeyeon. Ada apa?”
Yesung keluar kandang, mendekatinya. Tubuhnya bau kuda. Bau yang disukai Taeyeon, dan rambutnya berantakan dan tampak berbeda karena warna rambutnya berbeda dari biasanya.
“kau mengecat rambutmu?” tanya Taeyeon melihat perubahan rambutnya.
“apa kau kesini hanya untuk menanyakan itu?”
“ah, aniya.” Kata Taeyeon. Lalu keduanya duduk dibangku panjang yang menghadap ke kebun sekolah. “Yesung.”
“hm?”
“aku telah melakukan suatu kesalahan padamu.” Aku Taeyeon. “ternyata yang mempermainkan aku dan Sulli memang bukan kau.”
“aku sudah mengatakan hal itu padamu,” kata Yesung. “jadi aku tidak heran lagi.”
“ne, padahal aku sudah mengatakan pada seluruh sekolah bahwa kau yang melakukannya,” kata Taeyeon, suaranya mulai sedikit bergetar. “dan kau kena hukuman karena itu. tak bisa kujelaskan betapa menyesalnya aku. Kau memang pernah berbuat keji terhadapku, dan aku tak menyukaimu, tapi perbuatanku padamu jauh lebih keji lagi. Dan kau ternyata benar-benar memiliki pribadi yang kuat, karena mau datang pada pertandinganku, dan ikut menyesal sewaktu pertandingan itu dibatalkan karena hujan. Menurutku kau jauh lebih matang berpikir dariku. Sungguh picik pikiranku…”
“aku juga berpikir begitu,” kata Yesung dan menggenggam tangan kanan Taeyeon dan Taeyeon sedikit terkejut. “tapi sebenarnya aku tidak sebaik yang kau pikirkan, Taeyeon. Aku bisa melupakan kebencianku padamu karena aku merasa sangat bahagia, begitu bahagia hingga aku yakin aku mampu mengubah pribadiku. Sebenarnya karena perasaan bahagiaku itu aku tidak peduli lagi pada kekecewaanku karena tidak jadi main. Jadi tidak sulit bagiku untuk ikut nonton dan mengatakan padamu aku ikut menyesal karena pertandingan itu dibatalkan. Tapi aku senang akhirnya kau tahu siapa yang berbuat. Nugu?”
“saat ini aku belum bisa mengatakannya,” kata Taeyeon dan melepaskan tangan Yesung di tangannya. Yesung menunduk tertawa kecil. “tapi segera setelah aku tahu hal ini aku mendatangimu, untuk mengatakan aku sangat menyesal atas tuduhanku padamu. Aku harap kau bisa memaafkanku.”
“tidak usah khawatir tentang itu,” sahut Yesung sambil tertawa. “orang-orang akan harus memberiku maaf jauh lebih banyak daripada maaf yang harus kuberikan padamu. Ayolah, kita bersahabat saja. bermusuhan awalnya memang menyenangkan, tapi lama-lama bisa gawat juga. Datanglah besok pagi sebelum sarapan, dan kita berkuda bersama. Kau naik Captain, aku naik Horsie, kalau kakinya sudah sembuh. Dan gembiralah! Kau tampak aneh?”
“aku memang merasa aneh,” kata Taeyeon dengan kerongkongan serasa tercekat. “tak ku sangka kau begitu baik padaku. kukira memang aku sering salah menilai orang. Ya, Yesung, aku senang akhirnya kita bersahabat. Aku akan bangun pagi-pagi sekali besok.”
Yesung tersenyum pada Taeyeon dan kembali ke dalam kandang. Taeyeon menyelinap masuk ke dalam kegelapan. Sejenak ia berdiri diluar pintu, diterpa angin dingin. Betapa anehnya orang-orang disekelilingnya. Kadang kita mengira seseorang jahat, tapi ternyata ia seorang yang baik bahkan ingin bersahabat dengan kita.
to be continue..