Blog Archives

[FF] Even If I Born Again, It’s Still You (Oneshot)

Author   : Shindy Ulfha
Cast     : Byun Baekhyun, Kim Taeyeon, Cho Kyuhyun, you’ll find later.
Genre   : Sad
Length  : One Shoot
Disclaimer: Ini hanya ff, tolong jangan di bash^^ murni hasil pemikiran sendiri 😉 terimakasih karena sudah mau membaca~ LOVE. Ada baiknya jika membacanya ditemani lagu After a Long Time Passed-nya Baek Ji Young (Soundtrack Rooftop Prince) -Shindy Ulfha

-Baekhyun POV’s-

Lagi-lagi aku hanya bisa seperti ini. Memikirkannya dan mengkhawatirkannya. Apakah ia baik-baik saja hari ini? Apakah harinya menyenangkan? Benarkah ia beristirahat yang cukup? Kuharap ia tidak kelelahan. Kupandangi langit malam dihiasi bintang-bintang yang begitu terang berharap mereka dapat menjawab segala pertanyaanku tentang yeoja itu. Sebuah suara membuyarkan lamunan panjangku. Read the rest of this entry

[FF] Behind That Window, The Love Blows (Chapter 1)

Author : Ashiya
Main Cast  : Xiah Junsu (JYJ), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Hyunbin
Other Cast : Ha Jiwon, Kim Hyoyeon (Girls’ Generation), Lee Eunhyuk (Super Junior), etc.
Genre : romance, comedy
Disclaimer : The story is 100% mine.
©Copyright : ashiya19.wordpress.com
Language : Bahasa Indonesia

-Behind That Window, The Love Blows Chapter 1-

Taeyeon POV

Musim gugur adalah pertama kalinya aku bertemu namja itu. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dulu aku tidak mempercayai hal seperti itu hingga akhirnya aku merasakannya sendiri. Namun sepertinya rasa cintaku ini akan berakhir dengan cepat, dan aku harus segera mengucapkan selamat tinggal.

Langit musim gugur, angin di musim gugur, taman saat musim gugur, anjing saat musim gugur. Hal-hal itu yang menyatukan pertemuanku dengannya. Nae gaeul namja. Pria musim gugurku. Read the rest of this entry

[FF] VIP, Don’t Hate Me (Oneshot)

Author : Ashiya
Main Cast : Big Bang, Kim Taeyeon
Support Cast : Dara (2NE1), Cheondung (MBLAQ), CL (2NE1)
Genre : Star life(?), IDK onion-emoticons-set-6-59
Length : 2393 words
Language : Bahasa Indonesia
Disclaimer : This story 100% mine. No plagiator, please!
Copyright : ashiya19.wordpress.com

-VIP, Don’t Hate Me-

Kim Taeyeon, seorang fans boyband Korea ternama. Big bang. Ia seorang VIP yang berbeda dengan VIP yang lainnya. Ia selalu mengikuti semua kegiatan Big Bang, selama itu masih di Korea. Ia tidak memperdulikan berapa jauh kota tempat tinggalnya dengan tempat show Big Bang. Semua kegiatan Big Bang di Korea, mulai dari launching album, fan meeting, fan signing, hingga konser pun ia tidak pernah ketinggalan. Semua member Big Bang adalah biasnya. Baginya tidak ada member yang terfavorit karena semuanya adalah yang paling ia favoritkan.

Selain itu, perbedaannya dengan VIP lain adalah Read the rest of this entry

[FF] Bad Girl Good Girl (Chapter 1)

onion-emoticons-set-6-67

Author bikin FF baru lagi.

Ide FF ini udah cukup lama nyangkut(?) di otak tapi karena terlalu males di tuangkan(?) kedalam tulisan, jadinya baru bikin sekarang. Lega deh kalo udah di tulis gini. hohoho…

Tadinya ini mau ChangTae (Changmin Taeyeon) tapi karena kebanyakan readernya KyuTae shipper, jadi di ganti Changminnya ma Kyuhyun. ^^v

Semoga suka! Happy reading~

Author : Ashiya
Main Cast  : Cho Kyuhyun (Super Junior), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Kim Jaejoong (JYJ), Victoria Song (F(x))
Other Cast : Sandara Park (2NE1), etc.
Genre : romance, revenge
Disclaimer : The story is 100% mine. Inspired by some dramas.
©Copyright : ashiya19.wordpress.com
Language : Bahasa Indonesia

-Bad Girl Good Girl Chapter 1-

“Hanhwa Corporation, perusahaan besar Korea yang bergerak dibidang manufaktur, keuangan, dan pelayanan. Perusahaan yang pada 2 tahun lalu memiliki total aset penjualan lebih dari US$ 83 Miliar, kini tengah di terpa isu keruntuhan.” Seorang reporter berbicara tengah melaporkan berita di depan sebuah perusahaan besar Korea Selatan. “Beberapa sumber menyebutkan bahwa penyebabnya adalah direktur baru perusahaan itu yang terkenal dengan keras kepalanya. Saat ini beberapa pekerja tengah berdemo menuntut pembayaran upah mereka yang belum di bayarkan sejak 6 bulan yang lalu.” Reporter itu berjalan menghampiri salah satu pekerja yang berdemo dan kemudian meminta keterangannya.

“kami sudah 6 bulan bekerja tanpa di bayar!!” ucap pekerja itu dengan emosi. “kami mempunyai keluarga yang harus kami nafkahi. Kami menuntut hak kami!”

“apakah anda tahu penyebab masalah pelik ini hingga anda dan rekan-rekan tidak mendapatkan haknya?” tanya reporter itu.

“ne. Semua ini karena direktur baru yang juga anak pemilik perusahaan ini!” jawab orang itu di sambut seruan setuju para rekannya.

“bisa anda jelaskan penyebabnya secara rinci?”

“sejak presiden Kim jatuh sakit, ia menggantikan posisinya tapi ia belum pantas memegang kekuasaan perusahaan sebesar ini! Usianya baru 25 tahun dan ia belum memiliki kemampuan serta pengalaman memimpin perusahaan.”

“tapi kami dengar ia seorang anak yang pintar dan juga ia lulusan terbaik di universitas terkemuka di Amerika, bahkan di usianya yang saat itu baru menginjak 23 tahun, sudah menyandang gelar doktor?” tanya reporter itu lagi.

Seseorang maju dan menyerobot mengambil mic reporter itu, “ia memang berpendidikan tinggi dan pintar namun untuk mengendalikan perusahaan sebesar Hanhwa, ia masih perlu pengalaman! Anda lihat sekarang, baru 2 tahun ia memimpin perusahaan ini, sudah membuat kekacauan dan sebentar lagi perusahaan ini pasti akan bangkrut!” orang itu beralih menghadap ke kamera dengan tatapan tajam, “Kim Taeyeon-ssi, kami disini semua menuntutmu!! Keluar dari persembunyianmu dan penuhi permintaan kami!”

Sementara itu, Taeyeon menatap geram berita itu. Saat ini ia berada di Jepang demi keamanannya. Ia mematikan televisinya dan beralih pada pengacaranya yang berdiri di sampingnya. “oppa, siapkan tiket ke Korea. Aku akan menghadap orang-orang itu.”

Pengacara yang juga teman baiknya sejak kecil itu menatap Taeyeon khawatir, “tapi… sebaiknya tetap disini hingga keadaan kembali normal.”

“sampai kapan??” sahut Taeyeon sedikit berteriak. “jika aku terus diam di tempat ini tidak akan menyelesaikan masalah apapun!”

“tapi…”

“kalau kau tidak mau, aku akan pergi sendiri!” Taeyeon bangkit dari tempat duduknya hendak pergi menuju bandara.

“baiklah.” Jawab pengacara itu. “kau tunggu disini. Biar aku yang memesan tiketnya.” ia mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi perusahaan penerbangan.

Senyuman segera terkembang di wajah Taeyeon, “kalau begitu aku bersiap-siap dulu. Gomawo, Jaejoong-oppa!” CHU~ Taeyeon mengecup pipi Jaejoong dan segera berlari menuju kamar mandi meninggalkan Jaejoong yang tertawa kecil melihat reaksi Taeyeon barusan.

ashiya19.wordpress.com

Beberapa menit kemudian setelah Jaejoong memesan tiket, pintu kamar mandi terbuka dan saat ia menoleh, ia melihat Taeyeon yang hanya mengenakan handuk dan rambut yang masih dipenuhi busa shampoo serta tangan yang sibuk menggosok giginya. Ia membelalakan matanya melihat bagian dada dan paha Taeyeon yang putih mulus, cepat-cepat ia membalikan badannya.

“oh ya, setelah tiba di Korea, kita langsung ke perusahaan dan setelah itu kita ke Hanhwa Hospital. Aku ingin mengecek perkembangan rumah sakit itu.” Ucap Taeyeon sambil terus menggosok giginya.

“n..ne..” jawab Jaejoong dengan gugup sambil membelakangi Taeyeon.

Taeyeon sedikit mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Jaejoong yang gugup. “ah, aku lupa membawa pakaianku.” Ucap Taeyeon berjalan melewati Jaejoong menuju kamarnya. Jaejoong segera kembali menghadap ke arah lain. Taeyeon kembali keluar dari kamarnya dan melihat Jaejoong yang tampak canggung, “oppa, wae?” heran Taeyeon memegang pundak Jaejoong hingga membuatnya berbalik menghadap Taeyeon.

“a..aniyo.” jawab Jaejoong dengan pipi memerah.

Taeyeon mengernyitkan dahinya dan kembali ke kamar mandi untuk menyelesaikan mandinya. Setelah pintu kamar mandi itu tertutup, Jaejoong menghela napasnya dan menghempaskan dirinya ke sofa. “hufftt… aku tidak yakin bisa menahan diri jika kejadian seperti ini terulang kembali.”

***

Namja itu tengah menunggu seseorang di sebuah café. Ia terus tersenyum menunggu seseorang yang akan ia temui. Sudah hampir sebulan ia tidak bertemu dengannya dan ketika orang itu menghubunginya untuk menemuinya, tentu saja ia senang. Bahkan ia mengambil cuti dari pekerjaannya di sebuah coffe shop hanya sekedar untuk menunggu orang ini.

Tidak lama kemudian, denting bunyi lonceng di atas pintu café  membuat namja itu menoleh dan mendapati seorang yeoja bermata bulat tengah mengedarkan pandangannya mencari orang yang menunggunya.

“noona!” panggil namja itu mengangkat tangan kanannya.

Yeoja yang dipanggil noona itu menoleh dan tersenyum kearahnya lalu berjalan menghampirinya. “mian, Kyu. Apa kau sudah lama menunggu?”

Namja yang dipanggil Kyu itu tersenyum, “aniyo. Duduklah.”

Yeoja itu duduk di seberangnya, “bagaimana kabarmu?”

“baik. Bagaimana denganmu?”

Yeoja itu menghembuskan napasnya, “beginilah. Hampir setiap hari aku harus mengurus perusahaan itu.”

Namja itu menurunkan senyumnya mendengar kata ‘perusahaan’ yang di ucapkn yeoja itu. “Vic, apa kau masih berambisi menguasai perusahaan itu?”

Yeoja itu tertawa kecil mendengar pertanyaan dari namja di depannya itu, “tentu saja, Kyuhyun-ah. Aku sudah lelah hidup dalam kemiskinan. Sekarang setelah eommaku menikah dengan pemilik perusahaan itu, aku harus bisa menyingkirkan anaknya dan membuat perusahaan itu beralih ke tanganku.”

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Victoria. Sejujurnya ia tidak menyukai rencananya itu. Ia kembali mengingat ke masa lalunya saat pertama kali ia bertemu dengan Victoria.

Flashback

Victoria yang saat itu baru berusia 10 tahun duduk di depan rumah Kyuhyun sambil memegangi perutnya yang kelaparan. Tidak lama kemudian, Kyuhyun  yang baru saja pulang  sekolah, tiba di depan rumahnya dan melihat yeoja itu yang merintih kesakitan.

“noona, gwaenchana?” tanya Kyuhyun yang waktu itu masih berusia 9 tahun. Ia memperhatikan wajah Victoria yang pucat dan pakaiannya yang kotor. Victoria tidak menjawabnya dan terus memegangi perutnya. “apa kau lapar?” tanya Kyuhyun lagi. Victoria berpaling menatapnya dan mengangguk. Kyuhyun menatapnya iba dan segera mengambil sebungkus roti dari dalam tasnya. “makanlah roti ini.” Kyuhyun  memberikan roti itu. Victoria mengangkat wajahnya dan menerima roti itu. “sebenarnya ini untuk makan siangku tapi… untuk kau saja. sepertinya kau sangat kelaparan.”

“gomawo.” Ucap Victoria tersenyum lemah. Ia membuka roti itu namun saat akan memakannya, ia merasa tidak enak karena roti itu adalah makan siang milik Kyuhyun dan ia tahu Kyuhyun juga berasal dari keluarga yang tidak jauh berbeda darinya. Akhirnya Victoria membagi 2 roti itu dan memberikan salah satunya pada Kyuhyun.

“ah, tidak usah, noona. Untukmu saja.” tolak Kyuhyun dengan halus.

“sudahlah, aku tahu kau juga lapar. Kita makan bersama saja.”

Kyuhyun tersenyum dan menerima roti itu. Keduanya memakan roti kecil itu sambil bercakap-cakap.

“oh ya, siapa  namamu? Namaku Victoria, Song Victoria.”

“aku tahu.” Jawab Kyuhyun.

“ne?”

“aku tahu namamu Victoria. Siapa yang tidak tahu noona tercantik di daerah ini.” Sahut Kyuhyun membuat Victoria tertawa. “aku Cho Kyuhyun.”

Sejak saat itu, mereka berteman dan beberapa tahun kemudian, keduanya berhasil masuk universitas yang sama. Keduanya sama-sama berotak cemerlang meskipun mereka bukan berasal dari keluarga mampu.

“haaah..akhirnya aku berhasil diterima di perusahaan Hanhwa.” Ucap Victoria saat menemani Kyuhyun mengerjakan tugasnya di taman kampus.

“jinjja? Chukkae..” sahut Kyuhyun sambil terus fokus pada buku-bukunya.

“walaupun sekarang aku hanya bekerja sebagai staff biasa, aku akan berusaha mendapatkan posisi teratas di perusahaan itu. Kalau perlu aku harus bisa menjadi direktur perusahaan itu!”

“ne. semoga keinginanmu itu tercapai.” Kyuhyun hanya menanggapinya seadanya karena sebenarnya ia tidak terlalu menyukai ambisi Victoria itu.

“ya! Kenapa dengan nada bicaramu?” heran Victoria. “apa kau tidak suka kalau aku bisa mencapai mimpiku itu?”

Kyuhyun menyunggingkan senyumnya dan menutup buku-bukunya lalu beralih menatap Victoria. “noona, aku senang jika kau sukses. Tapi aku hanya berpesan jangan terlalu mengejar harta. Kau tahu, kekayaan bukan segalanya.”

Mendengar ucapan Kyuhyun membuat Victoria sedikit tersinggung, “aku bosan makan ramen setiap hari, aku bosan setiap hari harus berdesak-desakan di bus, aku lelah di kejar-kejar penagih utang itu, aku ingin mengubah kehidupanku, aku ingin dunia tunduk padaku!”

Kyuhyun menghela napasnya, “baiklah. Terserah kau saja, noona. Asal kau tidak berbuat sesuatu yang salah, aku akan mendukungmu.”

Victoria kembali tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun, “gomawo, Kyu!” Victoria memeluknya dan itu membuat jantung Kyuhyun berdegup tidak karuan. Ia menyukai Victoria sejak lama, namun ia tidak pernah bisa mengungkapkannya. Ia takut jika Victoria mengetahui perasaannya, Victoria akan menjauhinya dan ia tidak bisa lagi dekat dengannya.

Flashback  End

“jadi, ada apa kau mengajakku bertemu?” tanya Kyuhyun.

Victoria menggantung jawabannya karena seorang pelayan menghampiri mejanya dan meletakkan makanan kesukaannya yang sudah di pesan Kyuhyun. Setelah pelayan itu pergi, ia baru menjawab, “apa harus selalu ada alasan untuk bertemu denganmu? Seperti orang penting saja!” gurau Victoria membuat Kyuhyun tertawa. “aku hanya ingin bertemu saja. Sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini.”

“benar juga. Ya sudah, ayo makan dulu. Aku sudah pesankan seafood kesukaanmu.”

“wah, ternyata kau masih ingat makanan favoritku. Gomawo, Kyu!” sahut Victoria segera melahap makanan itu dan keduanya kembali berbincang-bincang.

Taeyeon serta Jaejoong tiba di Korea dan mereka segera bergegas menuju perusahaan induk Hanhwa. Sesampainya disana, Taeyeon segera menghampiri puluhan orang yang tengah berdemo didepan perusahaan itu.

Begitu mereka melihat kehadiran Taeyeon, mereka kembali berseru dengan lebih lantang meminta gaji mereka. Para reporter pun segera bergegas meminta penjelasan Taeyeon.

“Taeyeon-ssi, kami disini untuk meminta gaji kami yang belum di bayarkan selama 6 bulan! Kami memiliki keluarga yang harus kami biayai!” ucap seseorang mewakili para pendemo itu yang kembali disertai seruan rekan-rekannya.

“SEMUANYA TOLONG TENANG!!” teriak Taeyeon yang pusing dengan tuntutan para pekerjanya. “aku mohon beri kami waktu. Perusahaan sedang tidak baik dan kami sedang mengusahakan mencari dana untuk menutupi gaji kalian.”

“itu bukan urusan kami!” teriak seseorang. “kau yang membuat perusahaan jatuh. Sejak perusahaan ini berada dibawah kendalimu, semuanya jadi kacau! Bahkan hampir semua anak perusahaan ini sudah kau jual.”

“YA! BENAR!!” seru pekerja lain sambil maju hendak mendekati Taeyeon namun para security dan juga Jaejoong segera mencegah mereka berbuat anarkis.

Suasana semakin ricuh saat salah satu pekerja wanita berhasil menjambak rambut Taeyeon. Jaejoong melihatnya dan segera berpaling menolong Taeyeon dari wanita itu. “ajumma, tolong hentikan!” Jaejoong melindungi Taeyeon dari amarah wanita itu.

“kumohon kalian bersabarlah. Kami akan segera membayar tuntutan kalian!” sahut Taeyeon. ”beri kami waktu lagi!”

“sampai kapan?? Kau terus saja meminta kami memberikan waktu. sebulan yang lalu kau mengatakan hal yang sama!! Kami minta gaji kami di bayarkan sekarang juga!!”

“aku akan berusaha secepat mungkin membayarkannya dan…”

CPROTT!!! *suara yang aneh*

Belum sempat Taeyeon menyelesaikan ucapannya, seseorang melemparkan telur padanya. Taeyeon tampak shock dengan apa yang baru saja di alaminya hingga tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Jaejoong terkejut melihat itu dan segera menghampiri Taeyeon. “Taeyeon-ah…” ia kembali berbalik menatap para pekerja itu yang juga tampak terkejut melihat ada yang berani melemparkan telur pada anak pemilik perusahaan itu. “SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN ITU, HAH??!” bentak Jaejoong namun tidak ada seorang pun yang mengaku. “jinjja!” umpat Jaejoong hendak membawa Taeyeon pergi dari kerumunan itu. Namun Taeyeon menolaknya dan kembali menghadap para pekerja itu.

Taeyeon terdiam sejenak sebelum akhirnya tiba-tiba ia berlutut di hadapan mereka. Semua orang yang melihat itu membelalakan matanya melihat apa yang dilakukan Taeyeon. “aku bersungguh-sungguh! Beri waktu satu bulan, dan aku akan membayarkan gaji kalian.” Ucap Taeyeon menunduk. Jaejoong mencoba membuatnya berdiri namun Taeyeon menepisnya. “jika dalam waktu satu bulan aku tidak mampu membayarnya……” Taeyeon berhenti sejenak sebelum akhirnya berkata, “kalian boleh menjebloskanku ke penjara.”

Sontak perkataan itu membuat Jaejoong dan juga semua yang berada di tempat itu shock.

Setelah para pekerja itu berdiskusi satu sama lain, akhirnya mereka setuju memberikan kesempatan terakhir itu.

“baiklah. Kami pegang kata-katamu. Jika dalam  waktu satu bulan kau tidak membayar kami, kami akan menyeretmu ke penjara.”

Setelah mendengar persetujuan itu, Jaejoong meraih lengan Taeyeon dan membawanya pergi dari tempat itu. Jaejoong membuka pintu mobilnya dan menyuruh Taeyeon masuk. Jaejoong mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“APA KAU SUDAH GILA??!” bentak Jaejoong di dalam mobil. “APA KAU YAKIN  DALAM WAKTU SATU BULAN KAU BISA MENDAPATKAN DANA ITU??”

Taeyeon terdiam menunduk tidak menjawab perkataan Jaejoong.

“TAEYEON-AH..”

“antar aku ke Jeju!” Taeyeon memotong ucapan Jaejoong. Ia berpaling menatap namja disebelahnya itu dan membuat Jaejoong terkejut melihat wajah Taeyeon yang sudah dibanjiri airmata. “jebal.” Jaejoong menghela napasnya sebelum akhirnya memutar balik arah mobilnya menuju pulau Jeju.

Selama perjalanan, keduanya tidak ada yang berbicara hingga akhirnya beberapa jam kemudian mereka tiba di Jeju. Mobil Jaejoong masuk ke sebuah resort milik keluarga Taeyeon, lebih tepatnya milik Taeyeon. Karena resort itu adalah peninggalan eommanya sebelum meninggal.

Jaejoong memarkirkan mobilnya didepan sebuah villa yang cukup megah. Ia segera turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Taeyeon setelah itu mereka masuk kedalam villa itu.

“bersihkan dulu badanmu. Kau tampak berantakan.” Ucap Jaejoong memberikan sebuah handuk pada Taeyeon. Taeyeon menerimanya dan segera berjalan menuju kamar mandi.

Sementara itu di kediaman Victoria..

“aku pulang!” seru Victoria dan ia segera mendapati eommanya yang tampak senang. “eomma, wae? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?” heran Victoria.

“coba kau lihat itu!” nyonya Song menunjuk televisi yang sedang di tontonnya.

Begitu Victoria berpaling, ia membelalakan matanya melihat tayangan di televisi itu, “MWO??? Bukankah itu Taeyeon???” kejut Victoria. Ia melihat Taeyeon yang tampak shock setelah  dilempar telur.

“ne. Taeyeon! Adik tirimu!” jawab nyonya Song dengan senyum yang terus mengembang di wajahmu.

“aissh! Hentikan itu, eomma! Aku tidak mau mengakui yeoja itu sebagai adik tiriku!” dengus Victoria membuat nyonya Song tertawa.

“arata.” Sahut nyonya Song. “jika bukan karena kekayaannya, eomma juga tidak sudi menikahi lelaki tua itu. Apalagi saat ini ia benar-benar tidak berguna. Yang ia lakukan hanya berbaring di ranjang rumah sakit!”

Victoria tertawa mendengar ucapan eommanya. “tapi justru itu bagus, eomma. Jika Tuan Kim tidak ada, kita akan lebih mudah menyingkirkan Taeyeon dan menguasai hartanya!”

“kau benar. Eomma bangga memiliki anak pintar sepertimu.” Sahut nyonya Song. “oh ya, kau habis darimana?”

“aku baru saja menemui Kyuhyun dan..”

“untuk apa kau anak miskin itu lagi??” nyonya Song memotong ucapan Victoria dan sedikit membentaknya.

“eomma…”

“kau tidak boleh bertemu lagi dengan anak itu! Derajatmu sekarang berbeda! Kau ingin teman-temanmu tahu kau bergaul dengan orang rendahan seperti dia??”

Victoria menggelengkan kepalanya, “mianhaeyo, eomma.”

Nyonya Song menghela napasnya, “kau harus ingat tujuan kita masuk ke keluarga ini dan jangan sampai kau menghancurkan usaha kita selama ini.”

“ne. arasseo.”

“oh ya, apa kau sudah menemui anak perusahaan dari Thailand itu?”

“ne. Sebelum bertemu Kyuhyun, aku menemuinya terlebih dahulu.” Sahut Victoria.

“bagaimana tampang anak itu?”

“mmm… ia cukup tampan tapi…ia bukan seleraku.” Jawab Victoria membuat nyonya Song terkekeh.

“wae? Apa ia tidak lebih kaya dari keluarga ini?” tanya nyonya Song yang di balas anggukan Victoria. Nyonya Song kembali tertawa.

Sementara itu di sudut lain, pelayan keluarga Kim yang sudah bekerja sejak Taeyeon belum lahir mendengar percakapan keduanya. Ia mengepalkan tangannya geram dengan kelakuan ibu dan anak itu.

“kita harus menyusun kembali strategi untuk menjatuhkan Taeyeon.” ucap nyonya Song. “besok kau datangi tuan Lee pemilik perusahaan Hyundai. Kau hasut orang itu agar menarik kembali saham-sahamnya di Hanhwa.”

“ne, arasseo.” sahut Victoria.

“bagus. Dengan begitu, Hanhwa akan jatuh dan Taeyeon akan tersingkir. Setelah itu, kita gantikan posisi Taeyeon dan membangun kembali perusahaan itu.” ucap nyonya Song. “kita sudah melangkah sejauh ini dan tidak boleh gagal. Eomma kagum dengan kehebatanmu mempengaruhi para konglomerat itu.”

Kembali ke Taeyeon dan Jaejoong di Jeju..

Jaejoong memperhatikan Taeyeon yang baru saja keluar dari kamar mandi. “bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?” tanya Jaejoong yang di balas anggukan Taeyeon.

Taeyeon duduk di sebelah Jaejoong dan ikut menonton siaran berita tentangnya dan perusahaannya, namun kemudian Jaejoong langsung mematikan televisinya.

“wae?” heran Taeyeon melihat Jaejoong mematikan televisi itu.

“aku tidak mau kau melihatnya dan kau kembali bersedih.”

Taeyeon menyunggingkan sedikit senyumnya dan menggenggam tangan Jaejoong, “gomawo. Kau selalu berada di sampingku saat orang-orang lain justru menjauhiku.”

Jaejoong tersenyum menatap Taeyeon dan mengeratkan genggaman Taeyeon di tangannya, “aku hanya berusaha melindungimu dan juga melakukan perintah eommamu.”

Taeyeon membalas senyuman Jaejoong dan merebahkan kepalanya di bahu Jaejoong tanpa melepas genggaman tangannya. “aku beruntung memiliki teman sepertimu.” Ucap Taeyeon.

Mendengar kata ‘teman’ yang meluncur(?) dari mulut Taeyeon sedikit membuat hati Jaejoong mencelos. Ia menyukai Taeyeon namun ia tidak pernah bisa mengungkapkannya. Ia takut Taeyeon malah menjauhinya setelah tahu bagaimana perasaannya sebenarnya. Yang ia bisa lakukan hanya selalu berada di sampingnya dan terus mensupportnya. Hingga kini, Taeyeon tidak pernah berkencan dan semua orang mengira bahwa Taeyeon dan Jaejoong memiliki hubungan spesial. Namun hal itu tidak membuat Taeyeon merasa risih dan Jaejoong pun tidak merasa terganggu dengan rumor itu. Justru ia merasa senang ketika orang-orang menganggapnya seperti itu dan mengatakan mereka pasangan yang serasi.

Dulu saat masih sekolah, saat ia dan Taeyeon berjalan berdua, semua mata menatap dengan pandangan iri. Namja maupun yeoja, sebab keduanya sangat populer di sekolah itu. Mereka selalu tampak bersama hingga tidak heran jika banyak yang menyangka bahwa mereka berkencan dan ada pula yang berpikiran bahwa mereka di jodohkan oleh orang tuanya mengingat orang tua mereka sangat dekat satu sama lain.

Jaejoong senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa itu. Sesaat kemudian ia menoleh dan mendapati Taeyeon yang tertidur di bahunya. Jaejoong terkekeh dan akhirnya ia mengangkat tubuh Taeyeon dan memindahkannya ke kamar. Ia merebahkan Taeyeon di tempat tidurnya. Jaejoong memandangi Taeyeon yang tertidur pulas hingga tiba-tiba Taeyeon mengigau memanggil eommanya.

“eomma..”

Jaejoong kembali teringat pada nyonya Kim yang begitu baik dan juga penyabar.

Flash back

“saengil chukkahamnida~ saengil chukkahamnida~ saengil chukka uri Taeyeon~ saengil chukkahamnida~”

Taeyeon meniup lilin yang berbentuk angka 17. Saat itu merupakan hari yang sangat berharga bagi Jaejoong dimana untuk pertama kalinya, nyonya Kim mempercayainya untuk menjaga Taeyeon.

“Taeyeon-ssi, pada siapa potongan pertama kue itu kau berikan?” tanya seorang MC yang mengisi acara ulang tahun Taeyeon.

“mm…untuk eommaku.” Jawab Taeyeon memberikan sepotong kue pada eommanya dan menyuapinya. Dan kemudian ia juga menyuapi appanya.

Pesta ulang tahun yang diadakan di rumah Taeyeon itu sangat meriah. Semua teman dekat Taeyeon hadir dan juga beberapa rekan bisnis tuan Kim juga ikut menghadiri acara itu. Tidak sedikit dari mereka yang membawa pula anak laki-lakinya. Mereka berusaha mendapatkan perhatian Taeyeon yang merupakan anak satu-satunya dari keluarga chaebol dan juga selain itu ia sangat cantik dan juga ramah.

“apakah kau mempunyai seseorang yang special, Taeyeon-ssi? Bagaimana kalau kau juga menyuapinya?” ucap MC itu membuat suasana menjadi riuh.

Taeyeon tersenyum malu-malu dan tidak langsung menjawab hingga akhirnya nyonya Kim memanggil Jaejoong. Awalnya Jaejoong malu-malu namun kemudian ia berdiri di sebelah nyonya  Kim, namun nyonya Kim segera meyuruhnya berdiri di samping Taeyeon.

“wah~ tampan sekali namja ini. Kalian tampak serasi. Ah, aku jadi iri.” Seru MC itu. “nah, Taeyeon-ssi, ayo suapi namja disebelahmu itu.”

Dengan ragu-ragu, Taeyeon menyuapi Jaejoong.

“aissh.. aku benar-benar iri!” ucap MC itu lagi membuat Taeyeon dan Jaejoong tersipu malu.

“saengil chukkae, Taeyeon-ah.” Ucap Jaejoong pada Taeyeon.

“ne. gomawo, oppa.”

“aigoo, aigoo.. kalian membuat semua yang ada disini terbakar api cemburu(?).” goda MC itu lagi membuat pipi Taeyeon dan Jaejoong semakin memerah.

Setelah itu, acara di lanjutkan dengan mempersilahkan para tamu undangan menikmati acara itu. Jaejoong duduk tidak jauh dari Taeyeon yang sedang bergurau dengan teman-temannya. Ia terus memperhatikan yeoja itu dan tanpa sadar ia ikut tersenyum.

“Jaejoong-ah!” nyonya Kim menepuk pundaknya membuatnya terkejut lalu duduk disampingnya. “kau memperhatikan Taeyeon?”

“oh, aniyo, ajumma. Aku hanya…”

“panggil aku eomma.” Potong nyonya Kim membuat Jaejoong terkejut dengan permintaannya. “anggap saja aku ini eommamu.”

“n..ne, eomma.” Gugup Jaejoong.

“tidak terasa kalian sudah sebesar ini.” Ucap nyonya Kim sambil mengelus rambut Jaejoong dengan lembut. “aku jadi ingat bagaimana kalian waktu masih kecil.”

Jaejoong tersenyum menanggapi ucapan nyonya Kim. “Jaejoong-ah..”

“ne?”

“apa kau bersedia menjaga Taeyeon?” tanya nyonya Kim membuat Jaejoong terkejut. “aku mengenalmu sejak kecil dan kalian sangat dekat. Taeyeon anak kami satu-satunya. Aku khawatir ia bergaul dengan orang yang salah. Kau sangat baik dan selalu disampingnya. Apa kau bisa melakukan itu hingga kami tidak bisa lagi menjaganya?”

“kenapa…. Aj.. mm.. maksudku, kenapa eomma berkata seperti itu?”

Nyonya Kim tersenyum sebelum akhirnya berkata, “eomma hanya ingin kau selalu menjaganya. Kau anak yang baik dan eomma sangat mempercayaimu. Apa kau bisa memenuhi permintaan eomma?”

Jaejoong tersenyum, “ne.”

“good boy.” Nyonya Kim tertawa sambil mengacak rambut Jaejoong dengan gemas sebelum akhirnya beranjak meninggalkannya.

Jaejoong kembali melihat Taeyeon yang kini sendirian karena teman-temannya pergi menikmati jamuan pesta itu. Jaejoong beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan blazzernya. Ia berdiri di depan Taeyeon dan memakaikan blazzer itu menutupi dadanya.

“terlalu terbuka.” Bisik Jaejoong.

Taeyeon sedikit mengernyitkan keningnya hingga akhirnya ia tertawa kecil menerima perlakuan Jaejoong. “gomawo.” Ucap Taeyeon yang dibalas senyuman Jaejoong.

Jaejoong melayangkan(?) pandangannya ke arah lain dan mendapati nyonya Kim yang tersenyum ke arahnya. “gomapta.” Nyonya Kim menggerakan bibirnya tanpa suara mengucapkan kalimat itu pada Jaejoong.

Beberapa jam kemudian, acara itu selesai dan para tamu sudah meninggalkan tempat itu. Namun tidak dengan Jaejoong, ia masih berada di tempat itu. Ia berniat memberikan sesuatu untuk Taeyeon. Ia menemui Taeyeon di kamarnya.

“Taeyeon-ah, ini hadiah untukmu dariku.” Jaejoong memberikan sebuah boneka beruang besar.

“waaah, kyeopta~” seru Taeyeon menerima boneka itu. “gomawo~”

ashiya19.wordpress.com

Jaejoong mengangguk dantersenyum lembut padanya.
Flash back end
Jaejoong masih ingat bagaimana sifat Taeyeon sebelum eommanya meninggal. Setelah nyonya Kim meninggal karena satu hal, sifat Taeyeon berubah 180 derajat. Dulu ia begitu manis, namun sekarang ia berubah menjadi yeoja yang keras kepala dan bertindak semaunya sendiri.
Jaejoong menghela napasnya. Ia menyelimuti Taeyeon dan mengecup keningnya. Setelah itu ia beranjak keluar dari kamar itu.

To be continue..

Pasti ada yang nanya, “mana KyuTae momentnya? Kok TaeJae doank? terus Dara’nya mana?” haha.. sabar ya~  😉 tunggu aja kelanjutannya!

FYI, perusahaan Hanhwa itu beneran ada. Bukan fiktif. Hanhwa termasuk perusahaan besar, sederajat(?)lah sama Kia, Hyundai, LG, dan kawan-kawan. Author pinjem namanya aja. Hehe…

RCL, please~! onion-emoticons-set-6-81

[FF] Seoul Camp Lake (Last Chapter)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Im Yoona (Girls’ Generation), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-previous chapter-

Beberapa saat kemudian Sooyoung berbaring di tempat tidurnya sambil tersenyum. “aku telah mendapat tiga orang teman.” Batin Sooyoung. “mereka benar-benar membuatku gembira.”

Namun tidak lama kemudia senyum itu langsung meredup ketika ia mendengar bisikan dalam gelap. “Sooyoung.. Choi Sooyoung..” Sooyoung menahan napas. Tiba-tiba saja suara itu sudah begitu dekat..begitu dekat dengan telinganya. “Soo, kukira kita berpasangan. Kenapa kau meninggalkanku?”

“andwae…andwae..!” ucap Sooyoung memohon.

“Soo, aku sudah menunggumu begitu lama.” Suara itu berbisik. “ikutlah denganku. Ikutlah denganku, Soo..” dan tiba-tiba pundaknya digenggam tangan yang sedingin es.

“oh!!” Sooyoung langsung duduk tegak dan kemudian menatap mata Tiffany yang gelap.

Ia menurunkan tangannya dari pundak Sooyoung, “Soo, ada apa? Kau merintih-rintih tadi.”

“eh?? Apa??” suara Sooyoung gemetar, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya bermandikan keringat.

“kau merintih-rintih.” Ulang Tiffany. “jadi kupikir lebih baik kau di bangunkan saja.”

“ehm…gomawo.” Ujar Sooyoung. “mungkin gara-gara mimpi buruk.”

Tiffany mengangguk dan kembali ke tempat tidurnya. Sooyoung tidak bergerak, ia terus duduk sambil menatap kegelapan di sekelilingnya. “mimpi buruk?” tanya Sooyoung dalam hati. “rasanya bukan..”

-Chapter 6/Ending-

“kau tidak perlu ikut acara renang jarak jauh hari ini,” Yuri memberitahu Sooyoung waktu sarapan keesokan paginya.

“ehm.. seberapa jauh kita harus berenang?

“kita berenang sampai ke tengah danau,” jawab Yuri. “sampai ke tengah, lalu kembali lagi. Aku akan naik perahu ke tengah. Jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi kalau kau ragu-ragu..”

Sooyoung menaruh sendoknya dan melihat Tiffany dan Taeyeon yang memperhatikannya dari ujung meja. Disampingnya ada Jessica.

“ayolah ikut saja,” desak Tiffany.

“biar aku yang jadi pasanganmu,” kata Jessica. “aku akan berenang bersamamu, Soo.”

Sooyoung teringat kejadian mengerikan di perahu dayung. Ia kembali teringat bagaimana Jessica terjun ke air, membalikkan perahu, dan meninggalkannya seorang diri ditengah danau.

Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, pikir Sooyoung. Mereka sekarang sudah berteman. Ia harus melupakan kejadian di perahu dayung. Ia harus melupakan bahwa perkenalan mereka pada awalnya kurang mulus.

“oke,” jawab Sooyoung akhirnya. “gomawo, Sica. Aku akan berpasangan denganmu.” Sooyoung kembali berpaling pada Yuri. “aku siap ikut berenang.”

**

Matahari pagi masih rendah di langit, dan berulang kali tertutup awan kelabu. Setiap kali matahari menghilang, udara langsung sedingin air danau. Air danau itu sangat dingin pada pagi hari. Para peserta tampak enggan memasuki air. Semuanya menggigil dan mengeluh. Sooyoung pun berhenti di air sedalam mata kaki dan menunggu sampai ia terbiasa dengan dinginnya air.

Sooyoung menoleh ketika mendengar suara perahu motor. Yuri sedang menuju ke tempatnya di tengah danau. Begitu sampai, ia langsung mematikan mesin kemudian ia meraih megafon.

“ayo pemanasan dulu semuanya!” Yuri memberi instruksi namun para peserta itu malah tertawa.

“pemanasan? Bagaimana caranya? Udaranya begitu dingin!”

Sooyoung maju beberapa langkah lagi sambil merapikan baju renangnya yang berwarna biru. “mestinya kita pakai baju penyelam.” Ucapnya pada Jessica.

Jessica mengangguk lalu maju ke air sedalam pinggang. “ayo, Soo. Kita tidak boleh berpencar.” Jessica memberi isyarat agar Sooyoung mengikutinya.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam dan kemudian terjun ke dalam air. Hawa dingin menyerang dari segala arah. Tapi ia tetap meluncur di bawah permukaan dan berenang beberapa meter. Kemudian ia menyembulkan kepalanya dan berpaling pada Jessica.

“tukang pamer,” gumam Jessica sebelum akhirnya ia mencelupkan(?) kedua tangannya ke dalam air.

Sooyoung tertawa, “segar kok! Ayo, terjun saja. kau bakal lebih cepat terbiasa.”

Jessica mengikuti saran Sooyoung. Sebagian peserta sudah berada di dalam air. Ada yang berenang berputar, ada yang  mengapung, ada juga yang mengerakkan kaki seperti mengayuh sepeda.

“silakan ambil posisi semuanya!” Yuri memberi aba-aba dari perahunya. Suaranya terdengar keras dan memantul pada pepohonan. “baris dua-dua! Ayo, cepat!”

Mereka butuh waktu agak lama sebelum semuanya siap. Jessica dan Sooyoung berada di baris kedua. Di belakang mereka tampak Taeyeon berbaris dengan Tiffany.

“Taeyeon, aku ke belakang sebentar ya.” Ucap Tiffany.

“mau kemana?”

“toilet.” Jawab Tiffany sambil pergi menuju toilet meninggalkan Taeyeon.

“lalu aku berpasangan dengan siapa?” gumam Taeyeon.

“denganku saja.” ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.

“Kyu?”

Kyuhyun tersenyum, “tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan berenang cepat-cepat.”

“n..ne..” sahut Taeyeon dengan gugup.

Pasangan pertama berangkat, 2 anak perempuan. Yang satu berenang dengan mantap, yang satu lagi membuat air bercipratan ke segala arah. Yang lainnya bersorak-sorai untuk memberi semangat kepada mereka.

2 menit kemudian, Sooyoung dan Jessica hendak menyusul namun Kyuhyun menahan keduanya. “boleh aku dan Taeyeon duluan?” tanya Kyuhyun membuat Sooyoung dan Jessica mengerutkan keningnya.

“nanti saja, Kyu..”

“tidak apa-apa, kan?” tanya Kyuhyun lagi tidak memperdulikan ucapan Taeyeon.

“baiklah.” Jawab Jessica akhirnya. “silahkan.” Jessica memberi jalan untuk Kyuhyun dan Taeyeon untuk maju bersiap-siap.

“kajja!” Kyuhyun menarik lengan Taeyeon. Dan kemudian mereka berenang bersama dengan mantap. Kyuhyun tidak terlalu cepat berenangnya karena ia tidak mau Taeyeon ketinggalan.

Saat di tengah-tengah danau tiba-tiba Kyuhyun berhenti dan berbalik pada Taeyeon.

“kenapa berhenti?” bingung Taeyeon ikut berhenti berenang.

“apa kau sudah memikirkan ucapanku semalam?”

“Kyu, kumohon jangan begini. Aku hanya menganggapmu teman..”

“apa setelah aku lakukan ini kau masih menganggapku teman?” ucap Kyuhyun cepat dan meraih Taeyeon ke dalam air. Di bawah permukaan air, Kyuhyun memanggut bibir Taeyeon. Taeyeon berontak namun ia tidak bisa melepaskan pegangan Kyuhyun. Kyuhyun memeluknya sambil terus menciuminya d bawah air itu selama beberapa detik hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan ciuman itu dan kembali ke permukaan karena kehabisan napas. “mianhae..” lirih Kyuhyun melihat Taeyeon yang tampak menangis.

Taeyeon tidak memperdulikannya dan segera berenang mendekati perahu Yuri, tidak berniat berbalik kembali ke tepi danau meneruskan renangnya. Kyuhyun hanya memandanginya dan kemudian ikut menyusulnya.

Yuri menarik Taeyeon ke atas perahu dan kemudian disusul Kyuhyun. Taeyeon duduk terdiam menunduk di salah satu sisi perahu itu dan Kyuhyun duduk di seberangnya sambil terus memperhatikannya.

“Taeyeon, kenapa kau berhenti? Kau juga, Kyu?” tanya Yuri.

“aku.. lenganku pegal tidak kuat berenang lebih lama lagi.” Jawab Taeyeon.

“oh.. baiklah. Lalu kau?” Yuri berbalik pada Kyuhyun.

“bukannya kita harus berpasangan dalam sistem keselamatan di air? Jika aku meneruskan berenang berarti aku berenang sendirian tidak ada pasangannya.”

“ah, benar juga.” Sahut Yuri. “ya sudah kalian tunggu saja disini sampai semua selesai.”

Di tepi danau Sooyoung dan Jessica bersiap-siap meluncur ke air. Sooyoung berusaha tidak menciptakan cipratan ke segala arah. Ia berusaha untuk tidak kikuk di perhatikan semua peserta perkemahan itu. Tidak lama kemudian Jessica mendahuluinya. Sambil berenang berulang kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan ia tidak meninggalkan Sooyoung terlalu jauh. Titik untuk berbalik arah terletak di dekat perahu motor Yuri. Sooyoung terus menatap titik itu sambil terus mengikuti Jessica yang berada di depannya.

Jessica berenang semakin cepat, Sooyoung mulai merasakan lengannya pegal padahal jaraknya masih jauh dari perahu. Perahu Yuri berayun-ayun di depan Sooyoung. Yuri sedang menyerukan sesuatu melalui megafon tapi Sooyoung tidak bisa mendengarnya karena suara percikan air di sekelilingnya.

Jessica semakin jauh, “hei, jangan cepat-cepat!” seru Sooyoung namun ia kemudian sadar Jessica pasti tidak akan mendengar suaranya.

Sooyoung mengabaikan rasa pegal di lengannya dan berusaha mengejar Jessica. Ia mengayunkan kakinya lebih keras sehingga air pun bercipratan ke segala arah.

Matahari kembali menghilang di balik awan tebal. Langit menjadi gelap dan air danau langsung bertambah dingin. Sooyoung sudah hampir sampai di perahu yang dinaiki Yuri. Pandangannya tertuju pada Jessica. Sooyoung memperhatikan ayunan kakinya yang berirama. Rambutnya yang pirang mengapung di permukaan air, bagaikan sejenis makhluk penghuni laut. Kalau Jessica berbalik, aku juga ikut berbalik, pikir Sooyoung.

Sooyoung berenang sedikit lebih cepat. Perahu Yuri sudah lewat. Mereka sudah boleh berbalik. Tapi diluar dugaan Sooyoung, Jessica terus berenang mengayunkan kaki dan tangannya. Kepalanya terbenam. Lengannya bergerak dengan ringan dan anggun, dan Sooyoung tertinggal semakin jauh.

“Jess..?” panggil Sooyoung. Lengannya sudah berat sekali. Dadanya serasa terbakar. “hei, Jess! Kita sudah boleh balik!” namun Jessica terus berenang. Sooyoung mengerahkan segenap tenaga untuk menyusulnya, “Sica, tunggu!” seru Sooyoung. “kita harus balik!”

Jessica berhenti.

“apa ia mendengarku?” pikir Sooyoung sambil menghampirinya dengan napas terengah-engah.

Ia berbalik pada Sooyoung.

“Sica??” Sooyoung memekik tertahan.

Bukan. Bukan Jessica. Ternyata bukan Jessica. Tapi…Yoona! Matanya yang gelap tampak berseri-seri ketika mengembangkan senyumnya.

“ayo berenang terus, Soo,” bisik Yoona. “kita harus berenang lebih jauh dan lebih jauh lagi. Kau sudah jadi pasanganku sekarang.” Yoona langsung meraih lengan Sooyoung. Sooyoung berusaha membebaskan diri dan hampir berhasil melepaskan lengannya yang basah dari genggaman Yoona tapi kemudian ia mencengkram pergelangan tangan Sooyoung dan menariknya keras-keras.

“akh!” pekik Sooyoung. Yoona cukup kuat. Sangat kuat untuk seorang perempuan yang tampak begitu rapuh. Bukan, bukan seorang perempuan tapi hantu yang tampak begitu rapuh. “lepaskan aku!” Sooyoung meronta-ronta, menendang-nendang dan berputar-putar. “Yoon, aku tidak mau ikut denganmu!” Sooyoung berbalik dan berhasil melepaskan diri. Kepalanya terbenam dalam air. Terbatuk-batuk dan mengangkat kedua tangannya lalu naik ke permukaan air.

“dimana Yoona?” batin Sooyoung mengedarkan pandangannya mencari hantu itu. “apakah ia persis di belakangku? Apakah ia sudah siap menyeretku ke tengah danau, supaya aku tidak bisa berenang ke tepi?” dengan kalang kabut ia memandang ke segala arah.

Awan-awan di atas seakan-akan melintas dengan kecepatan tinggi.

“Sooyoung.. Sooyoung..” Sooyoung mendengar suaranya namun ia tidak bisa melihatnya. Sooyoung kembali berbalik, pandangannya tertuju pada perahu motor. Tanpa menghiraukan jantungnya yang berdetak kencang, tanpa menghiraukan lengannya yang pegal, ia mulai melesat maju. “aku harus mencapai perahu sebelum Yoona kembali menyeretku.” Batin Sooyoung.

Sooyoung mengerahkan segenap tenaganya yang masih tersisa untuk berenang ke perahu motor. Tangannya menjangkau….dan berhasil meraih pinggiran perahu. Dengan terbatuk-batuk, ia berusaha naik. “Yul, tolong!” Sooyoung memohon dengan suara parau. “bantu aku naik!” matahari muncul dari balik awan. Sooyoung menatap cahaya keemasan yang menyilaukan. “Yul, tolong..” Sooyoung melihat sepasang tangan terulur kearahnya. Ia membungkuk untuk menarik Sooyoung naik ke perahu. Ia mencondongkan badan ke depan dan menariknya ke atas. Sooyoung mengedip-ngedipkan matanya ketika menatap wajah orang yang menolongnya.

“andwae!!” Pekik Sooyoung tiba-tiba. Yang dilihatnya bukan wajah Yuri! Tapi wajah Yoona! Yoona menariknya naik ke perahu.

“ada apa, Soo?” ia berbisik sambil menarik Sooyoung. “jangan khawatir, kau tidak apa-apa.”

“lepaskan aku!!” jerit Sooyoung berusaha membebaskan diri dari pegangan Yoona. Matanya berkedip-kedip karena silau. Dan kemudian ia melihat wajah Yuri dihadapannya. Bukan wajah Yoona, tapi wajah Yuri. Wajah yang tampak cemas.

“Soo, kau tidak apa-apa?”

Sooyoung menatapnya dengan membelalakan matanya menyangka wajahnya akan berubah lagi menjelma menjadi Yoona.

“apa aku salah lihat?” pikir Sooyoung. “mungkinkah aku salah lihat karena silau akibat sinar matahari?” ia menghela napas membiarkan dirinya di tarik naik oleh Yuri dan juga di bantu Kyuhyun.

Sooyoung berlutut di perahu yang terayun-ayun. Taeyeon yang duduk di sebelahnya menatapnya sambil memicingkan matanya, “apa yang terjadi?” belum Sooyoung menjawab pertanyaan Taeyeon, ia mendengar bunyi gemericik di samping perahu.

“Yoona!” pikir Sooyoung. Ia langsung diam seperti patung.

Ternyata bukan. Jessica memanjat ke perahu. “Soo, kenapa kau tidak mendengarku memanggil-manggil tadi?” tanya Jessica.

“Jes, aku tidak melihat. Kupikir kau..” suaranya tercekat di tenggorokan.

“kenapa kau meninggalkanku?” tanya Jessica lagi. “kita kan harus berpasangan!”

**

Yuri mengantar Sooyoung ke tepi danau. Ia berganti baju lalu menemui Leeteuk. Ia berada di ruang kerjanya, sebuah ruangan kecil di gedung utama. Ia sedang duduk sambil menaikan kaki ke meja dan memandang selembar foto di tangannya.

“oh, Soo! Ada apa?” ia tersenyum ramah dan memberi syarat agar Sooyoung duduk di kursi lipat di depan mejanya. Ia mengamati Sooyoung dengan seksama. “aku dengar ada masalah lagi didanau.” Ucap Leeteuk dengan lembut. Foto yang semula ia pegang cepat-cepat ia masukan ke laci mejanya. “ada apa sebenarnya?”

Sooyoung menarik napas dalam-dalam memikirkan apa ia harus berterus terang kalau ia diikuti arwah seorang gadis? Arwah penasaran yang menginginkannya menjadi pasangannya.

“kau mengalami kejadian yang sangat mengejutkan kemarin.” Ujar Leeteuk. “kami sempat menyangka kau tenggelam.” Ia mencondongkan badannya ke arah Sooyoung. “barangkali kau terlalu cepat kembali ke danau. Barangkali kau seharusnya menunggu dulu.”

“mungkin juga.” Gumam Sooyoung dan kemudian ia melontarkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya. “Teuk, tolong ceritakan tentang yeoja yang tenggelam di sini.”

Leeteuk langsung melongo, “hah?”

“aku tahu ada yang pernah tenggelam di danau perkemahan ini!” ucap Sooyoung bersikeras. “aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Leeteuk menggelengkan kepalanya, “belum pernah ada yang tenggelam di danau perkemahan ini.” Jawab Leeteuk. “belum pernah.”

Sooyoung merasa ia bohong. Ia punya bukti, ia telah melihat Yoona. Dan bahkan sempat berbicara dengannya. “Leeteuk-ssi, aku perlu tahu. Tolong ceritakan tentang dia.”

Leeteuk mengerutkan kening. “kenapa kau tidak percaya, Soo? Aku tidak bohong. Belum pernah ada yang tenggelam di danau. Baik yeoja maupun namja.”

Tiba-tiba Sooyoung mendengar suara mendesah. Ia melirik ke arah pintu yang terbuka, dan……melihat Yoona berdiri disitu. Sooyoung kaget setengah mati. Serta merta ia berdiri dan menunjuk. “Teuk! Itu yeoja yang kumaksud! Dia berdiri disitu! Masa kau tidak mellihatnya???”

Leeteuk menoleh ke arah pintu. “ne.” ucapnya pelan. “aku melihatnya.”

“eh?” Sooyoung memekik tertahan. “kau melihatnya??”

Leeteuk mengangguk, raut wajahnya serius. “kalau itu bisa membuatmu lebih tenang, maka akan kubilang bahwa aku melihatnya.”

“kau tidak benar-benar melihatnya??”

“tidak. Aku tidak melihat apa-apa.”

Sooyoung berpaling ke ambang pintu. Yoona menatapnya sambil tersenyum lebar.

“duduklah.” Ucap Leeteuk. “kadang-kadang kita bisa dikelabui oleh daya khayal kita sendiri. Terutama kalau kita baru saja mengalami sesuatu yang sangat menakutkan.”

Sooyoung tetap berdiri di depan meja Leeteuk dan menatap Yoona. Pandangannya menerobos tubuh Yoona yang tembus pandang. “aku tidak mengada-ada! Dia ada disitu!” seru Sooyoung. “dia berdiri di pintu! Namanya Yoona. Dia tenggelam di danau perkemahan ini. Dan sekarang dia berusaha membuatku celaka. Dia ingin aku tenggelam juga!”

“Soo, tenang dulu.” Leeteuk berkata dengan lembut. Ia berjalan mengitari meja dan meletakkan sebelah tangan di pundak Sooyoung. Kemudian ia menggiring Sooyoung ke pintu, berhadap-hadapan dengan Yoona. Yoona menjulurkan lidahnya pada Sooyoung. “tuh, tidak ada siapa-siapa, kan?”

“tapi..tapi..”

“bagaimana kalau kau tidak usah ke danau dulu selama beberapa hari.” Usul Leeteuk, “kau bisa bersantai di perkemahan.” Yoona meniru ucapan Leeteuk dengan menggerak-gerakan bibirnya tanpa suara. Sooyoung memalingkan wajahnya membuat Yoona tertawa cekikikan.

“tidak pergi ke danau?” Tanya Sooyoung.

“ne. Beristirahatlah selama beberapa hari. Aku yakin kau akan merasa jauh lebih enak nanti.”

Sooyoung tahu cara itu takkan berguna. Ia tahu Yoona tetap akan membuntutinya kemana pun ia pergi untuk menjadikannya pasangannya. Sooyoung menghela napasnya, “rasanya percuma.”

“kalau begitu aku ada ide lain. Bagaimana kalau kau pilih olahraga baru? Olahraga yang belum kau coba? Sesuatu yang benar-benar sulit, misalnya, ski air.”

“aku tidak mengerti.” Sahut Sooyoung. “untuk apa?”

“karena kau akan begitu sibuk sehingga tidak sempat memikirkan soal hantu.”

“ne, pasti.” Ujar Sooyoung sinis.

“aku hanya mau membantu,” ujar Leeteuk dengan ketus. “atau bagaimana kalau kau membantuku?”

“membantu? Membantu apa?”

“jadi begini.. Apa kau tahu beberapa hari ini Taeyeon tampak dekat dengan namja salah satu peserta perkemahan ini.”

“maksudmu Kyuhyun?”

“ne, Kyuhyun.” Jawab Leeteuk mengiyakan.

“lalu apa hubungannya denganku?”

“mm…bagaimana ya? Mm…apa kau mau membantuku dengan berpura-pura menjadi yeojaku di depan Taeyeon supaya ia cemburu?” Tanya Leeteuk malu-malu. “tapi aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau.” Sambungnya cepat.

“ehm..aku..aku tidak tahu.” Jawab Sooyoung tidak tahu harus berkata apa, “kurasa sudah waktunya makan siang.” lanjut Sooyoung mengalihkan pembicaraan dan berjalan meninggalkan ruang kerja Leeteuk yang sempit.

Setelah berada di luar, ia menarik napas dalam-dalam. Udaranya jauh lebih sejuk di tempat itu. Ia berjalan menuju bangsal utama bagian depan. Tapi ketika ia sedang menyusuri lorong, ia kembali mendengar suara Yoona di belakangnya. “kau tidak bisa lolos, Soo. Kau pasanganku. Percuma saja kau berusaha kabur. Kau akan selalu menjadi pasanganku.”

Sooyoung merinding ketika mendengar bisikan itu. Bisikan yang diucapkan begitu dekat dengan telinganya. Tiba-tiba ia kehilangan kendali, “DIAM!!” pekik Sooyoung. “DIAM!! DIAM!! DIAM DAN JANGAN GANGGU AKU LAGI!!” Sooyoung berbalik untuk melihat apakah ia mendengar ucapannya. Saat Sooyoung berbalik, ia membelalakan matanya.

Tiffany berdiri di belakangnya. Saking kagetnya, ia sampai melongo. “oke, oke, aku pergi.” Ucap Tiffany sambil mundur teratur. “jangan marah-marah begitu, dong. Aku kan cuma mau tanya bagaimana keadaanmu.”

Mendengar Tiffany berkata seperti itu membuat Sooyoung tidak enak. Tiffany pasti mengira ia yang di caci-maki oleh Sooyoung. “aku..aku..”

“kupikir kita berteman,” kata Tiffany ketus. “aku tidak bilang apa-apa tadi, tapi kau langsung membentak-bentak!”

“bukan kau yang kuajak bicara tadi!” Sooyoung berusaha menjelaskan. “aku berbicara dengan dia!” Sooyoung menunjuk Yoona yang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar di dekat jendela. “aku sedang berbicara dengan dia!” ujar Sooyoung lagi.

Tiffany menoleh ke arah jendela yang di tunjuk Sooyoung, lalu mengerutkan kening. Raut mukanya berubah jadi aneh.

**

Keesokan pagi setelah sarapan, Sooyoung pergi menuju dermaga. Ia memutuskan untuk mencoba ski air. Entah kenapa ia ingin mencoba mengikuti saran Leeteuk. Mungkin karena ia kasihan pada Minho. Semalam ia kembali memohon-mohon agar jangan menelpon orangtuanya. Minho benar-benar tidak mau pulang. Menurutnya inilah liburan musim panas paling mengasyikan yang pernah dialaminya. “kau memang bisa menikmati liburan ini. Kau tidak terus dibuntuti hantu kemana pun kau pergi.” Pikir Sooyoung.

Semalam Sooyoung memutuskan untuk tidak pergi ke danau dan menghabiskan waktu di pondok dengan membaca tapi keesokan paginya ia sadar bahwa rencana itu tidak sehebat perkiraannya. Mana mungkin ia berani sendirian di pondok sementara semua orang berada di danau. Tidak akan ada yang bisa melindunginya dari Yoona. Seharusnya ia menjauhi danau tapi ia benar-benar tidak ingin sendirian. Karena itu ia mengikuti saran Leeteuk. Ia pergi ke dermaga dan memberitahu Yuri bahwa ia ingin belajar ski air.

“bagus, Soo!” seru Yuri sambil tersenyum lebar. “kau sudah pernah mencobanya? Main ski air sebenarnya lebih mudah dari  yang kita sangka.” Yuri mengambil jaket pelampung berwarna kuning dan sepasang ski air dari gudang perlengkapan. Kemudian ia memberikan kursus singkat pada Sooyoung. Ia memperlihatkan bagaimana harus mencondongkan badan ke belakang dan menekuk lutut.

Tak lama kemudian Sooyoung sudah berada di air sambil menunggu giliran di tarik perahu motor. Taeyeon sedang melaju dengan kencang. Baju renangnya yang berwarna jingga tampak berkilauan dalam cahaya pagi.

Dengung mesin perahu bergema. Gelombang yang ditimbulkan perahu itu menjilat-jilat tepi danau. Taeyeon berseru keras-keras dan melepaskan tali penarik ketika perahu melesat melewati dermaga. Ia menjatuhkan diri ke air, lalu segera melepaskan ski-nya. Kemudian ia naik ke darat.

Tidak jauh dari situ, Kyuhyun tersenyum dan hendak menghampiri Taeyeon sambil membawakan  handuk. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Taeyeon berlari kecil menuju Leeteuk yang langsung memberikan handuk padanya. Kyuhyun memandangnya dengan pandangan perih dan ia meremas kencang handuk di tangannya. Ia dapat melihat bagaimana Taeyeon tertawa lepas dengan Leeteuk dan Leeteuk membantu mengeringkan rambutnya.

Sooyoung bersiap-siap dengan ski-nya. Dengan susah payah ia memasang ski di kakinya. Kemudian ia meraih tali penarik, dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Sooyoung mengambil posisi seperti yang contohkan Yuri.

“siap!” seru Sooyoung.

Mesin perahu terbatuk-batuk dan kemudian meraung-raung. Perahu itu melesat begitu kencang sehingga tali yang digenggamnya nyaris terlepas dari tangannya. Sooyoung memekik nyaring ketika ia mulai terangkat dari air. Kedua ski yang dipakainya meluncur di permukaan. Ia menekuk lutut dan menggenggam tali penarik erat-erat.

“aku berhasil! Aku bisa bermain ski air!” perahu meluncur semakin kencang, melesat lurus melintasi danau yang berkilau-kilau. Wajah dan rambutnya basah terkena percikan air danau yang dingin. Tidak lama kemudian ia mulai kehilangan keseimbangan, tapi kemudian berhasil menegakkan kembali badannya. Ia menggenggam kencang tali penarik dan terus melesat dengan kencang. “yes!!” seru Sooyoung.  “menyenangkan sekali!”

Tapi kemudian pengemudi perahu motor itu menoleh ke belakang. Sooyoung mengenal senyum itu.

Yoona!

Senyumnya semakin lebar ketika ia melihat ketakutan yang terlukis di wajah Sooyoung. “kembali! kembali ke tepi!” ujar Sooyoung memohon. Tapi ia membelokkan perahu itu dengan tajam membuat Sooyoung nyaris jatuh. Tali penariknya ia cengkram erat-erat. Kedua ski di  kakinya menampar-nampar permukaan air. Tubuhnya basah kuyup terkena cipratan air dingin. Sooyoung megap-megap seraya berusaha menarik napas.

Yoona mendongakkan kepala dan tertawa, tapi suara tawanya ditenggelamkan oleh deru mesin perahu. Sooyoung bisa melihat langit lewat tubuhnya yang tembus pandang. Tubuhnya di terobos sinar matahari. “kembalilah!” teriak Sooyoung. “stop! Aku mau dibawa kemana??”

Yoona tidak menyahut. Ia kembali menghadap ke depan. Rambutnya berkibar-kibar karena tiupan angin. Perahunya meloncat-loncat, meninggalkan gelombang buih dan percikan air dibelakangnya. Gelombang itu menerjang Sooyoung, ia menggigil kedinginan. Ia tidak bisa melihat karena pandangannya terhalang gelombang itu. Saking paniknya, ia perlu waktu lama untuk menyadari bahwa sebenarnya ada cara mudah untuk meloloskan diri. Ia tinggal melepas tali penariknya.

Sooyoung mengangkat tangan, dan talinya pun jatuh ke air. Ia meluncur sejenak kemudian jatuh ke air dan tenggelam. Jaket pelampung yang dikenakannya membawanya kembali ke permukaan. Ia megap-megap dan menyemburkan air yang sempat masuk ke mulutnya. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya terasa sangat pening seakan-akan dikelilingi cahaya matahari yang terang benderang. “dimana permukaan air? Dimana tepi danau?” pikir Sooyoung. Ia berbalik dan melihat perahu motor melaju di kejauhan. “kali ini kau tidak berhasil!” seru Sooyoung pada Yoona. Tapi sesaat kemudian ia segera terdiam. Perahu itu berputar arah. Yoona membelokkan perahu dan menuju tepat kearahnya. Sooyoung menahan napas ketika mendengar mesin perahu meraung-raung. Ia terapung-apung di permukaan, tak berdaya sama sekali.

Perahu motor mulai melesat kencang. “ia datang!” pikir Sooyoung. “ia mau menjadikanku sebagai pasangannya untuk selama-lamanya! Aku terperangkap disini. Ia mau menabrakku?!!”

Sooyoung mengayunkan kakinya didalam air. Dengan mata terbelalak ia memperhatikan perahu motor yang melesat kearahnya.

“aku harus menyelam!” ucapnya dalam hati. Satu-satunya cara untuk lolos adalah melalui bawah air.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam. Setiap otot ditubuhnya menegang. Ia sadar harus menunggu saat yang tepat untuk menyelam.

Perahu motor semakin dekat. Raungan mesinnya semakin keras. Ia melihat Yoona mengarahkan perahu. Perahu itu dibidikkannya kearah Sooyoung. Sooyoung kembali menarik napas dalam-dalam. Tapi tiba-tiba ia sadar bahwa ia tidak bisa menyelam. Jaket pelampung yang dipakainya menahannya di permukaan.

Sambil memekik nyaring, ia meraih bagian depan jaket pelampung dengan kedua tangannya dan menariknya keras-keras. “ah, tidak bisa! Aku tidak bisa melepasnya!”

Permukaan danau kian bergolak ketika perahu motor semakin dekat. Seluruh danau seperti ikut bergoyang dan berputar. “a..aku akan tercabik-cabik!” Ia terus menarik dan mendorong jaket pelampungnya berharap bisa terlepas. “tidak ada waktu lagi! Aku tidak bisa menyelam!”

Raungan mesin perahu mengalahkan jeritannya. Sambil mengerahkan segenap tenaga, akhirnya ia berhasil menarik jaket pelampung ke atas melewati pundaknya.

Tapi terlambat!

Haluan perahu melesat melewatinya. Detik berikutnya, baling-baling perahu terasa memancung kepalanya.

**

Sooyoung menunggu rasa sakit yang akan menyerangnya. Ia menunggu kegelapan yang akan menyelubunginya. Tapi air disekelilingnya hanya bergolak hebat dan berubah warna. Mula-mula biru, lalu hijau

Sooyoung muncul di permukaan sambil terbatuk-batuk. Ia megap-megap dan terombang-ambing mengikuti alunan gelombang. “jaket pelampungku!” seru Sooyoung melihat jaket pelampungnya yang terbelah menjadi dua karena baling-baling perahu motor itu. “aku hidup!!” pekik Sooyoung. “aku masih hidup!!” ia berbalik dan melihat perahu motor melaju melintasi danau. “ia pasti menyangka aku sudah mati.” Sooyoung mengamati sekeliling untuk mencari tepi danau, lalu segera berenang menepi. Seakan-akan mendapat energi baru, arus yang deras ikut mendorongnya kearah perkemahan.

Beberapa peserta perempuan memanggil-manggilnya ketika ia naik ke darat. Ia melihat Yuri bergegas menghampirinya. “Soo…!” seru Yuri. “Sooyoung, tunggu!” Sooyoung tidak menggubrisnya. Semua orang tidak ia hiraukan. Ia malah mulai berlari.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus pergi dari perkemahan itu. Ia harus pergi sejauh mungkin. “aku tidak akan aman disini. Aku tidak akan aman selama Yoona menginginkanku sebagai pasangannya! Selama Yoona ingin agar aku juga tenggelam.” Ia tahu tidak ada yang mempercayainya. Semua bilang mereka mau membantu. Tapi tidak ada yang bisa menolongnya. Tidak ada yang sanggup melawan hantu.

Sooyoung menyerbu ke pondoknya dan segera berganti pakaian. Pakaian renangnya yang basah ia campakkan ke lantai, kemudian memakai celana pendek dan T-shirt. Ia menyibakkan rambut, lalu mengenakan kaus kaki dan sepatu kets. “aku harus pergi, harus pergi!” ia terus bergumam. “aku akan  menerobos hutan dan menuju ke kota di seberangnya. Aku akan menelepon eomma dan appa. Aku akan memberitahu mereka bahwa aku bersembunyi di kota. Aku akan meminta mereka datang untuk menjemputku.” Selesai mengemasi barangnya ia segera pergi namun sampai pintu ia menghentikan langkahnya. “apa aku perlu memberitahu Minho?” pikir Sooyoung. “ah, ani. Tidak usah. Ia pasti akan berusaha mencegahku.”

Akhirnya Sooyoung memutuskan untuk mengabari adiknya itu setelah sampai di kota, di tempat yang lebih aman. Sooyoung melongok dari pintu dan memandang ke kiri-kanan untuk memastikan keadaan  diluar aman. Kemudian ia melangkah keluar dan menyelinap ke belakang pondok. Namun kemudian ia bertabrakan dengan Tiffany. Ia mengamati wajah Sooyoung sambil memicingkan matanya. “kau mau pergi?” tanya Tiffany.

Sooyoung mengangguk, “ne. aku mau pergi.”

Sekali lagi raut wajah Tiffany berubah. Sorot matanya seakan-akan mati. “semoga berhasil.” Bisik Tiffany.

“kenapa ia bersikap aneh?” tanya Sooyoung dalam hati. Ia tidak sempat memikirkannya, ia melambaikan tangan pada Tiffany, lalu bergegas memasuki hutan.

Saat berjalan menyusuri jalan setapak diantara pohon-pohon, Sooyoung menoleh ke belakang dan melihat Tiffany masih berdiri di belakang pondok. Ia memandang ke arah Sooyoung. Sooyoung menarik napas dalam-dalam kemudian berbalik dan bergegas melangkah.

Pohon-pohon di kiri-kanan jalan setapak menghalangi sebagian besar sinar matahari. Semakin lama keadaan semakin gelap dan dingin. Duri tajam pada semak belukar menggores-gores lengan dan kakinya membuatnya menyesal karena tidak memakai celana panjang dan baju lengan panjang.

Sepatu ketsnya tergelincir karena menginjak lapisan daun mati. Berulang kali ia harus melewati dahan-dahan tumbang dan rumpun ilalang berduri. Akar-akar pohon tumbuh melintang di jalan setapak.

Akhirnya ia tiba di jalan bercabang. Ia berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal sambil menentukan jalan yang akan ia lewati. “apakah kedua cabang jalan itu menuju kota?”

Tiba-tiba Sooyoung menahan napasnya ketika mendengar suara bernyanyi. “seekor burung?” pikir Sooyoung. “bukan. Suaranya lembut sekali. Suara seorang perempuan.” Sooyoung menoleh ke arah sumber suara dan ia langsung mengerang ketika melihat Yoona duduk di sebuah dahan pohon yang rendah. Ia benyanyi sambil memiringkan kepala ke kiri-kanan. Matanya yang gelap tampak berkilauan ketika menatap Sooyoung.

“kau..kau membuntutiku?!” Sooyoung tergagap-gagap. “bagaimana kau bisa tahu bahwa aku..”

Yoona tertawa cekikikan. “kau pasanganku.” Sahutnya. “kita harus selalu bersama-sama.”

“tidak! Tidak bisa!” teriak Sooyoung. “kau kalah, Yoon! Aku tidak akan jadi pasanganmu karena aku tidak akan pernah lagi pergi ke danau. Aku tidak akan tenggelam seperti kau!”

Senyum Yoona lenyap, “tenggelam?” ia menggelengkan kepala. “Soo, kenapa kau berpikir begitu? Tampaknya kau bingung sekali. Aku tidak tenggelam.”

“hah?” Sooyoung tercengang karena terkejut.

“jangan bengong, Soo. Nanti kemasukan lalat.” Yoona menengadahkan kepala dan tertawa kemudian ia kembali menggelengkan kepala. “mana mungkin ada yang tenggelam di Seoul Camp Lake?” ujarnya. “setiap lima menit ada ceramah tentang keselamatan di air! Belum pernah ada yang tenggelam di Seoul Camp Lake!”

“kau tidak tenggelam?” pekik Sooyoung. “kalau begitu, bagaimana kau mati?”

Yoona mencondongkan badan ke depan dan menunduk menatapnya. Pandangan Sooyoung menerobos tubuhnya yang tembus pandang. Daun-daun di belakangnya tampak bergoyang karena tiupan angin.

“mau tahu?” tanya Yoona. “oke. Suatu malam pada waktu acara api unggun, aku tidak tahan lagi mendengar ceramah tentang keselamatan di air. Karena itu aku menyelinap ke hutan.” Ia menyibakan rambutnya ke belakang. “tapi aku melakukan satu kesalahan,” ia melanjutkan. “aku tidak tahu bahwa hutan ini penuh ular beracun yang mematikan.”

Sooyoung memekik tertahan. “di hutan ini ada ular??”

Yoona mengangguk. “hampir tidak mungkin ada yang bisa melintasi hutan ini tanpa digigit. Aku mati karena digigit ular, Soo.”

“tapi..tapi..” Sooyoung tergagap. “tapi kau selalu muncul didanau. Kenapa kau selalu muncul disana?”

“masa kau belum mengerti juga?” sahut Yoona. “itu memang sengaja. Aku sengaja membuatmu takut terhadap danau. Karena aku tahu kau akan berusaha kabur melalui hutan. Aku tahu kau akan lari ke hutan dan mati seperti aku… lalu jadi pasanganku.”

“andwae!!” pekik Sooyoung. “aku tidak mau! Aku..”

“Soo, lihat!” Yoona menunjuk ke tanah. Sooyoung menoleh dan melihat seekor ular gendut berwarna hitam melingkar di kakinya. “kita akan jadi pasangan abadi.” Yoona berkata dengan gembira. “pasangan abadi.”

Sooyoung berdiri seperti patung. Tanpa berkedip, ia memperhatikan ular gendut itu melilit di kakinya. “ahhh!!!” ia mengerang ketika ular itu mengambil ancang-ancang untuk memanggutnya.

“sakitnya tidak seberapa, kok,” Yoona menjelaskan. “rasanya seperti disengat tawon. Cuma begitu saja.” Ular itu mendesis nyaring. Mulutnya menganga lebar. Tubuhnya semakin kencang melilit kaki Sooyoung. “pasangan abadi,” Yoona bersenandung. “pasangan abadi…”

“bukan! Sooyoung bukan pasanganmu!” sebuah suara berseru.

Sooyoung hendak berpaling kearah suara itu, tapi ia tidak bisa bergerak. Lilitan ular di kakinya terlalu keras. “Tiffany!” seru Sooyoung. “sedang apa kau disini?”

Dengan  gerakan gesit, Tiffany meraih ular di kaki Sooyoung. Menariknya sampai terlepas, lalu melemparnya ke antara pohon-pohon. Tiffany menoleh ke arah Yoona. “Sooyoung tidak akan jadi pasanganmu, karena dia pasanganku!” seru Tiffany.

Yoona membelalakan mata, ia memekik kaget. Ia segera berpegangan pada dahan pohon agar tidak jatuh. “kau?!” seru Yoona. “kenapa kau ada disini??”

“ya, aku!” balas Tiffany. “aku datang lagi, Yoona!”

“tapi..tapi bagaimana kau..”gumam Yoona.

“kau berusaha mencelakakan aku tahun lalu,’ ujar Tiffany. “sepanjang musim panas kau berusaha menjadikan aku sebagai pasanganmu. Kau terus menakut-nakutiku. Ya, kan, Yoon?” ia mendengus. “kau pasti tidak menyangka bahwa aku akan kembali. Tapi aku datang lagi…untuk melindungi korbanmu berikutnya!”

“andwae!!” Yoona meraung.

Akhirnya Sooyoung mengerti. Ia menghampiri Tiffany dan berdiri disampingnya. “Tiffany pasanganku!” tegas Sooyoung. “dan tahun depan aku akan kembali untuk melindungi korban berikutnya!”

“andwae! Andwaeeee!!” Yoona meratap. “kau tidak boleh begitu! Aku sudah menunggu begitu lama! Sangat lama!!” ia melepaskan dahan pohon dan mengacungkan tinju ke arah Tiffany dan Sooyoung namun ia kehilangan keseimbangan. Ia berusaha meraih dahan pohon , tapi melesat. Tanpa suara ia terhempas ke tanah. Dan langsung lenyap. Hilang.

Sooyoung bangkit sambil menghela napas. “apakah ia pergi untuk selama-lamanya?” gumam Sooyoung.

Tiffany angkat bahu. “molla. Aku tidak tahu.”

Sooyoung berpaling pada Tiffany. “kau..kau telah menyelamatkanku!” seru Sooyoung. “gomawo, Tif!” Sooyoung menghampirinya sambil bersorak gembira. Ia ingin memeluknya karena telah menyelamatkannya.

Tapi……tangan Sooyoung menembus tubuhnya. Ia menahan napas. Ia meraih bahu Tiffany, tapi tangannya tidak merasakan apapun. Serta merta ia melompat mundur dengan mata terbelalak.

Tiffany menatapnya sambil memicingkan matanya. “Yoona membunuhku waktu liburan musim panas tahun lalu.” Ia berkata dengan suara pelan. “pada hari terakhir. Tapi aku tidak mau berpasangan dengannya. Aku tidak menyukai anak itu.” Ia mulai melayang kearah Sooyoung. “tapi aku perlu pasangan,” bisiknya. “semua orang harus punya pasangan. Kau mau jadi pasanganku, Soo?”

Sooyoung melihat ular berdesis-desis ditangannya tapi ia tidak bisa bergerak.

“kau mau  jadi pasanganku, kan?” Tiffany bertanya sekali lagi. “kau akan menjadi pasanganku untuk selama-lamanya.”

 THE END

Huaaaah selesai juga. Gimana endingnya? Ngegantung ya? kkkkkk~ Nasib Kyuhyun disini agak tragis ya? *dipelototin KyuTae shipper*

Yang mau ikutan Giveaway mana nih? Belum ada yang masuk ke email author. onion-emoticons-set-6-121onion-emoticons-set-6-113 Baru satu orang onion-emoticons-set-6-92onion-emoticons-set-6-100

Ditunggu ya sampe tanggal 30 April fan art-nya. onion-emoticons-set-6-72

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 4)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-Previous Chapter-

“aku mau kabur!!” ujar Sooyoung pada Minho.

“selamat jalan.” sahutnya dengan tenang. “semoga berhasil.”

“aku serius, Choi Minho!!” pekik Sooyoung. “aku tidak main-main! aku benar-benar mau kabur dari perkemahan ini!

“jangan lupa kirim kartu.” kata Minho.

Sooyoung menyeretnya keluar dari bangsal utama seusai makan malam. Sooyoung menggiringnya ke tepi danau. Disana tidak ada siapa-siapa karena semua orang berkumpul di bangsal utama. Sooyoung menoleh ke arah perahu-perahu yang ditumpuk tiga-tiga di tepi air. Ia kembali teringat rambut Jessica yang pirang dan baju renangnya yang merah. Ia teringat bagaimana Jessica berenang menjauh, meninggalkannya di tengah danau. Dan juga Jessica telah berbohong pada Yuri sehingga ia yang mendapat masalah.

Sooyoung mengguncang-guncang pundak Minho, “kenapa kau tidak percaya? aku serius!” gertak Sooyoung. Namun Minho malah tertawa.

“orang yang baru makan kenyang jangan di guncang-guncang.” kata Minho yang kemudian bersendawa keras.

“ish! jorok!” gerutu Sooyoung. Minho hanya nyengir lebar. “jangan bercanda! Aku benar-benar tidak betah disini, Minho! Aku benci perkemahan ini. Disini tidak ada telepon yang bisa kita pakai. Aku tidak bisa menelepon eomma dan appa. Jadi aku terpaksa kabur!”

Raut wajah Minho berubah, ia baru sadar bahwa Sooyoung tidak main-main. “kau mau kabur kemana?”

“aku mau menerobos hutan.” jawab Sooyoung sambil menunjuk. “ada sebuah kota di balik hutan itu. Aku akan menelepon eomma dan appa dari situ supaya mereka bisa menjemputku.”

“andwae!”

“wae??”

“kita dilarang masuk hutan.” sahutnya. “Leeteuk pernah bilang hutan ini berbahaya, kan?”

“aku tidak peduli Leeteuk bicara apa! Pokoknya aku mau kabur!”

“Jangan terburu-buru, noona.” Minho mendesak. “kita belum satu minggu disini. Lebih baik kau tunggu saja dulu.”

“aku paling sebal kalau melihatmu sok kalem begini!” Sooyoung mendorongnya keras-keras dengan kedua tangan.

Minho kaget dan kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke belakang. Ia terhempas ke lumpur tepi danau.

“akh!!”

“mian!” Sooyoung segera meminta maaf. “aku tidak sengaja. aku…”

Minho bangkit dengan susah payah. Punggungnya kotor oleh lumpur bercampur ganggang. Ia mengacungkan tinju sambil mencaci-maki. Sooyoung menghela napas. Sekarang adiknya sendiri pun marah padanya.

“apa yang harus kulakukan?” batin Sooyoung. “apa yang bisa kulakukan?”

**

Ketika Sooyoung kembali ke pondok, sebuah rencana baru mulai terbentuk dalam benaknya. Rencana yang benar-benar nekat. Rencana yang benar-benar berbahaya.

“besok!” gumam Sooyoung. “aku akan memberi pelajaran kepada mereka semua!”

-Chapter 4-

Keeseokan paginya Sooyoung terus memikirkan rencananya. Sebenarnya ia gugup sekali tapi ia tahu ia tidak boleh mundur.

Acara kelompok pada sore itu adalah renang bebas. Semua peserta sudah memiliki pasangan……..kecuali Sooyoung. Ia berdiri di tepi danau yang berlumpur dan memperhatikan peserta lain masuk ke air. Awan-awan putih tercermin di permukaan danau yang tenang. Serangga-serangga kecil tampak meluncur di permukaan air. Sooyoung memperhatikan makhluk-makhluk itu sambil memikirkan kenapa mereka tidak terbenam.

“Soo, sudah waktunya berenang!” seru Yuri. Ia bergegas menghampiri Sooyoung. Sooyoung membetulkan letak baju renangnya. Tangannya gemetaran. Ia benar-benar gugup. “kenapa kau tidak berenang?” tanya Yuri.

“a..aku belum dapat pasangan.” ujarnya tergagap-gagap.

Yuri memandang sekeliling untuk mencari seseorang untuk pasangan Sooyoung. Tapi semua sudah masuk ke air. “hmm..ya sudah, kau berenang sendirian saja. Tapi jangan ke tengah. Aku akan mengawasimu dari pinggir.”

“ne. Gomawo.” jawab Sooyoung tersenyum lalu segera menuju tepi air. Ia tidak ingin Yuri tahu bahwa baginya ini bukan acara renang biasa. Ia tidak ingin Yuri tahu bahwa ia telah merencanakan sesuatu yang akan membuat heboh.

Sooyoung melangkah ke air yang dingin itu. Segumpal awan melintas di depan matahari. Langit langsung bertambah gelap dan suhu udara pun turun. Kaki Sooyoung terbenam dalam lumpur di dasar danau. Di depannya ia melihat ratusan serangga kecil meluncur di permukaan air. Ia bergidik jijik. “kenapa aku harus berenang di air berlumpur yang banyak serangganya?” gumam Sooyoung. Ia menarik napas dalam-dalam dan terus melangkah maju. Ketika air yang dingin sudah hampir setinggi pinggang, ia membungkuk dan mulai berenang. Ia berenang berputar-putar dan membiasakan diri dengan air yang dingin.

Tidak jauh dari tempat Sooyoung berenang, Tiffany dan beberapa peserta yeoja lainnya sedang mengadakan lomba renang estafet. Mereka tertawa-tawa dan bersorak-sorai saat Taeyeon mencapai finish. Tampaknya mereka gembira sekali.

“sebentar lagi, mereka akan berhenti tertawa.” pikir Sooyoung menyeringai dan ia tersentak kaget saat tiba-tiba wajahnya terciprat air. Belum sempat ia berbuat apa-apa, wajahnya kembali di hujani percikan air. Baru kemudian ia sadar bahwa itu adalah ulah Minho. Ia muncul didepan Sooyoung dan menyemburkan air dari mulutnya ke wajah Sooyoung. “ish! Bagaimana bisa kau memasukkan air jorok ini ke dalam mulutmu!” seru Sooyoung. Minho hanya tertawa dan kembali berenang menghampiri pasangannya. “sebentar lagi ia juga akan berhenti tertawa. Mulai hari ini sikapnya akan lain padaku.” batin Sooyoung. “semua orang akan bersikap lain padaku.”

Namun baru saja Sooyoung berpikir begitu, tiba-tiba saja ia dihantui rasa bersalah. Ia berpikir seharusnya ia menceritakan rencananya itu pada Minho, bukan menjadikannya sasarannya. Tapi kemudian ia berpikir kembali, seandainya ia memberitahu Minho, ia pasti akan membujuknya untuk membatalkan rencananya. Atau ia akan memberitahu Yuri agar Yuri bisa mencegahnya. “tidak ada yang bisa mencegahku!” pikir Sooyoung.

Ia sudah merencanakannya sejak kemarin. Rencana yang sederhana namun pasti akan menimbulkan kehebohan. Ia akan berpura-pura tenggelam. Ia akan menyelam ke dasar danau, lalu tetap disana untuk waktu lama agar yang lain menyangka ia tenggelam. Sooyoung sanggup menahan napas untuk waktu lama. Ia bisa menyelam selama 2 sampai 3 menit. Cukup lama untuk membuat orang lain ketakutan. “semua akan panik. Termasuk Tiffany, Taeyeon, dan Jessica.” pikir Sooyoung. “semua akan menyesal karena telah bersikap begitu jahat padaku. Dengan begitu aku bisa memulai semuanya dari awal. Setelah kejadian di danau, semua orang di perkemahan ini akan bersikap ramah padaku. Semua mau menjadi pasanganku.”

Sooyoung menatap mereka semua yang asyik tertawa dan bersorak-sorai. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam. Dan akhirnya menyelam ke dasar danau.

Air danau masih dangkal di bagian tepi. Tapi setelah itu dasar danau langsung curam. Sooyoung mengayunkan kakinya keras-keras untuk menjauhi para perenang lain. Kemudian menegakkan badan dan menurunkan kaki. Ia merapatkan tangan ke sisi badan dan membiarkan dirinya meluncur ke bawah. Ia membuka matanya saat meluncur ke dasar danau. Sekelilingnya tampak hijau. Hanya sedikit cahaya yang sanggup menerobos sampai ke bawah air.

Sooyoung membayangkan betapa sedihnya kedua orang tuanya jika ia benar-benar tenggelam. Seharusnya Sooyoung jangan dikirim ke perkemahan olahraga air! Sooyoung membayangkan mereka mengatakannya dengan perasaan penuh penyesalan.

Kaki Sooyoung menginjak dasar danau yang lunak. Segelembung udara lolos dari mulutnya. Ia merapatkan bibirnya untuk menahan udara. Perlahan-lahan ia naik ke permukaan. Ia memejamkan mata. Ia sengaja tidak bergerak untuk menimbulkan kesan tenggelam. Ia membayangkan kengerian di wajah Yuri ketika melihat tubuhnya melayang-layang dibawah permukaan air. Ia nyaris tertawa ketika membayangkan Yuri melompat ke danau untuk menyelamatkannya. Ia akan terpaksa mengorbankan celana tenisnya yang putih bersih.

Sooyoung memaksakan diri untuk tidka bergerak. Ia memejamkan mata rapat-rapat dan memikirkan Tiffany, Taeyeon, dan Jessica. Mereka akan merasa bersalah. Mereka akan menyesal seumur hidup karena bersikap buruk padanya. Gara-gara kejadian ini, mereka akan sadar betapa jahatnya mereka padanya. Lalu mereka akan mau bersahabat dengannya. Itulah yang ada dipikiran Sooyoung. Ia membayangkan mereka akan menjadi sahabat karib dan akan menikmati liburan musim panas yang menyenangkan.

Dada Sooyoung mulai sesak. Tenggorokannya mulai serasa terbakar. Ia membuka mulut dan melepaskan gelembung udara. Ia melayang dengan posisi tengkurap. Kakinya terjulur lurus ke belakang, sementara lengannya tergantung lemas di sisi badannya. Ia memasang telinga untuk mendengar teriakan panik. Mestinya sudah ada yang melihatnya.

Sooyoung menunggu teriakan meminta tolong. Teriakan yang memanggil-manggil Yuri. Tapi ia tidak mendengar apa-apa selain keheningan yang menguasai dunia bawah air. Ia kembali melepaskan gelembung udara. Dadanya terasa sesak sekarang, seperti mau meledak. Ia membuka mata. “apakah ada orang di dekatku? Apakah ada yang datang untuk menyelamatkanku?” batin Sooyoung. Namun yang ia lihat hanya warna hijau. Ia bingung kemana mereka semua? seharusnya Yuri sudah melihatnya. Tapi kenapa ia belum juga diangkat dari air?

Ia kembali membayangkan Yuri dengan celana tenisnya yang putih. Ia membayangkan tangan dan kakinya yang kecoklatan dan rambut panjangnya yang hitam. “Yuri, dimana kau?” batin Sooyoung. “apa kau tidak melihat aku sedang tenggelam? aku bilang kau akan mengawasiku dari tepi danau?”

Sooyoung sudah tidak tahan. Dadanya sudah hampir meledak. Seluruh tubuhnya serasa ditusuk-tusuk. Kepalanya serasa mau pecah. “apa mereka belum melihatku?” pelipisnya mulai berdenyut-denyut. Ia memejamkan mata namun kepalanya tetap pening. Ia menghembuskan sisa udara yang masih tersimpan di paru-parunya. Ia kehabisan napas, lengan dan kakinya mulai nyeri. dadanya serasa terbakar.

Tidak lama kemudian, ia melihat titik-titik berwarna kening cerah, walaupun matanya terpejam rapat. Titik-titik itu berputar-putar. Bertambah cerah, menari-nari di sekelilingnya. Mengelilingi tubuhnya yang seperti terbakar. Dadanya terasa meledak dan tiba-tiba saja ia merasa sangat kedinginan. Titik-titik kuning tadi semakin terang, seterang lampu sorot. Berputar-putar di sekeliling tubuhnya yang kaku. Ia menggigil kedinginan. Air dingin dan kotor masuk ke dalam mulutnya. Ia sadar ia menyelam terlalu lama. Tidak ada yang datang untuk menyelamatkannya. Ia berusaha melihat sekelilingnya namun titik-titik kuning itu terlalu terang. Ia tidak bisa melihat. Ia menelan seteguk air danau. Tidak bisa melihat dan tidak bisa bernapas. Ia sudah tidak kuat lagi. Ia tidak bisa menunggu lebih lama.

Sooyoung berjuang untuk muncul di permukaan tapi terasa berat. Kepalanya mendadak seberat satu ton. “harus naik!” sambil mengerahkan segenap kekuatannya, ia menggerakkan bahu keatas, menegakkan kepala. Ia berpaling ke tepi danau dan memicingkan matanya karena air yang mengalir di wajahnya.

Ia memicingkan matanya…tapi..tidak ada siapa-siapa! Sooyoung menoleh ke arah lain, tidak ada siapa-siapa! Tidak ada yang berenang. Tidak ada yang berdiri di tepi danau. “kemana mereka semua??” panik Sooyoung menggigil gemetaran.

Dengan susah payah ia berenang ke tepi. Kakinya mati rasa. Ia tidak merasakan lumpur di dasar danau ketika keluar dari air. Ia menggosok-gosok lengannya. Sentuhan tangannya tidak terasa di kulitnya. Ia juga tidak merasakan air yang mengalir turun di punggungnya. Ia tidak merasakan apapun!

“hei, dimana kalian?!” teriak Sooyoung. Tapi kemudian ia berpikir, apa ia memang bersuara? Apakah ia masih punya suara? Ia tidak mendengar apapun!

Sooyoung berjalan ke rumput dan menggoyangkan tubuhnya persis seperti puddle yang sedang mengeringkan bulunya. “kemana mereka?” gumam Sooyoung. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil memeluk badannya sendiri. Semua perahu tampak berjajar dan terikat dalam posisi terbalik di tepi danau. “bukankah semua perahu sedang dipakai tadi?” gumam Sooyoung. “hei!” seru Sooyoung namun ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri. “dimana kalian?” Ia melihat tidak ada siapapun di tepi danau.

Ia cepat-cepat berbalik dan nyaris kehilangan keseimbangannya, ternyata di air juga tidak ada siapa-siapa. Tidak ada seorang pun di sekitarnya! Ia berjalan melewati tumpukan ban dan perahu karet. Semuanya ditutupi terpal. “kenapa tidak dipakai? kenapa semuanya ditutupi terpal?” batin Sooyoung. “dan kenapa tidak ada siapa-siapa di danau?”

Sooyoung menggigil kedinginan ketika ia berjalan menuju bangsal utama. Ia terperanjat ketika melihat pepohonan. Semua daun telah gugur. Seperti di musim dingin. “aaaahhhhh!” Ia memekik tanpa suara. Ia tidak tahu apakah ada yang mendengarnya. “kenapa daun-daun telah gugur? Ini masih pertengahan musim panas!”

Ia mulai menyusuri jalan setapak ke bangsal utama. Ia kedinginan. Sangat kedinginan. Dan tiba-tiba sesuatu yang dingin mengenai pundaknya.

“salju?”

Butiran-butiran salju turun dari langit, tertiup angin. Pohon-pohon yang gundul berderak-derak. Ia menepis salju yang menempel pada rambutnya yang basah. “salju? tapi…ini tidak mungkin! Semuanya tidak masuk akal!” pikir Sooyoung. Ia kembali berteriak berharap ada yang mendengarnya. “tolooooong!”

Tak ada suara apapun selain dahan-dahan yang berderak-derak diatasnya. Ia berlari. Kakinya yang telanjang tak bersuara di tanah yang dingin. Pondok-pondok perkemahan mulai kelihatan ketika ia keluar dari hutan. Semua atap tertutup lapisan salju tipis. Tanah sama suramnya dengan langit. Semua pondok tampak gelap. Segala sesuatu serba kelabu. Ia berada di dunia yang dingin dan kelabu. Ia membuka pintu pondok pertama yang dilewatinya, “hei, aku butuh bantuan!” seru Sooyoung. Ia memandang ke sekeliling ruangan itu. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Tak ada barang maupun pakaian berserakan. Pandangannya teralih ke tempat tidur, selimut, seprai, bahkan kasur…semuanya sudah diangkat. Sooyoung berpikir pondok itu sudah tidak dipakai lagi. Ia keluar dan berlari menyusuri deretan pondok. Semuanya gelap dan sunyi. Ia berlari menuju pondoknya yang berada di kaki bukit, setelah sampai ia menarik napas lega dan segera membuka pintunya.

“Tiffany? Taeyeon?” namun kamar itu kosong dan gelap. Kasur-kasur telah diangkat. Poster-poster telah di copot, tidak ada pakaian, tidak ada tas atau ransel. Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat ini pernah di huni manusia. “dimana kalian?” seru Sooyoung lagi. “dimana barang-barangku?? Dimana tempat tidurku??” kejut Sooyoung. Ia memekik ketakutan dan berlari keluar.

Ia berlari menembus hawa dingin dengan pakaiannya yang basah. Ia melewati semua pondok dan membuka pintunya satu persatu sambil memanggil-manggil siapa saja yang bisa menolongnya. Ia masuk ke gedung utama. Sooyoung merasakan teriakannya bergema dari langit-langit yang tinggi namun ia tidak mendengar suara teriakan itu. Ia kembali berlari ke ruang makan. Bangku-bangku kayu yang panjang telah di tumpuk di atas meja. Dapur tampak gelap dan kosong. “kenapa jadi begini?” panik Sooyoung dengan tubuh gemetaran. “kemana mereka semua? kenapa mereka pergi? Bagaimana mungkin mereka pergi begitu cepat? Dan….mana mungkin sekarang sudah turun salju??”

Sooyoung kembali berlari keluar. Gumpalan-gumpalan kabut kelabu melayang rendah di atas permukaan tanah. Ia merangkul diri sendiri supaya lebih hangat. Ia ketakutan dan juga bingung. Ia berjalan dari satu bangunan ke bangunan berikutnya. Rasanya seperti berenang, berenang dalam kabut tebal.

Tidak lama kemudian ia mendengar sesuatu. Sebuah suara. Suara seorang yeoja. Ia sedang bernyanyi. Bernyanyi dengan suara melengking. “aku tidak sendirian!” seru Sooyoung. Ia mendengarkan nyanyiannya. Lagunya sedih dan dilantunkan dengan lembut. “dimana kau?” panggil Sooyoung. “aku tidak bisa melihatmu! kau dimana?”

Sooyoung mengikuti suara itu sampai ke gedung utama. Disana ia melihat seorang yeoja duduk di tangga teras yang terbuat dari kayu. “hei!” seru Sooyoung memanggil yeoja itu. “hei, apa kau bisa menolongku?” Yeoja itu terus bernyanyi, seakan-akan tidak melihat kehadiran Sooyoung. Sooyoung berjalan mendekatinya, kemudian ia sadar yeoja itu sedang menyanyikan lagu Seoul Camp Lake dengan suaranya yang kecil. Rambutnya panjang sebahu dan bergelombang. Wajahnya cantik, halus dan pucat. Sangat pucat. Ia mengenakan baju putih tanpa lengan. Butir-butir salju masih terus berjatuhan. Sooyoung menggigil, tapi tampaknya yeoja itu tidak kedinginan.

Ia bernyanyi sambil mengayunkan kepala ke kiri-kanan. Sooyoung menghampirinya sambil menepis butir-butir saju dari keningnya. Ia baru berpaling pada Sooyoung saat lagunya selesai. Kemudian ia tersenyum. “hai, Sooyoung.” sapa yeoja itu.

tumblr_m3dtxpikWh1r9kse8o1_500

“d..dari mana kau tahu namaku??” kejut Sooyoung.

Ia tersenyum lebar. “aku sudah lama menunggumu.” jawabnya. “namaku Yoona.” Ia bangkit, berbalik, dan mengeluarkan sesuatu dari balik tangga. Jubah mandi berwarna putih. Ia merentangkannya dan menaruhnya di pundak Sooyoung yang gemetaran. Tangannya begitu ringan, Sooyoung nyaris tak merasakan sentuhannya. Ia membantu Sooyoung menalikan tali pinggang kemudian ia mundur dan kembali tersenyum, “aku sudah menunggumu, Sooyoung.” ucapnya dengan suara pelan sekali, bagaikan bisikan angin.

“a..apa? menunggu?”

Ia mengangguk. Rambutnya berkibar-kibar setiap kali ia menggerakan kepala. “aku tidak bisa pergi tanpamu, Soo. Aku perlu pasangan.”

Sooyoung menatapnya dengan kening berkerut. “mana yang lainnya? kemana mereka? Kenapa hanya kita berdua yang ada disini?” Sooyoung menyeka sebutir salju yang menempel di alisnya. “Yoona, kenapa tiba-tiba sudah musim dingin?”

“kau mau jadi pasanganku, kan, Soo?”

“aku tidak mengerti, tolong jawab pertanyaanku!”

“kau mau berpasangan denganku, kan?” ia bertanya lagi dengan pandangan memohon, “sudah begitu lama aku menunggu seseorang yang mau berpasangan denganku, Soo. Lama sekali.”

“tapi, Yoona..”

Yoona mulai bernyanyi lagi. Sooyoung heran kenapa ia begitu sedih saat menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake itu? Kenapa ia tidak mau menjawab pertanyaan Sooyoung? dari mana ia tahu nama Sooyoung dan kenapa ia bilang ia sudah menunggunya?

“Yoona, tolonglah..” Sooyoung mencoba membujuk.

Sambil terus bernyanyi ia melayang ke teras gedung utama. Gumpalan-gumpalan kabut bergeser sedikit setiap kali ia bergerak. “oh!” Sooyoung memekik ketika sadar pandangannya bisa menembus tubuh Yoona. “Yoona?”

Ia melayang ke teras sambil mengayunkan kepala ke kiri dan ke kanan, seirama dengan lagu yang dinyanyikannya. “Yoona?” Yoona terdiam dan kembali tersenyum menatap Sooyoung. Butir-butir salju tersangkut di rambutnya.

“Soo, mulai sekarang kau pasanganku.” ia berbisik. “aku butuh pasangan. Setiap orang di Seoul Camp Lake perlu pasangan.”

“tapi..tapi kau sudah mati!” seru Sooyoung baru menyadarinya. “ia sudah mati dan aku pasangannya?” batin Sooyoung. “berarti….berarti aku juga sudah mati???”

To be continue…

Happy birthday, Taengoo!^^onion-emoticons-set-6-86onion-emoticons-set-6-101onion-emoticons-set-6-157onion-emoticons-set-6-158

Sebenernya author gak bisa bikin FF yang main castnya bukan Taeyeon, tapi coba-coba aja pake cast lain. biar gak Taeng mulu. hehe…

Oh ya, nanti jam 19.00 WIB author bakal ngumumin pemenang event Thanks Giveaway, jadi tongkrongin terus blog ini ya! Dan juga author bakal publish FF Oneshot special Taeng’s birthday sequel dari I Got A Boy. onion-emoticons-set-6-99 Di tunggu aja ya~

Tetap tinggalkan jejak ya~onion-emoticons-set-6-81onion-emoticons-set-6-72

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 3)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

-Previous Chapter-  

“AKU BENCI PERKEMAHAN INI!!” aku menjerit. Beberapa laba-laba kusingkirkan dengan menggunakan senter.

Dan tiba-tiba aku mendapat ide. Apa salahnya kalau aku membalas perbuatan Tiffany dan Taeyeon  padaku? Mereka telah mempermalukanku didepan semua peserta perkemahan. Padahal aku tidak berbuat apa-apa terhadap mereka.

Aku mengeluarkan baterai senter. Aku  menarik napas dalam-dalam, lalu aku membungkuk dan memasukkan segenggam laba-laba kedalam selongsong senter.

Isshh. Aku sampai merinding! Bayangkan saja aku harus memegangi laba-laba! Tapi aku tahu pengorbananku takkan sia-sia. Aku mengisi senterku dengan makhluk-makhluk hitam yang bergeliut tanpa henti. Setelah penuh. tutupnya kupasang lagi.

Kemudian aku mencari jalan pulang. Aku melangkahi pohon tumbang. Dalam waktu singkat, jalan setapak sudah ku temukan kembali. Sambil membawa senter dengan hati-hati, aku bergegas ke pondokku.

Aku berhenti didepan pintu. Lampu-lampu di dalam masih menyala. Aku mengintip lewat jendela yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa didalam. Aku pun menyelinap masuk.

Aku menyibak selimut di tempat tidur Tiffany. Kemudian kutuangkan setengah dari laba-labaku ke tempat tidurnya. Selimutnya kurapikan kembali. Sekarang aku akan menuangkankan sisa laba-laba itu di tempat tidur Taeyeon  namun saat aku sedang menuangkannya, terdengar suara langkah di belakangku. Cepat-cepat aku merapikan selimut Taeyeon dan berbalik.

Seseorang muncul di pintu, “hei, apa yang kau lakukan?!”

-Chapter 3-

Jessica muncul di pintu.

“eo..eobseo!” jawab Sooyoung menyembunyikan senternya di belakang punggung.

Jessica menguap. “sepuluh menit lagi lampu-lampu harus dimatikan.”

“n..ne. araseumnida.” Jawab Sooyoung. Ia melirik ke tempat tidur Tiffany. Salah satu sudut selimutnya belum sempat ia rapikan. Tapi Tiffany tidak akan tahu, pikir Sooyoung.

Tanpa sadar, Sooyoung senyum-senyum sendiri. Tapi kemudian ia cepat-cepat pasang tampang serius tidak ingin Jessica melihatnya dan mencurigainya.

“besok kau ikut kegiatan apa?” tanya Jessica sambil berlalu menuju lemarinya mengeluarkan piyamanya. “renang bebas?”

“bukan. Dayung.” Jawab Sooyoung. “aku ingin naik perahu dayung yang kering dan aman. Aku tidak berminat mondar-mandir di danau kotor yang penuh ikan dan makhluk lainnya.”

“hei, aku juga!” seru Jessica.

Sooyoung hendak bertanya apakah Jessica mau jadi pasangannya untuk berdayung besok, namun Tiffany dan Taeyeon keburu masuk. Mereka melihat Sooyoung dan langsung tertawa terbahak-bahak mengingat keusilan mereka.

“seru sekali tarian yang kau bawakan waktu api unggun tadi,” ucap Tiffany menertawai Sooyoung.

“gayanya seperti kalau ada ular dipunggungmu!” Taeyeon menimpali dan mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak.

“tertawalah sepuas-puasnya. Beberapa menit lagi giliranku yang tertawa. Aku sudah tidak sabar.” Batin Sooyoung.

Beberapa menit kemudian, Jessica mematikan lampu.

Sooyoung berbaring di kasurnya yang keras dan menatap kasur Tiffany di atasnya. Ia cengar-cengir sendiri dan menunggu..

Menunggu..

Tiffany berbalik di tempat tidurnya. Sooyoung bisa mendengarnya menarik napas keras. Dan kemudian Taeyeon dan Tiffany mulai menjerit-jerit. Sooyoung tertawa keras, ia tidak sanggup menahan diri.

“aku digigit! Aku digigit!” panik Tiffany. Lampu-lampu dinyalakan kembali.

“tolong!” Taeyeon memekik. Ia melompat turun dari tempat tidur.

“aku digigit!” teriak Tiffany lagi. Ia dan Taeyeon melompat-lompat dan menggeliat-geliut. Mereka menepuk-nepuk lengan, kaki, dan punggung masing-masing. Sooyoung sampai harus menggigit bibir untuk menahan tawa.

“laba-laba! Mereka ada di mana-mana!” Taeyeon memekik. “akh!! Mereka menggigitku!” ia menarik lengan baju tidurnya, “akh!! Appo!” pekiknya mulai menangis.

Jessica berdiri di samping saklar lampu. Sooyoung masih duduk di tempat tidur menonton Taeyeon dan Tiffany yang masih disibukan oleh laba-laba itu. Tapi kemudian, ucapan Jessica menyingkirkan senyum dari wajah Sooyoung.

“Sooyoung yang menaruh laba-laba di tempat tidur kalian!” ia memberitahu Tiffany dan Taeyeon. “aku memergokinya mengotak-atik tempat tidur kalian waktu aku masuk tadi.”

“Dasar tukang ngadu!” batin Sooyoung. “Mungkin ia masih marah padaku karena aku menumpahkan obat asmanya.”

Sedetik kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Jessica segera membukakannya.

“ada apa malam-malam begini ribut-ribut?” heran Leeteuk. Ia segera melihat Taeyeon yang sudah berurai airmata, “ya! Taeyeon-ah! Waegeurae?” paniknya menghampiri yeojanya itu. Ia tercengang melihat tangan dan kaki Taeyeon serta Tiffany yang memerah.

“oppa, Sooyoung menaruh laba-laba di tempat tidur Taeyeon dan Tiffany!” lapor Jessica pada Leeteuk.

“mwo?” kejut Leeteuk berganti menatap Sooyoung tidak percaya. “ah, sebaiknya kalian segera ke ruang P3K untuk memastikan laba-laba itu tidak beracun. Kajja!” Leeteuk pun membawa Taeyeon dan Tiffany menuju ruang P3K.

“kau ingin mereka masuk rumah sakit karena di gigit laba-laba itu??” sinis Jessica.

“mana ku tahu laba-laba jenis itu beracun.” Sahut Sooyoung tanpa bersalah, “lagi pula mereka pantas menerimanya karena telah mengerjaiku terlebih dahulu!”

Jessica hanya mencibir dan kembali ke tempat tidurnya.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Tiffany masuk seorang diri.

“bagaimana luka gigitannya? Mana Taeyeon?” tanya Jessica menghampiri Tiffany.

“aku sudah di obati. Taeyeon terpaksa harus menginap di ruang P3K karena luka gigitannya cukup parah.” Jawab Tiffany dan ia melirik Sooyoung dengan tatapan marah.

“mianhae..” ucap Sooyoung namun Tiffany tidak menanggapinya.

“Sica, aku tidur denganmu ya. Aku takut laba-laba itu masih berkeliaran di tempat tidurku.” Jessica pun mengangguk.

“mereka tidak mau berteman denganku? Sepertinya mereka semakin tidak menyukaiku. Tapi…ya sudah, aku akan mencari teman lain.” Batin Sooyoung.

Sementara itu di ruang P3K, Leeteuk menunggui Taeyeon yang terus menangis kesakitan akibat gigitan laba-laba itu.

“uljima.” Leeteuk menyeka airmata Taeyeon.

“temani aku disini. Aku takut tidur sendirian disini.”

“ne.”

“kalau kau ngantuk berbaring saja di sebelahku.” Ucap Taeyeon menggeser tubuhnya memberikan sedikit tempat untuk Leeteuk.

“baiklah.” Leeteuk beranjak dan membaringkan dirinya disebelah Taeyeon dan memeluknya.

“gomawo, ajussi.”

Leeteuk tertawa mendengar ucapan Taeyeon, “cheonma, ajumma!” ucap Leeteuk semakin mengeratkan pelukannya.

“ajussi..”

“hm?”

“terlalu erat.” Ucap Taeyeon. “sesak.”

“o..oh..ne.” sahut Leeteuk tergagap dan melonggarkan pelukannya.

**

Keesokan pagi, di bangsal asrama, Sooyoung sarapan seorang diri. Diruangan itu ada 2 meja panjang yang membentang dari dinding ke dinding. Satu untuk anak laki-laki, satu lagi untuk perempuan.

Sooyoung duduk di ujung meja dan makan sereal tanpa berkata apa-apa. Semua yeoja yang duduk disitu asyik bercerita. Taeyeon sudah lebih baik dan kini ia duduk disamping Tiffany dan menatap Sooyoung dengan pandangan tidak menyenangkan.

Sooyoung mengacuhkan tatapan Tiffany dan Taeyeon, kini ia beralih melihat Minho di meja lain. Ia dan teman-temannya asyik bercanda. Minho menaruh sepotong kue panekuk di  keningnya, dan anak lain menepuknya sampai jatuh. “paling tidak ada yang gembira.” Pikir Sooyoung. Ingin rasanya ia menghampiri Minho dan memberitahunya betapa tertekannya ia di tempat ini. Tapi ia tahu pasti Minho akan menyuruhnya jangan terlalu serius. Karena itu Sooyoung memilih untuk diam di meja itu sambil mengunyah sarapannya.

“apakah keadaan nanti akan bertambah baik dalam kegiatan dayung?” batin Sooyoung.

**

Tiba waktunya kegiatan dayung. Peserta lain sudah mulai mendorong perahu masing-masing ke dalam air. Mereka semua sudah punya pasangan. Kecuali Sooyoung.

Yuri menghampiri Sooyoung. Pagi itu Yuri begitu sexy dengan pakaian yang dikenakannya. Tak sedikit namja yang bersuit-suit melihat kemolekan tubuhnya.

tumblr_lf7eo3qgSC1qb8lxuo1_500

“siapa namamu?” tanyanya sambil terus mengawasi peserta lain.

“Sooyoung.” Jawab Sooyoung. “aku mendaftarkan diri untuk kegiatan dayung, tapi…”

“kau perlu pasangan.” Yuri menyela. “cari pasangan dulu. Perahu-perahu disimpan disebelah sana.” Ia menunjuk, lalu berjalan menjauh.

Satu persatu perahu itu meluncur ke air. Gemericik air terdengar dimana-mana. Sooyoung bergegas ke tempat perahu sambil mencari pasangan. Sooyoung hampir menyerah saat ia melihat Jessica yang sedang menyeret perahunya ke air.

“kau sudah dapat pasangan?” tanya Sooyoung. Jessica menggelengkan kepala. “bagaimana kalau kita bergabung saja?”

“tidak usah.” Balas Jessica dengan ketus. “jangan-jangan ada serangan laba-laba lagi nanti.”

“oh, ayolah~!” Sooyoung berusaha membujuknya.

“kalian berpasangan?” tanya Yuri yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Sooyoung dan Jessica.

“aniyo. Aku..”

“aku ingin berpasangan dengannya tapi ia tidak mau.” Sooyoung menyela. Jessica tampak kesal.

“kalau begitu bawa perahu kalian ke air.” Yuri memerintahkan. “tinggal kalian yang masih di darat.”

Jessica hendak memprotes tapi akhirnya ia angkat bahu dan menghela napas, “oke, Soo. Kajja.”

Sooyoung dan Jessica mengenakan jaket pelampung kemudian meraih dayung dan memegang haluan perahu. Mereka menyeret perahu itu ke air.

Perahu kecil itu berayun-ayun. Arusnya kecil namun ternyata cukup deras. Ombak kecil terus menjilati  tepi danau yang ditumbuhi rumput.

Jessica masuk ke perahu dan mengambil tempat duduk di depan. “terima kasih kau telah mempermalukanku didepan Yuri.” Ucap Jessica.

“aku tidak bermaksud..” Sooyoung berusaha menjelaskan namun Jessica cepat-cepat menyelanya.

“dorong perahunya!”

Sooyoung melemparkan dayungnya ke dalam perahu. Kemudian membungkuk dan mendorong perahu itu. Perahu meluncur, ia melangkah ke air dan memanjat masuk ke perahu.

“aduh!” perahu itu nyaris terbalik ketika Sooyoung menaiki perahu itu.

“ya! Hati-hati!” bentak Jessica. “huh, dasar! Begini saja tidak bisa!”

“mianhae.” Ucap Sooyoung. Ia tidak mau kehilangan pasangannya dan berusaha tidak membuat masalah lagi.

Sooyoung duduk di belakang Jessica. Perahunya berayun-ayun ketika mereka mulai mendayung.  Permukaan danau berkilau terkena pantulan sinar matahari pagi yang cerah. Keduanya membisu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah gemericik air dari kayuhan dayung itu. Beberapa perahu berada didepan dan Jessica serta Sooyoung tertinggal jauh di belakang.

Jaket pelampung yang mereka kenakan membuat mereka gerah. Mereka melepas pelampung itu dan meletakkannya di dalam perahu itu. Mereka mendayung dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan.

Sooyoung menoleh ke belakang. Tepi danau tampak jauh sekali. Ia langsung merinding. Ia tidak terlalu pintar berenang. Mendadak ia ragu apakah ia bisa berenang ke tepi danau itu jika terjadi sesuatu.

“hei!” kejut Sooyoung saat perahu itu tiba-tiba terombang-ambing. “ah!!” Sooyoung berpegangan pada pinggiran perahu.

Sooyoung menoleh ke depan dan  ia terkejut melihat Jessica berdiri! “Sica, apa yang kau lakukan??!”

Perahu semakin oleng. Sooyoung mencengkram tepi perahu erat-erat. Jessica maju selangkah. Perahu bertambah miring. Air segera masuk dan  membasahi kaki Sooyoung. “Sica, stop!!” Sooyoung berteriak. “duduklah! Kau  mau apa??!!”

Jessica berbalik menatap Sooyoung sambil memicingkan mata. “selamat tinggal, Sooyoung!” ia membuka T-shirt yang menutupi baju renangnya, lalu membuangnya ke danau.

“andwae!!” Sooyoung memohon. “jangan tinggalkan aku disini. Aku tidak jago berenang! Bagaimana kalau perahunya terbalik?? Aku tidak sanggup berenang ke tepi danau!”

“gara-gara kau liburanku jadi kacau!” tukas Jessica dengan sengit. “gara-gara kau  juga aku  tidak boleh ikut perjalanan enam hari menjelajahi danau dengan perahu.”

“t..tapi aku tidak sengaja..” Sooyoung tergagap.

“dan kau juga mencari gara-gara dengan Tiffany dan Taeyeon,”

“a..ani!” Sooyoung berusaha menyela. “aku sudah minta maaf. Aku tidak bermaksud..”

Jessica bergeser sedikit, sehingga perahu itu oleng ke arah berlawanan. Kemudian ia bergeser lagi ke arah semula. Sekali lagi. Dan sekali lagi. Ia sengaja membuat perahu oleng, ia sengaja menakut-nakuti Sooyoung.

“jangan, Sica! Nanti perahunya terbalik!” Sooyoung memohon. Namun tingkahnya malah semakin menjadi. “aku tidak pandai berenang. Aku tidak bisa…”

Jessica mendengus kesal. Kemudian ia mengangkat tangannya, menekuk lutut, bertolak kuat-kuat dan terjun ke danau.

“ANDWAE!!!” pekik Sooyoung sementara perahu terombang-ambing dengan hebat. Air bercipratan ke segala arah.

Perahu itu oleng.. berayun-ayun.. dan akhirnya terbalik!

Sooyoung terpental dan disambut air danau yang dingin. Saking kagetnya, ia tidak bisa bergerak. Perahu itu terombang-ambing di  permukaan danau. Sooyoung terbatuk-batuk karena mulut dan hidung yang kemasukan air. Ia mengayunkan tangan dan kakinya. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil naik ke permukaan air.

Terbatuk-batuk, menarik napas dalam-dalam. Ia melakukan itu berkali-kali. Sooyoung memandang sekeliling, dan melihat perahu mengapung dalam posisi terbalik. Sesaat kemudian napasnya mulai normal, begitu juga detak jantungnya.

Ia berenang ke perahu, memeluknya dengan sebelah tangan, dan berpegangan erat-erat. Sambil memicingkan mata karena silau, ia menoleh ke kiri-kanan untuk mencari Jessica.

“Sica? Sica? Dimana kau?” Sooyoung berbalik dan memandang ke segala arah. Dadanya seakan-akan di cengkram tangan-tangan dingin. “Sica? Sica? Kau bisa mendengarku?”

Sebelah tangannya berpegang pada perahu, dan tangan yang satunya lagi melindungi matanya dari sinar matahari. “Sica? Jessica!?” ia memanggil nama itu sekeras mungkin. Dan tidak lama kemudian, ia melihatnya. Sooyoung melihat rambut pirangnya yang berkilau terkena cahaya matahari. Ia juga melihat baju renangnya yang berwarna merah. Lengannya bergerak dengan mantap. Tendangan kakinya meninggalkan buih di permukaan air. Ia sedang berenang ke tepi danau.

Sooyoung berbalik dan mencari perahu-perahu lain. Sambil memicingkan mata, ia melihat semua perahu jauh di depan. Terlalu jauh untuk mendengar teriakannya. “mungkin perahunya bisa ku tegakkan lagi. Dan aku bisa naik lalu mendayungnya hingga ke tepi.” Gumam Sooyoung. “tapi…mana dayungnya??”

Sooyoung memandang ke arah perkemahan dan melihat Jessica yang berbicara dengan Yuri. Ia melambai-lambaikan tangan dan menunjuk-nunjuk ke danau. Menunjuk kearah Sooyoung. Peserta lain mulai berkerumun di sekeliling mereka. Kemudian terlihat Yuri menyeret perahu ke air.

“ia mau menyelamatkanku?” pikir Sooyoung. “sepertinya Jessica memberitahunya bahwa aku tidak sanggup berenang ke tepi.”

Anak-anak itu memperhatikan Sooyoung dan Sooyoung berpikir mereka menganggap dirinya payah yang tidak bisa berenang ke tepi namun Sooyoung tidak peduli dengan itu. Yang ia inginkan hanya bisa kembali ke daratan yang aman dan kering.

Yuri tidak butuh waktu lama untuk berdayung ke tempat Sooyoung mengapung. Saat Sooyoung naik ke perahunya, ia bermaksud segera berterima kasih namun Yuri tidak memberinya kesempatan berbicara. “kenapa kau melakukannya, Soo??”

“eh? Melakukan apa?” bingung Sooyoung.

“membalikkan perahu!!” Yuri mendesak. Sooyoung hendak memprotes tapi suaranya seakan-akan tersangkut di tenggorokan. Yuri menatapnya sambil mengerutkan kening, “Jessica bilang kau sengaja membalikkan perahu. Apa kau tidak tahu itu sangat berbahaya?!”

“tapi..tapi..”

“aku akan mengadakan pertemuan khusus karena kejadian ini.” Ujar Yuri. “keselamatan di air sangat penting. Semua peraturan harus selalu di taati! Seoul Camp Lake tidak akan ada kalau peserta tidak mentaati semua peraturan.”

“kenapa malah jadi begini?” gumam Sooyoung.

**

Yuri mengadakan pertemuan di bangsal utama. Dan semua peserta diwajibkan hadir. Ia kembali membahas semua peraturan keselamatan satu persatu. Setelah itu ia menjelaskan kembali tentang sistem pasangan.

Sooyoung duduk sambil menundukan kepala. Tapi setiap kali ia menoleh, ia melihat Tiffany, Taeyeon, dan Jessica melotot dengan gusar ke arahnya. Peserta yang lain juga menatapnya sambil mendelik. Sepertinya mereka semua menganggap Sooyoung sebagai penyebab pertemuan yang membosankan itu. Mungkin Jessica memberitahu mereka bahwa Sooyounglah yang membalikkan perahu itu.

“aku minta kalian menghapal kedua puluh peraturan keselamatan di air.” Kata Yuri membuat peserta itu semakin banyak yang melotot ke arah Sooyoung.

“mereka semua membenciku.” Batin Sooyoung. Ia menundukkan kepala dengan sedih dan tak ada yang bisa ia lakukan.

Lalu, tiba-tiba saja, Sooyoung mendapat ide.

**

“aku mau kabur!!” ujar Sooyoung pada Minho.

“selamat jalan.” sahutnya dengan tenang. “semoga berhasil.”

“aku serius, Choi Minho!!” pekik Sooyoung. “aku tidak main-main! aku benar-benar mau kabur dari perkemahan ini!

“jangan lupa kirim kartu.” kata Minho.

Sooyoung menyeretnya keluar dari bangsal utama seusai makan malam. Sooyoung menggiringnya ke tepi danau. Disana tidak ada siapa-siapa karena semua orang berkumpul di bangsal utama. Sooyoung menoleh ke arah perahu-perahu yang ditumpuk tiga-tiga di tepi air. Ia kembali teringat rambut Jessica yang pirang dan baju renangnya yang merah. Ia teringat bagaimana Jessica berenang menjauh, meninggalkannya di tengah danau. Dan juga Jessica telah berbohong pada Yuri sehingga ia yang mendapat masalah.

Sooyoung mengguncang-guncang pundak Minho, “kenapa kau tidak percaya? aku serius!” gertak Sooyoung. Namun Minho malah tertawa.

“orang yang baru makan kenyang jangan di guncang-guncang.” kata Minho yang kemudian bersendawa keras.

“ish! jorok!” gerutu Sooyoung. Minho hanya nyengir lebar. “jangan bercanda! Aku benar-benar tidak betah disini, Minho! Aku benci perkemahan ini. Disini tidak ada telepon yang bisa kita pakai. Aku tidak bisa menelepon eomma dan appa. Jadi aku terpaksa kabur!”

Raut wajah Minho berubah, ia baru sadar bahwa Sooyoung tidak main-main. “kau mau kabur kemana?”

“aku mau menerobos hutan.” jawab Sooyoung sambil menunjuk. “ada sebuah kota di balik hutan itu. Aku akan menelepon eomma dan appa dari situ supaya mereka bisa menjemputku.”

“andwae!”

“wae??”

“kita dilarang masuk hutan.” sahutnya. “Leeteuk pernah bilang hutan ini berbahaya, kan?”

“aku tidak peduli Leeteuk bicara apa! Pokoknya aku mau kabur!”

“Jangan terburu-buru, noona.” Minho mendesak. “kita belum satu minggu disini. Lebih baik kau tunggu saja dulu.”

“aku paling sebal kalau melihatmu sok kalem begini!” Sooyoung mendorongnya keras-keras dengan kedua tangan.

Minho kaget dan kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke belakang. Ia terhempas ke lumpur tepi danau.

“akh!!”

“mian!” Sooyoung segera meminta maaf. “aku tidak sengaja. aku…”

Minho bangkit dengan susah payah. Punggungnya kotor oleh lumpur bercampur ganggang. Ia mengacungkan tinju sambil mencaci-maki. Sooyoung menghela napas. Sekarang adiknya sendiri pun marah padanya.

“apa yang harus kulakukan?” batin Sooyoung. “apa yang bisa kulakukan?”

**

Ketika Sooyoung kembali ke pondok, sebuah rencana baru mulai terbentuk dalam benaknya. Rencana yang benar-benar nekat. Rencana yang benar-benar berbahaya.

“besok!” gumam Sooyoung. “aku akan memberi pelajaran kepada mereka semua!”

**

To be continue..

[FF] Purple Butterfly (Chapter 5)

Author : Ashiya
Main Cast : Kim Taeyeon, Cho Kyuhyun
Support Cast : You’ll find them later.
Genre : Mystery, Horror
Rating : M
Language : Bahasa Indonesia
Disclaimer : This story 100% mine & inspired by Fatal Frame II : Crimson Butterfly
Copyright : ashiya19.wordpress.com

crimson butterfly

-Previous Chapter-

Kyuhyun dan Taeyeon lanjut jalan setelah penampakan itu hilang. Kemudian melewati tangga. Satu per satu mereka berjalan menuruni tangga. Terdengar suara, “Kalian datang ke tempat ini untuk tujuan ini.”

Suaranya sama persis dengan suara lelaki yang muncul di koridor tadi. Kyuhyun menoleh ke belakang namun tidak ada apa-apa kecuali Taeyeon. Kyuhyun mulai bersiap dengan kameranya. Untuk barjaga-jaga kalau-kalau makhluk halus itu menyerangnya. Tapi tiba-tiba Taeyeon berlari mendahului Kyuhyun. “kenapa dia?” pikir Kyuhyun.

Kyuhyun mengikutinya. Taeyeon berdiri tepat di tengah ruangan sambil menunduk. Kyuhyun melangkah mendekatinya.
Bulu kuduk Kyuhyun meremang, tubuhnya gemetaran. Kyuhyun bergumam, “Perasaan ini…”

Tiba-tiba terdengar jeritan yang memilukan membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya terkejut dengan suara itu. Seperti jeritan seorang perempuan yang menjerit kesakitan. Tidak lama kemudian tampak sosok yeoja memakai hanbok putih, penuh darah dan sekitarnya berserakan mayat-mayat dengan kondisi mengenaskan. Tapi sosok itu perlahan berganti-ganti dengan Taeyeon. Kyuhyun menyentuh bahunya dari belakang, “Taeng, ada apa?”

Taeyeon mengangkat wajahnya. “Eh… eobseo.”

Kyuhyun menarik nafas lega. Ia bergerak ke pintu lain untuk melanjutkan perjalanan. “Oppa, kita harus keluar dari sini. Aku tidak mau membunuh lagi…” Gumaman Taeyeon terdengar oleh Kyuhyun.

Tidak mau membunuh lagi? Apa maksudnya itu. Aku tidak mengerti. Apa ia baik-baik saja? Ataukah makhluk-makhluk ditempat ini sudah….

-Chapter 5- onion-emoticons-set-4-9

“Taeyeon-ah, apa maksud kata-katamu itu?” tanya Kyuhyun dengan bingung namun Taeyeon tetap diam. “Taeng!” Kyuhyun menyentuh pundak Taeyeon hingga membuat yeoja itu terkesiap seperti baru tersadar dari dunianya sendiri.

“oh? Apa?” jawab Taeyeon seperti orang linglung.

“kau ini sebenarnya kenapa?” tanya Kyuhyun hati-hati. “kenapa sikapmu jadi aneh?”

“maksudmu?”

“kau berkata tidak mau membunuh lagi. Apa maksud ucapanmu itu?”

“apa aku berkata seperti itu?” tanya Taeyeon dengan wajah bingung. “aku tidak mengingatnya. Lagi pula…membunuh? Membunuh apa?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya mendengar jawaban Taeyeon. “Taeng-ah….”

“hm?”

“apa kau bisa ceritakan padaku saat kau menghilang? Siapa yang membawamu?”

Taeyeon tampak berpikir keras berusaha mengingat-ingat kejadian yang menimpanya, “seingatku….ada sekitar 5 namja memakai hanbok putih….dan mereka membawa tombak yang cukup panjang. Dan mereka juga mengacungkan tombak itu ke arahku agar aku ikut mereka.”

“kenapa kau tidak berteriak membangunkanku?” tanya Kyuhyun.

“aku sudah berteriak meminta tolong padamu sambil terus berontak di tangan mereka. Tapi kau tidak juga bangun bahkan tidak bergerak sama sekali..”

Kyuhyun menghela napasnya, “mianhae…”

“saat itu aku benar-benar takut. Mereka memaksaku untuk mengikuti mereka ke suatu tempat.”

“kemana?”

“molla. Aku tidak ingat.” Jawab Taeyeon menundukan kepalanya. “tapi terakhir yang ku ingat aku melihat sebuah foyer besar menuju gua yang besar. Dan setelah itu….aku tidak ingat apa-apa. Dan begitu aku sadar, aku sudah berada di dalam rumah gelap ini sendirian.”

fatalFrame2_1_thumb

Kyuhyun menatapnya dengan pandangan menyesal, “seharusnya aku bangun dan melepaskanmu dari mereka. Aku minta maaf..” Kyuhyun memeluknya dengan erat.

“oppa, cepat kita keluar dari sini. Aku takut berada di rumah ini.”

“ne. kajja!”

Mereka kembali melanjutkan berjalan mencari pintu yang sesuai dengan kunci kupu-kupu yang mereka temukan. Tidak lama kemudian, mereka berhadapan dengan sebuah pintu besar.

“kita coba pintu ini. Mudah-mudahan ini jalan keluarnya.” Ucap Kyuhyun.

Saat Kyuhyun akan memasukan kunci itu, tiba-tiba Taeyeon menjerit.

“AAARRRGHHHHHH!!!”

“Taeyeon!!!” Kyuhyun membelalakan matanya melihat Taeyeon yang di kerubuti puluhan pasang tangan  roh yang mengerubunginya dan ada pula yang mencoba mencekiknya. Kyuhyun mencoba menghalau tangan-tangan yang menggapai-gapai seluruh tubuh Taeyeon namun tidak berhasil karena ia tidak dapat menyentuh tangan-tangan roh itu.

Kyuhyun mengambil kamera obscuranya dan memotret tangan-tangan itu berkali-kali hingga akhirnya lenyap.

Kyuhyun menarik napasnya dan menghampiri Taeyeon yang menangis shock karena serangan tiba-tiba itu.

“tenanglah, mereka sudah pergi. Uljima.” Ucap Kyuhyun memeluk Taeyeon berusaha menenangkannya.

Namun tampaknya Kyuhyun dan Taeyeon belum bisa bernapas lega. Tiba-tiba dari arah lain muncul sesosok roh aneh berbentuk manusia namun memiliki banyak tangan. Tangan yang menyerang Taeyeon tadi. Namun jumlahnya lebih banyak lagi. Makhluk itu tidak mendekat namun tiba-tiba beberapa dari tangan-tangan itu, terbang dan menyerang kearahnya.

Taeyeon segera bersembunyi dengan berjongkok dibelakang Kyuhyun berharap makhluk itu tidak menyerangnya lagi. Sementara Kyuhyun berusaha menghalau tangan-tangan itu hingga tangan-tangan itu bergerak kembali menuju makhluk aneh itu.

Roh itu berjalan perlahan mendekati Kyuhyun. Kyuhyun segera memotret roh itu hingga beberapa kali terpental. Namun sepertinya lawannya kali ini cukup tangguh. Ia cukup sulit untuk dilawan. Terlebih jika tangan-tangan itu melayang menjauh dari roh itu dan menyerang Kyuhyun.

Kyuhyun berhasil membuat tangan-tangan yang berusaha mencekiknya itu kembali mundur pada roh itu. Tiba-tiba roh itu menghilang. Kyuhyun mengedarkan pandangannya mencari kemana perginya roh itu.

“apa ia sudah pergi?’ gumam Kyuhyun.

Sedetik kemudian Kyuhyun kembali di kejutkan karena roh itu tiba-tiba sudah berada didepannya dan berusaha mencekiknya. Kyuhyun berontak hingga kamera itu terjatuh. Taeyeon mengambil kamera itu dan memotret roh yang hampir membuat Kyuhyun kehabisan udara itu hingga akhirnya ia lenyap.

“gwaenchana?” cemas Taeyeon melihat Kyuhyun yang megap-megap mencari udara.

Kyuhyun menganggukan kepalanya sambil terengah-engah dan memastikan bahwa Taeyeon tidak apa-apa.

Kyuhyun memasukan kunci dan…CKREK!!

Pintu itu berhasil terbuka dan memang itu adalah jalan keluar dari rumah seram itu.

Perlahan Kyuhyun membuka pintu itu dan menghasilkan bunyi deritan yang membuat suasana semakin mencekam.

“akhirnya kita bisa keluar!” seru Kyuhyun.

“ne. syukurlah.”

“sekarang kita harus kemana?” gumam Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu dan tiba-tiba ia melihat seorang perempuan mengenakan hanbok dan berjalan memunggunginya. “siapa itu?”

Taeyeon menoleh ke arah yang di tunjuk Kyuhyun, “itu….Yuri?!!” seru Taeyeon membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“kau mengenalnya?”

“ne! Dia yang membebaskanku dari orang-orang yang menculikku dan membawaku ke rumah ini.”

“apa dia juga…..hantu?”

“molla.” Jawab Taeyeon terus melihat sosok yang ia sebut Yuri berjalan menjauh darinya. “tapi ia tidak jahat. Ia juga berkata akan membantuku keluar dari tempat ini.”

“benarkah? Kalau begitu, kita harus mengejarnya!” usul Kyuhyun yang di balas anggukan Taeyeon.

Mereka mulai mengejar Yuri, “YURI-SSI!!” teriak Taeyeon memanggilnya namun ia tidak menoleh dan terus berjalan.

“YURI-SSI!!” teriak Kyuhyun.

Mereka terus mengejarnya hingga Yuri berbelok dan saat mereka berbelok, tidak ada siapa-siapa. Keadaan di situ sangat sunyi.

“kemana dia?” gumam Kyuhyun kebingungan.

“disana!” seru Taeyeon menunjuk kearah lain dan segera bergegas mengejarnya. Namun lagi-lagi, Yuri menghilang.

“sebenarnya makhluk apa dia?” pikir Kyuhyun.

“sepertinya ia tengah membantu kita menemukan jalan keluar.” Ucap Taeyeon membuat Kyuhyun menoleh.

“benarkah?” tanya Kyuhyun.

Ia berniat meraih tangan Taeyeon untuk segera kembali mencari wanita itu, namun saat ia memegang tangan Taeyeon, tiba-tiba gambaran hitam putih muncul di benaknya. Kyuhyun dapat membaca pikiran Taeyeon lagi.

“sementara kau disini saja. Tempat ini cukup aman.” Ucap Yuri pada Taeyeon saat ia membawanya ke rumah menakutkan itu.

“tapi…rumah ini tampak menakutkan..”

“kau tenang saja.” Yuri hendak beranjak pergi dari tempat itu namun Taeyeon segera menahannya.

“kau mau kemana? Kau tidak akan meninggalkanku sendirian disini kan??” panik Taeyeon ketakutan.

“aku akan memanggil temanmu untuk membawamu pergi dari tempat ini.”

“teman?”

“ne. Teman priamu. Kau datang ke desa ini bersama dia, kan? Cho Kyuhyun?”

“dari mana kau tahu?”

Yuri hanya tersenyum dan tidak menjawab ucapan Taeyeon. Ia sudah pergi meninggalkan Taeyeon di rumah itu.

Kyuhyun tersentak setelah membaca pikiran Taeyeon.

“apa kau bertemu dengan Yuri sebelum akhirnya kau menemukanku?” Tanya Taeyeon.

“ani.” Jawab Kyuhyun tampak bingung dengan apa yang dialaminya. “Taeyeon-ah…apa kau terus berada di rumah itu sampai aku menemukanmu?” tanya Kyuhyun yang dibalas anggukan Taeyeon. Kyuhyun terkesiap, “lalu siapa ‘Taeyeon’ yang aku temui itu? Apa itu Yuri? Yuri yang menunjukan jalan dimana keberadaan Taeyeon?” batin Kyuhyun.

“oppa? Wae? Kau memikirkan apa?”

“oh, eobseo.” Jawab Kyuhyun.

“kita harus kembali mencari Yuri. Ia satu-satunya harapan kita keluar dari desa yang menakutkan ini.”

Mereka terus mengikuti jalan itu sementara Kyuhyun terus memikirkan Yuri.

“apa Taeyeon yang kutemui itu memang Yuri? Tapi…siapa dia? Kenapa ia mau membantu kami? Dan juga…sebenarnya ia makhluk apa? Apa dia juga salah satu dari roh yang ada di tempat ini?” batin Kyuhyun.

“oh! Dia disana!” seru Taeyeon menunjuk Yuri berjalan menuju bukit dan tiba-tiba saja ia menghilang didepan mata Kyuhyun dan Taeyeon hingga membuatnya terkejut. “jadi…..ia bukan manusia?” gumam Taeyeon tampak sedikit ketakutan.

Kyuhyun semakin yakin bahwa “Taeyeon” yang ia temui di awal adalah Yuri yang menjelma menjadi Taeyeon agar bisa memberikan petunjuk keberadaan Taeyeon.

“sepertinya ia menyuruh kita naik ke bukit itu.” Ucap Kyuhyun yang dibalas anggukan setuju Taeyeon.

Akhirnya Kyuhyun dan Taeyeon berjalan menaiki bukit itu. Kyuhyun terus menggenggam tangan Taeyeon dan memastikan ia berada disampingnya.

“semoga kita bisa cepat pulang.” Ucap Taeyeon.

“ne.”

“Yuri-ssi, apa kau mendengarku?” gumam Taeyeon tiba-tiba membuat Kyuhyun menoleh, “terima kasih sudah menunjukan jalannya.”

Kelegaan mereka ternyata tidak bertahan lama. Saat berada di bawah anak tangga yang memiliki foyer besar berwarna merah, tiba-tiba muncul puluhan roh yang mendekati Kyuhyun dan Taeyeon. Keduanya membelalakan mata melihat sekumpulan roh-roh itu.

fatal-frame-2-crimson-butterfly-20040823044614236-000-horz

Blinded-horz

“oppa.. eottokke? Jumlah mereka banyak sekali..” lirih Taeyeon memegang tangan Kyuhyun dengan erat dan segera bersembunyi di belakangnya.

Kyuhyun segera mengeluarkan kamera obscuranya dan memotret roh-roh itu secepat mungkin sebelum mereka menyerangnya. Tampak beberapa dari mereka ada yang membawa senjata tombak dan perisai. Seperti hendak berperang.

Banyaknya jumlah roh-roh itu membuat film di kamera obscura Kyuhyun menipis sementara roh-roh semakin bertambah entah mereka datang dari mana.

KREK! KREK!

Kyuhyun menekan tombol shooter itu tapi roh-roh itu tidak mundur. Ia kehabisan filmnya. Saat kebingungan tiba-tiba Taeyeon menjerit di belakangnya dan begitu ia berbalik, 2 roh berusaha membawa Taeyeon.

“TAEYEON!!!” teriak Kyuhyun melihat Taeyeon yang diseret kedua roh itu dan Taeyeon terus meronta-ronta sambil terus berteriak di tangan kedua roh itu. Ia tidak dapat mencegah kedua roh itu karena puluhan roh itu menahannya di tempat. “TAEYEON!!!” teriak Kyuhyun lagi melihat Taeyeon yang sudah hilang dari pandangannya di bawa roh itu. Tidak lama kemudian, puluhan roh itu juga ikut menghilang meninggalkan Kyuhyun sendirian di tempat sunyi dan gelap itu.

Kyuhyun jatuh merosot ke tanah dan ia mulai menitikan airmatanya karena menyesal tidak bisa mencegah roh-roh itu membawa Taeyeon lagi. “Taeyeon-ah…mianhae..jeongmal mianhae..” lirih Kyuhyun terisak.

Sesaat kemudian, ia kembali bangkit dan melihat sesuatu yang tampak bersinar di tanah. Sebuah film untuk kameranya.

Type_14_film1

Kyuhyun segera memasang film itu. Ia yakin siapapun atau apapun itu ada yang sedang membantunya. Jika tidak, darimana datangnya film kamera itu? Mungkin saja itu Yuri?

“aku harus membawa Taeyeon kembali!” ucap Kyuhyun kemudian berlari kearah roh-roh itu membawa Taeyeon. Ia berlari menaiki tangga sambil terus menyalahkan dirinya yang membawa yeoja itu ke tempat berbahaya seperti ini.

Setelah berlari jauh, ia tertegun. Kini ia baru menyadari bahwa ia berada di desa itu lagi. Jadi ia berlari memutari desa itu. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba ia teringat namja yang terkurung didalam ruangan sempit di belakang sebuah rumah. Ia segera mencari rumah itu dan setelah menemukannya, ia segera melongokan kepalannya ke dalam ruangan itu melalui jendela kecil di dindingnya.

“jogiyo! Apa kau masih disini??”

“nugu?” balas seseorang dari dalam.

“ini aku yang beberapa lalu kemari.. aku membutuhkan bantuanmu. Kau bilang kau bisa membantuku keluar dari sini dan juga apa kau bisa membantuku menemukan kembali seseorang? Ia barusan di bawa oleh roh-roh jahat!”

Orang itu terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, “apa kau melakukan sebuah dosa di desa ini?”

“eh?”

“apa kau kesini dengan seorang yeoja dan berhubungan intim dengannya?”

“a..apa maksudmu??” tanya Kyuhyun tergagap.

“ini adalah desa suci. Jika ada yang melanggar adat desa ini, mereka harus menerima kutukannya.”

“aku tidak mengerti.”

“menurut cerita rakyat disini, puluhan tahun yang lalu ada seorang yeoja bernama Jieun. Ia keturunan dari keluarga Lee dan pamannya adalah seorang pendeta di desa ini yang sangat di segani warga.” Orang itu mulai bercerita. “Jieun sangat cantik dan banyak di puja pemuda desa ini. Suatu hari ada seorang namja dari luar desa ini yang jatuh hati padanya. Namanya Lee Hyukjae. Mereka saling tertarik hingga akhirnya mereka melakukan sesuatu yang di luar batas. Warga mengetahuinya dan segera menyeret mereka menuju Hellish Abyss.”

“Hellish Abyss? Apa itu?” tanya Kyuhyun.

“Hellish Abyss adalah sebuah lubang yang biasa di gunakan untuk para pelanggar adat. Mereka akan menjalani ritual mencekik dan salah satunya akan di lempar ke lubang Hellish Abyss itu.”

300px-Hellish_abyss

“MWO??” kejut Kyuhyun. “lalu…kenapa disini banyak roh-roh yang berkeliaran?”

“itu adalah akibat kesalahan saat ritual yang dijalankan Jieun dan Hyukjae. Sehingga roh-roh itu menjadi bagian dari kutukan tersebut. Siapapun yang melanggar adat itu, roh-roh akan bangkit kembali hingga pelanggar itu bisa menutup kembali kutukannya dengan menjadi tumbal Hellish Abbys itu.”

Flashback

Saat itu Hyukjae berniat menggagalkan ritualnya. Pendeta dan puluhan pengikutnya berkumpul di Hellish Abyss itu. Jieun berbaring di atas batu persembahan. Ia yang akan di lemparkan ke lubang Hellish Abyss itu dan Hyukjae yang mencekiknya hingga mati.

Pendeta yang juga merupakan paman dari Jieun dan juga para pengikutnya menghentak-hentakkan tongkatnya yang terbuat dari besi hingga menghasilkan dentingan nyaring. Pendeta itu memimpin membacakan mantra yang bertujuan menghilangkan kesadaran mereka agar tidak ragu-ragu saat melakukan ritual itu.

Ritual dimulai, Hyukjae berjalan mendekati Jieun. Namun rupanya ia memiliki rencana untuk menyelamatkan Jieun dari ritual itu. Ia tidak terkena oleh mantra itu. Ia masih berada dalam kesadarannya. Ia berpura-pura terkena mantra itu dan mendekati Jieun. Sedetik kemudian ia beralih dan menyerang pendeta itu dan mencekiknya. Namun, pengikutnya cepat-cepat bertindak. Mereka melepaskan cekikan Hyukjae dari pendeta itu dan memukulinya hingga ambruk ke tanah. Bahkan ada yang mengayunkan tongkat besinya ke tubuh Hyukjae. Mantra yang terhenti itu membuat Jieun sadar dari pengaruhnya dan ia langsung terkejut melihat Hyukjae yang sudah meregang nyawa di tangan para pengikut itu.

“ANDWAE!!!!” pekik Jieun membelalakan matanya. Dengan penuh amarah, ia merebut pedang yang dipegang salah satu pengikut itu dan membantai mereka semua termasuk pamannya sendiri yang merupakan pendeta yang memimpin mereka melakukan ritual ini.

Semua orang tergeletak bersimbah darah. Jieun terengah-engah setelah melakukan pembantaian brutal itu. Tubuhnya dan juga hanboknya yang semula putih bersih kini penuh dengan darah orang-orang yang ia bantai.

fatalframe2_e3_1200_screen003

anggap aja itu pake hanbok ya! xD

Dengan airmata yang mengalir, ia membuang pedang itu dan mendekati Hyukjae yang sudah tak bernyawa lagi dengan kondisi mengenaskan. Jieun menangis memeluk Hyukjae.

Tanpa disadari Jieun, salah satu pengikut itu yang juga mengenakan pakaian pendeta, masih hidup dan berjalan kearahnya sambil membawa pedang yang dipakai Jieun untuk membunuh.

“Jieun-ah…” panggil orang itu membuat Jieun tersentak dan begitu ia berbalik, orang itu segera menancapkan pedang itu ke perutnya. Jieun menjerit kesakitan dan membelalakan matanya merasakan perihnya pedang yang menusuk perutnya. Sedetik kemudian, orang itu mencabut pedangnya dan Jieun pun jatuh tak bernyawa di samping Hyukjae.

Orang itu menatap Jieun yang sudah tewas dan mulai menitikan air matanya.

“Jieun-ah,maafkan  appa…” ucap orang itu. Ia mengangkat pedang itu menebas lehernya sendiri.

Flashback End

“menurut cerita, orang yang dilempar ke Hellish Abyss itu akan berubah menjadi kupu-kupu. Jika kau menemukan kupu-kupu berwarna ungu, itu adalah korban ritual Hellish Abyss.”

Kyuhyun tercekat mendengar cerita orang itu. “lalu apa yang terjadi dengan yang mencekiknya?”

“begitu ritual selesai, roh-roh itu akan menghilang dan meninggalkan pencekik itu sendirian menyesali perbuatannya. Tidak sedikit pula yang memilih bunuh diri di tempat itu.”

“jadi…kami harus menerima kutukan itu dan melakukan ritualnya?”

Orang itu tidak langsung menjawab, “aku juga berada disini karena berniat menggagalkan ritual yang dijalankan kedua temanku. Aku pikir ritual seperti ini sudah tidak perlu di lakukan di jaman sekarang. Teman-temanku itu tidak mengetahui adanya kutukan itu dan mereka melakukannya. Akhirnya kutukan itu terjadi lagi dan mereka harus menjalani ritualnya. Mereka adalah Taeyang dan Yuri..”

“YURI???” kejut Kyuhyun mendengar nama itu.

“ne. apa kau mengenalnya?”

“aku bertemu dengannya, dia juga yang memberiku petunjuk agar bisa bertemu yeojaku.”

“benarkah??” tanya orang itu terdengar antusias. “apa dia selamat? Apa kau juga bertemu Taeyang?”

“aku rasa……mereka tidak berhasil menghindari ritual itu.” Ucap Kyuhyun. “aku tidak bertemu yang namanya Taeyang. Dan Yuri….sepertinya ia menjadi salah satu dari roh itu. Tapi ia bukan roh yang jahat.”

Seketika orang itu menitikan air matanya. “Yuri-ya…” lirihnya.

“apa aku dan yeojaku bisa terbebas dari kutukan itu dan keluar dari desa ini??” panik Kyuhyun.

“molla…” jawab orang itu. “aku tidak tahu…”

Kyuhyun terdiam sesaat, “siapa namamu?”

“Kang Daesung..”

To be continue…

Mian ya kalo kurang serem onion-emoticons-set-4-8 RCL ya… onion-emoticons-set-2-59onion-emoticons-set-2-128

[FF] Seoul Camp Lake (Chapter 2)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ‘em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

Previous Chapter onion-emoticons-set-2-150

“Taeyeon, kau harus selalu berpasangan denganku! Jangan lirik-lirik yang lain!” ucap Leeteuk membuat tawa Taeyeon yang tadinya bercanda dengan Tiffany menurun.

“shireo! Memangnya kau siapa?” balas Taeyeon.

“ya! aku ini namjachingu mu!”

Yuri menarik napas dalam-dalam berusaha tidak memperdulikan ocehan kedua orang itu. “ada pertanyaan?”

“mau kah kau jadi pasanganku?” seru salah satu peserta laki-laki.

Semuanya tertawa. Aku juga. Canda anak itu memang benar-benar pas. Tapi sekali lagi Yuri tidak terpengaruh. “sebagai coordinator olahraga air, aku akan bertindak sebagai pasangan semua peserta kemah,” ia menjawab dengan serius. “sekarang, peraturan nomor dua,” ia melanjutkan. “jangan berenang terlalu jauh dari perahu-perahu pengaman. Peraturan nomor tiga, dilarang berteriak atau berpura-pura mengalami kesulitan di dalam air. Jangan bergurau. Jangan main-main. Peraturan nomor empat…” ia terus berbicara sampai kedua puluh peraturan selesai dibacakannya.

Aku menghela napas. Yuri memperlakukan kami seperti anak-anak lima tahun. Padahal usia kami semua tidak begitu jauh. Banyak sekali peraturan yang harus dihapal.

“aku akan mengulang sekali lagi soal system pasangan..” Yuri berkata.

Aku memandang lewat api unggun dan melihat danau yang gelap. Permukaannya tampak licin dan hitam dan tenang. Di danau itu Cuma ada riak kecil. Tak ada arus. Tak ada gelombang pasang yang berbahaya.

Jadi kenapa harus ada begitu banyak peraturan? Apa yang harus ditakuti?

Chapter 2 onion-emoticons-set-2-143

Sooyoung POV

Yuri terus berbicara selama paling tidak setengah jam. Leeteuk terus melucu dan berusaha membuat rekannya tertawa. Tapi sia-sia. Bahkan sekedar tersenyum pun Yuri tampak enggan. Ia kembali membahas setiap peraturan yang ada dalam daftarnya. Kemudian ia menyuruh kami membaca daftar itu dengan seksama setelah kami kembali ke pondok masing-masing.

“selamat berlibur semuanya!” ia berseru. “sampai ketemu di danau!”

Semua bersorak sorai dan bersuit-suit ketika Yuri menjauhi api unggun. Aku menguap dan meluruskan tangan keatas kepala. Ini benar-benar membosankan. Baru sekarang aku tahu ada tempat yang punya begitu banyak peraturan. Aku kembali menepuk nyamuk yang hinggap di tengkukku. Badanku mulai gatal-gatal. Begitulah akibatnya kalau aku berada di alam bebas. Aku langsung gatal-gatal.

Api unggun telah padam. Bara berwarna ungu teronggok di tanah yang gelap. Udara malam makin dingin. Untuk menutup acara api ungun, Leeteuk meminta semua anak berdiri dan menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake.

“para peserta baru tentu belum tahu liriknya,” ia berkata. “kalian beruntung!”

Semua tertawa. Kemudian Leeteuk mulai bernyanyi sambil berjalan menghampiri Taeyeon. Semuanya langsung angkat suara. Aku pun berusaha ikut. Tapi liriknya cuma kutangkap sepenggal demi sepenggal.

Wetter is better

Get in the swim

Show your vigor and vim

Every son and daughter

Should be in the water

The cold, cold water

Of Seoul Camp Lake

Wah, ternyata aku sependapat dengan Leeteuk. lirik lagu itu memang konyol minta ampun! Aku memandang ke seberang api unggun dan melihat Minho bernyanyi sepenuh hati. Tampaknya ia sudah hapal seluruh syairnya. Bagaimana caranya? Aku bertanya dalam hati sambil menggaruk kakiku yang gatal. Kok ia bisa begitu cepat hapal? Dan begitu mudah bergaul?

Setelah lagu itu berakhir, Leeteuk kembali ke tengah lapangan sambil mengangkat tangan supaya semua tenang. “masih ada beberapa pengumuman,” ia berseru. “pertama, suara kalian sumbang! Kedua..”

Aku tidak mendengar sisanya. Aku menoleh dan melihat Tiffany dan Taeyeon berdiri disampingku. Aku langsung mundur selangkah. “mau apa kalian?” tanyaku dengan ketus.

“kami ingin minta maaf,” ujar Tiffany.

Taeyeon mengangguk. “ne. kami mau minta maaf karena lelucon konyol tadi.”

Leeteuk masih terus berpidato dibelakang kami. Tiffany meletakkan sebelah tangan dipundakku. “perkenalan kita kurang enak,” katanya. “bagaimana kalau kita mulai dari awal lagi? Kau setuju, Sooyoungie?”

“ye. kita mulai dari awal saja,” Taeyeon menimpali.

Aku langsung mengembangkan senyum. “setuju.” Kataku. “setuju sekali.”

“oke!” ujar Tiffany. Ia juga tersenyum lebar hingga kedua bola matanya tidak terlihat. Ia menepuk punggungku. “mari kita mulai dari awal.”

Leeteuk masih sibuk memberikan pengumuman. “jam setengah lima sore besok, semua yang berminat pada selancar angin…”

Minho pasti akan mencobanya. Aku memperhatikan Tiffany dan Taeyeon berjalan menjauh. Awal yang baru, pikirku. Perasaanku mendadak jauh lebih enak.

Tapi perasaan gembira itu cuma bertahan sekitar dua detik. Tiba-tiba punggungku gatal-gatal.

Aku berbalik ke api unggun dan melihat Tiffany dan Taeyeon memandang ke arahku. Keduanya tertawa cekikikan. Peserta lain mulai mengalihkan perhatian dari Leeteuk dan menatapku.

“oooh.” Aku mengerang ketika merasakan sesuatu yang hangat dan kering bergerak-gerak dibalik T-shirt-ku. “ah!!.” Aku menyelipkan sebelah tangan ke balik bajuku. Apa itu? apa yang ditaruh Tiffany dipunggungku tadi? Aku menggenggamnya dan menariknya keluar. Dan aku pun langsung menjerit.

Ular itu menggeliat-geliut ditanganku. Bentuknya seperti tali sepatu berwarna hitam. Dengan mata! Dan mulut yang menyambar-nyambar, membuka dan menutup. “aaaaaaaarghhhh!” aku menjerit sejadi-jadinya. Kemudian kulempar ular itu dengan sekuat tenaga. Ular itu terpental ke hutan. Punggungku masih gatal-gatal. Aku masih bisa merasakan ular tadi menggeliat-geliut di kulitku. Aku berusaha menggaruk punggung dengan kedua tangan.

Anak-anak disekitarku mulai tertawa. Berita mengenai keisengan Tiffany menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Aku tidak peduli. Aku terus menggaruk-garuk. Seluruh tubuhku terasa gatal. Aku berteriak dengan gusar. “apa-apaan sih kalian??!” aku menghardik Tiffany dan Taeyeon. “apa sih yang kalian inginkan?”

Minho menghampiriku. Ia pasti sudah siap untuk bersikap sok tahu lagi. Huh, menyebalkan!

“noona, kau digigit?” ia bertanya dengan suara pelan.

Aku menggeleng kepala. “rasanya ular itu masih merambat dipunggungku!” aku berseru. “kau lihat, tidak? Panjangnya hampir satu meter!”

“tenang dulu,” bisik minho. “semua orang menoleh kemari.”

“Kau pikir aku tidak tahu?” balasku dengan ketus.

“hmm, itu kan cuma ular kecil,” ujar Minho. “sama sekali tidak berbahaya. Kau tidak perlu sewot begini.”

“aku-aku…” aku tergagap-gagap. Tapi aku terlalu emosi hingga tak sanggup bicara.

Minho menoleh kearah Tiffany dan Taeyeon. “kenapa mereka terus menggangumu? Ia bertanya.

“mana kutahu!” jawabku. “karena.. karena mereka memang brengsek! Itu sebabnya!”

“coba tenang dulu,” kata Minho. “tubuhmu sampai gemetaran, noona.”

“bagaiman aku tidak gemetaran? Kau pasti juga gemetaran kalau ada ular dipunggungmu!” aku menyahut. “dan aku tidak butuh nasihatmu, Choi Minho! Aku tidak butuh!”

“ya, sudah,” kata Minho. Serta merta ia berbalik dan kembali ke tempat temaan-temannya.

“aissh..jinjja!” aku bergumam.

Appa kami dokter, dan Minho persis seperti appa. Ia pikir ia harus mengurusi semua orang didunia. Hah, aku bisa mengurus diri sendiri. aku tidak butuh nasihat dari adikku.

Leeteuk memanggil temannya untuk melanjutkan pidato. Dan kulihat ia menarik Taeyeon entah kemana menjauh dari kerumunan. Aku tidak peduli. Akhirnya aku meninggalkan tempat api unggun dan kembali ke pondok.

Aku melewati jalan setapak yang menembus hutan dan menaiki bukit. Suasananya benar-benar gelap. Ditengah kegelapan itu, samar-samar aku mendengar suara tawa seorang perempuan. Aku mengikuti arah suara itu. Dan mataku terbelalak ketika kulihat dengan jelas Leeteuk dan Taeyeon yang asyik berciuman. Ya Tuhan! Aku pun segera meninggalkan tempat itu tanpa meninggalkan suara sedikit pun. Bisa-bisanya mereka bermesraan ditempat menakutkan seperti ini. Aku hanya menghela napas mengingat kejadian itu.

Aku kembali berjalan dengan memilih jalan lain yang menuju pondok. Aku menyalakan senter dan mengarahkan sinarnya ke tanah didepan kakiku. Sepatuku menginjak daun mati dan ranting kering. Pohon-pohon disekililingku berdesir-desir.

Kenapa jadi begini? Kenapa Tiffany dan Taeyeon begitu benci padaku? mungkin mereka memang konyol. Mungkin mereka bersikap seperti itu kepada semua orang. Mereka pikir mereka paling hebat karena tahun lalu sudah kemari.

Tanpa sadar, aku menyimpang dari jalan setapak. “hei..!” aku mengarahkan senter ke sekelilingku untuk mencari jalan itu. cahaya senter menyapu batang-batang pohon rumpun ilalang, dan sebatang pohon tumbang.

Aku mulai panic. Mana jalannya?? Aku maju beberapa langkah. Daun-daun kering bekersak-kersak terinjak olehku.

Berikutnya kakiku terbenam dalam sesuatu yang lembek.

Pasir hisap!!

Tapi….

Bukan. Bukan pasir hisap.

Pasir hisap sebenarnya tidak ada. Buku IPA yang kubaca dikelas lima menyatakan hal itu. aku mengarahkan sentar kebawah. “ohhh!” ternyata lumpur. Lumpur yang kental dan lengket. Sepatu sneakersku terbenam dalam lumpur itu. aku mengangkat kaki sambil mengerang dan nyaris jatuh terjengkang. Tenang saja, ini cuma lumpur. Memang menjijikkan tapi bukan sesuatu yang aneh.

Tapi kemudian aku melihat gerombolan laba-laba itu. jumlahnya lusinan. Laba-laba paling besar yang pernah kulihat. Rupanya mereka bersarang didalam lumpur. Makhluk-makhluk itu merangkak melewati sepatuku, menaiki kaki celanaku. “OMMONA!! Ih!” lusinan laba-laba bergelantungan padaku. Aku mengayunkan kaki keras-keras. Aku mulai menepis-nepis dengan tanganku yang bebas. “AKU BENCI PERKEMAHAN INI!!” aku menjerit. Beberapa laba-laba kusingkirkan dengan menggunakan senter.

Dan tiba-tiba aku mendapat ide. Apa salahnya kalau aku membalas perbuatan Tiffany dan Taeyeon  padaku? Mereka telah mempermalukanku didepan semua peserta perkemahan. Padahal aku tidak berbuat apa-apa terhadap mereka.

Aku mengeluarkan baterai senter. Aku  menarik napas dalam-dalam, lalu aku membungkuk dan memasukkan segenggam laba-laba kedalam selongsong senter.

Isshh. Aku sampai merinding! Bayangkan saja aku harus memegangi laba-laba! Tapi aku tahu pengorbananku takkan sia-sia. Aku mengisi senterku dengan makhluk-makhluk hitam yang bergeliut tanpa henti. Setelah penuh. tutupnya kupasang lagi.

Kemudian aku mencari jalan pulang. Aku melangkahi pohon tumbang. Dalam waktu singkat, jalan setapak sudah ku temukan kembali. Sambil membawa senter dengan hati-hati, aku bergegas ke pondokku.

Aku berhenti didepan pintu. Lampu-lampu di dalam masih menyala. Aku mengintip lewat jendela yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa didalam. Aku pun menyelinap masuk.

Aku menyibak selimut di tempat tidur Tiffany. Kemudian kutuangkan setengah dari laba-labaku ke tempat tidurnya. Selimutnya kurapikan kembali. Sekarang aku akan menuangkankan sisa laba-laba itu di tempat tidur Taeyeon  namun saat aku sedang menuangkannya, terdengar suara langkah di belakangku. Cepat-cepat aku merapikan selimut Taeyeon dan berbalik.

Seseorang muncul di pintu, “hei, apa yang kau lakukan?!”

To be continue… onion-emoticons-set-6-48

TaeNy yang evil! onion-emoticons-set-6-109 Siapa yang mergokin Soo ya? onion-emoticons-set-2-62

Ingat! onion-emoticons-set-6-155 Budayakan meninggalkan jejak onion-emoticons-set-5-31onion-emoticons-set-5-25

[FF] Seoul Camp Lake (Teaser + Chapter 1)

Author : Ashiya
Cast : Choi Sooyoung (Girls’ Generation), Choi Minho (SHINee), Kim Taeyeon (Girls’ Generation), Jessica Jung (Girls’ Generation), Tiffany Hwang (Girls’ Generation), Leeteuk (Super Junior), Kwon Yuri (Girls’ Generation), etc. You’ll find ’em later
Genre : Horror
Rating : T
Disclaimer : This story based on horror fiction series Goosebumps created by R.L Stine
©Copyright : ashiya19.wordpress.com

Teaser onion-emoticons-set-4-5

Seharusnya ikut perkemahan itu asyik, tapi Sooyoung membenci Seoul Camp Lake! Danau di perkemahan itu kotor dan berlendir! Ia tidak mau berenang disana! teman-teman sekamarnya membencinya, sehingga mereka selalu membuat gara-gara dengannya.

Jadi Sooyoung menyusun rencana! Ia akan berpura-pura tenggelam sehingga mereka akan menyesal telah bersikap jahat padanya.

Tapi rencana itu tidak sejalan sesuai keingin Sooyoung! Karena jauh di dasar danau yang dingin dan gelap, arwah seorang gadis membayanginya! Menghantui kemana pun ia pergi! Gadis yang mati penasaran itu menginginkan kematian Sooyoung, agar bisa menemaninya di alam kubur…

Chapter 1onion-emoticons-set-4-9

Sooyoung POV

Hari pertamaku di Seoul Camp Lake tidak bisa dibilang asyik. Aku gugup sekali ketika baru datang. Dan rasanya sempat melakukan hal-hal konyol. Habis, aku memang tidak berniat menghabiskan liburan musim panas diperkemahan yang menempatkan olahraga air sebagai atraksi utamanya. Aku tidak suka berada di alam bebas. Aku tidak suka kalau rumput menyerempet pergelangan kakiku. Aku bahkan tidak suka menyentuh pohon. Dan yang paling penting, aku tidak suka basah-basahan.

Memang sih, sesekali aku juga senang berenang. Tapi jangan setiap hari! Itu kan keterlaluan! Aku suka berenang di kolam renang yang bersih. Jadi begitu aku melihat danau didekat perkemahan, aku langsung merinding. Danau itu pasti penuh makhluk mengerikan. Pasti banyak makhluk seram yang mengintai dibawah permukaan air sambil berpikir: “ayo, Choi Sooyoung, kami sudah menunggumu. Terjun dan berenanglah. Kami akan menggosokkan tubuh kami yang berlendir ke kakimu. Dan kami juga akan menggigit jari kakimu sampai putus, satu persatu!”

Hih! Siapa yang mau berenang di air berlendir? Reaksi Minho justru berlawanan. Saking gembiranya, ia seolah mau meledak.

Ketika kami turun dari bus, ia melompat-lompat sementara mulutnya nyerocos tanpa titik dan koma. Sepertinya ia berbakat menjadi seorang rapper! Aku sempat mengira dia bakal buka baju dan langsung terjun ke danau. Adikku ini memang senang perkemahan musim panas. Ia suka olahraga dan kegiatan di alam bebas. Ia menyukai segala hal dan bisa akrab dengan semua orang. Semua orang juga menyukai Minho. Soalnya ia selalu penuh semangat dan selalu gembira.

Hei, jangan salah sangka, aku bukannya seorang pemurung tapi bagaimana kita bisa gembira kalau tidak ada mall, bioskop atau restoran untuk membeli pizza atau kentang goreng? Bagaimana kita bisa gembira kalau setiap hari harus berendam di danau sedingin es? Di bumi perkemahan yang jaraknya berkilo-kilometer dari kota terdekat? Ditengah hutan lebat lagi?

“wah, liburan disini bakal heboh” seru Minho. Ia menyeret ranselnya dan bergegas untuk mencari pondoknya.

“apanya yang heboh?” aku bergumam dengan lesu. Jadi, kenapa aku datang ke Seoul Camp Lake? Jawabannya cukup dengan 4 kata; karena eomma dan appa.

Mereka bilang aku akan tambah percaya diri kalau berlibur diperkemahan olahraga air. Mereka bilang aku akan merasa lebih nyaman di alam bebas. Mereka juga bilang akan punya kesempatan bertemu teman-teman baru. Memang sih, aku agak sulit berteman. Tidak seperti Minho. Aku tidak bisa menghampiri seseorang dan langsung mengajaknya mengobrol dan bercanda. Aku agak pemalu. Mungkin karena tubuhku lebih jangkung dibanding yeoja lain seusiaku pada umumnya. Aku dan Minho hanya selisih 1 tahun. Aku 19 tahun dan Minho 18 tahun. Aku jangkung dan kurus sekali. Sebanyak apapun aku makan, tubuhku tidak akan bertambah gemuk. Kadang-kadang aku dipanggil “Shikshin” oleh keluargaku karena aku ini sangat doyan makan. Terus terang aku sebal dengan julukan itu, sama sebalnya dengan berenang di danau dingin yang penuh makhluk tersembunyi.

“cobalah untuk menikmati pengalaman ini, Sooyoung.” Eomma berpesan. Aku Cuma bisa menghela napas panjang.

“ne, coba lihat dulu bagaimana keadaan disana” appa menambahkan. “siapa tahu kau menyukainya.” Aku kembali menghela napas panjang. “nanti, kalau tiba waktunya pulang, bisa-bisa kau malah memohon-mohon untuk diajak berkemah lagi!” appa berkelakar.

Aku hendak menghela napas panjang lagi, tapi tiga kali berturut-turut rasanya terlalu banyak. Aku Cuma mendesah, merangkul eomma dan appa, lalu menyusul Minho yang sudah naik ke bus.

Sepanjang jalan Minho terus cengar-cengir. Ia sudah tidak sabar untuk belajar main ski air. Dan ia juga terus bertanya apakah dibumi perkemahan ada menara untuk belajar lompat indah. Minho mendapat tiga atau empat teman baru dalam perjalanan ke perkemahan.

Akhirnya kami tiba di Seoul Camp Lake. Semua peserta perkemahan ini membawa tas masing-masing. Semua tertawa dan bercanda gembira. Rombongan kami disambut sekelompok pembina yang memakai T-shirt biru shappire. Perasaanku mulai lebih enak.

Hmm, mungkin aku bisa mendapat teman baru disini. Mungkin ada anak-anak yang seperti aku dan kami bisa menikmati liburan musim panas bersama-sama.

Aku masuk ke pondokku. Aku melihat ketiga teman sekamarku, lalu memandang sekeliling. Dan kemudian aku berseru, “oh, ini tidak bisa! Pokoknya, tidak bisa!”

**

Aku tahu reaksiku agak berlebihan. Aku tahu baru muncul aku sudah memberi kesan buruk. Tapi bagaimana lagi? Di dalam pondok ada dua tempat tidur tingkat. Ketiga teman sepondokku semuanya yeoja dan mereka sudah memilih tempat tidur. Jadi hanya ada satu yang tersisa, tepat di depan jendela. Dan jendela itu tidak ada kawat nyamuknya. Berarti tempat tidurku akan di hinggapi serangga yang merayap-rayap. Aku langsung tahu semalam suntuk aku bakal sibuk mengusir nyamuk. Di samping itu, aku tidak bisa tidur di bagian atas tempat tidur tingkat. Kalau aku tidur di atas, aku pasti jatuh. Aku harus tidur di bawah, di tempat tidur yang paling jauh dari jendela.

“a…aku tidak bisa!” aku tergagap-gagap.

Ketiga teman sepondokku langsung menoleh. Satu berambut pirang terurai. Di dekatnya duduk seorang yeoja yang sepertinya berdarah campuran Korea-Amerika berambut coklat. Dan ditempat tidur yang bersebrangan dengan jendela berdiri yeoja mungil dengan rambut berwarna kecokelatan yang menatapku sambil mengerutkan kening.

20120326 taeyeon 1

Kurasa mereka ingin menyapaku dan memperkenalkan diri. Tapi aku tidak memberi kesempatan pada mereka.

“salah satu dari kalian harus tukar tempat tidur denganku!” aku memekik. Aku sebenarnya tidak bermaksud memekik. Tapi aku benar-benar panik.

Pintu pondok terbuka sebelum mereka sempat menyahut. Seorang namja berambut pirang dengan T-shirt seragam biru shappire masuk.

“namaku Leeteuk.” katanya. “aku bos disini, alias Pembina kalian. Bagaimana, semuanya beres?”

“tidak!” seruku. Aku tidak sanggup menahan diri. Aku begitu gugup dan tegang. “aku tidak bisa tidur disitu!” ujarku. “aku tidak mau didekat jendela. Dan aku harus tidur ditempat tidur bagian bawah.” Ketiga yeoja itu tercengang melihat tingkahku.

Leeteuk berpaling pada yeoja yang berdiri di samping tempat tidur di seberang jendela. “Taeyeon-ah, maukah kau bertukar tempat tidur dengan…”

“Sooyoung” aku memberitahunya.

“maukah kau bertukar tempat tidur dengan Sooyoung?” Leeteuk bertanya pada Taeyeon. Sepertinya mereka sudah saling mengenal.

Yeoja itu langsung menggeleng kepala dengan tegas, “shireo!” ujarnya. Ia menunjuk yeoja yang duduk sambil memegang tasnya. “Tiffany dan aku tidur sama-sama tahun lalu.” Kata Taeyeon kepada Leeteuk. “jadi tahun ini kami ingin bersama-sama lagi.” Tiffany mengangguk.

“pokoknya aku tidak bisa tidur di depan jendela” aku berkeras. “sungguh. Aku takut serangga.”

Leeteuk menatap Taeyeon dengan tajam. “bagaimana?”

Taeyeon menghela napas. “Baiklah.” Ia meringis padaku. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.

“terima kasih” ujar Leeteuk sambil meraih lengan kiri Taeyeon tapi Taeyeon menepisnya dengan kasar dan menatapku marah. Aku pasti dianggapnya tukar pembuat onar. Taeyeon menyeret tasnya ke tempat tidur di depan jendela.

“biar ku bantu..” Leeteuk menawarkan diri.

“andwae! Shireo!” gertak Taeyeon. Leeteuk hanya menghela napas.

“kita harus bicara nanti.” Ucap Leeteuk pada Taeyeon sebelum keluar dari kamar ini.

“tuh, pakai saja tempat tidurku!” ia bergumam. Nada suaranya sama sekali tidak bersahabat. Aku merasa tidak enak. Belum apa-apa aku sudah dibenci teman-teman sekamarku. Kenapa aku selalu begitu? Kenapa aku selalu gugup dan memberi kesan awal yang buruk kepada orang lain?

Sekarang aku harus berusaha ekstra keras untuk berteman dengan mereka. Tapi semenit kemudian, aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

**

“terima kasih kau mau bertukar tampat tidur, Taeyeon.” Kataku. “kau baik sekali.”

Ia mengangguk tapi tidak mengatakan apa-apa. Tiffany membuka tasnya dan mulai memindahkan pakaiannya ke lemari pakaian. Yeoja berambut pirang menatapku sambil tersenyum.

-c3-Pr-nc3Ss-jessica-snsd-23577682-480-800

“annyeong, aku Jung Sooyeon” ia menyapa. Suaranya seperti anak kecil. “tapi semua orang memanggilku Jessica atau Sica.” Sica tersenyum ramah. Rambutnya yang pirang panjang dan dibiarkan tergerai.

“kau juga berlibur disini waktu musim panas tahun lalu?” aku bertanya padanya.

Ia menggelengkan kepala. “tidak. Taeyeon dan Tiffany memang berlibur disini. Tapi ini pertama kali aku kemari. Tahun lalu aku berlibur di perkemahan tenis.”

“aku baru sekali ini berlibur di perkemahan,” aku berterus-terang. “jadi aku agak gugup.”

“kau jago berenang?” tanya Taeyeon.

Aku mengangkat bahu. “lumayan, sih. Tapi aku jarang berenang. Aku kurang suka.”

Tiffany berpaling dari lemari pakaian. “kau tidak suka berenang, tapi kau berlibur di perkemahan olahraga air?” Taeyeon dan Sica langsung tertawa.

Wajahku mendadak panas. Aku enggan mengaku bahwa aku kemari karena disuruh orangtuaku. Kedengarannya payah banget. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa.

“aku..ehm.. aku suka kegiatan lain.” Aku tergagap-gagap.

“oh, baju renangmu bagus sekali!” seru Tiffany. Ia mengambil baju renang berwarna pink dari tas Taeyeon yang sedang dirapikan pemiliknya dan mengamatinya dengan seksama.

Taeyeon segera merebutnya. “memangnya kau muat!” ia bergumam.

“apa kau tambah kurus selama musim dingin?” Tiffany bertanya padanya. “kau tampak kurusan.”

ashiya19.wordpress.com_Profil_Tiffany_SNSD_02

“berat badanku memang turun sedikit.” Sahut Taeyeon. Ia menghela napas. “tapi aku tidak tambah tinggi.”

“aku tambah tinggi sekitar tiga puluh senti waktu SD.” Aku menimpali. “aku anak perempuan paling jangkung di sekolah. Semua orang menoleh kalau aku lewat.”

“oh, kasihan.” Taeyeon berkomentar sambil meringis. “mungkin kau lebih suka jadi kurcaci seperti aku?”

“ehm.. tidak juga sih” jawabku.

Oops! Baru sekarang aku sadar aku seharusnya tidak berkata begitu. Taeyeon tampak sakit hati. Kenapa aku bilang begitu? Kenapa aku selalu keseleo lidah?

Aku meraih tas ranselku yang masih tergeletak dilantai. Aku membawanya ke tempat tidurku untuk ku bongkar isinya.

“hei, itu ranselku! Mau dibawa kemana?” Sica bergegas menghampiriku.

Aku menatap ransel yang kubawa. “bukan. Ini punyaku.” Aku berkeras.

Aku menarik resletingnya. Dan ransel itu jatuh dari tempat tidur. Setumpuk barang langsung berserakan di lantai pondok. “oh!” aku memekik tertahan. Barang-barang itu bukan milikku. Aku melihat botol-botol obat dan alat pernapasan dari plastik. “obat asma?” seruku.

Jessica cepat-cepat berlutut dan memungut barang-barangnya. Ia menatapku dengan gusar. “kenapa kau harus memberitahu semua orang bahwa aku asma? Kenapa tidak sekalian saja kau mengumumkannya saat acara api unggun nanti malam?”

“mianhae..” aku bergumam.

“kan sudah ku bilang itu ranselku!” hardik Sica.

Tiffany membungkuk dan membantu mengumpulkan barang-barang Sica. “kau tidak perlu malu karena asma” katanya.

“itu urusanku sendiri.” balas Sica dengan ketus. Ia memasukkan semua obat-obatan kedalam kantong dan menarik ranselnya.

“mianhae,” aku berkata lagi.

Mereka bertiga menatapku tajam. Tiffany geleng-geleng kepala. Taeyeon berdecak-decak. Mereka membenciku. Aku sedih sekali.

Mereka membenciku, padahal ini baru pertama. Aku baru satu jam berkenalan dengan mereka. Aku menghela napas dan duduk di tempat tidur. Rasanya tidak ada keadaan yang lebih parah dari pada ini, pikirku.

Tapi ternyata aku keliru.

**

Malam itu pertama kali kali membuat api unggun di lapangan luas di dekat hutan. Balok-balok kayu di susun melingkar untuk di gunakan sebagai bangku. Aku mencari tempat kosong dan duduk membelakangi pepohonan. Api unggun besar di hadapanku menari-nari dan menerangi langit senja yang kelabu. Para Pembina melemparkan lebih banyak ranting ke dalam api. Dalam sekejap lidah apinya sudah lebih tinggi dari mereka. Aku berbalik dan memandang ke hutan. Pohon-pohon yang gelap tampak berayun pelan karena tiupan angin. Dalam cahaya remang-remang, aku melihat seekor tupai melintas diantara alang-alang. Aku bertanya-tanya, makhluk apa lagi yang mengintai di hutan gelap itu? pasti ada binatang yang lebih besar daripada tupai. Lebih besar dan lebih berbahaya.

KRAK!!

Bunyi patahan api unggun membuatku tersentak kaget. Seram juga di luar kalau sudah gelap. Kenapa api unggunnya tidak di buat didalam ruangan saja? di tempat perapian, misalnya?

Aku melihat Tiffany dan Taeyeon duduk di salah satu balok kayu. Mereka sedang tertawa-tawa sambil mengobrol dengan Leeteuk dan seorang pria yang tidak kukenal tapi dilihat dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya ia juga salah satu dari pembina kami.

Aku melihat Minho duduk diseberang api unggun. Ia sedang bercanda dengan dua anak laki-laki. Mereka bergulat dan saling dorong. Aku menghela napas. Minho sudah mendapat teman-teman baru. Semua sudah mendapat teman baru, kecuali aku.

Di balok kayu sebelah, tiga orang yeoja duduk sambil mendongakkan kepala. Mereka sedang menyanyikan lagu kebesaran Seoul Camp Lake. Aku mendengar mereka sambil mencoba menghapal syair lagu itu. tapi ditengah jalan mereka mulai tertawa cekikikan dan berhenti bernyanyi.

Dua yeoja yang merupakan Pembina kami duduk di ujung balok yang ku duduki. Aku menoleh untuk menyapa mereka tapi mereka terlalu asyik mengobrol berdua.

Leeteuk, si ketua Pembina, melangkah ke depan api unggun. Ia memakai topi rusa yang membuatnya tampak menggelikan. Setidaknya menurutku begitu.

teuk561

Celananya tampak kotor akibat mempersiapkan api unggun tadi. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “semua sudah kumpul?” ia berseru. Suaranya nyaris tidak terdengar. Semua masih asyik mengobrol dan tertawa. Dibalik api unggun aku melihat Minho bangkit dan menggeliat-geliut tak karuan. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka mengajak Minho berhigh-five.

“sudah bisa dimulai?” Leeteuk berseru. “acara api unggun selamat datang sudah bisa dimulai?”

Sebuah balok kayu berderak di makan api. Bunga api berwarna merah beterbangan ke segala arah. “oh!” aku memekik ketika ada yang menyentuh pundakku.

“nugu..?” aku langsung berbalik dan melihat Tiffany dengan Taeyeon. Mereka berdiri dihadapannku. Raut muka mereka ketakutan.

“Soo, lari!” Tiffany berbisik.

“ireona, ppali~!” Taeyeon menarik-narik lenganku. “lari!”

“wae?” tanyaku kalang kabut. Aku cepat-cepat berdiri. “ada apa, sih?”

“namja-namja itu,” Taeyeon berbisik. Ia menunjuk ke seberang api unggun. “mereka melempar petasan ke dalam api. Sebentar lagi petasannya akan meledak!”

“lari!!!” keduanya berseru. Taeyeon mendorongku dari belakang. Aku terhuyung-huyung sejenak. Lalu melesat maju. Sambil berlari aku memejamkan mata rapat-rapat. Petasannya sudah mau meledak! Apakah aku sempat lari? Apakah Taeyeon dan Tiffany juga bisa meloloskan diri?

Aku mendadak berhenti ketika mendengar suara tawa. Tawa berderai-derai.

“hah?” aku menelan ludah dan menoleh ke belakang.

Ternyata separuh peserta perkemahan sedang menertawakanku. Taeyeon dan Tiffany berhigh-five.

“oh, aisshh,” aku mendengus. Bisa-bisanya aku ketipu. Dan tega-teganya mereka mempermainkanku seperti ini. Mereka pasti telah menyuruh semua anak memperhatikanku. Rasanya semua mata tertuju kearahku ketika aku berdiri sendirian di tepi hutan. Aku melihat Sica tertawa. Dan aku melihat Leeteuk dan beberapa Pembina lain tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Ara! Ara! Seharusnya aku ikut tertawa. Seharusnya aku menganggap semuanya cuma lelucon saja. Seharusnya aku tidak kesal. Tapi sejak awal kedatanganku kesini perasaanku sudah tidak enak. Aku gugup sekali. Aku berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan lagi.

Pundakku mulai bergetar. Dan mataku mulai berair. Andwae! Jangan menangis! Kau tidak boleh menangis didepan seluruh peserta perkemahan. Memang, kau pasti malu sekali, Choi Sooyoung. Tapi sudahlah. Ini Cuma lelucon. Lelucon konyol. Seseorang menggamit lenganku. Aku segera melepaskan diri.

“noona..” Minho muncul disampingku. Ia menatapku dengan matanya yang bulat.

“aku tidak apa-apa,” ujarku dengan ketus, “pergilah!”

“jangan sewot gitu dong!” ia berkata pelan. “kenapa sih kau susah sekali diajak bercanda? Ini kan cuma lelucon. Kenapa kau harus marah-marah gara-gara lelucon konyol?”

Kau tau apa yang paling kubenci? Aku paling benci kalau ucapan Minho benar. Maksudku, Minho adikku kan? Kenapa justru Minho yang selalu tenang dan kalem? Aku benar-benar sebal kalau Minho bersikap seakan-akan ia kakakku.

“jangan sok tahu!” aku menggeram. “sudah, jangan ganggu aku lagi.” Aku mendorongnya kearah api unggun. Ia hanya angkat bahu dan kembali ke teman-temannya. Aku berjalan lambat-lambat tapi tidak kembali ke tempat dudukku tadi. Balok itu terlalu dekat dengan api unggun….dan terlalu dekat dengan Taeyeon dan Tiffany. Aku memilih balok kayu didekat tepi hutan, yang tak terjangkau cahaya api unggun. Kegelapan di sekelilingku terasa menyejukkan dan sekaligus membantu menenangkan diriku.

Sejak tadi Leeteuk terus berbicara. Aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakannya. Ia berdiri di depan api unggun. Suaranya besar dan lantang. Tapi semua anak mencondongkan badan ke depan untuk mendengar lebih jelas.

Aku memandang berkeliling. Wajah para peserta perkemahan bersinar jingga karena memantulkan cahaya api unggun. Mata mereka tampak berbinar-binar. Dalam hati aku bertanya apakah ada diantara mereka yang sepertiku? Aku tahu aku mengasihani diriku sendiri dan bertanya-tanya, adakah diantara mereka yang baru sekali ini berkemah yang merasakan perasaan yang sama.

Suara Leeteuk terngiang-ngiang di telingaku. Ia mengatakan sesuatu tentang bangunan utama. Lalu ia menyinggung soal jadwal makan. Lalu ia berbicara tentang handuk. Dan kemudian secara mengejutkan ia berkata bahwa ia mencintai seseorang. Kau tahu siapa? Yeoja mungil yang memiliki mata indah dan sekamar denganku. Ya, Taeyeon. Aku baru tahu ternyata marganya adalah Kim. Ia terlihat tersipu-sipu saat Leeteuk menariknya ketengah lapangan dan menyatakan perasaannya. Hmh.. kapan aku bisa seperti itu? beruntung sekali Taeyeon.

Setelah selesai sesi “katakan cinta” itu, Leeteuk memperkenalkan coordinator kegiatan olahraga air. Namanya Kwon Yuri.

Semua orang bertepuk tangan ketika Yuri melangkah maju. Salah satu namja peserta perkemahan malah bersuit-suit.

“wow, boleh juga!” seru yang lainnya. Semuanya tertawa. Yuri pun tersenyum. Ia sadar penampilannya memang heboh. Ia mengenakan celana pendek dan atasan tanpa lengan membentuk tubuhnya yang langsing dan sexy.

kkab-yul1

Aku menoleh kearah Minho. Kulihat ia tampak terpesona dengan Yuri. Ternyata uri dongsaeng sudah besar.

Yuri melambaikan tangan, meminta semuanya tenang. “kalian semua senang disini?” ia berseru. Semua peserta bersorak-sorai dan bertepuk tangan. Beberapa laki-laki kembali bersuit-suit. “nah, besok adalah hari pertama di danau.” Yuri mengumumkan. “tapi sebelum kalian masuk ke danau, ada beberapa peraturan yang harus kalian ketahui.”

“Misalnya, jangan minum air danau!” Leeteuk menimpali. “kecuali kalau kalian benar-benar haus!” beberapa anak tertawa. Aku diam saja. Ish, mana mungkin ada yang mau minum air kotor berlendir itu?

Yuri juga tidak tertawa. Ia menatap Leeteuk sambil mengerutkan kening. “kita harus serius,” ia menegur rekannya.

“aku memang serius!” Leeteuk berkelakar. Yuri tidak menggubrisnya.

“ya! ajussi, lebih seriuslah sedikit. Kau membuatku malu saja!” teriak Taeyeon dari bangku balok kayu.

“mwo?? Ajussi?? Ya, ajumma! Kenapa kau memanggilku ajussi??”

“karena kau seperti ajussi penjual baso ikan dekat  rumahku!” balas Taeyeon. Semua peserta kembali tertawa-tawa. Pasangan yang aneh. Baru saja mereka bermesra-mesraan sekarang mempertengkarkan hal tidak penting seperti itu.

“kalau kalian kembali ke pondok masing-masing nanti, kalian akan menemukan daftar peraturan di tempat tidur,” Yuri melanjutkan sambil menyibakkan rambutnya yang panjang. “ada 20 peraturan pada daftar itu dan kalian harus menghapal semuanya.”

Mwo?? Dua puluh peraturan? Mana mungkin ada dua puluh peraturan? Kenapa banyak sekali?! Liburan musim panas kurang panjang untuk menghapalkan dua puluh peraturan.

Yuri mengangkat selembar kertas. “kita akan membahas semuanya satu persatu sekarang. Silakan tanya kalau kurang jelas.”

“apakah kami sudah boleh berenang sekarang?” seru anak laki-laki yang bermaksud melucu. Sebagian besar anak tertawa. Tapi Yuri diam saja. jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. “itu peraturan nomor delapan,” jawab Yuri. “dilarang berenang pada malam hari, meskipun kalian ditemani Pembina.”

“jangan sekali-kali berenang kalau ada Pembina!” Leeteuk bergurau. “soalnya mereka semua membawa kuman!”

Leeteuk memang kocak, tapi Yuri kelihatan begitu serius. “peraturan paling penting di Seoul Camp Lake adalah sistem pasangan.” Yuri mengumumkan. “setiap kali kalian bermain di danau, kalian harus didampingi pasangan kalian.” Ia menatap para peserta yang duduk disekelilingnya. “walaupun kalian cuma jalan-jalan di air semata kaki, kalian harus didampingi pasangan,” katanya. “kalian bebas berganti pasangan setiap kali. Atau bisa juga kalian memilih satu pasangan untuk sepanjang liburan. Tapi kalian harus selalu punya pasangan.”

“Taeyeon, kau harus selalu berpasangan denganku! Jangan lirik-lirik yang lain!” ucap Leeteuk membuat tawa Taeyeon yang tadinya bercanda dengan Tiffany menurun.

“shireo! Memangnya kau siapa?” balas Taeyeon.

“ya! aku ini namjachingu mu!”

Yuri menarik napas dalam-dalam berusaha tidak memperdulikan ocehan kedua orang itu. “ada pertanyaan?”

“mau kah kau jadi pasanganku?” seru salah satu peserta laki-laki.

Semuanya tertawa. Aku juga. Canda anak itu memang benar-benar pas. Tapi sekali lagi Yuri tidak terpengaruh. “sebagai coordinator olahraga air, aku akan bertindak sebagai pasangan semua peserta kemah,” ia menjawab dengan serius. “sekarang, peraturan nomor dua,” ia melanjutkan. “jangan berenang terlalu jauh dari perahu-perahu pengaman. Peraturan nomor tiga, dilarang berteriak atau berpura-pura mengalami kesulitan di dalam air. Jangan bergurau. Jangan main-main. Peraturan nomor empat…” ia terus berbicara sampai kedua puluh peraturan selesai dibacakannya.

Aku menghela napas. Yuri memperlakukan kami seperti anak-anak lima tahun. Padahal usia kami semua tidak begitu jauh. Banyak sekali peraturan yang harus di hapal.

“aku akan mengulang sekali lagi soal system pasangan..” Yuri berkata.

Aku memandang lewat api unggun dan melihat danau yang gelap. Permukaannya tampak licin dan hitam dan juga tenang. Di danau itu hanya ada riak kecil. Tak ada arus. Tak ada gelombang pasang yang berbahaya.

Jadi kenapa harus ada begitu banyak peraturan? Apa yang harus ditakutkan?

To be continue…onion-emoticons-set-4-8

Jangan lupa RCL!  onion-emoticons-set-2-59