Blog Archives

[FF] Trouble Maker – Chapter 25

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 25 : Taeyeon is Annoying
Taeyeon mengetuk pintu Sanatorium. Ibu Asrama sedang berada didalam, merawat 2 orang anak yang sedang sakit. Ibu Asrama keluar mendengar ketukan Taeyeon.
“ada apa?” tanya Ibu Asrama. “kau tidak boleh masuk.”
“arasseo,” kata Taeyeon. “tanganku terkilir. Mugnkin anda bisa mengobatinya.”
Ibu Asrama memeriksa pergelangan yang bengkak itu. “wah, pasti sakit sekali rasanya. Bagaimana kejadiannya?”
Taeyeon menceritakan apa yang terjadi. Ibu Asrama merendam kain perban dalam air dingin dan membebatkannya erat-erat dipergelangan yang sakit itu.
“apakah bisa cepat sembuh?” tanya Taeyeon. “untung bukan tangan kananku.”
“kukira agak lama. Jangan digerak-gerakkan, ya. begini, akan kubuatkan penggantung tangan dari saputangan ini, dan ku belitkan ke lehermu. Nah, kurasa ini cukup membantu.”
Sudah lewat waktu minum teh. Ibu Asrama mengajak Taeyoen ke kamarnya, dan ia diberi beberapa potong roti bakar. Taeyeon sangat lelah dan pucat. Rasanya ia tak ingin makan apapun, tapi tergiur juga oleh roti bakar selai strawberry itu. tak lama ia telah memakannya sambil minum coklat hangat yang juga dihidangkan oleh Ibu Asrama.
Kemudian ia kembali ke kamarnya, teman-temannya telah menunggunya didepan asrama. Sunny segera berlari menjemputnya, bertanya khawatir, “Taeng? Apa kau luka? Parah?”
“ani. Hanya sakit sekali rsanya,” kata Taeyeon. “tapi lumayan juga karena Ibu Asrama telah membebatnya. Seperti biasa ini memang salahku sendiri. aku tak sabar menunggu Yesung. Lalu kupasang pelana pada Genie untuk Sehun. Dan ternyata Genie melarikan diri!”
“kasihan sekali kau.” Kata Sulli.
Yesung tak berkata apa-apa. Wajahnya tampak masih marah.
Tak lama kemudian Suhun muncul. “nunna, bagaimana pergelangan tanganmu? Aku sangat menyesal. Kurasa kau tidak akan bisa main piano.”
Taeyeon belum pernah memikirkan hal itu. ia ternganga terkejut oleh kata-kata Sehun.
“ommo! Benar juga! Aku lupa itu. oh, padahal aku ingin sekali berlatih lebih keras lagi minggu ini. dan sekarang aku hanya punya satu tangan!”
Semua anak merasa kasihan padanya. Yesung mengangkat kepalanya dan berkata, “sayang sekali, taeng. Kuharap tanganmu sudah sembuh nanti pada saat pertunjukan akhir semester.”
Taeyeon gusar sekali. Tak terasa airmatanya mulai menetes lagi, dan cepat-cepat ia menghapusnya. Ia tidak ingin teman-temannya tahu ia menangis. Ia pergi ke salah satu ruang latihan music. Sendiri ia duduk dikursi piano, menopang kepalanya ke standar buku music. Ia sangat marah pada dirinya sendiri, berbuat sebuah kebodohan yang seperti biasa membuahkan kesulitan bagi dirinya sendiri.
Kangta masuk menggumamkan sebuah lagu. Ia tak melihat Taeyeon, sampai kemudian ia menyalakan lampu. Ia heran melihat Taeyeon sendirian di ruangan gelap itu.
“ada apa?” tanya Kangta. “kenapa kau menangis?”
“sebab yang kau katakan terjadi,” kata Taeyeon dengan sedih. “kau mengatakan bahwa aku jadi sombong akan permainan pianoku. Dan kau berkata pula yang angkuh akan jatuh. Kau benar. Aku telah melakukan sesuatu yang bodoh. Dan pergelangan tanganku sekarang sakit. Aku tidak akan bisa main piano bersamamu. Aku tidak akan bisa memainkan duit denganmu di akhir semester nanti.”
“oh, sayang sekali.” Kata Kangta kecewa. “jadi aku akan terpaksa bermain dengan Sungmin. Padahal ia jauh sekali darimu, Taeyeon, dalam hal kepandaian bermain piano.”
“harusnya kau tidak berkata’yang angkuh akan jatuh’,” tangis Taeyeon. “aku merasa seolah-olah kaulah yang membuat semua ini terjadi.”
“babo! Benar-benar kekanak-kanakan pikiranmu, ateng. Bagaimanapun, bergembiralah. Mungkin keadaan ini tidak akan seburuk yang kau duga. Hmm..kau masih bisa tampil dengan Kyuhyun, Jessica dan Donghae. Kupikir kemampuan menyanyimu jauh diatas permainan pianomu. Sudahlah, sekarang akan kumainkan sebuah lagu untukmu. Turunlah dari kursimu.”
Taeyeon turun dari kursi piano, dan duduk dikursi disudut ruangan. Marah dan lelah. Ia tak senang pada Sehun dan kudanya yang melarikan diri. Ia tak senang pada Kangta. Ia tak senang pada Yesung. Ia tak senang pada dirinya sendiri. ia marah. Kesal. Lelah. Tak ingin merasa senang pada siapapun dan apa pun. Tapi music Kangta membuat segalanya berbeda. Sedikit demi sedikit kerut di kening yeoja itu menghilang. Ia menyandarkan diri, merasakan nada-nada lembut piano mengisi kesunyian ruangan itu. Kangta tahu benar bahwa music akan bisa menyejukkan hati Taeyeon.
Sebelum lagu Kangta habis, Taeyeon menyelinap keluar, kembali asrama. Mungkin pergelangan tangannya akan membaik besok. Mungkin ia terlalu khawatir untu ksuatu persoalan kecil.
“Taeyeon, ayo bantu aku menyelesaikan puzzle ini,” ajak Amber, “entah yang mana yang bisa masuk tempat ini.”
Semua bersikap baik pdanya. Taeyeon bersyukur tapi ia lebih gembira lagi waktu lonceng tidur berbunyi, sebab kakinya terasa kaku, dan pergelangan tangannya sakit. Ibu Asrama memeriksanya sekali lagi, mengganti bebatnya dan menaruhnya digantungan tangan.
“lebih baik kau memakai gantungan tangan itu dulu,” kta Ibu Asrama, “agar tak banyak bergerak dan tak terlalu terasa sakit.”
Taeyeon berharap mudah-mudahan sakitnya sembuh saat ia bangun besok. Tapi ternyata tidak, tangannya masih bengkak dan memar, walaupun tak begitu terasa sakit. Ia tidak akan mungkin main piano. Tapi setidaknya ia memutuskan akan bernyanyi berempat bersama Jessica, Kyuhyun, dan Donghae.
Kemudian Taeyeon baru sadar betapa sulitnya mengerjakan hal-hal sepele dengan satu tangan. Ia tak bisa mengikatkan pita rambutnya. Ia tak bisa mengikatkan tali sepatunya. Ia tak bisa mandi dengan baik. Bahka ia tak bisa mengancingkan bajunya sendiri.
Teman-temannya semua membantu apa yang bisa mereka lakukan. Tapi Taeyeon begitu kesal hingga sulit untuk dibantu. Ia tak mau berdiri tenang. Ia menggeleng-gelengkan kepala waktu Sunny mencoba merapikan rambutnya. Ia menghentakkan kaki waktu Amber mencoba mengancingkan bajunya, sehingga kancing-kancing itu banyak yang salah lubang karena Taeyeon tidak bisa diam.
“aigoo!” seru Sunny. “kau kembali jadi yeoja badung lagi! Kau benar-benar menyebalkan bagi semua orang!”
“kau juga pasti begitu kalau mengalami kejadian seperti ini,” kata Taeyeon mara, “kalau saja yang sakit tangan kananku, makan aku pasti boleh tidak mengikuti semua ulangan akhir semester. Tapi karena tangan kiriku yang sakit, maka aku harus tetap mengikuti semua ulangan, sementara aku terpaksa tak bisa mengikuti semua kegiatan yang paling kusukai. Olahraga, naik kuda, berkebuh, music,…oh, betul-betul sial aku ini!”
Beberapa hari kemudian Ibu Asrama berkata bahwa Taeyeon sudah boleh menggunakan tangannya lagi. Tapi malang bagi Taeyeon, tangan kirinya itu kini serasa tak punya kekuatan, hingga ia tak berani sering-sering menggunakannya. Dokter juga berkata ia tak boleh memaksa tangan kiri itu, segalanya harus dilakukan secara bertahap. Ia harus bersabar.
Itulah salah satu yang paling tak bisa dilakukan Taeyon. Bersabar! Ia sedang gusar, dan itu tak menyembunyikannya. Ia cepat tersinggung. Semua anak segera tahu hal itu. ia marah pada Kangta karena sekarang Kangta berlatih duet dengan Sungmin.
Dan ternyata ia juga tak bisa ikut bermain drama, sebab ia berperan sebagai prajurit yang harus melakukan beberapa gerakan dengan senjata yang tak bisa dilakukannya dengan pergelangan tangannya yang lemah itu. habis kesabaran Taeyeon.
Teman-temannya sanat khawatir akan perkembangannya. Juga sangat kecewa. Mereka terus membicarakannya.
“maikn lama ia makin menyebalkan,” kata Sulli. “makin pemarah. Tak seorang pun bisa melakukan sesuatu untuknya. Ada-ada saja alasan baginya untuk marah. Ia tak bisa tidak menaruh kasihan pada dirinya sendiri yang telah kehilangan begitu banyak kegiatan yang digemarinya. Sayang sekali ia tidak bisa ikut berolahraga, padahal ia sangat menyukai semua cabang olahraga.”
“ayo kita pikirkan sesuatu yang bisa dilakukannya,” kata Sunny. “misalnya saja berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Atau mungkin ia bisa menghibur Kris yang masih harus berbaring di Sanatorium, membacakan buku untuknya misalnya. Banyak sekali yang bisa dikerjakan. Taeyeon juga pandai merancang dan melukis, mungkin ia bisa membantu dengan membuat beberapa buku acara untu kpertunjukan drama kita. Ia masih bisa menulis dan melukis dengan tangan kanan. Kita juga memerlukan mahkota-mahkota emas, Yesung berjanji akan membuatnya, dan Taeyeon mungkin bisa membantunya mengecatnya dengan cat emas.”
Semua setuju bahwa jika Taeyeon diberi tugas-tugas, mungkin sekali ia akan melupakan kemarahannya. Maka satu persatu mereka mendatangi Taeyeon untuk minta dibantu ini-itu.
Taeyeon anak cerdas. Ia segera mencium maksud teman-temannya itu. mula-mula ia cenderung untuk langsung menolak permintaan mereka. Untuk apa ia melakukan sesuatu untuk kesenangan orang lain, padahal dirinya sendiri tak bisa merasa senang? Sunny melihat air muka masam Taeyeon, lalu segera menuntunnya keluar.
“kajja, ikut jalan-jalan,” kata Sunny. “dan kita bisa mengobrol. Aku sekarang seorang Pengawas dan aku punya hak untuk menasihatimu dan menolongmu.”
Mereka berjalan-jalan di taman. “aku tahu apa yang akan kau katakan,” kata Taeyeon. “kau akan berkata bahwa tindahku buruk sekali. Aku tidak akan bisa jadi Pengawas sepertimu, aku tidak akan bisa melupakan kepentingan diriku sendiri, aku tidak akan bisa turun tangan jika ada sesuatu yang kuanggap tidak beres.”
“Taeyeon, kau benar-benar bodoh.” Kata Sunny dengan sabar. “kau tidak tahu apa yang bisa kau lakukan sebelum kau mencobanya. Semester ini tinggal 2 minggu lagi. Jangan membuat waktu yang singkat itu tak menyenangkan bagimu. Kami semua menyukaimu, mengagumimu. Jangan sampai hal kecil seperti sakit pergelangan tanganmu itu membuat perasaan kami padamu berubah, membuat kami tak senang padamu, tak kagum padamu. Kau sebenarnya memang sangat mengesalkan. Kau membuat segalanya sulit bagi sahabat-sahabatmu.”
Taeyeon menendang sebuah batu dijalan. Mengapa ia membuat teman-temannya kesal, pikirnya, padahal sakit tangannya itu karena kesalahannya sendiri. ia benar-benar tak bisa berpikir dewasa! Akhirnta Taeyeon memegang tangan Sunny.
“baiklah, Pengawas! Akan ku bantu kau sejauh aku mampu. Aku akan membuat buku acara, kau akan berlatih vocal dengan Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Aku akan membacakan buku untuk Kris. Aku akan mengecat mahkota emas itu. kalau tinggal 2 minggu saja aku tak bisa bersikap baik, sungguh keterlaluan, bukan?”
“sebenarnya karena kami tahu bahwa kau mempunyai pribadi yang kuat, maka kami tak rela tiba-tiba kau berkepribadian lemah. Baiklah, lakukan apa saja yang kau rasa baik.”
“sekali Taeyeon membaut keputusan, maka keputusan itu pasti dilakukannya. Seperti juga ia bisa tak sabaran, maka ia pun bisa bersabar hati. Seperti juga ia bisa jadi pemurung, ia pun bisa bersikap ceria. Dan perubahan ini berlangsung seketika!
Ia langsung membuat rencana buku acara. Ia bisa memegang kertas dengan tangan kiri, hingga dengan mudah ia bisa menggambar dengan tangan kanan. Tak lama ia sudah menyelesaikan 6 buah buku acara. Indah dan menarik, dan dikagumi teman-teman sekelasnya. Taeyeon sangat gembira.
“sekarang aku akan menjadi anak baik dan aku akan berlatih vocal bersama Kyuhyun, Donghae, dan Jessica. Yah, setidaknya aku bisa tampil di pertunjukan akhir semester meskipun tidak bermain piano. Dan kemudian mengunjungi Kris. Membacakan sebuah buku untuknya,” katanya sambil tersenyum riang pada siapa saja. begitu ia keluar ruangan, semua tertawa.
“ia memang bukan main badungnya, tapi kita menyukainya,” kata Sulli. Dan semua anak setuju pada pendapat itu.
to be continue..

readers, 1 chapter lagi tamat nih, hohoho

[FF] Trouble Maker – Chapter 24

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 24 : The Scary Experience
Bulan Desember tiba. Sekolah SM sibuk mempersiapkan berbagai pertunjukan untuk akhir semester nanti. Cuaca sering buruk, sehingga banyak kegiatan di luar gedung terpaksa dibatalkan.
“bahkan untuk berkebun juga tidak baik,” gerutu Changmin, kemudian melihat keluar jendela. “tanah begitu lembek sehingga tidak bisa digali.”
“bisa sih bisa tapi kau akan basah kuyup,” kata Sunny. “seharusnya kau cari kesibukan lain. Tapi mestinya kau akan sibuk menekuni buku-buku berkebunmu.”
Sunny bangga sekali menjadi Pengawas. Dilakukannya semua tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh kebanggaan. Diperhatikannya betul-betul bahwa anak-anak dibawah pengawasannya tidak ada yang melanggar peraturan. Dan kalau mereka datang padanya minta bantuan atau pertolongan, maka ia berusaha keras untuk bisa membantu, paling tidak dengan nasihat. Ia juga harus bertindak selalu bijak dan sabra, dan ini tak begitu sulit baginya, karena pada dasarnya ia memang anak yang bijak dan baik hati.
Taeyeon merasa sangat gembira Sunny menjadi Pengawas. Ia sama sekali tidak merasa iri, walaupun ia punya keinginan juga menjadi Pengawas. Lagi pula Sunny telah berada lebih lama darinya. Ia harus mampu menunggu gilirannya dengan sabar, walaupun sabar bukan salah satu sifat Taeyeon.
Taeyeon dengan tekun berlatih music, dan melatih duetnya dengan Kangta berkali-kali. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa bermain sangat bagus dibidang music. Mr. Shin sering memujinya.
“Taeyeon, kau berlatih terlalu rajin. Permainanmu sangat luar biasa baiknya semester ini.”
Taeyeon merasa bangga. Asha! Akan ditunjukkannya pada semua orang betapa pandainya dia bermain music. Kalau orangtuanya hadir, pasti mereka heran dan bangga melihat dia bermain duet begitu sulit dengan orang sehebat Kangta.
“kau tampaknya jadi terlalu sombong akan permainanmu, Taeyeon,” kata Kangta. Kangta kalau bicara memang selalu ceplas-ceplos, tidak pernah dipikir sebelumnya, kadang-kadang memang menyakitkan hati. “sayang sekali. Aku menyukai permainanmu. Tapi aku tidak suka kalau kau jadi sombong karenanya.”
“jangan bicara begitu, oppa,” kata Taeyeon, meluap amarahnya tapi ditahannya. “bukankah aku tidak berkata padamu bahwa kau juga sombong?”
“aniya. Sebab aku memang tidak sombong. Aku tahu benar aku punya bakat music. Aku tahu benar itu anugrah Tuhan, sesuatu yang membuatku bersyukur. Dan aku akan selalu menggunakan bakatku itu sebaik mungkin. Tapi aku tidak akan pernah menyombongkannya.
Taeyeon merasa tersinggung. Terutama karena ia tahu bahwa kata-kata Kangta ada benarnya. Ia memang sedikit besar kepala karena terlalu sering dipuji!
“tapi kenapa aku tidak boleh membanggakan kepandaianku,” pikir Taeyeon. “aku tidak memiliki bakat hebat seperti Kangta. Kepandaianku karena hasil jerih payahku, sudah selayaknya aku patut berbangga, bukan?”
Karena itu Taeyeon tetap saja merencanakan untuk memamerkan kepandaiannya pada pertunjukan akhir semester. Ia akan membuat semua orang kagum akan kepandaiannya memainkan piano. Tapi memang, siapa sombong akan terdorong, siapa angkuh akan jatuh, dan siapa takabur akan hancur. Taeyeon juga akan tahu itu, dengan cara yang cukup mengerikan.
Taeyeon, Yesung, Changmin, dan Amber telah merencanakan untuk pergi berkuda disuatu sore, sebelum waktu latihan olahraga. Sehun mendadak muncul dan minta pada Yesung agar ia juga diperbolehkan ikut.
“tidak bisa, Sehun-ah,” kata Yesung. “kuda yang biasa kau tunggangi pincang, dank au belum begitu bisa menguasai yang lain. Tunggu saja sampai kudamu sembuh.”
“oh, ayolah, biarkan aku naik kuda yang lain,” pinta Sehun. “kau kan tahu, aku sudah cukup bisa berkuda.”
“biarlah dia ikut, Yesung,” kata Taeyeon. “ia bisa naik Genie.”
“Tapi Genie hari ini agak aneh,” kata Yesung. “baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau keadaan Genie membaik jam 2 nanti, kau boleh ikut.”
Sudah jam 2. Ternyata Yesung belum berada di kandang. Yang lain sudah berkumpul. Taeyeon memasang pelana pada kuda-kuda yang akan mereka tunggangi. Dan Yesung belum juga muncul.
“aigoo..” keluh Taeyeon. “ini sudah jam 2 lebih 10 menit. Yesung kemana sih? Kita membuang-buang waktu saja.”
Sehun cepat berlari untuk mencari Yesung. Tapi beberapa menit kemudian ia telah kembali dan berkata bahwa ia tak bisa menemukan Yesung.
“geurae, kalau kita ingin berkuda, sebaiknya cepat berangkat,” kata Taeyeon. “bisa habis waktu kita nanti.” Ia memanggil pengurus kuda.
“Hey, Tao! Bolehkah aku memasang pelana Genie? Apa Genie sudah baik?”
“dia tampaknya agak gelisah,” sahut Tao. “lihat saja sendiri.”
Taeyeon pergi ke kandang Genie. Kuda kecil itu segera menciumi tangannya. Taeyeon menggaruk-garuk hidung Genie dan berpikir, “sepertinya kuda ini baik-baik saja.” dan ia berkata pada Sehun, “kurasa kuda ini sudah baik, Sehun-ah. Baiklah kupasangkan pelanamu. Aku yakin Yesung akan berkata bahwa kau boleh menungganginya.”
Cepat-cepat Taeyeon memasang pelana pada Genie, dan Sehun langsung melompat kepunggung kuda itu. keempat anak itu tak lama kemudian sudah berkuda di padang rumput.
“kita tak punya banyak waktu!” seru Taeyeon. “tinggal 20 menit! Setelah sampai di bukit, kembali lagi saja!”
Mereka berderap di jalan yang menuju ke bukit. Dan terjadi sesuatu!
Ketika mereka menikung, dari arah depan ternyata sebuah mesin penggilas muncul, menderu-deru dan menderam-deram. Genie melonjak ketakutan. Sehun mencengkram kendalinya.
Cepat-cepat Taeyeon memajukan kudanya, mencoba menyambar kendali Genie. Tapi Genie mengibaskan kepala, meringkik keras dan melesat memasuki sebuah gerbang yang terbuka kearah sebuah padang.
Dan Genie melarikan diri! Ketiga anak yang tertinggal itu sesaat ternganga ketakutan, kasihan sekali Sehun! Dibawa lari Genie, berpegangan erat-erat ketakutan, sementara kudanya bagaikan gila berlari menyebrangi padang berbatu menuju bukit.
“akan kukejar dia!” teriak Taeyeon. Dibelokkannya kudanya, berpacu cepat memasuki padang. Ia berteriak pada kudanya, ia menepuk punggung kuda itu. dan sang kuda mengerti ia harus mengejar Genie yang lari tak terkendali itu.
Menyebrangi padang berbatu itu Taeyeon terus mengejarnya, sementara Changmin dan Amber terpaku ketakutan. Dikejauhan Genie juga terus berpacu, membawa Sehun dipunggungnya.
Kuda Taeyeon jauh lebih besar dan lebig cepat daripada Genie. Dan ia pun sangat senang berlari cepat. Kakinya mengepak keras membuat kerikil beterbangan. Dan Taeyeon terus saja membujuk agar ia berlari lebih cepat lagi! Untunglah ia cukip pandai berkuda dan ia sangat mempercayai kudanya. Mereka berpacu terus, dan makin lama makin dekat dengan Genie.
Saat itu Genie sudah mulai terengah-engah, sebab mulai menanjak lereng bukit yang terjal. Kini ia mulai menderap lambat, sementara Sehun berusaha keras menghentikannya. Tapi Genie masih ketakutan.
Taeyeon terus berpacu dan akhirnya menyusul Genie. Tapi Genie jadi ketakutan lagi melihat kedatangannya. Ia menjulurkan leher dan mulai berlari cepat lagi.
Untung Taeyeon berhasil menyambar cepat kendalinya. Dan saat Genie merasakan tangan kecil tapi kuat menahan kendalinya, ia mulai tenang. Taeyeon membujuknya terus. Taeyeon tahu cara berbicara dengan kuda, Genie hanya sekali mencoba membebaskan diri, kemudian dengan patuh ia memperlambat langkahnya, gemetar sekujur badannya.
Sehun juga gemetar. Ia segera turun. Taeyeon melompat turun dari kuda dan cepat memegang kepala Genie. Dalam beberapa menit saja ia telah membuat tenang kuda itu. tapi ia belum berani menungganginya.
“Sehun-ah, naiklah kudaku dan pergilah ke anak-anak yang lain,” kata Taeyeon. “aku akan menuntuk Genie pulang. Katakana pada Choi seonsaengnim aku tidak bisa datang tepat pada waktunya untuk latihan. Cepat berangkatlah!”
Sehun anik kuda Taeyeon segera pergi menemui yang lain. Rasa takutnya segera hilang dan ia mulai membual pada Changmin dan Amber tentang pengalamannya di atas kuda yang melarikan diri tadi. Ketiga anak itu langsung pulang, menyampaikan pesan Taeyeon, sementara Taeyeon harus berjalan menuntun Genie, menempuh jarak yang lumayan jauhnya!
Tak lama Taeyeon sudah merasa letih dan kesal. Kejadian tadi mengakibatkan suatu kecelakaan yang mengerikan. Mungkin saja Sehun jatuh dan terluka parah. Kenapa ia memperbolehkan Sehun menaiki Genie sebelum dapat persetujuan dari Yesung? Tapi Yesung juga salah, mengapa ia tidak datang tepat waktu?
Tangan kirinya terasa sakit. Tadi ia menggunakan tangan itu untuk menyambar tali kendali Genie. Dan sepertinya karena tarikan Genie maka terjadi salah urat pada tangan kirinya itu. Dimasukannya tangan itu kedalam mantelnya, berharap semoga kehangatan bisa membuatnya lebih baik. Sungguh sengsara ia berjalan menyebrangi padang dan menyusuri jalan sambil menuntun kuda yang mendengus-dengus dan terengah-engah karena kelelahan.
Pengurus kuda tampak gusar waktu ia datang. Yesung juga lari keluar dan langsung memarahinya.
“Kim Taeyeon! Sudah kudengar semuanya!” kata Yesung. “bodoh sekali kau memperbolehkan Sehun naik Genie. Aku terpaksa terlambat datang karena harus mengerjakan sesuatu untuk Sooman sajangnim. Harusnya kau menunggu sampai aku datang! Kalau saja kau menungguku, peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi, sebab pasti aku tidak akan mengijinkan Genie ditunggangi. Kau ini selalu saja tak pernah berpikir kalau bertindak!”
Taeyeon begitu letih, tangannya begitu sakit. Tak terasa air matanya mengalir.
“bagus sekali, kau jadi bayi sekarang, hah?” Yesung berkata mengejek. “kau kira kalau kau menangis aku akan kasihan? Lalu aku tidak akan memarahimu? Dasar yeoja! Untung saja Sehun dan Genie tidak apa-apa.”
“Yesung! Jangan terlalu keras memarahiku!” Taeyeon tersedu-sedu. “tanganku sakit sekali, dan aku memang sangat meyesal telah memperbolehkan Sehun menaiki Genie.”
“oh, ya Tuhan!” seru Tao yang semula diam saja melihat pertengkaran keduanya. “tanganmu bengkak, Taeng!”
“coba kulihat tanganmu,” kata Yesung agak lebih lembut. Dan kemudian tampak cemas dan khawatir. “cepat pergi ke Ibu Asrama. Sepertinya cukup gawat tanganmu ini. jangan terlalu bersedih, nasi sudah jadi bubur. Lain kali berpikirlah 2 kali sebelum mengambil keputusan. Sudah,uljima!” Kata Yesung sambil menghapus air mata Taeyeon kedua jari jempolnya penuh perhatian.
“bukan karena itu aku menangis,” kata Taeyeon kesal. “aku menangisi kuda yang begitu binal itu, dan tanganku yang sangat sakit!”
Taeyeon bergegas ke tempat Ibu Asrama. Kasihan sekali. Selalu ada saja yang terjadi pada Taeyeon.
“Taeyeon!” panggil Yesung dari kejauhan membuat Taeyeon menoleh ke belakang. “berhentilah membuatku khawatir!”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 22

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Don’t forget for RCL

-Trouble Maker- Chapter 22 : Taeyeon Got a Problem (again)
Waktu berlalu dalam suasana bahagia. Dengan tak adanya pertengkaran antara Amber dan yang lain, serta antara Yesung dan Taeyeon, keadaan jadi lebih menyenangkan.
Taeyeon belajar dengan rajin, dan dengan mudah berada di puncak urutan peraih angka terbaik dikelasnya. Yesung kadang-kadang nomor 2, kadang-kadang nomor 3. Tapi ini sudah membuat Mrs. Song senang, sebab sebenarnya Yesung bukanlah anak pandai jadi keberhasilannya menandakan bahwa anak itu benar-benar bekerja keras. Amber juga belajar sebaik-baiknya, dan tak pernah membantah secara keterlaluan seperti dulu. Khususnya pada mata pelajaran bahasa Perancis ia memperoleh kemajuan pesat, sampai Mrs. Han suatu hari menyatakan kegembiraannya.
“anak dikelas ini yang mencapai kemajuan pesat adalah Amber,” kata Mrs. Han. “ah, dulu kukira dia bodoh sekali. Dulu aku sering memarahinya. Tapi sekarang karangan bahasa Prancisnya yang terbaik. Dan ia mengucapkan ‘r’ dalam bahasa Prancis tepat seperti semestinya. Tidak sepertimu Yesung! Kau tak pernah mengucapkan huruf ‘r’ secara tepat!”
Yesung tersenyum. Amber tersipu-sipu, tapi merasa sangat senang. ia belum pernah dipuji dikelas. Ia jadi heran juga kenapa dulu ia selalu memperoleh nilai buruk.
“kekuatan otakku tampaknya makin baik juga,” pikir Amber. “dan aku sekarang meyukai pelajaranku. Dulu aku bosan sekali pada pelajaran. Mungkin aku bisa terhindar dari kedudukan juru kunci. Wah, pasti hebat! Eomma akan sangat senang kalau peringkatku setidaknya mendekati peringkat atas.”
Ia memang khusus belajar lebih rajin pada pelajaran Mrs. Han. Ini suatu perubahan besar bagi Amber. Dulu setelah Mr. Han memarahinya, ia langsung tidak menyukai bahasa Prancis, termasuk gurunya, dan sembarangan saja belajar. Tapi sekarang segalanya berubah. Misalnya saja, Amber sekarang tampak lebih sehat. Ia sering berkuda, berjalan-jalan, dan bahkan menawarkan diri untuk membantu Changmin, Taeyeon, dan Sehun di kebun sekolah.
“ommo, aku tak pernah menyangka kau punya pikiran untuk membantu kami. Apa kau mengerti tentang berkebun?” tanya Changmin.
“tidak banyak,” jawab Amber secara jujur. 3 minggu sebelumnya mungkin ia akan berbohong dan membual serta mengatakan bahwa ia tahu banyak tentang berkebun. “tapi, Changmin, pasti aku bisa membantu sedikit-sedikit, bukan?”
“tentu, dorong gerobak isi sampah itu ke tempat sampah, tuangkan disana dan ambil sampah berikutnya,” kata Changmin. “pekerjaan itu terlalu berat untuk Sehun.”
Sehun sangat ingin membantu Changmin. Dan Changmin senang anak itu menaruh perhatian lebih pada pekerjaan di kebun sekolah. Sehun sering bercerita pada Changmin bahwa Yesung membawanya berkuda. Changmin lama-lama tertarik juga untuk mencoba.
“aku harus mencobanya sekali-kali,” kata Changmin. “walaupun dulu aku tak punya minat sama sekali. Memang waktu pertama kali masuk SM ini aku sering berkuda, tapi kemudian aku lebih tertarik berkebun, dan jadi lupa segala-galanya. Tapi besok aku akan mencobanya, Sehun.”
Sehun berbicara tentang hal itu pada Yesung. Dan ia setuju. Ia mengatur sehingga keeseokan harinya Changmin, Sehun, Taeyeon, Amber, dan ia sendiri bisa berkuda bersama. Menjelajahi padang rumput, perbukitan, dibawah cahaya pucat matahari musim dingin. Ternyata Changmin sangat menyukainya!
“aku akan ikut lagi lain waktu,” kata Changmin melompat turun dari pelananya. “benar-benar menyenangkan! Ommo, Amber, pipimu merah sekali! Padahal dulu kau begitu pucat. Ngomong-ngomong, apa kau bisa membantuku di kebun akhir minggu ini?”
“tentu!” seru Amber senang.
Senang sekali dimintai bantuan oleh seseorang. Ia sekarang merasa betapa indahnya mempunyai sahabat. Bila kita membantu seorang sahabat, maka sahabat kita itu pasti akan membalas membantu kita suatu hari. Dengan begitu akan lebih menyenangkan kalau kita punya sahabat banyak.
“benar juga kata Siwon dan Boa,” pikir Amber. “dulu aku iri pada Sulli, dan kukatakan dia sangat beruntung punya sahabat begitu banyak. Dan kukatakan hanya karena aku tak punya nasib baik sajalah maka aku tidak punya sahabat. Tapi sekarang karena aku bersikap manis, banyak peristiwa manis terjadi padaku. tepat sekali kata Boa. Diri kita sendirilah yang menentukan nasib kita. Aku selalu mengeluh, menggerutu tentang apa saja, menyalahkan nasibku bila aku tak memperoleh apa yang kuinginkan. Tapi begitu aku mengubah pribadiku, semuanya berubah! Sayang sekali tidak semua orang mengetahui hal itu.”
Taeyeon tekun sekali belajar music, Mr. Shin sangat gembira atas kemajuannya. Ia dan Kangta sekali lagi berlatih berduet. Namja itu senang sekali berduet dengan yeoja mungil yang lincah jarinya itu. taeyeon juga suka pada Kangta karena ia seorang pemusik luar biasa.
“bolehkah kita bermain duet dalam pertunjukan music akhir semester nanti? Seperti dulu?” tanya Taeyeon. “aku ingin sekali, Shin seonsaengnim. Apa kami akan cukup baik?”
“oh, ne,” kata Mr. Shin. “disamping itu Kangta juga akan memainkan biolanya. Apa kau pernah mendengarkan ia memainkan lagu seperti yang ada di CD, Taeyeon?”
“belum, belum pernah.” Kata Taeyeon. “coba mainkan untukku, oppa!”
Kangta segera mengambil biolanya. Kemudian namja yang tampak selalu melamun itu, memainkan sebuah lagu yang amat indah untu kgurunya dan untuk Taeyeon. Mereka berdua terpesona mendengarkannya.
“oh, indah sekali,” kata Taeyeon sewaktu lagu tersebut selesai. “ingin sekali aku bisa memainkannya seindah itu. bisakah aku belajar biola, seonsaengnim?”
“Taeyeon, hari-harimu sudah terlalu sibuk,” kata Mr. Shin, tertawa. “tidak. Lebih baik kau belajar piano saja.”
“tapi Kangta oppa bisa belajar dua-duanya, piano dan juga biola,” kata Taeyeon.
“ne, tapi selain kedua kegiatan itu, ia tak mempunyai kegiatan lainnya,” kata Mr. Shin. “tidak ada yang menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang lain, jadi ya lebih baik ia mengisi waktu dengan kedua hal tadi. Tidak aka nada orang yang menyuruh Kangta menyiangi kebun, naik kuda lebih dari satu kali, memelihara tikus putih, dan sebagainya. Hanya satu pikirannya, music.”
“akan kubuat agar ia memikirkan hal lain,” kata Taeyeon. “ayolah ikut berlatih lacrosse besok, oppa. Kau belum merasakan betapa senangnya bermain begitu bagus hingga terpilih untuk bermain dalam sebuah pertandingan penting.”
Tapi Kangta menolak ajakan itu. memang pernah juga ia bermain dalam suatu permainan olahraga, tapi permainannya buruk sekali. Bahkan si kepala batu Taeyeon tak sanggup membuat Kangta meninggalkan musiknya. Taeyeon tak meneruskan usahanya. Dalam hati ia bangga terpilih bermain duet bersama namja luar biasa itu.
“suatu hari ia akan menjadi seorang pemusik dan pengarang lagu yang terkenal,” kata Taeyeon pada Sunny dan Sulli. “dan aku akan dengan bangga bisa menyatakan bahwa aku pernah bermain duet dengannya.”
Di pertunjukan akhir semester, akan dipentaskan juga sebuah drama. Anak-anak dikelas Taeyeon mendapat tugas untuk menulis scenario juga. Lama sekali mereka memikirkan ceritanya. Hingga Donghae ketiduran menunggu ide teman-temannya karena ia terlalu malas untuk berpikir.
Dan ketika garis besar cerita sudah mereka sepakati, mereka sampai pada pekerjaan berat yaitu menuangkan cerita tadi kedalam naskah drama atau scenario.
Ternyata Sulli dan Amber sangat pandai menulis naskah drama. Sulli pandai membuat dialog, Amber penuh khayalan untuk menciptakan berbagai suasana. Sebelum minggu itu lewat, kedua anak tersebut sudah menyusun naskah dramanya, dibantu oleh kritik positif dan negative dari teman-teman mereka.
Lucu juga melihat kedua anak yang tadinya bermusuhan sekarang bekerja sama begitu rukun. “sungguh aneh melihat Sulli dan Amber, persis seperti aku dan Yesung,” batin Taeyeon. “bodoh sekali kami bertengkar. Aku berjanji akan selalu menghindari pertentangan.”
Sungguh sayang mengucapkan hal itu. sebab pada hari berikutnya terjadilah pertentangan antara Taeyeon dan Changmin.
Mereka berdua telah membuat tumpukan sampah yang menggunung. Changmin bilang ia akan menyulutnya kalau kebetulan ada waktu luang. Tapi ketika ia mencari Changmin untuk membakar sampah itu, ternyata Changmin tidak ada!
“ah, sial,” kata kata Taeyeon dalam hati. “padahal aku ingin melihat api unggun itu. yah, kalau dalam beberapa menit ini Changmin tidak muncul, akan kunyalakan sendiri api unggun ini. Changmin pasti tak keberatan.”
Seharusnya Taeyeon tahu bahwa Changmin pasti merasa keberatan. Walaupun ia telah mempercayai Taeyeon untuk berbagai hal, untuk pembakaran sampah ia selalu mengerjakannya sendiri.
Taeyeon mengambil sekotak korek api. Dinyalakannya selembar kertas, lalu disesapkannya diantara tumpukan smapah. Api berkobar. Dan jadilah api unggun menyala dengan hebat! Besar sekali kobaran apinya. Asap biru menjulur ke atas dan meliuk-liuk mencapai gudang tua didekat situ.
Taeyeon meloncat-loncat dengan gembira. Ini bagus sekali! Rugi Changmin tidak segera datang.
Kemudian tiba-tiba ia melihat sesuatu. Angin meniup kobaran api unggun kearah gudang!
“astaga! Mudah-mudahan saja gudang itu tidak terbakar!” seru Taeyeon terkejut. “ommo! Benar-benar terbakar! Oh! Changmin! Changmin! Ppalli! Eodisseo?”
Changmin berlari mendatangi. Ia sedang berada di sudut lain kebun itu, dan cepat-cepat datang waktu dilihatnya kobaran api dari kejauhan. Ketika dilihatnya jilatan api telah hampir mencapai gudang, ia juga sangat terkejut.
“Taeyeon! Ambil pipa air!” teriaknya. Kedua anak itu berlarian mengambil pipa air, membuka gulungannya dan memasangnya di keran. Changmin membuka keran, dan mengarahkan pipa air ke api unggun. Tak berapa lama api unggun itu padam, meninggalkan asap mengepul.
“untuk apa kau nyalakan api unggun itu??!” hardik Changmin marah pada Taeyeon. “baboya!! Apa kau tidak tahu aku yang memimpin dikebun ini?? semuanya harus dilakukan dengan perintahku!! Kalau terlambat tadi, gudang itu sudah terbakar!!”
“jangan bicara begitu padaku!!” teriak Taeyeon marah. “kau bialng kalau kau yang akan membakar tumpukan sampah itu! dan kalau kau lakukan toh kejadiannya akan sama saja!!”
“aku tidak sebodoh kau! Aku tidak akan mungkin membakar tumpukan sampah itu begitu saja disitu, dan pada saat angin bertiup kearah gudang seperti ini! aku akan membakarnya setelah angin berganti arah! Bukan hari ini! kau tak ada urusan untuk membakarnya, arasseo??! Padahal seharusnyatumpukan sampah itu akan jadi api unggun yang bagus. Kau sudah merusaknya! Kau hanya membuat repot saja! aku tak mau kau membantu di kebun lagi!!”
“oh!” airmata menggenang di mata Taeyeon.
“nappeun namja! Kau mengusirku setelah begitu banyak yang kulakukan, setelah begitu lama aku membantumu!”
“kau tidak melakukan semua itu untukku!” tukas Changmin. “semuanya untuk keperluan sekolah. Pergilah, Taeyeon! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
“keurae! Aku juga tidak sudi kemari lagi!” seru Taeyeon sambil berlari pergi dengan marah dan menghapus airmatanya menuruni pipinya.
Tapi setengah jam kemudian dalam hati Taeyeon berkata, “kau kan sudah berjanji tidak akan bertengkar lagi dengan siapapun. Padahal memang hak Changmin untuk memarahimu. Karena kalau api itu tidak segera dipadamkan, maka bisa membakar gudang, menghabiskan semua alat-alat didalamnya. Kau juga sudah merusak api unggun indah yang telah direncanakan!”
Dan dalam hati Changmin, juga berkata, “Taeyeon tak bermaksud buruk. Ia hanya kurang berpikir. Bukannya jahat. Ia pasti juga sangat kecewa karena api unggun itu tidak jadi. Dan kau tahu, ia telah banyak membantu di kebun ini. bagaimana kalau ia tidak mau datng lagi ke kebun ini? rasanya tidak akan begitu menyenangkan!”
“aku akan mencarinya,” akhirnya Cahngmin memutuskan. Dan pada saat yang sama Taeyeon juga berpikir, “akan kutemui Changmin.”
Maka mereka berdua bertemu di tikungan jalan di kebun sekolah. Keduanya tampak malu-malau. Dan bersamaan mereka mengeulurkan tangan.
“mianhae, aku telah bersikap kasar padamu.” kata Changmin.
“nado. Jeongmal mianhaeyo.” Kata Taeyeon. “Oh, Changmin..”
“dulu ku suruh kau memanggil aku apa?”
“hmmmpp.. ne, oppa. Oppa, padahal baru kemarin aku berjanji dalam hati untuk tidak bertengkar dengan siapa pun. Dan ternyata aku malah bertengkar denganmu.”
“kau akan selalu begitu,” Changmin tertawa. “tapi tidak apa-apa kalau kau juga cepat-cepat menyesali tindakanmu. Jigeum, kajja! Kita menggali tanah, biar hati kita tenang kembali.”
Mereka berdua kembali ke kebun, bersahabat. Persahabatan memang takkan putus hanya karena sebuah pertengkaran, bukan?
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 21

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Chapter kali ini aku masukin beberapa artis dari JYP Nation. Enjoy, readers!
Don’t forget RCL

-Trouble Maker- Chapter 21 :Final
“tinggal 3 menit, Yesung!” seru Taeyeon terengah-engah. “kita harus berusaha lebih keras. Jangan sampai mereka mencetak gol lagi!”
Bola cepat melesat dari satu pemain ke pemain lainnya. Taeyeon lari untuk menyergap seorang pemain lawan yang larinya sangat cepat. Dibenturkannya tongkatnya pada tongkat lawan itu. bola meloncat ke udara. Taeyeon mencoba menangkapnya, tapi bola jatuh ke tanah. Disambarnya dengan jaring tongkatnya dan dibawa lari dengan cepat.
Tapi seorang anggota regu lawan menyergapnya.
Walaupun Taeyeon mencoba menghindar, tak ada gunanya. Ia terjatuh lagi, bola lepas. Anak JYP langsung menyambarnya dan melesat ke arah gawang SM. dilemparkan ke anak JYP lainnya. Di lemparkan kembali ke seorang teman mereka dekat gawang.
Dan anak itu langsung menembak ke arah gawang! Cepat sekali laju bolanya. Sepertinya akan masuk. Tapi Seohyun langsung membuang diri, meluncur tepat untuk menangkap bola tersebut. Seohyun terjatuh keras, namun gawangnya selamat. Dan bola dilempar ke arah seorang anak SM. anak tersebut segera lari ke arah gawang lawan.
“lemparkan! Lemparkan!” teriak Taeyeon, meloncat kesana kemari. “awas! Lawan dibelakangmu! Lemparkan!”
Anak SM itu melepaskan bolanya tepat pada saat ia diserang lawan. Bola langsung menuju Taeyeon. Ia menangkapnya dan lari secepat angin diikuti oleh seorang anak JYP yang terus membayanginya.
Taeyeon melontarkan bola pada Yesung. Yesung diserang lawan. Yesung melemparkan bola ke Taeyeon yang telah berlari maju. Gawang sudah dekat. Apakah ia harus menembak langsung? Mungkin akan masuk. Dan ia akan memenangkan SM.
Tetapi Yesung telah berlari maju, dan sekarang lebih dekat dengan gawang! Ia harus melemparkannya pada Yesung! Dan tanpa ragu-ragu Taeyeon melakukannya.
Yesung menangkap bola dengan cermat. Langsung menembak ke arah gawang. Penjaga gawang berusaha menangkap bola itu. tapi bola melewati tongkat jaringnya, dan bersarang di sudut gawang! Gol untuk SM!
Dan hampir bersamaan terdengar peluit berbunyi. Pertandingan selesai!
“3 gol untuk SM!” seru wasit. “3-2! Untuk kemenangan SM!”
Kemudian semua penonton pendukung JYP juga bersorak ramai menyambut kemenangan lawan mereka. Sebuah pertandingan yang cukup menarik. Semua pemain telah bermain sebaik-baiknya.
“oh, hampir saja terlambat, Yesung,” kata TAeyeon terengah-engah kehabisan napas. “tepat sekali tembakanmu tadi!”
“tapi tidak mungkin itu kulakukan kalau kau tidak begitu tepat melemparkannya padaku,” Yesung juga kehabisan napas, harus bertopang pada tongkat lacrosse-nya. Mukanya merah padam. Badannya basah oleh keringat. “gila, Taeyeon! Kita menang! Coba pikirkan itu! kita belum pernah mengalahkan JYP. Aku senang sekali kau juga mencetak 1 gol! Oh, ya, luka di lututmu sebaiknya cepat diobati.”
Kedua tim meninggalkan lapangan. mandi. Sungguh segar terasa air dingin, sebab semuanya begitu kepanasan. Kemudian semua berjabat tangan. Kapten tim JYP menepuk punggung Seohyun, kapten tim SM.
“bagus sekali pertandingan tadi,” katanya. “ini pertama kalinya kami kalah dalam semester ini. selamat, ya!”
Mereka dijamu acara minum teh. Taeyeon tak begitu banyak makan siang tadi. Sekarang ia melahap apa saja yang terhidang. Sandwich, macam-macam kue, dan kimchi yang sangat lezat. Semua makan dengan lahap.
“aku ingin sekali segera pulang ke SM,” kataYesung pada Taeyeon. “untuk segera menceritakan berita baik ini. akhirnya aku bisa ikut main. Mudah-mudahan kita masih bisa bermain bersama untu kbanyak pertandingan lagi.”
“kau mencetak gol kemenangan itu begitu bagus,” kata Taeyeon dengan riang. “huff aku lelah sekali. Tapi juga senang sekali! Rasanya aku tidak bisa berdiri lagi. Kakiku begitu berat!”
Mereka memang kecapekan, tapi mereka masih bisa sibuk bercakap-cakap, tertawa, dan bercanda sambil duduk di ruang tunggu, menunggu kedatangan bus mereka. Senangnya bisa pulang membawa kemenangan!
Semua naik ke bus dan melambaikan tangan pada anak-anak JYP yang juga bersorak-sorai meriah sampai bus keluar dari sekolah itu.
Tak berapa lama kemudian anak-anak telah duduk kelelahan didalam bus. Muka mereka masih merah padam dan kaki mereka masih pegal-pegal karena terlalu banyak berlari. Hampir tak ada yang berbicara lagi.
Tetapi begitu mendekati sekolah SM, mereka duduk tegak, tak sabar untuk segera melihat sekolah mereka, tak sabar untuk melihat teman-teman mereka yang sudah pasti menunggu.
Selama setengah jam Sunny dan Sulli serta Amber menunggu. Dan begitu terdengar suara bus datang, mereka bersorak berlari ke pintu gerbang, diikuti oleh puluhan anak lainnya. Memang sudah menjadi kebiasaan sekolah SM untuk menyambut dengan meriah tim yang baru bertanding di tempat lawan.
Tim lacrosse itu juga bersorak-sorai liar saat bus mereka masuk.
“kita menang! Menang! 3-2! 3-2!
“kita menang! Hebat sekali permainan tadi!”
“ini pertama kalinya JYP kalah!”
“3-2! 3-2!”
Anak-anak SM bersorak-sorai seperti orang gila. Mereka menghambur mengerumuni bus, membantu anggota tim yang sudah hampir tak kuat lagi melangkah.
“hidup SM! hidup SM!” semua anak berteriak-teriak. “ayo cepat, ceritakan pada kami!” pinta Eunhyuk, Leeteuk dan Sungmin.
Tim lacrosse diarak menuju ruang auditorium. Para pimpinan sekolah ikut datang untuk mendengarkan peristiwa yang menggembirakan itu. Mr. Choi berpidato beberapa saat bahawa semua anggota tim telah main sangat baik. Kemudian Changmin bertanya.
“siapa yang mencetak gol?”
“Taeyeon, Sooyoung, dan Yesung!” kata Mr. Choi. “gol-gol yang indah. Gol Yesung sangat mendebarkan, sebab bebrapa detik terlambat saja maka waktu akan habis.”
“hidup Sooyoung! Hidup Taeyeon! Hidup Yesung!” gemuruh anak-anak berteriak. Ketiga anak itu berseri-seri bangga. Taeyeon hampir tak bisa menahan tangisnya. Bagaimana tidak bangga, pada pertandingan pertamanya ia telah menyumbangkan satu gol! Hampir tak bisa dipercaya.
Sooyoung sudah sering bertanding, maka ia hanya tersenyum-senyum saja. tapi bagi Yesung dan Taeyeon tentu saja sambutan meriah itu sungguh luar biasa.
Taeyeon menggandeng tangan Yesung dan berkata, “aku gembira kita bisa bermain bersama! Dan aku sangat senang bisa menyumbangkan sesuatu untuk SM walaupun hanya berbentuk sebuah gol. Waktu pertama kali kesini, aku sangat membenci sekolah ini. tapi sekarang aku menyukainya. Tunggulah sampai kau disini 1-2 semester. Kau akan menyukainya juga.” Kata Taeyeon terharu.
“aku bahkan sudah menyukainya sekarang,” kata Yesung mempererat genggaman tangan Taeyeon. “dan aku bertekad untuk menyumbangkan tidak hanya gol-gol dalam pertandingan, tapi lebih dari itu!” Taeyeon tersenyum senang mendengarnya.
Malam itu dihidangkan makanan khusus bagi anggota tim. Sosis panas muncul di meja makan mereka. Masing-masing anggota tim memperoleh 2 buah sosis. Jeongmal mashita! Lebih dari itu, semua anak yang kebetulan mempunyai makanan kecil juga membagikannya pada anggota tim, hingga saat lonceng untuk tidur berbunyi, perut Yesung dan Taeyeon sudah penuh dan sesak.
Amber merasa gembira seperti yang lain juga. Mukanya berseri-seri sewaktu membawa sekaleng permen untuk Taeyeon. Taeyeon memandangnya heran.
“Amber, kau sangat berbeda,” kata Taeyeon. “matamu selalu tersenyum, rambutmu berkilau. Kau berjalan seolah menari, dan bintik-bintik di wajahmu telah lenyap!”
Amber tertawa.
Ia telah menepati janjinya pada dirinya sendiri, tak makan permen sebutir pun. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri, selalu ikut bergaul dan bercanda dengan yang lain. Sekarang ia berjalan dengan kepala diangkat, dan senyumnya siap terpancar. Kini ia merasa heran mengingat kenapa dulu ia bisa melakukan hal-hal yang bersifat nakal.
Ia telah mengembalikan buku Taeyeon yang dulu disembunyikannya, setelah membersihkannya dengan hari-hati. Dengan pipi merah ia mengembalikan buku-buku itu. hampir saja Taeyeon meluapkan amarahnya jika mengingat ia harus menderita karena ulah Amber. Tapi ia cepat menguasai diri dan mengucapkan terima kasih.
Dengan tekun dan rajin Amber mengerjakan scarfnya dengan sulaman halus. Ia membuat 2. Masing-masing bertuliskan kata ‘chingu’ dengan huruf Hangeul dan diberi gambar bunga-bunga ungu kecil untuk Taeyeon. Dan satu lagi mawar merah untuk Sulli.
Tepat saat Amber menyelesaikan sulamannya, Sulli datang dan melihatnya bekerja di kamarnya itu.
“wah, senangnya kalau aku juga ikut bertanding,” Sulli mulai berkata, dan menjatuhkan dirinya duduk dipinggir ranjangnya. “apa saja mau kulakukan asal diberi hadiah sosis panas untuk makan malam. Hei, Amber, kau sedang apa? Coba lihat.”
Sulli mendekati Amber dan memperhatikan pekerjaan Amber. “wah, halus sekali sulamanmu! Bunga-bunganya juga sangat cantik. Aku tidak yakin apa aku bisa menyulam sehalus ini. aku ingin memiliki scarf ini.”
“kau bisa memilikinya. Ini memang untukmu. Dan yang ini untuk Taeyeon.”
“wah! Tapi untuk apa?” heran Sulli.
“hanya sekedar untuk menghilangkan rasa kesalmu karena aku dulu mempermainkanmu,” Amber tersenyum. “nah, ini punyamu, Sulli. Pakailah, udara mulai dingin. Aku senang bisa memberikannya padamu.”
Sulli sangat berterima kasih. Diterimanya pemberian Amber itu. “kau baik sekali! Gomapta! Oh, itu Taeyeon! Hey, taeng! Lihat, kau dapat hadiah bagus nih!”
Segera keduanya asyik mengagumi pemberian indah itu. anak-anak lain yang melihatnya juga memuji-muji keindahannya. Amber merasa sangat bangga mendengar kata-kata mereka.
“rasanya lebih menyenangkan mengerjakan sesuatu untuk kesenangan mereka daripada untuk mencelakakan mereka,” batin Amber. “tapi rasanya aku tak akan pernah cukup berani untuk mengakui kesalahanku dihadapan seluruh sekolah. Sekarang aku lebih baik hati, lebih manis pula. Tapi aku tetap penakut.”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 20

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
Chapter kali ini aku masukin beberapa artis dari JYP Nation. Enjoy, readers! 😀
Don’t forget RCL

–Trouble Maker– Chapter 20 : Lacrosse
Hari Sabtu tiba, cuaca cerah. Rumput-rumput berkilau oleh tetesan embun. Tapi semua lenyap ketika matahari muncul, dan semua orang setuju bahwa hari itu hari yang sangat sempurna bagi pertandingan lacrosse.
Taeyeon berusaha keras untuk ikut merasa gembira karena hari itu begitu cerah. Beruntung sekali Yesung. Dan sungguh kecewa dia. Rasanya tak adil. Sabtu yang lalu ia punya kesempatan untuk main, tapi hari hujan. Sabtu ini bukan kesempatannya, tapi hari begitu cerah.
“ya! salahmu sendiri Kim Taeyeon!” katanya dalam hati. “kalau kau tidak melakukan keputusan konyol itu, kau yang bertanding hari ini.”
Taeyeon mendekati Yesung saat melihatnya.
“senang sekali melihat hari ini begitu cerah untukmu, Yesung,” katanya. Yesung melihat padanya dan tahu bagaimana perasaan hatinya.
“lebih menyenangkan seandainya kau juga ikut main.” Kata Yesung. “tapi tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain bagimu.”
Hari cerah terus. Mereka yang akan bertanding tampak begitu gembira, tapi juga khawatir. Sooyoung yang juga ikut main mengatakan bahwa tim JYP belum pernah dikalahkan oleh SM.
“Kalau saja kali ini kita bisa mengungguli mereka, sekali saja!” kata Sooyoung. “tapi kudengar tim mereka malah maikn kuat. Seohyun bilang tim itu belum pernah kalah semester ini. mereka luar biasa! Mudah-mudahan setidaknya kita bisa mencetak satu gol.”
“Soo, kita harus lebih banyak lagi mencetak gol,” kata Sehun. Sehun anak yang kuat, langsing, namun berotot. Sehun bisa berlari cepat, dan ia penangkap bola yang baik. “kita harus berusaha semaksimal mungkin!”
“ne, kita harus berusaha!” kata Yesung.
“aku setuju dengan kalian. FIGHTING!!” seru Yoona yang juga masuk tim.
Pagi itu terasa berjalan lambat. Waktu makan siang tiba. Anggota tim tak bisa makan dengan santai, sebab mereka terlalu tegang. Taeyeon mengalami perasaan itu Sabtu lalu. Betapa senangnya kalau kali ini ia pun ikut! Ia sangat kecewa. Tapi ia juga bangga sebab bisa mengalahkan kepentingan dirinya sendiri, demi keadilan, dengan memberikan tempatnya pada Yesung.
Sinar matahari masuk lewat jendela. Hari ini tetap cerah! Hari yang sangat menyenangkan untuk bertanding. Sesak kerongkongan Taeyeon. Memang membanggakan bisa bersikap adil, tapi kebanggan itu tidak mengurangi kekecewaan dihatinya. Sunny melihat wajahnya dan meremas tangannya.
“jangan bersedih, Taeng,” kata Sunny. Taeyeon mencoba untuk bersikap riang. Kemudian dilihatnya sesuatu terjadi di meja dekat mereka. Beberapa anak datang mendekat dan ribut berbicara. Ada apa?
“Sehun! Ia sakit!” kata Sunny. “lihat, wajahnya pucat sekali. Mungkin ia akan muntah. Ah, aku ingat, waktu sarapan tadi ia juga tampak tak begitu sehat.”
Sehun bergegas keluar ruangan dibantu oleh Sungmin. Mukanya pucat. Mr. Moon ikut bergegas keluar. Mr. Choi melihat arlojinya. Ia berharap Sehun segera sehat kembali, sebab 20 menit lagi bus yang menjemput tim lacrosse akan datang.
5 menit kemudian Mr. Choi masuk, dan mengatakan sesuatu pada Mr. Moon. Mr. Moon tampak sangat kecewa. “kenapa Sehun?” tanya Changmin yang kebetulan berada satu meja dengan Mr. Moon.
“sakit perut,” jawab Mr. Moon. “memang sering kambuh. Dan kali ini agak berat. Ibu Asrama menyuruhnya tidur di Sanatorium.”
“astaga!” seru Changmin. “jadi ia tidak bisa main?”
“tidak,” kata Mr. Choi. “sungguh sial. Sehun salah seorang pemain terbaik kita. Kita harus mencari penggantinya.”
Berita itu segera tersebar ke seluruh ruang makan. Semua merasa kecewa, sebab Sehun memang pemain yang baik. Tapi kemudian dari mulut ke mulut terdengar satu nama. Kim Taeyeon.
“biar digantikan Taeyeon saja!”
“bagaimana kalau diganti Taeyeon saja?”
“tidak bisakah Taeyeon dipasang? Ia menyerahkan tempatnya pada Yesung.”
“benar!” kata Mr. Choi melihat buku catatannya. “sebenarnya aku merencanakan untuk memasang anak lain, tapi karena Taeyeon pantas diberi kesempatan, baiklah, Taeyeon akan menggantikan Sehun.”
Jantung Taeyeon bagaikan melonjak karena kegirangan. Ia tak percaya pada berita yang begitu bagus itu. wajahnya jadi merah seketika, matanya bersinar-sinar. Ia menyesal bahwa Sehun tak bisa main, tapi Sehun sudah ikut main dalam sekitar 12 pertandingan. Dan sekarang ia, Kim Taeyeon, akan ikut main!”
“hidup Taeyeon!” beberapa sahabatnya bersorak, ikut bergembira karena Taeyeon tampak senang. semua tahu bahwa Taeyeon secara sukarela telah memberikan tempatnya pada Yesung, dan sekarang semua merasa ikut gembira karena perbuatan tak mementingkan diri sendiri itu kini mendapat balasan yang setimpal. Beberapa saat Taeyeon tak bisa berkata-kata karena gembiranya.
Sunny menepuk punggungnya, Sulli hanya meringis. “selalu ada saja yang terjadi padamu, Taeng,” kata Sulli. “kau pantas menerima keberuntungan ini!”
“Taeyeon! Chukkaeyo!” teriak Yesung dari pojok meja sana. “kita akan bermain bersama-sama dalam pertandingan pertama kita! Daebak!”
Taeyeon tak bisa makan lagi. Disingkirkannya gelas ice creamnya.
“Kalau aku makan juga, maka aku akan sakit seperti Sehun,” katanya.
“kalau begitu jangan kau makan,” kata Sooyong. “kalau kau sakit juga, tidak ada lagi yang menggantikanmu!”
Taeyeon bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian olahraga. Ia menyempatkan diri menjenguk Sehun di Sanatorium dengan membawakannya sebuah buku. “sayang sekali, Sehun,” katanya. “mudah-mudahan kau cepat sembuh. Nanti akan kuceritakan jalannya pertandingan padamu.”
“mainlah sebaik mungkin,” kata Sehun yang masih pucat. “cetaklah gol sebanyak mungkin! Selamat bertanding!”
Taeyeon berlari lagi, berkumpul dengan teman-temannya. Hatinya bagaikan bernyanyi terus. Begitu gembira dia! Semua orang tertawa padanya, semua orang senang bahwa akhirnya ia bisa ikut. Digandengnya tangan Yesung.
“duduklah di dekatku nanti di bus,” kata Taeyeon. “hanya kita berdua yang belum pernah bertanding. Oh, haengbokhae~. Keundae, aku sedikit gugup juga.”
“kau gugup?” Yesung tertawa. “Aku tidak percaya. Anak galak sepertimu bisa gugup juga!”
Tapi Taeyeon memang gugup. Ia khawatir akan mengecewakan teman-temannya. Ia harus berusaha bermain sebaik mungkin! Apa jadinya kalau Ia bermain buruk. Kalau ia tidak bisa menangkap bola, sangat memalukan!
“untung tidak ada yang datang menonton dari SM,” pikir Taeyeon mencoba menghibur hatinya. “kalau aku bermain buruk tidak akan ada yang melihat.” Dipandangnya Yesung yang duduk disampingnya. Anak itu tampak tabah, tenang, gagah, dan kuat. Sama sekali tidak gugup. Senang rasanya jika bermain dengan anak setabah itu. “aku tidak tahu bagaimana dulu aku bisa membencinya. Sepertinya jika kita membenci seseorang maka yang kita lihat adalah yang terburuk saja dari orang itu, sebab memang itulah yang kita cari. Sebaliknya bila kita menyukai seseorang maka orang tersebut akan tersenyum pada kita dan hanya menampakan yang terbaik saja pada kita. Aku harus mencoba member kesempatan pada asiapa saja. akan kucoba untuk menyukai siapa saja agar siapapun akan menunjukkan yang terbaik dari dirinya padaku.”
Bus segera tiba di sekolah JYP. Tim SM melihat tim tuan rumah, dan mereka merasa bahwa tuan rumah benar-benar kuat.
Kedua tim sudah berada dilapangan. Saling berhadapan. Peluit berbunyi, dan pertandingan pun dimulai. Terbukti tim JYP memang kuat, tapi tim SM memiliki beberapa orang pelari cepat yang cukup di kenal. Seperti Taecyeon, Jia, dan Nickhun.
Mereka kehilangan Sehun, pelari tercepat SM, tapi baik Yesung maupun Taeyeon seperti mempunyai sayap dikaki mereka, berlari begitu cepat. Tak pernah mereka berlari secepat itu sebelumnya.
Kedua anak itu merasa mendapat kehormatan untuk bisa bermain dalam pertandingan besar itu, karenanya mereka bermain sebaik mungkin. Rasa gugup Taeyeon segera hilang setelah pertandingan mulai. Ia lupa pada dirinya, yang dipikirkannya hanyalah pertandingan yang sedang dihadapinya.
Sering Yesung dan Taeyeon saling melempar bola. Mereka telah berlatih beberapa minggu sehingga sanggup melakukannya dengan cepat dan tepat. tak sekalipun bola mereka jatuh. Setiap lemparan dapat ditangkap dengan tepat.
“bagus, Yesung! Bagus, Taeyeon!” seru Mr. Choi dari pinggir lapangan. ia ikut mengantarkan tim SM dalam perlawatan ini. “cepat! Cepat! Tembak, Taeyeon!” Taeyeon melihat gawang tak jauh didepannya. Dilemparkannya bola dengan sekuat tenaga. Bola lurus langsung menuju gawang. Tapi penjaga gawang lawan sangat gesit. Bola ditampar terpental keluar.
“percobaan bagus, Taeyeon!” seru Mr. Choi.
Tim JYP membawa bola. Cepat sekali menuju gawang SM, bola dilemparkan dari pemain ke pemain lain sementara mereka berlari cepat. Kemudian bola diterima kapten mereka. Sebuah tembakan hebat…gol! Seohyun penjaga gawang SM, sia-sia saja menangkap bola yang datang begitu cepat itu.
“1-0 untuk JYP!” seru wasit. Peluit berbunyi lagi. Permainan mulai lagi. Baik Yesung amupun Taeyeon bertekad untuk menjaga bola sebaik-baiknya, jangan sampai terebut oleh lawan.
Taeyeon membawa bola di tongkat lacrossenya. Ia berlari cepat kedepan. Ia sedang akan melontarkannya pada Yesung yang selalu berada didekatnya, saat tiba-tiba seorang lawan menyerbunya. Taeyeon tersandung dan jatuh. Lututnya sedikit lecet dan berdarah tapi dengan cepat ia berdiri lagi. Seorang yeoja dari JYP membawa bola.
Kencang juga larinya. Dilemparkannya pada temannya yang juga lari kea rah gawang.
“tembak! Tembak!” seru penonton dari JYP. Bola melesat ke gawang Seohyun. dan masuk!
“2-0 untuk JYP!” kata wasit, dan kemudian ia meniup peluit. Waktu istirahat. Para pemain mengerumuni pelatih masing-masing, sambil makan dengan rakus potongan jeruk yang disediakan, rasanya manis-asam, menyegarkan!
“kalian harus berusaha lebih keras!” kata MR. Choi menasehati timnya. “Yesung, kau harus selalu berada dekat Taeyeon. Taeyeon, cepat lontarkan bolanya pada Yesung kalau kau diserang. Kalian berdua berlari seperti angin hari ini. langsung tembak kea rah gawang kapan saja ada kesempatan. Sooyoung, kau harus lebih sering member umpan pada Taeyeon. Mungkin ia cukup cepat untuk mengalahkan anak JYP yang bertugas membayanginya. Yoona, kau terus bayangi Taecyeon itu.”
“ne, seonsaengnim!” kata Yoona.
Anak-anak SM mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka agak kecewa, sudah kalah 2-0. Peluit berbunyi. Pertandingan mulai lagi. Yoona terus membayangi namja bertubuh tinggi bernama Taecyeon.

Sooyoung mendapat bola, lalu segera melontarkannya pada Taeyeon, mengikuti petunjuk pelatih tadi. Yesung berada didekat Taeyeon. Dengan tepat ditangkapnya lontaran dari Taeyeon, yang langsung berlari ke depan. Yesung kembali melontarkan bola ke arah Taeyeon. Taeyeon menangkapnya dan terus lari ke arah gawang lawan.
Dilontarkannya bola dengan sekuat tenaga, keeper lawan mengulurkan tongkat lacrosse-nya, bola membentur tongkat jaring tadi, mental dan….masuk!
“kedudukan sekarang 2-1!” seru wasit. “2-1 masih untuk kemenangan JYP!!”
Taeyeon begitu gembira. Ia tak bisa diam. Lari kesana kemari walaupun bola tak didekatnya. Sooyoung mendapat bola. Dikirimkannya ke Yesung. Yesung menerima bola tersebut, membawa lari, melemparnya kembali ke Sooyoung. Sooyoung lari ke arah gawang. Melontarkan bola dan masuk! Hampir tak bisa dipercaya! Sebuah gol manis lagi!
“2-2 dan waktu tinggal 10 menit lagi!”
Anak-anak sekolah JYP yang menonton di tepi bersorak-sorak ramai, “ayo, JYP, serang! Serang! Ayo!”
Didorong oleh sorak-sorai ini tim JYP lebih menggebu-gebu lagi menyerbu. Mereka membawa bola. Mereka menyerbu ke arah gawang. Mereka menembak! Tapi Seohyun dengan cekatan menangkap bola tersebut, melemparkannya kembali ke tengah lapangan. selamat!
2-2. dan waktu tinggal 3 menit. Ayo JYP! Ayo SM! tinggal 3 menit lagi!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 19

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 19 : The Peace Sunday
Seohyun sedang berada di ruang senam. Ia memang sangat pandai dalam berbagai cabang olahraga. Ia sedang bersenam saat Taeyeon datang dan minta bicara dengannya.
“ada apa, Taeyeon?” tanyanya ramah.
“Seohyun, bagaimana kalau Yesung saja yang bermain hari Sabtu ini,” kata Taeyeon. “alasannya begini. Ternyata bukan dia yang mempermainkanku dan Sulli seperti yang ku tuduhkan padanya dulu di Rapat Besar. Jadi kukira cukup adil kalau kali ini aku memberinya kesempatan untuk main dalam pertandingan nanti. Sebab Sabtu lalu ia tidak jadi main karena aku.”
“boleh saja,” kata Seohyun yang kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan dan menuliskan sesuatu didalamnya. “akan kuatur itu. seperti katamu, memang inilah yang paling adil bagi Yesung. Sayang sekali kau tidak jadi main, Taeng, tapi yakinlah bahwa kau telah bertindak dengan tepat.”
Taeyeon mencari Yesung. Tapi tidak ditemukannya. Dan sebelum ia bisa bercerita sendiri pada Yesung, Seohyun telah memasang pengumuman baru, mengganti pengumuman sebelumnya.
“Kim Yesung akan ikut bermain dalam pertandingan melawan sekolah JYP Sabtu ini,” demikian bunyi pengumuman baru itu. Yesung membaca pengumuman tersebut sewaktu akan pergi makan. Ia sangat heran. Bukankah tadi anak-anak berkata bahwa yang terpilih adalah Taeyeon? Dengan kening berkerut dibacanya pengumuman tadi berulang-ulang. Dan pada waktu itulah Ryeowook datang, ikut membaca. Ia pun heran.
“annyeong,” kata Ryeowook. “kenapa pengumuman ini diubah? Semula isinya Kim Taeyeon yang terpilih untuk bermain melawan JYP. Aku ingat betul itu!”
“ne, menurutku isinya memang begitu,” kata Yesung masih bingung. “kenapa diubah? Memang berita yang menyenangkan bagiku, apalagi aku sangat kecewa tadi pagi,”
“aku berani bertaruh Taeyeon akan merasa kecewa sekarang,” kata Ryeowook, dan mereka pun masuk ke ruang makan. Yesung tak ingin membicarakan pengumuman itu dengan Taeyeon dihadapan orang banyak, dan sepertinya Taeyeon pun begitu.
Sooyoung-lah kemudian yang bercerita tentang apa yang terjadi pada Yesung, “apa kau sudah melihat pengumuman?” tanya Sooyoung. “ternyata akhirnya kau juga yang bermain di pertandingan nanti.”
“ya, tapi kenapa?” tanya Yesung. “kenapa Taeyeon tidak dipasang?”
“itu atas permintaan Taeyeon sendiri. ia minta agar kau saja yang dipasang,” kata Sooyoung. “katanya dengan begitu barulah adil. Dan aku setuju dengan pendapatnya.”
“sangat adil memang,” pipi Yesung jadi merah. “tapi seharusnya tak perlu dilakukannya. Aku tahu bahwa ia sangat ingin bermain mewakili sekolah kita.”
Yesung segera mencari Taeyeon.
Didapatinya Taeyeon sedang berada di kebun, sedang menanam umbi berbagai macam bunga bersama Changmin.
“hei, Taeng,” sapa Yesung. “terima kasih atas kebesaran hatimu yang memungkinkan aku dipasang di tim sekolah. Tapi aku lebih senang kalau kau saja yang bermain Sabtu ini. kalau kau tidak keberatan.”
“gwaenchana,” kata Taeyeon tersenyum. “aku telah mengambil keputusan. Kurasa itu cara terbaik untuk menebus kesalahan yang kubuat padamu. Aku akan merasa sangat malu kalau tidak memberikan kesempatan itu padamu.”
“tapi aku tak peduli apa kau menebus kesalahanmu atau tidak,” kata Yesung.
“ne, tapi aku keberatan kalau tak memberimu ganti rugi atas kesalahanku dulu itu. aku merasa lega setelah aku berbuat ini. benar-benar tak punya beban pikiran lagi.”
“geuraesseo. Gomapta! Aku hanya berharap kau bisa datang untuk menontonku, Taeng.”
“aku harap kau bisa mencetak gol banya sekali,” kata Taeyeon, kembali meneruskan pekerjaannya. Berat juga. Umbi bunga krokus yang mereka pesan telah tiba. Bidang-bidang rumput harus diangkat sebelum umbi-umbi itu boleh ditanam. Kemudian ada juga umbi-umbi daffodil dan tulip. Namun yang ini mudah cara penanamannya.
“begitu banyak pekerjaan, dan begitu sedikit waktu untuk mengerjakannya,” keluh Taeyeon. “aku ingin lebih sering berkuda, aku ingin berkebun sepanjang hari, aku ingin lebih sering bermain music, aku ingin lebih sering bermain bersama kelinci-kelinciku, dan aku ingin lebih sering berolahraga. Oh, Changmin aku..”
“panggil aku oppa!” potong Changmin.
Taeyeon menghela napasnya, “sebegitu tertariknya kah kau ingin dipanggil oppa?” tanya Taeyeon yang dibalas tawa kecil Changmin. “Baiklah. Oppa, kadang-kadang aku ingin sepertimu, hanya mempunyai satu kegemaran, jadi tidak sebingung aku yang mempunyai sepuluh kegemaran.”
“tapi kau lebih banyak merasakan kegembiraannya daripada aku,” kata Changmin bersungguh-sungguh. “Kwon seonsaengnim sering berkata padaku bahwa mestinya aku punya perhatian lain daripada berkebun melulu. Kata beliau dengan hanya mempunyai kegemaran berkebun, maka aku akan membosankan kalau diajak bicara.”
“aniyo!” potong Taeyeon cepat. “aku tak berpendapat kau membosankan,” kata Taeyeon. “kau sungguh menarik bila mulai berbicara tentang berkebun.”
“itu hanya karena kau juga suka berkebun dan mengerti tentang berkebun,” kata Changmin. “tapi kalau yang kuajak bicara tidak menyukai berkebun, pasti ia akan mengira aku bodoh. Tolong pikirkan hal lain kecuali berkebun untukku, Taeng.”
“bagaimana kalau berkuda? Oppa, aku belum pernah melihatmu menunggang kuda. Mintalah Yesung untuk mengajakmu menunggang captain. Pasti kau kaan terlihat keren. Dan Yesung juga akan senang bisa membantumu, dank au akan senang memperoleh pengalaman baru.”
Hari-hari terus berlalu. Hari Jumat tiba. Waktu untuk mengadakan Rapat Besar. Anak-anak memasuki ruangan tanpa bersikap sungguh-sungguh seperti minggu lalu, sebab kali ini tidak aka nada perkara berat yang akan dibicarakan. Anak-anak selalu senang menghadiri Rapat Besar, sebab mereka senang bisa memerintah diri sendiri, membuat berbagai peraturan dan menjaga agar peraturan dipatuhi.
Uang-uang tambahan dimasukkan ke dalam kotak. Dengan bangga Key memasukkan sejumlah won, kiriman pamannya. Kemudian uang saku dibagikan.
Shim Changmin minta uang untuk pembelian umbi krokus. Uang tersebut diberikan. Kemudian ia juga minta uang tambahan untuk membeli garpu tanah yang lebih kecil dari yang biasa digunakannya.
“Sehun akan membantuku menggali tanah,” kata Changmin. “dan garpu tanah kami terlalu besar untuknya. Selama ini kita tidak punya alat kebun yang sesuai untuk anak kecil.”
Permintaan itu pun dikabulkan. Kangta minta uang tambahan untuk membeli CD permainan biola seorang musisi terkenal. Ia ingin memainkan lagu yang sama, dan Shin seonsaengnim berkata ia bisa belajar banyak dari CD itu. Siwon langsung mengabulkan permintaan tersebut. Seluruh sekolah merasa sangat bangga punya seseorang seperti Kangta yang juga mampu memainkan alat music piano dan biola.
“ada laporan atau keluhan?” tanya Siwon.
Ryeowook bangkit. Sedikit segan ia berkata, “keluhanku ini sedikit konyol, memang. Tentang Suho. Ia mendengkur terlalu keras di malam hari. Aku jadi tak bisa tidur. Dan kalian tahu, aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk memerah susu. Kalau malamnya aku tidak bisa tidur, maka sulit bagiku untuk bangun pagi. Kami semua sudah membicarakan hal ini dengan Suho. Tapi Suho tak bisa menghilangkan dengkurnya itu.”
Suho berdiri.
“aku sedang pilek,” katanya. “kukira dengkuranku itu akan lenyap kalau aku sudah sembuh nanti. Mungkin aku boleh tidur di Sanatorium sampai Ibu Asrama menyatakan aku sudah tidak mendengkur lagi?”
“ne, kupikir itu jalan keluar yang tepat,” Siwon tersenyum. “terus terang saja ini keluhan paling lucu yang pernah kudengar. Tapi memang Ryeowook harus bisa tidur nyenyak. Kalau tidak, kita semua tidak akan bisa memperoleh susu waktu sarapan.”
Semua tertawa . siwon mengetuk meja, minta agar semua diam.
“sebelum kita membubarkan rapat ini,” kata Siwon, “Taeyeon ingin mengatakan sesuatu. Berdirilah, Taeyeon.”
Taeyeon berdiri, mukanya terasa panas. Ia telah memikirkan baik-baik apa yang akan dikatakannya, maka ia bisa berbicara dengan lancar, tanpa tertegun atau pun berhenti.
“aku ingin menyampaikan tentang tuduhanku pada Yesung minggu lalu. Aku menuduhnya mempermainkau dan Sulli dengan berbagai tipuannya. Dan kalian semua percaya pada tuduhanku itu, sehingga memutuskan untuk menghukum Yesung dengan jalan melarangnya ikut bertanding. Ternyata tuduhanku salah. Yang melakukan perbuatan keji itu sama sekali bukan Yesung, tapi orang lain.”
“nuguji? Malhaebwa!” seru beberapa orang anak, ada yang bernada gusar. Siwon mengetuk meja dengan palunya, dan semua terdiam.
“chankkaman, Taeyeon.” Kata Siwon. “Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku dan Boa, sebagai Hakim, telah memutuskan bahwa untuk saat ini sungguh tidak bijaksana untuk mengumumkan nama anak yang bersalah itu. kalian mestinya setuju bahwa ada kalanya tidak bijaksana untuk mengumumkan sesuatu pada orang banyak. Dan perkara ini adalah salah satu perkara seperti itu. kuharap kalian mengerti dan puas, sebab ini kami lakukan demi kebaikan kita bersama juga.”
“arasseo,” kata beberapa orang anak. Siwon dan Boa memang disenangi dan dikagumi. Semua anak percya bahwa apa yang dilakukan keduanya pastilah bijaksana.
Amber yang malang mau tak mau gemetar kakinya. Sesaat ia mengira bahwa seluruh sekolah telah mengetahui bahwa dialah yang berbuat begitu keji. Ia tak berani mengangkat muka. Rasanya ingin lenyap dari situ. Sulli dan Sunny yang duduk mengapitnya merasakan betapa Amber gemetar. Keduanya segera merapat untuk menenangkan anak malang itu. untung sekali kedua Hakim tidak membicarakan perkara itu secara berkepanjangan.
Taeyeon masih berdiri. Pembicaraannya belum habis. Ia menunggu sampai anak-anak tenang, lalu berkata lagi, “tak banyak lagi yang ingin aku sampaikan. Aku hanya ingin meminta maaf sedalam-dalamnya pada kalian akan apa yang kukatakan minggu lalu. Aku berjanji bahwa kelak aku akan selalu berhati-hati dan baru setelah yakin benar aku akan menuduh seseorang. Yesung benar-benar pengertian tentang kesalahanku ini.”
Taeyeon duduk. Siwon sudah mengangkat palu untuk membubarkan Rapat waktu Yesung berdiri. Mukanya berseri, matanya bersinar-sinar. Sungguh sangat berbeda (selain rambutnya yang di cat pirang) dengan Yesung yang minggu lalu diadili oleh Rapat.
“bolehkah aku berkata sesuatu, Siwon?” tanyanya. “begini, Taeyeon telah mengundurkan diri dari anggota tim lacrosse untuk memberiku kesempatan terpilih menjadi anggota tim. Itu dilakukannya untuk menebus kesalahannya karena minggu lalu ia merasa telah menuduhku secara keliru. Aku berpikir tindakannya itu sungguh sangat baik, dan aku ingin agar seluruh sekolah mengetahuinya.”
“hidup Taeyeon!!” seseorang berseru. Semua anak merasa bahwa tindakan Taeyeon sangat tepat dan adil. Taeyeon sendiri merasakan perasaan hangat ini, dan ia benar-benar bahagia.
Rapat Besar bubar. Anak-anak keluar untuk melakukan apa saja sesuai kegemaran mereka dalam waktu setengah jam, sebelum makan malam.
Sunny menulis surat untuk ibunya. Sulli menyetel gramofon, lalu menggoyang-goyangkan badannya dengan kocak ditengah ruangan, membuat yang ada disitu tertawa tergelak.
Taeyeon berlatih music dan vocal disalah satu ruang latihan music.
Yesung membaca buku tentang kuda.
Amber sibuk dengan alat menjahitnya. Ia telah menghabiskan seluruh uang sakunya untuk membeli 2 tempat syal untuk di sulam. Dan sekarang ia mulai menyulam syal tersebut. Bila selesai nanti, kedua benda itu akan diberikan pada Taeyeondan Sulli. Boa bilang bahwa sungguh mungkin menebus kesalahan seseorang dengan berbuat kebaikan. Dan sekarang Amber berharap bisa berbuat kebaikan, membuatkan syal untuk teman-temannya itu.
“kami belajar banyak sekali, disamping pelajaran sekolah, di SM School ini,” batin Amber sementara ia menjahit. Dan Amber memang benar!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 18

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 18 : It’s Better
Taeyeon bangun pagi-pagi sekali, dan langsung pergi ke kandang. Yesung sudah ada disana, memasang pelana pada kuda-kuda peliharaannya, bersiul-siul bahagia. Ia melakukan suatu tugas yang disenanginya, merawat kuda-kuda yang tampak langsung membalas cintanya juga.
“suatu perasaan yang menghangatkan hati,” katanya pada Taeyeon. “dulu aku tak pernah merasakan seperti ini, sebab dulu aku tak punya binatang peliharaan. Lagipula waktu itu aku sama sekali tidak menyukai hewan. Kecuali kuda. Kurasa Boa dan Siwon tidak akan bisa memikirkan yang lebih baik lagi untukku. Aneh bukan? Bukannya di hukum, aku malah mendapat sesuatu yang ku gemari. Tapi dengan begini aku bisa menghilangkan sifat burukku lebih cepat daripada dihukum. Sekarang aku sama sekali tidak mau berbuat buruk lagi.”
“kita tidak bisa berbuat jahat pada siapapun saat kita merasa bahagia,” kata Taeyeon bijak, “paling tidak begitulah yang terjadi padaku. jika aku bahagia, aku hanya ingin bersikap hangat dan murah hati. Kajja, kita berangkat. Oh, Yesung, aneh bukan bahwa kita bisa bersahabat sertelah musuhan begitu sengit.”
Yesung tertawa, melompat ke punggung Horsie. Kuda itu meringkik, menengadahkan kepala. Ia sangat senang mengetahui bahwa Yesung yang menungganginya. Kedua kuda mereka berjalan pelan sepanjang jalan berumput, kemudian berpacu kearah perbukitan. Taeyeon sudah pandai menunggang kuda sejak beberapa tahun, jadi ia bisa berkuda dengan baik walaupun ia selalu kesulitan saat hendak menaikinya. Mereka menikmati perjalanan pagi itu. mereka saling berteriak, berbicara. Kemudian taeyeon mengemukakan sebuah usul.
“hei, bagaimana kalau kapan-kapan kau ajak Liu Amber berkuda bersama? Biar pipinya merah sehat!”
“Amber? Aku tidak menyukainya!” teriak Yesung. “dia itu anak nakal! Apa kau akan bermain dengannya?”
“memang!” sahut Taeyeon. “dulu aku juga tidak menyukainya, seperti halnya aku tidak menyukaimu. Tapi kukira aku telah sudah sering salah menafsir orang. Mungkin juga aku bisa berteman dengannya. paling tidak ia akan ku beri kesempatan. Kau mau membantukukan?”
“geurae,” kata Yesung. “ia cukup pandai berkuda. Tapi kau juga harus ikut. Aku tidak akan tahan berdua saja dengannya. bisa kaku karena bosan! Satu hal tentangmu, Taeyeon, kau tidak pernah membosankan. Kalau kau sedang baik hati, kau bisa baik sekali, begitu juga sebaliknya, kalau sedang jahat, kau bisa jahat sekali!”
“YA!! jangan ingatkan aku tentang itu!” kesal Taeyeon memperlambat kudanya, “aku sedang berusaha memperbaiki diri. Aku ingin agar selamanya aku jadi anak yang baik. Malah waktu aku kembali ke sekolah ini aku telah bertekad untuk berusaha keras menjadi anak terbaik. Tapi ternyata aku membuat begitu banyak kesalahan dan kekeliruan! Rasanya aku tidak akan mungkin jadi Pengawas.”
“kau tahu tidak, sebenarnya aku juga ingin jadi Pengawas,” kata Yesung, “mestinya senang sekali merasa bahwa kita dipercaya dan disegani oleh seisi sekolah, segala pendapat kita didengar dan dipatuhi. Dan betapa bangganya duduk sebagai anggota Dewan Juri. Tapi..yah, tidak mungkin seorang diantara kita berdua bisa sampai terpilih. Aku membuat awal yang buruk semester ini. dan kau adalah anak paling badung semester yang lalu. Tak bisa ku bayangkan betapa nakalnya kau dulu sampai memperoleh julukan seperti itu.”
Waktu keduanya memasuki ruang makan untuk sarapan, Yesung dan Taeyeon sama-sama tampak sangat berbahagia. Pipi mereka merah oleh angin dingin, mata mereka bersinar-sinar. Taeyeon tersenyum pada Amber yang duduk di tempat biasanya, tampak sedikit ceria tapi agak gugup.
“annyeong, Amber! Annyeong yeorobun,” sapa Taeyeon, “wah, aku lapar sekali! Rasanya aku bisa menghabiskan 20 sosis dan 12 telur.”
“baru berkuda, ya?” tanya Amber sambil mendorong piring tempat roti panggang kearah Taeyeon. “wah, kau benar-benar merah seperti orang Indian.”
Taeyeon tertawa. “tapi sungguh menyenangkan! Mestinya kau juga bangun pagi dan berkuda bersama kami,”
“ne, ayolah,” ajak Yesung. “kau kan cukup pandai berkuda, Amber. Datang saja, dan mari berkuda denganku dan Taeyeon. Kita bisa berkuda sampai bermil-mil!”
Amber berseri-seri kegirangan. Ia tersenyum lebar, “oh, aku akan senang sekali,” katanya. “gomapta. Aku sangat menyukai kuda bernama Horsie itu.”
“jeongmal?” tanya Yesung heran. “aneh, aku juga menyukai kuda itu! ia memang kuda yang sangat manis! Kemarin kakinya pincang dan aku benar-benar khawatir…”
Dan Yesung langsung saja tenggelam dalam percakapan yang hangat dengan Amber, membicarakan Horsie dan Captain. Percakapan mereka cukup seru, karena Amber cukup banyak tahu tentang kuda. Kali ini ia sama sekali tidak membual. Ia menahan diri untuk bisa mendengarkan dengan sopan, sementara hatinya begitu gembira karena ada seseorang yang berbicara dengan begitu hangat dan bersahabat. Ia berusaha keras untuk tidak membuat bibirnya melengkung turun di ujung-ujungnya, sesuatu yang membuat wajahnya tampak bodoh. Dengan berseri-seri ia mengikuti pembicaraan Yesung, dan sekali-kali tertawa ceria karena lelucon Yesung.
Tadinya ia sangat takut unutk ikut sarapan. Pastilah akan sangat berat baginya untuk duduk berhadapan dengan Taeyeon, Sulli, Sunny, dan Sooyoung. Keempat anak itu tahu rahasianya. Tapi setelah duduk bersama ternyata dugaannya salah. Keempatnya menyambutnya secara wajar saja, walaupun jelas lebih hangat dan ramah dari biasanya. Sikap mereka membuat Amber merasa sangat bersyukur dan berbahagia, bukannya kikuk dan malu.
Sungguh menyenangkan suasana sarapan itu. tapi beberapa anak ada juga yang heran melihat Yesung dan Taeyeon tiba-tiba saja tampak begitu akrab.
“kau benar-benar aneh, Taeng,” kata Key. “suatu hari kau bermusuhan setengah mati, dan hari berikutnya kau sudah bersahabat begitu akrab!”
“semester lalu Taeyeon pernah menjadi musuhku yang paling kubenci,” kata Sungmin sambil tertawa. “sampai di punggungnya ku tempelkan kertas dengan tulisan ‘Aku anak badung, bandel, Bengal! Aku menyalak! Aku menggigit! Awas!’ wah. Waktu itu kau marah sekali, Taeyeon.”
“memang,” kata Taeyeon teringat saat ia diusili Sungmin. “tapi sekarang peristiwa itu terasa lucu bagiku. Eh, ayo kita lihat papan pengumuman, kayaknya ada pengumuman baru.”
Mereka menyeberangi ruangan. Memang ada pengumuman baru.
“Kim Taeyeon terpilih untuk ikut main dalam pertandingan lacrosse melawan Sekolah JYP,” demikian bunyi pengumuman tersebut.
Taeyeon ternganga membacanya. Pipinya serasa terbakar.
“Ommo!!” ia berseru. “saekarang aku benar-benar terpilih! Dulu Yesung yang terpilih, tapi karena ia dihukum aku yang ditunjuk untuk menggantikannya. Tapi sekarang aku benar-benar terpilih!”
“tentu saja, apa lagi kali ini adalah pertandignan perlawatan, bertanding di kandang lawan!” kata Sungmin. “kau bisa pergi naik bus ke sekolah JYP. Kau benar-benar beruntung!”
“memang menyenangkan!” seru Taeyeon. Bagaikan menari ia langsung mendekati Sulli dan Sunny untuk memberitahu tentang pengumuman tersebut. Amber msih bersama mereka berdua, dan berempat mereka membicarakan hal itu dengan gembira.
“kalau saja kami bisa ikut pergi untuk menyaksikan kau menembakkan bola ke gawang lawan, pasti menyenangkan!” Sunny kegirangan menggandeng lengan sahabatnya. “mudah-mudahan kali ini tidak hujan lagi, Taeng.”
“oh, jangan sampai hujan lagi!” seru Taeyeon. “Sunny, Amber, nanti bantu aku berlatih, ya, sebelum makan siang!”
Amber semakin berseri. Jarang sekali ada anak yang meminta bantuannya. Sungguh menyenangkan merasa bahwa dirinya dianggap teman sekelompok sekarang.
“hei, senyummu benar-benar manis,” kata Sunny memperhatikan Amber. “kajja! Lonceng sudah berbunyi. Jangan sampai aku terlambat. Kemarin aku hanya setengah detik, tapi Song seonsaengnim sudah ngamuk-ngamuk!”
Tak terasa Amber bernyanyi kecil saat pergi ke kamarnya untuk mengambil buku. Betapa baik hati teman-temannya! Ternyata memang sangat mudah untuk tersenyum bila kita merasa bahagia. Pagi ini Amber sudah bisa tersenyum di kacanya. Diperhatikannya wajahnya. Kini sudah berbeda, tidak sederhana lagi, tapi berseri-seri dan manis! Dengan tegas ia berbicara pada bayangan wajahnya di cermin.
“sekarang kau tidak boleh lagi makan permen. Kau tidak boleh rakus! Tak boleh berbuat bodoh sedikit pun! Senyumlah dan jadilah anak manis!”
Dan wajah di cermin itu tersenyum membalasnya.
Ketika pelajaran pagi selesai, Taeyeon, Amber, dan Sunny bergegas mengambil tongkat-tongkat lacrosse, untuk berlatih menangkap dan memukul bola. Mereka bertubrukan dengan Yesung di gang.
“aigoo.. kalian ini seperti topan saja!” seru Yesung. “mau kemana tergesa-gesa?”
“kami mau membantu Taeyeon menangkap bola,” kata Sunny. “apa kau tidak tahu? Taeyeon terpilih untuk ikut main dalam pertandingan di Sekolah JYP sabtu depan.”
“jinja?” sesaat wajah Yesung terlihat sangat kecewa. Ia telah begitu berharap dirinya akan terpilih kembali. Sebab dulu dia yang dipilih, dan akhirnya Taeyeon menggantikannya, walaupun akhirnya pertandingan dibatalkan kareana hujan lebat. Yah, tak apalah.
“aku tidak boleh merasa iri,” katanya dalam hati. “toh masih banyak kesempatan untuk bisa dipilih.“ dan ia berseru pada Taeyeon, “chukkae, Taeyeon! Betapa menyenangkannya kalau aku bisa melihatmu memasukkan bola ke gawang lawan!”
Ia berlari meninggalkan yeojadeul itu. Taeyeon berpaling pada Sunny, “Yesung baik sekali, kan?”
Sunny menatap wajah Taeyeon, “kau perhatikan wajahnya waktu ia ku beritahu bahwa kau yang terpilih?”
“ani, wae?” tanya Taeyeon heran.
“ia terlihat sangat kecewa,” kata Sunny mengeluarkan tongkat lacrosse-nya. “mungkin sekali ia berharap akan terpilih kali ini, sebab dulu ia dihalangi oleh keputusan rapat.”
“oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Taeyeon. Ia juga mengeluarkan tongkat lacrosse-nya, dan ketiga yeoja itu pergi ke lapangan. tak lama mereka telah sibuk, saling melempar, saling menangkap bola. Kemudian Amber menjadi penjaga gawang, sementara kedua rekannya berusaha memasukkan bolanya.
Tapi sekarang Taeyeon tak begitu menikmati latihannya. Ia berpikir tentang Yesung. Sabtu lau, dengan tuduhannya ia berhasil mencegah Yesung bermain di pertandingan. Makin dipikirkannya terasa makin tak adil bahwa sekarang dialah yang bermain dan bukan Yesung.
“walaupun akhirnya aku tak jadi main karena hujan,” demikian pikirnya sambil menangkap bola dan melontarkannya pada Sunny.
“tapi kalau tidak hujan, maka mestinya aku sudah main satu kali. Jadinya kalau sabtu ini aku main lagi, itu berarti aku main dua Sabtu berturut-turut, sementara Yesung sama sekali belum bermain sekali pun. Padahal sebenarnya dialah yang terpilih minggu lalu. Rasanya hatiku tidak enak. Biarlah kutanyakan hal ini pada Sooyoung.”
Sehabis makan, Taeyeon menemui Sooyoung.
Sebagai pengawas, maka Sooyoung selalu siap untuk mendengar kesulitan anak-anak dibawah pengawasannya. Sebaliknya mereka yang diawasi selalu dengan senang hati minta nasihat seorang pengawas bila memang diperlukan.
“Soo, bagaimana menurutmu kalau aku minta agar Yesung bermain dalam pertandingan hari Sabtu ini, dan bukannya aku?” tanya Taeyeon. “kau tahu, Sabtu kemarin ia tak jadi main karena aku telah menuduhnya berbuat salah. Dan aku tahu ia sangat kecewa sekali. Bagaimana kalau aku minta pada Seohyun agar mengganti namaku dengan nama Yesung?”
“ne, kukira itu sangat adil, Taeng.” Kata Sooyoung segera. “bagus sekali keputusanmu ini. aku sangat senang kau berpikir sampai ke situ. Ada satu hal sangat kukagumi pada dirimu, kau selalu berusaha untuk bertindak sangat adil.”
“aku akan mencari Seohyun sekarang juga,” kata Taeyeon, dan berlari meninggalkan Sooyoung, takut kalau pikirannya berubah lagi. Hal ini memang tidak enak bagi Taeyeon, tapi akan merupakan kejutan manis bagi Yesung!
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 17

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– Chapter 17 : remedy the situation
Taeyeon merasa marah pada dirinya sendiri saat ia mencari Yesung.
”sungguh buruk kelakuanku,” pikirnya. “aku menuduh seseorang melakukan banyak sekali perbuatan jahat, dan ternyata tak satu pun dilakukannya. Aku telah meminta dan berhasil membuatnya dihukum pada saat ia memutuskan untuk mengubah kelakuannya. Semua orang menolongnya. Aku satu-satunya yang telah membuatnya marah dan kecewa. Aku benci pada diriku sendiri!”
Ia tak bisa menemukan Yesung dimana pun. Hingga seseorang menghampirinya.
“hey, Taeyeon!” seru orang itu menepuk pundak Taeyeon.
“oh, kau Leeteuk.” kejut Taeyeon. “mengagetkanku saja!”
“hehe.. mian.” Ucap Leeteuk. “kau sedang mencari apa?”
“aku mencari Yesung.” Kata Taeyon. “Apa kau melihatnya?”
“Yesung?” tanya Leeteuk. “Tidak. Memangnya kenapa?”
“aku ada urusan dengannya.”
“wah, kau mau berkelahi lagi dengan anak itu?”
“ya! memangnya kerjaanku hanya berkelahi saja?” Taeyeon meninju kecil perut Leeteuk, namun keduanya tertawa cekikikan. *inget TaeTeuk moment di SUKIRA 😉
“Leeteuk!” teriak seseorang menghampiri keduanya.
“ne? ada apa Kyu?” jawab Leeteuk.
“oh, Taeng, annyeong!” sapa Kyuhyun yang dibalas sapaan balik Taeyeon. “ya!! aku tunggu dilapang basket, malah pacaran disini!”
“YA!! Siapa yang pacaran!” bantah Taeyeon dan Leeteuk bersamaan dan membuat keduanya saling melirik lalu melempar pandangan kearah lain dan membuat Kyuhyun terkekeh.
“aku pergi.” Ucap Taeyeon melewati Kyuhyun.
“mau kemana?” tanya Kyuhyun. “tidak mau menonton kami berlatih basket?”
“aniyo. Lain kali saja.” kata Taeyeon. “aku harus mencari Yesung.”
“Yesung? Tadi kulihat dia ada di kandang kuda.”
“oh, gomawo, Kyu.” Ucap Taeyeon segera pergi menuju kandang kuda.
Disana Taeyeon bertemu Ryeowook. “hari ini Horsie sedikit pincang,” kata Ryeowook. “dan Yesung sekarang ada di kandang, merawatnya bersama para pengurus kuda. Aku baru saja melihatnya, waktu pulang dari kandang sapi. Aku dan Victoria setiap pagi bertemu dengannya, saat kami berdua harus memerah sapi. Dan kau tahu, Taeyeon, kami merasa dia anak yang sangat menyenangkan. Ia berusaha keras untuk menyenangkan semua anak yang dulu diganggunya. Mau tidak mau aku harus mengaguminya.”
“aku juga mengaguminya,” kata Taeyeon. “tapi jelas ia tidak akan mengagumiku kalau ia mendengar apa yang akan ku ceritakan padanya nanti.”
“mwoya?” tanya Ryeowook. Tapi Taeyeon tidak mau menceritakannya.
Diluar hari sudah gelap. Taeyeon merapatkan syalnya dan mendekat ke kandang kuda. Didengarnya Yesung bercakap-cakap dengan pengurus kuda didalam kandang. Ia pun menjengukkan kepalanya ke dalam.
“Yesung,” katanya. “bisakah aku bicara sebentar denganmu?”
“nugu?” tanya Yesung heran. “oh, kau, Taeyeon. Ada apa?”
Yesung keluar kandang, mendekatinya. Tubuhnya bau kuda. Bau yang disukai Taeyeon, dan rambutnya berantakan dan tampak berbeda karena warna rambutnya berbeda dari biasanya.
“kau mengecat rambutmu?” tanya Taeyeon melihat perubahan rambutnya.
“apa kau kesini hanya untuk menanyakan itu?”
“ah, aniya.” Kata Taeyeon. Lalu keduanya duduk dibangku panjang yang menghadap ke kebun sekolah. “Yesung.”
“hm?”
“aku telah melakukan suatu kesalahan padamu.” Aku Taeyeon. “ternyata yang mempermainkan aku dan Sulli memang bukan kau.”
“aku sudah mengatakan hal itu padamu,” kata Yesung. “jadi aku tidak heran lagi.”
“ne, padahal aku sudah mengatakan pada seluruh sekolah bahwa kau yang melakukannya,” kata Taeyeon, suaranya mulai sedikit bergetar. “dan kau kena hukuman karena itu. tak bisa kujelaskan betapa menyesalnya aku. Kau memang pernah berbuat keji terhadapku, dan aku tak menyukaimu, tapi perbuatanku padamu jauh lebih keji lagi. Dan kau ternyata benar-benar memiliki pribadi yang kuat, karena mau datang pada pertandinganku, dan ikut menyesal sewaktu pertandingan itu dibatalkan karena hujan. Menurutku kau jauh lebih matang berpikir dariku. Sungguh picik pikiranku…”
“aku juga berpikir begitu,” kata Yesung dan menggenggam tangan kanan Taeyeon dan Taeyeon sedikit terkejut. “tapi sebenarnya aku tidak sebaik yang kau pikirkan, Taeyeon. Aku bisa melupakan kebencianku padamu karena aku merasa sangat bahagia, begitu bahagia hingga aku yakin aku mampu mengubah pribadiku. Sebenarnya karena perasaan bahagiaku itu aku tidak peduli lagi pada kekecewaanku karena tidak jadi main. Jadi tidak sulit bagiku untuk ikut nonton dan mengatakan padamu aku ikut menyesal karena pertandingan itu dibatalkan. Tapi aku senang akhirnya kau tahu siapa yang berbuat. Nugu?”
“saat ini aku belum bisa mengatakannya,” kata Taeyeon dan melepaskan tangan Yesung di tangannya. Yesung menunduk tertawa kecil. “tapi segera setelah aku tahu hal ini aku mendatangimu, untuk mengatakan aku sangat menyesal atas tuduhanku padamu. Aku harap kau bisa memaafkanku.”
“tidak usah khawatir tentang itu,” sahut Yesung sambil tertawa. “orang-orang akan harus memberiku maaf jauh lebih banyak daripada maaf yang harus kuberikan padamu. Ayolah, kita bersahabat saja. bermusuhan awalnya memang menyenangkan, tapi lama-lama bisa gawat juga. Datanglah besok pagi sebelum sarapan, dan kita berkuda bersama. Kau naik Captain, aku naik Horsie, kalau kakinya sudah sembuh. Dan gembiralah! Kau tampak aneh?”
“aku memang merasa aneh,” kata Taeyeon dengan kerongkongan serasa tercekat. “tak ku sangka kau begitu baik padaku. kukira memang aku sering salah menilai orang. Ya, Yesung, aku senang akhirnya kita bersahabat. Aku akan bangun pagi-pagi sekali besok.”
Yesung tersenyum pada Taeyeon dan kembali ke dalam kandang. Taeyeon menyelinap masuk ke dalam kegelapan. Sejenak ia berdiri diluar pintu, diterpa angin dingin. Betapa anehnya orang-orang disekelilingnya. Kadang kita mengira seseorang jahat, tapi ternyata ia seorang yang baik bahkan ingin bersahabat dengan kita.
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 16

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
kalo sempet mo d tamatin hari ini juga (sampe chapter 26). mudah-mudahan aja ya! maklum, jarang-jarang punya waktu luang kayak gini.

–Trouble Maker– Chapter 16 : Amber Escapes
Amber mengambil tasnya dan keluar. Sunny mengejarnya memegang tangannya. “Jangan bodoh, Amber! Kau tidak bisa melarikan diri dari sekolah ini!”
“bisa saja,” kata Amber. “aku akan melakukannya sekarang. Jangan coba menghalangiku, Sunny! Aku akan jalan kaki ke stasiun.”
Amber menepis tangan Sunny dan berlari menuruni tangga. Tidak ada gunanya mengejar dia. Ia telah bertekad bahwa tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Taeyeon, Sunny dan Sulli hanya bisa memandanginya.
“aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Kata Sulli tiba-tiba dengan suara gemetar. “kalau saja aku tidak menirukan Han seonsaengnim, mungkin keadaannya tidak seperti ini.”
“eotteokke?” bisik Sunny khawatir. “kita harus melaporkan bahwa Amber melarikan diri. Tapi kurasa memang tidak ada gunanya mencegahnya lari. Sebab kalau aku jadi dia, aku juga tidak berani menghadapi Rapat Besar. Kalaupun tidak sekarang, sesudah menghadapi Rapat Besar ia pun tidak akan tahan dan pasti juga tetap akan melarikan diri. Ia sama sekali tidak punya keberanian.”
Saat itu Sooyoung muncul. Ia heran melihat ketiga anak itu berdiri mematung di pintu kamar mereka dan tampak khawatir.
“kenapa kalian ada disini?” tanya Sooyoung. “apa kalian tidak tahu kalau pertunjukan music akan segera dimulai? Ppali! Wae? Ada apa?”
“banyak sekali yang terjadi,” kata Taeyeon. “sampai-sampai kami tidak tahu harus berbuat apa. Benar-benar gawat, Soo!”
“aigoo! Kalau begitu kalian harus segera memberitahuku, sebab aku Pengawas kalian.”
“kukira memang itulah yang seharusnya kami lakukan,” kata Sulli. “izinkan kami tidak menghadiri pertunjukan music itu, Soo, dan ayo kita pergi ke studio dance. Sepertinya sekarang ruangan itu kosong, jadi kita bisa ceritakan apa yang terjadi.”
Seminggu sekali, sebuah pertunjukan music diadakan oleh anak-anak yang bermain piano, biola, menyanyi, atau berdeklamasi. Biasanya seluruh warga sekolah menghadirinya, sebab mereka ingin melihat bagaimana teman-teman sekelas mereka beraksi. Benar kata Sulli, studio dance kosong. Sulli segera bercerita. Ia menceritakannya dari awal, Sooyoung mendengarkannya dengan tenang.
“kasihan, Amber!” sahut Sooyoung. “ia benar-benar mengacaukan segalanya! Kita harus segera bertindak, aku tidak tahu harus bagaimana. Lebih baik kita temui Boa dulu, dan kita minta ia mengantarkan kita ke Mrs. Park dan Mrs. Seo.”
“aigoo, apa mereka juga harus tahu?” tanya Taeyeon kecewa.
“tentu saja. masa seorang siswa melarikan diri dari sekolah dan kepala sekolah tidak mengetahuinya? Kajja! Kita tidak boleh membuang-buang waktu!”
Mereka menemui Boa di kamarnya. “Boa, ikutlah dengan kami menemui Mrs. Seo dan Mrs. Park.” Pinta Sooyoung. “seorang anak di kelas Taeyeon melarikan diri, dan kami kira kami harus menceritakan segalanya pada kepala sekolah.”
“tentu!” kata Boa terkejut. “kita harus mengajak Siwon juga. Ia harus tahu masalah ini, dan akan menghemat waktu kalau ia mengetahuinya sekarang.”
Beberapa menit kemudian 6 orang anak berkumpul didepan ruang tamu tempat kedua pimpinan sekolah itu. Mrs. Seo dan Mrs. Park sedang menulis surat waktu Boa mengetuk pintu.
“masuklah,” terdengar suara tenang dari dalam. Dan mereka pun masuk. Ternyata Sooman sajangnim juga ada disitu. Ketiga guru kepala itu sangat heran melihat banyak anak datang.
“ada apa ini?” tanya Mrs. Park segera.
“ada suatu kejadian yang memerlukan perhatian anda,” kata Boa. “Taeyeon, tolong ceritakan yang terjadi.”
Taeyeon menceritakan semuanya. Pada waktu ceritanya sampai pada saat Amber berangkat ke stasiun, Sooman sajangnim segera bangkit berdiri. “aku harus mengejarnya,” katanya. “mudah-mudahan tidak terlambat.”
“tapi kereta pasti sudah berangkat,” kata Sooyoung.
“jadwal perjalanan kereta api sudah diubah bulan ini,” kata sajangnim. “kereta yang semestinya berangkat jam ini sudah dihapus, digantikan kereta yang berangkat 1 jam lagi. Kalau aku berangkat cepat-cepat, mungkin anak itu bisa kususul. Boa, ikut aku!”
Keduanya berangkat. Beberapa saat kemudian terdengar pintu depan berdebam. Taeyeon tak henti-hentinya berharap semoga Amber tersusul sebelum naik kereta. Sekarang setelah para pimpinan sekolah mengetahuinya, Taeyeon merasa bebannya sedikit ringan. Orang dewasa tampaknya selalu bisa membereskan persoalan apapun.
“menurutku, 2 hal harus segera diselesaikan,” kata Mrs. Park. “pertama, untuk menyadarkan Amber bahwa melarikan diri sama sekali tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk keadaan. Ia harus bisa mengembalikan kepercayaan dirinya. Ia mengira dirinya gagal, ia harus sadar bahwa seseorang tidak perlu sampai menganggap dirinya gagal. Kalau dia bisa kita sadarkan bahwa masih bisa berusaha lagi, maka segalanya akan beres.”
“aku tahu yang kedua,” kata Taeyeon. “yaitu membersihkan nama baik Yesung dari berbagai tuduhan. Aku benar-benar merasa tidak enak kalau berpikir bahwa aku telah menuduhnya sembarangan, tanpa bukti. Dan yang lebih tidak enak bagiku, ternyata ia menerima saja hukumannya. Aku benar-benar malu.”
“aku senang kau merasa malu, Taeyeon.” Kata Mrs. Seo. “kita semua tahu bahwa kau sebenarnya adil dan jujur. Tapi kau tidak akan bisa mencapai apa-apa kalau selalu terburu-buru memutuskan sesuatu, tidak bisa mengendalikan kemarahanmu.”
“memang. Aku sudah banyak belajar tentang itu,” kata Taeyeon. “tapi anda tidak tahu seberapa sulitnya mengendalikan diri.”
“tentu saja aku tahu,”Mrs. Seo tersenyum. “sebab aku dulu juga tidak bisa mengendalikan diriku, aku dulu juga sangat cepat naik darah.”
Mrs. Seo tersenyum manis sekali. Kelima anak itu ternganga heran. Mrs. Seo yang selalu tampak berwajah manis itu penaik darah? Unbelieveable!
“sekarang apa yang akan kita lakukan kalau Sooman sajangnim berhasil membawa Amber kembali?” tanya Mrs. Park. “aku berpikir bahwa Siwon dan Boa merupakan orang yang paling tepat untuk menghadapinya. Mereka tidak akan membuat canggung, seperti kalau ia harus menghadapi kami, atau Sooman sajangnim.”
“ia bilang kalau ia tak sanggup menghadapi Rapat Besar, jika mereka membicarakan tentang perbuatannya itu,” kata Taeyeon. “ia tak terlalu pemberani. Walaupun kadang-kadang ia menentang guru di kelas, yang tidak akan pernah berani kulakukan.”
“itu namanya bukan pemberani,” kata Mrs. Park. “itu sesuatu yang sering dilakukan oleh orang-orang lemah namun keras kepala. Mereka selalu takut kalau dianggap bodoh sehingga mereka selalu mencoba untuk menarik perhatian dengan cara apapun. Bertengkar, membual, atau membantah, apa saja yang bisa membuat orang lain memperhatikan mereka! Kita tidak akan pernah melihat orang-orang yang berkepribadian kuat, orang-orang bijaksana bertengkar, atau membual, atau menarik perhatian orang. Itu dilakukan hanya oleh orang-orang yang berkepribadian lemah! Dan dalam kasus Amber, ini berarti bahwa ia merasa dirinya gagal. Dia mencoba menyembunyikan kenyataan itu dari dirinya sendiri dan orang lain. Sekarang ia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Dan ia melarikan diri. Tepat seperti yang biasa dilakukan orang-orang lemah.”
“jika sudah diterangkan dengan jelas, segalanya tampak berbeda, bukan?” kata Sulli. “aku tidak akan pernah menirukan Amber kalau saja aku tahu apa yang menyebabkan ia berbuat begitu. Sekarang aku merasa kasihan padanya dan berjanji akan membantu apa saja untuk kebaikannya.”
“ia bahkan malu akan bintik-bintik dimukanya,” kata Taeyeon. “padahal bintik-bintik itu muncul karena kegemarannya makan permen.”
“ia tampak manis saat tersenyum,” kata Sunny. “sudah kukatakan hal seperti itu padanya.”
“bagus!” kata Mrs. Seo. “sepertinya kalau saja Amber mau merapikan diri dan merawat dirinya, serta menghilangkan bintik-bintik di mukanya, maka anak itu akan mengawali perbaikan dirinya dengan baik. Siwon, apa kau pikir bisakah kau dan Boa memberi pengertian padanya? Tampaknya semester ini kau banyak sekali menghadapi persoalan berat. Tapi aku yakin kau akan bisa menanggulangi semuanya dengan baik.”
“dan bagaimana dengan kemungkinannya untuk menghadapi Rapat Besar?” tanya Siwon.
“kau dan Boa yang harus menentukan hal itu.” kata Mrs. Park. “kami menyerahkannya padamu. Kalau kalian berpikir tidak baik untuk memaksanya menjadi berani sebelum waktunya, maka lebih baik kalian hanya membebaskan Yesung dari tuduhan terhadapnya, kemudian kita tunggu sampai Amber cukup berani untuk mengakui perbuatannya. Mungkin sebelum akhir semester ini ia sudah berani berbuat itu, kalau kita menanganinya secara baik.”
Sungguh mengherankan betapa mudahnya kini persoalan yang mereka hadapi, setelah semuanya dibicarakan dan diteliti. Kebiasaan jahat Amber ternyata bersumber dari sesuatu yang sangat sederhana. Perasaan bahwa dia gagal dalam hidup ini. kalau perasaan itu bisa dihilangkan, maka sebagian besar kesulitan yang dialami Amber akan lenyap. Dan itu akan menyenangkan banyak orang.
Terdengar suara mobil memasuki halaman, lalu suara pintu mobil dibanting. Pasti suara taxi. Semuanya berdebar-bedar menunggu munculnya Sooman sajangnim dan Boa dengan Amber. Apakah mereka berhasil menyusul anak itu?
Terdengar langkah kaki mendatangi. Pintu terbuka. Hanya Sooman sajangnim yang ada diambang pintu. Boa tidak ada. Amber juga tidak ada.
“apa anda tidak bisa menemukannya?” tanya Mrs. Seo harap-harap cemas.
“oh, bisa,” kata sajangnim. “ia tadi kami temukan di ruang tunggu stasiun. Kasihan sekali. Begitu sedih dan tampaknya sangat menyesal sudah melarikan diri. Waktu Boa mendekatinya, ia langsung menangis, dan menurut saja kami ajak pulang. Untunglah jadwal perjalanan kereta api diubah, sehingga ada waktu baginya untuk berpikir lagi. Kalau saja kereta api datang sebelum kami tiba, maka sudah pasti ia akan berangkat, dan tidak terkejar lagi.”
“dimana dia?” tanya Siwon.
“di kamar Boa,” jawabnya. “lebih baik kau juga kesana, Siwon. Aku yakin kau bisa membantunya. Biarkan dia berbicara apa saja, biarkan ia mengeluarkan segala perasaan hatinya.”
“baiklah,” kata Siwon. Dan ia pun pergi. Keempat anak lainnya juga ikut meninggalkan tempat itu.
“aku akan mencari Yesung,” kata Taeyeon. “ini tugasku, dan harus kulakukan segera. Walaupun aku tahu pasti akan sangat berat bagiku.”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 15

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
kalo sempet mo d tamatin hari ini juga (sampe chapter 26). mudah-mudahan aja ya! 😉

–Trouble Maker– Chapter 15 : Amber Recognizes
Semua merasa kecewa karena pertandingan dibatalkan. Terutama para pemain. Sepanjang sore itu hujan turun deras. Mr.Choi dan Mrs. Song mengatur berbagai permainan di ruang senam, antara tim tamu dan tim sekolah mereka. Dan ternyata tim tamu senang sekali dengan permainan-permainan itu.
Sunny ikut menyesal karena Taeyeon kecewa. Digandenganya tangan sahabatnya itu. “sudahlah, Taeng, tidak usah terlalu dipikirkan. Minggu depan kan ada pertandingan lagi. Aku yakin kau bisa bermain dalam pertandingan itu.”
“mungkin saja,” kata Taeyeon. “tapi sial sekali tidak bisa jadi bermain hari ini. aku sudah berlatih keras. Dan aku sudah begitu tangkas dalam menangkap bola dan mencetak gol!”
“aku takin Yesung sangat girang karena hujan dan kau tidak jadi main,” kata Sunny.
“nah, itulah yang aneh, Sunny,” kata Taeyeon. “pertama, ia datang ke lapangan untuk menonton pertandingan itu. dan kedua, sewaktu kita semua lari meninggalkan lapangan, ia mendatangiku dan bilang kalau ia ikut menyesal pertandingan terpaksa dibatalkan. Aneh, kan? Aku jadi malu sendiri. bahkan ia membantuku melindungiku dari hujan.”
“MWO??” kaget Sunny membuat orang-orang berpaling kearahnya.
“kecilkan suaramu, babo!!”
“Dia melindungimu dari hujan? Bagaimana ceritanya?”
“ne. dia mendatangiku dan melindungi kepalaku dan kepalanya dengan jaketnya.”
“whoaa, jangan-jangan dia mulai menyukaimu!”
“MWO???” kaget Taeyeon kembali membuat orang-orang berpaling pada 2 yeoja ini.
“ada apa, Taeng?” tanya Donghae.
“oh, aniyo, Hae.” Kata Taeyeon.
Taeyeon dan Sunny kembali mengobrol dengan berbisik-bisik.
“tapi aku curiga ia sedang merencanakan sesuatu. Tunggu saja sampai ia menjalankan rencana jahatnya lagi padamu.” Kata Sunny. “kau tidak akan merasa malu lagi pasti.”
Tapi ternyata sejak saat itu mereka tak pernah diganggu oleh kejadian aneh lagi. Amber tidak bernafsu(?) untuk mempermainkan Taeyeon dan Sulli lagi. Ia sudah melihat anak lain yang dihukum karena ulahnya. Ia mulai membenci dirinya sendiri. ia memang membenci Taeyeon dan Sulli, tapi kebenciannya pada dirinya sendiri bukannya benci karena marah, melainkan benci bercampur jijik.
“sungguh anak yang pantas dibenci semua orang,” pikir Amber putus asa. “mukaku buruk. Berbintik-bintik. Pucat. Aku membosankan dan tak begitu cerdas. Dan sekarang aku begitu jahat, suka berbohong dan pengecut! Ini semua benar-benar merupakan permulaan terburuk untuk menjadi anak yang sangat jahat. Kalau seseorang mulai membenci dirinya sendiri, maka ia tidak akan bisa merasa bahagia lagi. Aku tidak cocok untuk bersekolah di SM ini. semua anak lain selalu bahagia dan gembira. Dan bahkan seorang anak jahat seperti Yesung ternyata bisa beralih menjadi baik dan diberi kesempatan untuk memulai lagi.”
Poor Amber! Awalnya ia mengira segala tipuannya merupakan sesuatu yang menyenangkan, apalagi melihat hasilnya yang selalu berhasil seperti yang diinginkannya.
Tapi sekarang ia tahu bahwa kebiasaan jahat membuat seseorang menjadi jahat. Dan ia membenci dirinya sendiri.
“benar-benar buruk membenci diri kita sendiri, lebih buruk daripada membenci orang lain,” pikir Amber selanjutnya. “sebab kita tidak bisa lari dari diri kita sendiri. kenapa aku tidak bisa bersikap seperti Sooyoung atau Changmin, yang selalu jujur dan bahagia.”
Amber benar-benar tidak merasa bahagia. Ia mulai terbiasa berjalan dengan kepala menunduk seperti seekor anjing yang terlalu sedih.
“ada apa, Amber? Ommo! Senyum sedikit donk!” seru Tiffany.
“kau kelihatan begitu sedih! Apa kau menerima kabar buruk dari rumah?”
“tidak,” jawab Amber. “aku hanya sedang tidak suka tersenyum. Jangan menggangguku.”
Anak-anak lain juga melihat betapa sedihnya Amber. Merasa kasihan juga padanya. Bahkan Taeyeon juga bertanya, “Amber, kau sakit?”
Tapi Amber hanya menjawab singkat, “tidak.” Dan pergi meninggalkan Taeyeon.
Pekerjaannya begitu buruk hingga Mrs. Song merasa khawatir. Ada apa dengan anak ini? tampaknya ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Akhirnya Mrs. Song mengajak Amber berbicara berdua.
“Amber, ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Mrs. Song lembut. “minggu ini semua pekerjaanmu berantakan. Dan kau terlihat sedih. Ceritakan padaku kesulitanmu, mungkin aku bisa membantu.”
Amber merasa air matanya mulai mendesak keluar saat mendengar Mrs. Song berkata sedemikian lembut padanya. Ia memalingkan muka.
“tak seorangpun bisa menolongku,” katanya dengan suara serak. “semuanya salah. Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bisa menolongku.”
“Amber, hanya sedikit sekali masalah yang sama sekali tidak bisa ditolong orang lain,” kata Mrs. Song, “kalau saja kau memberi kesempatan pada orang lain untuk menolongmu. Ayolah, ada apa sebenarnya?”
Tapi Amber hanya menggelengkan kepalanya tidak mau menceritakan masalahnya. Mrs. Song menyerah. Ia bukannya tidak suka pada Amber, hanya sangat kasihan!
Kemudian Amber memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan bodoh. Ia akan melarikan diri dari sekolah. Melarikan diri dan pulang! Tapi sebelum itu ia akan bercerita pada Sulli dan Taeyeon tentang semua perbuatannya. Ia akan mengaku pada mereka agar Yesung bisa bersih dari segala tuduhan. Paling tidak itulah yang bisa dilakukannya, paling tidak ia tidak akan begitu jijik pada dirinya sendiri kalau ia berani mengakui perbuatannya. “tapi pasti sangat sulit bagiku.” Pikir Amber. “mereka pasti marah padaku, pasti jijik, dan semua anak di sekolah ini akan tahu betapa jahatnya aku. Tapi tidak apa-apa. Toh pada saat itu aku sudah tidak berada disini lagi.”
Sore itu, selesai minum teh, Amber mendekati Sulli. “Sulli,” katanya. “aku ingin bicara denganmu dan Taeyeon. Bertiga saja. dimana Taeyeon?”
“di studio radio,” kata Sulli heran. “kajja, kita jemput dia. Tapi apa yang mau kau bicarakan?”
“akan kukatakan nanti kalau Taeyeon sudah bersama kita,” kata Amber. “kita ke salah satu ruang latihan music saja, disana tidak ada orang.”
Dengan bingung Sulli berjalan dengan Amber mencari Taeyeon. Taeyeon bersedia ikut bersama keduanya walaupun ia sedang asyik siaran radio sekolah dengan Heechul dan Kangin.
Amber menutup pintu dan berbalik menghadap Taeyeon dan Sulli. “aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua,” kata Amber. “akhir-akhir ini aku begitu sedih, dan tidak tahan lagi menanggung kesedihan itu. aku bermaksud untuk pulang saja. tapi sebelum pergi, aku ingin mengakui sesuatu. Jangan menyalahkan Yesung untuk apa yang kau tuduhkan selama ini. bukan dia yang berbuat, tapi aku.”
Taeyeon dan Sulli ternganga, memandang heran pada Amber. Amber telah mengakui segala perbuatannya. Menyembunyikan buku, mengambil tikus Sulli, mengotori alat-alat berkebun, memberantakan laci mereka.
“aku tahu kalian pasti akan memandang begitu padaku,” kata Amber, air matanya mulai mengalir. “memang sudah sepantasnya. Tapi sebelum aku pergi aku ingin mengatakan satu hal lagi. Kalian berdua cantik, pandai, lucu dan cerdas. Semua orang menyukai kalian. Aku begitu buruk, pucat, berbintik-bintik, dan tidak bisa bergaul. Tapi memang aku dilahirkan begitu. Kalian tidak tahu aku begitu iri pada kalian berdua. Aku ingin seperti kalian. Karena itu aku membenci kalian, kalian memiliki apa yang aku inginkan. Dan suatu hari kau sungguh kejam padaku, Sulli, saat kau menirukan pertengkaranku dengan Han seonsangnim…”
“oh, mianhae. Aku menyesal berbuat seperti itu,” kata Sulli segera. “aku tidak tahu kalau kau ada di sana. aku tidak heran kau ingin membalas dendam padaku. tapi kenapa kau juga harus menyakiti Taeyeon…”
“tapi aku sudah membayar mahal untuk itu semua,” kata Amber. “bukan saja aku membenci kalian, aku juga membenci diriku sendiri! jadi jelas aku anak paling buruk di sekolah ini, lahir batin. Karena itulah aku bermaksud pulang saja. eommaku mencintaiku, walaupun aku tidak secantik dan semanis anak-anak lain. Dan ibuku pasti akan mengerti kenapa aku melarikan diri dari sini.”
Beberapa saat mereka terdiam. Taeyeon dan Sulli sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Mereka sangat terkejut atas pengakuan Amber. Terutama Taeyeon. Ia jadi sangat marah karena telah menuduh Yesung. Ia jadi merasa berdosa besar.
“Amber, aku cuma bilang bahwa sungguh bagus kau akhirnya punya keberanian untuk mengaku,” kata Sulli. “aku sangat menghargai keberanianmu itu. tapi harus kukatakan kalau kau benar-benar jahat! Ya, kan Taeyeon?”
“ne.” kata Taeyeon. “kau membuatku memaksa Yesung dihukum. Tidak itu saja, terpaksa aku nanti harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi! Senang sekali kalau kau tidak bersekolah di SM ini!”
“kurasa kau benar,” kata Amber lemah. “tapi aku juga tidak akan lama lagi disini.”
Amber membuka pintu, menyelinap ke dalam gang dan berlari menaiki tangga. Air matanya bercucuran. Ia telah mengaku. Dan akibatnya lebih buruk dari dugaannya. Ia akan membereskan barang-barangnya, lalu pergi.
Taeyeon dan Sulli saling pandang, tak tahu apa yang akan mereka katakan. Saat itulah Sunny muncul, heran melihat keduanya berhadapan dengan muka marah. “annyeong!” kata Sunny. “sedang apa kalian, saling memelototkan mata? Apa yang terjadi?”
Taeyeon menceritakan semuanya pada Sunny. “nah, bagaimana menurutmu? Bukankah Amber benar-benar jahat? Belum pernah ku pikirkan ada anak sejahat itu.” geram Taeyeon.
Sunny termenung. Ia mengingat dirinya sendiri dulu, dalam semester musim panas. Begitu sunyi sendiri bila sedang menemui kesulitan. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Amber. Sungguh hebat kesedihannya kalau sampai ia memutuskan untuk melarikan diri.
“dengar,” kata Sunny. “jangan memikirkan betapa kejamnya atau jahatnya Amber. Pikirkanlah bagaimana perasaan kalian kalau kalian berwajah seperti dia, tidak punya teman dan merasa sangat iri pada orang lain. Kalian pasti merasa sangat sedih dan juga malu. Taeyeon, semester lalu kau ditolong oleh seluruh sekolah, dan aku juga. Sekarang kurasa sudah pada tempatnya kalau aku menolong Amber. Dia belum pernah berbuat jahat padaku, jadi aku tidak merasa marah padanya seperti kalian. Aku hanya merasa kasihan.”
Sunny berlari keluar menyusul Amber. Taeyeon dan Sulli saling pandang. Mereka tahu bahwa Sunny benar. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, tidak memikirkan anak malang itu, yang memerlukan pertolongan dan hiburan. “kita harus membantu Sunny,” kata Sulli.
“tapi tunggu sampai Sunny selesai berbicara agak lama dengan Amber,” kata Taeyeon. “ia sangat pandai meneduhkan hati orang. Kadang-kadang aku berpendapat bahwa dia sudah pantas menjadi Pengawas.”
“yang jelas kita berdua sama sekali tidak pantas,” sungut Sulli. “aku tidak tahu bagaimana persoalan ini bisa diselesaikan, Taeyeon. Aku tidak tahu!”
Sementara itu Sunny sudah masuk ke kamar tidurnya dan mendapati Amber sedang berkemas. Sunny langsung berbicara padanya.
“Amber, aku sudah tahu semuanya. Kau benar-benar berani untuk mengakui perbuatanmu. Tunggulah sampai Sulli dan Taeyeon bisa berpikir lebih jernih, mereka pasti mau memaafkanmu, dan mengajakmu bersahabat. Sebenarnya mereka baik hati dan suka memaafkan. Mereka hanya memerlukan waktu untuk mendinginkan hati mereka.”
“kurasa SM bukan tempat yang tepat bagiku,” kata Amber sambil memakai syalnya. “bukan karena aku membuat banyak musuh, tapi aku memang tidak cocok berada disini. Semua menganggapku jelek. Lihat rambutmu, begitu indah dan berkilau, sedangkan rambutku seperti buntut tikus! Lihat matamu yang indah. Kulitmu yang halus. Dan lihat aku, seperti Upik Abu saja.”
“tapi ingat bahwa Upik Abu dalam semalam saja bisa berubah menjadi Cinderella yang begitu cantik,” kata Sunny, memegang tangan Amber. “Upik Abu memang tiap hari duduk didapur dan menyapu abu. Mungkin ia tampak buruk dan murung. Tapi apakah karena pakaian yang bagus-bagus serta kereta kencana yang membuatnya jadi cantik? Tidak. Kurasa untuk menjadi cantik ia juga harus menyisir rambutnya, merapikannya. Dan terutama, dia harus tersenyum. Kau benar-benar kelewatan, Amber. Apa kau tidak tahu kalau kau tampak sangat manis saat tersenyum?”
“tidak mungkin,” kata Amber keras kepala.
“siapa bilang? Kau betul-betul manis!” bantah Sunny. “kalau kau tersenyum, matamu bersinar, sudut bibirmu terangkat! Siapapun menjadi lebih manis. Kalau kau sering tersenyum, kau tidak akan malu pada wajahmu. Kau akan tampak manis juga. Cobalah itu, Amber!”
“mungkin kau benar,” kata Amber, teringat betapa manisnya ibunya saat tersenyum dan merasa bahagia. “tapi aku tidak punya alasan untuk tersenyum.”
Terdengar langkah kaki diluar. Taeyeon dan Sulli masuk, langsung mendekati Amber.
“tadi kami bersikap tidak ramah padamu, Amber,” kata Sulli. “kami minta maaf untuk itu. jangan pergi, Amber. Kami juga memaafkanmu dan melupakan apa yang telah kau lakukan.”
“tapi Yesung harus dibersihkan dari segala tuduhan,” kata Amber. “dan itu berarti aku harus menghadapi Rapat Besar. Mianhae, aku tidak cukup berani untuk itu.”
Ketiga anak itu saling pandang. Benar juga. Persoalan itu harus dibicarakan dalam Rapat Besar.
“nah, karena itu aku harus pergi,” kata Amber. “aku seorang pengecut dan itu tidak bisa kuubah lagi.” Amber meraih tasnya. “selamat tinggal semuanya. Jangan berpikir yang buruk-buruk tentangku, ya…”
to be continue..