Blog Archives

[FF] Only One (Chapter 7)

only one

Author : Ashiya

Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Lee Donghae (Super Junior)

Other cast :

  • SMTOWN

Genre :

  • Alternate Universe, Comedy, Romance,

Length :

  • Multichapter

Disclaimer : This fiction is mine.

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved. Read the rest of this entry

[FF] Only One (Chapter 6)

only one

Author : Ashiya

Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
  • Lee Donghae (Super Junior)

Other cast :

  • SMTOWN

Genre :

  • Alternate Universe, Comedy, Romance,

Length :

  • Multichapter

Disclaimer : This fiction is mine.

Copyright : © ashiya19.wordpress.com 2014. All Rights Reserved.

Previous Chapter

“oh ya, Kyuhyun kemana?” tanya Leeteuk.

“dia sedang recording acara Radio Star.”

“kenapa kau terus menanyakan Kyuhyun? Kau ngefans juga? atau takut Kyuhyun mengetahui rencana ini dan dia bertindak duluan sehingga kau kalah?” Sungmin memberondong Leeteuk dengan pertanyaan konyolnya.

Tidak  lama kemudian, ocehan mereka terhenti karena tiba-tiba seseorang membunyikan bell dorm itu. Ryeowook berdiri dan langsung beranjak membukakan pintu. Begitu ia melihat tamu itu, ia membelalakan matanya.

“HEENIM-HYUNG??!” kejut Ryeowook membuat member SuJu yang lainnya berlarian menuju pintu.

“hai~!” ucap Heechul dengan gaya coolnya.

*** Only One Chapter 6 *** Read the rest of this entry

[FF] Only One (Chapter 5)

Author : Ashiya
Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Taeyeon, Lee Donghae, Victoria
Other Cast : SM Family
Genre : Alternate Universe, Comedy, Romance, I don’t know o.Oa
Language : Bahasa Indonesia tanpa EYD sehingga typo(s) bertebaran dimana-mana. -.-”

-Previous Chapter-

Seohyun menaiki kursi itu dan karena lemari itu cukup tinggi, ia menjinjitkan kakinya. “ah, susah sekali.” gumam Seohyun sambil berusaha meraih makanan itu dengan tangan kanannya. Sementara Kyuhyun hanya tertawa kecil melihat Seohyun yang tampak kesulitan. Namun tawa itu seketika berubah ketika Seohyun tampak kehilangan keseimbangannya.

“waaa….waaaah…” pekik Seohyun.

“Seohyun-ah!” cepat-cepat Kyuhyun berlari kearahnya dan menahan tubuh Seohyun sebelum terbentur lantai.

BRUGGHH!!

Seohyun mendarat tepat diatas tubuh Kyuhyun dan Read the rest of this entry

[FF] Only One (Chapter 4)

Author : Ashiya
Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Taeyeon, Lee Donghae, Victoria
Other Cast : SM Family
Genre : Alternate Universe, Comedy, I don’t know o.Oa
Language : Bahasa Indonesia tanpa EYD sehingga typo(s) bertebaran dimana-mana. -.-”

-Previous Chapter-

Sementara SNSD kembali berlatih, Kyuhyun menghampiri ketiganya dan mengerutkan dahinya melihat Suho, Baekhyun dan Chanyeol begitu rukun tidak seperti biasanya.

“hey, kiddos!!” sapa Kyuhyun mengambil tempat duduk di pangkuan Suho.

“ya!! Hyung! Berat!!” Suho menendang bokong Kyuhyun.

“ya!! Kau tidak belajar sopan santun pada hyungmu??” Kyuhyun menatap evil  Suho.

“memangnya kau selalu melakukan hal seperti itu?” dengus Suho.

“ya.. tidak juga sih.” Cengir Kyuhyun menyadari keevilannya pada hyung-hyungnya. Apalagi dongsaengnya. “tumben kalian begitu tenang saat nonton SNSD?”

“kami baru saja di sembur manager-hyung karena ribut saat menonton mereka.” Chanyeol mengerucutkan bibirnya.

Kyuhyun tertawa mendengar penjelasan Chanyeol. “memangnya apa yang kalian ributkan?”

“kami memperebutkan Taeyeon-noona.” Jawab Baekhyun.

“eh?” tawa Kyuhyun berhenti seketika saat mendengar jawaban Baekhyun.

“aku sangat sangat sangat menyukai Taeyeon-noona! Lebih dari sekedar fans.” ucap Baekhyun lagi.

“aku juga.”

“eh?” kejut Kyuhyun mendengar Suho juga menyukai Taeyeon.

“aku juga!” seru Chanyeol membuat Kyuhyun semakin membelalakan matanya.

“aku juga!” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan ternyata itu adalah Sehun.

“heeeeeeeeeeeeeeeeeeeh????” shock Kyuhyun mengetahui keempat member EXO itu juga menyukai Taeyeon.

“Sebenarnya aku juga.” Muncul lagi seseorang yang memiliki tubuh paling tinggi di grup EXO.

“KRIS????” kejut Kyuhyun membelalakan matanya.

“hyung, awas matamu copot.” Ujar Onew yang tiba-tiba nimbrung sambil memakan ayamnya. “aku juga sepertinya begitu. Aku menyukai Taeyeon-noona. Ia sangat cute.” Kenyataan(?) ini membuat Kyuhyun semakin menganga lebar.

“setelah Donghae, Changmin, Leeteuk, sekarang Suho, Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Kris, bahkan Onew yang selama ini hanya peduli pada ayam?? Taeyeon-ah, apa aku bisa bersaing dengan mereka?? Apa setelah ini masih ada namja lain yang terang-terangan mengakui menyukaimu padaku??” batin Kyuhyun tidak percaya diri.

-Chapter 4-

Konser SMTOWN INA berjalan dengan lancar. Saat SNSD selesai menampilkan The Boys, ke sembilan member itu pun satu persatu menuruni panggung. Sooyoung turun terlebih dahulu karena sejak perform tadi ia takut kehilangan nasi kotaknya di ruang make up. -.-

Taeyeon turun paling belakang. Saat Taeyeon akan turun, ia terkejut dengan banyaknya tangan-tangan yang tersodor kedepannya untuk membantunya menuruni tangga panggung itu.

“OMMO!!” kejut Taeyeon.

Ia melihat satu persatu para pemilik tangan itu. Leeteuk, Changmin, Baekhyun, Sehun, Chanyeol, Suho, Kris, Onew, Donghae, dan juga Kyuhyun.

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia kebingungan akan memegang tangan siapa. Di tengah kebingungannya, muncul lagi satu tangan dan ternyata itu Tiffany yang tersenyum menunjukan eyes smilenya. Akhirnya Taeyeon menerima uluran tangan Tiffany dan turun dari atas panggung lalu berjalan meninggalkan para fanboysnya yang segera menurunkan tangannya dan beralih menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal karena salah tingkah menahan malu.

“benar-benar lucu ekspresi mereka!” tawa Tiffany saat menceritakan kejadian itu pada member SNSD yang lain.

“eonni, kalau disana tidak ada Fany-eonna, kau akan menerima uluran tangan siapa?” tanya Seohyun.

“eh? Mmm…” Taeyeon tampak bingung menjawab pertanyaan maknaenya.

“aku tahu siapa yang akan kau pilih.” Ucap Jessica.

“jeongmal? Nugu?” tanya Hyoyeon penasaran.

Jessica tersenyum melirik Taeyeon yang tampak mengisyaratkan jangan-mengatakan-apapun. “secret!” sahut Jessica memeletkan lidahnya.

“aissssh..menyebalkan!” dengus Sooyoung mengeluarkan mentimun yang ada di dalam nasi kotaknya dan menyodorkan mentimun itu pada Jessica.

“YA!! CHOI SOOYOUNG!!” teriak Jessica berlari menghindari Sooyoung yang mengejarnya sambil mengacung-ngacungkan mentimun itu. Ia naik ke atas meja rias sambil terus berteriak, “BUANG ITU, SHIKSHIN!”

“huh? Kau mengataiku shikshin? Baiklah, aku akan naik kesana dan menjejalkan mentimun ini ke mulutmu.”

“YA!! ANDWAE!! AKHHH!!!” jerit Jessica sementara member yang lain hanya tertawa melihat penderitaan(?) Jessica.

“EONNI!!” pekik seseorang dari luar ruangan itu membuat mereka bersembilan menoleh.

“Krystal..”

“Sooyoung-eonni! Berhenti mengganggu eonniku!” Krystal menghampiri Sooyoung, merebut mentimun itu dengan kasar dan membuangnya ke tempat sampah.

“oh nooooo, my cucumber!!” panik Sooyoung dengan aksen British yang gagal, tidak rela mentimunnya terjerembab(?) dalam tumpukan sampah.

“Krystal belakangan ini agak menyeramkan.” Bisik Sunny pada Yuri.

“mungkin ia sedang datang bulan.” Jawab Yuri.

Krystal menghampiri Jessica yang sudah berkeringat dingin akibat ulah usil Sooyoung. “eonni, gwaenchana?” Jessica mengangguk dan turun dari meja rias itu. Krystal berbalik pada Sooyoung yang meratapi mentimunnya di dalam tempat sampah. “eonni, kalau kau menakut-nakuti Sica-eonni lagi, terima akibatnya!” ancam Krystal dengan mata merah menyala-nyala.

“Krystal pake softlens ya? Matanya menyala. Keren!” Bisik Sunny pada Yuri.

“itu bukan softlens, tapi dia memang ada keturunan vampir California.” Sahut Yuri.

“aissh, eonni! Ia bukan vampir, tapi dia sedang marah!” ucap Seohyun mengoreksi ucapan Yuri.

“oooh..” sahut Yuri dan Sunny manggut-manggut mengerti.

“mentimunku…” ratap Sooyoung pada mentimun itu tidak memperdulikan ancaman Krystal.

“Krys!” panggil Victoria yang tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka. “kajja! Giliran kita naik.” Krystal pun meninggalkan Jessica dan member SNSD yang lain.

“my cucumber~” lirih Sooyoung masih meratapi mentimun itu.

“sudahlah, Soo. Kau ini berlebihan sekali.” Ucap Taeyeon.

“my cucumber.. hiks..hiks..”

“waaah gadis itu beruntung sekali bisa di peluk Changmin dan Kyuhyun!” seru Yoona menonton pertunjukan duet kedua maknae itu dari tv kecil yang ada di ruang itu mengalihkan perhatian dari nelangsanya(?) Sooyoung.

Taeyeon menoleh dan ikut menontonnya. “beruntung sekali dia. Apa aku juga harus jadi fansnya agar mendapat perlakuan yang sama?” keluh Taeyeon dalam hati.

Tanpa diketahui Taeyeon, Jessica memperhatikan tatapannya yang tampak sedih. “jadi dia benar-benar menyukainya? Lalu bagaimana dengan Donghae?” batin Jessica.

**

Konser SM TOWN sudah selesai di gelar dengan sukses. Kini mereka bersiap untuk segera kembali ke Korea.

“hatcchiiiiii!!”

“Taeng-ah, kau flu?” tanya Kyuhyun saat berjalan menuju pesawat.

“ah? Oh..sepertinya begitu. Dari tadi aku bersin-bersin terus. Hatccchiiiiii!!!!” bersin Taeyeon lagi dan kali ini ia sedikit mengenai baju Kyuhyun. “oh, mian, oppa!” Taeyeon segera mengelapnya namun Kyuhyun menahan tangan Taeyeon hingga Taeyeon heran menatapnya.

Mereka terdiam saling bertatapan hingga tanpa sengaja Eunhyuk menubruk Taeyeon dari belakang dan mengakibatkan Taeyeon terdorong ke depan dan Kyuhyun refleks memeluknya.

“oh, mian, Taeng. Aku sedang buru-buru!” ucap Eunhyuk sambil memegangi perut dan bokongnya. “toilet! Toilet! Mana toilet!” gumam Eunhyuk berlari menuju toilet.

“gwaenchana?” tanya Kyuhyun melepaskan pelukannya.

“n..ne.” jawab Taeyeon gugup.

Kyuhyun mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikan sapu tangan itu pada Taeyeon, “pakai ini.”

“gomawo.” Ucap Taeyeon menerima sapu tangan itu.

“kau akan duduk dengan siapa?”

“molla.” Jawab Taeyeon .

“kalau begitu denganku saja.”

“lalu Vic-eonni?”

“ia sudah duduk dengan Amber disana.” Tunjuk Kyuhyun ke barisan kursi depan.

“oh, baiklah.” Akhirnya Taeyeon duduk bersebelahan dengan Kyuhyun.

“yes!” ucap Kyuhyun pelan sambil mengepalkan tangannya.

“mwo?”

“eh? A..aniya. Kajja, kita duduk  disana!”

Kyuhyun sangat menantikan saat-saat seperti ini. Ia membayangkan Taeyeon yang tidur di pundaknya. “eheheheheh…” Kyuhyun menyeringai sendiri membayangkannya. Namun saat ia menoleh ke sebelahnya, Taeyeon tidak juga terlelap. Ia masih asyik bermain game di ponselnya. Hal itu sedikit membuatnya kecewa. Semula ia mengira Taeyeon akan segera tidur karena kelelahan di tambah dengan flunya dan juga karena waktu sudah sangat larut. Hingga hampir satu jam pesawat itu membawa mereka, Taeyeon belum juga tidur. Padahal yang lain sudah terlelap sejak memasuki pesawat itu.

“kau tidak ngantuk?” tanya Kyuhyun.

“aniyo.” Jawab Taeyeon.

“kalau ngantuk, bersandar saja ke pundakku.” Ucap Kyuhyun menepuk pundaknya.

“ne, gomawo. Tapi aku belum mengantuk sekarang.”

“baiklah.”

Kyuhyun kembali menunggu Taeyeon menyandarkan kepalanya namun ternyata Taeyeon masih terjaga. Bahkan dirinya sudah lelah menahan matanya yang semakin berat.

“kalau ngantuk tidur saja.” ucap Taeyeon membuat Kyuhyun langsung melebarkan kembali matanya.

“ah, aniya. Aku belum….” Kyuhyun belum sempat menyelesaikan ucapannya, ia sudah terlelap duluan. “zz..zzz..”

Taeyeon tertawa kecil melihat namja itu. “belum ngantuk apanya?” gumam Taeyeon membetulkan posisi kepala Kyuhyun yang sedikit miring. “kalau miring begini, lehermu akan sakit.” Taeyeon memperhatikan wajah Kyuhyun yang tidur dengan mulut sedikit terbuka, “bagaimana aku bisa tidur kalau kau ada di sebelahku? Apa kau tidak tahu kalau aku sangat gugup?” batin Taeyeon.

Sementara itu di belakangnya, tampak Donghae menatap Taeyeon yang tengah memperhatikan Kyuhyun. “apa kau benar-benar tidak pernah melihatku seperti kau melihat Kyuhyun?”

**

Setelah menempuh perjalanan udara beberapa jam, akhirnya rombongan SM TOWN tiba di bandara Incheon. Mereka segera bergegas menuju dorm masing-masing untuk beristirahat karena beberapa jam lagi mereka harus datang ke kantor SM di daerah Gangnam.

Beberapa jam kemudian mereka tiba di kantor SM, para leader langsung menuju ruang rapat untuk mengadakan evaluasi SM TOWN di Jakarta yang baru saja mereka gelar. Sedangkan para member ada yang menunggu di dorm dan ada juga yang turut ikut ke kantor SM.

Lee Sooman memberikan pendapatnya tentang SM TOWN INA dan kini saatnya ia memberikan jadwal baru untuk artis-artisnya yang ia berikan pada manager masing-masing.

“Taeyeon-noona!!” teriak Baekhyun dan Sehun membuat Taeyeon menoleh saat ia baru saja keluar dari ruang rapat itu dan berjalan menuju lift.

“oh, hei.” Jawab Taeyeon dengan lesu.

“noona, wae? Apa kau sakit?” cemas Baekhyun. “wajahmu terlihat pucat. Ku dengar kemarin noona flu?” *jiwa fanboy Bacon kumat.kkkk*

“hm? Ah..ani.” jawab Taeyeon menyunggingkan senyumnya. “kalian mau kemana?”

“kita mau ke studio dance tapi karena melihat noona disini, jadi kita kesini dulu sekedar menyapa.” Jawab Sehun.

“oh, kalau begitu, cepatlah. Nanti kalian dimarahi manager.”

“hmm..baiklah. tapi…ini dulu.” CHU~ Baekhyun mendaratkan ciumannya di pipi kanan Taeyeon lalu lari terbirit-birit.

“ya! Byun Baekhyun!” teriak Taeyeon.

“dasar, tidak sopan!” cela Sehun. “noona, aku juga pergi dulu ya. Annyeong~” CHU~ lagi-lagi Taeyeon menerima ciuman kejutan di pipi dari kedua member EXO itu.

“ya! Oh Sehun!!” Taeyeon meneriaki Sehun yang lari sambil tertawa-tawa. “aissh! Dasar usil!!”

Taeyeon kembali berjalan sendirian menuju lift. Semenjak pulang dari Indonesia, tampaknya flunya semakin parah. Wajahnya tampak pucat dan ia merasa sedikit pusing. Begitu ia tiba di depan lift, setelah menunggu beberapa menit, pintu lift itu terbuka.

TING!

Taeyeon mengangkat wajahnya dan ia melihat seseorang di dalam lift itu.

“oh, Hae-oppa. Annyeong~” Ucap Taeyeon dengan suara yang lemah sambil berjalan masuk ke dalam lift itu dan lift itu segera tertutup.

Donghae tidak langsung membalas sapaannya, ia terlihat khawatir mendengar suara Taeyeon dan juga wajahnya yang pucat. “Taeng-ah, gwaenchana?”

“ne?”

“kau sakit?” Donghae meletakkan punggung tangannya di dahi Taeyeon. “kau demam.”

“gwaenchana. Hanya flu biasa.” Jawab Taeyeon sambil menahan kepalanya yang semakin pening.

“Kau sudah memeriksakannya ke dokter?” namun belum sempat Taeyeon menjawab, Taeyeon terkulai jatuh pingsan dan Donghae segera menahan tubuhnya. “ya! Taeng-ah! Wae??” panik Donghae. Ia menekan-nekan tombol lift itu agar segera terbuka dan membawanya keluar. “ya! Taeng, ireona!” Donghae mengguncang tubuh Taeyeon. Taeyeon tampak masih sadar namun ia sangat lemas dan tidak kuat untuk membuka kedua matanya sendiri.

TING!

Pintu terbuka, Donghae segera mengangkat tubuh Taeyeon keluar dari lift itu.

“ya! Hyung, kenapa dia??” kejut Key saat berpapasan dengannya.

“ia pingsan. Cepat panggil dokter!” perintah Donghae sambil membaringkan Taeyeon di sofa. Key segera mengambi ponselnya dan menelpon dokter kepercayaan keluarga SM.

Saat itu masih pagi dan para staff belum banyak yang hadir di kantor itu. Key memberitahu manager SNSD dan ia segera datang dengan raut wajah yang sangat cemas.

“bagaimana keadaannya??” panik manager  berkacamata itu. “kenapa bisa begini??”

Tidak lama kemudian, dokter datang dan segera memeriksa Taeyeon. “ia kelelahan dan kurang istirahat.” Ucap dokter. “sebaiknya biarkan ia istirahat 2 sampai 3 hari.”

“mwo??” kejut manager. “tapi..dia harus segera ke Jepang siang ini untuk promo album dan…”

“HYUNG!!” bentak Donghae tiba-tiba. “kondisi Taeyeon seperti ini apa kau tidak kasihan dengannya?! Kau tidak dengar ucapan dokter??”

“bukan begitu, Hae. Tapi ini soal profesional kerja..”

“bagaimana kalau kau berada di posisinya??” marah Donghae memotong ucapannya. “kondisinya lemah sampai pingsan begini kau masih bisa memikirkan profesionalisme pekerjaan??”

Manager itu menghela napasnya, “Hae, kau bukan anak baru kan disini? Kita semua tahu semua artis SM sangat sibuk dan hampir tidak bisa istirahat seharian. Kau sendiri tahu, paling lama bisa beristirahat itu hanya 2 jam.”

“apa kau tidak bisa memberinya waktu sebentar untuk memulihkan kondisinya? Kau lihat dia..”

“hei..” ucap Taeyeon yang baru sadar dari pingsannya. “kenapa ribut-ribut?”

“Taeyeon-ah, gwaenchana??” ucap Donghae di balas anggukan lemah Taeyeon yang masih merasakan pusing di kepalanya.

“masih pusing?” tanya Donghae lagi.

“sedikit.”

“baiklah. Aku harus kembali ke klinik.” Ucap dokter itu. “ini resepnya, jangan lupa kau harus meminumnya secara teratur.” Kata dokter itu lagi pada Taeyeon sambil memberikan resepnya pada manager SNSD lalu pergi dari tempat itu.

“oppa, jam berapa kita berangkat?” tanya Taeyeon.

“jam 1 siang.”

“Taeng-ah..” ucap Donghae tampak khawatir. “sebaiknya kau tunda dulu keberangkatanmu sampai kau benar-benar pulih.”

“gwaenchana. Masih ada waktu beberapa jam. Aku akan menggunakannya untuk beristirahat.” Sahut Taeyeon lalu berbalik pada managernya. “oppa, boleh aku minta waktu untuk istirahat sampai waktunya kita berangkat?”

“baiklah.”

“oppa, aku pergi dulu. Annyeong~” Taeyeon pun pergi dengan manajernya meninggalkan Donghae di tempat itu.

“ku harap kau baik-baik saja, Taeng. Saranghae.” Batin Donghae.

**

“MWO?? Taeng pingsan??” kejut Kangin membuat gempar dorm SuJu setelah mendengar laporan(?) Donghae.

“hyung, kau sudah bisa mengecilkan badanmu, apa kau juga bisa mengecilkan volume suaramu?” kesal Ryeowook yang merasa telinganya mendadak budek(?).

Kyuhyun pun berada di situ. Sama terkejutnya dengan Kangin namun ia tidak memperlihatkannya dengan tetap fokus pada PSPnya.

“aku akan ke dormnya.” ucap Kangin. “aku ingin memastikan dia baik-baik saja.”

“hyung, boleh aku ikut?” pinta Kyuhyun tiba-tiba membuat member yang lain mengerutkan keningnya. Kyuhyun menyadari tatapan hyung-hyungnya itu dan segera mengeles. “ah, aku mau mengambil CD game yang di pinjam Sunny.”

“memang Sunny pernah meminjam gamemu?” heran Sungmin.

“n..ne. Kemarin ia meminjamnya.” jawab Kyuhyun gelagapan.

“ya sudah, kajja!”

“boleh aku ikut juga?” Donghae menyusul keduanya sebelum membukakan pintu.

“baiklah. Masih ada yang mau ikut? Biar aku bisa memesan bus saja sekalian.” sahut Kangin sedikit kesal.

“aku ikut!” teriak Leeteuk yang baru keluar dari kamarnya. Ia baru saja selesai mandi dan mendengar pembicaraan mereka.

“ya! Ajussi, kau benar-benar mau di kerubuti fansmu?” tanya Yesung.

“maksudmu?” tanya Leeteuk dengan bingung.

“kau mau keluar hanya dengan mengenakan boxer polkadot merah seperti itu?”

Leeteuk menunduk melihat bagian bawahnya. “ommo! Aku lupa pakai celana! Raccoon, evil, ikan, tunggu aku jangan dulu berangkat!” Leeteuk segera lari menuju kamarnya.

“dasar orang tua. ckckckck..” ucap Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya.

**

Kangin, Kyuhyun, Donghae, dan Leeteuk tiba di depan dorm SNSD dan mereka segera menekan bellnya. Tidak lama kemudian, pintu di bukakan oleh Seohyun. Member yang lain tampaknya sedang ada kegiatan masing-masing.

“oh, oppadeul?”

“Seo, kudengar Taeyeon sakit. Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Kangin sambil nyelonong(?) masuk.

“heh, raccoon! Kau pikir kau dimana? Main masuk saja!” sembur Leeteuk.

“gwaenchana, oppa. Masuk saja. Eonni sedang istirahat.” Seohyun mempersilahkan mereka masuk dan mengantarnya ke kamar Taeyeon. “apa perlu ku bangunkan?” tanya Seohyun sedikit berbisik.

“tidak usah. Nanti dia terganggu. Dia harus banyak beristirahat.” jawab Donghae. Namun tidak lama kemudian Taeyeon terbangun.

“kalian? kenapa kesini?” bingung Taeyeon sambil berusaha duduk.

“kau tiduran saja, Taeng.” suruh Leeteuk membaringkannya lagi.

“Donghae bilang kau sakit, jadi kami kesini untuk menjengukmu.” ujar Kangin.

Taeyeon menoleh pada Donghae, “oppa, kau berlebihan sekali. nan gwaenchana..”

“baik bagaimana kalau kau sampai pingsan begini??” pekik Kyuhyun tiba-tiba membuat semua terkejut dan beralih menoleh padanya. “ah..o..mm.. mian. Aku tidak bermaksud berteriak.” sambung Kyuhyun tergagap.

“oppa, kalian mau minum apa?” Seohyun mengalihkan pembicaraan. “aku ambil minuman dulu.”

Seohyun pun beranjak dari kamar Taeyeon. “Kyu, cepat bantu Seo!” Leeteuk mendorong Kyuhyun keluar dari kamar Taeyeon.

“tapi hyung..”

“sudah sana cepat!” gertak Kangin akhirnya Kyuhyun menurut.

Kyuhyun berjalan malas-malasan menuju dapur menghampiri Seohyun yang tengah mempersiapkan minuman.

“oh, oppa? Kenapa kesini? Tunggu saja disana, nanti aku bawakan minumannya.”

“gwaenchana. aku akan membantumu.”

“baiklah.” jawab Seohyun akhirnya. “ah, kalau tidak salah Sooyoung-eonni masih punya beberapa makanan kecil di atas lemari.”

“mwo? Apa sebegitu pelitnya dia pada makanan sampai menaruh makanan di tempat tinggi?” heran Kyuhyun.

“hehe.. begitulah.” sahut Seohyun menarik kursi dan mendekatkannya pada lemari.

“untuk apa kursi itu? kau mau naik? biar ku ambilkan saja.” tawar Kyuhyun.

“tidak usah. tolong peras saja jeruknya biar aku yang mengambil makanannya.”

“baiklah.”

Seohyun menaiki kursi itu dan karena lemari itu cukup tinggi, ia menjinjitkan kakinya. “ah, susah sekali.” gumam Seohyun sambil berusaha meraih makanan itu dengan tangan kanannya. Sementara Kyuhyun hanya tertawa kecil melihat Seohyun yang tampak kesulitan. Namun tawa itu seketika berubah ketika Seohyun tampak kehilangan keseimbangannya.

“waaa….waaaah…” pekik Seohyun.

“Seohyun-ah!” cepat-cepat Kyuhyun berlari kearahnya dan menahan tubuh Seohyun sebelum terbentur lantai.

BRUGGHH!!

Seohyun mendarat tepat diatas tubuh Kyuhyun dan bibir mereka sedikit bersentuhan. Keduanya membelalakan matanya shock dengan kejadian itu.

Sementara itu di kamar Taeyeon..

“oppa, aku ke toilet dulu.” ucap Taeyeon.

“aku antar ya!” ucap Leeteuk .

PLETAK!!

Kangin menjitak kepalanya. “mau apa kau mengantar yeoja ke toilet? mengintip??”

“aissshh.. kau ini tidak sopan! ingat aku lebih tua darimu!”

“so what?” cuek Kangin dengan bahasa Inggrisnya yang lulus uji (Kangin : thank you, author. kau tidak mempermalukankuonion-emoticons-set-6-84 )

“sudah jangan bertengkar! kalian ini sudah tua masih saja suka bertengkar. Tidak ingat umur!” ejek Taeyeon sambil berjalan menuju toilet yang berada di dekat dapur. “dasar, sudah tua masih saja suka ri….” ucapan Taeyeon terhenti saat melihat pemandangan didepannya. Ia melihat Seohyun yang menindih Kyuhyun dan bibir mereka hampir bersentuhan. “Seo…” gumam Taeyeon tanpa sadar membuat Kyuhyun dan Seohyun tersentak dan segera kembali berdiri.

“eo..eonni..” ucap Seohyun tergagap..

“permisi. Aku mau ke toilet.” sahut Taeyeon segera meninggalkan keduanya menuju toilet.

Taeyeon masuk ke toilet itu dan menguncinya. Ia berdiri membelakangi pintu dan mengingat apa yang barusan dilihatnya. Ia terlihat masih shock dengan pemandangan itu. Tanpa sadar, air matanya segera menuruni kedua pipinya.

To be continue…

Akhirnya Only One di update juga.^^ walaupun kayaknya kurang seru onion-emoticons-set-6-41

Oh ya, FF yang sequel I Got A Boy special ulang tahun Taeyeon gak jadi di update. Filenya gak tau kehapus apa gimana, udah ilang ajaonion-emoticons-set-6-52Jadi gantinya ngebut bikin lanjutan yang ini.

Jangan lupa tinggalkan jejak~ onion-emoticons-set-6-14

[FF] Trouble Maker – Chapter 26 (Last Part)

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Here we go! the last part of Trouble Maker! 😀
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Last Chapter : Sweet Surprise
Minggu terakhir semester. Ulangan dilakukan setiap hari. Semua bekerja keras untuk meraih nilai-nilai terbaik. Terutama Taeyeon, Yesung, dan Amber. Mereka belajar lebih keras dari anak-anak lain! Taeyeon ingin berada diurutan teratas di kelasnya. Begitu juga Yesung. Sedangkan Amber ingin mendapat angka tertinggi paling tidak disalah satu mata pelajaran, dan bisa berada pada posisi mendekati urutan teratas. “senang sekali jika bisa kukatakan pada eomma bahwa aku mencapai angka tertinggi disalah satu pelajaran.” Pikir Amber. “dulu aku selalu dekat dengan kedudukan juru kunci, dan eomma tidak pernah marah. Akan merupakan kejutan manis baginya kalau ternyata aku meraih angka tertinggi disalah satu mata pelajaran!”
Pergelangan tangan Taeyeon sudah jauh lebih baik. Tapi masih tak boleh menggunakannya untuk main piano, berkuda, berolahraga, atau menggali tanah di kebun.
Di pertunjukan akhir nanti ia akan bernyanyi bersama Kyuhyun, Jessica, dan Donghae dengan membawakan lagu Way Back Into Love. Hanya itu.
Ia tidak main drama, dan tidak duet piano dengan Kangta. Sungmin yang menggantikan tempatnya.
Ia mencoba bersikap ceria. Ia berusaha agar tak ada yang tahu bahwa sebenarnya kadang-kadang ia merasa sangat sedih. Ia telah mencoba bangkit dari kesedihannya dan berusaha keras untuk membantu yang lain, dengan cara apapun. Ia telah mengecat mahkota-mahkota untuk pertunjukan drama. Ia telah membuat lukisan pemandangannya sangat indah.
Ia telah membuat 12 buku acara terbaik yang pernah dibuat disekolah itu. Mrs. Park akan menerima salah satu buku acara itu. begitu juga Mrs. Seo dan Mr. Sooman. Taeyeon sangat bangga karenanya.
Ia telah membacakan buku bagi Kris.
Menemaninya memainkan berbagai permainan tiap hari, sampai Kris boleh meninggalkan Sanatorium. Sementara itu berbagai pekerjaan Ibu Asrama dikerjakannya juga. Ia tidak bisa membantu Changmin dikebun seperti biasanya, tapi ia bisa membantu menulis daftar benih bunga yang akan ditanamnya musim semi nanti. Ia pun dengan penuh perhatian mendengarkan cerita Changmin tantang apa yang sedang dikerjakannya bersama Sehun.
“Taeyeon benar-benar luar biasa,” kata Sunny. “ia bisa jadi anak paling badung di sekolah kita, ia juga bisa jadi anak terbaik!”
Taeyeon ikut menonton pertandingan hockey, atau lacrosse. Ia bersorak-sorai gembira walaupun dalam hati ia merasa sedih karena tak bisa ikut main. Sungguh tidak menyenangkan untuk tidak bisa melakukan apa saja yang disenanginya.
“satu hal yang paling kusukai darimu adalah kemampuanmu untuk menanggung kesedihan dengan hati riang.” Kata Kangta pada Taeyeon.
Rasanya 2 minggu terakhir ini Taeyeon memberikan kesan tersendiri bagi semua murid SM. waktu yang 2 minggu itu membuat nama Taeyeon membumbung tinggi di mata mereka. Apa pun yang dilakukannya di masa lalu, terhapus oleh apa yang apa yang dilakukannya saat itu. semua anak mengaguminya. Semua tahu betapa pemarahnya ia dulu, tak sabaran dan bandel! Mereka tahu pasti, sangat berat untuk mengubah pribadi seperti itu menjadi seorang yang selalu ceria, sabar, dan siap membantu anak lain. Semua bangga pada Taeyeon.
Akhirnya hari terakhir tiba. Pertunjukan akhir semester yang dinanti-nantikan itu pun tiba. Sore yang semarak. Semua orangtua murid yang tak berhalangan, datang untuk menyaksikannya. Kedua orangtua Taeyeon, Mr. Kim dan Mrs. Kim, juga hadir. Mereka tinggal di sebuah hotel di dekat SM, agar keesokan harinya bisa membawa Taeyeon pulang. Taeyeon gembira sekali dengan kehadiran keduanya. Dipeluknya mereka erat-erat. Keduanya merasa sedih bahwa pergelangan tangan yang sakit membuat Taeyeon tak jadi menunjukan kemahirannya bermain piano.
“gwaenchanha, appa, eomma,” kata Taeyeon. “aku tetap akan tampil bernyanyi dengan beberapa temanku.”
Orangtuanya sangat mengagumi buku acara yang khusus dibuat oleh Taeyeon.
“ini kubuat untuk eomma dan appa,” bangga Taeyeon. “bagus, kan? Ketiga pimpinan sekolah juga memiliki buku acara buatanku. Dan, eomma, appa, pada pementasan drama nanti harap kalian perhatikan mahkota-mahkota emasnya. Semuanya aku yang mengecat. Juga pepohonan di panggung.”
Pertunjukan sukses. Dramanya lucu, hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sulli dan Amber sangat bangga karena merekalah yang menulis skenarionya. Kangta memainkan biolanya dengan sangat indah mempesona, kemudian ia berduet dengan Sungmin pada piano, penampilan yang sebenarnya akan dimainkan oleh Taeyeon.
Taeyeon merasa sedih mendengarkan duet tersebut, tapi ia berhasil memaksa diri untuk tersenyum dan bertepuk tangan paling keras saat duet itu berakhir. Dari sudut matanya Taeyeon melihat bahwa Sunny, Sulli, Yesung, Amber, Sooyoung, dan Changmin memperhatikannya.
Ia tahu bahwa sahabat-sahabatnya itu pasti bangga padanya, sebab ia masih mampu tersenyum dan bertepuk tangan, walaupun mereka tahu dalam hati sangat kecewa.
Penampilan terakhir adalah pertunjukan kwartet Taeyeon, Kyuhyun, Jessica, dan Donghae. Mereka naik ke panggung berpasangan. Alunan piano lagu Way Back Into Love yang dimainkan Kangta memulai pertunjukan itu dengan disusul suara merdu Taeyeon dan langsung mendapat applause yang meriah.
[Taeyeon] I’ve been living with a shadow over head, I’ve been sleeping with a cloud above my bed
[Jessica] I’ve been lonely for so long, trap in the past I just can’t seem to move on
[Kyuhyun] I’ve been hiding all my hopes and dreams away, just in case I ever need ‘em again someday
[Donghae] I’ve been setting aside time, to clear a little space in the corners of my mind
[KyuTae] All wanna do is find a way back into love, I can’t make it true without a way back into love
[Taeyeon] I’ve been watching but the stars refuse to shine, I’ve been searching but I just don’t see the signs
[Jessica] I know that it’s out there, there’s gotta be something for my soul somewhere
[Kyuhyun] I’ve been looking for someone to shed some light, not somebody just to get me through the night
[Donghae] I could use some direction and I open to your suggestion
[KyuSica] All I wanna do is find a way back into love
[KyuTaeHae] I can’t make it through without a way back into love
[KyuSica] And if I open my heart again, I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end
[Taeyeon] There are moments when I don’t know if it’s real, or if anybody feels the way I feel
[Jessica] I need inspiration not just another negotiation
[KyuSicaHae] All I wanna do is find a way back into love, I can’t make it through without a way back into love
[KyuTae] And if I open my heart to you, I’m hoping you’ll show me what to do, and if you help me decide again, you know that I’ll be there for you in the end~
Sorak-sorai, riuh-rendah, tepuk tangan di akhir 2 couple itu. Taeyeon tampak senang berhasil menampilkan penampilannya.
“good job, Taeng!” kata Kyuhyun sambil memegang tangan kanan Taeyeon membantunya menuruni tangga panggung.
“nado, gomawo, Kyu!”
Diakhir pertunjukan hasil ulangan umum terakhir diumumkan. Taeyeon mendengarkan dengan dada berdebar keras. Begitu juga Yesung dan Amber. Sulli tidak begitu peduli, asal dekat dengan kedudukan puncak ia sudah akan merasa senang. Amber lebih tegang sebab ia telah berusaha keras. Paling tidak jangan sampai ia masih berada dekat dengan juru kunci.
Akhirnya Mrs. Park sampai pada laporan untuk kelas Taeyeon. “Song seonsaengnim berkata bahwa kelas ini telah membuat kemajuan pesat. Semuanya berusaha keras. Beberapa orang murid memperoleh kemajuan luar biasa. Di tempat pertama, Kim Taeyeon dan…”
Kata-kata Mrs. Park terputus oleh sorak-sorai gemuruh. Semuanya tampak sangat gembira bahwa Taeyeon mencapai kedudukan puncak di kelasnya. Yesung juga bertepuk tangan kuat-kuat. Ia berharap ia bisa mencapai kedudukan nomor 2. Tadinya ia memang mengincar kedudukan pertama, tapi, yah, nomor 2 pun boleh.
Mrs. Park mengangkat tangan minta agar anak-anak diam. “chakkaman,” katanya. “biarkan aku menyelesaikan kalimatku. Di tempat pertama; Kim Taeyeon dan Kim Yesung! Keduanya mencapai nilai yang sama, maka keduanya menduduki tempat pertama!”
Yesung duduk tegak. Wajahnya berseri oleh rasa terkejut dan gembira. Jadi ia dan Taeyeon menduduki tempat teratas bersama-sama! Ini jauh lebih menyenangkan daripada berada sendirian di puncak atas. Taeyeon yang duduk dibelakangnya langsung menepuk punggungnya keras-keras.
“Yesung!” kata Taeyeon dengan wajah bersinar gembira. “jeongmal haengbokhae! Aku lebih suka berada dipuncak teratas bersamamu daripada sendirian! jinjja!”
Yesung mengangguk dan tersenyum. Ia tak bisa berbicara karena begitu gembira. Ia tidak sepandai Taeyeon, jadi keberhasilannya mencapai puncak teratas adalah semata-mata hasil kerja kerasnya! Betapa bangganya ayah dan ibunya, tampak dari tempat dia duduk.
Mrs. Park membaca daftarnya. Sulli keempat. Sunny kelima. Dan kedua anak itu sangat gembira. Amber keenam, jauh dari kedudukan juru kunci. Dan ia memeproleh nilai terbaik di mata pelajaran sejarah! Pipinya memerah saat Mrs. Park membacakan hal itu. ia dekat kedudukan puncak, dan mendapat nilai tertinggi dalam sejarah! Amber berpaling kearah tempat duduk para tamu. Dilihatnya ibunya. Sekali lihat saja Amber merasa ibunya sama bangganya dengan ibu-ibu lain!
“aku tak tahu apa yang dilakukan oleh SM pada uri-Amber,” pikir Mrs. Liu, ibu Amber. “ ia tampak berbeda. Tadinya ia begitu biasa wajahnya. Kini tampak cantik bila tersenyum. Dan betapa bahagia dan riangnya ia berkumpul dengan teman-temannya!”
Suatu sore yang indah. Dan malam harinya Rapat Besar terakhir diadakan. Siwon baru mengumumkan bahwa aka nada suatu kejutan nanti setelah segala kegiatan selesai dilaksanakan.
Kotak uang dikosongkan, isinya dituang dimeja dan dibagi rata untuk semua murid. Ini selalu dilakukan setiap akhir semester. Anak-anak gembira menerimanya, sebab ini berarti mereka akan memulai masa liburan mereka dengan sejumlah uang di saku.
Kemudian Siwon berkata, “dengan sangat menyesal aku mengumumkan bahwa kita akan kehilangan Key dalam semester mendatang. Ayah-ibu Key akan pergi ke luar negeri dan ia akan ikut mereka. Maka kita tidak akan bertemu dengannya lagi sampai ia kembali. Dan itu mungkin memakan waktu 6 bulan.”
Keadaan hening. Semua mendengarkan dengan penuh perhatian. “disini aku merasa terpanggil untuk berkata, bahwa kami sangat berterima kasih pada Key. Ia telah melakukan tugasnya sebagai Pengawas dengan sangat baik dan bijaksana selama beberapa semester. Ia telah melakukan banyak sekali tindakan yang menggambarkan kebaikan hatinya, tindakan yang sering tidak pernah kita ketahui dan hanya dinikmati oleh mereka yang dibantunya. Kami akan sangat kehilangan dia, dan kami akan sangat gembira bila ia nanti kembali ke tengah-tengah kita.”
“gomaseumnida,” sambut Key dengan muka merah. Ia seorang anak yang pendiam dan pemalu, tapi sangat disukai oleh semua anak. Seluruh sekolah memang merasa kehilangan atas kepergiannya.
“karena Key tidak akan berada diantara kita semester mendatang, maka kita harus memilih seorang Pengawas baru untuk menggantikannya,” kata Boa. “kalau kalian kehendaki, tentu saja Kris bisa kembali menjadi Pengawas, menggantikan Key. Tapi kalian boleh juga memilih orang lain, yang kalian anggap patut menjadi Pengawas. Sooyoung, bagikan kertas suara!”
Sooyoung berdiri, membagikan secarik kecil kertas kepada setiap murid yang ada disitu. anak-anak itu agak lama termenung, berpikir. Agak sulit juga tiba-tiba harus memilih, tanpa lebih dahulu mereka membicarakannya. Taeyeon menggigit-gigit pensilnya. Ia harus menulis nama siapa?
Akhirnya ia memutuskan untuk memilih nama Shim Changmin. Walaupun dalam hati ia merasa bahwa Changmin bukanlah pilihan yang tepat untuk dijadikan Pengawas dengan hanya satu hal yang sangat diketahui Changmin, yaitu berkebun. Tapi tidak apa kalau ia diberi kesempatan. Maka akhirnya Taeyeon menulis di kertasnya : Shim Changmin.
Segera juga yang lain selesai menulis. Kertas-kertas dikumpulkan oleh Dewan Juri, dibuka dan dihitung. Setelah diketahui nama tiga calon dengan suara terbanyak, para Juri menuliskan pilihan mereka, dan menyerahkannya pada kedua Hakim.
Siwon dan Boa membaca kertas-kertas pilihan para Juri, membicarakannya dengan perlahan. Kemudian, Siwon mengetuk meja.
“tiga nama telah memperoleh suara terbanyak,” kata Siwon. “Shim Changmin, Kim Yesung, yang terutama dipilih oleh anak-anak kecil dank au mesti bangga untuk itu, Yesung, dan………Kim Taeyeon!”
Terlompat Taeyeon dari tempat duduknya. Tak pernah terpikir olehnya bahwa ada yang memilih namanya. Tak pernah terpikir olehnya ada anak yang menganggap ia cukup bijaksana untuk menjadi Pengawas! Suatu kejutan besar!
“dalam semester ini, kita telah mendengar banyak tentang Kim Taeyeon,” kata Siwon. “ada yang baik, ada yang buruk. Tapi baik Boa maupun aku telah memperhatikan betapa baiknya Taeyeon menanggung beban kekecewaan akhir-akhir ini. ia melupakan kekecewaannya, melupakan kepentingan dirinya dan giat membantu anak lain, membantu kelasnya. Maka tidak heran kalau banyak yang memilihnya.”
“kami tahu bahwa kekecewaannya itu datang padanya karena ulahnya sendiri,” Boa melanjutkan kata-kata Siwon. “tapi kita tidak boleh lupa bahwa ia sampai mengorbankan pergelangan tangannya karena mencoba menghentikan kuda Sehun. Itu suatu tindakan yang sangat berani. Taeyeon, kau memang campuran berbagai sifat. Kau bisa berbuat konyol, tapi kau juga bisa berlaku bijaksana. Kau bisa tidak sabaran, tapi kau juga bisa bersabar. Kau bisa bertindak keji, tapi kau juga bisa baik hati. Diatas semua itu kita tahu bahwa kau selalu berusaha untuk berlaku adil, bijaksana, dan setia.”
Boa berhenti sejenak. Taeyeon menunggu, dadanya berdebar keras. Apakah Boa akan mengatakan bahwa ia harus mencoba lagi, berusaha lagi, dan baru semester yang akan datang bisa jadi Pengawas kalau ia berusaha lebih baik?
Tidak. Boa ternyata tidak mengatakan begitu. Ia tersenyum pada Taeyeon dan berkata lagi, “Taeyeon, baik aku maupun Siwon telah sangat mengenalmu sekarang. Dan kami yakin kalau kami mengangkatmu menjadi Pengawas, kau tidak akan mengecewakan kami. Kau akan memperlakukan anak lain lebih daripada kau memperlakukan dirimu sendiri. karena itu kami merasa cukup aman untuk memanggilmu maju, dan duduk di meja para Pengawas, serta minta padamu untuk berusaha menjadi yang terbaik dalam semester yang akan datang.”
Dengan pipi serasa terbakar dan mata bersinar-sinar Taeyeon maju ke meja juri. Belum pernah ia begitu bangga dan bahagia. Ia tak peduli tak bisa berduet dengan Kangta di pertunjukan sekolah. ia tak peduli tak bisa main di berbagai pertandingan dan permainan olahraga. Nasib sialnya ternyata telah berubah menjadi nasib luar biasa baiknya. Ia telah diangkat menjadi Pengawas!
Ia mengambil tempat disamping Sunny yang langsung menjabat tangannya dan berbisik, “Taeyeon-ah, aku senang sekali!”
Dan disinilah kita meninggalkan Taeyeon. Duduk di meja Pengawas, melamunkan berbagai rencana hebat yang akan dilaksanakannya semester berikutnya. Ia jadi Pengawas! Jinjja? Si Trouble Maker itu sekarang jadi Pengawas?
“walaupun aku jadi Pengawas, mungkin sekali aku masih akan melakukan beberapa tindakan konyol.” Pikir Taeyeon. “Tapi tidak apa. Aku telah mendapat kesempatan ini. dan akan kutunjukkan pada semua orang bahwa aku mampu berbuat sesuatu dalam semester nanti!”
Kita harap Taeyeon akan mampu membuktikan kemampuannya!

-THE END-

[FF] Trouble Maker – Chapter 25

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 25 : Taeyeon is Annoying
Taeyeon mengetuk pintu Sanatorium. Ibu Asrama sedang berada didalam, merawat 2 orang anak yang sedang sakit. Ibu Asrama keluar mendengar ketukan Taeyeon.
“ada apa?” tanya Ibu Asrama. “kau tidak boleh masuk.”
“arasseo,” kata Taeyeon. “tanganku terkilir. Mugnkin anda bisa mengobatinya.”
Ibu Asrama memeriksa pergelangan yang bengkak itu. “wah, pasti sakit sekali rasanya. Bagaimana kejadiannya?”
Taeyeon menceritakan apa yang terjadi. Ibu Asrama merendam kain perban dalam air dingin dan membebatkannya erat-erat dipergelangan yang sakit itu.
“apakah bisa cepat sembuh?” tanya Taeyeon. “untung bukan tangan kananku.”
“kukira agak lama. Jangan digerak-gerakkan, ya. begini, akan kubuatkan penggantung tangan dari saputangan ini, dan ku belitkan ke lehermu. Nah, kurasa ini cukup membantu.”
Sudah lewat waktu minum teh. Ibu Asrama mengajak Taeyoen ke kamarnya, dan ia diberi beberapa potong roti bakar. Taeyeon sangat lelah dan pucat. Rasanya ia tak ingin makan apapun, tapi tergiur juga oleh roti bakar selai strawberry itu. tak lama ia telah memakannya sambil minum coklat hangat yang juga dihidangkan oleh Ibu Asrama.
Kemudian ia kembali ke kamarnya, teman-temannya telah menunggunya didepan asrama. Sunny segera berlari menjemputnya, bertanya khawatir, “Taeng? Apa kau luka? Parah?”
“ani. Hanya sakit sekali rsanya,” kata Taeyeon. “tapi lumayan juga karena Ibu Asrama telah membebatnya. Seperti biasa ini memang salahku sendiri. aku tak sabar menunggu Yesung. Lalu kupasang pelana pada Genie untuk Sehun. Dan ternyata Genie melarikan diri!”
“kasihan sekali kau.” Kata Sulli.
Yesung tak berkata apa-apa. Wajahnya tampak masih marah.
Tak lama kemudian Suhun muncul. “nunna, bagaimana pergelangan tanganmu? Aku sangat menyesal. Kurasa kau tidak akan bisa main piano.”
Taeyeon belum pernah memikirkan hal itu. ia ternganga terkejut oleh kata-kata Sehun.
“ommo! Benar juga! Aku lupa itu. oh, padahal aku ingin sekali berlatih lebih keras lagi minggu ini. dan sekarang aku hanya punya satu tangan!”
Semua anak merasa kasihan padanya. Yesung mengangkat kepalanya dan berkata, “sayang sekali, taeng. Kuharap tanganmu sudah sembuh nanti pada saat pertunjukan akhir semester.”
Taeyeon gusar sekali. Tak terasa airmatanya mulai menetes lagi, dan cepat-cepat ia menghapusnya. Ia tidak ingin teman-temannya tahu ia menangis. Ia pergi ke salah satu ruang latihan music. Sendiri ia duduk dikursi piano, menopang kepalanya ke standar buku music. Ia sangat marah pada dirinya sendiri, berbuat sebuah kebodohan yang seperti biasa membuahkan kesulitan bagi dirinya sendiri.
Kangta masuk menggumamkan sebuah lagu. Ia tak melihat Taeyeon, sampai kemudian ia menyalakan lampu. Ia heran melihat Taeyeon sendirian di ruangan gelap itu.
“ada apa?” tanya Kangta. “kenapa kau menangis?”
“sebab yang kau katakan terjadi,” kata Taeyeon dengan sedih. “kau mengatakan bahwa aku jadi sombong akan permainan pianoku. Dan kau berkata pula yang angkuh akan jatuh. Kau benar. Aku telah melakukan sesuatu yang bodoh. Dan pergelangan tanganku sekarang sakit. Aku tidak akan bisa main piano bersamamu. Aku tidak akan bisa memainkan duit denganmu di akhir semester nanti.”
“oh, sayang sekali.” Kata Kangta kecewa. “jadi aku akan terpaksa bermain dengan Sungmin. Padahal ia jauh sekali darimu, Taeyeon, dalam hal kepandaian bermain piano.”
“harusnya kau tidak berkata’yang angkuh akan jatuh’,” tangis Taeyeon. “aku merasa seolah-olah kaulah yang membuat semua ini terjadi.”
“babo! Benar-benar kekanak-kanakan pikiranmu, ateng. Bagaimanapun, bergembiralah. Mungkin keadaan ini tidak akan seburuk yang kau duga. Hmm..kau masih bisa tampil dengan Kyuhyun, Jessica dan Donghae. Kupikir kemampuan menyanyimu jauh diatas permainan pianomu. Sudahlah, sekarang akan kumainkan sebuah lagu untukmu. Turunlah dari kursimu.”
Taeyeon turun dari kursi piano, dan duduk dikursi disudut ruangan. Marah dan lelah. Ia tak senang pada Sehun dan kudanya yang melarikan diri. Ia tak senang pada Kangta. Ia tak senang pada Yesung. Ia tak senang pada dirinya sendiri. ia marah. Kesal. Lelah. Tak ingin merasa senang pada siapapun dan apa pun. Tapi music Kangta membuat segalanya berbeda. Sedikit demi sedikit kerut di kening yeoja itu menghilang. Ia menyandarkan diri, merasakan nada-nada lembut piano mengisi kesunyian ruangan itu. Kangta tahu benar bahwa music akan bisa menyejukkan hati Taeyeon.
Sebelum lagu Kangta habis, Taeyeon menyelinap keluar, kembali asrama. Mungkin pergelangan tangannya akan membaik besok. Mungkin ia terlalu khawatir untu ksuatu persoalan kecil.
“Taeyeon, ayo bantu aku menyelesaikan puzzle ini,” ajak Amber, “entah yang mana yang bisa masuk tempat ini.”
Semua bersikap baik pdanya. Taeyeon bersyukur tapi ia lebih gembira lagi waktu lonceng tidur berbunyi, sebab kakinya terasa kaku, dan pergelangan tangannya sakit. Ibu Asrama memeriksanya sekali lagi, mengganti bebatnya dan menaruhnya digantungan tangan.
“lebih baik kau memakai gantungan tangan itu dulu,” kta Ibu Asrama, “agar tak banyak bergerak dan tak terlalu terasa sakit.”
Taeyeon berharap mudah-mudahan sakitnya sembuh saat ia bangun besok. Tapi ternyata tidak, tangannya masih bengkak dan memar, walaupun tak begitu terasa sakit. Ia tidak akan mungkin main piano. Tapi setidaknya ia memutuskan akan bernyanyi berempat bersama Jessica, Kyuhyun, dan Donghae.
Kemudian Taeyeon baru sadar betapa sulitnya mengerjakan hal-hal sepele dengan satu tangan. Ia tak bisa mengikatkan pita rambutnya. Ia tak bisa mengikatkan tali sepatunya. Ia tak bisa mandi dengan baik. Bahka ia tak bisa mengancingkan bajunya sendiri.
Teman-temannya semua membantu apa yang bisa mereka lakukan. Tapi Taeyeon begitu kesal hingga sulit untuk dibantu. Ia tak mau berdiri tenang. Ia menggeleng-gelengkan kepala waktu Sunny mencoba merapikan rambutnya. Ia menghentakkan kaki waktu Amber mencoba mengancingkan bajunya, sehingga kancing-kancing itu banyak yang salah lubang karena Taeyeon tidak bisa diam.
“aigoo!” seru Sunny. “kau kembali jadi yeoja badung lagi! Kau benar-benar menyebalkan bagi semua orang!”
“kau juga pasti begitu kalau mengalami kejadian seperti ini,” kata Taeyeon mara, “kalau saja yang sakit tangan kananku, makan aku pasti boleh tidak mengikuti semua ulangan akhir semester. Tapi karena tangan kiriku yang sakit, maka aku harus tetap mengikuti semua ulangan, sementara aku terpaksa tak bisa mengikuti semua kegiatan yang paling kusukai. Olahraga, naik kuda, berkebuh, music,…oh, betul-betul sial aku ini!”
Beberapa hari kemudian Ibu Asrama berkata bahwa Taeyeon sudah boleh menggunakan tangannya lagi. Tapi malang bagi Taeyeon, tangan kirinya itu kini serasa tak punya kekuatan, hingga ia tak berani sering-sering menggunakannya. Dokter juga berkata ia tak boleh memaksa tangan kiri itu, segalanya harus dilakukan secara bertahap. Ia harus bersabar.
Itulah salah satu yang paling tak bisa dilakukan Taeyon. Bersabar! Ia sedang gusar, dan itu tak menyembunyikannya. Ia cepat tersinggung. Semua anak segera tahu hal itu. ia marah pada Kangta karena sekarang Kangta berlatih duet dengan Sungmin.
Dan ternyata ia juga tak bisa ikut bermain drama, sebab ia berperan sebagai prajurit yang harus melakukan beberapa gerakan dengan senjata yang tak bisa dilakukannya dengan pergelangan tangannya yang lemah itu. habis kesabaran Taeyeon.
Teman-temannya sanat khawatir akan perkembangannya. Juga sangat kecewa. Mereka terus membicarakannya.
“maikn lama ia makin menyebalkan,” kata Sulli. “makin pemarah. Tak seorang pun bisa melakukan sesuatu untuknya. Ada-ada saja alasan baginya untuk marah. Ia tak bisa tidak menaruh kasihan pada dirinya sendiri yang telah kehilangan begitu banyak kegiatan yang digemarinya. Sayang sekali ia tidak bisa ikut berolahraga, padahal ia sangat menyukai semua cabang olahraga.”
“ayo kita pikirkan sesuatu yang bisa dilakukannya,” kata Sunny. “misalnya saja berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Atau mungkin ia bisa menghibur Kris yang masih harus berbaring di Sanatorium, membacakan buku untuknya misalnya. Banyak sekali yang bisa dikerjakan. Taeyeon juga pandai merancang dan melukis, mungkin ia bisa membantu dengan membuat beberapa buku acara untu kpertunjukan drama kita. Ia masih bisa menulis dan melukis dengan tangan kanan. Kita juga memerlukan mahkota-mahkota emas, Yesung berjanji akan membuatnya, dan Taeyeon mungkin bisa membantunya mengecatnya dengan cat emas.”
Semua setuju bahwa jika Taeyeon diberi tugas-tugas, mungkin sekali ia akan melupakan kemarahannya. Maka satu persatu mereka mendatangi Taeyeon untuk minta dibantu ini-itu.
Taeyeon anak cerdas. Ia segera mencium maksud teman-temannya itu. mula-mula ia cenderung untuk langsung menolak permintaan mereka. Untuk apa ia melakukan sesuatu untuk kesenangan orang lain, padahal dirinya sendiri tak bisa merasa senang? Sunny melihat air muka masam Taeyeon, lalu segera menuntunnya keluar.
“kajja, ikut jalan-jalan,” kata Sunny. “dan kita bisa mengobrol. Aku sekarang seorang Pengawas dan aku punya hak untuk menasihatimu dan menolongmu.”
Mereka berjalan-jalan di taman. “aku tahu apa yang akan kau katakan,” kata Taeyeon. “kau akan berkata bahwa tindahku buruk sekali. Aku tidak akan bisa jadi Pengawas sepertimu, aku tidak akan bisa melupakan kepentingan diriku sendiri, aku tidak akan bisa turun tangan jika ada sesuatu yang kuanggap tidak beres.”
“Taeyeon, kau benar-benar bodoh.” Kata Sunny dengan sabar. “kau tidak tahu apa yang bisa kau lakukan sebelum kau mencobanya. Semester ini tinggal 2 minggu lagi. Jangan membuat waktu yang singkat itu tak menyenangkan bagimu. Kami semua menyukaimu, mengagumimu. Jangan sampai hal kecil seperti sakit pergelangan tanganmu itu membuat perasaan kami padamu berubah, membuat kami tak senang padamu, tak kagum padamu. Kau sebenarnya memang sangat mengesalkan. Kau membuat segalanya sulit bagi sahabat-sahabatmu.”
Taeyeon menendang sebuah batu dijalan. Mengapa ia membuat teman-temannya kesal, pikirnya, padahal sakit tangannya itu karena kesalahannya sendiri. ia benar-benar tak bisa berpikir dewasa! Akhirnta Taeyeon memegang tangan Sunny.
“baiklah, Pengawas! Akan ku bantu kau sejauh aku mampu. Aku akan membuat buku acara, kau akan berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Aku akan membacakan buku untuk Kris. Aku akan mengecat mahkota emas itu. kalau tinggal 2 minggu saja aku tak bisa bersikap baik, sungguh keterlaluan, bukan?”
“sebenarnya karena kami tahu bahwa kau mempunyai pribadi yang kuat, maka kami tak rela tiba-tiba kau berkepribadian lemah. Baiklah, lakukan apa saja yang kau rasa baik.”
“sekali Taeyeon membaut keputusan, maka keputusan itu pasti dilakukannya. Seperti juga ia bisa tak sabaran, maka ia pun bisa bersabar hati. Seperti juga ia bisa jadi pemurung, ia pun bisa bersikap ceria. Dan perubahan ini berlangsung seketika!
Ia langsung membuat rencana buku acara. Ia bisa memegang kertas dengan tangan kiri, hingga dengan mudah ia bisa menggambar dengan tangan kanan. Tak lama ia sudah menyelesaikan 6 buah buku acara. Indah dan menarik, dan dikagumi teman-teman sekelasnya. Taeyeon sangat gembira.
“sekarang aku akan menjadi anak baik dan aku akan berlatih vocal bersama Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Yah, setidaknya aku bisa tampil di pertunjukan akhir semester meskipun tidak bermain piano. Dan kemudian mengunjungi Kris. Membacakan sebuah buku untuknya,” katanya sambil tersenyum riang pada siapa saja. begitu ia keluar ruangan, semua tertawa.
“ia memang bukan main badungnya, tapi kita menyukainya,” kata Sulli. Dan semua anak setuju pada pendapat itu.
to be continue..

readers, 1 chapter lagi tamat nih, hohoho

[FF] Trouble Maker – Chapter 24

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 24 : The Scary Experience
Bulan Desember tiba. Sekolah SM sibuk mempersiapkan berbagai pertunjukan untuk akhir semester nanti. Cuaca sering buruk, sehingga banyak kegiatan di luar gedung terpaksa dibatalkan.
“bahkan untuk berkebun juga tidak baik,” gerutu Changmin, kemudian melihat keluar jendela. “tanah begitu lembek sehingga tidak bisa digali.”
“bisa sih bisa tapi kau akan basah kuyup,” kata Sunny. “seharusnya kau cari kesibukan lain. Tapi mestinya kau akan sibuk menekuni buku-buku berkebunmu.”
Sunny bangga sekali menjadi Pengawas. Dilakukannya semua tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh kebanggaan. Diperhatikannya betul-betul bahwa anak-anak dibawah pengawasannya tidak ada yang melanggar peraturan. Dan kalau mereka datang padanya minta bantuan atau pertolongan, maka ia berusaha keras untuk bisa membantu, paling tidak dengan nasihat. Ia juga harus bertindak selalu bijak dan sabra, dan ini tak begitu sulit baginya, karena pada dasarnya ia memang anak yang bijak dan baik hati.
Taeyeon merasa sangat gembira Sunny menjadi Pengawas. Ia sama sekali tidak merasa iri, walaupun ia punya keinginan juga menjadi Pengawas. Lagi pula Sunny telah berada lebih lama darinya. Ia harus mampu menunggu gilirannya dengan sabar, walaupun sabar bukan salah satu sifat Taeyeon.
Taeyeon dengan tekun berlatih music, dan melatih duetnya dengan Kangta berkali-kali. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa bermain sangat bagus dibidang music. Mr. Shin sering memujinya.
“Taeyeon, kau berlatih terlalu rajin. Permainanmu sangat luar biasa baiknya semester ini.”
Taeyeon merasa bangga. Asha! Akan ditunjukkannya pada semua orang betapa pandainya dia bermain music. Kalau orangtuanya hadir, pasti mereka heran dan bangga melihat dia bermain duet begitu sulit dengan orang sehebat Kangta.
“kau tampaknya jadi terlalu sombong akan permainanmu, Taeyeon,” kata Kangta. Kangta kalau bicara memang selalu ceplas-ceplos, tidak pernah dipikir sebelumnya, kadang-kadang memang menyakitkan hati. “sayang sekali. Aku menyukai permainanmu. Tapi aku tidak suka kalau kau jadi sombong karenanya.”
“jangan bicara begitu, oppa,” kata Taeyeon, meluap amarahnya tapi ditahannya. “bukankah aku tidak berkata padamu bahwa kau juga sombong?”
“aniya. Sebab aku memang tidak sombong. Aku tahu benar aku punya bakat music. Aku tahu benar itu anugrah Tuhan, sesuatu yang membuatku bersyukur. Dan aku akan selalu menggunakan bakatku itu sebaik mungkin. Tapi aku tidak akan pernah menyombongkannya.
Taeyeon merasa tersinggung. Terutama karena ia tahu bahwa kata-kata Kangta ada benarnya. Ia memang sedikit besar kepala karena terlalu sering dipuji!
“tapi kenapa aku tidak boleh membanggakan kepandaianku,” pikir Taeyeon. “aku tidak memiliki bakat hebat seperti Kangta. Kepandaianku karena hasil jerih payahku, sudah selayaknya aku patut berbangga, bukan?”
Karena itu Taeyeon tetap saja merencanakan untuk memamerkan kepandaiannya pada pertunjukan akhir semester. Ia akan membuat semua orang kagum akan kepandaiannya memainkan piano. Tapi memang, siapa sombong akan terdorong, siapa angkuh akan jatuh, dan siapa takabur akan hancur. Taeyeon juga akan tahu itu, dengan cara yang cukup mengerikan.
Taeyeon, Yesung, Changmin, dan Amber telah merencanakan untuk pergi berkuda disuatu sore, sebelum waktu latihan olahraga. Sehun mendadak muncul dan minta pada Yesung agar ia juga diperbolehkan ikut.
“tidak bisa, Sehun-ah,” kata Yesung. “kuda yang biasa kau tunggangi pincang, dank au belum begitu bisa menguasai yang lain. Tunggu saja sampai kudamu sembuh.”
“oh, ayolah, biarkan aku naik kuda yang lain,” pinta Sehun. “kau kan tahu, aku sudah cukup bisa berkuda.”
“biarlah dia ikut, Yesung,” kata Taeyeon. “ia bisa naik Genie.”
“Tapi Genie hari ini agak aneh,” kata Yesung. “baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau keadaan Genie membaik jam 2 nanti, kau boleh ikut.”
Sudah jam 2. Ternyata Yesung belum berada di kandang. Yang lain sudah berkumpul. Taeyeon memasang pelana pada kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Dan Yesung belum juga muncul.
“aigoo..” keluh Taeyeon. “ini sudah jam 2 lebih 10 menit. Yesung kemana sih? Kita membuang-buang waktu saja.”
Sehun cepat berlari untuk mencari Yesung. Tapi beberapa menit kemudian ia telah kembali dan berkata bahwa ia tak bisa menemukan Yesung.
“geurae, kalau kita ingin berkuda, sebaiknya cepat berangkat,” kata Taeyeon. “bisa habis waktu kita nanti.” Ia memanggil pengurus kuda.
“Hey, Tao! Bolehkah aku memasang pelana Genie? Apa Genie sudah baik?”
“dia tampaknya agak gelisah,” sahut Tao. “lihat saja sendiri.”
Taeyeon pergi ke kandang Genie. Kuda kecil itu segera menciumi tangannya. Taeyeon menggaruk-garuk hidung Genie dan berpikir, “sepertinya kuda ini baik-baik saja.” dan ia berkata pada Sehun, “kurasa kuda ini sudah baik, Sehun-ah. Baiklah kupasangkan pelanamu. Aku yakin Yesung akan berkata bahwa kau boleh menungganginya.”
Cepat-cepat Taeyeon memasang pelana pada Genie, dan Sehun langsung melompat kepunggung kuda itu. keempat anak itu tak lama kemudian sudah berkuda di padang rumput.
“kita tak punya banyak waktu!” seru Taeyeon. “tinggal 20 menit! Setelah sampai di bukit, kembali lagi saja!”
Mereka berderap di jalan yang menuju ke bukit. Dan terjadi sesuatu!
Ketika mereka menikung, dari arah depan ternyata sebuah mesin penggilas muncul, menderu-deru dan menderam-deram. Genie melonjak ketakutan. Sehun mencengkram kendalinya.
Cepat-cepat Taeyeon memajukan kudanya, mencoba menyambar kendali Genie. Tapi Genie mengibaskan kepala, meringkik keras dan melesat memasuki sebuah gerbang yang terbuka kearah sebuah padang.
Dan Genie melarikan diri! Ketiga anak yang tertinggal itu sesaat ternganga ketakutan, kasihan sekali Sehun! Dibawa lari Genie, berpegangan erat-erat ketakutan, sementara kudanya bagaikan gila berlari menyebrangi padang berbatu menuju bukit.
“akan kukejar dia!” teriak Taeyeon. Dibelokkannya kudanya, berpacu cepat memasuki padang. Ia berteriak pada kudanya, ia menepuk punggung kuda itu. dan sang kuda mengerti ia harus mengejar Genie yang lari tak terkendali itu.
Menyebrangi padang berbatu itu Taeyeon terus mengejarnya, sementara Changmin dan Amber terpaku ketakutan. Dikejauhan Genie juga terus berpacu, membawa Sehun dipunggungnya.
Kuda Taeyeon jauh lebih besar dan lebig cepat daripada Genie. Dan ia pun sangat senang berlari cepat. Kakinya mengepak keras membuat kerikil beterbangan. Dan Taeyeon terus saja membujuk agar ia berlari lebih cepat lagi! Untunglah ia cukip pandai berkuda dan ia sangat mempercayai kudanya. Mereka berpacu terus, dan makin lama makin dekat dengan Genie.
Saat itu Genie sudah mulai terengah-engah, sebab mulai menanjak lereng bukit yang terjal. Kini ia mulai menderap lambat, sementara Sehun berusaha keras menghentikannya. Tapi Genie masih ketakutan.
Taeyeon terus berpacu dan akhirnya menyusul Genie. Tapi Genie jadi ketakutan lagi melihat kedatangannya. Ia menjulurkan leher dan mulai berlari cepat lagi.
Untung Taeyeon berhasil menyambar cepat kendalinya. Dan saat Genie merasakan tangan kecil tapi kuat menahan kendalinya, ia mulai tenang. Taeyeon membujuknya terus. Taeyeon tahu cara berbicara dengan kuda, Genie hanya sekali mencoba membebaskan diri, kemudian dengan patuh ia memperlambat langkahnya, gemetar sekujur badannya.
Sehun juga gemetar. Ia segera turun. Taeyeon melompat turun dari kuda dan cepat memegang kepala Genie. Dalam beberapa menit saja ia telah membuat tenang kuda itu. tapi ia belum berani menungganginya.
“Sehun-ah, naiklah kudaku dan pergilah ke anak-anak yang lain,” kata Taeyeon. “aku akan menuntuk Genie pulang. Katakana pada Choi seonsaengnim aku tidak bisa datang tepat pada waktunya untuk latihan. Cepat berangkatlah!”
Sehun anik kuda Taeyeon segera pergi menemui yang lain. Rasa takutnya segera hilang dan ia mulai membual pada Changmin dan Amber tentang pengalamannya di atas kuda yang melarikan diri tadi. Ketiga anak itu langsung pulang, menyampaikan pesan Taeyeon, sementara Taeyeon harus berjalan menuntun Genie, menempuh jarak yang lumayan jauhnya!
Tak lama Taeyeon sudah merasa letih dan kesal. Kejadian tadi mengakibatkan suatu kecelakaan yang mengerikan. Mungkin saja Sehun jatuh dan terluka parah. Kenapa ia memperbolehkan Sehun menaiki Genie sebelum dapat persetujuan dari Yesung? Tapi Yesung juga salah, mengapa ia tidak datang tepat waktu?
Tangan kirinya terasa sakit. Tadi ia menggunakan tangan itu untuk menyambar tali kendali Genie. Dan sepertinya karena tarikan Genie maka terjadi salah urat pada tangan kirinya itu. Dimasukannya tangan itu kedalam mantelnya, berharap semoga kehangatan bisa membuatnya lebih baik. Sungguh sengsara ia berjalan menyebrangi padang dan menyusuri jalan sambil menuntun kuda yang mendengus-dengus dan terengah-engah karena kelelahan.
Pengurus kuda tampak gusar waktu ia datang. Yesung juga lari keluar dan langsung memarahinya.
“Kim Taeyeon! Sudah kudengar semuanya!” kata Yesung. “bodoh sekali kau memperbolehkan Sehun naik Genie. Aku terpaksa terlambat datang karena harus mengerjakan sesuatu untuk Sooman sajangnim. Harusnya kau menunggu sampai aku datang! Kalau saja kau menungguku, peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi, sebab pasti aku tidak akan mengijinkan Genie ditunggangi. Kau ini selalu saja tak pernah berpikir kalau bertindak!”
Taeyeon begitu letih, tangannya begitu sakit. Tak terasa air matanya mengalir.
“bagus sekali, kau jadi bayi sekarang, hah?” Yesung berkata mengejek. “kau kira kalau kau menangis aku akan kasihan? Lalu aku tidak akan memarahimu? Dasar yeoja! Untung saja Sehun dan Genie tidak apa-apa.”
“Yesung! Jangan terlalu keras memarahiku!” Taeyeon tersedu-sedu. “tanganku sakit sekali, dan aku memang sangat meyesal telah memperbolehkan Sehun menaiki Genie.”
“oh, ya Tuhan!” seru Tao yang semula diam saja melihat pertengkaran keduanya. “tanganmu bengkak, Taeng!”
“coba kulihat tanganmu,” kata Yesung agak lebih lembut. Dan kemudian tampak cemas dan khawatir. “cepat pergi ke Ibu Asrama. Sepertinya cukup gawat tanganmu ini. jangan terlalu bersedih, nasi sudah jadi bubur. Lain kali berpikirlah 2 kali sebelum mengambil keputusan. Sudah,uljima!” Kata Yesung sambil menghapus air mata Taeyeon kedua jari jempolnya penuh perhatian.
“bukan karena itu aku menangis,” kata Taeyeon kesal. “aku menangisi kuda yang begitu binal itu, dan tanganku yang sangat sakit!”
Taeyeon bergegas ke tempat Ibu Asrama. Kasihan sekali. Selalu ada saja yang terjadi pada Taeyeon.
“Taeyeon!” panggil Yesung dari kejauhan membuat Taeyeon menoleh ke belakang. “berhentilah membuatku khawatir!”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 23

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 23 : Surprise For Sunny
2 bulan dari semester Natal telah lewat. Rapat Besar telah diadakan 7 kali. Dan yang kedelapan akan diadakan Jumat ini. dalam rapat nanti itu akan dipilih seorang Pengawas baru, sebab salah seorang Pengawas lama, Kris, terpaksa harus tinggal di Sanatorium selama 1-2 minggu karena flu.
“bagaimana cara memilih Pengawas baru?” tanya Yesung. “belum ada Pengawas baru yang dipilih sejak aku ada disini. Semula kukira masa jabatan Pengawas satu bulan. Tapi sudah 2 bulan kita memiliki Pengawas yang sama.”
“ne, sebab Pengawas yang ada cukup bagus sehingga kita tidak menginginkan mereka diganti,” kata Sunny. “kalau kita menghendaki, setiap bulan kita bisa memilih Pengawas baru. Tapi tak ada gunanya memilih Pengawas baru kalau kita puas dengan Pengawas yang lama. Kukira saat ini semua Pengawas kita sangat bagus.”
“benar,” kata Taeyeon. ‘tadinya kukira jadi Pengawas sungguh tidak enak, harus menaati semua peraturan dan menjaga agar anak lain juga menaati peraturan itu. tapi sekarang berubah pendapat. Kurasa pasti menyenangkan kalau kita dipercaya oleh begitu banyak anak, dan menjadi tempat meminta tolong dan nasihat.”
“memang orang yang akan menjadi cukup berarti di dunia ini adalah mereka yang bisa dipercaya orang lain dan bisa dimintai pertolongan,” kata Sulli. “dan kita mendapat pelajaran untuk itu di SM ini. suatu hari nanti aku ingin sekali menjadi seorang Pengawas. Tapi seperti kau, taeng, rasanya keinginan tersebut tidak akan mungkin terkabul.”
“tapi belum ada yang menjawab pertanyaanku,” kata Yesung .
“apa pertanyaanmu tadi?” tanya Taeyeon.
“aku bertanya bagaimana Pengawas dipilih. Mereka dipilih oleh kita, oleh Juri, oleh hakim, atau oleh siapa?”
“mula-mula seluruh sekolah yang memilih,” kata Changmin. “tiap anak menulis di atas kertas nama anak yang mereka anggap baik untuk menjadi Pengawas, lalu ditutup rapat, dan diserahkan pada Juri.”
“lalu bagaimana?” tanya Yesung.
“lalu DewanJuri memilih 3 nama yang emndapat suara terbanyak,” kata Changmin. “kemudian setiap anggota Dewan Juri itu memilih satu nama yang terbaik menurut mereka masing-masing. Hasil pemilihan mereka diserahkan pada Hakim, Siwon dan Boa.” Kedua Hakim itu lalu memilih satu nama dari hasili pilihan Dewan Juri, dan terpilihlah seorang Pengawas baru.”
“oh, begitu.” Kata Yesung mengangguk-angguk. “sepertinya memang adil, semua memperoleh kesempatan untuk menyatakan pendapat. Itulah salah satu yang kusukai di SM ini. semua diberi kesempatan berbicara.”
“aku tak bisa berpikir siapa yang akan kupilih,” kataSulli. “sulit sekali menentukannya.”
“nado,” Sunny merenung. “sungguh suatu kehormatan untuk dipilih, jadi kita harus berpikir baik-baik, yang kita pilih haruslah orang yang memang pantas mendapat kehormatan itu.”
“bolehkah aku berjalan bersamamu dalam perjalanan pengamatan alam nanti?” Amber bertanya pada Sunny. “TAeyeon tidak bisa ikut, ia harus berlatih music dengan Kangta.”
“boleh,” kata Sunny. “tapi jangan datang terlambat, sebab aku yang harus memimpin nanti. Jadi kalau kau ingin berjalan bersamaku, kau harus datang tepat waktu.”
Amber datang tepat pada waktunya. Kedua anak itu berangkat dengan membawa buku catatan mereka, diikuti anak-anak lain yang juga berjalan berdua-dua. Mereka diharuskan mencari bunga ivy, jenis tanaman sulur-suluran, santapan terakhir serangga-serangga musim itu. mereka harus mencatat dan menggambar serangga-serangga yang mereka dapati pada bunga tersebut.
Sungguh menyenangkan berjalan-jalan berdua di sepanjang jalan setapak dan melintasi padang. Matahari musim dingin yang pucat bercahaya lembut, langit pun berwarna biru muda. Semua pohon sudah tak berdaun lagi, kecuali pohon pinus dan pohon fir yang ujung daun-daunnya berkilauan karena tetasan embun beku.
Amber menggumamkan sebuah lagu sambil matanya mencari bunga ivy. Sunny memandang heran padanya.
“aneh juga perubahan yang terjadi pada seseorang,” kata Sunny. “semester yang lalu aku menyaksikan betapa Taeyeon yang badung dan nakal berubah menjadi baik dan manis. Aku dan Yesung yang semula pemalu dan selalu merasa kesepian berubah menjadi senang bergaul. Dan sekarang aku juga berubah!”
“ne, ara. Tapi ada satu hal dariku yang tak bisa berubah, Sunny. Aku tetap seorang penakut.”
“apa maksudmu? Apa kau takut pada sapi, misalnya?” tanya Sunny heran.
“aniyo, tentu tidak. Aku takut akan pikiran orang lain. Itu lebih mengerikan daripada sapi! Tak seorang pun kecuali kau, Sulli, Sooyoung, dan Taeyeon yang tahu perbuatan jahatku. Ah, ya, juga Siwon dan Boa. Dan aku tahu pasti, misalkan saja yang berbuat itu kau, atau Sulli, atau Taeyeon, pastilah kalian dengan berani mengakuinya dihadapan seisi sekolah waktu Rapat Besar. Tapi aku tidak berani berbuat seperti itu.”
“tapi kenapa tidak? Kau tahu bahw seluruh murid akan sangat memuji keberanianmu mengaku. Dan ini akan mengurangi rasa marah mereka pada perbuatan jahatmu. Lain halnya kalau, entah karena apa, tersebar berita bahwa kaulah yang berbuat dan tidak mau mengaku. Semua akan tambah membencimu. Bahkan kau sendiri akan merasa benci pada caramu mengambil keputusan. Semua orang emmiliki keberanian yang sama. Hanya ada yang tidak bisa memutuskan kapan menggunakan keberanian tersebut.”
“jinjja?” tanya Amber. “maksudku, apakah aku juga punya keberanian? Apakah kau bisa menggunakannya kalau aku menghendakinya? Aku tidak harus menjadi penakut?”
“kau sungguh bodoh,” kata Sunny menggandeng tangan Amber. “bear! Tak seorang pun harus menjadi penakut. Setiap orang bisa menggunakan keberanian mereka pada saat mereka memutuskan utnuk menjadi berani. Cobalah di Rapat Besar nanti. Kau akan mengerti apa yang kumaksud.”
Saat itu mereka menemukan sekelompok bunga ivy yang sedang berkembang, dan percakapan mereka pun terputus. Mereka sibuk menulis dan menggambar. Namun Amber sebenarnya masih memikirkan kata-kata Sunny. Sungguh bagus kalau kata-kata itu benar. Kalau memang semua orang punya keberanian tersembunyi, tidak perlu ada penakut didunia ini! mereka tinggal menentukan saja kapan harus menggunakan keberanian itu.
“akan kucoba apakah aku bisa menggunakan keberanianku di Rapat berikutnya,” kata Amber dalam hati, walaupun makin dipikir, ia makin takut. “sungguh mengecilkan hati melihat anak-anak lain dengan mudah berdiri dan memberikan pengakuan mereka, sementara aku membuka mulut saja tidak berani.”
Sore itu sewaktu Rapat akan dimulai, Amber duduk dengan kaki gemetar, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia tak berkata apa-apa pada sahabatnya. Dan Rapat pun di mulai. Uang dikumpulkan ,dibagikan, lalu diberikan tambahan pada mereka yang membutuhkan. Ada yang ditolak, ada yang diterima. Kemudian sampailah pada acara keluhan dan laporan.
Hanya ada satu laporan dan satu keluhan. Semuanya ditanggapi dengan cepat.. kemudian sebelum melanjutkan acara dengan pemilihan Pengawas Baru, Siwon minta waktu untuk bicara.
“ada pengumuman sedikit,” kata Siwon. “dengan ini diumumkan bahwa Suho telah kembali ke kamar tidurnya, dan sekarang ia tak lagi mendengkur.”
Semua tertawa dan bebapa anak malah bertepuk tangan. Suho pun ikut tertawa.
Kemudian Siwon minta agar hadirin tenang. “aku juga ingin mengumumkan bahwa berdasarkan pengamatan banyak orang, maka dengan bangga dan gembira kami menyatakan sangat puas akan perkembangan yang terjadi pada diri Yesung. Dari semua pengawas, Boa dan aku menerima laporan-laporan yang sangat memuaskan. Dari pengurus kuda didapat keterangan bahwa ia hampir tak bisa bekerja lagi tanpa Yesung.”
Yesung berseri-seri kegirangan. Dan semua hadirin juga merasa senang bahwa bantuan mereka untuk memperbaiki pribadi Yesung telah berhasil dengan baik.
Dan saat itulah Amber mendapatkan keberaniannya. Tahu-tahu ia sudah berdiri, kakinya tak lagi gemetar dan suaranya mantap. Ia memandang para Hakim dan Dewan Juri lurus ke depan.
“aku ingin mengatakan sesuatu yang mestinya sudah kukatakan sejak dulu.” Kata Amber. “aku ingin mengatakan bahwa akulah yang melakukan perbuatan-perbautan yang dituduhkan pada Yesung. Sebelum ini aku terlalu takut untuk mengakui perbuatan itu.”
Hening seketika. Semua orang terpesona. Mereka yang belum tahu merasa terkejut akan kenyataan itu. mereka yang sudah tahu terkejut melihat keberanian Amber. Apa yang menyebabkannya mengaku?
Kemudia Boa berbicara, “lalu apa yang membuatmu berani mengaku kali ini?”
“sesuatu yang dikatakan Sunny padaku. ia berkata bahwa tak ada perlunya bagi seseorang untuk merasa takut. Menurutnya semua orang punya keberanian, yang jadi soal adalah bagaimana kita bisa menggali keberanian itu dan menggunakannya. Aku telah menggali keberanianku, dan menggunakannya. Sunny memang benar. Sekarang aku tak merasa takut lagi.”
“gomawo, Amber,” kata Boa.
Amber duduk. Kepalanya terasa ringan. Seakan beban berat telah diambil dari pundaknya. Ia telah mendapatkan keberaniannya dan tidak akan melepaskannya lagi.
“kita tidak akan membicarakan apa yang baru saja diakui oleh Amber,” kata Boa. “kami sangat gembira bahwa akhirnya ia punya keberanian untuk mengaku. Tentu saja aku dan Siwon sudah mengetahuinya, dan kami berharap suatu hari ia akan cukup berani mengaku pada kalian semua. sekarang ia sudahmengakui perbuatannya, dan kami semua sangat senang.”
“sekarang kita akan melanjutkan acara dengan pemilihan Pengawas baru,” kata Siwon. “seohyun, tolong bagikan kertas-kertas suara.”
Seohyun pun membagikan kertas yang dipotong kecil-kecil itu.
Setiap anak menuliskan nama anak yang dipilihnya, nama seseorang yang mereka anggap cukup baik untuk dijadikan Pengawas. Kertas-kertas tadi kemudian dikumpulkan oleh Juri, dibuka, dan dihitung. Tiga nama yang memiliki suara terbanyak disisihkan. Dan anggota Dewan Juri memilih dari ketiga anak ini, siapa yang dianggap terbaik. Juri-juri ini juga menulis di kertas, yang secara tertutup diberikan pada kedua Hakim.
Siwon dan Boa membuka kedua belas kertas itu dan membaca pilihan Dewan Juri. Mereka berunding dengan suara perlahan, sementara hadirin menunggu dengan perasaan tegang, sunyi senyap, menunggu siapa yang akan terpilih.
Kemudian Siwon mengetuk meja. Kesunyian mekin terasa. “tampaknya tak terlalu sulit untuk menjatuhkan pilihan kali ini,” kata Siwon. “tampaknya hampir semua diantara kalian telah memilih nama yang sama. Nama ini muncul di hampir semua kertas suara. Lee Sunny!”
Riuh rendah sorak-sorai dan tepuk tangan. Muka Sunny merah padam bagaikan kepiting rebus. Ia sama sekali tak menduga akan terpilih! Agaknya seluruh isi sekolah telah mendengar betapa bijaksananya Sunny dari apa yang dikatakan oleh Amber. Sekarang Sunny memperoleh pahalanya. Ia jadi Pengawas!
“kami memperoleh laporan yang sangat baik tentangmu dari para Pengawas,” kata Boa. “kami tahu bahwa kau bisa dipercaya, kau baik hati, dan cukup bijaksana bila mengingat umurmu. Kami yakin kau akan berusaha sebaik mungkin untuk sekolah kita. Majulah dan duduklah di meja Pengawas, Sunny. Kami dengan gembira menerimamu di meja Juri.”
Sunny pergi ke meja Juri, bangga dan bahagia. Taeyeon bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Ia begitu bangga dan gembira karena Sunny memperoleh kesempatan itu.
“Sunny pantas menerimanya.” Batin Taeyeon. “sangat pantas! Ya Tuhan, senang sekali kalau aku bisa jadi Pengawas. Tapi kurasa aku sama sekali tak punya bakat untuk itu. sama sekali tidak.”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 22

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 22 : Taeyeon Got a Problem (again)
Waktu berlalu dalam suasana bahagia. Dengan tak adanya pertengkaran antara Amber dan yang lain, serta antara Yesung dan Taeyeon, keadaan jadi lebih menyenangkan.
Taeyeon belajar dengan rajin, dan dengan mudah berada di puncak urutan peraih angka terbaik dikelasnya. Yesung kadang-kadang nomor 2, kadang-kadang nomor 3. Tapi ini sudah membuat Mrs. Song senang, sebab sebenarnya Yesung bukanlah anak pandai jadi keberhasilannya menandakan bahwa anak itu benar-benar bekerja keras. Amber juga belajar sebaik-baiknya, dan tak pernah membantah secara keterlaluan seperti dulu. Khususnya pada mata pelajaran bahasa Perancis ia memperoleh kemajuan pesat, sampai Mrs. Han suatu hari menyatakan kegembiraannya.
“anak dikelas ini yang mencapai kemajuan pesat adalah Amber,” kata Mrs. Han. “ah, dulu kukira dia bodoh sekali. Dulu aku sering memarahinya. Tapi sekarang karangan bahasa Prancisnya yang terbaik. Dan ia mengucapkan ‘r’ dalam bahasa Prancis tepat seperti semestinya. Tidak sepertimu Yesung! Kau tak pernah mengucapkan huruf ‘r’ secara tepat!”
Yesung tersenyum. Amber tersipu-sipu, tapi merasa sangat senang. ia belum pernah dipuji dikelas. Ia jadi heran juga kenapa dulu ia selalu memperoleh nilai buruk.
“kekuatan otakku tampaknya makin baik juga,” pikir Amber. “dan aku sekarang meyukai pelajaranku. Dulu aku bosan sekali pada pelajaran. Mungkin aku bisa terhindar dari kedudukan juru kunci. Wah, pasti hebat! Eomma akan sangat senang kalau peringkatku setidaknya mendekati peringkat atas.”
Ia memang khusus belajar lebih rajin pada pelajaran Mrs. Han. Ini suatu perubahan besar bagi Amber. Dulu setelah Mr. Han memarahinya, ia langsung tidak menyukai bahasa Prancis, termasuk gurunya, dan sembarangan saja belajar. Tapi sekarang segalanya berubah. Misalnya saja, Amber sekarang tampak lebih sehat. Ia sering berkuda, berjalan-jalan, dan bahkan menawarkan diri untuk membantu Changmin, Taeyeon, dan Sehun di kebun sekolah.
“ommo, aku tak pernah menyangka kau punya pikiran untuk membantu kami. Apa kau mengerti tentang berkebun?” tanya Changmin.
“tidak banyak,” jawab Amber secara jujur. 3 minggu sebelumnya mungkin ia akan berbohong dan membual serta mengatakan bahwa ia tahu banyak tentang berkebun. “tapi, Changmin, pasti aku bisa membantu sedikit-sedikit, bukan?”
“tentu, dorong gerobak isi sampah itu ke tempat sampah, tuangkan disana dan ambil sampah berikutnya,” kata Changmin. “pekerjaan itu terlalu berat untuk Sehun.”
Sehun sangat ingin membantu Changmin. Dan Changmin senang anak itu menaruh perhatian lebih pada pekerjaan di kebun sekolah. Sehun sering bercerita pada Changmin bahwa Yesung membawanya berkuda. Changmin lama-lama tertarik juga untuk mencoba.
“aku harus mencobanya sekali-kali,” kata Changmin. “walaupun dulu aku tak punya minat sama sekali. Memang waktu pertama kali masuk SM ini aku sering berkuda, tapi kemudian aku lebih tertarik berkebun, dan jadi lupa segala-galanya. Tapi besok aku akan mencobanya, Sehun.”
Sehun berbicara tentang hal itu pada Yesung. Dan ia setuju. Ia mengatur sehingga keeseokan harinya Changmin, Sehun, Taeyeon, Amber, dan ia sendiri bisa berkuda bersama. Menjelajahi padang rumput, perbukitan, dibawah cahaya pucat matahari musim dingin. Ternyata Changmin sangat menyukainya!
“aku akan ikut lagi lain waktu,” kata Changmin melompat turun dari pelananya. “benar-benar menyenangkan! Ommo, Amber, pipimu merah sekali! Padahal dulu kau begitu pucat. Ngomong-ngomong, apa kau bisa membantuku di kebun akhir minggu ini?”
“tentu!” seru Amber senang.
Senang sekali dimintai bantuan oleh seseorang. Ia sekarang merasa betapa indahnya mempunyai sahabat. Bila kita membantu seorang sahabat, maka sahabat kita itu pasti akan membalas membantu kita suatu hari. Dengan begitu akan lebih menyenangkan kalau kita punya sahabat banyak.
“benar juga kata Siwon dan Boa,” pikir Amber. “dulu aku iri pada Sulli, dan kukatakan dia sangat beruntung punya sahabat begitu banyak. Dan kukatakan hanya karena aku tak punya nasib baik sajalah maka aku tidak punya sahabat. Tapi sekarang karena aku bersikap manis, banyak peristiwa manis terjadi padaku. tepat sekali kata Boa. Diri kita sendirilah yang menentukan nasib kita. Aku selalu mengeluh, menggerutu tentang apa saja, menyalahkan nasibku bila aku tak memperoleh apa yang kuinginkan. Tapi begitu aku mengubah pribadiku, semuanya berubah! Sayang sekali tidak semua orang mengetahui hal itu.”
Taeyeon tekun sekali belajar music, Mr. Shin sangat gembira atas kemajuannya. Ia dan Kangta sekali lagi berlatih berduet. Namja itu senang sekali berduet dengan yeoja mungil yang lincah jarinya itu. taeyeon juga suka pada Kangta karena ia seorang pemusik luar biasa.
“bolehkah kita bermain duet dalam pertunjukan music akhir semester nanti? Seperti dulu?” tanya Taeyeon. “aku ingin sekali, Shin seonsaengnim. Apa kami akan cukup baik?”
“oh, ne,” kata Mr. Shin. “disamping itu Kangta juga akan memainkan biolanya. Apa kau pernah mendengarkan ia memainkan lagu seperti yang ada di CD, Taeyeon?”
“belum, belum pernah.” Kata Taeyeon. “coba mainkan untukku, oppa!”
Kangta segera mengambil biolanya. Kemudian namja yang tampak selalu melamun itu, memainkan sebuah lagu yang amat indah untu kgurunya dan untuk Taeyeon. Mereka berdua terpesona mendengarkannya.
“oh, indah sekali,” kata Taeyeon sewaktu lagu tersebut selesai. “ingin sekali aku bisa memainkannya seindah itu. bisakah aku belajar biola, seonsaengnim?”
“Taeyeon, hari-harimu sudah terlalu sibuk,” kata Mr. Shin, tertawa. “tidak. Lebih baik kau belajar piano saja.”
“tapi Kangta oppa bisa belajar dua-duanya, piano dan juga biola,” kata Taeyeon.
“ne, tapi selain kedua kegiatan itu, ia tak mempunyai kegiatan lainnya,” kata Mr. Shin. “tidak ada yang menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang lain, jadi ya lebih baik ia mengisi waktu dengan kedua hal tadi. Tidak aka nada orang yang menyuruh Kangta menyiangi kebun, naik kuda lebih dari satu kali, memelihara tikus putih, dan sebagainya. Hanya satu pikirannya, music.”
“akan kubuat agar ia memikirkan hal lain,” kata Taeyeon. “ayolah ikut berlatih lacrosse besok, oppa. Kau belum merasakan betapa senangnya bermain begitu bagus hingga terpilih untuk bermain dalam sebuah pertandingan penting.”
Tapi Kangta menolak ajakan itu. memang pernah juga ia bermain dalam suatu permainan olahraga, tapi permainannya buruk sekali. Bahkan si kepala batu Taeyeon tak sanggup membuat Kangta meninggalkan musiknya. Taeyeon tak meneruskan usahanya. Dalam hati ia bangga terpilih bermain duet bersama namja luar biasa itu.
“suatu hari ia akan menjadi seorang pemusik dan pengarang lagu yang terkenal,” kata Taeyeon pada Sunny dan Sulli. “dan aku akan dengan bangga bisa menyatakan bahwa aku pernah bermain duet dengannya.”
Di pertunjukan akhir semester, akan dipentaskan juga sebuah drama. Anak-anak dikelas Taeyeon mendapat tugas untuk menulis scenario juga. Lama sekali mereka memikirkan ceritanya. Hingga Donghae ketiduran menunggu ide teman-temannya karena ia terlalu malas untuk berpikir.
Dan ketika garis besar cerita sudah mereka sepakati, mereka sampai pada pekerjaan berat yaitu menuangkan cerita tadi kedalam naskah drama atau scenario.
Ternyata Sulli dan Amber sangat pandai menulis naskah drama. Sulli pandai membuat dialog, Amber penuh khayalan untuk menciptakan berbagai suasana. Sebelum minggu itu lewat, kedua anak tersebut sudah menyusun naskah dramanya, dibantu oleh kritik positif dan negative dari teman-teman mereka.
Lucu juga melihat kedua anak yang tadinya bermusuhan sekarang bekerja sama begitu rukun. “sungguh aneh melihat Sulli dan Amber, persis seperti aku dan Yesung,” batin Taeyeon. “bodoh sekali kami bertengkar. Aku berjanji akan selalu menghindari pertentangan.”
Sungguh sayang mengucapkan hal itu. sebab pada hari berikutnya terjadilah pertentangan antara Taeyeon dan Changmin.
Mereka berdua telah membuat tumpukan sampah yang menggunung. Changmin bilang ia akan menyulutnya kalau kebetulan ada waktu luang. Tapi ketika ia mencari Changmin untuk membakar sampah itu, ternyata Changmin tidak ada!
“ah, sial,” kata kata Taeyeon dalam hati. “padahal aku ingin melihat api unggun itu. yah, kalau dalam beberapa menit ini Changmin tidak muncul, akan kunyalakan sendiri api unggun ini. Changmin pasti tak keberatan.”
Seharusnya Taeyeon tahu bahwa Changmin pasti merasa keberatan. Walaupun ia telah mempercayai Taeyeon untuk berbagai hal, untuk pembakaran sampah ia selalu mengerjakannya sendiri.
Taeyeon mengambil sekotak korek api. Dinyalakannya selembar kertas, lalu disesapkannya diantara tumpukan smapah. Api berkobar. Dan jadilah api unggun menyala dengan hebat! Besar sekali kobaran apinya. Asap biru menjulur ke atas dan meliuk-liuk mencapai gudang tua didekat situ.
Taeyeon meloncat-loncat dengan gembira. Ini bagus sekali! Rugi Changmin tidak segera datang.
Kemudian tiba-tiba ia melihat sesuatu. Angin meniup kobaran api unggun kearah gudang!
“astaga! Mudah-mudahan saja gudang itu tidak terbakar!” seru Taeyeon terkejut. “ommo! Benar-benar terbakar! Oh! Changmin! Changmin! Ppalli! Eodisseo?”
Changmin berlari mendatangi. Ia sedang berada di sudut lain kebun itu, dan cepat-cepat datang waktu dilihatnya kobaran api dari kejauhan. Ketika dilihatnya jilatan api telah hampir mencapai gudang, ia juga sangat terkejut.
“Taeyeon! Ambil pipa air!” teriaknya. Kedua anak itu berlarian mengambil pipa air, membuka gulungannya dan memasangnya di keran. Changmin membuka keran, dan mengarahkan pipa air ke api unggun. Tak berapa lama api unggun itu padam, meninggalkan asap mengepul.
“untuk apa kau nyalakan api unggun itu??!” hardik Changmin marah pada Taeyeon. “baboya!! Apa kau tidak tahu aku yang memimpin dikebun ini?? semuanya harus dilakukan dengan perintahku!! Kalau terlambat tadi, gudang itu sudah terbakar!!”
“jangan bicara begitu padaku!!” teriak Taeyeon marah. “kau bialng kalau kau yang akan membakar tumpukan sampah itu! dan kalau kau lakukan toh kejadiannya akan sama saja!!”
“aku tidak sebodoh kau! Aku tidak akan mungkin membakar tumpukan sampah itu begitu saja disitu, dan pada saat angin bertiup kearah gudang seperti ini! aku akan membakarnya setelah angin berganti arah! Bukan hari ini! kau tak ada urusan untuk membakarnya, arasseo??! Padahal seharusnyatumpukan sampah itu akan jadi api unggun yang bagus. Kau sudah merusaknya! Kau hanya membuat repot saja! aku tak mau kau membantu di kebun lagi!!”
“oh!” airmata menggenang di mata Taeyeon.
“nappeun namja! Kau mengusirku setelah begitu banyak yang kulakukan, setelah begitu lama aku membantumu!”
“kau tidak melakukan semua itu untukku!” tukas Changmin. “semuanya untuk keperluan sekolah. Pergilah, Taeyeon! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
“keurae! Aku juga tidak sudi kemari lagi!” seru Taeyeon sambil berlari pergi dengan marah dan menghapus airmatanya menuruni pipinya.
Tapi setengah jam kemudian dalam hati Taeyeon berkata, “kau kan sudah berjanji tidak akan bertengkar lagi dengan siapapun. Padahal memang hak Changmin untuk memarahimu. Karena kalau api itu tidak segera dipadamkan, maka bisa membakar gudang, menghabiskan semua alat-alat didalamnya. Kau juga sudah merusak api unggun indah yang telah direncanakan!”
Dan dalam hati Changmin, juga berkata, “Taeyeon tak bermaksud buruk. Ia hanya kurang berpikir. Bukannya jahat. Ia pasti juga sangat kecewa karena api unggun itu tidak jadi. Dan kau tahu, ia telah banyak membantu di kebun ini. bagaimana kalau ia tidak mau datng lagi ke kebun ini? rasanya tidak akan begitu menyenangkan!”
“aku akan mencarinya,” akhirnya Cahngmin memutuskan. Dan pada saat yang sama Taeyeon juga berpikir, “akan kutemui Changmin.”
Maka mereka berdua bertemu di tikungan jalan di kebun sekolah. Keduanya tampak malu-malau. Dan bersamaan mereka mengeulurkan tangan.
“mianhae, aku telah bersikap kasar padamu.” kata Changmin.
“nado. Jeongmal mianhaeyo.” Kata Taeyeon. “Oh, Changmin..”
“dulu ku suruh kau memanggil aku apa?”
“hmmmpp.. ne, oppa. Oppa, padahal baru kemarin aku berjanji dalam hati untuk tidak bertengkar dengan siapa pun. Dan ternyata aku malah bertengkar denganmu.”
“kau akan selalu begitu,” Changmin tertawa. “tapi tidak apa-apa kalau kau juga cepat-cepat menyesali tindakanmu. Jigeum, kajja! Kita menggali tanah, biar hati kita tenang kembali.”
Mereka berdua kembali ke kebun, bersahabat. Persahabatan memang takkan putus hanya karena sebuah pertengkaran, bukan?
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 21

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Chapter kali ini aku masukin beberapa artis dari JYP Nation. Enjoy, readers!
Don’t forget RCL

-Trouble Maker- Chapter 21 :Final
“tinggal 3 menit, Yesung!” seru Taeyeon terengah-engah. “kita harus berusaha lebih keras. Jangan sampai mereka mencetak gol lagi!”
Bola cepat melesat dari satu pemain ke pemain lainnya. Taeyeon lari untuk menyergap seorang pemain lawan yang larinya sangat cepat. Dibenturkannya tongkatnya pada tongkat lawan itu. bola meloncat ke udara. Taeyeon mencoba menangkapnya, tapi bola jatuh ke tanah. Disambarnya dengan jaring tongkatnya dan dibawa lari dengan cepat.
Tapi seorang anggota regu lawan menyergapnya.
Walaupun Taeyeon mencoba menghindar, tak ada gunanya. Ia terjatuh lagi, bola lepas. Anak JYP langsung menyambarnya dan melesat ke arah gawang SM. dilemparkan ke anak JYP lainnya. Di lemparkan kembali ke seorang teman mereka dekat gawang.
Dan anak itu langsung menembak ke arah gawang! Cepat sekali laju bolanya. Sepertinya akan masuk. Tapi Seohyun langsung membuang diri, meluncur tepat untuk menangkap bola tersebut. Seohyun terjatuh keras, namun gawangnya selamat. Dan bola dilempar ke arah seorang anak SM. anak tersebut segera lari ke arah gawang lawan.
“lemparkan! Lemparkan!” teriak Taeyeon, meloncat kesana kemari. “awas! Lawan dibelakangmu! Lemparkan!”
Anak SM itu melepaskan bolanya tepat pada saat ia diserang lawan. Bola langsung menuju Taeyeon. Ia menangkapnya dan lari secepat angin diikuti oleh seorang anak JYP yang terus membayanginya.
Taeyeon melontarkan bola pada Yesung. Yesung diserang lawan. Yesung melemparkan bola ke Taeyeon yang telah berlari maju. Gawang sudah dekat. Apakah ia harus menembak langsung? Mungkin akan masuk. Dan ia akan memenangkan SM.
Tetapi Yesung telah berlari maju, dan sekarang lebih dekat dengan gawang! Ia harus melemparkannya pada Yesung! Dan tanpa ragu-ragu Taeyeon melakukannya.
Yesung menangkap bola dengan cermat. Langsung menembak ke arah gawang. Penjaga gawang berusaha menangkap bola itu. tapi bola melewati tongkat jaringnya, dan bersarang di sudut gawang! Gol untuk SM!
Dan hampir bersamaan terdengar peluit berbunyi. Pertandingan selesai!
“3 gol untuk SM!” seru wasit. “3-2! Untuk kemenangan SM!”
Kemudian semua penonton pendukung JYP juga bersorak ramai menyambut kemenangan lawan mereka. Sebuah pertandingan yang cukup menarik. Semua pemain telah bermain sebaik-baiknya.
“oh, hampir saja terlambat, Yesung,” kata TAeyeon terengah-engah kehabisan napas. “tepat sekali tembakanmu tadi!”
“tapi tidak mungkin itu kulakukan kalau kau tidak begitu tepat melemparkannya padaku,” Yesung juga kehabisan napas, harus bertopang pada tongkat lacrosse-nya. Mukanya merah padam. Badannya basah oleh keringat. “gila, Taeyeon! Kita menang! Coba pikirkan itu! kita belum pernah mengalahkan JYP. Aku senang sekali kau juga mencetak 1 gol! Oh, ya, luka di lututmu sebaiknya cepat diobati.”
Kedua tim meninggalkan lapangan. mandi. Sungguh segar terasa air dingin, sebab semuanya begitu kepanasan. Kemudian semua berjabat tangan. Kapten tim JYP menepuk punggung Seohyun, kapten tim SM.
“bagus sekali pertandingan tadi,” katanya. “ini pertama kalinya kami kalah dalam semester ini. selamat, ya!”
Mereka dijamu acara minum teh. Taeyeon tak begitu banyak makan siang tadi. Sekarang ia melahap apa saja yang terhidang. Sandwich, macam-macam kue, dan kimchi yang sangat lezat. Semua makan dengan lahap.
“aku ingin sekali segera pulang ke SM,” kataYesung pada Taeyeon. “untuk segera menceritakan berita baik ini. akhirnya aku bisa ikut main. Mudah-mudahan kita masih bisa bermain bersama untu kbanyak pertandingan lagi.”
“kau mencetak gol kemenangan itu begitu bagus,” kata Taeyeon dengan riang. “huff aku lelah sekali. Tapi juga senang sekali! Rasanya aku tidak bisa berdiri lagi. Kakiku begitu berat!”
Mereka memang kecapekan, tapi mereka masih bisa sibuk bercakap-cakap, tertawa, dan bercanda sambil duduk di ruang tunggu, menunggu kedatangan bus mereka. Senangnya bisa pulang membawa kemenangan!
Semua naik ke bus dan melambaikan tangan pada anak-anak JYP yang juga bersorak-sorai meriah sampai bus keluar dari sekolah itu.
Tak berapa lama kemudian anak-anak telah duduk kelelahan didalam bus. Muka mereka masih merah padam dan kaki mereka masih pegal-pegal karena terlalu banyak berlari. Hampir tak ada yang berbicara lagi.
Tetapi begitu mendekati sekolah SM, mereka duduk tegak, tak sabar untuk segera melihat sekolah mereka, tak sabar untuk melihat teman-teman mereka yang sudah pasti menunggu.
Selama setengah jam Sunny dan Sulli serta Amber menunggu. Dan begitu terdengar suara bus datang, mereka bersorak berlari ke pintu gerbang, diikuti oleh puluhan anak lainnya. Memang sudah menjadi kebiasaan sekolah SM untuk menyambut dengan meriah tim yang baru bertanding di tempat lawan.
Tim lacrosse itu juga bersorak-sorai liar saat bus mereka masuk.
“kita menang! Menang! 3-2! 3-2!
“kita menang! Hebat sekali permainan tadi!”
“ini pertama kalinya JYP kalah!”
“3-2! 3-2!”
Anak-anak SM bersorak-sorai seperti orang gila. Mereka menghambur mengerumuni bus, membantu anggota tim yang sudah hampir tak kuat lagi melangkah.
“hidup SM! hidup SM!” semua anak berteriak-teriak. “ayo cepat, ceritakan pada kami!” pinta Eunhyuk, Leeteuk dan Sungmin.
Tim lacrosse diarak menuju ruang auditorium. Para pimpinan sekolah ikut datang untuk mendengarkan peristiwa yang menggembirakan itu. Mr. Choi berpidato beberapa saat bahawa semua anggota tim telah main sangat baik. Kemudian Changmin bertanya.
“siapa yang mencetak gol?”
“Taeyeon, Sooyoung, dan Yesung!” kata Mr. Choi. “gol-gol yang indah. Gol Yesung sangat mendebarkan, sebab bebrapa detik terlambat saja maka waktu akan habis.”
“hidup Sooyoung! Hidup Taeyeon! Hidup Yesung!” gemuruh anak-anak berteriak. Ketiga anak itu berseri-seri bangga. Taeyeon hampir tak bisa menahan tangisnya. Bagaimana tidak bangga, pada pertandingan pertamanya ia telah menyumbangkan satu gol! Hampir tak bisa dipercaya.
Sooyoung sudah sering bertanding, maka ia hanya tersenyum-senyum saja. tapi bagi Yesung dan Taeyeon tentu saja sambutan meriah itu sungguh luar biasa.
Taeyeon menggandeng tangan Yesung dan berkata, “aku gembira kita bisa bermain bersama! Dan aku sangat senang bisa menyumbangkan sesuatu untuk SM walaupun hanya berbentuk sebuah gol. Waktu pertama kali kesini, aku sangat membenci sekolah ini. tapi sekarang aku menyukainya. Tunggulah sampai kau disini 1-2 semester. Kau akan menyukainya juga.” Kata Taeyeon terharu.
“aku bahkan sudah menyukainya sekarang,” kata Yesung mempererat genggaman tangan Taeyeon. “dan aku bertekad untuk menyumbangkan tidak hanya gol-gol dalam pertandingan, tapi lebih dari itu!” Taeyeon tersenyum senang mendengarnya.
Malam itu dihidangkan makanan khusus bagi anggota tim. Sosis panas muncul di meja makan mereka. Masing-masing anggota tim memperoleh 2 buah sosis. Jeongmal mashita! Lebih dari itu, semua anak yang kebetulan mempunyai makanan kecil juga membagikannya pada anggota tim, hingga saat lonceng untuk tidur berbunyi, perut Yesung dan Taeyeon sudah penuh dan sesak.
Amber merasa gembira seperti yang lain juga. Mukanya berseri-seri sewaktu membawa sekaleng permen untuk Taeyeon. Taeyeon memandangnya heran.
“Amber, kau sangat berbeda,” kata Taeyeon. “matamu selalu tersenyum, rambutmu berkilau. Kau berjalan seolah menari, dan bintik-bintik di wajahmu telah lenyap!”
Amber tertawa.
Ia telah menepati janjinya pada dirinya sendiri, tak makan permen sebutir pun. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri, selalu ikut bergaul dan bercanda dengan yang lain. Sekarang ia berjalan dengan kepala diangkat, dan senyumnya siap terpancar. Kini ia merasa heran mengingat kenapa dulu ia bisa melakukan hal-hal yang bersifat nakal.
Ia telah mengembalikan buku Taeyeon yang dulu disembunyikannya, setelah membersihkannya dengan hari-hati. Dengan pipi merah ia mengembalikan buku-buku itu. hampir saja Taeyeon meluapkan amarahnya jika mengingat ia harus menderita karena ulah Amber. Tapi ia cepat menguasai diri dan mengucapkan terima kasih.
Dengan tekun dan rajin Amber mengerjakan scarfnya dengan sulaman halus. Ia membuat 2. Masing-masing bertuliskan kata ‘chingu’ dengan huruf Hangeul dan diberi gambar bunga-bunga ungu kecil untuk Taeyeon. Dan satu lagi mawar merah untuk Sulli.
Tepat saat Amber menyelesaikan sulamannya, Sulli datang dan melihatnya bekerja di kamarnya itu.
“wah, senangnya kalau aku juga ikut bertanding,” Sulli mulai berkata, dan menjatuhkan dirinya duduk dipinggir ranjangnya. “apa saja mau kulakukan asal diberi hadiah sosis panas untuk makan malam. Hei, Amber, kau sedang apa? Coba lihat.”
Sulli mendekati Amber dan memperhatikan pekerjaan Amber. “wah, halus sekali sulamanmu! Bunga-bunganya juga sangat cantik. Aku tidak yakin apa aku bisa menyulam sehalus ini. aku ingin memiliki scarf ini.”
“kau bisa memilikinya. Ini memang untukmu. Dan yang ini untuk Taeyeon.”
“wah! Tapi untuk apa?” heran Sulli.
“hanya sekedar untuk menghilangkan rasa kesalmu karena aku dulu mempermainkanmu,” Amber tersenyum. “nah, ini punyamu, Sulli. Pakailah, udara mulai dingin. Aku senang bisa memberikannya padamu.”
Sulli sangat berterima kasih. Diterimanya pemberian Amber itu. “kau baik sekali! Gomapta! Oh, itu Taeyeon! Hey, taeng! Lihat, kau dapat hadiah bagus nih!”
Segera keduanya asyik mengagumi pemberian indah itu. anak-anak lain yang melihatnya juga memuji-muji keindahannya. Amber merasa sangat bangga mendengar kata-kata mereka.
“rasanya lebih menyenangkan mengerjakan sesuatu untuk kesenangan mereka daripada untuk mencelakakan mereka,” batin Amber. “tapi rasanya aku tak akan pernah cukup berani untuk mengakui kesalahanku dihadapan seluruh sekolah. Sekarang aku lebih baik hati, lebih manis pula. Tapi aku tetap penakut.”
to be continue..