Blog Archives

[FF] Can You Stop Loving Me? (Oneshot)

Can You Stop Loving Me poster

Author : Ashiya

Cast :

  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Jung Yunho (TVXQ)
  • Seo Joohyun (Girls’ Generation)
  • Lee Jinki (SHINee)

Genre :

  • Romance(?) o.O
  • Hatred(?) o.O

Length :

  • Oneshot

Disclaimer : This fiction is mine.

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

No bash! Just Enjoy this fiction!

***** Read the rest of this entry

[FF] Seoul Camp Lake (Last Chapter)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Im Yoona (Girls’ Generation), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-previous chapter-

Beberapa saat kemudian Sooyoung berbaring di tempat tidurnya sambil tersenyum. “aku telah mendapat tiga orang teman.” Batin Sooyoung. “mereka benar-benar membuatku gembira.”

Namun tidak lama kemudia senyum itu langsung meredup ketika ia mendengar bisikan dalam gelap. “Sooyoung.. Choi Sooyoung..” Sooyoung menahan napas. Tiba-tiba saja suara itu sudah begitu dekat..begitu dekat dengan telinganya. “Soo, kukira kita berpasangan. Kenapa kau meninggalkanku?”

“andwae…andwae..!” ucap Sooyoung memohon.

“Soo, aku sudah menunggumu begitu lama.” Suara itu berbisik. “ikutlah denganku. Ikutlah denganku, Soo..” dan tiba-tiba pundaknya digenggam tangan yang sedingin es.

“oh!!” Sooyoung langsung duduk tegak dan kemudian menatap mata Tiffany yang gelap.

Ia menurunkan tangannya dari pundak Sooyoung, “Soo, ada apa? Kau merintih-rintih tadi.”

“eh?? Apa??” suara Sooyoung gemetar, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya bermandikan keringat.

“kau merintih-rintih.” Ulang Tiffany. “jadi kupikir lebih baik kau di bangunkan saja.”

“ehm…gomawo.” Ujar Sooyoung. “mungkin gara-gara mimpi buruk.”

Tiffany mengangguk dan kembali ke tempat tidurnya. Sooyoung tidak bergerak, ia terus duduk sambil menatap kegelapan di sekelilingnya. “mimpi buruk?” tanya Sooyoung dalam hati. “rasanya bukan..”

-Chapter 6/Ending-

“kau tidak perlu ikut acara renang jarak jauh hari ini,” Yuri memberitahu Sooyoung waktu sarapan keesokan paginya.

“ehm.. seberapa jauh kita harus berenang?

“kita berenang sampai ke tengah danau,” jawab Yuri. “sampai ke tengah, lalu kembali lagi. Aku akan naik perahu ke tengah. Jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi kalau kau ragu-ragu..”

Sooyoung menaruh sendoknya dan melihat Tiffany dan Taeyeon yang memperhatikannya dari ujung meja. Disampingnya ada Jessica.

“ayolah ikut saja,” desak Tiffany.

“biar aku yang jadi pasanganmu,” kata Jessica. “aku akan berenang bersamamu, Soo.”

Sooyoung teringat kejadian mengerikan di perahu dayung. Ia kembali teringat bagaimana Jessica terjun ke air, membalikkan perahu, dan meninggalkannya seorang diri ditengah danau.

Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, pikir Sooyoung. Mereka sekarang sudah berteman. Ia harus melupakan kejadian di perahu dayung. Ia harus melupakan bahwa perkenalan mereka pada awalnya kurang mulus.

“oke,” jawab Sooyoung akhirnya. “gomawo, Sica. Aku akan berpasangan denganmu.” Sooyoung kembali berpaling pada Yuri. “aku siap ikut berenang.”

**

Matahari pagi masih rendah di langit, dan berulang kali tertutup awan kelabu. Setiap kali matahari menghilang, udara langsung sedingin air danau. Air danau itu sangat dingin pada pagi hari. Para peserta tampak enggan memasuki air. Semuanya menggigil dan mengeluh. Sooyoung pun berhenti di air sedalam mata kaki dan menunggu sampai ia terbiasa dengan dinginnya air.

Sooyoung menoleh ketika mendengar suara perahu motor. Yuri sedang menuju ke tempatnya di tengah danau. Begitu sampai, ia langsung mematikan mesin kemudian ia meraih megafon.

“ayo pemanasan dulu semuanya!” Yuri memberi instruksi namun para peserta itu malah tertawa.

“pemanasan? Bagaimana caranya? Udaranya begitu dingin!”

Sooyoung maju beberapa langkah lagi sambil merapikan baju renangnya yang berwarna biru. “mestinya kita pakai baju penyelam.” Ucapnya pada Jessica.

Jessica mengangguk lalu maju ke air sedalam pinggang. “ayo, Soo. Kita tidak boleh berpencar.” Jessica memberi isyarat agar Sooyoung mengikutinya.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam dan kemudian terjun ke dalam air. Hawa dingin menyerang dari segala arah. Tapi ia tetap meluncur di bawah permukaan dan berenang beberapa meter. Kemudian ia menyembulkan kepalanya dan berpaling pada Jessica.

“tukang pamer,” gumam Jessica sebelum akhirnya ia mencelupkan(?) kedua tangannya ke dalam air.

Sooyoung tertawa, “segar kok! Ayo, terjun saja. kau bakal lebih cepat terbiasa.”

Jessica mengikuti saran Sooyoung. Sebagian peserta sudah berada di dalam air. Ada yang berenang berputar, ada yang  mengapung, ada juga yang mengerakkan kaki seperti mengayuh sepeda.

“silakan ambil posisi semuanya!” Yuri memberi aba-aba dari perahunya. Suaranya terdengar keras dan memantul pada pepohonan. “baris dua-dua! Ayo, cepat!”

Mereka butuh waktu agak lama sebelum semuanya siap. Jessica dan Sooyoung berada di baris kedua. Di belakang mereka tampak Taeyeon berbaris dengan Tiffany.

“Taeyeon, aku ke belakang sebentar ya.” Ucap Tiffany.

“mau kemana?”

“toilet.” Jawab Tiffany sambil pergi menuju toilet meninggalkan Taeyeon.

“lalu aku berpasangan dengan siapa?” gumam Taeyeon.

“denganku saja.” ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.

“Kyu?”

Kyuhyun tersenyum, “tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan berenang cepat-cepat.”

“n..ne..” sahut Taeyeon dengan gugup.

Pasangan pertama berangkat, 2 anak perempuan. Yang satu berenang dengan mantap, yang satu lagi membuat air bercipratan ke segala arah. Yang lainnya bersorak-sorai untuk memberi semangat kepada mereka.

2 menit kemudian, Sooyoung dan Jessica hendak menyusul namun Kyuhyun menahan keduanya. “boleh aku dan Taeyeon duluan?” tanya Kyuhyun membuat Sooyoung dan Jessica mengerutkan keningnya.

“nanti saja, Kyu..”

“tidak apa-apa, kan?” tanya Kyuhyun lagi tidak memperdulikan ucapan Taeyeon.

“baiklah.” Jawab Jessica akhirnya. “silahkan.” Jessica memberi jalan untuk Kyuhyun dan Taeyeon untuk maju bersiap-siap.

“kajja!” Kyuhyun menarik lengan Taeyeon. Dan kemudian mereka berenang bersama dengan mantap. Kyuhyun tidak terlalu cepat berenangnya karena ia tidak mau Taeyeon ketinggalan.

Saat di tengah-tengah danau tiba-tiba Kyuhyun berhenti dan berbalik pada Taeyeon.

“kenapa berhenti?” bingung Taeyeon ikut berhenti berenang.

“apa kau sudah memikirkan ucapanku semalam?”

“Kyu, kumohon jangan begini. Aku hanya menganggapmu teman..”

“apa setelah aku lakukan ini kau masih menganggapku teman?” ucap Kyuhyun cepat dan meraih Taeyeon ke dalam air. Di bawah permukaan air, Kyuhyun memanggut bibir Taeyeon. Taeyeon berontak namun ia tidak bisa melepaskan pegangan Kyuhyun. Kyuhyun memeluknya sambil terus menciuminya d bawah air itu selama beberapa detik hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan ciuman itu dan kembali ke permukaan karena kehabisan napas. “mianhae..” lirih Kyuhyun melihat Taeyeon yang tampak menangis.

Taeyeon tidak memperdulikannya dan segera berenang mendekati perahu Yuri, tidak berniat berbalik kembali ke tepi danau meneruskan renangnya. Kyuhyun hanya memandanginya dan kemudian ikut menyusulnya.

Yuri menarik Taeyeon ke atas perahu dan kemudian disusul Kyuhyun. Taeyeon duduk terdiam menunduk di salah satu sisi perahu itu dan Kyuhyun duduk di seberangnya sambil terus memperhatikannya.

“Taeyeon, kenapa kau berhenti? Kau juga, Kyu?” tanya Yuri.

“aku.. lenganku pegal tidak kuat berenang lebih lama lagi.” Jawab Taeyeon.

“oh.. baiklah. Lalu kau?” Yuri berbalik pada Kyuhyun.

“bukannya kita harus berpasangan dalam sistem keselamatan di air? Jika aku meneruskan berenang berarti aku berenang sendirian tidak ada pasangannya.”

“ah, benar juga.” Sahut Yuri. “ya sudah kalian tunggu saja disini sampai semua selesai.”

Di tepi danau Sooyoung dan Jessica bersiap-siap meluncur ke air. Sooyoung berusaha tidak menciptakan cipratan ke segala arah. Ia berusaha untuk tidak kikuk di perhatikan semua peserta perkemahan itu. Tidak lama kemudian Jessica mendahuluinya. Sambil berenang berulang kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan ia tidak meninggalkan Sooyoung terlalu jauh. Titik untuk berbalik arah terletak di dekat perahu motor Yuri. Sooyoung terus menatap titik itu sambil terus mengikuti Jessica yang berada di depannya.

Jessica berenang semakin cepat, Sooyoung mulai merasakan lengannya pegal padahal jaraknya masih jauh dari perahu. Perahu Yuri berayun-ayun di depan Sooyoung. Yuri sedang menyerukan sesuatu melalui megafon tapi Sooyoung tidak bisa mendengarnya karena suara percikan air di sekelilingnya.

Jessica semakin jauh, “hei, jangan cepat-cepat!” seru Sooyoung namun ia kemudian sadar Jessica pasti tidak akan mendengar suaranya.

Sooyoung mengabaikan rasa pegal di lengannya dan berusaha mengejar Jessica. Ia mengayunkan kakinya lebih keras sehingga air pun bercipratan ke segala arah.

Matahari kembali menghilang di balik awan tebal. Langit menjadi gelap dan air danau langsung bertambah dingin. Sooyoung sudah hampir sampai di perahu yang dinaiki Yuri. Pandangannya tertuju pada Jessica. Sooyoung memperhatikan ayunan kakinya yang berirama. Rambutnya yang pirang mengapung di permukaan air, bagaikan sejenis makhluk penghuni laut. Kalau Jessica berbalik, aku juga ikut berbalik, pikir Sooyoung.

Sooyoung berenang sedikit lebih cepat. Perahu Yuri sudah lewat. Mereka sudah boleh berbalik. Tapi diluar dugaan Sooyoung, Jessica terus berenang mengayunkan kaki dan tangannya. Kepalanya terbenam. Lengannya bergerak dengan ringan dan anggun, dan Sooyoung tertinggal semakin jauh.

“Jess..?” panggil Sooyoung. Lengannya sudah berat sekali. Dadanya serasa terbakar. “hei, Jess! Kita sudah boleh balik!” namun Jessica terus berenang. Sooyoung mengerahkan segenap tenaga untuk menyusulnya, “Sica, tunggu!” seru Sooyoung. “kita harus balik!”

Jessica berhenti.

“apa ia mendengarku?” pikir Sooyoung sambil menghampirinya dengan napas terengah-engah.

Ia berbalik pada Sooyoung.

“Sica??” Sooyoung memekik tertahan.

Bukan. Bukan Jessica. Ternyata bukan Jessica. Tapi…Yoona! Matanya yang gelap tampak berseri-seri ketika mengembangkan senyumnya.

“ayo berenang terus, Soo,” bisik Yoona. “kita harus berenang lebih jauh dan lebih jauh lagi. Kau sudah jadi pasanganku sekarang.” Yoona langsung meraih lengan Sooyoung. Sooyoung berusaha membebaskan diri dan hampir berhasil melepaskan lengannya yang basah dari genggaman Yoona tapi kemudian ia mencengkram pergelangan tangan Sooyoung dan menariknya keras-keras.

“akh!” pekik Sooyoung. Yoona cukup kuat. Sangat kuat untuk seorang perempuan yang tampak begitu rapuh. Bukan, bukan seorang perempuan tapi hantu yang tampak begitu rapuh. “lepaskan aku!” Sooyoung meronta-ronta, menendang-nendang dan berputar-putar. “Yoon, aku tidak mau ikut denganmu!” Sooyoung berbalik dan berhasil melepaskan diri. Kepalanya terbenam dalam air. Terbatuk-batuk dan mengangkat kedua tangannya lalu naik ke permukaan air.

“dimana Yoona?” batin Sooyoung mengedarkan pandangannya mencari hantu itu. “apakah ia persis di belakangku? Apakah ia sudah siap menyeretku ke tengah danau, supaya aku tidak bisa berenang ke tepi?” dengan kalang kabut ia memandang ke segala arah.

Awan-awan di atas seakan-akan melintas dengan kecepatan tinggi.

“Sooyoung.. Sooyoung..” Sooyoung mendengar suaranya namun ia tidak bisa melihatnya. Sooyoung kembali berbalik, pandangannya tertuju pada perahu motor. Tanpa menghiraukan jantungnya yang berdetak kencang, tanpa menghiraukan lengannya yang pegal, ia mulai melesat maju. “aku harus mencapai perahu sebelum Yoona kembali menyeretku.” Batin Sooyoung.

Sooyoung mengerahkan segenap tenaganya yang masih tersisa untuk berenang ke perahu motor. Tangannya menjangkau….dan berhasil meraih pinggiran perahu. Dengan terbatuk-batuk, ia berusaha naik. “Yul, tolong!” Sooyoung memohon dengan suara parau. “bantu aku naik!” matahari muncul dari balik awan. Sooyoung menatap cahaya keemasan yang menyilaukan. “Yul, tolong..” Sooyoung melihat sepasang tangan terulur kearahnya. Ia membungkuk untuk menarik Sooyoung naik ke perahu. Ia mencondongkan badan ke depan dan menariknya ke atas. Sooyoung mengedip-ngedipkan matanya ketika menatap wajah orang yang menolongnya.

“andwae!!” Pekik Sooyoung tiba-tiba. Yang dilihatnya bukan wajah Yuri! Tapi wajah Yoona! Yoona menariknya naik ke perahu.

“ada apa, Soo?” ia berbisik sambil menarik Sooyoung. “jangan khawatir, kau tidak apa-apa.”

“lepaskan aku!!” jerit Sooyoung berusaha membebaskan diri dari pegangan Yoona. Matanya berkedip-kedip karena silau. Dan kemudian ia melihat wajah Yuri dihadapannya. Bukan wajah Yoona, tapi wajah Yuri. Wajah yang tampak cemas.

“Soo, kau tidak apa-apa?”

Sooyoung menatapnya dengan membelalakan matanya menyangka wajahnya akan berubah lagi menjelma menjadi Yoona.

“apa aku salah lihat?” pikir Sooyoung. “mungkinkah aku salah lihat karena silau akibat sinar matahari?” ia menghela napas membiarkan dirinya di tarik naik oleh Yuri dan juga di bantu Kyuhyun.

Sooyoung berlutut di perahu yang terayun-ayun. Taeyeon yang duduk di sebelahnya menatapnya sambil memicingkan matanya, “apa yang terjadi?” belum Sooyoung menjawab pertanyaan Taeyeon, ia mendengar bunyi gemericik di samping perahu.

“Yoona!” pikir Sooyoung. Ia langsung diam seperti patung.

Ternyata bukan. Jessica memanjat ke perahu. “Soo, kenapa kau tidak mendengarku memanggil-manggil tadi?” tanya Jessica.

“Jes, aku tidak melihat. Kupikir kau..” suaranya tercekat di tenggorokan.

“kenapa kau meninggalkanku?” tanya Jessica lagi. “kita kan harus berpasangan!”

**

Yuri mengantar Sooyoung ke tepi danau. Ia berganti baju lalu menemui Leeteuk. Ia berada di ruang kerjanya, sebuah ruangan kecil di gedung utama. Ia sedang duduk sambil menaikan kaki ke meja dan memandang selembar foto di tangannya.

“oh, Soo! Ada apa?” ia tersenyum ramah dan memberi syarat agar Sooyoung duduk di kursi lipat di depan mejanya. Ia mengamati Sooyoung dengan seksama. “aku dengar ada masalah lagi didanau.” Ucap Leeteuk dengan lembut. Foto yang semula ia pegang cepat-cepat ia masukan ke laci mejanya. “ada apa sebenarnya?”

Sooyoung menarik napas dalam-dalam memikirkan apa ia harus berterus terang kalau ia diikuti arwah seorang gadis? Arwah penasaran yang menginginkannya menjadi pasangannya.

“kau mengalami kejadian yang sangat mengejutkan kemarin.” Ujar Leeteuk. “kami sempat menyangka kau tenggelam.” Ia mencondongkan badannya ke arah Sooyoung. “barangkali kau terlalu cepat kembali ke danau. Barangkali kau seharusnya menunggu dulu.”

“mungkin juga.” Gumam Sooyoung dan kemudian ia melontarkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya. “Teuk, tolong ceritakan tentang yeoja yang tenggelam di sini.”

Leeteuk langsung melongo, “hah?”

“aku tahu ada yang pernah tenggelam di danau perkemahan ini!” ucap Sooyoung bersikeras. “aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Leeteuk menggelengkan kepalanya, “belum pernah ada yang tenggelam di danau perkemahan ini.” Jawab Leeteuk. “belum pernah.”

Sooyoung merasa ia bohong. Ia punya bukti, ia telah melihat Yoona. Dan bahkan sempat berbicara dengannya. “Leeteuk-ssi, aku perlu tahu. Tolong ceritakan tentang dia.”

Leeteuk mengerutkan kening. “kenapa kau tidak percaya, Soo? Aku tidak bohong. Belum pernah ada yang tenggelam di danau. Baik yeoja maupun namja.”

Tiba-tiba Sooyoung mendengar suara mendesah. Ia melirik ke arah pintu yang terbuka, dan……melihat Yoona berdiri disitu. Sooyoung kaget setengah mati. Serta merta ia berdiri dan menunjuk. “Teuk! Itu yeoja yang kumaksud! Dia berdiri disitu! Masa kau tidak mellihatnya???”

Leeteuk menoleh ke arah pintu. “ne.” ucapnya pelan. “aku melihatnya.”

“eh?” Sooyoung memekik tertahan. “kau melihatnya??”

Leeteuk mengangguk, raut wajahnya serius. “kalau itu bisa membuatmu lebih tenang, maka akan kubilang bahwa aku melihatnya.”

“kau tidak benar-benar melihatnya??”

“tidak. Aku tidak melihat apa-apa.”

Sooyoung berpaling ke ambang pintu. Yoona menatapnya sambil tersenyum lebar.

“duduklah.” Ucap Leeteuk. “kadang-kadang kita bisa dikelabui oleh daya khayal kita sendiri. Terutama kalau kita baru saja mengalami sesuatu yang sangat menakutkan.”

Sooyoung tetap berdiri di depan meja Leeteuk dan menatap Yoona. Pandangannya menerobos tubuh Yoona yang tembus pandang. “aku tidak mengada-ada! Dia ada disitu!” seru Sooyoung. “dia berdiri di pintu! Namanya Yoona. Dia tenggelam di danau perkemahan ini. Dan sekarang dia berusaha membuatku celaka. Dia ingin aku tenggelam juga!”

“Soo, tenang dulu.” Leeteuk berkata dengan lembut. Ia berjalan mengitari meja dan meletakkan sebelah tangan di pundak Sooyoung. Kemudian ia menggiring Sooyoung ke pintu, berhadap-hadapan dengan Yoona. Yoona menjulurkan lidahnya pada Sooyoung. “tuh, tidak ada siapa-siapa, kan?”

“tapi..tapi..”

“bagaimana kalau kau tidak usah ke danau dulu selama beberapa hari.” Usul Leeteuk, “kau bisa bersantai di perkemahan.” Yoona meniru ucapan Leeteuk dengan menggerak-gerakan bibirnya tanpa suara. Sooyoung memalingkan wajahnya membuat Yoona tertawa cekikikan.

“tidak pergi ke danau?” Tanya Sooyoung.

“ne. Beristirahatlah selama beberapa hari. Aku yakin kau akan merasa jauh lebih enak nanti.”

Sooyoung tahu cara itu takkan berguna. Ia tahu Yoona tetap akan membuntutinya kemana pun ia pergi untuk menjadikannya pasangannya. Sooyoung menghela napasnya, “rasanya percuma.”

“kalau begitu aku ada ide lain. Bagaimana kalau kau pilih olahraga baru? Olahraga yang belum kau coba? Sesuatu yang benar-benar sulit, misalnya, ski air.”

“aku tidak mengerti.” Sahut Sooyoung. “untuk apa?”

“karena kau akan begitu sibuk sehingga tidak sempat memikirkan soal hantu.”

“ne, pasti.” Ujar Sooyoung sinis.

“aku hanya mau membantu,” ujar Leeteuk dengan ketus. “atau bagaimana kalau kau membantuku?”

“membantu? Membantu apa?”

“jadi begini.. Apa kau tahu beberapa hari ini Taeyeon tampak dekat dengan namja salah satu peserta perkemahan ini.”

“maksudmu Kyuhyun?”

“ne, Kyuhyun.” Jawab Leeteuk mengiyakan.

“lalu apa hubungannya denganku?”

“mm…bagaimana ya? Mm…apa kau mau membantuku dengan berpura-pura menjadi yeojaku di depan Taeyeon supaya ia cemburu?” Tanya Leeteuk malu-malu. “tapi aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau.” Sambungnya cepat.

“ehm..aku..aku tidak tahu.” Jawab Sooyoung tidak tahu harus berkata apa, “kurasa sudah waktunya makan siang.” lanjut Sooyoung mengalihkan pembicaraan dan berjalan meninggalkan ruang kerja Leeteuk yang sempit.

Setelah berada di luar, ia menarik napas dalam-dalam. Udaranya jauh lebih sejuk di tempat itu. Ia berjalan menuju bangsal utama bagian depan. Tapi ketika ia sedang menyusuri lorong, ia kembali mendengar suara Yoona di belakangnya. “kau tidak bisa lolos, Soo. Kau pasanganku. Percuma saja kau berusaha kabur. Kau akan selalu menjadi pasanganku.”

Sooyoung merinding ketika mendengar bisikan itu. Bisikan yang diucapkan begitu dekat dengan telinganya. Tiba-tiba ia kehilangan kendali, “DIAM!!” pekik Sooyoung. “DIAM!! DIAM!! DIAM DAN JANGAN GANGGU AKU LAGI!!” Sooyoung berbalik untuk melihat apakah ia mendengar ucapannya. Saat Sooyoung berbalik, ia membelalakan matanya.

Tiffany berdiri di belakangnya. Saking kagetnya, ia sampai melongo. “oke, oke, aku pergi.” Ucap Tiffany sambil mundur teratur. “jangan marah-marah begitu, dong. Aku kan cuma mau tanya bagaimana keadaanmu.”

Mendengar Tiffany berkata seperti itu membuat Sooyoung tidak enak. Tiffany pasti mengira ia yang di caci-maki oleh Sooyoung. “aku..aku..”

“kupikir kita berteman,” kata Tiffany ketus. “aku tidak bilang apa-apa tadi, tapi kau langsung membentak-bentak!”

“bukan kau yang kuajak bicara tadi!” Sooyoung berusaha menjelaskan. “aku berbicara dengan dia!” Sooyoung menunjuk Yoona yang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar di dekat jendela. “aku sedang berbicara dengan dia!” ujar Sooyoung lagi.

Tiffany menoleh ke arah jendela yang di tunjuk Sooyoung, lalu mengerutkan kening. Raut mukanya berubah jadi aneh.

**

Keesokan pagi setelah sarapan, Sooyoung pergi menuju dermaga. Ia memutuskan untuk mencoba ski air. Entah kenapa ia ingin mencoba mengikuti saran Leeteuk. Mungkin karena ia kasihan pada Minho. Semalam ia kembali memohon-mohon agar jangan menelpon orangtuanya. Minho benar-benar tidak mau pulang. Menurutnya inilah liburan musim panas paling mengasyikan yang pernah dialaminya. “kau memang bisa menikmati liburan ini. Kau tidak terus dibuntuti hantu kemana pun kau pergi.” Pikir Sooyoung.

Semalam Sooyoung memutuskan untuk tidak pergi ke danau dan menghabiskan waktu di pondok dengan membaca tapi keesokan paginya ia sadar bahwa rencana itu tidak sehebat perkiraannya. Mana mungkin ia berani sendirian di pondok sementara semua orang berada di danau. Tidak akan ada yang bisa melindunginya dari Yoona. Seharusnya ia menjauhi danau tapi ia benar-benar tidak ingin sendirian. Karena itu ia mengikuti saran Leeteuk. Ia pergi ke dermaga dan memberitahu Yuri bahwa ia ingin belajar ski air.

“bagus, Soo!” seru Yuri sambil tersenyum lebar. “kau sudah pernah mencobanya? Main ski air sebenarnya lebih mudah dari  yang kita sangka.” Yuri mengambil jaket pelampung berwarna kuning dan sepasang ski air dari gudang perlengkapan. Kemudian ia memberikan kursus singkat pada Sooyoung. Ia memperlihatkan bagaimana harus mencondongkan badan ke belakang dan menekuk lutut.

Tak lama kemudian Sooyoung sudah berada di air sambil menunggu giliran di tarik perahu motor. Taeyeon sedang melaju dengan kencang. Baju renangnya yang berwarna jingga tampak berkilauan dalam cahaya pagi.

Dengung mesin perahu bergema. Gelombang yang ditimbulkan perahu itu menjilat-jilat tepi danau. Taeyeon berseru keras-keras dan melepaskan tali penarik ketika perahu melesat melewati dermaga. Ia menjatuhkan diri ke air, lalu segera melepaskan ski-nya. Kemudian ia naik ke darat.

Tidak jauh dari situ, Kyuhyun tersenyum dan hendak menghampiri Taeyeon sambil membawakan  handuk. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Taeyeon berlari kecil menuju Leeteuk yang langsung memberikan handuk padanya. Kyuhyun memandangnya dengan pandangan perih dan ia meremas kencang handuk di tangannya. Ia dapat melihat bagaimana Taeyeon tertawa lepas dengan Leeteuk dan Leeteuk membantu mengeringkan rambutnya.

Sooyoung bersiap-siap dengan ski-nya. Dengan susah payah ia memasang ski di kakinya. Kemudian ia meraih tali penarik, dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Sooyoung mengambil posisi seperti yang contohkan Yuri.

“siap!” seru Sooyoung.

Mesin perahu terbatuk-batuk dan kemudian meraung-raung. Perahu itu melesat begitu kencang sehingga tali yang digenggamnya nyaris terlepas dari tangannya. Sooyoung memekik nyaring ketika ia mulai terangkat dari air. Kedua ski yang dipakainya meluncur di permukaan. Ia menekuk lutut dan menggenggam tali penarik erat-erat.

“aku berhasil! Aku bisa bermain ski air!” perahu meluncur semakin kencang, melesat lurus melintasi danau yang berkilau-kilau. Wajah dan rambutnya basah terkena percikan air danau yang dingin. Tidak lama kemudian ia mulai kehilangan keseimbangan, tapi kemudian berhasil menegakkan kembali badannya. Ia menggenggam kencang tali penarik dan terus melesat dengan kencang. “yes!!” seru Sooyoung.  “menyenangkan sekali!”

Tapi kemudian pengemudi perahu motor itu menoleh ke belakang. Sooyoung mengenal senyum itu.

Yoona!

Senyumnya semakin lebar ketika ia melihat ketakutan yang terlukis di wajah Sooyoung. “kembali! kembali ke tepi!” ujar Sooyoung memohon. Tapi ia membelokkan perahu itu dengan tajam membuat Sooyoung nyaris jatuh. Tali penariknya ia cengkram erat-erat. Kedua ski di  kakinya menampar-nampar permukaan air. Tubuhnya basah kuyup terkena cipratan air dingin. Sooyoung megap-megap seraya berusaha menarik napas.

Yoona mendongakkan kepala dan tertawa, tapi suara tawanya ditenggelamkan oleh deru mesin perahu. Sooyoung bisa melihat langit lewat tubuhnya yang tembus pandang. Tubuhnya di terobos sinar matahari. “kembalilah!” teriak Sooyoung. “stop! Aku mau dibawa kemana??”

Yoona tidak menyahut. Ia kembali menghadap ke depan. Rambutnya berkibar-kibar karena tiupan angin. Perahunya meloncat-loncat, meninggalkan gelombang buih dan percikan air dibelakangnya. Gelombang itu menerjang Sooyoung, ia menggigil kedinginan. Ia tidak bisa melihat karena pandangannya terhalang gelombang itu. Saking paniknya, ia perlu waktu lama untuk menyadari bahwa sebenarnya ada cara mudah untuk meloloskan diri. Ia tinggal melepas tali penariknya.

Sooyoung mengangkat tangan, dan talinya pun jatuh ke air. Ia meluncur sejenak kemudian jatuh ke air dan tenggelam. Jaket pelampung yang dikenakannya membawanya kembali ke permukaan. Ia megap-megap dan menyemburkan air yang sempat masuk ke mulutnya. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya terasa sangat pening seakan-akan dikelilingi cahaya matahari yang terang benderang. “dimana permukaan air? Dimana tepi danau?” pikir Sooyoung. Ia berbalik dan melihat perahu motor melaju di kejauhan. “kali ini kau tidak berhasil!” seru Sooyoung pada Yoona. Tapi sesaat kemudian ia segera terdiam. Perahu itu berputar arah. Yoona membelokkan perahu dan menuju tepat kearahnya. Sooyoung menahan napas ketika mendengar mesin perahu meraung-raung. Ia terapung-apung di permukaan, tak berdaya sama sekali.

Perahu motor mulai melesat kencang. “ia datang!” pikir Sooyoung. “ia mau menjadikanku sebagai pasangannya untuk selama-lamanya! Aku terperangkap disini. Ia mau menabrakku?!!”

Sooyoung mengayunkan kakinya didalam air. Dengan mata terbelalak ia memperhatikan perahu motor yang melesat kearahnya.

“aku harus menyelam!” ucapnya dalam hati. Satu-satunya cara untuk lolos adalah melalui bawah air.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam. Setiap otot ditubuhnya menegang. Ia sadar harus menunggu saat yang tepat untuk menyelam.

Perahu motor semakin dekat. Raungan mesinnya semakin keras. Ia melihat Yoona mengarahkan perahu. Perahu itu dibidikkannya kearah Sooyoung. Sooyoung kembali menarik napas dalam-dalam. Tapi tiba-tiba ia sadar bahwa ia tidak bisa menyelam. Jaket pelampung yang dipakainya menahannya di permukaan.

Sambil memekik nyaring, ia meraih bagian depan jaket pelampung dengan kedua tangannya dan menariknya keras-keras. “ah, tidak bisa! Aku tidak bisa melepasnya!”

Permukaan danau kian bergolak ketika perahu motor semakin dekat. Seluruh danau seperti ikut bergoyang dan berputar. “a..aku akan tercabik-cabik!” Ia terus menarik dan mendorong jaket pelampungnya berharap bisa terlepas. “tidak ada waktu lagi! Aku tidak bisa menyelam!”

Raungan mesin perahu mengalahkan jeritannya. Sambil mengerahkan segenap tenaga, akhirnya ia berhasil menarik jaket pelampung ke atas melewati pundaknya.

Tapi terlambat!

Haluan perahu melesat melewatinya. Detik berikutnya, baling-baling perahu terasa memancung kepalanya.

**

Sooyoung menunggu rasa sakit yang akan menyerangnya. Ia menunggu kegelapan yang akan menyelubunginya. Tapi air disekelilingnya hanya bergolak hebat dan berubah warna. Mula-mula biru, lalu hijau

Sooyoung muncul di permukaan sambil terbatuk-batuk. Ia megap-megap dan terombang-ambing mengikuti alunan gelombang. “jaket pelampungku!” seru Sooyoung melihat jaket pelampungnya yang terbelah menjadi dua karena baling-baling perahu motor itu. “aku hidup!!” pekik Sooyoung. “aku masih hidup!!” ia berbalik dan melihat perahu motor melaju melintasi danau. “ia pasti menyangka aku sudah mati.” Sooyoung mengamati sekeliling untuk mencari tepi danau, lalu segera berenang menepi. Seakan-akan mendapat energi baru, arus yang deras ikut mendorongnya kearah perkemahan.

Beberapa peserta perempuan memanggil-manggilnya ketika ia naik ke darat. Ia melihat Yuri bergegas menghampirinya. “Soo…!” seru Yuri. “Sooyoung, tunggu!” Sooyoung tidak menggubrisnya. Semua orang tidak ia hiraukan. Ia malah mulai berlari.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus pergi dari perkemahan itu. Ia harus pergi sejauh mungkin. “aku tidak akan aman disini. Aku tidak akan aman selama Yoona menginginkanku sebagai pasangannya! Selama Yoona ingin agar aku juga tenggelam.” Ia tahu tidak ada yang mempercayainya. Semua bilang mereka mau membantu. Tapi tidak ada yang bisa menolongnya. Tidak ada yang sanggup melawan hantu.

Sooyoung menyerbu ke pondoknya dan segera berganti pakaian. Pakaian renangnya yang basah ia campakkan ke lantai, kemudian memakai celana pendek dan T-shirt. Ia menyibakkan rambut, lalu mengenakan kaus kaki dan sepatu kets. “aku harus pergi, harus pergi!” ia terus bergumam. “aku akan  menerobos hutan dan menuju ke kota di seberangnya. Aku akan menelepon eomma dan appa. Aku akan memberitahu mereka bahwa aku bersembunyi di kota. Aku akan meminta mereka datang untuk menjemputku.” Selesai mengemasi barangnya ia segera pergi namun sampai pintu ia menghentikan langkahnya. “apa aku perlu memberitahu Minho?” pikir Sooyoung. “ah, ani. Tidak usah. Ia pasti akan berusaha mencegahku.”

Akhirnya Sooyoung memutuskan untuk mengabari adiknya itu setelah sampai di kota, di tempat yang lebih aman. Sooyoung melongok dari pintu dan memandang ke kiri-kanan untuk memastikan keadaan  diluar aman. Kemudian ia melangkah keluar dan menyelinap ke belakang pondok. Namun kemudian ia bertabrakan dengan Tiffany. Ia mengamati wajah Sooyoung sambil memicingkan matanya. “kau mau pergi?” tanya Tiffany.

Sooyoung mengangguk, “ne. aku mau pergi.”

Sekali lagi raut wajah Tiffany berubah. Sorot matanya seakan-akan mati. “semoga berhasil.” Bisik Tiffany.

“kenapa ia bersikap aneh?” tanya Sooyoung dalam hati. Ia tidak sempat memikirkannya, ia melambaikan tangan pada Tiffany, lalu bergegas memasuki hutan.

Saat berjalan menyusuri jalan setapak diantara pohon-pohon, Sooyoung menoleh ke belakang dan melihat Tiffany masih berdiri di belakang pondok. Ia memandang ke arah Sooyoung. Sooyoung menarik napas dalam-dalam kemudian berbalik dan bergegas melangkah.

Pohon-pohon di kiri-kanan jalan setapak menghalangi sebagian besar sinar matahari. Semakin lama keadaan semakin gelap dan dingin. Duri tajam pada semak belukar menggores-gores lengan dan kakinya membuatnya menyesal karena tidak memakai celana panjang dan baju lengan panjang.

Sepatu ketsnya tergelincir karena menginjak lapisan daun mati. Berulang kali ia harus melewati dahan-dahan tumbang dan rumpun ilalang berduri. Akar-akar pohon tumbuh melintang di jalan setapak.

Akhirnya ia tiba di jalan bercabang. Ia berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal sambil menentukan jalan yang akan ia lewati. “apakah kedua cabang jalan itu menuju kota?”

Tiba-tiba Sooyoung menahan napasnya ketika mendengar suara bernyanyi. “seekor burung?” pikir Sooyoung. “bukan. Suaranya lembut sekali. Suara seorang perempuan.” Sooyoung menoleh ke arah sumber suara dan ia langsung mengerang ketika melihat Yoona duduk di sebuah dahan pohon yang rendah. Ia benyanyi sambil memiringkan kepala ke kiri-kanan. Matanya yang gelap tampak berkilauan ketika menatap Sooyoung.

“kau..kau membuntutiku?!” Sooyoung tergagap-gagap. “bagaimana kau bisa tahu bahwa aku..”

Yoona tertawa cekikikan. “kau pasanganku.” Sahutnya. “kita harus selalu bersama-sama.”

“tidak! Tidak bisa!” teriak Sooyoung. “kau kalah, Yoon! Aku tidak akan jadi pasanganmu karena aku tidak akan pernah lagi pergi ke danau. Aku tidak akan tenggelam seperti kau!”

Senyum Yoona lenyap, “tenggelam?” ia menggelengkan kepala. “Soo, kenapa kau berpikir begitu? Tampaknya kau bingung sekali. Aku tidak tenggelam.”

“hah?” Sooyoung tercengang karena terkejut.

“jangan bengong, Soo. Nanti kemasukan lalat.” Yoona menengadahkan kepala dan tertawa kemudian ia kembali menggelengkan kepala. “mana mungkin ada yang tenggelam di Seoul Camp Lake?” ujarnya. “setiap lima menit ada ceramah tentang keselamatan di air! Belum pernah ada yang tenggelam di Seoul Camp Lake!”

“kau tidak tenggelam?” pekik Sooyoung. “kalau begitu, bagaimana kau mati?”

Yoona mencondongkan badan ke depan dan menunduk menatapnya. Pandangan Sooyoung menerobos tubuhnya yang tembus pandang. Daun-daun di belakangnya tampak bergoyang karena tiupan angin.

“mau tahu?” tanya Yoona. “oke. Suatu malam pada waktu acara api unggun, aku tidak tahan lagi mendengar ceramah tentang keselamatan di air. Karena itu aku menyelinap ke hutan.” Ia menyibakan rambutnya ke belakang. “tapi aku melakukan satu kesalahan,” ia melanjutkan. “aku tidak tahu bahwa hutan ini penuh ular beracun yang mematikan.”

Sooyoung memekik tertahan. “di hutan ini ada ular??”

Yoona mengangguk. “hampir tidak mungkin ada yang bisa melintasi hutan ini tanpa digigit. Aku mati karena digigit ular, Soo.”

“tapi..tapi..” Sooyoung tergagap. “tapi kau selalu muncul didanau. Kenapa kau selalu muncul disana?”

“masa kau belum mengerti juga?” sahut Yoona. “itu memang sengaja. Aku sengaja membuatmu takut terhadap danau. Karena aku tahu kau akan berusaha kabur melalui hutan. Aku tahu kau akan lari ke hutan dan mati seperti aku… lalu jadi pasanganku.”

“andwae!!” pekik Sooyoung. “aku tidak mau! Aku..”

“Soo, lihat!” Yoona menunjuk ke tanah. Sooyoung menoleh dan melihat seekor ular gendut berwarna hitam melingkar di kakinya. “kita akan jadi pasangan abadi.” Yoona berkata dengan gembira. “pasangan abadi.”

Sooyoung berdiri seperti patung. Tanpa berkedip, ia memperhatikan ular gendut itu melilit di kakinya. “ahhh!!!” ia mengerang ketika ular itu mengambil ancang-ancang untuk memanggutnya.

“sakitnya tidak seberapa, kok,” Yoona menjelaskan. “rasanya seperti disengat tawon. Cuma begitu saja.” Ular itu mendesis nyaring. Mulutnya menganga lebar. Tubuhnya semakin kencang melilit kaki Sooyoung. “pasangan abadi,” Yoona bersenandung. “pasangan abadi…”

“bukan! Sooyoung bukan pasanganmu!” sebuah suara berseru.

Sooyoung hendak berpaling kearah suara itu, tapi ia tidak bisa bergerak. Lilitan ular di kakinya terlalu keras. “Tiffany!” seru Sooyoung. “sedang apa kau disini?”

Dengan  gerakan gesit, Tiffany meraih ular di kaki Sooyoung. Menariknya sampai terlepas, lalu melemparnya ke antara pohon-pohon. Tiffany menoleh ke arah Yoona. “Sooyoung tidak akan jadi pasanganmu, karena dia pasanganku!” seru Tiffany.

Yoona membelalakan mata, ia memekik kaget. Ia segera berpegangan pada dahan pohon agar tidak jatuh. “kau?!” seru Yoona. “kenapa kau ada disini??”

“ya, aku!” balas Tiffany. “aku datang lagi, Yoona!”

“tapi..tapi bagaimana kau..”gumam Yoona.

“kau berusaha mencelakakan aku tahun lalu,’ ujar Tiffany. “sepanjang musim panas kau berusaha menjadikan aku sebagai pasanganmu. Kau terus menakut-nakutiku. Ya, kan, Yoon?” ia mendengus. “kau pasti tidak menyangka bahwa aku akan kembali. Tapi aku datang lagi…untuk melindungi korbanmu berikutnya!”

“andwae!!” Yoona meraung.

Akhirnya Sooyoung mengerti. Ia menghampiri Tiffany dan berdiri disampingnya. “Tiffany pasanganku!” tegas Sooyoung. “dan tahun depan aku akan kembali untuk melindungi korban berikutnya!”

“andwae! Andwaeeee!!” Yoona meratap. “kau tidak boleh begitu! Aku sudah menunggu begitu lama! Sangat lama!!” ia melepaskan dahan pohon dan mengacungkan tinju ke arah Tiffany dan Sooyoung namun ia kehilangan keseimbangan. Ia berusaha meraih dahan pohon , tapi melesat. Tanpa suara ia terhempas ke tanah. Dan langsung lenyap. Hilang.

Sooyoung bangkit sambil menghela napas. “apakah ia pergi untuk selama-lamanya?” gumam Sooyoung.

Tiffany angkat bahu. “molla. Aku tidak tahu.”

Sooyoung berpaling pada Tiffany. “kau..kau telah menyelamatkanku!” seru Sooyoung. “gomawo, Tif!” Sooyoung menghampirinya sambil bersorak gembira. Ia ingin memeluknya karena telah menyelamatkannya.

Tapi……tangan Sooyoung menembus tubuhnya. Ia menahan napas. Ia meraih bahu Tiffany, tapi tangannya tidak merasakan apapun. Serta merta ia melompat mundur dengan mata terbelalak.

Tiffany menatapnya sambil memicingkan matanya. “Yoona membunuhku waktu liburan musim panas tahun lalu.” Ia berkata dengan suara pelan. “pada hari terakhir. Tapi aku tidak mau berpasangan dengannya. Aku tidak menyukai anak itu.” Ia mulai melayang kearah Sooyoung. “tapi aku perlu pasangan,” bisiknya. “semua orang harus punya pasangan. Kau mau jadi pasanganku, Soo?”

Sooyoung melihat ular berdesis-desis ditangannya tapi ia tidak bisa bergerak.

“kau mau  jadi pasanganku, kan?” Tiffany bertanya sekali lagi. “kau akan menjadi pasanganku untuk selama-lamanya.”

 THE END

Huaaaah selesai juga. Gimana endingnya? Ngegantung ya? kkkkkk~ Nasib Kyuhyun disini agak tragis ya? *dipelototin KyuTae shipper*

Yang mau ikutan Giveaway mana nih? Belum ada yang masuk ke email author. onion-emoticons-set-6-121onion-emoticons-set-6-113 Baru satu orang onion-emoticons-set-6-92onion-emoticons-set-6-100

Ditunggu ya sampe tanggal 30 April fan art-nya. onion-emoticons-set-6-72

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 4)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-Previous Chapter-

“aku mau kabur!!” ujar Sooyoung pada Minho.

“selamat jalan.” sahutnya dengan tenang. “semoga berhasil.”

“aku serius, Choi Minho!!” pekik Sooyoung. “aku tidak main-main! aku benar-benar mau kabur dari perkemahan ini!

“jangan lupa kirim kartu.” kata Minho.

Sooyoung menyeretnya keluar dari bangsal utama seusai makan malam. Sooyoung menggiringnya ke tepi danau. Disana tidak ada siapa-siapa karena semua orang berkumpul di bangsal utama. Sooyoung menoleh ke arah perahu-perahu yang ditumpuk tiga-tiga di tepi air. Ia kembali teringat rambut Jessica yang pirang dan baju renangnya yang merah. Ia teringat bagaimana Jessica berenang menjauh, meninggalkannya di tengah danau. Dan juga Jessica telah berbohong pada Yuri sehingga ia yang mendapat masalah.

Sooyoung mengguncang-guncang pundak Minho, “kenapa kau tidak percaya? aku serius!” gertak Sooyoung. Namun Minho malah tertawa.

“orang yang baru makan kenyang jangan di guncang-guncang.” kata Minho yang kemudian bersendawa keras.

“ish! jorok!” gerutu Sooyoung. Minho hanya nyengir lebar. “jangan bercanda! Aku benar-benar tidak betah disini, Minho! Aku benci perkemahan ini. Disini tidak ada telepon yang bisa kita pakai. Aku tidak bisa menelepon eomma dan appa. Jadi aku terpaksa kabur!”

Raut wajah Minho berubah, ia baru sadar bahwa Sooyoung tidak main-main. “kau mau kabur kemana?”

“aku mau menerobos hutan.” jawab Sooyoung sambil menunjuk. “ada sebuah kota di balik hutan itu. Aku akan menelepon eomma dan appa dari situ supaya mereka bisa menjemputku.”

“andwae!”

“wae??”

“kita dilarang masuk hutan.” sahutnya. “Leeteuk pernah bilang hutan ini berbahaya, kan?”

“aku tidak peduli Leeteuk bicara apa! Pokoknya aku mau kabur!”

“Jangan terburu-buru, noona.” Minho mendesak. “kita belum satu minggu disini. Lebih baik kau tunggu saja dulu.”

“aku paling sebal kalau melihatmu sok kalem begini!” Sooyoung mendorongnya keras-keras dengan kedua tangan.

Minho kaget dan kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke belakang. Ia terhempas ke lumpur tepi danau.

“akh!!”

“mian!” Sooyoung segera meminta maaf. “aku tidak sengaja. aku…”

Minho bangkit dengan susah payah. Punggungnya kotor oleh lumpur bercampur ganggang. Ia mengacungkan tinju sambil mencaci-maki. Sooyoung menghela napas. Sekarang adiknya sendiri pun marah padanya.

“apa yang harus kulakukan?” batin Sooyoung. “apa yang bisa kulakukan?”

**

Ketika Sooyoung kembali ke pondok, sebuah rencana baru mulai terbentuk dalam benaknya. Rencana yang benar-benar nekat. Rencana yang benar-benar berbahaya.

“besok!” gumam Sooyoung. “aku akan memberi pelajaran kepada mereka semua!”

-Chapter 4-

Keeseokan paginya Sooyoung terus memikirkan rencananya. Sebenarnya ia gugup sekali tapi ia tahu ia tidak boleh mundur.

Acara kelompok pada sore itu adalah renang bebas. Semua peserta sudah memiliki pasangan……..kecuali Sooyoung. Ia berdiri di tepi danau yang berlumpur dan memperhatikan peserta lain masuk ke air. Awan-awan putih tercermin di permukaan danau yang tenang. Serangga-serangga kecil tampak meluncur di permukaan air. Sooyoung memperhatikan makhluk-makhluk itu sambil memikirkan kenapa mereka tidak terbenam.

“Soo, sudah waktunya berenang!” seru Yuri. Ia bergegas menghampiri Sooyoung. Sooyoung membetulkan letak baju renangnya. Tangannya gemetaran. Ia benar-benar gugup. “kenapa kau tidak berenang?” tanya Yuri.

“a..aku belum dapat pasangan.” ujarnya tergagap-gagap.

Yuri memandang sekeliling untuk mencari seseorang untuk pasangan Sooyoung. Tapi semua sudah masuk ke air. “hmm..ya sudah, kau berenang sendirian saja. Tapi jangan ke tengah. Aku akan mengawasimu dari pinggir.”

“ne. Gomawo.” jawab Sooyoung tersenyum lalu segera menuju tepi air. Ia tidak ingin Yuri tahu bahwa baginya ini bukan acara renang biasa. Ia tidak ingin Yuri tahu bahwa ia telah merencanakan sesuatu yang akan membuat heboh.

Sooyoung melangkah ke air yang dingin itu. Segumpal awan melintas di depan matahari. Langit langsung bertambah gelap dan suhu udara pun turun. Kaki Sooyoung terbenam dalam lumpur di dasar danau. Di depannya ia melihat ratusan serangga kecil meluncur di permukaan air. Ia bergidik jijik. “kenapa aku harus berenang di air berlumpur yang banyak serangganya?” gumam Sooyoung. Ia menarik napas dalam-dalam dan terus melangkah maju. Ketika air yang dingin sudah hampir setinggi pinggang, ia membungkuk dan mulai berenang. Ia berenang berputar-putar dan membiasakan diri dengan air yang dingin.

Tidak jauh dari tempat Sooyoung berenang, Tiffany dan beberapa peserta yeoja lainnya sedang mengadakan lomba renang estafet. Mereka tertawa-tawa dan bersorak-sorai saat Taeyeon mencapai finish. Tampaknya mereka gembira sekali.

“sebentar lagi, mereka akan berhenti tertawa.” pikir Sooyoung menyeringai dan ia tersentak kaget saat tiba-tiba wajahnya terciprat air. Belum sempat ia berbuat apa-apa, wajahnya kembali di hujani percikan air. Baru kemudian ia sadar bahwa itu adalah ulah Minho. Ia muncul didepan Sooyoung dan menyemburkan air dari mulutnya ke wajah Sooyoung. “ish! Bagaimana bisa kau memasukkan air jorok ini ke dalam mulutmu!” seru Sooyoung. Minho hanya tertawa dan kembali berenang menghampiri pasangannya. “sebentar lagi ia juga akan berhenti tertawa. Mulai hari ini sikapnya akan lain padaku.” batin Sooyoung. “semua orang akan bersikap lain padaku.”

Namun baru saja Sooyoung berpikir begitu, tiba-tiba saja ia dihantui rasa bersalah. Ia berpikir seharusnya ia menceritakan rencananya itu pada Minho, bukan menjadikannya sasarannya. Tapi kemudian ia berpikir kembali, seandainya ia memberitahu Minho, ia pasti akan membujuknya untuk membatalkan rencananya. Atau ia akan memberitahu Yuri agar Yuri bisa mencegahnya. “tidak ada yang bisa mencegahku!” pikir Sooyoung.

Ia sudah merencanakannya sejak kemarin. Rencana yang sederhana namun pasti akan menimbulkan kehebohan. Ia akan berpura-pura tenggelam. Ia akan menyelam ke dasar danau, lalu tetap disana untuk waktu lama agar yang lain menyangka ia tenggelam. Sooyoung sanggup menahan napas untuk waktu lama. Ia bisa menyelam selama 2 sampai 3 menit. Cukup lama untuk membuat orang lain ketakutan. “semua akan panik. Termasuk Tiffany, Taeyeon, dan Jessica.” pikir Sooyoung. “semua akan menyesal karena telah bersikap begitu jahat padaku. Dengan begitu aku bisa memulai semuanya dari awal. Setelah kejadian di danau, semua orang di perkemahan ini akan bersikap ramah padaku. Semua mau menjadi pasanganku.”

Sooyoung menatap mereka semua yang asyik tertawa dan bersorak-sorai. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam. Dan akhirnya menyelam ke dasar danau.

Air danau masih dangkal di bagian tepi. Tapi setelah itu dasar danau langsung curam. Sooyoung mengayunkan kakinya keras-keras untuk menjauhi para perenang lain. Kemudian menegakkan badan dan menurunkan kaki. Ia merapatkan tangan ke sisi badan dan membiarkan dirinya meluncur ke bawah. Ia membuka matanya saat meluncur ke dasar danau. Sekelilingnya tampak hijau. Hanya sedikit cahaya yang sanggup menerobos sampai ke bawah air.

Sooyoung membayangkan betapa sedihnya kedua orang tuanya jika ia benar-benar tenggelam. Seharusnya Sooyoung jangan dikirim ke perkemahan olahraga air! Sooyoung membayangkan mereka mengatakannya dengan perasaan penuh penyesalan.

Kaki Sooyoung menginjak dasar danau yang lunak. Segelembung udara lolos dari mulutnya. Ia merapatkan bibirnya untuk menahan udara. Perlahan-lahan ia naik ke permukaan. Ia memejamkan mata. Ia sengaja tidak bergerak untuk menimbulkan kesan tenggelam. Ia membayangkan kengerian di wajah Yuri ketika melihat tubuhnya melayang-layang dibawah permukaan air. Ia nyaris tertawa ketika membayangkan Yuri melompat ke danau untuk menyelamatkannya. Ia akan terpaksa mengorbankan celana tenisnya yang putih bersih.

Sooyoung memaksakan diri untuk tidka bergerak. Ia memejamkan mata rapat-rapat dan memikirkan Tiffany, Taeyeon, dan Jessica. Mereka akan merasa bersalah. Mereka akan menyesal seumur hidup karena bersikap buruk padanya. Gara-gara kejadian ini, mereka akan sadar betapa jahatnya mereka padanya. Lalu mereka akan mau bersahabat dengannya. Itulah yang ada dipikiran Sooyoung. Ia membayangkan mereka akan menjadi sahabat karib dan akan menikmati liburan musim panas yang menyenangkan.

Dada Sooyoung mulai sesak. Tenggorokannya mulai serasa terbakar. Ia membuka mulut dan melepaskan gelembung udara. Ia melayang dengan posisi tengkurap. Kakinya terjulur lurus ke belakang, sementara lengannya tergantung lemas di sisi badannya. Ia memasang telinga untuk mendengar teriakan panik. Mestinya sudah ada yang melihatnya.

Sooyoung menunggu teriakan meminta tolong. Teriakan yang memanggil-manggil Yuri. Tapi ia tidak mendengar apa-apa selain keheningan yang menguasai dunia bawah air. Ia kembali melepaskan gelembung udara. Dadanya terasa sesak sekarang, seperti mau meledak. Ia membuka mata. “apakah ada orang di dekatku? Apakah ada yang datang untuk menyelamatkanku?” batin Sooyoung. Namun yang ia lihat hanya warna hijau. Ia bingung kemana mereka semua? seharusnya Yuri sudah melihatnya. Tapi kenapa ia belum juga diangkat dari air?

Ia kembali membayangkan Yuri dengan celana tenisnya yang putih. Ia membayangkan tangan dan kakinya yang kecoklatan dan rambut panjangnya yang hitam. “Yuri, dimana kau?” batin Sooyoung. “apa kau tidak melihat aku sedang tenggelam? aku bilang kau akan mengawasiku dari tepi danau?”

Sooyoung sudah tidak tahan. Dadanya sudah hampir meledak. Seluruh tubuhnya serasa ditusuk-tusuk. Kepalanya serasa mau pecah. “apa mereka belum melihatku?” pelipisnya mulai berdenyut-denyut. Ia memejamkan mata namun kepalanya tetap pening. Ia menghembuskan sisa udara yang masih tersimpan di paru-parunya. Ia kehabisan napas, lengan dan kakinya mulai nyeri. dadanya serasa terbakar.

Tidak lama kemudian, ia melihat titik-titik berwarna kening cerah, walaupun matanya terpejam rapat. Titik-titik itu berputar-putar. Bertambah cerah, menari-nari di sekelilingnya. Mengelilingi tubuhnya yang seperti terbakar. Dadanya terasa meledak dan tiba-tiba saja ia merasa sangat kedinginan. Titik-titik kuning tadi semakin terang, seterang lampu sorot. Berputar-putar di sekeliling tubuhnya yang kaku. Ia menggigil kedinginan. Air dingin dan kotor masuk ke dalam mulutnya. Ia sadar ia menyelam terlalu lama. Tidak ada yang datang untuk menyelamatkannya. Ia berusaha melihat sekelilingnya namun titik-titik kuning itu terlalu terang. Ia tidak bisa melihat. Ia menelan seteguk air danau. Tidak bisa melihat dan tidak bisa bernapas. Ia sudah tidak kuat lagi. Ia tidak bisa menunggu lebih lama.

Sooyoung berjuang untuk muncul di permukaan tapi terasa berat. Kepalanya mendadak seberat satu ton. “harus naik!” sambil mengerahkan segenap kekuatannya, ia menggerakkan bahu keatas, menegakkan kepala. Ia berpaling ke tepi danau dan memicingkan matanya karena air yang mengalir di wajahnya.

Ia memicingkan matanya…tapi..tidak ada siapa-siapa! Sooyoung menoleh ke arah lain, tidak ada siapa-siapa! Tidak ada yang berenang. Tidak ada yang berdiri di tepi danau. “kemana mereka semua??” panik Sooyoung menggigil gemetaran.

Dengan susah payah ia berenang ke tepi. Kakinya mati rasa. Ia tidak merasakan lumpur di dasar danau ketika keluar dari air. Ia menggosok-gosok lengannya. Sentuhan tangannya tidak terasa di kulitnya. Ia juga tidak merasakan air yang mengalir turun di punggungnya. Ia tidak merasakan apapun!

“hei, dimana kalian?!” teriak Sooyoung. Tapi kemudian ia berpikir, apa ia memang bersuara? Apakah ia masih punya suara? Ia tidak mendengar apapun!

Sooyoung berjalan ke rumput dan menggoyangkan tubuhnya persis seperti puddle yang sedang mengeringkan bulunya. “kemana mereka?” gumam Sooyoung. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil memeluk badannya sendiri. Semua perahu tampak berjajar dan terikat dalam posisi terbalik di tepi danau. “bukankah semua perahu sedang dipakai tadi?” gumam Sooyoung. “hei!” seru Sooyoung namun ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri. “dimana kalian?” Ia melihat tidak ada siapapun di tepi danau.

Ia cepat-cepat berbalik dan nyaris kehilangan keseimbangannya, ternyata di air juga tidak ada siapa-siapa. Tidak ada seorang pun di sekitarnya! Ia berjalan melewati tumpukan ban dan perahu karet. Semuanya ditutupi terpal. “kenapa tidak dipakai? kenapa semuanya ditutupi terpal?” batin Sooyoung. “dan kenapa tidak ada siapa-siapa di danau?”

Sooyoung menggigil kedinginan ketika ia berjalan menuju bangsal utama. Ia terperanjat ketika melihat pepohonan. Semua daun telah gugur. Seperti di musim dingin. “aaaahhhhh!” Ia memekik tanpa suara. Ia tidak tahu apakah ada yang mendengarnya. “kenapa daun-daun telah gugur? Ini masih pertengahan musim panas!”

Ia mulai menyusuri jalan setapak ke bangsal utama. Ia kedinginan. Sangat kedinginan. Dan tiba-tiba sesuatu yang dingin mengenai pundaknya.

“salju?”

Butiran-butiran salju turun dari langit, tertiup angin. Pohon-pohon yang gundul berderak-derak. Ia menepis salju yang menempel pada rambutnya yang basah. “salju? tapi…ini tidak mungkin! Semuanya tidak masuk akal!” pikir Sooyoung. Ia kembali berteriak berharap ada yang mendengarnya. “tolooooong!”

Tak ada suara apapun selain dahan-dahan yang berderak-derak diatasnya. Ia berlari. Kakinya yang telanjang tak bersuara di tanah yang dingin. Pondok-pondok perkemahan mulai kelihatan ketika ia keluar dari hutan. Semua atap tertutup lapisan salju tipis. Tanah sama suramnya dengan langit. Semua pondok tampak gelap. Segala sesuatu serba kelabu. Ia berada di dunia yang dingin dan kelabu. Ia membuka pintu pondok pertama yang dilewatinya, “hei, aku butuh bantuan!” seru Sooyoung. Ia memandang ke sekeliling ruangan itu. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Tak ada barang maupun pakaian berserakan. Pandangannya teralih ke tempat tidur, selimut, seprai, bahkan kasur…semuanya sudah diangkat. Sooyoung berpikir pondok itu sudah tidak dipakai lagi. Ia keluar dan berlari menyusuri deretan pondok. Semuanya gelap dan sunyi. Ia berlari menuju pondoknya yang berada di kaki bukit, setelah sampai ia menarik napas lega dan segera membuka pintunya.

“Tiffany? Taeyeon?” namun kamar itu kosong dan gelap. Kasur-kasur telah diangkat. Poster-poster telah di copot, tidak ada pakaian, tidak ada tas atau ransel. Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat ini pernah di huni manusia. “dimana kalian?” seru Sooyoung lagi. “dimana barang-barangku?? Dimana tempat tidurku??” kejut Sooyoung. Ia memekik ketakutan dan berlari keluar.

Ia berlari menembus hawa dingin dengan pakaiannya yang basah. Ia melewati semua pondok dan membuka pintunya satu persatu sambil memanggil-manggil siapa saja yang bisa menolongnya. Ia masuk ke gedung utama. Sooyoung merasakan teriakannya bergema dari langit-langit yang tinggi namun ia tidak mendengar suara teriakan itu. Ia kembali berlari ke ruang makan. Bangku-bangku kayu yang panjang telah di tumpuk di atas meja. Dapur tampak gelap dan kosong. “kenapa jadi begini?” panik Sooyoung dengan tubuh gemetaran. “kemana mereka semua? kenapa mereka pergi? Bagaimana mungkin mereka pergi begitu cepat? Dan….mana mungkin sekarang sudah turun salju??”

Sooyoung kembali berlari keluar. Gumpalan-gumpalan kabut kelabu melayang rendah di atas permukaan tanah. Ia merangkul diri sendiri supaya lebih hangat. Ia ketakutan dan juga bingung. Ia berjalan dari satu bangunan ke bangunan berikutnya. Rasanya seperti berenang, berenang dalam kabut tebal.

Tidak lama kemudian ia mendengar sesuatu. Sebuah suara. Suara seorang yeoja. Ia sedang bernyanyi. Bernyanyi dengan suara melengking. “aku tidak sendirian!” seru Sooyoung. Ia mendengarkan nyanyiannya. Lagunya sedih dan dilantunkan dengan lembut. “dimana kau?” panggil Sooyoung. “aku tidak bisa melihatmu! kau dimana?”

Sooyoung mengikuti suara itu sampai ke gedung utama. Disana ia melihat seorang yeoja duduk di tangga teras yang terbuat dari kayu. “hei!” seru Sooyoung memanggil yeoja itu. “hei, apa kau bisa menolongku?” Yeoja itu terus bernyanyi, seakan-akan tidak melihat kehadiran Sooyoung. Sooyoung berjalan mendekatinya, kemudian ia sadar yeoja itu sedang menyanyikan lagu Seoul Camp Lake dengan suaranya yang kecil. Rambutnya panjang sebahu dan bergelombang. Wajahnya cantik, halus dan pucat. Sangat pucat. Ia mengenakan baju putih tanpa lengan. Butir-butir salju masih terus berjatuhan. Sooyoung menggigil, tapi tampaknya yeoja itu tidak kedinginan.

Ia bernyanyi sambil mengayunkan kepala ke kiri-kanan. Sooyoung menghampirinya sambil menepis butir-butir saju dari keningnya. Ia baru berpaling pada Sooyoung saat lagunya selesai. Kemudian ia tersenyum. “hai, Sooyoung.” sapa yeoja itu.

tumblr_m3dtxpikWh1r9kse8o1_500

“d..dari mana kau tahu namaku??” kejut Sooyoung.

Ia tersenyum lebar. “aku sudah lama menunggumu.” jawabnya. “namaku Yoona.” Ia bangkit, berbalik, dan mengeluarkan sesuatu dari balik tangga. Jubah mandi berwarna putih. Ia merentangkannya dan menaruhnya di pundak Sooyoung yang gemetaran. Tangannya begitu ringan, Sooyoung nyaris tak merasakan sentuhannya. Ia membantu Sooyoung menalikan tali pinggang kemudian ia mundur dan kembali tersenyum, “aku sudah menunggumu, Sooyoung.” ucapnya dengan suara pelan sekali, bagaikan bisikan angin.

“a..apa? menunggu?”

Ia mengangguk. Rambutnya berkibar-kibar setiap kali ia menggerakan kepala. “aku tidak bisa pergi tanpamu, Soo. Aku perlu pasangan.”

Sooyoung menatapnya dengan kening berkerut. “mana yang lainnya? kemana mereka? Kenapa hanya kita berdua yang ada disini?” Sooyoung menyeka sebutir salju yang menempel di alisnya. “Yoona, kenapa tiba-tiba sudah musim dingin?”

“kau mau jadi pasanganku, kan, Soo?”

“aku tidak mengerti, tolong jawab pertanyaanku!”

“kau mau berpasangan denganku, kan?” ia bertanya lagi dengan pandangan memohon, “sudah begitu lama aku menunggu seseorang yang mau berpasangan denganku, Soo. Lama sekali.”

“tapi, Yoona..”

Yoona mulai bernyanyi lagi. Sooyoung heran kenapa ia begitu sedih saat menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake itu? Kenapa ia tidak mau menjawab pertanyaan Sooyoung? dari mana ia tahu nama Sooyoung dan kenapa ia bilang ia sudah menunggunya?

“Yoona, tolonglah..” Sooyoung mencoba membujuk.

Sambil terus bernyanyi ia melayang ke teras gedung utama. Gumpalan-gumpalan kabut bergeser sedikit setiap kali ia bergerak. “oh!” Sooyoung memekik ketika sadar pandangannya bisa menembus tubuh Yoona. “Yoona?”

Ia melayang ke teras sambil mengayunkan kepala ke kiri dan ke kanan, seirama dengan lagu yang dinyanyikannya. “Yoona?” Yoona terdiam dan kembali tersenyum menatap Sooyoung. Butir-butir salju tersangkut di rambutnya.

“Soo, mulai sekarang kau pasanganku.” ia berbisik. “aku butuh pasangan. Setiap orang di Seoul Camp Lake perlu pasangan.”

“tapi..tapi kau sudah mati!” seru Sooyoung baru menyadarinya. “ia sudah mati dan aku pasangannya?” batin Sooyoung. “berarti….berarti aku juga sudah mati???”

To be continue…

Happy birthday, Taengoo!^^onion-emoticons-set-6-86onion-emoticons-set-6-101onion-emoticons-set-6-157onion-emoticons-set-6-158

Sebenernya author gak bisa bikin FF yang main castnya bukan Taeyeon, tapi coba-coba aja pake cast lain. biar gak Taeng mulu. hehe…

Oh ya, nanti jam 19.00 WIB author bakal ngumumin pemenang event Thanks Giveaway, jadi tongkrongin terus blog ini ya! Dan juga author bakal publish FF Oneshot special Taeng’s birthday sequel dari I Got A Boy. onion-emoticons-set-6-99 Di tunggu aja ya~

Tetap tinggalkan jejak ya~onion-emoticons-set-6-81onion-emoticons-set-6-72

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 3)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-Previous Chapter-  

“AKU BENCI PERKEMAHAN INI!!” aku menjerit. Beberapa laba-laba kusingkirkan dengan menggunakan senter.

Dan tiba-tiba aku mendapat ide. Apa salahnya kalau aku membalas perbuatan Tiffany dan Taeyeon  padaku? Mereka telah mempermalukanku didepan semua peserta perkemahan. Padahal aku tidak berbuat apa-apa terhadap mereka.

Aku mengeluarkan baterai senter. Aku  menarik napas dalam-dalam, lalu aku membungkuk dan memasukkan segenggam laba-laba kedalam selongsong senter.

Isshh. Aku sampai merinding! Bayangkan saja aku harus memegangi laba-laba! Tapi aku tahu pengorbananku takkan sia-sia. Aku mengisi senterku dengan makhluk-makhluk hitam yang bergeliut tanpa henti. Setelah penuh. tutupnya kupasang lagi.

Kemudian aku mencari jalan pulang. Aku melangkahi pohon tumbang. Dalam waktu singkat, jalan setapak sudah ku temukan kembali. Sambil membawa senter dengan hati-hati, aku bergegas ke pondokku.

Aku berhenti didepan pintu. Lampu-lampu di dalam masih menyala. Aku mengintip lewat jendela yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa didalam. Aku pun menyelinap masuk.

Aku menyibak selimut di tempat tidur Tiffany. Kemudian kutuangkan setengah dari laba-labaku ke tempat tidurnya. Selimutnya kurapikan kembali. Sekarang aku akan menuangkankan sisa laba-laba itu di tempat tidur Taeyeon  namun saat aku sedang menuangkannya, terdengar suara langkah di belakangku. Cepat-cepat aku merapikan selimut Taeyeon dan berbalik.

Seseorang muncul di pintu, “hei, apa yang kau lakukan?!”

-Chapter 3-

Jessica muncul di pintu.

“eo..eobseo!” jawab Sooyoung menyembunyikan senternya di belakang punggung.

Jessica menguap. “sepuluh menit lagi lampu-lampu harus dimatikan.”

“n..ne. araseumnida.” Jawab Sooyoung. Ia melirik ke tempat tidur Tiffany. Salah satu sudut selimutnya belum sempat ia rapikan. Tapi Tiffany tidak akan tahu, pikir Sooyoung.

Tanpa sadar, Sooyoung senyum-senyum sendiri. Tapi kemudian ia cepat-cepat pasang tampang serius tidak ingin Jessica melihatnya dan mencurigainya.

“besok kau ikut kegiatan apa?” tanya Jessica sambil berlalu menuju lemarinya mengeluarkan piyamanya. “renang bebas?”

“bukan. Dayung.” Jawab Sooyoung. “aku ingin naik perahu dayung yang kering dan aman. Aku tidak berminat mondar-mandir di danau kotor yang penuh ikan dan makhluk lainnya.”

“hei, aku juga!” seru Jessica.

Sooyoung hendak bertanya apakah Jessica mau jadi pasangannya untuk berdayung besok, namun Tiffany dan Taeyeon keburu masuk. Mereka melihat Sooyoung dan langsung tertawa terbahak-bahak mengingat keusilan mereka.

“seru sekali tarian yang kau bawakan waktu api unggun tadi,” ucap Tiffany menertawai Sooyoung.

“gayanya seperti kalau ada ular dipunggungmu!” Taeyeon menimpali dan mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak.

“tertawalah sepuas-puasnya. Beberapa menit lagi giliranku yang tertawa. Aku sudah tidak sabar.” Batin Sooyoung.

Beberapa menit kemudian, Jessica mematikan lampu.

Sooyoung berbaring di kasurnya yang keras dan menatap kasur Tiffany di atasnya. Ia cengar-cengir sendiri dan menunggu..

Menunggu..

Tiffany berbalik di tempat tidurnya. Sooyoung bisa mendengarnya menarik napas keras. Dan kemudian Taeyeon dan Tiffany mulai menjerit-jerit. Sooyoung tertawa keras, ia tidak sanggup menahan diri.

“aku digigit! Aku digigit!” panik Tiffany. Lampu-lampu dinyalakan kembali.

“tolong!” Taeyeon memekik. Ia melompat turun dari tempat tidur.

“aku digigit!” teriak Tiffany lagi. Ia dan Taeyeon melompat-lompat dan menggeliat-geliut. Mereka menepuk-nepuk lengan, kaki, dan punggung masing-masing. Sooyoung sampai harus menggigit bibir untuk menahan tawa.

“laba-laba! Mereka ada di mana-mana!” Taeyeon memekik. “akh!! Mereka menggigitku!” ia menarik lengan baju tidurnya, “akh!! Appo!” pekiknya mulai menangis.

Jessica berdiri di samping saklar lampu. Sooyoung masih duduk di tempat tidur menonton Taeyeon dan Tiffany yang masih disibukan oleh laba-laba itu. Tapi kemudian, ucapan Jessica menyingkirkan senyum dari wajah Sooyoung.

“Sooyoung yang menaruh laba-laba di tempat tidur kalian!” ia memberitahu Tiffany dan Taeyeon. “aku memergokinya mengotak-atik tempat tidur kalian waktu aku masuk tadi.”

“Dasar tukang ngadu!” batin Sooyoung. “Mungkin ia masih marah padaku karena aku menumpahkan obat asmanya.”

Sedetik kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Jessica segera membukakannya.

“ada apa malam-malam begini ribut-ribut?” heran Leeteuk. Ia segera melihat Taeyeon yang sudah berurai airmata, “ya! Taeyeon-ah! Waegeurae?” paniknya menghampiri yeojanya itu. Ia tercengang melihat tangan dan kaki Taeyeon serta Tiffany yang memerah.

“oppa, Sooyoung menaruh laba-laba di tempat tidur Taeyeon dan Tiffany!” lapor Jessica pada Leeteuk.

“mwo?” kejut Leeteuk berganti menatap Sooyoung tidak percaya. “ah, sebaiknya kalian segera ke ruang P3K untuk memastikan laba-laba itu tidak beracun. Kajja!” Leeteuk pun membawa Taeyeon dan Tiffany menuju ruang P3K.

“kau ingin mereka masuk rumah sakit karena di gigit laba-laba itu??” sinis Jessica.

“mana ku tahu laba-laba jenis itu beracun.” Sahut Sooyoung tanpa bersalah, “lagi pula mereka pantas menerimanya karena telah mengerjaiku terlebih dahulu!”

Jessica hanya mencibir dan kembali ke tempat tidurnya.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Tiffany masuk seorang diri.

“bagaimana luka gigitannya? Mana Taeyeon?” tanya Jessica menghampiri Tiffany.

“aku sudah di obati. Taeyeon terpaksa harus menginap di ruang P3K karena luka gigitannya cukup parah.” Jawab Tiffany dan ia melirik Sooyoung dengan tatapan marah.

“mianhae..” ucap Sooyoung namun Tiffany tidak menanggapinya.

“Sica, aku tidur denganmu ya. Aku takut laba-laba itu masih berkeliaran di tempat tidurku.” Jessica pun mengangguk.

“mereka tidak mau berteman denganku? Sepertinya mereka semakin tidak menyukaiku. Tapi…ya sudah, aku akan mencari teman lain.” Batin Sooyoung.

Sementara itu di ruang P3K, Leeteuk menunggui Taeyeon yang terus menangis kesakitan akibat gigitan laba-laba itu.

“uljima.” Leeteuk menyeka airmata Taeyeon.

“temani aku disini. Aku takut tidur sendirian disini.”

“ne.”

“kalau kau ngantuk berbaring saja di sebelahku.” Ucap Taeyeon menggeser tubuhnya memberikan sedikit tempat untuk Leeteuk.

“baiklah.” Leeteuk beranjak dan membaringkan dirinya disebelah Taeyeon dan memeluknya.

“gomawo, ajussi.”

Leeteuk tertawa mendengar ucapan Taeyeon, “cheonma, ajumma!” ucap Leeteuk semakin mengeratkan pelukannya.

“ajussi..”

“hm?”

“terlalu erat.” Ucap Taeyeon. “sesak.”

“o..oh..ne.” sahut Leeteuk tergagap dan melonggarkan pelukannya.

**

Keesokan pagi, di bangsal asrama, Sooyoung sarapan seorang diri. Diruangan itu ada 2 meja panjang yang membentang dari dinding ke dinding. Satu untuk anak laki-laki, satu lagi untuk perempuan.

Sooyoung duduk di ujung meja dan makan sereal tanpa berkata apa-apa. Semua yeoja yang duduk disitu asyik bercerita. Taeyeon sudah lebih baik dan kini ia duduk disamping Tiffany dan menatap Sooyoung dengan pandangan tidak menyenangkan.

Sooyoung mengacuhkan tatapan Tiffany dan Taeyeon, kini ia beralih melihat Minho di meja lain. Ia dan teman-temannya asyik bercanda. Minho menaruh sepotong kue panekuk di  keningnya, dan anak lain menepuknya sampai jatuh. “paling tidak ada yang gembira.” Pikir Sooyoung. Ingin rasanya ia menghampiri Minho dan memberitahunya betapa tertekannya ia di tempat ini. Tapi ia tahu pasti Minho akan menyuruhnya jangan terlalu serius. Karena itu Sooyoung memilih untuk diam di meja itu sambil mengunyah sarapannya.

“apakah keadaan nanti akan bertambah baik dalam kegiatan dayung?” batin Sooyoung.

**

Tiba waktunya kegiatan dayung. Peserta lain sudah mulai mendorong perahu masing-masing ke dalam air. Mereka semua sudah punya pasangan. Kecuali Sooyoung.

Yuri menghampiri Sooyoung. Pagi itu Yuri begitu sexy dengan pakaian yang dikenakannya. Tak sedikit namja yang bersuit-suit melihat kemolekan tubuhnya.

tumblr_lf7eo3qgSC1qb8lxuo1_500

“siapa namamu?” tanyanya sambil terus mengawasi peserta lain.

“Sooyoung.” Jawab Sooyoung. “aku mendaftarkan diri untuk kegiatan dayung, tapi…”

“kau perlu pasangan.” Yuri menyela. “cari pasangan dulu. Perahu-perahu disimpan disebelah sana.” Ia menunjuk, lalu berjalan menjauh.

Satu persatu perahu itu meluncur ke air. Gemericik air terdengar dimana-mana. Sooyoung bergegas ke tempat perahu sambil mencari pasangan. Sooyoung hampir menyerah saat ia melihat Jessica yang sedang menyeret perahunya ke air.

“kau sudah dapat pasangan?” tanya Sooyoung. Jessica menggelengkan kepala. “bagaimana kalau kita bergabung saja?”

“tidak usah.” Balas Jessica dengan ketus. “jangan-jangan ada serangan laba-laba lagi nanti.”

“oh, ayolah~!” Sooyoung berusaha membujuknya.

“kalian berpasangan?” tanya Yuri yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Sooyoung dan Jessica.

“aniyo. Aku..”

“aku ingin berpasangan dengannya tapi ia tidak mau.” Sooyoung menyela. Jessica tampak kesal.

“kalau begitu bawa perahu kalian ke air.” Yuri memerintahkan. “tinggal kalian yang masih di darat.”

Jessica hendak memprotes tapi akhirnya ia angkat bahu dan menghela napas, “oke, Soo. Kajja.”

Sooyoung dan Jessica mengenakan jaket pelampung kemudian meraih dayung dan memegang haluan perahu. Mereka menyeret perahu itu ke air.

Perahu kecil itu berayun-ayun. Arusnya kecil namun ternyata cukup deras. Ombak kecil terus menjilati  tepi danau yang ditumbuhi rumput.

Jessica masuk ke perahu dan mengambil tempat duduk di depan. “terima kasih kau telah mempermalukanku didepan Yuri.” Ucap Jessica.

“aku tidak bermaksud..” Sooyoung berusaha menjelaskan namun Jessica cepat-cepat menyelanya.

“dorong perahunya!”

Sooyoung melemparkan dayungnya ke dalam perahu. Kemudian membungkuk dan mendorong perahu itu. Perahu meluncur, ia melangkah ke air dan memanjat masuk ke perahu.

“aduh!” perahu itu nyaris terbalik ketika Sooyoung menaiki perahu itu.

“ya! Hati-hati!” bentak Jessica. “huh, dasar! Begini saja tidak bisa!”

“mianhae.” Ucap Sooyoung. Ia tidak mau kehilangan pasangannya dan berusaha tidak membuat masalah lagi.

Sooyoung duduk di belakang Jessica. Perahunya berayun-ayun ketika mereka mulai mendayung.  Permukaan danau berkilau terkena pantulan sinar matahari pagi yang cerah. Keduanya membisu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah gemericik air dari kayuhan dayung itu. Beberapa perahu berada didepan dan Jessica serta Sooyoung tertinggal jauh di belakang.

Jaket pelampung yang mereka kenakan membuat mereka gerah. Mereka melepas pelampung itu dan meletakkannya di dalam perahu itu. Mereka mendayung dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan.

Sooyoung menoleh ke belakang. Tepi danau tampak jauh sekali. Ia langsung merinding. Ia tidak terlalu pintar berenang. Mendadak ia ragu apakah ia bisa berenang ke tepi danau itu jika terjadi sesuatu.

“hei!” kejut Sooyoung saat perahu itu tiba-tiba terombang-ambing. “ah!!” Sooyoung berpegangan pada pinggiran perahu.

Sooyoung menoleh ke depan dan  ia terkejut melihat Jessica berdiri! “Sica, apa yang kau lakukan??!”

Perahu semakin oleng. Sooyoung mencengkram tepi perahu erat-erat. Jessica maju selangkah. Perahu bertambah miring. Air segera masuk dan  membasahi kaki Sooyoung. “Sica, stop!!” Sooyoung berteriak. “duduklah! Kau  mau apa??!!”

Jessica berbalik menatap Sooyoung sambil memicingkan mata. “selamat tinggal, Sooyoung!” ia membuka T-shirt yang menutupi baju renangnya, lalu membuangnya ke danau.

“andwae!!” Sooyoung memohon. “jangan tinggalkan aku disini. Aku tidak jago berenang! Bagaimana kalau perahunya terbalik?? Aku tidak sanggup berenang ke tepi danau!”

“gara-gara kau liburanku jadi kacau!” tukas Jessica dengan sengit. “gara-gara kau  juga aku  tidak boleh ikut perjalanan enam hari menjelajahi danau dengan perahu.”

“t..tapi aku tidak sengaja..” Sooyoung tergagap.

“dan kau juga mencari gara-gara dengan Tiffany dan Taeyeon,”

“a..ani!” Sooyoung berusaha menyela. “aku sudah minta maaf. Aku tidak bermaksud..”

Jessica bergeser sedikit, sehingga perahu itu oleng ke arah berlawanan. Kemudian ia bergeser lagi ke arah semula. Sekali lagi. Dan sekali lagi. Ia sengaja membuat perahu oleng, ia sengaja menakut-nakuti Sooyoung.

“jangan, Sica! Nanti perahunya terbalik!” Sooyoung memohon. Namun tingkahnya malah semakin menjadi. “aku tidak pandai berenang. Aku tidak bisa…”

Jessica mendengus kesal. Kemudian ia mengangkat tangannya, menekuk lutut, bertolak kuat-kuat dan terjun ke danau.

“ANDWAE!!!” pekik Sooyoung sementara perahu terombang-ambing dengan hebat. Air bercipratan ke segala arah.

Perahu itu oleng.. berayun-ayun.. dan akhirnya terbalik!

Sooyoung terpental dan disambut air danau yang dingin. Saking kagetnya, ia tidak bisa bergerak. Perahu itu terombang-ambing di  permukaan danau. Sooyoung terbatuk-batuk karena mulut dan hidung yang kemasukan air. Ia mengayunkan tangan dan kakinya. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil naik ke permukaan air.

Terbatuk-batuk, menarik napas dalam-dalam. Ia melakukan itu berkali-kali. Sooyoung memandang sekeliling, dan melihat perahu mengapung dalam posisi terbalik. Sesaat kemudian napasnya mulai normal, begitu juga detak jantungnya.

Ia berenang ke perahu, memeluknya dengan sebelah tangan, dan berpegangan erat-erat. Sambil memicingkan mata karena silau, ia menoleh ke kiri-kanan untuk mencari Jessica.

“Sica? Sica? Dimana kau?” Sooyoung berbalik dan memandang ke segala arah. Dadanya seakan-akan di cengkram tangan-tangan dingin. “Sica? Sica? Kau bisa mendengarku?”

Sebelah tangannya berpegang pada perahu, dan tangan yang satunya lagi melindungi matanya dari sinar matahari. “Sica? Jessica!?” ia memanggil nama itu sekeras mungkin. Dan tidak lama kemudian, ia melihatnya. Sooyoung melihat rambut pirangnya yang berkilau terkena cahaya matahari. Ia juga melihat baju renangnya yang berwarna merah. Lengannya bergerak dengan mantap. Tendangan kakinya meninggalkan buih di permukaan air. Ia sedang berenang ke tepi danau.

Sooyoung berbalik dan mencari perahu-perahu lain. Sambil memicingkan mata, ia melihat semua perahu jauh di depan. Terlalu jauh untuk mendengar teriakannya. “mungkin perahunya bisa ku tegakkan lagi. Dan aku bisa naik lalu mendayungnya hingga ke tepi.” Gumam Sooyoung. “tapi…mana dayungnya??”

Sooyoung memandang ke arah perkemahan dan melihat Jessica yang berbicara dengan Yuri. Ia melambai-lambaikan tangan dan menunjuk-nunjuk ke danau. Menunjuk kearah Sooyoung. Peserta lain mulai berkerumun di sekeliling mereka. Kemudian terlihat Yuri menyeret perahu ke air.

“ia mau menyelamatkanku?” pikir Sooyoung. “sepertinya Jessica memberitahunya bahwa aku tidak sanggup berenang ke tepi.”

Anak-anak itu memperhatikan Sooyoung dan Sooyoung berpikir mereka menganggap dirinya payah yang tidak bisa berenang ke tepi namun Sooyoung tidak peduli dengan itu. Yang ia inginkan hanya bisa kembali ke daratan yang aman dan kering.

Yuri tidak butuh waktu lama untuk berdayung ke tempat Sooyoung mengapung. Saat Sooyoung naik ke perahunya, ia bermaksud segera berterima kasih namun Yuri tidak memberinya kesempatan berbicara. “kenapa kau melakukannya, Soo??”

“eh? Melakukan apa?” bingung Sooyoung.

“membalikkan perahu!!” Yuri mendesak. Sooyoung hendak memprotes tapi suaranya seakan-akan tersangkut di tenggorokan. Yuri menatapnya sambil mengerutkan kening, “Jessica bilang kau sengaja membalikkan perahu. Apa kau tidak tahu itu sangat berbahaya?!”

“tapi..tapi..”

“aku akan mengadakan pertemuan khusus karena kejadian ini.” Ujar Yuri. “keselamatan di air sangat penting. Semua peraturan harus selalu di taati! Seoul Camp Lake tidak akan ada kalau peserta tidak mentaati semua peraturan.”

“kenapa malah jadi begini?” gumam Sooyoung.

**

Yuri mengadakan pertemuan di bangsal utama. Dan semua peserta diwajibkan hadir. Ia kembali membahas semua peraturan keselamatan satu persatu. Setelah itu ia menjelaskan kembali tentang sistem pasangan.

Sooyoung duduk sambil menundukan kepala. Tapi setiap kali ia menoleh, ia melihat Tiffany, Taeyeon, dan Jessica melotot dengan gusar ke arahnya. Peserta yang lain juga menatapnya sambil mendelik. Sepertinya mereka semua menganggap Sooyoung sebagai penyebab pertemuan yang membosankan itu. Mungkin Jessica memberitahu mereka bahwa Sooyounglah yang membalikkan perahu itu.

“aku minta kalian menghapal kedua puluh peraturan keselamatan di air.” Kata Yuri membuat peserta itu semakin banyak yang melotot ke arah Sooyoung.

“mereka semua membenciku.” Batin Sooyoung. Ia menundukkan kepala dengan sedih dan tak ada yang bisa ia lakukan.

Lalu, tiba-tiba saja, Sooyoung mendapat ide.

**

“aku mau kabur!!” ujar Sooyoung pada Minho.

“selamat jalan.” sahutnya dengan tenang. “semoga berhasil.”

“aku serius, Choi Minho!!” pekik Sooyoung. “aku tidak main-main! aku benar-benar mau kabur dari perkemahan ini!

“jangan lupa kirim kartu.” kata Minho.

Sooyoung menyeretnya keluar dari bangsal utama seusai makan malam. Sooyoung menggiringnya ke tepi danau. Disana tidak ada siapa-siapa karena semua orang berkumpul di bangsal utama. Sooyoung menoleh ke arah perahu-perahu yang ditumpuk tiga-tiga di tepi air. Ia kembali teringat rambut Jessica yang pirang dan baju renangnya yang merah. Ia teringat bagaimana Jessica berenang menjauh, meninggalkannya di tengah danau. Dan juga Jessica telah berbohong pada Yuri sehingga ia yang mendapat masalah.

Sooyoung mengguncang-guncang pundak Minho, “kenapa kau tidak percaya? aku serius!” gertak Sooyoung. Namun Minho malah tertawa.

“orang yang baru makan kenyang jangan di guncang-guncang.” kata Minho yang kemudian bersendawa keras.

“ish! jorok!” gerutu Sooyoung. Minho hanya nyengir lebar. “jangan bercanda! Aku benar-benar tidak betah disini, Minho! Aku benci perkemahan ini. Disini tidak ada telepon yang bisa kita pakai. Aku tidak bisa menelepon eomma dan appa. Jadi aku terpaksa kabur!”

Raut wajah Minho berubah, ia baru sadar bahwa Sooyoung tidak main-main. “kau mau kabur kemana?”

“aku mau menerobos hutan.” jawab Sooyoung sambil menunjuk. “ada sebuah kota di balik hutan itu. Aku akan menelepon eomma dan appa dari situ supaya mereka bisa menjemputku.”

“andwae!”

“wae??”

“kita dilarang masuk hutan.” sahutnya. “Leeteuk pernah bilang hutan ini berbahaya, kan?”

“aku tidak peduli Leeteuk bicara apa! Pokoknya aku mau kabur!”

“Jangan terburu-buru, noona.” Minho mendesak. “kita belum satu minggu disini. Lebih baik kau tunggu saja dulu.”

“aku paling sebal kalau melihatmu sok kalem begini!” Sooyoung mendorongnya keras-keras dengan kedua tangan.

Minho kaget dan kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke belakang. Ia terhempas ke lumpur tepi danau.

“akh!!”

“mian!” Sooyoung segera meminta maaf. “aku tidak sengaja. aku…”

Minho bangkit dengan susah payah. Punggungnya kotor oleh lumpur bercampur ganggang. Ia mengacungkan tinju sambil mencaci-maki. Sooyoung menghela napas. Sekarang adiknya sendiri pun marah padanya.

“apa yang harus kulakukan?” batin Sooyoung. “apa yang bisa kulakukan?”

**

Ketika Sooyoung kembali ke pondok, sebuah rencana baru mulai terbentuk dalam benaknya. Rencana yang benar-benar nekat. Rencana yang benar-benar berbahaya.

“besok!” gumam Sooyoung. “aku akan memberi pelajaran kepada mereka semua!”

**

To be continue..

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 2)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

Previous Chapter onion-emoticons-set-2-150

“Taeyeon, kau harus selalu berpasangan denganku! Jangan lirik-lirik yang lain!” ucap Leeteuk membuat tawa Taeyeon yang tadinya bercanda dengan Tiffany menurun.

“shireo! Memangnya kau siapa?” balas Taeyeon.

“ya! aku ini namjachingu mu!”

Yuri menarik napas dalam-dalam berusaha tidak memperdulikan ocehan kedua orang itu. “ada pertanyaan?”

“mau kah kau jadi pasanganku?” seru salah satu peserta laki-laki.

Semuanya tertawa. Aku juga. Canda anak itu memang benar-benar pas. Tapi sekali lagi Yuri tidak terpengaruh. “sebagai coordinator olahraga air, aku akan bertindak sebagai pasangan semua peserta kemah,” ia menjawab dengan serius. “sekarang, peraturan nomor dua,” ia melanjutkan. “jangan berenang terlalu jauh dari perahu-perahu pengaman. Peraturan nomor tiga, dilarang berteriak atau berpura-pura mengalami kesulitan di dalam air. Jangan bergurau. Jangan main-main. Peraturan nomor empat…” ia terus berbicara sampai kedua puluh peraturan selesai dibacakannya.

Aku menghela napas. Yuri memperlakukan kami seperti anak-anak lima tahun. Padahal usia kami semua tidak begitu jauh. Banyak sekali peraturan yang harus dihapal.

“aku akan mengulang sekali lagi soal system pasangan..” Yuri berkata.

Aku memandang lewat api unggun dan melihat danau yang gelap. Permukaannya tampak licin dan hitam dan tenang. Di danau itu Cuma ada riak kecil. Tak ada arus. Tak ada gelombang pasang yang berbahaya.

Jadi kenapa harus ada begitu banyak peraturan? Apa yang harus ditakuti?

Chapter 2 onion-emoticons-set-2-143

Sooyoung POV

Yuri terus berbicara selama paling tidak setengah jam. Leeteuk terus melucu dan berusaha membuat rekannya tertawa. Tapi sia-sia. Bahkan sekedar tersenyum pun Yuri tampak enggan. Ia kembali membahas setiap peraturan yang ada dalam daftarnya. Kemudian ia menyuruh kami membaca daftar itu dengan seksama setelah kami kembali ke pondok masing-masing.

“selamat berlibur semuanya!” ia berseru. “sampai ketemu di danau!”

Semua bersorak sorai dan bersuit-suit ketika Yuri menjauhi api unggun. Aku menguap dan meluruskan tangan keatas kepala. Ini benar-benar membosankan. Baru sekarang aku tahu ada tempat yang punya begitu banyak peraturan. Aku kembali menepuk nyamuk yang hinggap di tengkukku. Badanku mulai gatal-gatal. Begitulah akibatnya kalau aku berada di alam bebas. Aku langsung gatal-gatal.

Api unggun telah padam. Bara berwarna ungu teronggok di tanah yang gelap. Udara malam makin dingin. Untuk menutup acara api ungun, Leeteuk meminta semua anak berdiri dan menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake.

“para peserta baru tentu belum tahu liriknya,” ia berkata. “kalian beruntung!”

Semua tertawa. Kemudian Leeteuk mulai bernyanyi sambil berjalan menghampiri Taeyeon. Semuanya langsung angkat suara. Aku pun berusaha ikut. Tapi liriknya cuma kutangkap sepenggal demi sepenggal.

Wetter is better

Get in the swim

Show your vigor and vim

Every son and daughter

Should be in the water

The cold, cold water

Of Seoul Camp Lake

Wah, ternyata aku sependapat dengan Leeteuk. lirik lagu itu memang konyol minta ampun! Aku memandang ke seberang api unggun dan melihat Minho bernyanyi sepenuh hati. Tampaknya ia sudah hapal seluruh syairnya. Bagaimana caranya? Aku bertanya dalam hati sambil menggaruk kakiku yang gatal. Kok ia bisa begitu cepat hapal? Dan begitu mudah bergaul?

Setelah lagu itu berakhir, Leeteuk kembali ke tengah lapangan sambil mengangkat tangan supaya semua tenang. “masih ada beberapa pengumuman,” ia berseru. “pertama, suara kalian sumbang! Kedua..”

Aku tidak mendengar sisanya. Aku menoleh dan melihat Tiffany dan Taeyeon berdiri disampingku. Aku langsung mundur selangkah. “mau apa kalian?” tanyaku dengan ketus.

“kami ingin minta maaf,” ujar Tiffany.

Taeyeon mengangguk. “ne. kami mau minta maaf karena lelucon konyol tadi.”

Leeteuk masih terus berpidato dibelakang kami. Tiffany meletakkan sebelah tangan dipundakku. “perkenalan kita kurang enak,” katanya. “bagaimana kalau kita mulai dari awal lagi? Kau setuju, Sooyoungie?”

“ye. kita mulai dari awal saja,” Taeyeon menimpali.

Aku langsung mengembangkan senyum. “setuju.” Kataku. “setuju sekali.”

“oke!” ujar Tiffany. Ia juga tersenyum lebar hingga kedua bola matanya tidak terlihat. Ia menepuk punggungku. “mari kita mulai dari awal.”

Leeteuk masih sibuk memberikan pengumuman. “jam setengah lima sore besok, semua yang berminat pada selancar angin…”

Minho pasti akan mencobanya. Aku memperhatikan Tiffany dan Taeyeon berjalan menjauh. Awal yang baru, pikirku. Perasaanku mendadak jauh lebih enak.

Tapi perasaan gembira itu cuma bertahan sekitar dua detik. Tiba-tiba punggungku gatal-gatal.

Aku berbalik ke api unggun dan melihat Tiffany dan Taeyeon memandang ke arahku. Keduanya tertawa cekikikan. Peserta lain mulai mengalihkan perhatian dari Leeteuk dan menatapku.

“oooh.” Aku mengerang ketika merasakan sesuatu yang hangat dan kering bergerak-gerak dibalik T-shirt-ku. “ah!!.” Aku menyelipkan sebelah tangan ke balik bajuku. Apa itu? apa yang ditaruh Tiffany dipunggungku tadi? Aku menggenggamnya dan menariknya keluar. Dan aku pun langsung menjerit.

Ular itu menggeliat-geliut ditanganku. Bentuknya seperti tali sepatu berwarna hitam. Dengan mata! Dan mulut yang menyambar-nyambar, membuka dan menutup. “aaaaaaaarghhhh!” aku menjerit sejadi-jadinya. Kemudian kulempar ular itu dengan sekuat tenaga. Ular itu terpental ke hutan. Punggungku masih gatal-gatal. Aku masih bisa merasakan ular tadi menggeliat-geliut di kulitku. Aku berusaha menggaruk punggung dengan kedua tangan.

Anak-anak disekitarku mulai tertawa. Berita mengenai keisengan Tiffany menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Aku tidak peduli. Aku terus menggaruk-garuk. Seluruh tubuhku terasa gatal. Aku berteriak dengan gusar. “apa-apaan sih kalian??!” aku menghardik Tiffany dan Taeyeon. “apa sih yang kalian inginkan?”

Minho menghampiriku. Ia pasti sudah siap untuk bersikap sok tahu lagi. Huh, menyebalkan!

“noona, kau digigit?” ia bertanya dengan suara pelan.

Aku menggeleng kepala. “rasanya ular itu masih merambat dipunggungku!” aku berseru. “kau lihat, tidak? Panjangnya hampir satu meter!”

“tenang dulu,” bisik minho. “semua orang menoleh kemari.”

“Kau pikir aku tidak tahu?” balasku dengan ketus.

“hmm, itu kan cuma ular kecil,” ujar Minho. “sama sekali tidak berbahaya. Kau tidak perlu sewot begini.”

“aku-aku…” aku tergagap-gagap. Tapi aku terlalu emosi hingga tak sanggup bicara.

Minho menoleh kearah Tiffany dan Taeyeon. “kenapa mereka terus menggangumu? Ia bertanya.

“mana kutahu!” jawabku. “karena.. karena mereka memang brengsek! Itu sebabnya!”

“coba tenang dulu,” kata Minho. “tubuhmu sampai gemetaran, noona.”

“bagaiman aku tidak gemetaran? Kau pasti juga gemetaran kalau ada ular dipunggungmu!” aku menyahut. “dan aku tidak butuh nasihatmu, Choi Minho! Aku tidak butuh!”

“ya, sudah,” kata Minho. Serta merta ia berbalik dan kembali ke tempat temaan-temannya.

“aissh..jinjja!” aku bergumam.

Appa kami dokter, dan Minho persis seperti appa. Ia pikir ia harus mengurusi semua orang didunia. Hah, aku bisa mengurus diri sendiri. aku tidak butuh nasihat dari adikku.

Leeteuk memanggil temannya untuk melanjutkan pidato. Dan kulihat ia menarik Taeyeon entah kemana menjauh dari kerumunan. Aku tidak peduli. Akhirnya aku meninggalkan tempat api unggun dan kembali ke pondok.

Aku melewati jalan setapak yang menembus hutan dan menaiki bukit. Suasananya benar-benar gelap. Ditengah kegelapan itu, samar-samar aku mendengar suara tawa seorang perempuan. Aku mengikuti arah suara itu. Dan mataku terbelalak ketika kulihat dengan jelas Leeteuk dan Taeyeon yang asyik berciuman. Ya Tuhan! Aku pun segera meninggalkan tempat itu tanpa meninggalkan suara sedikit pun. Bisa-bisanya mereka bermesraan ditempat menakutkan seperti ini. Aku hanya menghela napas mengingat kejadian itu.

Aku kembali berjalan dengan memilih jalan lain yang menuju pondok. Aku menyalakan senter dan mengarahkan sinarnya ke tanah didepan kakiku. Sepatuku menginjak daun mati dan ranting kering. Pohon-pohon disekililingku berdesir-desir.

Kenapa jadi begini? Kenapa Tiffany dan Taeyeon begitu benci padaku? mungkin mereka memang konyol. Mungkin mereka bersikap seperti itu kepada semua orang. Mereka pikir mereka paling hebat karena tahun lalu sudah kemari.

Tanpa sadar, aku menyimpang dari jalan setapak. “hei..!” aku mengarahkan senter ke sekelilingku untuk mencari jalan itu. cahaya senter menyapu batang-batang pohon rumpun ilalang, dan sebatang pohon tumbang.

Aku mulai panic. Mana jalannya?? Aku maju beberapa langkah. Daun-daun kering bekersak-kersak terinjak olehku.

Berikutnya kakiku terbenam dalam sesuatu yang lembek.

Pasir hisap!!

Tapi….

Bukan. Bukan pasir hisap.

Pasir hisap sebenarnya tidak ada. Buku IPA yang kubaca dikelas lima menyatakan hal itu. aku mengarahkan sentar kebawah. “ohhh!” ternyata lumpur. Lumpur yang kental dan lengket. Sepatu sneakersku terbenam dalam lumpur itu. aku mengangkat kaki sambil mengerang dan nyaris jatuh terjengkang. Tenang saja, ini cuma lumpur. Memang menjijikkan tapi bukan sesuatu yang aneh.

Tapi kemudian aku melihat gerombolan laba-laba itu. jumlahnya lusinan. Laba-laba paling besar yang pernah kulihat. Rupanya mereka bersarang didalam lumpur. Makhluk-makhluk itu merangkak melewati sepatuku, menaiki kaki celanaku. “OMMONA!! Ih!” lusinan laba-laba bergelantungan padaku. Aku mengayunkan kaki keras-keras. Aku mulai menepis-nepis dengan tanganku yang bebas. “AKU BENCI PERKEMAHAN INI!!” aku menjerit. Beberapa laba-laba kusingkirkan dengan menggunakan senter.

Dan tiba-tiba aku mendapat ide. Apa salahnya kalau aku membalas perbuatan Tiffany dan Taeyeon  padaku? Mereka telah mempermalukanku didepan semua peserta perkemahan. Padahal aku tidak berbuat apa-apa terhadap mereka.

Aku mengeluarkan baterai senter. Aku  menarik napas dalam-dalam, lalu aku membungkuk dan memasukkan segenggam laba-laba kedalam selongsong senter.

Isshh. Aku sampai merinding! Bayangkan saja aku harus memegangi laba-laba! Tapi aku tahu pengorbananku takkan sia-sia. Aku mengisi senterku dengan makhluk-makhluk hitam yang bergeliut tanpa henti. Setelah penuh. tutupnya kupasang lagi.

Kemudian aku mencari jalan pulang. Aku melangkahi pohon tumbang. Dalam waktu singkat, jalan setapak sudah ku temukan kembali. Sambil membawa senter dengan hati-hati, aku bergegas ke pondokku.

Aku berhenti didepan pintu. Lampu-lampu di dalam masih menyala. Aku mengintip lewat jendela yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa didalam. Aku pun menyelinap masuk.

Aku menyibak selimut di tempat tidur Tiffany. Kemudian kutuangkan setengah dari laba-labaku ke tempat tidurnya. Selimutnya kurapikan kembali. Sekarang aku akan menuangkankan sisa laba-laba itu di tempat tidur Taeyeon  namun saat aku sedang menuangkannya, terdengar suara langkah di belakangku. Cepat-cepat aku merapikan selimut Taeyeon dan berbalik.

Seseorang muncul di pintu, “hei, apa yang kau lakukan?!”

To be continue… onion-emoticons-set-6-48

TaeNy yang evil! onion-emoticons-set-6-109 Siapa yang mergokin Soo ya? onion-emoticons-set-2-62

Ingat! onion-emoticons-set-6-155 Budayakan meninggalkan jejak onion-emoticons-set-5-31onion-emoticons-set-5-25

[FF] Seoul Camp Lake (Teaser + Chapter 1)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ’em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

Teaser onion-emoticons-set-4-5

Seharusnya ikut perkemahan itu asyik, tapi Sooyoung membenci Seoul Camp Lake! Danau di perkemahan itu kotor dan berlendir! Ia tidak mau berenang disana! teman-teman sekamarnya membencinya, sehingga mereka selalu membuat gara-gara dengannya.

Jadi Sooyoung menyusun rencana! Ia akan berpura-pura tenggelam sehingga mereka akan menyesal telah bersikap jahat padanya.

Tapi rencana itu tidak sejalan sesuai keingin Sooyoung! Karena jauh di dasar danau yang dingin dan gelap, arwah seorang gadis membayanginya! Menghantui kemana pun ia pergi! Gadis yang mati penasaran itu menginginkan kematian Sooyoung, agar bisa menemaninya di alam kubur…

Chapter 1onion-emoticons-set-4-9

Sooyoung POV

Hari pertamaku di Seoul Camp Lake tidak bisa dibilang asyik. Aku gugup sekali ketika baru datang. Dan rasanya sempat melakukan hal-hal konyol. Habis, aku memang tidak berniat menghabiskan liburan musim panas diperkemahan yang menempatkan olahraga air sebagai atraksi utamanya. Aku tidak suka berada di alam bebas. Aku tidak suka kalau rumput menyerempet pergelangan kakiku. Aku bahkan tidak suka menyentuh pohon. Dan yang paling penting, aku tidak suka basah-basahan.

Memang sih, sesekali aku juga senang berenang. Tapi jangan setiap hari! Itu kan keterlaluan! Aku suka berenang di kolam renang yang bersih. Jadi begitu aku melihat danau didekat perkemahan, aku langsung merinding. Danau itu pasti penuh makhluk mengerikan. Pasti banyak makhluk seram yang mengintai dibawah permukaan air sambil berpikir: “ayo, Choi Sooyoung, kami sudah menunggumu. Terjun dan berenanglah. Kami akan menggosokkan tubuh kami yang berlendir ke kakimu. Dan kami juga akan menggigit jari kakimu sampai putus, satu persatu!”

Hih! Siapa yang mau berenang di air berlendir? Reaksi Minho justru berlawanan. Saking gembiranya, ia seolah mau meledak.

Ketika kami turun dari bus, ia melompat-lompat sementara mulutnya nyerocos tanpa titik dan koma. Sepertinya ia berbakat menjadi seorang rapper! Aku sempat mengira dia bakal buka baju dan langsung terjun ke danau. Adikku ini memang senang perkemahan musim panas. Ia suka olahraga dan kegiatan di alam bebas. Ia menyukai segala hal dan bisa akrab dengan semua orang. Semua orang juga menyukai Minho. Soalnya ia selalu penuh semangat dan selalu gembira.

Hei, jangan salah sangka, aku bukannya seorang pemurung tapi bagaimana kita bisa gembira kalau tidak ada mall, bioskop atau restoran untuk membeli pizza atau kentang goreng? Bagaimana kita bisa gembira kalau setiap hari harus berendam di danau sedingin es? Di bumi perkemahan yang jaraknya berkilo-kilometer dari kota terdekat? Ditengah hutan lebat lagi?

“wah, liburan disini bakal heboh” seru Minho. Ia menyeret ranselnya dan bergegas untuk mencari pondoknya.

“apanya yang heboh?” aku bergumam dengan lesu. Jadi, kenapa aku datang ke Seoul Camp Lake? Jawabannya cukup dengan 4 kata; karena eomma dan appa.

Mereka bilang aku akan tambah percaya diri kalau berlibur diperkemahan olahraga air. Mereka bilang aku akan merasa lebih nyaman di alam bebas. Mereka juga bilang akan punya kesempatan bertemu teman-teman baru. Memang sih, aku agak sulit berteman. Tidak seperti Minho. Aku tidak bisa menghampiri seseorang dan langsung mengajaknya mengobrol dan bercanda. Aku agak pemalu. Mungkin karena tubuhku lebih jangkung dibanding yeoja lain seusiaku pada umumnya. Aku dan Minho hanya selisih 1 tahun. Aku 19 tahun dan Minho 18 tahun. Aku jangkung dan kurus sekali. Sebanyak apapun aku makan, tubuhku tidak akan bertambah gemuk. Kadang-kadang aku dipanggil “Shikshin” oleh keluargaku karena aku ini sangat doyan makan. Terus terang aku sebal dengan julukan itu, sama sebalnya dengan berenang di danau dingin yang penuh makhluk tersembunyi.

“cobalah untuk menikmati pengalaman ini, Sooyoung.” Eomma berpesan. Aku Cuma bisa menghela napas panjang.

“ne, coba lihat dulu bagaimana keadaan disana” appa menambahkan. “siapa tahu kau menyukainya.” Aku kembali menghela napas panjang. “nanti, kalau tiba waktunya pulang, bisa-bisa kau malah memohon-mohon untuk diajak berkemah lagi!” appa berkelakar.

Aku hendak menghela napas panjang lagi, tapi tiga kali berturut-turut rasanya terlalu banyak. Aku Cuma mendesah, merangkul eomma dan appa, lalu menyusul Minho yang sudah naik ke bus.

Sepanjang jalan Minho terus cengar-cengir. Ia sudah tidak sabar untuk belajar main ski air. Dan ia juga terus bertanya apakah dibumi perkemahan ada menara untuk belajar lompat indah. Minho mendapat tiga atau empat teman baru dalam perjalanan ke perkemahan.

Akhirnya kami tiba di Seoul Camp Lake. Semua peserta perkemahan ini membawa tas masing-masing. Semua tertawa dan bercanda gembira. Rombongan kami disambut sekelompok pembina yang memakai T-shirt biru shappire. Perasaanku mulai lebih enak.

Hmm, mungkin aku bisa mendapat teman baru disini. Mungkin ada anak-anak yang seperti aku dan kami bisa menikmati liburan musim panas bersama-sama.

Aku masuk ke pondokku. Aku melihat ketiga teman sekamarku, lalu memandang sekeliling. Dan kemudian aku berseru, “oh, ini tidak bisa! Pokoknya, tidak bisa!”

**

Aku tahu reaksiku agak berlebihan. Aku tahu baru muncul aku sudah memberi kesan buruk. Tapi bagaimana lagi? Di dalam pondok ada dua tempat tidur tingkat. Ketiga teman sepondokku semuanya yeoja dan mereka sudah memilih tempat tidur. Jadi hanya ada satu yang tersisa, tepat di depan jendela. Dan jendela itu tidak ada kawat nyamuknya. Berarti tempat tidurku akan di hinggapi serangga yang merayap-rayap. Aku langsung tahu semalam suntuk aku bakal sibuk mengusir nyamuk. Di samping itu, aku tidak bisa tidur di bagian atas tempat tidur tingkat. Kalau aku tidur di atas, aku pasti jatuh. Aku harus tidur di bawah, di tempat tidur yang paling jauh dari jendela.

“a…aku tidak bisa!” aku tergagap-gagap.

Ketiga teman sepondokku langsung menoleh. Satu berambut pirang terurai. Di dekatnya duduk seorang yeoja yang sepertinya berdarah campuran Korea-Amerika berambut coklat. Dan ditempat tidur yang bersebrangan dengan jendela berdiri yeoja mungil dengan rambut berwarna kecokelatan yang menatapku sambil mengerutkan kening.

20120326 taeyeon 1

Kurasa mereka ingin menyapaku dan memperkenalkan diri. Tapi aku tidak memberi kesempatan pada mereka.

“salah satu dari kalian harus tukar tempat tidur denganku!” aku memekik. Aku sebenarnya tidak bermaksud memekik. Tapi aku benar-benar panik.

Pintu pondok terbuka sebelum mereka sempat menyahut. Seorang namja berambut pirang dengan T-shirt seragam biru shappire masuk.

“namaku Leeteuk.” katanya. “aku bos disini, alias Pembina kalian. Bagaimana, semuanya beres?”

“tidak!” seruku. Aku tidak sanggup menahan diri. Aku begitu gugup dan tegang. “aku tidak bisa tidur disitu!” ujarku. “aku tidak mau didekat jendela. Dan aku harus tidur ditempat tidur bagian bawah.” Ketiga yeoja itu tercengang melihat tingkahku.

Leeteuk berpaling pada yeoja yang berdiri di samping tempat tidur di seberang jendela. “Taeyeon-ah, maukah kau bertukar tempat tidur dengan…”

“Sooyoung” aku memberitahunya.

“maukah kau bertukar tempat tidur dengan Sooyoung?” Leeteuk bertanya pada Taeyeon. Sepertinya mereka sudah saling mengenal.

Yeoja itu langsung menggeleng kepala dengan tegas, “shireo!” ujarnya. Ia menunjuk yeoja yang duduk sambil memegang tasnya. “Tiffany dan aku tidur sama-sama tahun lalu.” Kata Taeyeon kepada Leeteuk. “jadi tahun ini kami ingin bersama-sama lagi.” Tiffany mengangguk.

“pokoknya aku tidak bisa tidur di depan jendela” aku berkeras. “sungguh. Aku takut serangga.”

Leeteuk menatap Taeyeon dengan tajam. “bagaimana?”

Taeyeon menghela napas. “Baiklah.” Ia meringis padaku. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.

“terima kasih” ujar Leeteuk sambil meraih lengan kiri Taeyeon tapi Taeyeon menepisnya dengan kasar dan menatapku marah. Aku pasti dianggapnya tukar pembuat onar. Taeyeon menyeret tasnya ke tempat tidur di depan jendela.

“biar ku bantu..” Leeteuk menawarkan diri.

“andwae! Shireo!” gertak Taeyeon. Leeteuk hanya menghela napas.

“kita harus bicara nanti.” Ucap Leeteuk pada Taeyeon sebelum keluar dari kamar ini.

“tuh, pakai saja tempat tidurku!” ia bergumam. Nada suaranya sama sekali tidak bersahabat. Aku merasa tidak enak. Belum apa-apa aku sudah dibenci teman-teman sekamarku. Kenapa aku selalu begitu? Kenapa aku selalu gugup dan memberi kesan awal yang buruk kepada orang lain?

Sekarang aku harus berusaha ekstra keras untuk berteman dengan mereka. Tapi semenit kemudian, aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

**

“terima kasih kau mau bertukar tampat tidur, Taeyeon.” Kataku. “kau baik sekali.”

Ia mengangguk tapi tidak mengatakan apa-apa. Tiffany membuka tasnya dan mulai memindahkan pakaiannya ke lemari pakaian. Yeoja berambut pirang menatapku sambil tersenyum.

-c3-Pr-nc3Ss-jessica-snsd-23577682-480-800

“annyeong, aku Jung Sooyeon” ia menyapa. Suaranya seperti anak kecil. “tapi semua orang memanggilku Jessica atau Sica.” Sica tersenyum ramah. Rambutnya yang pirang panjang dan dibiarkan tergerai.

“kau juga berlibur disini waktu musim panas tahun lalu?” aku bertanya padanya.

Ia menggelengkan kepala. “tidak. Taeyeon dan Tiffany memang berlibur disini. Tapi ini pertama kali aku kemari. Tahun lalu aku berlibur di perkemahan tenis.”

“aku baru sekali ini berlibur di perkemahan,” aku berterus-terang. “jadi aku agak gugup.”

“kau jago berenang?” tanya Taeyeon.

Aku mengangkat bahu. “lumayan, sih. Tapi aku jarang berenang. Aku kurang suka.”

Tiffany berpaling dari lemari pakaian. “kau tidak suka berenang, tapi kau berlibur di perkemahan olahraga air?” Taeyeon dan Sica langsung tertawa.

Wajahku mendadak panas. Aku enggan mengaku bahwa aku kemari karena disuruh orangtuaku. Kedengarannya payah banget. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa.

“aku..ehm.. aku suka kegiatan lain.” Aku tergagap-gagap.

“oh, baju renangmu bagus sekali!” seru Tiffany. Ia mengambil baju renang berwarna pink dari tas Taeyeon yang sedang dirapikan pemiliknya dan mengamatinya dengan seksama.

Taeyeon segera merebutnya. “memangnya kau muat!” ia bergumam.

“apa kau tambah kurus selama musim dingin?” Tiffany bertanya padanya. “kau tampak kurusan.”

ashiya19.wordpress.com_Profil_Tiffany_SNSD_02

“berat badanku memang turun sedikit.” Sahut Taeyeon. Ia menghela napas. “tapi aku tidak tambah tinggi.”

“aku tambah tinggi sekitar tiga puluh senti waktu SD.” Aku menimpali. “aku anak perempuan paling jangkung di sekolah. Semua orang menoleh kalau aku lewat.”

“oh, kasihan.” Taeyeon berkomentar sambil meringis. “mungkin kau lebih suka jadi kurcaci seperti aku?”

“ehm.. tidak juga sih” jawabku.

Oops! Baru sekarang aku sadar aku seharusnya tidak berkata begitu. Taeyeon tampak sakit hati. Kenapa aku bilang begitu? Kenapa aku selalu keseleo lidah?

Aku meraih tas ranselku yang masih tergeletak dilantai. Aku membawanya ke tempat tidurku untuk ku bongkar isinya.

“hei, itu ranselku! Mau dibawa kemana?” Sica bergegas menghampiriku.

Aku menatap ransel yang kubawa. “bukan. Ini punyaku.” Aku berkeras.

Aku menarik resletingnya. Dan ransel itu jatuh dari tempat tidur. Setumpuk barang langsung berserakan di lantai pondok. “oh!” aku memekik tertahan. Barang-barang itu bukan milikku. Aku melihat botol-botol obat dan alat pernapasan dari plastik. “obat asma?” seruku.

Jessica cepat-cepat berlutut dan memungut barang-barangnya. Ia menatapku dengan gusar. “kenapa kau harus memberitahu semua orang bahwa aku asma? Kenapa tidak sekalian saja kau mengumumkannya saat acara api unggun nanti malam?”

“mianhae..” aku bergumam.

“kan sudah ku bilang itu ranselku!” hardik Sica.

Tiffany membungkuk dan membantu mengumpulkan barang-barang Sica. “kau tidak perlu malu karena asma” katanya.

“itu urusanku sendiri.” balas Sica dengan ketus. Ia memasukkan semua obat-obatan kedalam kantong dan menarik ranselnya.

“mianhae,” aku berkata lagi.

Mereka bertiga menatapku tajam. Tiffany geleng-geleng kepala. Taeyeon berdecak-decak. Mereka membenciku. Aku sedih sekali.

Mereka membenciku, padahal ini baru pertama. Aku baru satu jam berkenalan dengan mereka. Aku menghela napas dan duduk di tempat tidur. Rasanya tidak ada keadaan yang lebih parah dari pada ini, pikirku.

Tapi ternyata aku keliru.

**

Malam itu pertama kali kali membuat api unggun di lapangan luas di dekat hutan. Balok-balok kayu di susun melingkar untuk di gunakan sebagai bangku. Aku mencari tempat kosong dan duduk membelakangi pepohonan. Api unggun besar di hadapanku menari-nari dan menerangi langit senja yang kelabu. Para Pembina melemparkan lebih banyak ranting ke dalam api. Dalam sekejap lidah apinya sudah lebih tinggi dari mereka. Aku berbalik dan memandang ke hutan. Pohon-pohon yang gelap tampak berayun pelan karena tiupan angin. Dalam cahaya remang-remang, aku melihat seekor tupai melintas diantara alang-alang. Aku bertanya-tanya, makhluk apa lagi yang mengintai di hutan gelap itu? pasti ada binatang yang lebih besar daripada tupai. Lebih besar dan lebih berbahaya.

KRAK!!

Bunyi patahan api unggun membuatku tersentak kaget. Seram juga di luar kalau sudah gelap. Kenapa api unggunnya tidak di buat didalam ruangan saja? di tempat perapian, misalnya?

Aku melihat Tiffany dan Taeyeon duduk di salah satu balok kayu. Mereka sedang tertawa-tawa sambil mengobrol dengan Leeteuk dan seorang pria yang tidak kukenal tapi dilihat dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya ia juga salah satu dari pembina kami.

Aku melihat Minho duduk diseberang api unggun. Ia sedang bercanda dengan dua anak laki-laki. Mereka bergulat dan saling dorong. Aku menghela napas. Minho sudah mendapat teman-teman baru. Semua sudah mendapat teman baru, kecuali aku.

Di balok kayu sebelah, tiga orang yeoja duduk sambil mendongakkan kepala. Mereka sedang menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake. Aku mendengar mereka sambil mencoba menghapal syair lagu itu. tapi ditengah jalan mereka mulai tertawa cekikikan dan berhenti bernyanyi.

Dua yeoja yang merupakan Pembina kami duduk di ujung balok yang ku duduki. Aku menoleh untuk menyapa mereka tapi mereka terlalu asyik mengobrol berdua.

Leeteuk, si ketua Pembina, melangkah ke depan api unggun. Ia memakai topi rusa yang membuatnya tampak menggelikan. Setidaknya menurutku begitu.

teuk561

Celananya tampak kotor akibat mempersiapkan api unggun tadi. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “semua sudah kumpul?” ia berseru. Suaranya nyaris tidak terdengar. Semua masih asyik mengobrol dan tertawa. Dibalik api unggun aku melihat Minho bangkit dan menggeliat-geliut tak karuan. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka mengajak Minho berhigh-five.

“sudah bisa dimulai?” Leeteuk berseru. “acara api unggun selamat datang sudah bisa dimulai?”

Sebuah balok kayu berderak di makan api. Bunga api berwarna merah beterbangan ke segala arah. “oh!” aku memekik ketika ada yang menyentuh pundakku.

“nugu..?” aku langsung berbalik dan melihat Tiffany dengan Taeyeon. Mereka berdiri dihadapannku. Raut muka mereka ketakutan.

“Soo, lari!” Tiffany berbisik.

“ireona, ppali~!” Taeyeon menarik-narik lenganku. “lari!”

“wae?” tanyaku kalang kabut. Aku cepat-cepat berdiri. “ada apa, sih?”

“namja-namja itu,” Taeyeon berbisik. Ia menunjuk ke seberang api unggun. “mereka melempar petasan ke dalam api. Sebentar lagi petasannya akan meledak!”

“lari!!!” keduanya berseru. Taeyeon mendorongku dari belakang. Aku terhuyung-huyung sejenak. Lalu melesat maju. Sambil berlari aku memejamkan mata rapat-rapat. Petasannya sudah mau meledak! Apakah aku sempat lari? Apakah Taeyeon dan Tiffany juga bisa meloloskan diri?

Aku mendadak berhenti ketika mendengar suara tawa. Tawa berderai-derai.

“hah?” aku menelan ludah dan menoleh ke belakang.

Ternyata separuh peserta perkemahan sedang menertawakanku. Taeyeon dan Tiffany berhigh-five.

“oh, aisshh,” aku mendengus. Bisa-bisanya aku ketipu. Dan tega-teganya mereka mempermainkanku seperti ini. Mereka pasti telah menyuruh semua anak memperhatikanku. Rasanya semua mata tertuju kearahku ketika aku berdiri sendirian di tepi hutan. Aku melihat Sica tertawa. Dan aku melihat Leeteuk dan beberapa Pembina lain tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Ara! Ara! Seharusnya aku ikut tertawa. Seharusnya aku menganggap semuanya cuma lelucon saja. Seharusnya aku tidak kesal. Tapi sejak awal kedatanganku kesini perasaanku sudah tidak enak. Aku gugup sekali. Aku berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan lagi.

Pundakku mulai bergetar. Dan mataku mulai berair. Andwae! Jangan menangis! Kau tidak boleh menangis didepan seluruh peserta perkemahan. Memang, kau pasti malu sekali, Choi Sooyoung. Tapi sudahlah. Ini Cuma lelucon. Lelucon konyol. Seseorang menggamit lenganku. Aku segera melepaskan diri.

“noona..” Minho muncul disampingku. Ia menatapku dengan matanya yang bulat.

“aku tidak apa-apa,” ujarku dengan ketus, “pergilah!”

“jangan sewot gitu dong!” ia berkata pelan. “kenapa sih kau susah sekali diajak bercanda? Ini kan cuma lelucon. Kenapa kau harus marah-marah gara-gara lelucon konyol?”

Kau tau apa yang paling kubenci? Aku paling benci kalau ucapan Minho benar. Maksudku, Minho adikku kan? Kenapa justru Minho yang selalu tenang dan kalem? Aku benar-benar sebal kalau Minho bersikap seakan-akan ia kakakku.

“jangan sok tahu!” aku menggeram. “sudah, jangan ganggu aku lagi.” Aku mendorongnya kearah api unggun. Ia hanya angkat bahu dan kembali ke teman-temannya. Aku berjalan lambat-lambat tapi tidak kembali ke tempat dudukku tadi. Balok itu terlalu dekat dengan api unggun….dan terlalu dekat dengan Taeyeon dan Tiffany. Aku memilih balok kayu didekat tepi hutan, yang tak terjangkau cahaya api unggun. Kegelapan di sekelilingku terasa menyejukkan dan sekaligus membantu menenangkan diriku.

Sejak tadi Leeteuk terus berbicara. Aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakannya. Ia berdiri di depan api unggun. Suaranya besar dan lantang. Tapi semua anak mencondongkan badan ke depan untuk mendengar lebih jelas.

Aku memandang berkeliling. Wajah para peserta perkemahan bersinar jingga karena memantulkan cahaya api unggun. Mata mereka tampak berbinar-binar. Dalam hati aku bertanya apakah ada diantara mereka yang sepertiku? Aku tahu aku mengasihani diriku sendiri dan bertanya-tanya, adakah diantara mereka yang baru sekali ini berkemah yang merasakan perasaan yang sama.

Suara Leeteuk terngiang-ngiang di telingaku. Ia mengatakan sesuatu tentang bangunan utama. Lalu ia menyinggung soal jadwal makan. Lalu ia berbicara tentang handuk. Dan kemudian secara mengejutkan ia berkata bahwa ia mencintai seseorang. Kau tahu siapa? Yeoja mungil yang memiliki mata indah dan sekamar denganku. Ya, Taeyeon. Aku baru tahu ternyata marganya adalah Kim. Ia terlihat tersipu-sipu saat Leeteuk menariknya ketengah lapangan dan menyatakan perasaannya. Hmh.. kapan aku bisa seperti itu? beruntung sekali Taeyeon.

Setelah selesai sesi “katakan cinta” itu, Leeteuk memperkenalkan coordinator kegiatan olahraga air. Namanya Kwon Yuri.

Semua orang bertepuk tangan ketika Yuri melangkah maju. Salah satu namja peserta perkemahan malah bersuit-suit.

“wow, boleh juga!” seru yang lainnya. Semuanya tertawa. Yuri pun tersenyum. Ia sadar penampilannya memang heboh. Ia mengenakan celana pendek dan atasan tanpa lengan membentuk tubuhnya yang langsing dan sexy.

kkab-yul1

Aku menoleh kearah Minho. Kulihat ia tampak terpesona dengan Yuri. Ternyata uri dongsaeng sudah besar.

Yuri melambaikan tangan, meminta semuanya tenang. “kalian semua senang disini?” ia berseru. Semua peserta bersorak-sorai dan bertepuk tangan. Beberapa laki-laki kembali bersuit-suit. “nah, besok adalah hari pertama di danau.” Yuri mengumumkan. “tapi sebelum kalian masuk ke danau, ada beberapa peraturan yang harus kalian ketahui.”

“Misalnya, jangan minum air danau!” Leeteuk menimpali. “kecuali kalau kalian benar-benar haus!” beberapa anak tertawa. Aku diam saja. Ish, mana mungkin ada yang mau minum air kotor berlendir itu?

Yuri juga tidak tertawa. Ia menatap Leeteuk sambil mengerutkan kening. “kita harus serius,” ia menegur rekannya.

“aku memang serius!” Leeteuk berkelakar. Yuri tidak menggubrisnya.

“ya! ajussi, lebih seriuslah sedikit. Kau membuatku malu saja!” teriak Taeyeon dari bangku balok kayu.

“mwo?? Ajussi?? Ya, ajumma! Kenapa kau memanggilku ajussi??”

“karena kau seperti ajussi penjual baso ikan dekat  rumahku!” balas Taeyeon. Semua peserta kembali tertawa-tawa. Pasangan yang aneh. Baru saja mereka bermesra-mesraan sekarang mempertengkarkan hal tidak penting seperti itu.

“kalau kalian kembali ke pondok masing-masing nanti, kalian akan menemukan daftar peraturan di tempat tidur,” Yuri melanjutkan sambil menyibakkan rambutnya yang panjang. “ada 20 peraturan pada daftar itu dan kalian harus menghapal semuanya.”

Mwo?? Dua puluh peraturan? Mana mungkin ada dua puluh peraturan? Kenapa banyak sekali?! Liburan musim panas kurang panjang untuk menghapalkan dua puluh peraturan.

Yuri mengangkat selembar kertas. “kita akan membahas semuanya satu persatu sekarang. Silakan tanya kalau kurang jelas.”

“apakah kami sudah boleh berenang sekarang?” seru anak laki-laki yang bermaksud melucu. Sebagian besar anak tertawa. Tapi Yuri diam saja. jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. “itu peraturan nomor delapan,” jawab Yuri. “dilarang berenang pada malam hari, meskipun kalian ditemani Pembina.”

“jangan sekali-kali berenang kalau ada Pembina!” Leeteuk bergurau. “soalnya mereka semua membawa kuman!”

Leeteuk memang kocak, tapi Yuri kelihatan begitu serius. “peraturan paling penting di Seoul Camp Lake adalah sistem pasangan.” Yuri mengumumkan. “setiap kali kalian bermain di danau, kalian harus didampingi pasangan kalian.” Ia menatap para peserta yang duduk disekelilingnya. “walaupun kalian cuma jalan-jalan di air semata kaki, kalian harus didampingi pasangan,” katanya. “kalian bebas berganti pasangan setiap kali. Atau bisa juga kalian memilih satu pasangan untuk sepanjang liburan. Tapi kalian harus selalu punya pasangan.”

“Taeyeon, kau harus selalu berpasangan denganku! Jangan lirik-lirik yang lain!” ucap Leeteuk membuat tawa Taeyeon yang tadinya bercanda dengan Tiffany menurun.

“shireo! Memangnya kau siapa?” balas Taeyeon.

“ya! aku ini namjachingu mu!”

Yuri menarik napas dalam-dalam berusaha tidak memperdulikan ocehan kedua orang itu. “ada pertanyaan?”

“mau kah kau jadi pasanganku?” seru salah satu peserta laki-laki.

Semuanya tertawa. Aku juga. Canda anak itu memang benar-benar pas. Tapi sekali lagi Yuri tidak terpengaruh. “sebagai coordinator olahraga air, aku akan bertindak sebagai pasangan semua peserta kemah,” ia menjawab dengan serius. “sekarang, peraturan nomor dua,” ia melanjutkan. “jangan berenang terlalu jauh dari perahu-perahu pengaman. Peraturan nomor tiga, dilarang berteriak atau berpura-pura mengalami kesulitan di dalam air. Jangan bergurau. Jangan main-main. Peraturan nomor empat…” ia terus berbicara sampai kedua puluh peraturan selesai dibacakannya.

Aku menghela napas. Yuri memperlakukan kami seperti anak-anak lima tahun. Padahal usia kami semua tidak begitu jauh. Banyak sekali peraturan yang harus di hapal.

“aku akan mengulang sekali lagi soal system pasangan..” Yuri berkata.

Aku memandang lewat api unggun dan melihat danau yang gelap. Permukaannya tampak licin dan hitam dan juga tenang. Di danau itu hanya ada riak kecil. Tak ada arus. Tak ada gelombang pasang yang berbahaya.

Jadi kenapa harus ada begitu banyak peraturan? Apa yang harus ditakutkan?

To be continue…onion-emoticons-set-4-8

Jangan lupa RCL!  onion-emoticons-set-2-59

[FF] Trouble Maker – Chapter 26 (Last Part)

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Here we go! the last part of Trouble Maker! 😀
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Last Chapter : Sweet Surprise
Minggu terakhir semester. Ulangan dilakukan setiap hari. Semua bekerja keras untuk meraih nilai-nilai terbaik. Terutama Taeyeon, Yesung, dan Amber. Mereka belajar lebih keras dari anak-anak lain! Taeyeon ingin berada diurutan teratas di kelasnya. Begitu juga Yesung. Sedangkan Amber ingin mendapat angka tertinggi paling tidak disalah satu mata pelajaran, dan bisa berada pada posisi mendekati urutan teratas. “senang sekali jika bisa kukatakan pada eomma bahwa aku mencapai angka tertinggi disalah satu pelajaran.” Pikir Amber. “dulu aku selalu dekat dengan kedudukan juru kunci, dan eomma tidak pernah marah. Akan merupakan kejutan manis baginya kalau ternyata aku meraih angka tertinggi disalah satu mata pelajaran!”
Pergelangan tangan Taeyeon sudah jauh lebih baik. Tapi masih tak boleh menggunakannya untuk main piano, berkuda, berolahraga, atau menggali tanah di kebun.
Di pertunjukan akhir nanti ia akan bernyanyi bersama Kyuhyun, Jessica, dan Donghae dengan membawakan lagu Way Back Into Love. Hanya itu.
Ia tidak main drama, dan tidak duet piano dengan Kangta. Sungmin yang menggantikan tempatnya.
Ia mencoba bersikap ceria. Ia berusaha agar tak ada yang tahu bahwa sebenarnya kadang-kadang ia merasa sangat sedih. Ia telah mencoba bangkit dari kesedihannya dan berusaha keras untuk membantu yang lain, dengan cara apapun. Ia telah mengecat mahkota-mahkota untuk pertunjukan drama. Ia telah membuat lukisan pemandangannya sangat indah.
Ia telah membuat 12 buku acara terbaik yang pernah dibuat disekolah itu. Mrs. Park akan menerima salah satu buku acara itu. begitu juga Mrs. Seo dan Mr. Sooman. Taeyeon sangat bangga karenanya.
Ia telah membacakan buku bagi Kris.
Menemaninya memainkan berbagai permainan tiap hari, sampai Kris boleh meninggalkan Sanatorium. Sementara itu berbagai pekerjaan Ibu Asrama dikerjakannya juga. Ia tidak bisa membantu Changmin dikebun seperti biasanya, tapi ia bisa membantu menulis daftar benih bunga yang akan ditanamnya musim semi nanti. Ia pun dengan penuh perhatian mendengarkan cerita Changmin tantang apa yang sedang dikerjakannya bersama Sehun.
“Taeyeon benar-benar luar biasa,” kata Sunny. “ia bisa jadi anak paling badung di sekolah kita, ia juga bisa jadi anak terbaik!”
Taeyeon ikut menonton pertandingan hockey, atau lacrosse. Ia bersorak-sorai gembira walaupun dalam hati ia merasa sedih karena tak bisa ikut main. Sungguh tidak menyenangkan untuk tidak bisa melakukan apa saja yang disenanginya.
“satu hal yang paling kusukai darimu adalah kemampuanmu untuk menanggung kesedihan dengan hati riang.” Kata Kangta pada Taeyeon.
Rasanya 2 minggu terakhir ini Taeyeon memberikan kesan tersendiri bagi semua murid SM. waktu yang 2 minggu itu membuat nama Taeyeon membumbung tinggi di mata mereka. Apa pun yang dilakukannya di masa lalu, terhapus oleh apa yang apa yang dilakukannya saat itu. semua anak mengaguminya. Semua tahu betapa pemarahnya ia dulu, tak sabaran dan bandel! Mereka tahu pasti, sangat berat untuk mengubah pribadi seperti itu menjadi seorang yang selalu ceria, sabar, dan siap membantu anak lain. Semua bangga pada Taeyeon.
Akhirnya hari terakhir tiba. Pertunjukan akhir semester yang dinanti-nantikan itu pun tiba. Sore yang semarak. Semua orangtua murid yang tak berhalangan, datang untuk menyaksikannya. Kedua orangtua Taeyeon, Mr. Kim dan Mrs. Kim, juga hadir. Mereka tinggal di sebuah hotel di dekat SM, agar keesokan harinya bisa membawa Taeyeon pulang. Taeyeon gembira sekali dengan kehadiran keduanya. Dipeluknya mereka erat-erat. Keduanya merasa sedih bahwa pergelangan tangan yang sakit membuat Taeyeon tak jadi menunjukan kemahirannya bermain piano.
“gwaenchanha, appa, eomma,” kata Taeyeon. “aku tetap akan tampil bernyanyi dengan beberapa temanku.”
Orangtuanya sangat mengagumi buku acara yang khusus dibuat oleh Taeyeon.
“ini kubuat untuk eomma dan appa,” bangga Taeyeon. “bagus, kan? Ketiga pimpinan sekolah juga memiliki buku acara buatanku. Dan, eomma, appa, pada pementasan drama nanti harap kalian perhatikan mahkota-mahkota emasnya. Semuanya aku yang mengecat. Juga pepohonan di panggung.”
Pertunjukan sukses. Dramanya lucu, hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sulli dan Amber sangat bangga karena merekalah yang menulis skenarionya. Kangta memainkan biolanya dengan sangat indah mempesona, kemudian ia berduet dengan Sungmin pada piano, penampilan yang sebenarnya akan dimainkan oleh Taeyeon.
Taeyeon merasa sedih mendengarkan duet tersebut, tapi ia berhasil memaksa diri untuk tersenyum dan bertepuk tangan paling keras saat duet itu berakhir. Dari sudut matanya Taeyeon melihat bahwa Sunny, Sulli, Yesung, Amber, Sooyoung, dan Changmin memperhatikannya.
Ia tahu bahwa sahabat-sahabatnya itu pasti bangga padanya, sebab ia masih mampu tersenyum dan bertepuk tangan, walaupun mereka tahu dalam hati sangat kecewa.
Penampilan terakhir adalah pertunjukan kwartet Taeyeon, Kyuhyun, Jessica, dan Donghae. Mereka naik ke panggung berpasangan. Alunan piano lagu Way Back Into Love yang dimainkan Kangta memulai pertunjukan itu dengan disusul suara merdu Taeyeon dan langsung mendapat applause yang meriah.
[Taeyeon] I’ve been living with a shadow over head, I’ve been sleeping with a cloud above my bed
[Jessica] I’ve been lonely for so long, trap in the past I just can’t seem to move on
[Kyuhyun] I’ve been hiding all my hopes and dreams away, just in case I ever need ‘em again someday
[Donghae] I’ve been setting aside time, to clear a little space in the corners of my mind
[KyuTae] All wanna do is find a way back into love, I can’t make it true without a way back into love
[Taeyeon] I’ve been watching but the stars refuse to shine, I’ve been searching but I just don’t see the signs
[Jessica] I know that it’s out there, there’s gotta be something for my soul somewhere
[Kyuhyun] I’ve been looking for someone to shed some light, not somebody just to get me through the night
[Donghae] I could use some direction and I open to your suggestion
[KyuSica] All I wanna do is find a way back into love
[KyuTaeHae] I can’t make it through without a way back into love
[KyuSica] And if I open my heart again, I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end
[Taeyeon] There are moments when I don’t know if it’s real, or if anybody feels the way I feel
[Jessica] I need inspiration not just another negotiation
[KyuSicaHae] All I wanna do is find a way back into love, I can’t make it through without a way back into love
[KyuTae] And if I open my heart to you, I’m hoping you’ll show me what to do, and if you help me decide again, you know that I’ll be there for you in the end~
Sorak-sorai, riuh-rendah, tepuk tangan di akhir 2 couple itu. Taeyeon tampak senang berhasil menampilkan penampilannya.
“good job, Taeng!” kata Kyuhyun sambil memegang tangan kanan Taeyeon membantunya menuruni tangga panggung.
“nado, gomawo, Kyu!”
Diakhir pertunjukan hasil ulangan umum terakhir diumumkan. Taeyeon mendengarkan dengan dada berdebar keras. Begitu juga Yesung dan Amber. Sulli tidak begitu peduli, asal dekat dengan kedudukan puncak ia sudah akan merasa senang. Amber lebih tegang sebab ia telah berusaha keras. Paling tidak jangan sampai ia masih berada dekat dengan juru kunci.
Akhirnya Mrs. Park sampai pada laporan untuk kelas Taeyeon. “Song seonsaengnim berkata bahwa kelas ini telah membuat kemajuan pesat. Semuanya berusaha keras. Beberapa orang murid memperoleh kemajuan luar biasa. Di tempat pertama, Kim Taeyeon dan…”
Kata-kata Mrs. Park terputus oleh sorak-sorai gemuruh. Semuanya tampak sangat gembira bahwa Taeyeon mencapai kedudukan puncak di kelasnya. Yesung juga bertepuk tangan kuat-kuat. Ia berharap ia bisa mencapai kedudukan nomor 2. Tadinya ia memang mengincar kedudukan pertama, tapi, yah, nomor 2 pun boleh.
Mrs. Park mengangkat tangan minta agar anak-anak diam. “chakkaman,” katanya. “biarkan aku menyelesaikan kalimatku. Di tempat pertama; Kim Taeyeon dan Kim Yesung! Keduanya mencapai nilai yang sama, maka keduanya menduduki tempat pertama!”
Yesung duduk tegak. Wajahnya berseri oleh rasa terkejut dan gembira. Jadi ia dan Taeyeon menduduki tempat teratas bersama-sama! Ini jauh lebih menyenangkan daripada berada sendirian di puncak atas. Taeyeon yang duduk dibelakangnya langsung menepuk punggungnya keras-keras.
“Yesung!” kata Taeyeon dengan wajah bersinar gembira. “jeongmal haengbokhae! Aku lebih suka berada dipuncak teratas bersamamu daripada sendirian! jinjja!”
Yesung mengangguk dan tersenyum. Ia tak bisa berbicara karena begitu gembira. Ia tidak sepandai Taeyeon, jadi keberhasilannya mencapai puncak teratas adalah semata-mata hasil kerja kerasnya! Betapa bangganya ayah dan ibunya, tampak dari tempat dia duduk.
Mrs. Park membaca daftarnya. Sulli keempat. Sunny kelima. Dan kedua anak itu sangat gembira. Amber keenam, jauh dari kedudukan juru kunci. Dan ia memeproleh nilai terbaik di mata pelajaran sejarah! Pipinya memerah saat Mrs. Park membacakan hal itu. ia dekat kedudukan puncak, dan mendapat nilai tertinggi dalam sejarah! Amber berpaling kearah tempat duduk para tamu. Dilihatnya ibunya. Sekali lihat saja Amber merasa ibunya sama bangganya dengan ibu-ibu lain!
“aku tak tahu apa yang dilakukan oleh SM pada uri-Amber,” pikir Mrs. Liu, ibu Amber. “ ia tampak berbeda. Tadinya ia begitu biasa wajahnya. Kini tampak cantik bila tersenyum. Dan betapa bahagia dan riangnya ia berkumpul dengan teman-temannya!”
Suatu sore yang indah. Dan malam harinya Rapat Besar terakhir diadakan. Siwon baru mengumumkan bahwa aka nada suatu kejutan nanti setelah segala kegiatan selesai dilaksanakan.
Kotak uang dikosongkan, isinya dituang dimeja dan dibagi rata untuk semua murid. Ini selalu dilakukan setiap akhir semester. Anak-anak gembira menerimanya, sebab ini berarti mereka akan memulai masa liburan mereka dengan sejumlah uang di saku.
Kemudian Siwon berkata, “dengan sangat menyesal aku mengumumkan bahwa kita akan kehilangan Key dalam semester mendatang. Ayah-ibu Key akan pergi ke luar negeri dan ia akan ikut mereka. Maka kita tidak akan bertemu dengannya lagi sampai ia kembali. Dan itu mungkin memakan waktu 6 bulan.”
Keadaan hening. Semua mendengarkan dengan penuh perhatian. “disini aku merasa terpanggil untuk berkata, bahwa kami sangat berterima kasih pada Key. Ia telah melakukan tugasnya sebagai Pengawas dengan sangat baik dan bijaksana selama beberapa semester. Ia telah melakukan banyak sekali tindakan yang menggambarkan kebaikan hatinya, tindakan yang sering tidak pernah kita ketahui dan hanya dinikmati oleh mereka yang dibantunya. Kami akan sangat kehilangan dia, dan kami akan sangat gembira bila ia nanti kembali ke tengah-tengah kita.”
“gomaseumnida,” sambut Key dengan muka merah. Ia seorang anak yang pendiam dan pemalu, tapi sangat disukai oleh semua anak. Seluruh sekolah memang merasa kehilangan atas kepergiannya.
“karena Key tidak akan berada diantara kita semester mendatang, maka kita harus memilih seorang Pengawas baru untuk menggantikannya,” kata Boa. “kalau kalian kehendaki, tentu saja Kris bisa kembali menjadi Pengawas, menggantikan Key. Tapi kalian boleh juga memilih orang lain, yang kalian anggap patut menjadi Pengawas. Sooyoung, bagikan kertas suara!”
Sooyoung berdiri, membagikan secarik kecil kertas kepada setiap murid yang ada disitu. anak-anak itu agak lama termenung, berpikir. Agak sulit juga tiba-tiba harus memilih, tanpa lebih dahulu mereka membicarakannya. Taeyeon menggigit-gigit pensilnya. Ia harus menulis nama siapa?
Akhirnya ia memutuskan untuk memilih nama Shim Changmin. Walaupun dalam hati ia merasa bahwa Changmin bukanlah pilihan yang tepat untuk dijadikan Pengawas dengan hanya satu hal yang sangat diketahui Changmin, yaitu berkebun. Tapi tidak apa kalau ia diberi kesempatan. Maka akhirnya Taeyeon menulis di kertasnya : Shim Changmin.
Segera juga yang lain selesai menulis. Kertas-kertas dikumpulkan oleh Dewan Juri, dibuka dan dihitung. Setelah diketahui nama tiga calon dengan suara terbanyak, para Juri menuliskan pilihan mereka, dan menyerahkannya pada kedua Hakim.
Siwon dan Boa membaca kertas-kertas pilihan para Juri, membicarakannya dengan perlahan. Kemudian, Siwon mengetuk meja.
“tiga nama telah memperoleh suara terbanyak,” kata Siwon. “Shim Changmin, Kim Yesung, yang terutama dipilih oleh anak-anak kecil dank au mesti bangga untuk itu, Yesung, dan………Kim Taeyeon!”
Terlompat Taeyeon dari tempat duduknya. Tak pernah terpikir olehnya bahwa ada yang memilih namanya. Tak pernah terpikir olehnya ada anak yang menganggap ia cukup bijaksana untuk menjadi Pengawas! Suatu kejutan besar!
“dalam semester ini, kita telah mendengar banyak tentang Kim Taeyeon,” kata Siwon. “ada yang baik, ada yang buruk. Tapi baik Boa maupun aku telah memperhatikan betapa baiknya Taeyeon menanggung beban kekecewaan akhir-akhir ini. ia melupakan kekecewaannya, melupakan kepentingan dirinya dan giat membantu anak lain, membantu kelasnya. Maka tidak heran kalau banyak yang memilihnya.”
“kami tahu bahwa kekecewaannya itu datang padanya karena ulahnya sendiri,” Boa melanjutkan kata-kata Siwon. “tapi kita tidak boleh lupa bahwa ia sampai mengorbankan pergelangan tangannya karena mencoba menghentikan kuda Sehun. Itu suatu tindakan yang sangat berani. Taeyeon, kau memang campuran berbagai sifat. Kau bisa berbuat konyol, tapi kau juga bisa berlaku bijaksana. Kau bisa tidak sabaran, tapi kau juga bisa bersabar. Kau bisa bertindak keji, tapi kau juga bisa baik hati. Diatas semua itu kita tahu bahwa kau selalu berusaha untuk berlaku adil, bijaksana, dan setia.”
Boa berhenti sejenak. Taeyeon menunggu, dadanya berdebar keras. Apakah Boa akan mengatakan bahwa ia harus mencoba lagi, berusaha lagi, dan baru semester yang akan datang bisa jadi Pengawas kalau ia berusaha lebih baik?
Tidak. Boa ternyata tidak mengatakan begitu. Ia tersenyum pada Taeyeon dan berkata lagi, “Taeyeon, baik aku maupun Siwon telah sangat mengenalmu sekarang. Dan kami yakin kalau kami mengangkatmu menjadi Pengawas, kau tidak akan mengecewakan kami. Kau akan memperlakukan anak lain lebih daripada kau memperlakukan dirimu sendiri. karena itu kami merasa cukup aman untuk memanggilmu maju, dan duduk di meja para Pengawas, serta minta padamu untuk berusaha menjadi yang terbaik dalam semester yang akan datang.”
Dengan pipi serasa terbakar dan mata bersinar-sinar Taeyeon maju ke meja juri. Belum pernah ia begitu bangga dan bahagia. Ia tak peduli tak bisa berduet dengan Kangta di pertunjukan sekolah. ia tak peduli tak bisa main di berbagai pertandingan dan permainan olahraga. Nasib sialnya ternyata telah berubah menjadi nasib luar biasa baiknya. Ia telah diangkat menjadi Pengawas!
Ia mengambil tempat disamping Sunny yang langsung menjabat tangannya dan berbisik, “Taeyeon-ah, aku senang sekali!”
Dan disinilah kita meninggalkan Taeyeon. Duduk di meja Pengawas, melamunkan berbagai rencana hebat yang akan dilaksanakannya semester berikutnya. Ia jadi Pengawas! Jinjja? Si Trouble Maker itu sekarang jadi Pengawas?
“walaupun aku jadi Pengawas, mungkin sekali aku masih akan melakukan beberapa tindakan konyol.” Pikir Taeyeon. “Tapi tidak apa. Aku telah mendapat kesempatan ini. dan akan kutunjukkan pada semua orang bahwa aku mampu berbuat sesuatu dalam semester nanti!”
Kita harap Taeyeon akan mampu membuktikan kemampuannya!

-THE END-

[FF] Trouble Maker – Chapter 25

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 25 : Taeyeon is Annoying
Taeyeon mengetuk pintu Sanatorium. Ibu Asrama sedang berada didalam, merawat 2 orang anak yang sedang sakit. Ibu Asrama keluar mendengar ketukan Taeyeon.
“ada apa?” tanya Ibu Asrama. “kau tidak boleh masuk.”
“arasseo,” kata Taeyeon. “tanganku terkilir. Mugnkin anda bisa mengobatinya.”
Ibu Asrama memeriksa pergelangan yang bengkak itu. “wah, pasti sakit sekali rasanya. Bagaimana kejadiannya?”
Taeyeon menceritakan apa yang terjadi. Ibu Asrama merendam kain perban dalam air dingin dan membebatkannya erat-erat dipergelangan yang sakit itu.
“apakah bisa cepat sembuh?” tanya Taeyeon. “untung bukan tangan kananku.”
“kukira agak lama. Jangan digerak-gerakkan, ya. begini, akan kubuatkan penggantung tangan dari saputangan ini, dan ku belitkan ke lehermu. Nah, kurasa ini cukup membantu.”
Sudah lewat waktu minum teh. Ibu Asrama mengajak Taeyoen ke kamarnya, dan ia diberi beberapa potong roti bakar. Taeyeon sangat lelah dan pucat. Rasanya ia tak ingin makan apapun, tapi tergiur juga oleh roti bakar selai strawberry itu. tak lama ia telah memakannya sambil minum coklat hangat yang juga dihidangkan oleh Ibu Asrama.
Kemudian ia kembali ke kamarnya, teman-temannya telah menunggunya didepan asrama. Sunny segera berlari menjemputnya, bertanya khawatir, “Taeng? Apa kau luka? Parah?”
“ani. Hanya sakit sekali rsanya,” kata Taeyeon. “tapi lumayan juga karena Ibu Asrama telah membebatnya. Seperti biasa ini memang salahku sendiri. aku tak sabar menunggu Yesung. Lalu kupasang pelana pada Genie untuk Sehun. Dan ternyata Genie melarikan diri!”
“kasihan sekali kau.” Kata Sulli.
Yesung tak berkata apa-apa. Wajahnya tampak masih marah.
Tak lama kemudian Suhun muncul. “nunna, bagaimana pergelangan tanganmu? Aku sangat menyesal. Kurasa kau tidak akan bisa main piano.”
Taeyeon belum pernah memikirkan hal itu. ia ternganga terkejut oleh kata-kata Sehun.
“ommo! Benar juga! Aku lupa itu. oh, padahal aku ingin sekali berlatih lebih keras lagi minggu ini. dan sekarang aku hanya punya satu tangan!”
Semua anak merasa kasihan padanya. Yesung mengangkat kepalanya dan berkata, “sayang sekali, taeng. Kuharap tanganmu sudah sembuh nanti pada saat pertunjukan akhir semester.”
Taeyeon gusar sekali. Tak terasa airmatanya mulai menetes lagi, dan cepat-cepat ia menghapusnya. Ia tidak ingin teman-temannya tahu ia menangis. Ia pergi ke salah satu ruang latihan music. Sendiri ia duduk dikursi piano, menopang kepalanya ke standar buku music. Ia sangat marah pada dirinya sendiri, berbuat sebuah kebodohan yang seperti biasa membuahkan kesulitan bagi dirinya sendiri.
Kangta masuk menggumamkan sebuah lagu. Ia tak melihat Taeyeon, sampai kemudian ia menyalakan lampu. Ia heran melihat Taeyeon sendirian di ruangan gelap itu.
“ada apa?” tanya Kangta. “kenapa kau menangis?”
“sebab yang kau katakan terjadi,” kata Taeyeon dengan sedih. “kau mengatakan bahwa aku jadi sombong akan permainan pianoku. Dan kau berkata pula yang angkuh akan jatuh. Kau benar. Aku telah melakukan sesuatu yang bodoh. Dan pergelangan tanganku sekarang sakit. Aku tidak akan bisa main piano bersamamu. Aku tidak akan bisa memainkan duit denganmu di akhir semester nanti.”
“oh, sayang sekali.” Kata Kangta kecewa. “jadi aku akan terpaksa bermain dengan Sungmin. Padahal ia jauh sekali darimu, Taeyeon, dalam hal kepandaian bermain piano.”
“harusnya kau tidak berkata’yang angkuh akan jatuh’,” tangis Taeyeon. “aku merasa seolah-olah kaulah yang membuat semua ini terjadi.”
“babo! Benar-benar kekanak-kanakan pikiranmu, ateng. Bagaimanapun, bergembiralah. Mungkin keadaan ini tidak akan seburuk yang kau duga. Hmm..kau masih bisa tampil dengan Kyuhyun, Jessica dan Donghae. Kupikir kemampuan menyanyimu jauh diatas permainan pianomu. Sudahlah, sekarang akan kumainkan sebuah lagu untukmu. Turunlah dari kursimu.”
Taeyeon turun dari kursi piano, dan duduk dikursi disudut ruangan. Marah dan lelah. Ia tak senang pada Sehun dan kudanya yang melarikan diri. Ia tak senang pada Kangta. Ia tak senang pada Yesung. Ia tak senang pada dirinya sendiri. ia marah. Kesal. Lelah. Tak ingin merasa senang pada siapapun dan apa pun. Tapi music Kangta membuat segalanya berbeda. Sedikit demi sedikit kerut di kening yeoja itu menghilang. Ia menyandarkan diri, merasakan nada-nada lembut piano mengisi kesunyian ruangan itu. Kangta tahu benar bahwa music akan bisa menyejukkan hati Taeyeon.
Sebelum lagu Kangta habis, Taeyeon menyelinap keluar, kembali asrama. Mungkin pergelangan tangannya akan membaik besok. Mungkin ia terlalu khawatir untu ksuatu persoalan kecil.
“Taeyeon, ayo bantu aku menyelesaikan puzzle ini,” ajak Amber, “entah yang mana yang bisa masuk tempat ini.”
Semua bersikap baik pdanya. Taeyeon bersyukur tapi ia lebih gembira lagi waktu lonceng tidur berbunyi, sebab kakinya terasa kaku, dan pergelangan tangannya sakit. Ibu Asrama memeriksanya sekali lagi, mengganti bebatnya dan menaruhnya digantungan tangan.
“lebih baik kau memakai gantungan tangan itu dulu,” kta Ibu Asrama, “agar tak banyak bergerak dan tak terlalu terasa sakit.”
Taeyeon berharap mudah-mudahan sakitnya sembuh saat ia bangun besok. Tapi ternyata tidak, tangannya masih bengkak dan memar, walaupun tak begitu terasa sakit. Ia tidak akan mungkin main piano. Tapi setidaknya ia memutuskan akan bernyanyi berempat bersama Jessica, Kyuhyun, dan Donghae.
Kemudian Taeyeon baru sadar betapa sulitnya mengerjakan hal-hal sepele dengan satu tangan. Ia tak bisa mengikatkan pita rambutnya. Ia tak bisa mengikatkan tali sepatunya. Ia tak bisa mandi dengan baik. Bahka ia tak bisa mengancingkan bajunya sendiri.
Teman-temannya semua membantu apa yang bisa mereka lakukan. Tapi Taeyeon begitu kesal hingga sulit untuk dibantu. Ia tak mau berdiri tenang. Ia menggeleng-gelengkan kepala waktu Sunny mencoba merapikan rambutnya. Ia menghentakkan kaki waktu Amber mencoba mengancingkan bajunya, sehingga kancing-kancing itu banyak yang salah lubang karena Taeyeon tidak bisa diam.
“aigoo!” seru Sunny. “kau kembali jadi yeoja badung lagi! Kau benar-benar menyebalkan bagi semua orang!”
“kau juga pasti begitu kalau mengalami kejadian seperti ini,” kata Taeyeon mara, “kalau saja yang sakit tangan kananku, makan aku pasti boleh tidak mengikuti semua ulangan akhir semester. Tapi karena tangan kiriku yang sakit, maka aku harus tetap mengikuti semua ulangan, sementara aku terpaksa tak bisa mengikuti semua kegiatan yang paling kusukai. Olahraga, naik kuda, berkebuh, music,…oh, betul-betul sial aku ini!”
Beberapa hari kemudian Ibu Asrama berkata bahwa Taeyeon sudah boleh menggunakan tangannya lagi. Tapi malang bagi Taeyeon, tangan kirinya itu kini serasa tak punya kekuatan, hingga ia tak berani sering-sering menggunakannya. Dokter juga berkata ia tak boleh memaksa tangan kiri itu, segalanya harus dilakukan secara bertahap. Ia harus bersabar.
Itulah salah satu yang paling tak bisa dilakukan Taeyon. Bersabar! Ia sedang gusar, dan itu tak menyembunyikannya. Ia cepat tersinggung. Semua anak segera tahu hal itu. ia marah pada Kangta karena sekarang Kangta berlatih duet dengan Sungmin.
Dan ternyata ia juga tak bisa ikut bermain drama, sebab ia berperan sebagai prajurit yang harus melakukan beberapa gerakan dengan senjata yang tak bisa dilakukannya dengan pergelangan tangannya yang lemah itu. habis kesabaran Taeyeon.
Teman-temannya sanat khawatir akan perkembangannya. Juga sangat kecewa. Mereka terus membicarakannya.
“maikn lama ia makin menyebalkan,” kata Sulli. “makin pemarah. Tak seorang pun bisa melakukan sesuatu untuknya. Ada-ada saja alasan baginya untuk marah. Ia tak bisa tidak menaruh kasihan pada dirinya sendiri yang telah kehilangan begitu banyak kegiatan yang digemarinya. Sayang sekali ia tidak bisa ikut berolahraga, padahal ia sangat menyukai semua cabang olahraga.”
“ayo kita pikirkan sesuatu yang bisa dilakukannya,” kata Sunny. “misalnya saja berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Atau mungkin ia bisa menghibur Kris yang masih harus berbaring di Sanatorium, membacakan buku untuknya misalnya. Banyak sekali yang bisa dikerjakan. Taeyeon juga pandai merancang dan melukis, mungkin ia bisa membantu dengan membuat beberapa buku acara untu kpertunjukan drama kita. Ia masih bisa menulis dan melukis dengan tangan kanan. Kita juga memerlukan mahkota-mahkota emas, Yesung berjanji akan membuatnya, dan Taeyeon mungkin bisa membantunya mengecatnya dengan cat emas.”
Semua setuju bahwa jika Taeyeon diberi tugas-tugas, mungkin sekali ia akan melupakan kemarahannya. Maka satu persatu mereka mendatangi Taeyeon untuk minta dibantu ini-itu.
Taeyeon anak cerdas. Ia segera mencium maksud teman-temannya itu. mula-mula ia cenderung untuk langsung menolak permintaan mereka. Untuk apa ia melakukan sesuatu untuk kesenangan orang lain, padahal dirinya sendiri tak bisa merasa senang? Sunny melihat air muka masam Taeyeon, lalu segera menuntunnya keluar.
“kajja, ikut jalan-jalan,” kata Sunny. “dan kita bisa mengobrol. Aku sekarang seorang Pengawas dan aku punya hak untuk menasihatimu dan menolongmu.”
Mereka berjalan-jalan di taman. “aku tahu apa yang akan kau katakan,” kata Taeyeon. “kau akan berkata bahwa tindahku buruk sekali. Aku tidak akan bisa jadi Pengawas sepertimu, aku tidak akan bisa melupakan kepentingan diriku sendiri, aku tidak akan bisa turun tangan jika ada sesuatu yang kuanggap tidak beres.”
“Taeyeon, kau benar-benar bodoh.” Kata Sunny dengan sabar. “kau tidak tahu apa yang bisa kau lakukan sebelum kau mencobanya. Semester ini tinggal 2 minggu lagi. Jangan membuat waktu yang singkat itu tak menyenangkan bagimu. Kami semua menyukaimu, mengagumimu. Jangan sampai hal kecil seperti sakit pergelangan tanganmu itu membuat perasaan kami padamu berubah, membuat kami tak senang padamu, tak kagum padamu. Kau sebenarnya memang sangat mengesalkan. Kau membuat segalanya sulit bagi sahabat-sahabatmu.”
Taeyeon menendang sebuah batu dijalan. Mengapa ia membuat teman-temannya kesal, pikirnya, padahal sakit tangannya itu karena kesalahannya sendiri. ia benar-benar tak bisa berpikir dewasa! Akhirnta Taeyeon memegang tangan Sunny.
“baiklah, Pengawas! Akan ku bantu kau sejauh aku mampu. Aku akan membuat buku acara, kau akan berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Aku akan membacakan buku untuk Kris. Aku akan mengecat mahkota emas itu. kalau tinggal 2 minggu saja aku tak bisa bersikap baik, sungguh keterlaluan, bukan?”
“sebenarnya karena kami tahu bahwa kau mempunyai pribadi yang kuat, maka kami tak rela tiba-tiba kau berkepribadian lemah. Baiklah, lakukan apa saja yang kau rasa baik.”
“sekali Taeyeon membaut keputusan, maka keputusan itu pasti dilakukannya. Seperti juga ia bisa tak sabaran, maka ia pun bisa bersabar hati. Seperti juga ia bisa jadi pemurung, ia pun bisa bersikap ceria. Dan perubahan ini berlangsung seketika!
Ia langsung membuat rencana buku acara. Ia bisa memegang kertas dengan tangan kiri, hingga dengan mudah ia bisa menggambar dengan tangan kanan. Tak lama ia sudah menyelesaikan 6 buah buku acara. Indah dan menarik, dan dikagumi teman-teman sekelasnya. Taeyeon sangat gembira.
“sekarang aku akan menjadi anak baik dan aku akan berlatih vocal bersama Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Yah, setidaknya aku bisa tampil di pertunjukan akhir semester meskipun tidak bermain piano. Dan kemudian mengunjungi Kris. Membacakan sebuah buku untuknya,” katanya sambil tersenyum riang pada siapa saja. begitu ia keluar ruangan, semua tertawa.
“ia memang bukan main badungnya, tapi kita menyukainya,” kata Sulli. Dan semua anak setuju pada pendapat itu.
to be continue..

readers, 1 chapter lagi tamat nih, hohoho

[FF] Trouble Maker – Chapter 24

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 24 : The Scary Experience
Bulan Desember tiba. Sekolah SM sibuk mempersiapkan berbagai pertunjukan untuk akhir semester nanti. Cuaca sering buruk, sehingga banyak kegiatan di luar gedung terpaksa dibatalkan.
“bahkan untuk berkebun juga tidak baik,” gerutu Changmin, kemudian melihat keluar jendela. “tanah begitu lembek sehingga tidak bisa digali.”
“bisa sih bisa tapi kau akan basah kuyup,” kata Sunny. “seharusnya kau cari kesibukan lain. Tapi mestinya kau akan sibuk menekuni buku-buku berkebunmu.”
Sunny bangga sekali menjadi Pengawas. Dilakukannya semua tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh kebanggaan. Diperhatikannya betul-betul bahwa anak-anak dibawah pengawasannya tidak ada yang melanggar peraturan. Dan kalau mereka datang padanya minta bantuan atau pertolongan, maka ia berusaha keras untuk bisa membantu, paling tidak dengan nasihat. Ia juga harus bertindak selalu bijak dan sabra, dan ini tak begitu sulit baginya, karena pada dasarnya ia memang anak yang bijak dan baik hati.
Taeyeon merasa sangat gembira Sunny menjadi Pengawas. Ia sama sekali tidak merasa iri, walaupun ia punya keinginan juga menjadi Pengawas. Lagi pula Sunny telah berada lebih lama darinya. Ia harus mampu menunggu gilirannya dengan sabar, walaupun sabar bukan salah satu sifat Taeyeon.
Taeyeon dengan tekun berlatih music, dan melatih duetnya dengan Kangta berkali-kali. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa bermain sangat bagus dibidang music. Mr. Shin sering memujinya.
“Taeyeon, kau berlatih terlalu rajin. Permainanmu sangat luar biasa baiknya semester ini.”
Taeyeon merasa bangga. Asha! Akan ditunjukkannya pada semua orang betapa pandainya dia bermain music. Kalau orangtuanya hadir, pasti mereka heran dan bangga melihat dia bermain duet begitu sulit dengan orang sehebat Kangta.
“kau tampaknya jadi terlalu sombong akan permainanmu, Taeyeon,” kata Kangta. Kangta kalau bicara memang selalu ceplas-ceplos, tidak pernah dipikir sebelumnya, kadang-kadang memang menyakitkan hati. “sayang sekali. Aku menyukai permainanmu. Tapi aku tidak suka kalau kau jadi sombong karenanya.”
“jangan bicara begitu, oppa,” kata Taeyeon, meluap amarahnya tapi ditahannya. “bukankah aku tidak berkata padamu bahwa kau juga sombong?”
“aniya. Sebab aku memang tidak sombong. Aku tahu benar aku punya bakat music. Aku tahu benar itu anugrah Tuhan, sesuatu yang membuatku bersyukur. Dan aku akan selalu menggunakan bakatku itu sebaik mungkin. Tapi aku tidak akan pernah menyombongkannya.
Taeyeon merasa tersinggung. Terutama karena ia tahu bahwa kata-kata Kangta ada benarnya. Ia memang sedikit besar kepala karena terlalu sering dipuji!
“tapi kenapa aku tidak boleh membanggakan kepandaianku,” pikir Taeyeon. “aku tidak memiliki bakat hebat seperti Kangta. Kepandaianku karena hasil jerih payahku, sudah selayaknya aku patut berbangga, bukan?”
Karena itu Taeyeon tetap saja merencanakan untuk memamerkan kepandaiannya pada pertunjukan akhir semester. Ia akan membuat semua orang kagum akan kepandaiannya memainkan piano. Tapi memang, siapa sombong akan terdorong, siapa angkuh akan jatuh, dan siapa takabur akan hancur. Taeyeon juga akan tahu itu, dengan cara yang cukup mengerikan.
Taeyeon, Yesung, Changmin, dan Amber telah merencanakan untuk pergi berkuda disuatu sore, sebelum waktu latihan olahraga. Sehun mendadak muncul dan minta pada Yesung agar ia juga diperbolehkan ikut.
“tidak bisa, Sehun-ah,” kata Yesung. “kuda yang biasa kau tunggangi pincang, dank au belum begitu bisa menguasai yang lain. Tunggu saja sampai kudamu sembuh.”
“oh, ayolah, biarkan aku naik kuda yang lain,” pinta Sehun. “kau kan tahu, aku sudah cukup bisa berkuda.”
“biarlah dia ikut, Yesung,” kata Taeyeon. “ia bisa naik Genie.”
“Tapi Genie hari ini agak aneh,” kata Yesung. “baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau keadaan Genie membaik jam 2 nanti, kau boleh ikut.”
Sudah jam 2. Ternyata Yesung belum berada di kandang. Yang lain sudah berkumpul. Taeyeon memasang pelana pada kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Dan Yesung belum juga muncul.
“aigoo..” keluh Taeyeon. “ini sudah jam 2 lebih 10 menit. Yesung kemana sih? Kita membuang-buang waktu saja.”
Sehun cepat berlari untuk mencari Yesung. Tapi beberapa menit kemudian ia telah kembali dan berkata bahwa ia tak bisa menemukan Yesung.
“geurae, kalau kita ingin berkuda, sebaiknya cepat berangkat,” kata Taeyeon. “bisa habis waktu kita nanti.” Ia memanggil pengurus kuda.
“Hey, Tao! Bolehkah aku memasang pelana Genie? Apa Genie sudah baik?”
“dia tampaknya agak gelisah,” sahut Tao. “lihat saja sendiri.”
Taeyeon pergi ke kandang Genie. Kuda kecil itu segera menciumi tangannya. Taeyeon menggaruk-garuk hidung Genie dan berpikir, “sepertinya kuda ini baik-baik saja.” dan ia berkata pada Sehun, “kurasa kuda ini sudah baik, Sehun-ah. Baiklah kupasangkan pelanamu. Aku yakin Yesung akan berkata bahwa kau boleh menungganginya.”
Cepat-cepat Taeyeon memasang pelana pada Genie, dan Sehun langsung melompat kepunggung kuda itu. keempat anak itu tak lama kemudian sudah berkuda di padang rumput.
“kita tak punya banyak waktu!” seru Taeyeon. “tinggal 20 menit! Setelah sampai di bukit, kembali lagi saja!”
Mereka berderap di jalan yang menuju ke bukit. Dan terjadi sesuatu!
Ketika mereka menikung, dari arah depan ternyata sebuah mesin penggilas muncul, menderu-deru dan menderam-deram. Genie melonjak ketakutan. Sehun mencengkram kendalinya.
Cepat-cepat Taeyeon memajukan kudanya, mencoba menyambar kendali Genie. Tapi Genie mengibaskan kepala, meringkik keras dan melesat memasuki sebuah gerbang yang terbuka kearah sebuah padang.
Dan Genie melarikan diri! Ketiga anak yang tertinggal itu sesaat ternganga ketakutan, kasihan sekali Sehun! Dibawa lari Genie, berpegangan erat-erat ketakutan, sementara kudanya bagaikan gila berlari menyebrangi padang berbatu menuju bukit.
“akan kukejar dia!” teriak Taeyeon. Dibelokkannya kudanya, berpacu cepat memasuki padang. Ia berteriak pada kudanya, ia menepuk punggung kuda itu. dan sang kuda mengerti ia harus mengejar Genie yang lari tak terkendali itu.
Menyebrangi padang berbatu itu Taeyeon terus mengejarnya, sementara Changmin dan Amber terpaku ketakutan. Dikejauhan Genie juga terus berpacu, membawa Sehun dipunggungnya.
Kuda Taeyeon jauh lebih besar dan lebig cepat daripada Genie. Dan ia pun sangat senang berlari cepat. Kakinya mengepak keras membuat kerikil beterbangan. Dan Taeyeon terus saja membujuk agar ia berlari lebih cepat lagi! Untunglah ia cukip pandai berkuda dan ia sangat mempercayai kudanya. Mereka berpacu terus, dan makin lama makin dekat dengan Genie.
Saat itu Genie sudah mulai terengah-engah, sebab mulai menanjak lereng bukit yang terjal. Kini ia mulai menderap lambat, sementara Sehun berusaha keras menghentikannya. Tapi Genie masih ketakutan.
Taeyeon terus berpacu dan akhirnya menyusul Genie. Tapi Genie jadi ketakutan lagi melihat kedatangannya. Ia menjulurkan leher dan mulai berlari cepat lagi.
Untung Taeyeon berhasil menyambar cepat kendalinya. Dan saat Genie merasakan tangan kecil tapi kuat menahan kendalinya, ia mulai tenang. Taeyeon membujuknya terus. Taeyeon tahu cara berbicara dengan kuda, Genie hanya sekali mencoba membebaskan diri, kemudian dengan patuh ia memperlambat langkahnya, gemetar sekujur badannya.
Sehun juga gemetar. Ia segera turun. Taeyeon melompat turun dari kuda dan cepat memegang kepala Genie. Dalam beberapa menit saja ia telah membuat tenang kuda itu. tapi ia belum berani menungganginya.
“Sehun-ah, naiklah kudaku dan pergilah ke anak-anak yang lain,” kata Taeyeon. “aku akan menuntuk Genie pulang. Katakana pada Choi seonsaengnim aku tidak bisa datang tepat pada waktunya untuk latihan. Cepat berangkatlah!”
Sehun anik kuda Taeyeon segera pergi menemui yang lain. Rasa takutnya segera hilang dan ia mulai membual pada Changmin dan Amber tentang pengalamannya di atas kuda yang melarikan diri tadi. Ketiga anak itu langsung pulang, menyampaikan pesan Taeyeon, sementara Taeyeon harus berjalan menuntun Genie, menempuh jarak yang lumayan jauhnya!
Tak lama Taeyeon sudah merasa letih dan kesal. Kejadian tadi mengakibatkan suatu kecelakaan yang mengerikan. Mungkin saja Sehun jatuh dan terluka parah. Kenapa ia memperbolehkan Sehun menaiki Genie sebelum dapat persetujuan dari Yesung? Tapi Yesung juga salah, mengapa ia tidak datang tepat waktu?
Tangan kirinya terasa sakit. Tadi ia menggunakan tangan itu untuk menyambar tali kendali Genie. Dan sepertinya karena tarikan Genie maka terjadi salah urat pada tangan kirinya itu. Dimasukannya tangan itu kedalam mantelnya, berharap semoga kehangatan bisa membuatnya lebih baik. Sungguh sengsara ia berjalan menyebrangi padang dan menyusuri jalan sambil menuntun kuda yang mendengus-dengus dan terengah-engah karena kelelahan.
Pengurus kuda tampak gusar waktu ia datang. Yesung juga lari keluar dan langsung memarahinya.
“Kim Taeyeon! Sudah kudengar semuanya!” kata Yesung. “bodoh sekali kau memperbolehkan Sehun naik Genie. Aku terpaksa terlambat datang karena harus mengerjakan sesuatu untuk Sooman sajangnim. Harusnya kau menunggu sampai aku datang! Kalau saja kau menungguku, peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi, sebab pasti aku tidak akan mengijinkan Genie ditunggangi. Kau ini selalu saja tak pernah berpikir kalau bertindak!”
Taeyeon begitu letih, tangannya begitu sakit. Tak terasa air matanya mengalir.
“bagus sekali, kau jadi bayi sekarang, hah?” Yesung berkata mengejek. “kau kira kalau kau menangis aku akan kasihan? Lalu aku tidak akan memarahimu? Dasar yeoja! Untung saja Sehun dan Genie tidak apa-apa.”
“Yesung! Jangan terlalu keras memarahiku!” Taeyeon tersedu-sedu. “tanganku sakit sekali, dan aku memang sangat meyesal telah memperbolehkan Sehun menaiki Genie.”
“oh, ya Tuhan!” seru Tao yang semula diam saja melihat pertengkaran keduanya. “tanganmu bengkak, Taeng!”
“coba kulihat tanganmu,” kata Yesung agak lebih lembut. Dan kemudian tampak cemas dan khawatir. “cepat pergi ke Ibu Asrama. Sepertinya cukup gawat tanganmu ini. jangan terlalu bersedih, nasi sudah jadi bubur. Lain kali berpikirlah 2 kali sebelum mengambil keputusan. Sudah,uljima!” Kata Yesung sambil menghapus air mata Taeyeon kedua jari jempolnya penuh perhatian.
“bukan karena itu aku menangis,” kata Taeyeon kesal. “aku menangisi kuda yang begitu binal itu, dan tanganku yang sangat sakit!”
Taeyeon bergegas ke tempat Ibu Asrama. Kasihan sekali. Selalu ada saja yang terjadi pada Taeyeon.
“Taeyeon!” panggil Yesung dari kejauhan membuat Taeyeon menoleh ke belakang. “berhentilah membuatku khawatir!”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 23

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 23 : Surprise For Sunny
2 bulan dari semester Natal telah lewat. Rapat Besar telah diadakan 7 kali. Dan yang kedelapan akan diadakan Jumat ini. dalam rapat nanti itu akan dipilih seorang Pengawas baru, sebab salah seorang Pengawas lama, Kris, terpaksa harus tinggal di Sanatorium selama 1-2 minggu karena flu.
“bagaimana cara memilih Pengawas baru?” tanya Yesung. “belum ada Pengawas baru yang dipilih sejak aku ada disini. Semula kukira masa jabatan Pengawas satu bulan. Tapi sudah 2 bulan kita memiliki Pengawas yang sama.”
“ne, sebab Pengawas yang ada cukup bagus sehingga kita tidak menginginkan mereka diganti,” kata Sunny. “kalau kita menghendaki, setiap bulan kita bisa memilih Pengawas baru. Tapi tak ada gunanya memilih Pengawas baru kalau kita puas dengan Pengawas yang lama. Kukira saat ini semua Pengawas kita sangat bagus.”
“benar,” kata Taeyeon. ‘tadinya kukira jadi Pengawas sungguh tidak enak, harus menaati semua peraturan dan menjaga agar anak lain juga menaati peraturan itu. tapi sekarang berubah pendapat. Kurasa pasti menyenangkan kalau kita dipercaya oleh begitu banyak anak, dan menjadi tempat meminta tolong dan nasihat.”
“memang orang yang akan menjadi cukup berarti di dunia ini adalah mereka yang bisa dipercaya orang lain dan bisa dimintai pertolongan,” kata Sulli. “dan kita mendapat pelajaran untuk itu di SM ini. suatu hari nanti aku ingin sekali menjadi seorang Pengawas. Tapi seperti kau, taeng, rasanya keinginan tersebut tidak akan mungkin terkabul.”
“tapi belum ada yang menjawab pertanyaanku,” kata Yesung .
“apa pertanyaanmu tadi?” tanya Taeyeon.
“aku bertanya bagaimana Pengawas dipilih. Mereka dipilih oleh kita, oleh Juri, oleh hakim, atau oleh siapa?”
“mula-mula seluruh sekolah yang memilih,” kata Changmin. “tiap anak menulis di atas kertas nama anak yang mereka anggap baik untuk menjadi Pengawas, lalu ditutup rapat, dan diserahkan pada Juri.”
“lalu bagaimana?” tanya Yesung.
“lalu DewanJuri memilih 3 nama yang emndapat suara terbanyak,” kata Changmin. “kemudian setiap anggota Dewan Juri itu memilih satu nama yang terbaik menurut mereka masing-masing. Hasil pemilihan mereka diserahkan pada Hakim, Siwon dan Boa.” Kedua Hakim itu lalu memilih satu nama dari hasili pilihan Dewan Juri, dan terpilihlah seorang Pengawas baru.”
“oh, begitu.” Kata Yesung mengangguk-angguk. “sepertinya memang adil, semua memperoleh kesempatan untuk menyatakan pendapat. Itulah salah satu yang kusukai di SM ini. semua diberi kesempatan berbicara.”
“aku tak bisa berpikir siapa yang akan kupilih,” kataSulli. “sulit sekali menentukannya.”
“nado,” Sunny merenung. “sungguh suatu kehormatan untuk dipilih, jadi kita harus berpikir baik-baik, yang kita pilih haruslah orang yang memang pantas mendapat kehormatan itu.”
“bolehkah aku berjalan bersamamu dalam perjalanan pengamatan alam nanti?” Amber bertanya pada Sunny. “TAeyeon tidak bisa ikut, ia harus berlatih music dengan Kangta.”
“boleh,” kata Sunny. “tapi jangan datang terlambat, sebab aku yang harus memimpin nanti. Jadi kalau kau ingin berjalan bersamaku, kau harus datang tepat waktu.”
Amber datang tepat pada waktunya. Kedua anak itu berangkat dengan membawa buku catatan mereka, diikuti anak-anak lain yang juga berjalan berdua-dua. Mereka diharuskan mencari bunga ivy, jenis tanaman sulur-suluran, santapan terakhir serangga-serangga musim itu. mereka harus mencatat dan menggambar serangga-serangga yang mereka dapati pada bunga tersebut.
Sungguh menyenangkan berjalan-jalan berdua di sepanjang jalan setapak dan melintasi padang. Matahari musim dingin yang pucat bercahaya lembut, langit pun berwarna biru muda. Semua pohon sudah tak berdaun lagi, kecuali pohon pinus dan pohon fir yang ujung daun-daunnya berkilauan karena tetasan embun beku.
Amber menggumamkan sebuah lagu sambil matanya mencari bunga ivy. Sunny memandang heran padanya.
“aneh juga perubahan yang terjadi pada seseorang,” kata Sunny. “semester yang lalu aku menyaksikan betapa Taeyeon yang badung dan nakal berubah menjadi baik dan manis. Aku dan Yesung yang semula pemalu dan selalu merasa kesepian berubah menjadi senang bergaul. Dan sekarang aku juga berubah!”
“ne, ara. Tapi ada satu hal dariku yang tak bisa berubah, Sunny. Aku tetap seorang penakut.”
“apa maksudmu? Apa kau takut pada sapi, misalnya?” tanya Sunny heran.
“aniyo, tentu tidak. Aku takut akan pikiran orang lain. Itu lebih mengerikan daripada sapi! Tak seorang pun kecuali kau, Sulli, Sooyoung, dan Taeyeon yang tahu perbuatan jahatku. Ah, ya, juga Siwon dan Boa. Dan aku tahu pasti, misalkan saja yang berbuat itu kau, atau Sulli, atau Taeyeon, pastilah kalian dengan berani mengakuinya dihadapan seisi sekolah waktu Rapat Besar. Tapi aku tidak berani berbuat seperti itu.”
“tapi kenapa tidak? Kau tahu bahw seluruh murid akan sangat memuji keberanianmu mengaku. Dan ini akan mengurangi rasa marah mereka pada perbuatan jahatmu. Lain halnya kalau, entah karena apa, tersebar berita bahwa kaulah yang berbuat dan tidak mau mengaku. Semua akan tambah membencimu. Bahkan kau sendiri akan merasa benci pada caramu mengambil keputusan. Semua orang emmiliki keberanian yang sama. Hanya ada yang tidak bisa memutuskan kapan menggunakan keberanian tersebut.”
“jinjja?” tanya Amber. “maksudku, apakah aku juga punya keberanian? Apakah kau bisa menggunakannya kalau aku menghendakinya? Aku tidak harus menjadi penakut?”
“kau sungguh bodoh,” kata Sunny menggandeng tangan Amber. “bear! Tak seorang pun harus menjadi penakut. Setiap orang bisa menggunakan keberanian mereka pada saat mereka memutuskan utnuk menjadi berani. Cobalah di Rapat Besar nanti. Kau akan mengerti apa yang kumaksud.”
Saat itu mereka menemukan sekelompok bunga ivy yang sedang berkembang, dan percakapan mereka pun terputus. Mereka sibuk menulis dan menggambar. Namun Amber sebenarnya masih memikirkan kata-kata Sunny. Sungguh bagus kalau kata-kata itu benar. Kalau memang semua orang punya keberanian tersembunyi, tidak perlu ada penakut didunia ini! mereka tinggal menentukan saja kapan harus menggunakan keberanian itu.
“akan kucoba apakah aku bisa menggunakan keberanianku di Rapat berikutnya,” kata Amber dalam hati, walaupun makin dipikir, ia makin takut. “sungguh mengecilkan hati melihat anak-anak lain dengan mudah berdiri dan memberikan pengakuan mereka, sementara aku membuka mulut saja tidak berani.”
Sore itu sewaktu Rapat akan dimulai, Amber duduk dengan kaki gemetar, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia tak berkata apa-apa pada sahabatnya. Dan Rapat pun di mulai. Uang dikumpulkan ,dibagikan, lalu diberikan tambahan pada mereka yang membutuhkan. Ada yang ditolak, ada yang diterima. Kemudian sampailah pada acara keluhan dan laporan.
Hanya ada satu laporan dan satu keluhan. Semuanya ditanggapi dengan cepat.. kemudian sebelum melanjutkan acara dengan pemilihan Pengawas Baru, Siwon minta waktu untuk bicara.
“ada pengumuman sedikit,” kata Siwon. “dengan ini diumumkan bahwa Suho telah kembali ke kamar tidurnya, dan sekarang ia tak lagi mendengkur.”
Semua tertawa dan bebapa anak malah bertepuk tangan. Suho pun ikut tertawa.
Kemudian Siwon minta agar hadirin tenang. “aku juga ingin mengumumkan bahwa berdasarkan pengamatan banyak orang, maka dengan bangga dan gembira kami menyatakan sangat puas akan perkembangan yang terjadi pada diri Yesung. Dari semua pengawas, Boa dan aku menerima laporan-laporan yang sangat memuaskan. Dari pengurus kuda didapat keterangan bahwa ia hampir tak bisa bekerja lagi tanpa Yesung.”
Yesung berseri-seri kegirangan. Dan semua hadirin juga merasa senang bahwa bantuan mereka untuk memperbaiki pribadi Yesung telah berhasil dengan baik.
Dan saat itulah Amber mendapatkan keberaniannya. Tahu-tahu ia sudah berdiri, kakinya tak lagi gemetar dan suaranya mantap. Ia memandang para Hakim dan Dewan Juri lurus ke depan.
“aku ingin mengatakan sesuatu yang mestinya sudah kukatakan sejak dulu.” Kata Amber. “aku ingin mengatakan bahwa akulah yang melakukan perbuatan-perbautan yang dituduhkan pada Yesung. Sebelum ini aku terlalu takut untuk mengakui perbuatan itu.”
Hening seketika. Semua orang terpesona. Mereka yang belum tahu merasa terkejut akan kenyataan itu. mereka yang sudah tahu terkejut melihat keberanian Amber. Apa yang menyebabkannya mengaku?
Kemudia Boa berbicara, “lalu apa yang membuatmu berani mengaku kali ini?”
“sesuatu yang dikatakan Sunny padaku. ia berkata bahwa tak ada perlunya bagi seseorang untuk merasa takut. Menurutnya semua orang punya keberanian, yang jadi soal adalah bagaimana kita bisa menggali keberanian itu dan menggunakannya. Aku telah menggali keberanianku, dan menggunakannya. Sunny memang benar. Sekarang aku tak merasa takut lagi.”
“gomawo, Amber,” kata Boa.
Amber duduk. Kepalanya terasa ringan. Seakan beban berat telah diambil dari pundaknya. Ia telah mendapatkan keberaniannya dan tidak akan melepaskannya lagi.
“kita tidak akan membicarakan apa yang baru saja diakui oleh Amber,” kata Boa. “kami sangat gembira bahwa akhirnya ia punya keberanian untuk mengaku. Tentu saja aku dan Siwon sudah mengetahuinya, dan kami berharap suatu hari ia akan cukup berani mengaku pada kalian semua. sekarang ia sudahmengakui perbuatannya, dan kami semua sangat senang.”
“sekarang kita akan melanjutkan acara dengan pemilihan Pengawas baru,” kata Siwon. “seohyun, tolong bagikan kertas-kertas suara.”
Seohyun pun membagikan kertas yang dipotong kecil-kecil itu.
Setiap anak menuliskan nama anak yang dipilihnya, nama seseorang yang mereka anggap cukup baik untuk dijadikan Pengawas. Kertas-kertas tadi kemudian dikumpulkan oleh Juri, dibuka, dan dihitung. Tiga nama yang memiliki suara terbanyak disisihkan. Dan anggota Dewan Juri memilih dari ketiga anak ini, siapa yang dianggap terbaik. Juri-juri ini juga menulis di kertas, yang secara tertutup diberikan pada kedua Hakim.
Siwon dan Boa membuka kedua belas kertas itu dan membaca pilihan Dewan Juri. Mereka berunding dengan suara perlahan, sementara hadirin menunggu dengan perasaan tegang, sunyi senyap, menunggu siapa yang akan terpilih.
Kemudian Siwon mengetuk meja. Kesunyian mekin terasa. “tampaknya tak terlalu sulit untuk menjatuhkan pilihan kali ini,” kata Siwon. “tampaknya hampir semua diantara kalian telah memilih nama yang sama. Nama ini muncul di hampir semua kertas suara. Lee Sunny!”
Riuh rendah sorak-sorai dan tepuk tangan. Muka Sunny merah padam bagaikan kepiting rebus. Ia sama sekali tak menduga akan terpilih! Agaknya seluruh isi sekolah telah mendengar betapa bijaksananya Sunny dari apa yang dikatakan oleh Amber. Sekarang Sunny memperoleh pahalanya. Ia jadi Pengawas!
“kami memperoleh laporan yang sangat baik tentangmu dari para Pengawas,” kata Boa. “kami tahu bahwa kau bisa dipercaya, kau baik hati, dan cukup bijaksana bila mengingat umurmu. Kami yakin kau akan berusaha sebaik mungkin untuk sekolah kita. Majulah dan duduklah di meja Pengawas, Sunny. Kami dengan gembira menerimamu di meja Juri.”
Sunny pergi ke meja Juri, bangga dan bahagia. Taeyeon bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Ia begitu bangga dan gembira karena Sunny memperoleh kesempatan itu.
“Sunny pantas menerimanya.” Batin Taeyeon. “sangat pantas! Ya Tuhan, senang sekali kalau aku bisa jadi Pengawas. Tapi kurasa aku sama sekali tak punya bakat untuk itu. sama sekali tidak.”
to be continue..