Blog Archives

[FF] Trouble Maker – Chapter 20

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Chapter kali ini aku masukin beberapa artis dari JYP Nation. Enjoy, readers! 😀
Don’t forget RCL

–Trouble Maker– Chapter 20 : Lacrosse
Hari Sabtu tiba, cuaca cerah. Rumput-rumput berkilau oleh tetesan embun. Tapi semua lenyap ketika matahari muncul, dan semua orang setuju bahwa hari itu hari yang sangat sempurna bagi pertandingan lacrosse.
Taeyeon berusaha keras untuk ikut merasa gembira karena hari itu begitu cerah. Beruntung sekali Yesung. Dan sungguh kecewa dia. Rasanya tak adil. Sabtu yang lalu ia punya kesempatan untuk main, tapi hari hujan. Sabtu ini bukan kesempatannya, tapi hari begitu cerah.
“ya! salahmu sendiri Kim Taeyeon!” katanya dalam hati. “kalau kau tidak melakukan keputusan konyol itu, kau yang bertanding hari ini.”
Taeyeon mendekati Yesung saat melihatnya.
“senang sekali melihat hari ini begitu cerah untukmu, Yesung,” katanya. Yesung melihat padanya dan tahu bagaimana perasaan hatinya.
“lebih menyenangkan seandainya kau juga ikut main.” Kata Yesung. “tapi tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain bagimu.”
Hari cerah terus. Mereka yang akan bertanding tampak begitu gembira, tapi juga khawatir. Sooyoung yang juga ikut main mengatakan bahwa tim JYP belum pernah dikalahkan oleh SM.
“Kalau saja kali ini kita bisa mengungguli mereka, sekali saja!” kata Sooyoung. “tapi kudengar tim mereka malah maikn kuat. Seohyun bilang tim itu belum pernah kalah semester ini. mereka luar biasa! Mudah-mudahan setidaknya kita bisa mencetak satu gol.”
“Soo, kita harus lebih banyak lagi mencetak gol,” kata Sehun. Sehun anak yang kuat, langsing, namun berotot. Sehun bisa berlari cepat, dan ia penangkap bola yang baik. “kita harus berusaha semaksimal mungkin!”
“ne, kita harus berusaha!” kata Yesung.
“aku setuju dengan kalian. FIGHTING!!” seru Yoona yang juga masuk tim.
Pagi itu terasa berjalan lambat. Waktu makan siang tiba. Anggota tim tak bisa makan dengan santai, sebab mereka terlalu tegang. Taeyeon mengalami perasaan itu Sabtu lalu. Betapa senangnya kalau kali ini ia pun ikut! Ia sangat kecewa. Tapi ia juga bangga sebab bisa mengalahkan kepentingan dirinya sendiri, demi keadilan, dengan memberikan tempatnya pada Yesung.
Sinar matahari masuk lewat jendela. Hari ini tetap cerah! Hari yang sangat menyenangkan untuk bertanding. Sesak kerongkongan Taeyeon. Memang membanggakan bisa bersikap adil, tapi kebanggan itu tidak mengurangi kekecewaan dihatinya. Sunny melihat wajahnya dan meremas tangannya.
“jangan bersedih, Taeng,” kata Sunny. Taeyeon mencoba untuk bersikap riang. Kemudian dilihatnya sesuatu terjadi di meja dekat mereka. Beberapa anak datang mendekat dan ribut berbicara. Ada apa?
“Sehun! Ia sakit!” kata Sunny. “lihat, wajahnya pucat sekali. Mungkin ia akan muntah. Ah, aku ingat, waktu sarapan tadi ia juga tampak tak begitu sehat.”
Sehun bergegas keluar ruangan dibantu oleh Sungmin. Mukanya pucat. Mr. Moon ikut bergegas keluar. Mr. Choi melihat arlojinya. Ia berharap Sehun segera sehat kembali, sebab 20 menit lagi bus yang menjemput tim lacrosse akan datang.
5 menit kemudian Mr. Choi masuk, dan mengatakan sesuatu pada Mr. Moon. Mr. Moon tampak sangat kecewa. “kenapa Sehun?” tanya Changmin yang kebetulan berada satu meja dengan Mr. Moon.
“sakit perut,” jawab Mr. Moon. “memang sering kambuh. Dan kali ini agak berat. Ibu Asrama menyuruhnya tidur di Sanatorium.”
“astaga!” seru Changmin. “jadi ia tidak bisa main?”
“tidak,” kata Mr. Choi. “sungguh sial. Sehun salah seorang pemain terbaik kita. Kita harus mencari penggantinya.”
Berita itu segera tersebar ke seluruh ruang makan. Semua merasa kecewa, sebab Sehun memang pemain yang baik. Tapi kemudian dari mulut ke mulut terdengar satu nama. Kim Taeyeon.
“biar digantikan Taeyeon saja!”
“bagaimana kalau diganti Taeyeon saja?”
“tidak bisakah Taeyeon dipasang? Ia menyerahkan tempatnya pada Yesung.”
“benar!” kata Mr. Choi melihat buku catatannya. “sebenarnya aku merencanakan untuk memasang anak lain, tapi karena Taeyeon pantas diberi kesempatan, baiklah, Taeyeon akan menggantikan Sehun.”
Jantung Taeyeon bagaikan melonjak karena kegirangan. Ia tak percaya pada berita yang begitu bagus itu. wajahnya jadi merah seketika, matanya bersinar-sinar. Ia menyesal bahwa Sehun tak bisa main, tapi Sehun sudah ikut main dalam sekitar 12 pertandingan. Dan sekarang ia, Kim Taeyeon, akan ikut main!”
“hidup Taeyeon!” beberapa sahabatnya bersorak, ikut bergembira karena Taeyeon tampak senang. semua tahu bahwa Taeyeon secara sukarela telah memberikan tempatnya pada Yesung, dan sekarang semua merasa ikut gembira karena perbuatan tak mementingkan diri sendiri itu kini mendapat balasan yang setimpal. Beberapa saat Taeyeon tak bisa berkata-kata karena gembiranya.
Sunny menepuk punggungnya, Sulli hanya meringis. “selalu ada saja yang terjadi padamu, Taeng,” kata Sulli. “kau pantas menerima keberuntungan ini!”
“Taeyeon! Chukkaeyo!” teriak Yesung dari pojok meja sana. “kita akan bermain bersama-sama dalam pertandingan pertama kita! Daebak!”
Taeyeon tak bisa makan lagi. Disingkirkannya gelas ice creamnya.
“Kalau aku makan juga, maka aku akan sakit seperti Sehun,” katanya.
“kalau begitu jangan kau makan,” kata Sooyong. “kalau kau sakit juga, tidak ada lagi yang menggantikanmu!”
Taeyeon bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian olahraga. Ia menyempatkan diri menjenguk Sehun di Sanatorium dengan membawakannya sebuah buku. “sayang sekali, Sehun,” katanya. “mudah-mudahan kau cepat sembuh. Nanti akan kuceritakan jalannya pertandingan padamu.”
“mainlah sebaik mungkin,” kata Sehun yang masih pucat. “cetaklah gol sebanyak mungkin! Selamat bertanding!”
Taeyeon berlari lagi, berkumpul dengan teman-temannya. Hatinya bagaikan bernyanyi terus. Begitu gembira dia! Semua orang tertawa padanya, semua orang senang bahwa akhirnya ia bisa ikut. Digandengnya tangan Yesung.
“duduklah di dekatku nanti di bus,” kata Taeyeon. “hanya kita berdua yang belum pernah bertanding. Oh, haengbokhae~. Keundae, aku sedikit gugup juga.”
“kau gugup?” Yesung tertawa. “Aku tidak percaya. Anak galak sepertimu bisa gugup juga!”
Tapi Taeyeon memang gugup. Ia khawatir akan mengecewakan teman-temannya. Ia harus berusaha bermain sebaik mungkin! Apa jadinya kalau Ia bermain buruk. Kalau ia tidak bisa menangkap bola, sangat memalukan!
“untung tidak ada yang datang menonton dari SM,” pikir Taeyeon mencoba menghibur hatinya. “kalau aku bermain buruk tidak akan ada yang melihat.” Dipandangnya Yesung yang duduk disampingnya. Anak itu tampak tabah, tenang, gagah, dan kuat. Sama sekali tidak gugup. Senang rasanya jika bermain dengan anak setabah itu. “aku tidak tahu bagaimana dulu aku bisa membencinya. Sepertinya jika kita membenci seseorang maka yang kita lihat adalah yang terburuk saja dari orang itu, sebab memang itulah yang kita cari. Sebaliknya bila kita menyukai seseorang maka orang tersebut akan tersenyum pada kita dan hanya menampakan yang terbaik saja pada kita. Aku harus mencoba member kesempatan pada asiapa saja. akan kucoba untuk menyukai siapa saja agar siapapun akan menunjukkan yang terbaik dari dirinya padaku.”
Bus segera tiba di sekolah JYP. Tim SM melihat tim tuan rumah, dan mereka merasa bahwa tuan rumah benar-benar kuat.
Kedua tim sudah berada dilapangan. Saling berhadapan. Peluit berbunyi, dan pertandingan pun dimulai. Terbukti tim JYP memang kuat, tapi tim SM memiliki beberapa orang pelari cepat yang cukup di kenal. Seperti Taecyeon, Jia, dan Nickhun.
Mereka kehilangan Sehun, pelari tercepat SM, tapi baik Yesung maupun Taeyeon seperti mempunyai sayap dikaki mereka, berlari begitu cepat. Tak pernah mereka berlari secepat itu sebelumnya.
Kedua anak itu merasa mendapat kehormatan untuk bisa bermain dalam pertandingan besar itu, karenanya mereka bermain sebaik mungkin. Rasa gugup Taeyeon segera hilang setelah pertandingan mulai. Ia lupa pada dirinya, yang dipikirkannya hanyalah pertandingan yang sedang dihadapinya.
Sering Yesung dan Taeyeon saling melempar bola. Mereka telah berlatih beberapa minggu sehingga sanggup melakukannya dengan cepat dan tepat. tak sekalipun bola mereka jatuh. Setiap lemparan dapat ditangkap dengan tepat.
“bagus, Yesung! Bagus, Taeyeon!” seru Mr. Choi dari pinggir lapangan. ia ikut mengantarkan tim SM dalam perlawatan ini. “cepat! Cepat! Tembak, Taeyeon!” Taeyeon melihat gawang tak jauh didepannya. Dilemparkannya bola dengan sekuat tenaga. Bola lurus langsung menuju gawang. Tapi penjaga gawang lawan sangat gesit. Bola ditampar terpental keluar.
“percobaan bagus, Taeyeon!” seru Mr. Choi.
Tim JYP membawa bola. Cepat sekali menuju gawang SM, bola dilemparkan dari pemain ke pemain lain sementara mereka berlari cepat. Kemudian bola diterima kapten mereka. Sebuah tembakan hebat…gol! Seohyun penjaga gawang SM, sia-sia saja menangkap bola yang datang begitu cepat itu.
“1-0 untuk JYP!” seru wasit. Peluit berbunyi lagi. Permainan mulai lagi. Baik Yesung amupun Taeyeon bertekad untuk menjaga bola sebaik-baiknya, jangan sampai terebut oleh lawan.
Taeyeon membawa bola di tongkat lacrossenya. Ia berlari cepat kedepan. Ia sedang akan melontarkannya pada Yesung yang selalu berada didekatnya, saat tiba-tiba seorang lawan menyerbunya. Taeyeon tersandung dan jatuh. Lututnya sedikit lecet dan berdarah tapi dengan cepat ia berdiri lagi. Seorang yeoja dari JYP membawa bola.
Kencang juga larinya. Dilemparkannya pada temannya yang juga lari kea rah gawang.
“tembak! Tembak!” seru penonton dari JYP. Bola melesat ke gawang Seohyun. dan masuk!
“2-0 untuk JYP!” kata wasit, dan kemudian ia meniup peluit. Waktu istirahat. Para pemain mengerumuni pelatih masing-masing, sambil makan dengan rakus potongan jeruk yang disediakan, rasanya manis-asam, menyegarkan!
“kalian harus berusaha lebih keras!” kata MR. Choi menasehati timnya. “Yesung, kau harus selalu berada dekat Taeyeon. Taeyeon, cepat lontarkan bolanya pada Yesung kalau kau diserang. Kalian berdua berlari seperti angin hari ini. langsung tembak kea rah gawang kapan saja ada kesempatan. Sooyoung, kau harus lebih sering member umpan pada Taeyeon. Mungkin ia cukup cepat untuk mengalahkan anak JYP yang bertugas membayanginya. Yoona, kau terus bayangi Taecyeon itu.”
“ne, seonsaengnim!” kata Yoona.
Anak-anak SM mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka agak kecewa, sudah kalah 2-0. Peluit berbunyi. Pertandingan mulai lagi. Yoona terus membayangi namja bertubuh tinggi bernama Taecyeon.

Sooyoung mendapat bola, lalu segera melontarkannya pada Taeyeon, mengikuti petunjuk pelatih tadi. Yesung berada didekat Taeyeon. Dengan tepat ditangkapnya lontaran dari Taeyeon, yang langsung berlari ke depan. Yesung kembali melontarkan bola ke arah Taeyeon. Taeyeon menangkapnya dan terus lari ke arah gawang lawan.
Dilontarkannya bola dengan sekuat tenaga, keeper lawan mengulurkan tongkat lacrosse-nya, bola membentur tongkat jaring tadi, mental dan….masuk!
“kedudukan sekarang 2-1!” seru wasit. “2-1 masih untuk kemenangan JYP!!”
Taeyeon begitu gembira. Ia tak bisa diam. Lari kesana kemari walaupun bola tak didekatnya. Sooyoung mendapat bola. Dikirimkannya ke Yesung. Yesung menerima bola tersebut, membawa lari, melemparnya kembali ke Sooyoung. Sooyoung lari ke arah gawang. Melontarkan bola dan masuk! Hampir tak bisa dipercaya! Sebuah gol manis lagi!
“2-2 dan waktu tinggal 10 menit lagi!”
Anak-anak sekolah JYP yang menonton di tepi bersorak-sorak ramai, “ayo, JYP, serang! Serang! Ayo!”
Didorong oleh sorak-sorai ini tim JYP lebih menggebu-gebu lagi menyerbu. Mereka membawa bola. Mereka menyerbu ke arah gawang. Mereka menembak! Tapi Seohyun dengan cekatan menangkap bola tersebut, melemparkannya kembali ke tengah lapangan. selamat!
2-2. dan waktu tinggal 3 menit. Ayo JYP! Ayo SM! tinggal 3 menit lagi!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 19

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 19 : The Peace Sunday
Seohyun sedang berada di ruang senam. Ia memang sangat pandai dalam berbagai cabang olahraga. Ia sedang bersenam saat Taeyeon datang dan minta bicara dengannya.
“ada apa, Taeyeon?” tanyanya ramah.
“Seohyun, bagaimana kalau Yesung saja yang bermain hari Sabtu ini,” kata Taeyeon. “alasannya begini. Ternyata bukan dia yang mempermainkanku dan Sulli seperti yang ku tuduhkan padanya dulu di Rapat Besar. Jadi kukira cukup adil kalau kali ini aku memberinya kesempatan untuk main dalam pertandingan nanti. Sebab Sabtu lalu ia tidak jadi main karena aku.”
“boleh saja,” kata Seohyun yang kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan dan menuliskan sesuatu didalamnya. “akan kuatur itu. seperti katamu, memang inilah yang paling adil bagi Yesung. Sayang sekali kau tidak jadi main, Taeng, tapi yakinlah bahwa kau telah bertindak dengan tepat.”
Taeyeon mencari Yesung. Tapi tidak ditemukannya. Dan sebelum ia bisa bercerita sendiri pada Yesung, Seohyun telah memasang pengumuman baru, mengganti pengumuman sebelumnya.
“Kim Yesung akan ikut bermain dalam pertandingan melawan sekolah JYP Sabtu ini,” demikian bunyi pengumuman baru itu. Yesung membaca pengumuman tersebut sewaktu akan pergi makan. Ia sangat heran. Bukankah tadi anak-anak berkata bahwa yang terpilih adalah Taeyeon? Dengan kening berkerut dibacanya pengumuman tadi berulang-ulang. Dan pada waktu itulah Ryeowook datang, ikut membaca. Ia pun heran.
“annyeong,” kata Ryeowook. “kenapa pengumuman ini diubah? Semula isinya Kim Taeyeon yang terpilih untuk bermain melawan JYP. Aku ingat betul itu!”
“ne, menurutku isinya memang begitu,” kata Yesung masih bingung. “kenapa diubah? Memang berita yang menyenangkan bagiku, apalagi aku sangat kecewa tadi pagi,”
“aku berani bertaruh Taeyeon akan merasa kecewa sekarang,” kata Ryeowook, dan mereka pun masuk ke ruang makan. Yesung tak ingin membicarakan pengumuman itu dengan Taeyeon dihadapan orang banyak, dan sepertinya Taeyeon pun begitu.
Sooyoung-lah kemudian yang bercerita tentang apa yang terjadi pada Yesung, “apa kau sudah melihat pengumuman?” tanya Sooyoung. “ternyata akhirnya kau juga yang bermain di pertandingan nanti.”
“ya, tapi kenapa?” tanya Yesung. “kenapa Taeyeon tidak dipasang?”
“itu atas permintaan Taeyeon sendiri. ia minta agar kau saja yang dipasang,” kata Sooyoung. “katanya dengan begitu barulah adil. Dan aku setuju dengan pendapatnya.”
“sangat adil memang,” pipi Yesung jadi merah. “tapi seharusnya tak perlu dilakukannya. Aku tahu bahwa ia sangat ingin bermain mewakili sekolah kita.”
Yesung segera mencari Taeyeon.
Didapatinya Taeyeon sedang berada di kebun, sedang menanam umbi berbagai macam bunga bersama Changmin.
“hei, Taeng,” sapa Yesung. “terima kasih atas kebesaran hatimu yang memungkinkan aku dipasang di tim sekolah. Tapi aku lebih senang kalau kau saja yang bermain Sabtu ini. kalau kau tidak keberatan.”
“gwaenchana,” kata Taeyeon tersenyum. “aku telah mengambil keputusan. Kurasa itu cara terbaik untuk menebus kesalahan yang kubuat padamu. Aku akan merasa sangat malu kalau tidak memberikan kesempatan itu padamu.”
“tapi aku tak peduli apa kau menebus kesalahanmu atau tidak,” kata Yesung.
“ne, tapi aku keberatan kalau tak memberimu ganti rugi atas kesalahanku dulu itu. aku merasa lega setelah aku berbuat ini. benar-benar tak punya beban pikiran lagi.”
“geuraesseo. Gomapta! Aku hanya berharap kau bisa datang untuk menontonku, Taeng.”
“aku harap kau bisa mencetak gol banya sekali,” kata Taeyeon, kembali meneruskan pekerjaannya. Berat juga. Umbi bunga krokus yang mereka pesan telah tiba. Bidang-bidang rumput harus diangkat sebelum umbi-umbi itu boleh ditanam. Kemudian ada juga umbi-umbi daffodil dan tulip. Namun yang ini mudah cara penanamannya.
“begitu banyak pekerjaan, dan begitu sedikit waktu untuk mengerjakannya,” keluh Taeyeon. “aku ingin lebih sering berkuda, aku ingin berkebun sepanjang hari, aku ingin lebih sering bermain music, aku ingin lebih sering bermain bersama kelinci-kelinciku, dan aku ingin lebih sering berolahraga. Oh, Changmin aku..”
“panggil aku oppa!” potong Changmin.
Taeyeon menghela napasnya, “sebegitu tertariknya kah kau ingin dipanggil oppa?” tanya Taeyeon yang dibalas tawa kecil Changmin. “Baiklah. Oppa, kadang-kadang aku ingin sepertimu, hanya mempunyai satu kegemaran, jadi tidak sebingung aku yang mempunyai sepuluh kegemaran.”
“tapi kau lebih banyak merasakan kegembiraannya daripada aku,” kata Changmin bersungguh-sungguh. “Kwon seonsaengnim sering berkata padaku bahwa mestinya aku punya perhatian lain daripada berkebun melulu. Kata beliau dengan hanya mempunyai kegemaran berkebun, maka aku akan membosankan kalau diajak bicara.”
“aniyo!” potong Taeyeon cepat. “aku tak berpendapat kau membosankan,” kata Taeyeon. “kau sungguh menarik bila mulai berbicara tentang berkebun.”
“itu hanya karena kau juga suka berkebun dan mengerti tentang berkebun,” kata Changmin. “tapi kalau yang kuajak bicara tidak menyukai berkebun, pasti ia akan mengira aku bodoh. Tolong pikirkan hal lain kecuali berkebun untukku, Taeng.”
“bagaimana kalau berkuda? Oppa, aku belum pernah melihatmu menunggang kuda. Mintalah Yesung untuk mengajakmu menunggang captain. Pasti kau kaan terlihat keren. Dan Yesung juga akan senang bisa membantumu, dank au akan senang memperoleh pengalaman baru.”
Hari-hari terus berlalu. Hari Jumat tiba. Waktu untuk mengadakan Rapat Besar. Anak-anak memasuki ruangan tanpa bersikap sungguh-sungguh seperti minggu lalu, sebab kali ini tidak aka nada perkara berat yang akan dibicarakan. Anak-anak selalu senang menghadiri Rapat Besar, sebab mereka senang bisa memerintah diri sendiri, membuat berbagai peraturan dan menjaga agar peraturan dipatuhi.
Uang-uang tambahan dimasukkan ke dalam kotak. Dengan bangga Key memasukkan sejumlah won, kiriman pamannya. Kemudian uang saku dibagikan.
Shim Changmin minta uang untuk pembelian umbi krokus. Uang tersebut diberikan. Kemudian ia juga minta uang tambahan untuk membeli garpu tanah yang lebih kecil dari yang biasa digunakannya.
“Sehun akan membantuku menggali tanah,” kata Changmin. “dan garpu tanah kami terlalu besar untuknya. Selama ini kita tidak punya alat kebun yang sesuai untuk anak kecil.”
Permintaan itu pun dikabulkan. Kangta minta uang tambahan untuk membeli CD permainan biola seorang musisi terkenal. Ia ingin memainkan lagu yang sama, dan Shin seonsaengnim berkata ia bisa belajar banyak dari CD itu. Siwon langsung mengabulkan permintaan tersebut. Seluruh sekolah merasa sangat bangga punya seseorang seperti Kangta yang juga mampu memainkan alat music piano dan biola.
“ada laporan atau keluhan?” tanya Siwon.
Ryeowook bangkit. Sedikit segan ia berkata, “keluhanku ini sedikit konyol, memang. Tentang Suho. Ia mendengkur terlalu keras di malam hari. Aku jadi tak bisa tidur. Dan kalian tahu, aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk memerah susu. Kalau malamnya aku tidak bisa tidur, maka sulit bagiku untuk bangun pagi. Kami semua sudah membicarakan hal ini dengan Suho. Tapi Suho tak bisa menghilangkan dengkurnya itu.”
Suho berdiri.
“aku sedang pilek,” katanya. “kukira dengkuranku itu akan lenyap kalau aku sudah sembuh nanti. Mungkin aku boleh tidur di Sanatorium sampai Ibu Asrama menyatakan aku sudah tidak mendengkur lagi?”
“ne, kupikir itu jalan keluar yang tepat,” Siwon tersenyum. “terus terang saja ini keluhan paling lucu yang pernah kudengar. Tapi memang Ryeowook harus bisa tidur nyenyak. Kalau tidak, kita semua tidak akan bisa memperoleh susu waktu sarapan.”
Semua tertawa . siwon mengetuk meja, minta agar semua diam.
“sebelum kita membubarkan rapat ini,” kata Siwon, “Taeyeon ingin mengatakan sesuatu. Berdirilah, Taeyeon.”
Taeyeon berdiri, mukanya terasa panas. Ia telah memikirkan baik-baik apa yang akan dikatakannya, maka ia bisa berbicara dengan lancar, tanpa tertegun atau pun berhenti.
“aku ingin menyampaikan tentang tuduhanku pada Yesung minggu lalu. Aku menuduhnya mempermainkau dan Sulli dengan berbagai tipuannya. Dan kalian semua percaya pada tuduhanku itu, sehingga memutuskan untuk menghukum Yesung dengan jalan melarangnya ikut bertanding. Ternyata tuduhanku salah. Yang melakukan perbuatan keji itu sama sekali bukan Yesung, tapi orang lain.”
“nuguji? Malhaebwa!” seru beberapa orang anak, ada yang bernada gusar. Siwon mengetuk meja dengan palunya, dan semua terdiam.
“chankkaman, Taeyeon.” Kata Siwon. “Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku dan Boa, sebagai Hakim, telah memutuskan bahwa untuk saat ini sungguh tidak bijaksana untuk mengumumkan nama anak yang bersalah itu. kalian mestinya setuju bahwa ada kalanya tidak bijaksana untuk mengumumkan sesuatu pada orang banyak. Dan perkara ini adalah salah satu perkara seperti itu. kuharap kalian mengerti dan puas, sebab ini kami lakukan demi kebaikan kita bersama juga.”
“arasseo,” kata beberapa orang anak. Siwon dan Boa memang disenangi dan dikagumi. Semua anak percya bahwa apa yang dilakukan keduanya pastilah bijaksana.
Amber yang malang mau tak mau gemetar kakinya. Sesaat ia mengira bahwa seluruh sekolah telah mengetahui bahwa dialah yang berbuat begitu keji. Ia tak berani mengangkat muka. Rasanya ingin lenyap dari situ. Sulli dan Sunny yang duduk mengapitnya merasakan betapa Amber gemetar. Keduanya segera merapat untuk menenangkan anak malang itu. untung sekali kedua Hakim tidak membicarakan perkara itu secara berkepanjangan.
Taeyeon masih berdiri. Pembicaraannya belum habis. Ia menunggu sampai anak-anak tenang, lalu berkata lagi, “tak banyak lagi yang ingin aku sampaikan. Aku hanya ingin meminta maaf sedalam-dalamnya pada kalian akan apa yang kukatakan minggu lalu. Aku berjanji bahwa kelak aku akan selalu berhati-hati dan baru setelah yakin benar aku akan menuduh seseorang. Yesung benar-benar pengertian tentang kesalahanku ini.”
Taeyeon duduk. Siwon sudah mengangkat palu untuk membubarkan Rapat waktu Yesung berdiri. Mukanya berseri, matanya bersinar-sinar. Sungguh sangat berbeda (selain rambutnya yang di cat pirang) dengan Yesung yang minggu lalu diadili oleh Rapat.
“bolehkah aku berkata sesuatu, Siwon?” tanyanya. “begini, Taeyeon telah mengundurkan diri dari anggota tim lacrosse untuk memberiku kesempatan terpilih menjadi anggota tim. Itu dilakukannya untuk menebus kesalahannya karena minggu lalu ia merasa telah menuduhku secara keliru. Aku berpikir tindakannya itu sungguh sangat baik, dan aku ingin agar seluruh sekolah mengetahuinya.”
“hidup Taeyeon!!” seseorang berseru. Semua anak merasa bahwa tindakan Taeyeon sangat tepat dan adil. Taeyeon sendiri merasakan perasaan hangat ini, dan ia benar-benar bahagia.
Rapat Besar bubar. Anak-anak keluar untuk melakukan apa saja sesuai kegemaran mereka dalam waktu setengah jam, sebelum makan malam.
Sunny menulis surat untuk ibunya. Sulli menyetel gramofon, lalu menggoyang-goyangkan badannya dengan kocak ditengah ruangan, membuat yang ada disitu tertawa tergelak.
Taeyeon berlatih music dan vocal disalah satu ruang latihan music.
Yesung membaca buku tentang kuda.
Amber sibuk dengan alat menjahitnya. Ia telah menghabiskan seluruh uang sakunya untuk membeli 2 tempat syal untuk di sulam. Dan sekarang ia mulai menyulam syal tersebut. Bila selesai nanti, kedua benda itu akan diberikan pada Taeyeondan Sulli. Boa bilang bahwa sungguh mungkin menebus kesalahan seseorang dengan berbuat kebaikan. Dan sekarang Amber berharap bisa berbuat kebaikan, membuatkan syal untuk teman-temannya itu.
“kami belajar banyak sekali, disamping pelajaran sekolah, di SM School ini,” batin Amber sementara ia menjahit. Dan Amber memang benar!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 18

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 18 : It’s Better
Taeyeon bangun pagi-pagi sekali, dan langsung pergi ke kandang. Yesung sudah ada disana, memasang pelana pada kuda-kuda peliharaannya, bersiul-siul bahagia. Ia melakukan suatu tugas yang disenanginya, merawat kuda-kuda yang tampak langsung membalas cintanya juga.
“suatu perasaan yang menghangatkan hati,” katanya pada Taeyeon. “dulu aku tak pernah merasakan seperti ini, sebab dulu aku tak punya binatang peliharaan. Lagipula waktu itu aku sama sekali tidak menyukai hewan. Kecuali kuda. Kurasa Boa dan Siwon tidak akan bisa memikirkan yang lebih baik lagi untukku. Aneh bukan? Bukannya di hukum, aku malah mendapat sesuatu yang ku gemari. Tapi dengan begini aku bisa menghilangkan sifat burukku lebih cepat daripada dihukum. Sekarang aku sama sekali tidak mau berbuat buruk lagi.”
“kita tidak bisa berbuat jahat pada siapapun saat kita merasa bahagia,” kata Taeyeon bijak, “paling tidak begitulah yang terjadi padaku. jika aku bahagia, aku hanya ingin bersikap hangat dan murah hati. Kajja, kita berangkat. Oh, Yesung, aneh bukan bahwa kita bisa bersahabat sertelah musuhan begitu sengit.”
Yesung tertawa, melompat ke punggung Horsie. Kuda itu meringkik, menengadahkan kepala. Ia sangat senang mengetahui bahwa Yesung yang menungganginya. Kedua kuda mereka berjalan pelan sepanjang jalan berumput, kemudian berpacu kearah perbukitan. Taeyeon sudah pandai menunggang kuda sejak beberapa tahun, jadi ia bisa berkuda dengan baik walaupun ia selalu kesulitan saat hendak menaikinya. Mereka menikmati perjalanan pagi itu. mereka saling berteriak, berbicara. Kemudian taeyeon mengemukakan sebuah usul.
“hei, bagaimana kalau kapan-kapan kau ajak Liu Amber berkuda bersama? Biar pipinya merah sehat!”
“Amber? Aku tidak menyukainya!” teriak Yesung. “dia itu anak nakal! Apa kau akan bermain dengannya?”
“memang!” sahut Taeyeon. “dulu aku juga tidak menyukainya, seperti halnya aku tidak menyukaimu. Tapi kukira aku telah sudah sering salah menafsir orang. Mungkin juga aku bisa berteman dengannya. paling tidak ia akan ku beri kesempatan. Kau mau membantukukan?”
“geurae,” kata Yesung. “ia cukup pandai berkuda. Tapi kau juga harus ikut. Aku tidak akan tahan berdua saja dengannya. bisa kaku karena bosan! Satu hal tentangmu, Taeyeon, kau tidak pernah membosankan. Kalau kau sedang baik hati, kau bisa baik sekali, begitu juga sebaliknya, kalau sedang jahat, kau bisa jahat sekali!”
“YA!! jangan ingatkan aku tentang itu!” kesal Taeyeon memperlambat kudanya, “aku sedang berusaha memperbaiki diri. Aku ingin agar selamanya aku jadi anak yang baik. Malah waktu aku kembali ke sekolah ini aku telah bertekad untuk berusaha keras menjadi anak terbaik. Tapi ternyata aku membuat begitu banyak kesalahan dan kekeliruan! Rasanya aku tidak akan mungkin jadi Pengawas.”
“kau tahu tidak, sebenarnya aku juga ingin jadi Pengawas,” kata Yesung, “mestinya senang sekali merasa bahwa kita dipercaya dan disegani oleh seisi sekolah, segala pendapat kita didengar dan dipatuhi. Dan betapa bangganya duduk sebagai anggota Dewan Juri. Tapi..yah, tidak mungkin seorang diantara kita berdua bisa sampai terpilih. Aku membuat awal yang buruk semester ini. dan kau adalah anak paling badung semester yang lalu. Tak bisa ku bayangkan betapa nakalnya kau dulu sampai memperoleh julukan seperti itu.”
Waktu keduanya memasuki ruang makan untuk sarapan, Yesung dan Taeyeon sama-sama tampak sangat berbahagia. Pipi mereka merah oleh angin dingin, mata mereka bersinar-sinar. Taeyeon tersenyum pada Amber yang duduk di tempat biasanya, tampak sedikit ceria tapi agak gugup.
“annyeong, Amber! Annyeong yeorobun,” sapa Taeyeon, “wah, aku lapar sekali! Rasanya aku bisa menghabiskan 20 sosis dan 12 telur.”
“baru berkuda, ya?” tanya Amber sambil mendorong piring tempat roti panggang kearah Taeyeon. “wah, kau benar-benar merah seperti orang Indian.”
Taeyeon tertawa. “tapi sungguh menyenangkan! Mestinya kau juga bangun pagi dan berkuda bersama kami,”
“ne, ayolah,” ajak Yesung. “kau kan cukup pandai berkuda, Amber. Datang saja, dan mari berkuda denganku dan Taeyeon. Kita bisa berkuda sampai bermil-mil!”
Amber berseri-seri kegirangan. Ia tersenyum lebar, “oh, aku akan senang sekali,” katanya. “gomapta. Aku sangat menyukai kuda bernama Horsie itu.”
“jeongmal?” tanya Yesung heran. “aneh, aku juga menyukai kuda itu! ia memang kuda yang sangat manis! Kemarin kakinya pincang dan aku benar-benar khawatir…”
Dan Yesung langsung saja tenggelam dalam percakapan yang hangat dengan Amber, membicarakan Horsie dan Captain. Percakapan mereka cukup seru, karena Amber cukup banyak tahu tentang kuda. Kali ini ia sama sekali tidak membual. Ia menahan diri untuk bisa mendengarkan dengan sopan, sementara hatinya begitu gembira karena ada seseorang yang berbicara dengan begitu hangat dan bersahabat. Ia berusaha keras untuk tidak membuat bibirnya melengkung turun di ujung-ujungnya, sesuatu yang membuat wajahnya tampak bodoh. Dengan berseri-seri ia mengikuti pembicaraan Yesung, dan sekali-kali tertawa ceria karena lelucon Yesung.
Tadinya ia sangat takut unutk ikut sarapan. Pastilah akan sangat berat baginya untuk duduk berhadapan dengan Taeyeon, Sulli, Sunny, dan Sooyoung. Keempat anak itu tahu rahasianya. Tapi setelah duduk bersama ternyata dugaannya salah. Keempatnya menyambutnya secara wajar saja, walaupun jelas lebih hangat dan ramah dari biasanya. Sikap mereka membuat Amber merasa sangat bersyukur dan berbahagia, bukannya kikuk dan malu.
Sungguh menyenangkan suasana sarapan itu. tapi beberapa anak ada juga yang heran melihat Yesung dan Taeyeon tiba-tiba saja tampak begitu akrab.
“kau benar-benar aneh, Taeng,” kata Key. “suatu hari kau bermusuhan setengah mati, dan hari berikutnya kau sudah bersahabat begitu akrab!”
“semester lalu Taeyeon pernah menjadi musuhku yang paling kubenci,” kata Sungmin sambil tertawa. “sampai di punggungnya ku tempelkan kertas dengan tulisan ‘Aku anak badung, bandel, Bengal! Aku menyalak! Aku menggigit! Awas!’ wah. Waktu itu kau marah sekali, Taeyeon.”
“memang,” kata Taeyeon teringat saat ia diusili Sungmin. “tapi sekarang peristiwa itu terasa lucu bagiku. Eh, ayo kita lihat papan pengumuman, kayaknya ada pengumuman baru.”
Mereka menyeberangi ruangan. Memang ada pengumuman baru.
“Kim Taeyeon terpilih untuk ikut main dalam pertandingan lacrosse melawan Sekolah JYP,” demikian bunyi pengumuman tersebut.
Taeyeon ternganga membacanya. Pipinya serasa terbakar.
“Ommo!!” ia berseru. “saekarang aku benar-benar terpilih! Dulu Yesung yang terpilih, tapi karena ia dihukum aku yang ditunjuk untuk menggantikannya. Tapi sekarang aku benar-benar terpilih!”
“tentu saja, apa lagi kali ini adalah pertandignan perlawatan, bertanding di kandang lawan!” kata Sungmin. “kau bisa pergi naik bus ke sekolah JYP. Kau benar-benar beruntung!”
“memang menyenangkan!” seru Taeyeon. Bagaikan menari ia langsung mendekati Sulli dan Sunny untuk memberitahu tentang pengumuman tersebut. Amber msih bersama mereka berdua, dan berempat mereka membicarakan hal itu dengan gembira.
“kalau saja kami bisa ikut pergi untuk menyaksikan kau menembakkan bola ke gawang lawan, pasti menyenangkan!” Sunny kegirangan menggandeng lengan sahabatnya. “mudah-mudahan kali ini tidak hujan lagi, Taeng.”
“oh, jangan sampai hujan lagi!” seru Taeyeon. “Sunny, Amber, nanti bantu aku berlatih, ya, sebelum makan siang!”
Amber semakin berseri. Jarang sekali ada anak yang meminta bantuannya. Sungguh menyenangkan merasa bahwa dirinya dianggap teman sekelompok sekarang.
“hei, senyummu benar-benar manis,” kata Sunny memperhatikan Amber. “kajja! Lonceng sudah berbunyi. Jangan sampai aku terlambat. Kemarin aku hanya setengah detik, tapi Song seonsaengnim sudah ngamuk-ngamuk!”
Tak terasa Amber bernyanyi kecil saat pergi ke kamarnya untuk mengambil buku. Betapa baik hati teman-temannya! Ternyata memang sangat mudah untuk tersenyum bila kita merasa bahagia. Pagi ini Amber sudah bisa tersenyum di kacanya. Diperhatikannya wajahnya. Kini sudah berbeda, tidak sederhana lagi, tapi berseri-seri dan manis! Dengan tegas ia berbicara pada bayangan wajahnya di cermin.
“sekarang kau tidak boleh lagi makan permen. Kau tidak boleh rakus! Tak boleh berbuat bodoh sedikit pun! Senyumlah dan jadilah anak manis!”
Dan wajah di cermin itu tersenyum membalasnya.
Ketika pelajaran pagi selesai, Taeyeon, Amber, dan Sunny bergegas mengambil tongkat-tongkat lacrosse, untuk berlatih menangkap dan memukul bola. Mereka bertubrukan dengan Yesung di gang.
“aigoo.. kalian ini seperti topan saja!” seru Yesung. “mau kemana tergesa-gesa?”
“kami mau membantu Taeyeon menangkap bola,” kata Sunny. “apa kau tidak tahu? Taeyeon terpilih untuk ikut main dalam pertandingan di Sekolah JYP sabtu depan.”
“jinja?” sesaat wajah Yesung terlihat sangat kecewa. Ia telah begitu berharap dirinya akan terpilih kembali. Sebab dulu dia yang dipilih, dan akhirnya Taeyeon menggantikannya, walaupun akhirnya pertandingan dibatalkan kareana hujan lebat. Yah, tak apalah.
“aku tidak boleh merasa iri,” katanya dalam hati. “toh masih banyak kesempatan untuk bisa dipilih.“ dan ia berseru pada Taeyeon, “chukkae, Taeyeon! Betapa menyenangkannya kalau aku bisa melihatmu memasukkan bola ke gawang lawan!”
Ia berlari meninggalkan yeojadeul itu. Taeyeon berpaling pada Sunny, “Yesung baik sekali, kan?”
Sunny menatap wajah Taeyeon, “kau perhatikan wajahnya waktu ia ku beritahu bahwa kau yang terpilih?”
“ani, wae?” tanya Taeyeon heran.
“ia terlihat sangat kecewa,” kata Sunny mengeluarkan tongkat lacrosse-nya. “mungkin sekali ia berharap akan terpilih kali ini, sebab dulu ia dihalangi oleh keputusan rapat.”
“oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Taeyeon. Ia juga mengeluarkan tongkat lacrosse-nya, dan ketiga yeoja itu pergi ke lapangan. tak lama mereka telah sibuk, saling melempar, saling menangkap bola. Kemudian Amber menjadi penjaga gawang, sementara kedua rekannya berusaha memasukkan bolanya.
Tapi sekarang Taeyeon tak begitu menikmati latihannya. Ia berpikir tentang Yesung. Sabtu lau, dengan tuduhannya ia berhasil mencegah Yesung bermain di pertandingan. Makin dipikirkannya terasa makin tak adil bahwa sekarang dialah yang bermain dan bukan Yesung.
“walaupun akhirnya aku tak jadi main karena hujan,” demikian pikirnya sambil menangkap bola dan melontarkannya pada Sunny.
“tapi kalau tidak hujan, maka mestinya aku sudah main satu kali. Jadinya kalau sabtu ini aku main lagi, itu berarti aku main dua Sabtu berturut-turut, sementara Yesung sama sekali belum bermain sekali pun. Padahal sebenarnya dialah yang terpilih minggu lalu. Rasanya hatiku tidak enak. Biarlah kutanyakan hal ini pada Sooyoung.”
Sehabis makan, Taeyeon menemui Sooyoung.
Sebagai pengawas, maka Sooyoung selalu siap untuk mendengar kesulitan anak-anak dibawah pengawasannya. Sebaliknya mereka yang diawasi selalu dengan senang hati minta nasihat seorang pengawas bila memang diperlukan.
“Soo, bagaimana menurutmu kalau aku minta agar Yesung bermain dalam pertandingan hari Sabtu ini, dan bukannya aku?” tanya Taeyeon. “kau tahu, Sabtu kemarin ia tak jadi main karena aku telah menuduhnya berbuat salah. Dan aku tahu ia sangat kecewa sekali. Bagaimana kalau aku minta pada Seohyun agar mengganti namaku dengan nama Yesung?”
“ne, kukira itu sangat adil, Taeng.” Kata Sooyoung segera. “bagus sekali keputusanmu ini. aku sangat senang kau berpikir sampai ke situ. Ada satu hal sangat kukagumi pada dirimu, kau selalu berusaha untuk bertindak sangat adil.”
“aku akan mencari Seohyun sekarang juga,” kata Taeyeon, dan berlari meninggalkan Sooyoung, takut kalau pikirannya berubah lagi. Hal ini memang tidak enak bagi Taeyeon, tapi akan merupakan kejutan manis bagi Yesung!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 17

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 17 : remedy the situation
Taeyeon merasa marah pada dirinya sendiri saat ia mencari Yesung.
”sungguh buruk kelakuanku,” pikirnya. “aku menuduh seseorang melakukan banyak sekali perbuatan jahat, dan ternyata tak satu pun dilakukannya. Aku telah meminta dan berhasil membuatnya dihukum pada saat ia memutuskan untuk mengubah kelakuannya. Semua orang menolongnya. Aku satu-satunya yang telah membuatnya marah dan kecewa. Aku benci pada diriku sendiri!”
Ia tak bisa menemukan Yesung dimana pun. Hingga seseorang menghampirinya.
“hey, Taeyeon!” seru orang itu menepuk pundak Taeyeon.
“oh, kau Leeteuk.” kejut Taeyeon. “mengagetkanku saja!”
“hehe.. mian.” Ucap Leeteuk. “kau sedang mencari apa?”
“aku mencari Yesung.” Kata Taeyon. “Apa kau melihatnya?”
“Yesung?” tanya Leeteuk. “Tidak. Memangnya kenapa?”
“aku ada urusan dengannya.”
“wah, kau mau berkelahi lagi dengan anak itu?”
“ya! memangnya kerjaanku hanya berkelahi saja?” Taeyeon meninju kecil perut Leeteuk, namun keduanya tertawa cekikikan. *inget TaeTeuk moment di SUKIRA 😉
“Leeteuk!” teriak seseorang menghampiri keduanya.
“ne? ada apa Kyu?” jawab Leeteuk.
“oh, Taeng, annyeong!” sapa Kyuhyun yang dibalas sapaan balik Taeyeon. “ya!! aku tunggu dilapang basket, malah pacaran disini!”
“YA!! Siapa yang pacaran!” bantah Taeyeon dan Leeteuk bersamaan dan membuat keduanya saling melirik lalu melempar pandangan kearah lain dan membuat Kyuhyun terkekeh.
“aku pergi.” Ucap Taeyeon melewati Kyuhyun.
“mau kemana?” tanya Kyuhyun. “tidak mau menonton kami berlatih basket?”
“aniyo. Lain kali saja.” kata Taeyeon. “aku harus mencari Yesung.”
“Yesung? Tadi kulihat dia ada di kandang kuda.”
“oh, gomawo, Kyu.” Ucap Taeyeon segera pergi menuju kandang kuda.
Disana Taeyeon bertemu Ryeowook. “hari ini Horsie sedikit pincang,” kata Ryeowook. “dan Yesung sekarang ada di kandang, merawatnya bersama para pengurus kuda. Aku baru saja melihatnya, waktu pulang dari kandang sapi. Aku dan Victoria setiap pagi bertemu dengannya, saat kami berdua harus memerah sapi. Dan kau tahu, Taeyeon, kami merasa dia anak yang sangat menyenangkan. Ia berusaha keras untuk menyenangkan semua anak yang dulu diganggunya. Mau tidak mau aku harus mengaguminya.”
“aku juga mengaguminya,” kata Taeyeon. “tapi jelas ia tidak akan mengagumiku kalau ia mendengar apa yang akan ku ceritakan padanya nanti.”
“mwoya?” tanya Ryeowook. Tapi Taeyeon tidak mau menceritakannya.
Diluar hari sudah gelap. Taeyeon merapatkan syalnya dan mendekat ke kandang kuda. Didengarnya Yesung bercakap-cakap dengan pengurus kuda didalam kandang. Ia pun menjengukkan kepalanya ke dalam.
“Yesung,” katanya. “bisakah aku bicara sebentar denganmu?”
“nugu?” tanya Yesung heran. “oh, kau, Taeyeon. Ada apa?”
Yesung keluar kandang, mendekatinya. Tubuhnya bau kuda. Bau yang disukai Taeyeon, dan rambutnya berantakan dan tampak berbeda karena warna rambutnya berbeda dari biasanya.
“kau mengecat rambutmu?” tanya Taeyeon melihat perubahan rambutnya.
“apa kau kesini hanya untuk menanyakan itu?”
“ah, aniya.” Kata Taeyeon. Lalu keduanya duduk dibangku panjang yang menghadap ke kebun sekolah. “Yesung.”
“hm?”
“aku telah melakukan suatu kesalahan padamu.” Aku Taeyeon. “ternyata yang mempermainkan aku dan Sulli memang bukan kau.”
“aku sudah mengatakan hal itu padamu,” kata Yesung. “jadi aku tidak heran lagi.”
“ne, padahal aku sudah mengatakan pada seluruh sekolah bahwa kau yang melakukannya,” kata Taeyeon, suaranya mulai sedikit bergetar. “dan kau kena hukuman karena itu. tak bisa kujelaskan betapa menyesalnya aku. Kau memang pernah berbuat keji terhadapku, dan aku tak menyukaimu, tapi perbuatanku padamu jauh lebih keji lagi. Dan kau ternyata benar-benar memiliki pribadi yang kuat, karena mau datang pada pertandinganku, dan ikut menyesal sewaktu pertandingan itu dibatalkan karena hujan. Menurutku kau jauh lebih matang berpikir dariku. Sungguh picik pikiranku…”
“aku juga berpikir begitu,” kata Yesung dan menggenggam tangan kanan Taeyeon dan Taeyeon sedikit terkejut. “tapi sebenarnya aku tidak sebaik yang kau pikirkan, Taeyeon. Aku bisa melupakan kebencianku padamu karena aku merasa sangat bahagia, begitu bahagia hingga aku yakin aku mampu mengubah pribadiku. Sebenarnya karena perasaan bahagiaku itu aku tidak peduli lagi pada kekecewaanku karena tidak jadi main. Jadi tidak sulit bagiku untuk ikut nonton dan mengatakan padamu aku ikut menyesal karena pertandingan itu dibatalkan. Tapi aku senang akhirnya kau tahu siapa yang berbuat. Nugu?”
“saat ini aku belum bisa mengatakannya,” kata Taeyeon dan melepaskan tangan Yesung di tangannya. Yesung menunduk tertawa kecil. “tapi segera setelah aku tahu hal ini aku mendatangimu, untuk mengatakan aku sangat menyesal atas tuduhanku padamu. Aku harap kau bisa memaafkanku.”
“tidak usah khawatir tentang itu,” sahut Yesung sambil tertawa. “orang-orang akan harus memberiku maaf jauh lebih banyak daripada maaf yang harus kuberikan padamu. Ayolah, kita bersahabat saja. bermusuhan awalnya memang menyenangkan, tapi lama-lama bisa gawat juga. Datanglah besok pagi sebelum sarapan, dan kita berkuda bersama. Kau naik Captain, aku naik Horsie, kalau kakinya sudah sembuh. Dan gembiralah! Kau tampak aneh?”
“aku memang merasa aneh,” kata Taeyeon dengan kerongkongan serasa tercekat. “tak ku sangka kau begitu baik padaku. kukira memang aku sering salah menilai orang. Ya, Yesung, aku senang akhirnya kita bersahabat. Aku akan bangun pagi-pagi sekali besok.”
Yesung tersenyum pada Taeyeon dan kembali ke dalam kandang. Taeyeon menyelinap masuk ke dalam kegelapan. Sejenak ia berdiri diluar pintu, diterpa angin dingin. Betapa anehnya orang-orang disekelilingnya. Kadang kita mengira seseorang jahat, tapi ternyata ia seorang yang baik bahkan ingin bersahabat dengan kita.
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 15

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
kalo sempet mo d tamatin hari ini juga (sampe chapter 26). mudah-mudahan aja ya! 😉

–Trouble Maker– Chapter 15 : Amber Recognizes
Semua merasa kecewa karena pertandingan dibatalkan. Terutama para pemain. Sepanjang sore itu hujan turun deras. Mr.Choi dan Mrs. Song mengatur berbagai permainan di ruang senam, antara tim tamu dan tim sekolah mereka. Dan ternyata tim tamu senang sekali dengan permainan-permainan itu.
Sunny ikut menyesal karena Taeyeon kecewa. Digandenganya tangan sahabatnya itu. “sudahlah, Taeng, tidak usah terlalu dipikirkan. Minggu depan kan ada pertandingan lagi. Aku yakin kau bisa bermain dalam pertandingan itu.”
“mungkin saja,” kata Taeyeon. “tapi sial sekali tidak bisa jadi bermain hari ini. aku sudah berlatih keras. Dan aku sudah begitu tangkas dalam menangkap bola dan mencetak gol!”
“aku takin Yesung sangat girang karena hujan dan kau tidak jadi main,” kata Sunny.
“nah, itulah yang aneh, Sunny,” kata Taeyeon. “pertama, ia datang ke lapangan untuk menonton pertandingan itu. dan kedua, sewaktu kita semua lari meninggalkan lapangan, ia mendatangiku dan bilang kalau ia ikut menyesal pertandingan terpaksa dibatalkan. Aneh, kan? Aku jadi malu sendiri. bahkan ia membantuku melindungiku dari hujan.”
“MWO??” kaget Sunny membuat orang-orang berpaling kearahnya.
“kecilkan suaramu, babo!!”
“Dia melindungimu dari hujan? Bagaimana ceritanya?”
“ne. dia mendatangiku dan melindungi kepalaku dan kepalanya dengan jaketnya.”
“whoaa, jangan-jangan dia mulai menyukaimu!”
“MWO???” kaget Taeyeon kembali membuat orang-orang berpaling pada 2 yeoja ini.
“ada apa, Taeng?” tanya Donghae.
“oh, aniyo, Hae.” Kata Taeyeon.
Taeyeon dan Sunny kembali mengobrol dengan berbisik-bisik.
“tapi aku curiga ia sedang merencanakan sesuatu. Tunggu saja sampai ia menjalankan rencana jahatnya lagi padamu.” Kata Sunny. “kau tidak akan merasa malu lagi pasti.”
Tapi ternyata sejak saat itu mereka tak pernah diganggu oleh kejadian aneh lagi. Amber tidak bernafsu(?) untuk mempermainkan Taeyeon dan Sulli lagi. Ia sudah melihat anak lain yang dihukum karena ulahnya. Ia mulai membenci dirinya sendiri. ia memang membenci Taeyeon dan Sulli, tapi kebenciannya pada dirinya sendiri bukannya benci karena marah, melainkan benci bercampur jijik.
“sungguh anak yang pantas dibenci semua orang,” pikir Amber putus asa. “mukaku buruk. Berbintik-bintik. Pucat. Aku membosankan dan tak begitu cerdas. Dan sekarang aku begitu jahat, suka berbohong dan pengecut! Ini semua benar-benar merupakan permulaan terburuk untuk menjadi anak yang sangat jahat. Kalau seseorang mulai membenci dirinya sendiri, maka ia tidak akan bisa merasa bahagia lagi. Aku tidak cocok untuk bersekolah di SM ini. semua anak lain selalu bahagia dan gembira. Dan bahkan seorang anak jahat seperti Yesung ternyata bisa beralih menjadi baik dan diberi kesempatan untuk memulai lagi.”
Poor Amber! Awalnya ia mengira segala tipuannya merupakan sesuatu yang menyenangkan, apalagi melihat hasilnya yang selalu berhasil seperti yang diinginkannya.
Tapi sekarang ia tahu bahwa kebiasaan jahat membuat seseorang menjadi jahat. Dan ia membenci dirinya sendiri.
“benar-benar buruk membenci diri kita sendiri, lebih buruk daripada membenci orang lain,” pikir Amber selanjutnya. “sebab kita tidak bisa lari dari diri kita sendiri. kenapa aku tidak bisa bersikap seperti Sooyoung atau Changmin, yang selalu jujur dan bahagia.”
Amber benar-benar tidak merasa bahagia. Ia mulai terbiasa berjalan dengan kepala menunduk seperti seekor anjing yang terlalu sedih.
“ada apa, Amber? Ommo! Senyum sedikit donk!” seru Tiffany.
“kau kelihatan begitu sedih! Apa kau menerima kabar buruk dari rumah?”
“tidak,” jawab Amber. “aku hanya sedang tidak suka tersenyum. Jangan menggangguku.”
Anak-anak lain juga melihat betapa sedihnya Amber. Merasa kasihan juga padanya. Bahkan Taeyeon juga bertanya, “Amber, kau sakit?”
Tapi Amber hanya menjawab singkat, “tidak.” Dan pergi meninggalkan Taeyeon.
Pekerjaannya begitu buruk hingga Mrs. Song merasa khawatir. Ada apa dengan anak ini? tampaknya ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Akhirnya Mrs. Song mengajak Amber berbicara berdua.
“Amber, ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Mrs. Song lembut. “minggu ini semua pekerjaanmu berantakan. Dan kau terlihat sedih. Ceritakan padaku kesulitanmu, mungkin aku bisa membantu.”
Amber merasa air matanya mulai mendesak keluar saat mendengar Mrs. Song berkata sedemikian lembut padanya. Ia memalingkan muka.
“tak seorangpun bisa menolongku,” katanya dengan suara serak. “semuanya salah. Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bisa menolongku.”
“Amber, hanya sedikit sekali masalah yang sama sekali tidak bisa ditolong orang lain,” kata Mrs. Song, “kalau saja kau memberi kesempatan pada orang lain untuk menolongmu. Ayolah, ada apa sebenarnya?”
Tapi Amber hanya menggelengkan kepalanya tidak mau menceritakan masalahnya. Mrs. Song menyerah. Ia bukannya tidak suka pada Amber, hanya sangat kasihan!
Kemudian Amber memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan bodoh. Ia akan melarikan diri dari sekolah. Melarikan diri dan pulang! Tapi sebelum itu ia akan bercerita pada Sulli dan Taeyeon tentang semua perbuatannya. Ia akan mengaku pada mereka agar Yesung bisa bersih dari segala tuduhan. Paling tidak itulah yang bisa dilakukannya, paling tidak ia tidak akan begitu jijik pada dirinya sendiri kalau ia berani mengakui perbuatannya. “tapi pasti sangat sulit bagiku.” Pikir Amber. “mereka pasti marah padaku, pasti jijik, dan semua anak di sekolah ini akan tahu betapa jahatnya aku. Tapi tidak apa-apa. Toh pada saat itu aku sudah tidak berada disini lagi.”
Sore itu, selesai minum teh, Amber mendekati Sulli. “Sulli,” katanya. “aku ingin bicara denganmu dan Taeyeon. Bertiga saja. dimana Taeyeon?”
“di studio radio,” kata Sulli heran. “kajja, kita jemput dia. Tapi apa yang mau kau bicarakan?”
“akan kukatakan nanti kalau Taeyeon sudah bersama kita,” kata Amber. “kita ke salah satu ruang latihan music saja, disana tidak ada orang.”
Dengan bingung Sulli berjalan dengan Amber mencari Taeyeon. Taeyeon bersedia ikut bersama keduanya walaupun ia sedang asyik siaran radio sekolah dengan Heechul dan Kangin.
Amber menutup pintu dan berbalik menghadap Taeyeon dan Sulli. “aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua,” kata Amber. “akhir-akhir ini aku begitu sedih, dan tidak tahan lagi menanggung kesedihan itu. aku bermaksud untuk pulang saja. tapi sebelum pergi, aku ingin mengakui sesuatu. Jangan menyalahkan Yesung untuk apa yang kau tuduhkan selama ini. bukan dia yang berbuat, tapi aku.”
Taeyeon dan Sulli ternganga, memandang heran pada Amber. Amber telah mengakui segala perbuatannya. Menyembunyikan buku, mengambil tikus Sulli, mengotori alat-alat berkebun, memberantakan laci mereka.
“aku tahu kalian pasti akan memandang begitu padaku,” kata Amber, air matanya mulai mengalir. “memang sudah sepantasnya. Tapi sebelum aku pergi aku ingin mengatakan satu hal lagi. Kalian berdua cantik, pandai, lucu dan cerdas. Semua orang menyukai kalian. Aku begitu buruk, pucat, berbintik-bintik, dan tidak bisa bergaul. Tapi memang aku dilahirkan begitu. Kalian tidak tahu aku begitu iri pada kalian berdua. Aku ingin seperti kalian. Karena itu aku membenci kalian, kalian memiliki apa yang aku inginkan. Dan suatu hari kau sungguh kejam padaku, Sulli, saat kau menirukan pertengkaranku dengan Han seonsangnim…”
“oh, mianhae. Aku menyesal berbuat seperti itu,” kata Sulli segera. “aku tidak tahu kalau kau ada di sana. aku tidak heran kau ingin membalas dendam padaku. tapi kenapa kau juga harus menyakiti Taeyeon…”
“tapi aku sudah membayar mahal untuk itu semua,” kata Amber. “bukan saja aku membenci kalian, aku juga membenci diriku sendiri! jadi jelas aku anak paling buruk di sekolah ini, lahir batin. Karena itulah aku bermaksud pulang saja. eommaku mencintaiku, walaupun aku tidak secantik dan semanis anak-anak lain. Dan ibuku pasti akan mengerti kenapa aku melarikan diri dari sini.”
Beberapa saat mereka terdiam. Taeyeon dan Sulli sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Mereka sangat terkejut atas pengakuan Amber. Terutama Taeyeon. Ia jadi sangat marah karena telah menuduh Yesung. Ia jadi merasa berdosa besar.
“Amber, aku cuma bilang bahwa sungguh bagus kau akhirnya punya keberanian untuk mengaku,” kata Sulli. “aku sangat menghargai keberanianmu itu. tapi harus kukatakan kalau kau benar-benar jahat! Ya, kan Taeyeon?”
“ne.” kata Taeyeon. “kau membuatku memaksa Yesung dihukum. Tidak itu saja, terpaksa aku nanti harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi! Senang sekali kalau kau tidak bersekolah di SM ini!”
“kurasa kau benar,” kata Amber lemah. “tapi aku juga tidak akan lama lagi disini.”
Amber membuka pintu, menyelinap ke dalam gang dan berlari menaiki tangga. Air matanya bercucuran. Ia telah mengaku. Dan akibatnya lebih buruk dari dugaannya. Ia akan membereskan barang-barangnya, lalu pergi.
Taeyeon dan Sulli saling pandang, tak tahu apa yang akan mereka katakan. Saat itulah Sunny muncul, heran melihat keduanya berhadapan dengan muka marah. “annyeong!” kata Sunny. “sedang apa kalian, saling memelototkan mata? Apa yang terjadi?”
Taeyeon menceritakan semuanya pada Sunny. “nah, bagaimana menurutmu? Bukankah Amber benar-benar jahat? Belum pernah ku pikirkan ada anak sejahat itu.” geram Taeyeon.
Sunny termenung. Ia mengingat dirinya sendiri dulu, dalam semester musim panas. Begitu sunyi sendiri bila sedang menemui kesulitan. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Amber. Sungguh hebat kesedihannya kalau sampai ia memutuskan untuk melarikan diri.
“dengar,” kata Sunny. “jangan memikirkan betapa kejamnya atau jahatnya Amber. Pikirkanlah bagaimana perasaan kalian kalau kalian berwajah seperti dia, tidak punya teman dan merasa sangat iri pada orang lain. Kalian pasti merasa sangat sedih dan juga malu. Taeyeon, semester lalu kau ditolong oleh seluruh sekolah, dan aku juga. Sekarang kurasa sudah pada tempatnya kalau aku menolong Amber. Dia belum pernah berbuat jahat padaku, jadi aku tidak merasa marah padanya seperti kalian. Aku hanya merasa kasihan.”
Sunny berlari keluar menyusul Amber. Taeyeon dan Sulli saling pandang. Mereka tahu bahwa Sunny benar. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, tidak memikirkan anak malang itu, yang memerlukan pertolongan dan hiburan. “kita harus membantu Sunny,” kata Sulli.
“tapi tunggu sampai Sunny selesai berbicara agak lama dengan Amber,” kata Taeyeon. “ia sangat pandai meneduhkan hati orang. Kadang-kadang aku berpendapat bahwa dia sudah pantas menjadi Pengawas.”
“yang jelas kita berdua sama sekali tidak pantas,” sungut Sulli. “aku tidak tahu bagaimana persoalan ini bisa diselesaikan, Taeyeon. Aku tidak tahu!”
Sementara itu Sunny sudah masuk ke kamar tidurnya dan mendapati Amber sedang berkemas. Sunny langsung berbicara padanya.
“Amber, aku sudah tahu semuanya. Kau benar-benar berani untuk mengakui perbuatanmu. Tunggulah sampai Sulli dan Taeyeon bisa berpikir lebih jernih, mereka pasti mau memaafkanmu, dan mengajakmu bersahabat. Sebenarnya mereka baik hati dan suka memaafkan. Mereka hanya memerlukan waktu untuk mendinginkan hati mereka.”
“kurasa SM bukan tempat yang tepat bagiku,” kata Amber sambil memakai syalnya. “bukan karena aku membuat banyak musuh, tapi aku memang tidak cocok berada disini. Semua menganggapku jelek. Lihat rambutmu, begitu indah dan berkilau, sedangkan rambutku seperti buntut tikus! Lihat matamu yang indah. Kulitmu yang halus. Dan lihat aku, seperti Upik Abu saja.”
“tapi ingat bahwa Upik Abu dalam semalam saja bisa berubah menjadi Cinderella yang begitu cantik,” kata Sunny, memegang tangan Amber. “Upik Abu memang tiap hari duduk didapur dan menyapu abu. Mungkin ia tampak buruk dan murung. Tapi apakah karena pakaian yang bagus-bagus serta kereta kencana yang membuatnya jadi cantik? Tidak. Kurasa untuk menjadi cantik ia juga harus menyisir rambutnya, merapikannya. Dan terutama, dia harus tersenyum. Kau benar-benar kelewatan, Amber. Apa kau tidak tahu kalau kau tampak sangat manis saat tersenyum?”
“tidak mungkin,” kata Amber keras kepala.
“siapa bilang? Kau betul-betul manis!” bantah Sunny. “kalau kau tersenyum, matamu bersinar, sudut bibirmu terangkat! Siapapun menjadi lebih manis. Kalau kau sering tersenyum, kau tidak akan malu pada wajahmu. Kau akan tampak manis juga. Cobalah itu, Amber!”
“mungkin kau benar,” kata Amber, teringat betapa manisnya ibunya saat tersenyum dan merasa bahagia. “tapi aku tidak punya alasan untuk tersenyum.”
Terdengar langkah kaki diluar. Taeyeon dan Sulli masuk, langsung mendekati Amber.
“tadi kami bersikap tidak ramah padamu, Amber,” kata Sulli. “kami minta maaf untuk itu. jangan pergi, Amber. Kami juga memaafkanmu dan melupakan apa yang telah kau lakukan.”
“tapi Yesung harus dibersihkan dari segala tuduhan,” kata Amber. “dan itu berarti aku harus menghadapi Rapat Besar. Mianhae, aku tidak cukup berani untuk itu.”
Ketiga anak itu saling pandang. Benar juga. Persoalan itu harus dibicarakan dalam Rapat Besar.
“nah, karena itu aku harus pergi,” kata Amber. “aku seorang pengecut dan itu tidak bisa kuubah lagi.” Amber meraih tasnya. “selamat tinggal semuanya. Jangan berpikir yang buruk-buruk tentangku, ya…”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 13

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 13 : Yesung is Given a Chance
Seluruh hadirin rapat tampak bersungguh-sungguh. Tak terlihat secercah senyum pun. Tak terdengar sedikitpun suara saat guru-guru kepala itu duduk di kursi-kursi yang cepat disiapkan oleh Dewan Juri.
“kurasa persoalan ini lebih baik kita bicarakan secara terbuka diantara kita semua,” kata Mrs. Park. “mari kita bicarakan satu persatu tuduhan yang ditujukan pada Yesung. Pertama, tuduhan bahwa ia menindas anak-anak yang lebih kecil darinya. Nah, apakah ada persoalan seperti ini, Siwon dan Boa, sejak kalian berdua menjadi Hakim?”
“tidak,”kata Siwon. “tapi kalau tidak salah pernah terjadi perkara yang hampir serupa, tentang seorang murid yang menindas murid yang lebih kecil, sewaktu aku masih berada di kelas rendah. Mungkinkah perkara itu dicatat di Buku Besar?”
Buku Besar adalah buku tempat segala perkara yang terjadi di Rapat Besar di catat. Berbagai tuduhan dan keluhan ada disitu, dengan catatan tentang bagaimana perkara-perkara itu akhirnya ditanggulangi. Buku Besar tersebut selalu terletak di meja Hakim. Buku itu memang besar dan dan separuh isinya penuh dengan berbagai tulisan kecil-kecil. Setiap Hakim diharuskan mencatat apa saja yang terjadi di setiap Rapat Besar, sebab kata Mrs. Seo dan Mrs. Park, kadang-kadang Buku Besar tersebut bisa dijadikan sumber bantuan untuk memutuskan sesuatu. Siwon membolak-balik buku tersebut.
Akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. “ini dia,” katanya. “seorang anak perempuan bernama Kim Hyoyeon dituduh menindas anak-anak yang lebih kecil darinya.”
“ah, aku ingat,” kata Mrs. Seo. “ternyata kemudian rapat waktu itu menemukan penyebab kelakuannya. Bacalah, Siwon, mungkin bisa membantu kita untuk memecahkan persoalan Yesung.”
Siwon membaca dalam hati cepat-cepat. Kemudian ia berkata pada hadirin, “disini tertulis, setelah diadakan penyelidikan, dan ternyata Hyoyeon selama 7 tahun hidup sebagai anak tunggal. Kemudian ia mendapat adik kembar, yang ditempatkan bersamanya dalam satu kamar. Selanjutnya setiap hari ia melihat bahwa semua perhatian dicurahkan pada bayi kembar itu. ayahnya, ibunya, bahkan perawatnya. Hyoyeon merasa bahwa dirinya dikucilkan. Karena itu ia sangat membenci bayi-bayi itu, yang dikiranya telah mencuri kasih sayang kedua orangtuanya darinya.”
“teruskan,” kata Mrs. Seo.
“tentu saja Hyoyeon tidak bisa menyakiti adik-adiknya itu untuk melampiaskan kemarahannya, sebab kedua bayi itu selalu dijaga,” Siwon melanjutkan. “karena itu ia melampiaskan perasaan marah, benci, dan iri hati itu pada anak lain. Ia selalu memilih anak-anak yang lebih kecil, sebab mereka tidak bisa membalas, dan karena mereka mengingatkannya pada kedua adiknya.”
“dan kukira kebiasaan itu makin lama makin berkembang dan tertanam pada diri Hyoyeon,” kata Boa, penuh perhatian. “apa yang seperti itu biasanya yang menjadikan seseorang suka menindas mereka yang lebih kecil?”
“itu salah satu dari sekian banyak sebab seseorang menjadi sok jago terhadap anak yang lebih lemah,” kata Mrs. Park. “tapi sekarang yang harus kita selidiki apakah kebiasaan Yesung juga disebabkan oleh sebab yang sama.”
Semua mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian. Setiap orang tahu apa dan bagaimana kelakuan seorang anak yang suka membully anak yang lebih kecil. Mereka tidak suka pada anak seperti itu. diam-diam anak-anak itu melirik Yesung, ingin tahu apakah Yesung juga memperhatikan.
Memang Yesung juga memperhatikan. Memang Yesung dengan cermat memperhatikan setiap kata yang diucapkan Siwon.
“kalau begitu,” kata Mr. Lee Sooman, “kita akan bertanya pada Yesung, kalau-kalau ia bisa bercerita tentang dirinya. Yesung, apa kau punya adik?”
“ne. aku punya 2 orang adik laki-laki. Masing-masing 5 tahun dan 4 tahun lebih muda dariku,” kata Yesung.
“Apa waktu kau masih kecil kau menyukai mereka?” tanya Siwon.
“tidak,” kata Yesung. “keduanya merampas perhatian semua orang. Tidak ada lagi yang memperhatikanku. Suatu hari aku sakit. Tapi tidak ada yang ribut memikirkanku seperti sebelum adik-adikku lahir. Aku tahu itu semua karena kedua adikku itu. begitulah. Waktu aku sembuh, aku membenci anak-anak yang lebih kecil dariku. Menyiksa mereka. Kuanggap saja anak-anak itu kedua adikku. Jelas aku tidak bisa memukuli kedua adikku, sebab semua orang pasti menghalangiku dan pasti akan memarahiku.”
“dan begitulah akhirnya sifat itu selalu dibawa Yesung,” kata Sooman sajangnim. “kau selalu menyakiti anak-anak yang lebih kecil darimu sebab kau tidak bisa menyingkirkan kedua adikmu yang menurut pendapatmu telah mencuri perhatian kedua orangtuamu. Kasihan sekali kau, Yesung. Sebenarnya kau membuat sedih dirimu jauh lebih besar dari kesedihan yang kau timbulkan pada orang lain.”
“ne, orang-orang sudah menuduhku suka menindas anak-anak kecil.” Kata Yesung murung. “jadi ku anggap saja mereka benar. Kuanggap saja memang begitulah sifatku, tak bisa diubah lagi, tak bisa dihentikan.”
“sebenarnya masih bisa diubah, dan kau sendiri bisa menghentikan kebiasaan buruk itu,” kata Mrs. Seo. “begini, Yesung, kalau kau tahu bagaimana suatu kebiasaan timbul dan tumbuh, kau akan bisa mengetahui cara melawannya. Sekarang, setelah kami tahu penyebabmu, aku yakin tak seorangpun diantara kami yang akan membencimu. Kau hanya tidak begitu beruntung. Kau sebenarnya tidak jahat, kau itu seorang anak yang punya kebiasaan mengganggu anak kecil karena iri pada kedua adikmu. Kau bisa menghentikan sikap itu kapan saja, dan menjadi dirimu yang sebenarnya.”
“aku ingat,” kata Kangin. “kukira aku bisa mengerti perasaan Yesung.”
“nado.” Kata Eunhyuk. “perasaan seperti itu memang perasaan yang sangat tidak menyenangkan.”
“tapi sebenarnya itu suatu perasaan yang wajar terjadi,” kata Mrs. Seo. “hampir semua diantara kita mengalaminya, dan sebagian besar bisa mengalahkannya. Tapi memang ada yang tidak bisa mengalahkan perasaan itu. misalnya saja Yesung. Tapi sekarang ia sudah sadar apa sesungguhnya yang telah terjadi, karena itu ia juga pasti bisa mengalahkan perasaan buruk itu. bukankah memalukan, Yesung, anak sebesarmu menyakiti anak-anak seperti Sehun dan Luhan hanya karena kau merasa iri pada adikmu? Sudah waktunya kau membuang perasaan itu.”
“ne, memang.” Kata Yesung seakan-akan sebuah cahaya terang mulai bersinar di kegelapan hatinya. “aku sebenarnya tidak berbakat jadi anak jahat. Sebenarnya aku ingin berbaik hati pada manusia dan juga binatang. Entah kenapa aku malah bertindak sebaliknya. Tapi sekarang aku sudah sadar dan kukira akan mudah bagiku untuk mengubah pribadiku. Bahkan sekarang pun aku sudah merasa berubah. Aku menyesal telah menyakiti anak-anak itu. kurasa sekarang tidak akan ada lagi orang yang mau menolongku.”
“oh, kita semua akan membantumu, Yesung.” Seru Boa. “itulah salah satu kelebihan sekolah ini. kami selalu saling membantu satu sama lain. Tak seorang pun di sekolah kita ini yang menolak untuk menolongmu, atau tidak memberimu kesempatan untuk mengubah sikapmu.”
“bagaimana dengan Taeyeon?” kata Yesung segera.
“akan kita tanyakan padanya.” Kata Boa. “Taeyeon, bagaimana pendapatmu?”
“mmm…” Taeyeon ragu-ragu sejenak. “mmm..tentu saja aku mau membantu Yesung, kalau ia benar-benar ingin mencoba mengubah kebiasaan buruknya. Tapi rasanya aku tidak bisa memaafkan ulahnya yang menyebabkan aku dan Sulli mendapat banyak kesulitan. Kukira ia harus mendapat hukuman karena itu.”
“sudah kubilang, bukan aku yang melakukannya!” kata Yesung.
“pasti ada yang melakukan akal licik,” kata Boa. “kalau Yesung tidak melakukannya, lalu siapa? Apakah anak yang melakukannya cukup berani untuk mengaku?”
Tak seorang pun bersuara. Wajah Amber jadi merah, tapi ia menundukkan kepala memperhatikan lantai. Ia mulai merasa tidak enak melihat Yesung yang dituduh melakukan perbuatannya.
“Siwon, Boa,” kata Taeyeon. “kalian tidak mempercayaiku waktu aku melaporkan tentang Yesung dulu itu. dan ternyata aku benar. Ku kira kalian tidak adil kalau sekarang masih juga tidak mempercayaiku. Aku yakin kalau aku benar.”
Dewan Juri dan Hakim berunding. Sulit untuk mencari suatu keputusan. Akhirnya Siwon berbicara lagi.
“Taeyeon, mungkin kau benar. Kami dulu tidak mempercayaimu. Dan sekarang kami tidak akan mempercayai Yesung. Kami akan bertindak seadil-adilnya pada kalian berdua. Kami putuskan bahwa kau boleh bermain lacrosse besok, menggantikan Yesung, sebab kata Sooyoung kau sangat kecewa karena tidak terpilih menjadi anggota tim.”
“ah, jeongmal gomawo!” kata Taeyeon gembira.
Yesung berdiri, ia tampak sangat kecewa. “baiklah.kukira cukup adil bahwa kali ini aku harus mengalah pada Taeyeon. Dulu ia terpaksa meminta maaf padaku, padahal aku sudah berbohong. Tapi sekali lagi aku katakan disini bahwa bukan aku yang mempermainkan Taeyeon dan Sulli.”
“kita tidak akan membicarakan hal itu lagi.” Kata Siwon. “sekarang kita akan membicarakan bagaimana kita semua bisa membantumu, Yesung. Sooman sajangnim berkata bahwa yang terbaik adalah memberikan suatu tugas untukmu, yaitu kau harus merawat sesuatu atau seseorang, agar perasaan menyayangi timbul padamu, menggantikan perasaan membenci. Kau sangat menyukai kuda, kan?”
“oh, ne!” kata Yesung segera.
“nah, walaupun sebenarnya anak dari kelasmu belum boleh merawat kuda, dan hanya boleh menaikinya, kami akan membuat sebuah peraturan baru khusus untukmu,” kata Siwon. “kau harus memilih 2 ekor kuda yang paling kau sukai. Dan kau bertugas khusus untuk merawat keduanya. Kau harus memberinya makan, minum, memandikan dan membersihkan tubuhnya. Lalu kalau kelasmu mendapat pelajaran berkuda, kau harus membawa salah seorang anak yang lebih kecil darimu untuk berkuda dan mengajarinya sebaik yang kau bisa.”
Yesung mendengarkan penuh perhatian, hampir tidak bisa mempercayai telinganya! Diberi tugas merawat 2 ekor kua yang dipilihnya sendiri! merawatnya setiap hari! Ini bukan hukuman baginya, sebab memang itulah selalu diinginkannya. Ia menyukai kuda daripada binatang lainnya. Hampir saja ia menangis karena terlalu gembira. Ia tidak peduli ia tidak bisa bermain lacrosse besok. Ia tak peduli apapun. Ia merasa dirinya telah berubah. Ia tersenyum senang.
“gomaseumnida, Siwon!” kata Yesung dengan suara agak bergetar. “kau boleh yakin aku akan merawat kuda-kuda itu sebaik-baiknya. Dan aku akan memilih anak-anak yang dulu sering ku ganggu untuk kuajari menunggang kuda.”
“kami sudah mengira kau akan melakukan itu,” kata Boa dengan perasaan senang. “baiklah. Laporkanlah perkembangan dirimu dalam Rapat yang akan datang. Kami sangat ingin mengetahuinya.”
“aku akan berkuda denganmu, Yesung.” Kata seorang anak laki-laki yang ternyata adalah Sehun. Ternyata ia juga memperhatikan apa yang sedang dibicarakan denga seksama. Dan hatinya ikut mencair, penuh perasaan ingin ikut membantu Yesung. Dalam hati sebenarnya ia juga merasa berdosa, sebab ia juga pernah merasa sangat iri pada adiknya, bahkan ia sering memukul adiknya kalau tidak ada yang melihat. Ia takut kelak akan jahat seperti Yesung.
“kukira sudah waktunya rapat bubar.” Kata Mrs. Park. “sudah lewat waktu yang ditentukan, bahkan sudah lewat jam tidur bagi anak-anak yang kecil. Tapi kukira malam ini kita mendapat pelajaran yang sangat berharga. Dan sekali lagi mendapat kesempatan untuk membantu teman kalian. Sungguh senang untuk ditolong. Tapi lebih senang lagi untuk menolong.”
“rapat dibubarkan,” seru Siwon dan mengetuk meja keras-keras dengan palu kayunya.
Semua keluar. Mereka tampak berwajah serius, tapi dalam hati merasa senang. sebuah persoalan yang sulit dipecahkan dengan baik. Mereka puas.
Hanya seorang anak yang tidak merasa senang atau pun puas. Amber! Yesung telah kehilangan kesempatan untuk bermain dalam pertandingan lacrosse hanya karena perbuatannya! Semua anak di sekolah itu berjanji akan membantu Yesung, tapi dia, Amber, merugikannya!
Ia merasa gelisah, sedih. Tapi apa yang bisa dilakukannya?
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 12

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 12 : A Tense Meeting
Bahkan anak-anak kecil pun merasakan keluarbiasaan Rapat Besar kali ini. mereka masuk tanpa banyak ribut seperti biasanya. Luhan telah mengatakan pada semua orang bahwa ia akan melaporkan Yesung dalam Rapat Besar. Beberapa anak bahkan mengatakan akan menggunakan kesempatan ini untuk ikut melaporkan Yesung.
“seharusnya aku tidak berbohong waktu itu,” kata Sehun. “itu semua karena dia mengancam akan membuka kandang marmutku dan melepaskan semua binatang peliharaanku itu. waktu itu aku tidak berani berbuat apa-apa. Tapi kali ini aku akan berani.”
Siwon dan Boa agak muram waktu mereka mulai duduk. Boa sudah menceritakan tentang berbagai tipuan licik yang digunakan seseorang untuk menjatuhkan Sulli. Kedua hakim itu sependapat bahwa akan sangat sulit untuk memecahkan persoalan kali ini. tapi masih ada Lee Sooman sajangnim, Mrs. Seo, dan Mrs. Park. Para pimpinan sekolah tersebut akan siap membantu bila persoalan tidak bisa mereka tangani.
Yesung tampak pucat. Sebaliknya Taeyeon tampak merah karena tegang. Begitu pun Sulli. Sunny juga merasa tegang, tapi ia tidak memperlihatkannya.
Rapat dimulai dengan pengumpulan uang dan pembagian uang. 2000 won dibagikan, dan 2 anak diberi uang tambahan. Dan sampailah Rapat Besar itu pada acara yang dinantikan semua anak.
“ada yang akan melapor atau meyampaikan keluhan?” tanya Siwon.
Taeyeon langsung berdiri. Disusul oleh Luhan. Hampir bersamaan.
“Taeyeon dulu,” kata Boa. “Luhan, duduklah. Giliranmu nanti setelah Taeyeon.”
Luhan duduk. Taeyeon mulai berbicara, kata-katanya meluncur cepat, tergesa-gesa.
“aku akan melaporkan sesuatu yang sangat serius,” katanya. “mungkin sama dengan apa yang akan dilaporkan Luhan. Tentang Yesung.”
“teruskan,” kata Siwon.
“kalian ingat, aku pernah melaporkannya menyakiti Sehun?” Taeyeon melanjutkan laporannya. “karena waktu itu tidak ada bukti, dan juga karena aku begitu marah sampai menampar Yesung dan menyuruhku minta maaf padanya. Sekarang coba dengarkan laporanku kali ini.”
“tenanglah, Taeyeon. Jangan terlalu tegang.” Kata Boa.
Taeyeon berusaha berbicara dengan tenang. Tapi ia sangat membenci Yesung, hingga nada suaranya berubah menjadi suara orang marah.
“begini, Siwon, Boa. Aku dan Sunny benar-benar melihat Yesung menyiksa Luhan,” katanya. “Yesung memaksanya duduk di pipa air panas! Dan satu hal lagi, kami sekarang tahu kenapa dulu Sehun tidak mengadukan perlakuannya. Ternyata Yesung mengancamnya akan melepas semua marmut-marmutnya kalau ia berani melaporkannya. Jadi ternyata aku benar! Yesung memang penindas yang jahat!”
“jangan memberi sebutan pada seseorang,” kata Boa, “sebelum Rapat Besar memberi keputusan yang menentukan. Ada lagi yang ingin kau katakan?”
“ne. Yesung bukan saja keji pada anak-anak yang lebih kecil, tapi juga membuat aku dan Sulli berulang-ulang kena marah karena akal liciknya,” kata Taeyeon lagi.
“akal licik bagaimana?” kata Siwon, mulai tampak khawatir.
“ia mengambil 3 bukuku dan menyembunyikannya entah dimana,” sahut Taeyeon. “kemudian dikotorinya alat-alat berkebunku sehingga Changmin memarahiku. Ia juga menaruh 2 ekor tikus milik Sulli di laci meja Song seonsaengnim. Tikus-tikus itu lepas dan tidak bisa ditemukan lagi.”
“apa itu benar, Sulli?” tanya Siwon.
“memang benar,” kata Sulli, berdiri. “aku tak bisa menemukan lagi tikus-tikusku. Aku tidak keberatan kalau aku jadi sasaran lelucon, tapi sungguh keterlaluan kalau tikusku juga ikut menderita.”
“duduklah, Sulli,” kata Siwon. Kemudian ia berbicara dengan Boa, lalu kembali menghadap hadirin.
“Luhan, berdirilah dan katakan apa yang ingin kau katakan,” perintah Siwon.
Luhan yang sedikit urakan itu berdiri, dengan tangan didalam saku dan penuh gaya. Tapi Siwon langsung memotongnya, sebelum ia sempat bicara, “keluarkan tanganmu dari dalam saku, Luhan, berdirilah dengan baik. Ingat, ini peristiwa yang sangat penting, jadi jangan main-main.”
Hilang sedikit keangkuhan Luhan. Ia mengeluarkan tangannya dan wajahnya jadi merah. Dengan nada sopan ia mulai bercerita. Dengan teliti ia menceritakannya pada kedua Hakim dan Dewan Juri.
“dan sekarang kami minta Sehun berbicara,” kata Boa setelah Luhan selesai. Sehun berdiri dengan kaki gemetar ketakutan. Ia memang sangat segan pada kedua Ketua Murid. Dengan suara terbata-bata ia mulai berbicara.
“bbbegggini…Siwon dan Boa.. YYesssung memmang meng..mengayunkan aku terlalu tinggi saat itttu,” katanya dengan gemetar. “dan akku jadi mual karenanya.”
“lalu kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya waktu dulu kami bertanya?” tanya Siwon.
“sebab aku takut,” kata Sehun. “aku takut pada Yesung.”
“kau tidak boleh jadi pengecut,” kata Siwon dengan lemah-lembut. “jauh lebih baik kau berhati berani, Sehun. Kalau saja saat itu kau bisa memberanikan hatimu untuk mengatakan yang sebenarnya, kita akan bisa mencegah Yesung berbuat keji pada anak-anak lain. Karena kau takut, maka kau jadi penyebab anak-anak lain menderita ditangan Yesung. Kau juga membuat kami tak percaya pada Taeyeon, hingga tentu saja Taeyeon jadi sedih. Kau harus ingat untuk selalu mengatakan yang sebenarnya,”
“tak peduli betapa beratnya bebanmu karena itu. kalau kau berani berkata benar, maka kami akan lebih menghargaimu.” Sambung Siwon.
“baiklah, Siwon,” kata Sehun dengan bertekad tidak akan pernah berbuat pengecut lagi.
“walaupun misalnya kau takut untuk mengatakannya di Rapat Besar, mestinya kau bisa mengatakannya pada pengawasmu,” kata Siwon lagi. “untuk itulah kita semua membentuk para pengawas, yaitu agar akal sehat mereka bisa membantu kita. Duduklah, Sehun.”
Sehun duduk. Senang karena tidak harus berbicara lebih banyak lagi. Siwon berpaling pada Yesung yang tampak sangat murung dan gusar.
“dan sekarang bagaimana, Yesung?” tanya Siwon. “apa yang akan kau katakana? Tuduhan yang cukup berat telah diajukan padamu. Apa kau merasa bersalah atau tidak?”
“hanya satu tuduhan yang benar,” kata Yesung dengan berdiri. Suaranya begitu lemah sehingga anggota Dewan Juri tidak bisa mendengarnya.
“bicaralah lebih keras,” kata Siwon. “apa maksudmu, hanya satu tuduhan yang benar? Yang mana?”
“memang benar aku memaksa Luhan duduk di pipa panas,” kata Yesung. “walaupun pipa tersebut sebenarnya tidak terlalu panas. Tapi bukan aku yang mempermainkan Taeyeon dan Sulli. Sama sekali bukan aku. Sekali pun tak pernah.”
“oooh!” kata Taeyeon. “pasti kau yang melakukannya, Yesung. Kau selalu tampak senang kalau aku mendapat kesulitan atau kena marah. Dasar anak jahat!”
“kalau aku anak jahat, lalu kau apa??” balas Yesung. “2 kali kau menamparku.”
“kau memang pantas menerimanya karena kau beraninya menciumku dan…” ucapan Taeyeon terhenti karena ia baru saja keceplosan menceritakan kejadian memalukan itu. hadirin pun mulai berbisik-bisik. Pimpinan sekolah sendiri awalnya tertegun dan saling pandang namun akhirnya mereka tersenyum geli. Changmin yang duduk disebelah Taeyeon menundukan kepalanya dan tangannya mengepal keras-keras. Wajahnya suram, tidak seperti biasanya.
Siwon mengetuk mejanya meminta para hadirin untuk tenang.
“masalah ciuman itu kalian selesaikan berdua secara pribadi.” Kata Siwon. “tapi Yesung, kau bilang bukan kau yang mempermainkan Taeyeon seperti yang dikatakan Taeyeon. Kau ingat bukan, kau pernah berbohong, waktu kau berkata kau tidak mengayunkan Sehun hingga ia ketakutan. Sekarang akan sangat sulit bagi kami untuk mempercayaimu lagi. Sebab kami bisa saja berpikir bahwa kali ini pun kau berbohong, untuk meloloskan diri dari kesulitan yang mungkin akan kau terima.”
“pokoknya aku berkata benar kali ini,” kata Yesung gusar. “bukan aku yang mempermainkannya. Aku tidak tahu siapa, jeongmal mollayo! Aku tidak menyukai Taeyeon. Aku berpendapat dia itu sungguh menyebalkan, suka ikut campur urusan orang lain. Tapi aku benar-benar tidak mempermainkannya hanya agar ia terkena marah guru! Dan juga untuk apa aku mengerjai Sulli? Aku tidak membencinya. Percayalah! Ada orang lain yang mempermainkan mereka.”
Sungguh malang Yesung. Tak seorang pun, kecuali Amber tentunya, yang mau mempercayainya lagi. Mereka semua ingat bahwa Yesung pernah berbohong. Kemungkinan besar kali ini pun begitu. Siwon mengetuk meja supaya hadirin yang mulai berbicar sendiri-sendiri lagi kembali diam.
“harap tenang!” kata Siwon. “sekarang kita menghadapi sebuah persoalan yang sangat rumit. 3 buah tuduhan diajukan pada seorang anak. Pertama, dia dituduh menindas anak-anak kecil. Kedua, dia dituduh mempermainkan 2 anak perempuan dikelasnya sehingga keduanya mendapat kesulitan. Ketiga, dia dituduh berbohong. Dewan Juri, Boa, dan aku akan membicarakan apa yang akan kita lakukan untuk persoalan ini. kalian semua juga dipersilahkan berunding sendiri, dan barang siapa yang berpendapat menemukan suatu jalan keluar harap segera mengutarakannya pada waktu yang ditentukan nanti.” Hadirin mulai agak ramai berbicara. Para Juri dan Hakim berunding dengan berbisik-bisik. Mereka tampak bersungguh-sungguh. Yesung duduk sendirian. anak-anak di kiri kanannya mulai berpaling pada teman-temannya yang lain dan mulai membicarakannya. Yesung kesal. Kenapa ia mengganggu anak yang lebih kecil darinya itu? kenapa ia selalu berbuat kejam pada mereka? Mungkin sekali ia diusir karena ulahnya ini, dan apa kata orangtuanya nanti?
ketiga pimpinan sekolah yang hadir juga tampak serius. Lee Sooman sajangnim berbicara dengan mereka beberapa saat, kemudian ketiganya menunggu apa yang akan dikatakan oleh para Hakim. Mereka tidak pernah ikut campur dalam Rapat, kecuali di minta.
Setelah beberapa lama, Siwon dan Boa mengetuk meja, minta agar hadirin tenang. Seketika itu juga semua hening. Kira-kira apa yang akan dikatakan para Hakim dan Dewan Juri?
“Mrs. Seo, Mrs. Park dan juga Sooman sajangnim,” kata Siwon dengan tenang. “kami berpendapat kami harus meminta bantuan anda semua kali ini. silahkan maju ke depan untuk memberi petunjuk.”
“baiklah,” kata Mrs. Park. Ketiga pimpinan sekolah itu pun maju ke panggung didepan. Dan mulailah suatu perbincangan yang akan mengubah seluruh kehidupan Yesung.
to be continue..

[FF] Trouble Maker- Chapter 10

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 10 Crowded in The Class
Pelajaran pertama pagi itu adalah matematika.
“keluarkan buku kalian, kita akan mencoba mengerjakan beberapa soal seperti ini,” kata Mrs. Song kemudian mulai menulis beberapa soal di papan tulis. “aku yakin kalian sudah bisa mengerjakannya dengan baik. Tapi kalau ada yang belum jelas, jangan malu bertanya.”
Taeyeon membuka laci mejanya, untuk mengambil buku matematika. Tapi ternyata tidak ada. Padahal kemarin sudah disiapkannya dengan meletakkannya ditumpukan paling atas. Ia mencarinya dengan teliti. Tapi hasilnya nihil! Dimana buku itu?
“Taeyeon! Kapan kau akan mengeluarkan kepalamu dari laci meja itu?” tegur Mrs. Song.
“bukuku hilang.” Kata Taeyeon.
“kemarin kan ada,” kata Mrs. Song. “apa kau membawanya keluar kelas?”
“aniyo, seonsaengnim.” Kata Taeyeon. “tidak ada tugas matematika. Aku kemarin memasukkannya lagi kedalam laci ini sesudah pelajaran. Tapi sekarang tidak ada!”
“ambil saja selembar kertas dari lemari,” kata Mrs. Song akhirnya. “dan kerjakan soal ini disitu. Kita tidak bisa menunggu sepanjang hari sampai kau menemukan bukumu.”
Taeyeon mengambil kertas dan mengerjakan soal dikertas tersebut. Masih untung ia tidak dihukum apa-apa. Ia tidak habis pikir, kemana buku itu. ia terus memikirkannya saat mengerjakan soal-soal itu.
Amber bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi nanti, kalau ketahuan Taeyeon tidak bisa menemukan buku-bukunya yang lain. Ia juga menunggu penuh harap Mrs. Song membuka laci mejanya. Tapi tidak ada alasan bagi Mrs. Song untuk membuka tutup laci itu selama pelajaran berhitung. Maka saat itu tikus-tikus itu pun tidak terganggu disudut laci dan tertidur.
Mata pelajaran berikutnya adalah bahasa Inggris. Kemudian geografi. Mrs. Song memerintahkan murid-muridnya untuk membuat peta. Maka semua mengeluarkan buku latihannya, kecuali Taeyeon. Sekali lagi ia tidak bisa menemukan bukunya.
“aigoo! Taeyeon, masa buku geografimu juga hilang?” tanya Mrs. Song mulai kehilangan kesabaran.
“seonsaengnim, aku juga tidak mengerti bagaimana hal ini terjadi, tapi buku geografiku betul-betul tidak ada.” Kata Taeyeon cemas.
“benar-benar keterlaluan kau sampai 2 kali kehilangan buku,” kata Mrs. Song. “ini tidak bisa kuterima, Taeyeon. Mungkin harus kulihat sendiri di mejamu agar aku yakin bahwa buku-buku itu memang tidak ada. Aku tidak habis pikir bisa-bisanya seorang murid kehilangan 2 bukunya sekaligus, sedangkan kau bilang kau tidak membawanya keluar kelas.”
Bahkan mata tajam Mrs. Song pun tidak menemukan buku-buku itu. Yesung tampak senang melihat Taeyeon mengalami kesulitan. Amber juga merasa puas dengan ulahnya tapi ia tidak berani melihat Sulli dan Taeyeon. Takut kalau-kalau kegirangannya(?) menimbulkan kecurigaan.
“akan ku beri kau selembar kertas peta. Kalau bukumu sudah ketemu, kau harus menempelkan peta yang kau gambar pada buku itu.” kata Mrs. Song. Dibukanya tutup laci mejanya, untuk mengambil kertas peta. Tapi gerakannya itu membuat 2 tikus terbangun.
Dengan cicitan dan jeritan(?), keduanya melompat ketakutan dan berlarian didalam laci itu. berloncatan diantara buku-buku dan alat tulis. Mrs. Song sampai tidak mengeluarkan suara karena kagetnya.
Ia sudah akan menutup tutup laci itu, namun dengan gesit tikus-tikus itu meloncat keluar, lari ke rok Mrs. Han (lol) dan turun ke lantai. Semua murid juga menganga terpesona(?).
Mrs. Song dengan wajah marah menatap Sulli yang juga terheran-heran.
“SULLI!!” pekik Mrs. Song. “aku yakin hanya kau saja di sekolah ini yang memelihara tikus. Apa kau merasa lucu menaruh tikus-tikus malang itu didalam laci mejaku yang tidak ada saluran udaranya sama sekali, hanya untuk menjebakku?”
Mula-mula Sulli sama sekali tidak bisa berkata-kata. Ia begitu terpukau sehingga lidahnya serasa kelu. Apakah tadi itu tikusnya? Bagaimana tikus-tikus itu bisa ada di laci meja Mrs. Song?
“seonsaengnim, tentu saja bukan aku yang menaruh tikus-tikus itu di meja anda.” Akhirnya Sulli berkata. “percayalah padaku, aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu pada tikus-tikusku. Dan lagi pula, aku selalu ingat, dulu anda begitu baik tidak menegurku waktu aku masuk ke dalam kelas dengan seekor tikus di dalam bajuku. Tidak mungkin aku begitu tak berperasaan untuk sekali lagi mempermainkanmu, seonsaengnim.”
Sementara itu, tikus-tikus Sulli berlarian didalam kelas. Dengan rasa khawatir Sulli terus memperhatikannya, takut kalau-kalau mereka menyelinap ke bawah pintu dan lari ke luar, hilang, atau bisa-bisa di makan kucing!
“kau harus segera menangkapnya,” kata Mrs. Song. “kita tidak bisa membiarkan kelas kacau seperti ini. aku tak bisa berpikir bagaimana tikus-tikus ini masuk ke laciku kalau bukan kau yang memasukkannya. Aku harus mempertimbangkan hal itu. aku benar-benar kecewa terhadapmu!”
Sulli beranjak dari tempat duduknya dan berusaha menangkap tikus-tikus itu. tapi ternyata sulit. Kedua hewan pengerat itu berlarian kesana-kemari. Beberapa anak perempuan pura-pura ketakutan bila tikus mendekat, mereka menjerit-jerit menambah ramai suasana. Taeyeon dan Tiffany turun tangan membantu Sulli, tapi kedua tikus itu benar-benar gesit.
Kemudian Sulli benar-benar melihat tikusnya berlari ke bawah pintu dan ke luar. Sulli cepat-cepat lari ke pintu, membukanya dan melihat keluar. Hilang sudah! Entah kemana! Yeoja itu berlarian di koridor dengan kebingungan melihat ke segala arah. Tikus-tikusnya tak terlihat lagi.
Sulli sangat mencintai tikus-tikusnya. Tak terasa air matanya mengalir. Kemudian di hapusnya. Tapi air mtanya mengalir terus. Sulli tidak mau kembali ke kelas dengan menangis. Susah payah Sulli menahan tangisnya, bersandar di dinding dan mencoba berpikir; siapa yang tega berbuat itu. seseorang tengah mencoba membuatnya dimarahi guru! Seseorang telah membuatnya kehilangan 2 tikus itu!
Terdengar langkah kaki mendekatinya dari arah tikungan. Ternyata yang muncul Boa, salah seorang ketua murid! Boa tercengang melihat Sulli berdiri sendirian dan menangis.
“ada apa?” tanya Boa. “kau dikeluarkan dari kelas?”
“aniyo.” Kata si malang Sulli. “tikus-tikus putihku hilang! Aku takut kalau-kalau kucing memakannya.”
Sulli menceritakan semuanya pada Boa dan Boa mendengarkannya dengan penuh perhatian.
“aku tidak suka pada kenyataan ini, seseorang berusaha memburukan namamu,” kata Boa. “tapi apa kau yakin kalau ini bukan perbuatanmu sendiri, Sulli?”
“mana mungkin aku berbuat sekejam itu pada tikus-tikus kesayanganku,” kata Sulli. “percayalah!”
“kalau begitu persoalan ini harus di bawa ke rapat Besar.” Kata Boa.”kita harus menyelidikinya sampai tuntas. Sudah, kembalilah ke kelasmu. Jangan menangis, mungkin tikusmu akan muncul lagi nanti.”
Sulli kembai ke kelasnya. Mrs. Song melihat mata Sulli merah, bekas menangis, dan ia tidak mau menghardik anak itu lagi. Lonceng berbunyi. Waktunya istirahat.
Saat anak-anak keluar kelas, Yesung menubruk Taeyeon. Taeyeon marah dan memelototinya.
Yesung menyeringai dan berkata, “berapa buku lagi yang akan kau hilangkan?”

Dengan geram Taeyeon meninggalkan tempat itu dengan Sunny. Tapi suatu pikiran muncul di kepalanya. Apa mungkin Yesung yang menyembunyikan buku-bukunya? Ia menemui Sulli dan mengajaknya bicara.
“bagaimana pendapatmu? Apa mungkin Yesung yang menyembunyikan bukuku dan menaruh tikus di meja Song Seonsaengnim?” tanya Taeyeon. “dia kan memang selalu ingin membuatku mendapat kesulitan.”
“memang, tapi kenapa juga ia mempermainkanku? Aku kan tidak bermusuhan dengannya?” kata Sulli.
“oh, itu mungkin sekali. Kalau ia hanya mempermainkanku, maka orang bisa langsung mencurigainya.” Kata Taeyeon. “tapi kalau ia mempermainkan beberapa orang sekaligus, diantaranya yang tidak bermusuhan dengannya, maka kecurigaan tidak mengarah padanya, kan?”
“benar juga, dan kalau itu memang benar, dia benar-benar jahat!” geram Sulli. “aku ingin segera tahu siapa yang mempermainkan tikus-tikusku.”
Lebih buruk lagi bagi Taeyeon, saat pelajaran sejarah tiba. Ia harus memberitahu lagi Mrs. Han bahwa bukunya hilang!
“Taeyeon! Ini sungguh ajaib!” marah Mrs. Song. “satu buku sudah lebih dari cukup untuk hilang tanpa alasan. Tapi 3! Pasti kau sudah membawanya keluar kelas dan meninggalkannya entah dimana. Cari lagi! Kalau kau tidak menemukannya, kau harus membeli lagi yang baru!”
“sial!” keluh Taeyeon. “harga buku-buku itu masing-masing 1500 won. Jadi semuanya 4500 won. Sedangkan uang sakuku hanya 2000 won. Sial! Kalau terbukti Yesung yang mengambil buku-bukuku, akan ku cabuti semua rambutnya!”
Ia mengatakan itu pada Sunny yang langsung menyahutnya, “jangan bertindak seperti itu. kalau memang Yesung yang berbuat, kau harus melaporkannya di Rapat Besar. Sebab untuk hal-hal seperti inilah kita mengadakan Rapat Besar itu. untuk membantu kita semua menjernihkan persoalan yang rumit, memberi jalan keluar dari keruwetan. Memberi pertolongan pada kita untuk masalah yang mungkin tidak bisa kita selesaikan sendiri. akan lebih baik kalau para Hakim dan Juri memutuskan jalan keluar persoalan kita. Bukankah mereka kita pilih karena kebijaksanaan mereka? Kau begitu tidak sabaran, nanti kau terlibat masalah yang lebih sulit lagi.”
“harusnya kau membantuku, bukan menasehati seperti itu!” marah Taeyeon.
“justru aku membantumu!” sangkal Sunny. “karena aku sahabatmu, maka aku menganjurkanmu untuk tidak gegabah. Dan bukan seorang sahabat yang baik kalau aku malah menyarankanmu untuk mencabuti rambut Yesung, bahkan sebelum kita tahu pasti kalau dia betul-betul bersalah.
“tapi kau lihat, betapa girangnya ia melihatku di marahi Song seonsaengnim,” ketus Taeyeon. “pasti dia yang menjadi dalang semua ini! tunggu saja nanti. Aku akan berhasil menangkap basah anak itu membully anak-anak. Oh, benar-benar menyenangkan bisa melaporkannya di Rapat Besar nanti!”
Ternyata harapan Taeyeon segera terkabul. Keesokan harinya ia berhasil menangkap basah Yesung!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 9

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 9: Amber Makes Her Revenge
Amber tidak mengubah keputusannya. Ia harus membalas dendam pada Sulli dan Taeyeon. Ia mulai bertindak. Berbagai akal licik ia lakukan. Sangat cerdik, sampai-sampai tidak ada yang mencurigainya.
Ia menyelinap masuk ke dalam kelas setelah acara minum teh. Ruang kelas kosong. Ia pergi ke meja Sulli. Ia tahu Sulli baru saja mengerjakan tugas bahasa Prancis dengan rapi dan hati-hati sekali. Dan Sulli menyimpan bukunya di dalam laci meja.
Amber mengambil buku tersebut. Membukanya pada bagian tugas yang baru dikerjakan. Ia menumpahkan tinta ke buku itu. Dengan puas Amber memandangi hasil kerjanya. Sulli pasti kena teguran! Ditunggunya sampai tinta itu kering, kemudian ditutupnya buku tersebut dan dimasukan kembali ke dalam laci. Ia pun bergegas keluar dari kelas itu. ia melihat Sulli di koridor. Dalam hati Amber tersenyum puas. Biar tahu rasa Sulli besok, pikirnya.
Amber mulai berpikir apa yang akan ia lakukan untuk membalas Taeyeon. Beberapa saat kemudian ia naik ke kamarnya. Mengambil mantel dan ke luar. Di luar gelap. Amber berjalan menuju pintu kebun.
Ia pergi ke gudang tempat Taeyeon biasa menyimpan sekop, garpu tanah, dan cangkul. Changmin punya peraturan bahwa siapapun yang bekerja dengannya, harus selalu membersihkan alat berkebun sampai bersih mengilat setelah habis dipakai. Taeyeon tahu benar hal ini dan selalu mematuhinya. Alat-alat yang digunakan Taeyeon selalu dirawat dengan sangat baik.
Amber mengambil alat-alat berkebun itu. Dibawanya keluar, ke tempat yang ada tanah yang becek dan berlumpur. Ditancapkannya alat-alat tadi sehingga semuanya benar-benar sangat kotor. Kemudian ia mengembalikannya ke gudang. Ia dapat melihat betapa kotornya alat-alat tadi. Changmin pasti marah besar nanti. Dan karena alat-alat itu biasa digunakan Taeyeon, pasti Changmin akan menuduh Taeyeon ceroboh.
“Sulli dan Taeyeon akan segera mendapat upah mereka, karena bersikap buruk padaku,” pikir Amber. Ia kembali ke kamarnya untuk menanggalkan mantel. “mereka harus dihukum! Merekabegitu jahat padaku. aku membalasnya dengan berlipat ganda! Rasakan!”
Ia benar-benar lega, merasa menang. Tak sabar menunggu hari esok, melihat hasil perbuatannya. Yang pertama menderita akibat perbuatan Amber adalah Sulli. Mrs. Han meminta agar Donghae mengumpulkan semua buku tugas bahasa Prancis.
Sulli memberikan bukunya tanpa memeriksanya lagi. Sementara seluruh kelas mengerjakan pekerjaan terjemahan, Mrs. Han memeriksa buku-buku tugas mereka.
Waktu ia sampai pada buku Sulli, ia tertegun. Noda tinta hitam hampir menutupi seluruh tugas Sulli! Dengan putus asa Mrs. Han melempar bukunya ke atas.
“IGE MWOYA?!!”serunya. “buku siapa ini?” dengan cepat ia melihat nama yang tertulis pada buku tersebut dan dengan penuh heran melihat pada Sulli. “Choi Sulli! Berani sekali kau menyerahkan tugas ini? benar-benar memalukan!”
Sulli mengangkat kepala terkejut. Ada apa dengan buku tugasnya? Ia sudah mengerjakannya dengan sangat hati-hati. “ada apa, seonsaengnim?” tanya Sulli. “apa ada yang salah?”
“Sulli anak manisku sayang, kau tidak lagi di taman kanak-kanak!” sela Mrs. Han, membuka buku Sulli dan memperlihatkannya pada pemiliknya. “lihat halaman ini! apa tidak memalukan? Kau harus mengerjakannya sekali lagi. Dari kelas ini aku sudah membuat peraturan, tidak boleh ada satu titik noda pun dalam tugas! Aku benar-benar malu punya murid sepertimu.”
Sulli ternganga melihat bukunya. Ia yakin tidak pernah menumpahkan tinta sedikit pun. Mungkin itu bukan bukunya!
“itu bukan buku saya, seonsaengnim,” kata Sulli. “tidak mungkin! Pekerjaanku bersih. Aku tidak pernah mengerjakannya sekotor itu!”
“Sulli, aku tidak buta, aku bisa membaca!” seru Mrs. Han mulai naik pitam. “kubaca namamu disini. Lihat, Choi Sulli! Tak salah lagi, ini bukumu! Dan kau bilang kau tidak menumpahkan tinta? Lalu bagaimana tumpahan tinta ini bisa muncul? Muncul dengan sendirinya?”
“aku sama sekali tidak mengerti kenapa ada noda tinta disitu,” kata Sulli makin bingung. “benar-benar tidak tahu! Aku sangat menyesal, seonsaengnim. Biarlah ku kerjakan lagi tugas itu.”
“dan lain kali kau harus hati-hati!” kata Mrs. Han mulai tenang. Sulli benar-benar bingung hingga tidak melihat betapa gembiranya Amber karena salah satu ulahnya berhasil dengan sangat memuaskan. Dalam hati ia tertawa puas. Ia harus segera kembali berpikir, apa lagi yang akan dilakukannya pada Sulli.
Sore itu ada waktu setengah jam bebas. Taeyeon memilih berkebun karena ia ingat ada sepetak tanah yang belum digalinya. Kemarin waktunya telah habis sebelum ia mengerjakan tempat itu.
Ia berlari-lari kecil menuju kebun. Dilihatnya Changmin sudah mulai menggali tanah dengan rajin. Taeyeon tersenyum dan mulai berjalan mendekatinya.
Taeyeon memanggilnya, tapi kelihatan sekali kalau Changmin sedang marah.
“Taeyeon, kau kemarin menggali dan membalik tanah, bukan?” tanya Changmin.
“ne.” kata Taeyeon. “wae? Aku malah menggunakan hampir semua alatku. Kau begitu sibuk. Wae, Changmin? Kau kelihatannya marah?”
“aku memang marah!” sentak Changmin. “ambil alat-alatmu dan kau akan tahu kenapa!”
Taeyeon tidak mengerti maksud Changmin. Ia cepat-cepat masuk ke dalam gudang, dan tertegun heran. Alat-alat kebunnya penuh dengan lumpur! Satu pun tidak ada yang bersih. Aneh sekali!
Dibawanya semua keluar. “Changmin!” seru Taeyeon. “aku yakin kemarin aku sudah membersihkannya seperti biasa. Sudah sangat bersih sebelum ku simpan!”
“mana mungkin!” kata Changmin dengan nada tajam. “mana bisa alat-alat itu jadi kotor dengan sendirinya. Gunakan otakmu, Kim Taeyeon!”
“sudah ku gunakan!” seru Taeyeon. “dan otakku bilang kalau kemarin aku sudah membersihkan semuanya. Bukan salahku kalau sekarang alat-alat ini jadi kotor.”
“baiklah. Tidak usah ngotot,” kata Changmin dengan geram. “kalau saja kau mengaku lupa, mungkin aku bisa mengerti. Benar-benar tidak masuk akal kau berani menyangkal, padahal bukti ada didepan mata! Benar-benar munafik!”
“Changmin!” tukas Taeyeon dengan mata yang memerah. “bagaimana kau bisa mengatakan seperti itu padaku? aku tidak pernah takut mengakui kesalahanku kalau memang aku bersalah. Kau juga tahu itu. dan aku yakin kemarin aku sudah membersihkan alat-alat ini!”
“baiklah, baiklah!” kata Changmin, kembali menggali lagi. “mungkin alat-alat itu tadi malam iseng keluar jalan-jalan, dan menggali sendiri, dan lupa mencuci diri mereka sendiri. baiklah, anggap saja ceritanya seperti itu.”
Kedua anak itu bekerja tanpa bicara. Changmin benar-benar kecewa dengan sikap Taeyeon. Taeyeon sendiri bingung bercampur heran dan marah. Benar-benar tidak enak untuk berpikir kalau Changmin tidak memercayainya. Tapi kalau melihat buktinya sih, mungkin juga ia lupa membersihkannya. Sungguh menjengkelkan dimarahi Changmin. Ia tidak tahu harus berbuat apa. “Changmin.” Akhirnya ia berkata. “aku yakin kalau aku sudah membersihkannya. Tapi kalau ternyata aku memang lupa, aku minta maaf. Aku tidak pernah lupa sebelum ini. dan aku tidak akan melupakannya lagi.”
“baiklah, Taeyeon.” Kata Changmin, mengangkat muka. Matanya yang coklat itu bertemu dengan mata Taeyeon. Changmin tersenyum tulus. Taeyeon membalas senyum itu. Changmin menarik Taeyeon ke pelukannya. “maaf aku sudah memarahimu.”
Taeyeon tersenyum dalam pelukan Changmin dan menganggukan kepalanya. Tapi dalam hati ia masih penasaran.
Semestara itu Amber telah menyaksikan adegan tadi dari kejauhan. Ia puas sekali melihat Taeyeon dimarahi Changmin. Ia segera pergi, merencanakan sesuatu lagi untuk membuat Taeyeon kena marah lagi. Apa yang akan dilakukannya? Mungkin 2-3 hari ia akan membuat kotor alat-alat Taeyeon. Tapi tidak usah terlalu dekat waktunya, bisa-bisa Taeyeon curiga bahwa ada orang lain yang berusaha untuk menjelekkannya.
Akhirnya Amber memutuskan untuk menyembunyikan buku-buku Taeyeon. Mrs. Song akan sangat marah kalau buku-buku itu tidak bisa ditemukan.
Sekali lagi Amber menyelinap kedalam kelas. Kali ini ia langsung pergi ke meja Taeyeon. Mengambil buku geografi, matematika, dan sejarah, lalu dibawanya keluar. Diluar ruangan ada sebuah lemari, diatasnya tertumpuk peta-peta tua. Ia melemparkan buku-buku itu ke atas lemari. Tidak ada yang melihat perbuatannya. Cepat-cepat Amber pergi dari tempat itu.
Sekarang apa yang akan dilakukannya pada Sulli? Amber berpikir keras. Dan akhirnya ia tersenyum. Ada akal! Ia akan mengambil 2 ekor anak tikus Sulli dan menaruhnya didalam laci meja Mrs. Song. Daebak!! Mrs. Song pasti berpendapat bahwa Sulli meletakkannya di tempat itu. tidak akan ada yang tahu siapa yang melakukannya.
Untuk melakukan rencana itu, Amber harus menunggu sampai besok pagi. Ia harus mengambil tikus-tikus itu sebelum waktu sarapan karena saat itu tidak ada murid yang keliaran di luar gedung. Semalaman Amber memikirkan apa yang mungkin dikatakan Mrs. Song setelah mengetahui didalam lacinya ada tikus.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Amber sudah bangun. Sooyoung juga heran melihat ini. biasanya Amber bangun paling terakhir.
“kebiasaan baru nih?” sapa Sooyoung.
Amber menyelinap turun 5 menit sebelum bel sarapan berbunyi, langsung lari keluar, ke gudang tempat kandang-kandang binatang peliharaan. Ia pergi ke kandang tikus putih Sulli. Ia sudah membawa sebuah kotak kecil. Tak sampai 2 detik ia berhasil menangkap 2 ekor bayi tikus kecil itu. dimasukannya tikus-tikus itu kedalam kotak dan bergegas menuju kelas. Diangkatnya tutup laci meja Mrs. Song.
Dibukanya kotak kecil yang ia bawa. Dan keluarlah 2 ekor bayi tikus putih tadi. Amber menutup laci. Betapa terkejutnya Mrs. Song nanti. Dan juga Sulli.
to be continue..

[FF] Trouble Make – Chapter 8

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 8 : The Meeting
Beberapa setelah kejadian itu, keadaan jadi tidak begitu menyenangkan. Terasa banyak sekali permusuhan. Contohnya, Amber sama sekali tidak mau berbicara dengan Sulli. Tentu saja mengingat apa yang telah dilakukan Sulli. Tapi selain tidak mau berbicara pada Sulli, ternyata Amber mulai membicarakan Sulli juga. Menjelek-jelekkannya. Seperti Sulli yang suka sekali makan. Sulli memang seperti terus merasa lapar dan akan makan sangat banyak. Dan Amber mengatakan bahwa Sulli itu rakus.
“benar-benar membuatku ingin muntah melihat si rakus Sulli makan.” Kata Amber pada Tiffany saat sedang minum teh. “lihat saja, ia sudah menghabiskan 7 potong roti berlapis mentega, 3 kue kecil, sekotak kimchi dan sepotong besar kue ulang tahun pemberian Taemin.”
Tiffany tidak menanggapi.
Ia memang tidak suka bertengkar. Tapi Taeyeon yang ikut mendengar langsung meluapkan amarahnya dan membela Sulli.
“itu sudah keterlaluan, Amber!” Kata Taeyeon. “Sulli bukannya rakus! Ia memang selalu merasa sangat lapar saat makan. Aku juga begitu! Dan aku belum pernah melihat Sulli makan banyak hanya karena ingin makan saja, dan bukan untuk mengisi perutnya yang lapar. Ia juga tidak mau makan lebih dari bagiannya, kalau makanan yang ada tidak cukup untuk semua orang. Dan kau benar-benar kurang kerjaan sekali menghitung apa yang dimakan Sulli.”
“kenapa tidak.” Timpal Amber. “kau akan heran bahwa hitunganku ternyata benar. Sulli memang rakus. Sungguh menjijikan.”
“kau sendiri bagaimana?? Berapa banyak permen yang kau habiskan tiap hari?” balas Taeyeon. “kau juga rakus. Tidak pernah menawarkan satu pun pada temanmu!”
“sudahlah! Jangan diteruskan.” Lerai Tiffany yang merasa tidak enak diantara pertengkaran itu. “aku tidak tahu apa yang terjadi di kelas kita. Selalu saja ada pertengkaran!”
Amber meninggalkan tempat itu. Taeyeon mengambil kotak catnya dan membantingnya keras-keras ke meja, bersiap-siap akan menggambar peta. Wajahnya sesuram langit mendung.
“Taeyeon! Bisa-bisa kau memecahkan kotak cat itu!” seru Tiffany. “aigoo, coba lihat mukamu di kaca! Seram!”
“paling sedikit kau harus membela Sulli.” Kata Taeyeon. “aku tidak akan membiarkan siapapun menjelek-jelekan temanku. Aku akan ikut campur membelanya.”
“kurasa kau makin memperburuk keadaan dengan membela Sulli. Lebih buruk dari pada diam saja sepertiku,” kata Tiffany. “aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini kau begitu pemarah!”
“ani!” kata Taeyeon. “bukan aku pemarah, tapi keadaan disekelilingku yang tidak karuan. Pokoknya aku tidak akan membiarkan si muka bintik-bintik itu mengatakan hal buruk tentang Sulli. Sulli anak baik.”
Beberapa menit kemudian Sulli masuk ke ruangan tersebut dengan wajah marah. Ia duduk menghempaskan diri di kursi. Tiffany menghampirinya.
“aigoo! Ini ada lagi yang wajahnya seperti langit mendung!” kata Tiffany. “kau kenapa? Wajahmu masam sekali.”
“si jahat Amber itu! ia berkata pada Onew kalau kemarin aku meminjam sepedanya tanpa izin lebih dulu. Padahal aku tidak memakai sepeda Onew. Aku memakai sepeda Taemin. Dan aku sudah minta izinnya! Ban sepedaku bocor.”
“aigoo, Amber benar-benar kelewatan!” geram Taeyeon. “sudah 2 kali dia menjelek-jelekanmu. Aku akan menemuinya, dimana dia sekarang?”
“dia ada di gang, di luar, masih membicarakanku pada Onew.” Kata Sulli. “katakan apa yang ingin kau katakana padanya. Biar dia kapok!”
“hajima, Taeng!” kata Tiffany. “kau tidak usah ikut campur! Nanti keadaan semakin buruk.”
Tapi Taeyeon sudah bergegas keluar. Ia melihat Amber dan langsung mendekatinya.
“dengar, Amber!” kata Taeyeon. “kalau kau tidak berhenti menjelek-jelekan Suli, akan ku laporkan kau ke Rapat Besar nanti!”
“bagaimana tentang kata-kata kurang ajar Sulli tentang aku didepan semua anak itu?” sahut Amber dengan suara rendah dan gemetar. “berani sekali dia mengejekku seperti itu!”
“mungkin kata-kata itu keji, tapi bukannya tidak benar!” tukas Taeyeon. Tapi ia segera menyesal telah mengatakan kalimat itu. tapi terlambat. Kata-kata itu tidak bisa ditariknya lagi. Amber berpaling dan langsung pergi tanpa berkta-kata lagi.
Amber benar-benar takut kalau ia dilaporkan di Rapat Besar. Ia memutuskan untuk berhenti membicarakan Sulli. Tapi ia tetap akan membalas Sulli. Apa saja yang akan membuat Sulli dihukum. Dan juga Taeyeon yang suka ikut campur urusan orang lain itu.
“aku akan sangat hati-hati, agar tidak ada yang mencurigaiku!” pikir Amber. “aku akan membunyikan buku mereka. Atau kutumpahkan tinta ke tugas mereka. Atau hal-hal kecil lain yang bisa menyebabkan mereka mendapat kesulitan. Pokoknya aku akan membalas mereka!”
Rapat Besar sekolah tiba. Anak-anak mengambil tempat masing-masing, dan rapat pun dimulai.
Pada pengumpulan uang, banyak sekali uang yang masuk, sebab ada 3 anak yang berulang tahun dan mendapat kiriman uang dari rumah.
“hari ini kita kata kaya,” kata Siwon, sambil mengguncangkan kota uangnya. “bagikan uang seperti biasa, Seohyun, dan uang tambahan 500 won untuk Krystal. Nah, ada yang minta uang tambahan?
Kyuhyun berdiri.
“bolehkah aku mendapatkan 5000 won untuk biaya mengganti kaca jendela?” tanyanya. “kemarin aku memecahkan satu, di salah satu ruang kelas.”
“tidak sengaja atau karena lalai?” tanya Siwon.
“aku sedang bermain bola basket.” Kata Kyuhyun.
“seharusnya kau tahu, pada semester lalu kita sudah membuat peraturan untuk tidak membawa bola apapun di koridor kelas.” Kata Siwon. “bawa bola berarti ada kaca pecah.”
“aku lupa pada peraturan itu,” kata Kyuhyun. “tapi kalau bisa aku minta uang tambahan itu. 5000 won terlalu banyak bagiku. Maaf, Siwon.”
Dewan Juri membicarakan permintaan itu. mereka tahu bahwa 5000 won sangat terlalu banyak untuk seorang yang setiap minggunya hanya menerima 2000 won. Tapi Kyuhyun memang telah melanggar peraturan yang sudah ditetapkan dan ia sendiri ikut membuatnya semester lalu. Kenapa uang milik sekolah harus membiayai kerusakan karena kelalainnya?
Akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Siwon mengetuk meja agar semua diam. “apakah ada anak lain yang bermain denganmu waktu itu?” tanya Siwon.
“memang ada.” Kata Kyuhyun. “tapi waktu aku melemparkan bola itulah kaca pecah.”
“Dewan Juri berpendapat bahwa uang yang 5000 won itu tidak layak keluar dari kotak uang sekolah,” kata Siwon. “tapi mereka juga berpendapat tidak seharusnya kau sendiri yang membayarnya. Rundingkanlah dengan mereka yang bermain denganmu. ajak mereka iuran membayar kaca itu. kukira itu cukup adil.”
Seorang namja berdiri.
“aku ikut bermain waktu itu. aku akan membayar bagianku. Aku rasa keputusan itu memang adil.” Kata namja bernama Leeteuk itu.
Dua orang berdiri, seorang namja dan yeoja, Yunho dan Yuri.
“kami juga mau membayar.” Kata mereka.
“bagus.” Kata Siwon. “5000 won di bagi empat. Itu tidak terlalu memberatkan kalian kan? Dan ingat, kalian harus mengikuti peraturan disini dan jangan melanggarnya lagi, arasseo?” Kyuhyun, Leeteuk, Yunho dan Yuri mengangguk.
Changmin menepuk Taeyeon yang duduk disebelahnya. “mintalah uang untuk membeli umbi krokus itu,” bisiknya. “ayolah! Aku tidak akan memintanya. Itu kan usulmu.”
“aku yakin rapat tidak akan memberiku apa-apa setelah kejadian minggu lalu,” bisik Taeyeon dengan nada gusar.
“pengecut!” kata Changmin sambil menyeringai. Ia tahu kalau sepatah kata itu saja sudah cukup untuk mendorong Taeyeon langsung berdiri. Ia tidak pernah bisa menahan diri jika dikatakan pengecut.
Dari jauh Amber memandangnya, agak khawatir. Ia takut kalau Taeyeon melaporkannya.
“apa yang kau inginkan, Taeyeon?” tanya Boa. “uang tambahan?”
“ne.” kata Taeyeon. “aku dan Changmin punya rencana yang bagus sekali untuk taman sekolah kita. Kami berpendapat bahwa akan sangat indah jika di tebing penuh rumput dekat gapura disana itu, ditumbuhi bunga-bunga krokus berwarna kuning dan ungu. Kata Changmin paling sedikit kita memerlukan 500 umbi krokus. Bolehkah kami memperoleh tambahan untuk membelinya?”
Siwon dan Boa berunding beberapa saat, sementara anggota Dewan Juri saling menganggukan kepala. Semua berpendapat uang untuk membeli benih bunga itu bisa diberikan.
“ne, kau boleh menerima uang itu,” kata Siwon tersenyum.
“seluruh sekolah akan gembira bisa menikmati keindahan krokus itu nanti diawal musim semi, dan sudah sewajarnya kalau uang untuk keperluan itu keluar dari kotak uang sekolah. Tanyakan berapa biaya yang harus kau keluarkan untuk krokus itu, Taeyeon. Dan dengan gembira kami akan memberikan uang untuk itu. juga aku ingin mengatakan bahwa seluruh sekolah sangat menghargai hasil karyamu dengan Changmin di kebun kita.”
Taeyeon memerah pipinya karena senang. ini benar-benar diluar dugaan. Ia kembali duduk setelah mengucapkan terima kasih. Changmin tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Taeyeon. “apa kubilang.” Bisik Changmin. “kau boleh selalu yakin bahwa Siwon dan Boa selalu bersikap adil.”
“ada laporan atau keluhan?” tanya Boa.
Seorang namja yang di ketahui bernama Luhan langsung berdiri. Agaknya ia telah bersiap-siap dengan keluhannya.
“aku ingin melaporkan Kai.” Ucapnya. “ia selalu meminjam barang-barangku dan tidak pernah mengembalikannya.”
“itu pengaduan biasa, dan bukannya laporan.” Kata Siwon segera. “untuk perkara kecil seperti itu, pergilah ke pengawasmu. Siapa pengawasmu?”
“aku,” seorang namja bernama Kris berdiri.
“jelaskan padanya beda laporan atau keluhan, dengan pengaduan biasa,” kata Siwon. “kami hanya menyelesaikan masalah yang serius disini.”
Ada keluhan lain?” tanya Boa.
Seorang namja bernama Kangin berdiri. Ia satu kelas dengan Taeyeon.
“aku ingin menyampaikan sebuah keluhan kecil,” katanya. “aku ikut pelajaran taekwondo. Dan ternyata waktu berlatihku diubah sehingga bersamaan dengan kegiatan pencinta alam. Aku anggota kelompok pencinta alam, dan keberatan kalau kehilangan salah satu acaranya. Bisakah diusahakan agar kedua waktu itu dipertimbangkan lagi?”
“itu soal mudah,” kata Siwon. “bicarakan dengan Moon seonsaengnim, guru Taekwondo, mungkin ada anak lain yang mau bertukar waktu denganmu.”
“gomawo,” Kangin duduk kembali.
Tidak ada keluhan lain. Amber sama sekali tidak berdiri, padahal teman-teman sekelasnya harap-harap cemas menunggunya melaporkan tentang perbuatan Sulli. Tentu saja mereka tahu bahwa Amber telah memutuskan untuk turun tangan sendiri menghukum Sulli.
“Rapat Besar dinyatakan berakhir,” kata Siwon. Anak-anak pun keluar menuju ruang masing-masing. Taeyeon mendekati Changmin.
“daebak! Kita memperoleh uang untuk membeli bibit krokus itu,” kata Taeyeon denga mata bersinar-sinar. “ayo besok kita ke desa dan kita tanyakan berapa harganya. Aku sudah tidak sabar untuk segera menanamnya. kau juga kan, Changmin? Oktober adalah waktu yang tepat. Krokus-krokus itu akan tumbuh indah di musim semi.”
“Taeng, kalau saja kau bisa melihat sendiri wajahmu pada saat bahagia dan tersenyum seperti ini, sungguh manis sekali. Neomu yeppeo!” goda Changmin. “sebaliknya waktu kau cemberut dan merengut, tidak ada yang mengalahkan seramnya.”
“kau selalu menceramahiku, Shim Changmin!” kata Taeyeon. Tapi dalam hati ia merasa senang sekali bahwa Changmin senang berteman dan bekerja sama dengannya. sayang sekali ia tidak tahu bahwa tak berapa lama kemudian Changmin akan sangat marah padanya.
to be continue..