[FF] Trouble Maker – Chapter 15

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
kalo sempet mo d tamatin hari ini juga (sampe chapter 26). mudah-mudahan aja ya!😉

–Trouble Maker– Chapter 15 : Amber Recognizes
Semua merasa kecewa karena pertandingan dibatalkan. Terutama para pemain. Sepanjang sore itu hujan turun deras. Mr.Choi dan Mrs. Song mengatur berbagai permainan di ruang senam, antara tim tamu dan tim sekolah mereka. Dan ternyata tim tamu senang sekali dengan permainan-permainan itu.
Sunny ikut menyesal karena Taeyeon kecewa. Digandenganya tangan sahabatnya itu. “sudahlah, Taeng, tidak usah terlalu dipikirkan. Minggu depan kan ada pertandingan lagi. Aku yakin kau bisa bermain dalam pertandingan itu.”
“mungkin saja,” kata Taeyeon. “tapi sial sekali tidak bisa jadi bermain hari ini. aku sudah berlatih keras. Dan aku sudah begitu tangkas dalam menangkap bola dan mencetak gol!”
“aku takin Yesung sangat girang karena hujan dan kau tidak jadi main,” kata Sunny.
“nah, itulah yang aneh, Sunny,” kata Taeyeon. “pertama, ia datang ke lapangan untuk menonton pertandingan itu. dan kedua, sewaktu kita semua lari meninggalkan lapangan, ia mendatangiku dan bilang kalau ia ikut menyesal pertandingan terpaksa dibatalkan. Aneh, kan? Aku jadi malu sendiri. bahkan ia membantuku melindungiku dari hujan.”
“MWO??” kaget Sunny membuat orang-orang berpaling kearahnya.
“kecilkan suaramu, babo!!”
“Dia melindungimu dari hujan? Bagaimana ceritanya?”
“ne. dia mendatangiku dan melindungi kepalaku dan kepalanya dengan jaketnya.”
“whoaa, jangan-jangan dia mulai menyukaimu!”
“MWO???” kaget Taeyeon kembali membuat orang-orang berpaling pada 2 yeoja ini.
“ada apa, Taeng?” tanya Donghae.
“oh, aniyo, Hae.” Kata Taeyeon.
Taeyeon dan Sunny kembali mengobrol dengan berbisik-bisik.
“tapi aku curiga ia sedang merencanakan sesuatu. Tunggu saja sampai ia menjalankan rencana jahatnya lagi padamu.” Kata Sunny. “kau tidak akan merasa malu lagi pasti.”
Tapi ternyata sejak saat itu mereka tak pernah diganggu oleh kejadian aneh lagi. Amber tidak bernafsu(?) untuk mempermainkan Taeyeon dan Sulli lagi. Ia sudah melihat anak lain yang dihukum karena ulahnya. Ia mulai membenci dirinya sendiri. ia memang membenci Taeyeon dan Sulli, tapi kebenciannya pada dirinya sendiri bukannya benci karena marah, melainkan benci bercampur jijik.
“sungguh anak yang pantas dibenci semua orang,” pikir Amber putus asa. “mukaku buruk. Berbintik-bintik. Pucat. Aku membosankan dan tak begitu cerdas. Dan sekarang aku begitu jahat, suka berbohong dan pengecut! Ini semua benar-benar merupakan permulaan terburuk untuk menjadi anak yang sangat jahat. Kalau seseorang mulai membenci dirinya sendiri, maka ia tidak akan bisa merasa bahagia lagi. Aku tidak cocok untuk bersekolah di SM ini. semua anak lain selalu bahagia dan gembira. Dan bahkan seorang anak jahat seperti Yesung ternyata bisa beralih menjadi baik dan diberi kesempatan untuk memulai lagi.”
Poor Amber! Awalnya ia mengira segala tipuannya merupakan sesuatu yang menyenangkan, apalagi melihat hasilnya yang selalu berhasil seperti yang diinginkannya.
Tapi sekarang ia tahu bahwa kebiasaan jahat membuat seseorang menjadi jahat. Dan ia membenci dirinya sendiri.
“benar-benar buruk membenci diri kita sendiri, lebih buruk daripada membenci orang lain,” pikir Amber selanjutnya. “sebab kita tidak bisa lari dari diri kita sendiri. kenapa aku tidak bisa bersikap seperti Sooyoung atau Changmin, yang selalu jujur dan bahagia.”
Amber benar-benar tidak merasa bahagia. Ia mulai terbiasa berjalan dengan kepala menunduk seperti seekor anjing yang terlalu sedih.
“ada apa, Amber? Ommo! Senyum sedikit donk!” seru Tiffany.
“kau kelihatan begitu sedih! Apa kau menerima kabar buruk dari rumah?”
“tidak,” jawab Amber. “aku hanya sedang tidak suka tersenyum. Jangan menggangguku.”
Anak-anak lain juga melihat betapa sedihnya Amber. Merasa kasihan juga padanya. Bahkan Taeyeon juga bertanya, “Amber, kau sakit?”
Tapi Amber hanya menjawab singkat, “tidak.” Dan pergi meninggalkan Taeyeon.
Pekerjaannya begitu buruk hingga Mrs. Song merasa khawatir. Ada apa dengan anak ini? tampaknya ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Akhirnya Mrs. Song mengajak Amber berbicara berdua.
“Amber, ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Mrs. Song lembut. “minggu ini semua pekerjaanmu berantakan. Dan kau terlihat sedih. Ceritakan padaku kesulitanmu, mungkin aku bisa membantu.”
Amber merasa air matanya mulai mendesak keluar saat mendengar Mrs. Song berkata sedemikian lembut padanya. Ia memalingkan muka.
“tak seorangpun bisa menolongku,” katanya dengan suara serak. “semuanya salah. Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bisa menolongku.”
“Amber, hanya sedikit sekali masalah yang sama sekali tidak bisa ditolong orang lain,” kata Mrs. Song, “kalau saja kau memberi kesempatan pada orang lain untuk menolongmu. Ayolah, ada apa sebenarnya?”
Tapi Amber hanya menggelengkan kepalanya tidak mau menceritakan masalahnya. Mrs. Song menyerah. Ia bukannya tidak suka pada Amber, hanya sangat kasihan!
Kemudian Amber memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan bodoh. Ia akan melarikan diri dari sekolah. Melarikan diri dan pulang! Tapi sebelum itu ia akan bercerita pada Sulli dan Taeyeon tentang semua perbuatannya. Ia akan mengaku pada mereka agar Yesung bisa bersih dari segala tuduhan. Paling tidak itulah yang bisa dilakukannya, paling tidak ia tidak akan begitu jijik pada dirinya sendiri kalau ia berani mengakui perbuatannya. “tapi pasti sangat sulit bagiku.” Pikir Amber. “mereka pasti marah padaku, pasti jijik, dan semua anak di sekolah ini akan tahu betapa jahatnya aku. Tapi tidak apa-apa. Toh pada saat itu aku sudah tidak berada disini lagi.”
Sore itu, selesai minum teh, Amber mendekati Sulli. “Sulli,” katanya. “aku ingin bicara denganmu dan Taeyeon. Bertiga saja. dimana Taeyeon?”
“di studio radio,” kata Sulli heran. “kajja, kita jemput dia. Tapi apa yang mau kau bicarakan?”
“akan kukatakan nanti kalau Taeyeon sudah bersama kita,” kata Amber. “kita ke salah satu ruang latihan music saja, disana tidak ada orang.”
Dengan bingung Sulli berjalan dengan Amber mencari Taeyeon. Taeyeon bersedia ikut bersama keduanya walaupun ia sedang asyik siaran radio sekolah dengan Heechul dan Kangin.
Amber menutup pintu dan berbalik menghadap Taeyeon dan Sulli. “aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua,” kata Amber. “akhir-akhir ini aku begitu sedih, dan tidak tahan lagi menanggung kesedihan itu. aku bermaksud untuk pulang saja. tapi sebelum pergi, aku ingin mengakui sesuatu. Jangan menyalahkan Yesung untuk apa yang kau tuduhkan selama ini. bukan dia yang berbuat, tapi aku.”
Taeyeon dan Sulli ternganga, memandang heran pada Amber. Amber telah mengakui segala perbuatannya. Menyembunyikan buku, mengambil tikus Sulli, mengotori alat-alat berkebun, memberantakan laci mereka.
“aku tahu kalian pasti akan memandang begitu padaku,” kata Amber, air matanya mulai mengalir. “memang sudah sepantasnya. Tapi sebelum aku pergi aku ingin mengatakan satu hal lagi. Kalian berdua cantik, pandai, lucu dan cerdas. Semua orang menyukai kalian. Aku begitu buruk, pucat, berbintik-bintik, dan tidak bisa bergaul. Tapi memang aku dilahirkan begitu. Kalian tidak tahu aku begitu iri pada kalian berdua. Aku ingin seperti kalian. Karena itu aku membenci kalian, kalian memiliki apa yang aku inginkan. Dan suatu hari kau sungguh kejam padaku, Sulli, saat kau menirukan pertengkaranku dengan Han seonsangnim…”
“oh, mianhae. Aku menyesal berbuat seperti itu,” kata Sulli segera. “aku tidak tahu kalau kau ada di sana. aku tidak heran kau ingin membalas dendam padaku. tapi kenapa kau juga harus menyakiti Taeyeon…”
“tapi aku sudah membayar mahal untuk itu semua,” kata Amber. “bukan saja aku membenci kalian, aku juga membenci diriku sendiri! jadi jelas aku anak paling buruk di sekolah ini, lahir batin. Karena itulah aku bermaksud pulang saja. eommaku mencintaiku, walaupun aku tidak secantik dan semanis anak-anak lain. Dan ibuku pasti akan mengerti kenapa aku melarikan diri dari sini.”
Beberapa saat mereka terdiam. Taeyeon dan Sulli sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Mereka sangat terkejut atas pengakuan Amber. Terutama Taeyeon. Ia jadi sangat marah karena telah menuduh Yesung. Ia jadi merasa berdosa besar.
“Amber, aku cuma bilang bahwa sungguh bagus kau akhirnya punya keberanian untuk mengaku,” kata Sulli. “aku sangat menghargai keberanianmu itu. tapi harus kukatakan kalau kau benar-benar jahat! Ya, kan Taeyeon?”
“ne.” kata Taeyeon. “kau membuatku memaksa Yesung dihukum. Tidak itu saja, terpaksa aku nanti harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi! Senang sekali kalau kau tidak bersekolah di SM ini!”
“kurasa kau benar,” kata Amber lemah. “tapi aku juga tidak akan lama lagi disini.”
Amber membuka pintu, menyelinap ke dalam gang dan berlari menaiki tangga. Air matanya bercucuran. Ia telah mengaku. Dan akibatnya lebih buruk dari dugaannya. Ia akan membereskan barang-barangnya, lalu pergi.
Taeyeon dan Sulli saling pandang, tak tahu apa yang akan mereka katakan. Saat itulah Sunny muncul, heran melihat keduanya berhadapan dengan muka marah. “annyeong!” kata Sunny. “sedang apa kalian, saling memelototkan mata? Apa yang terjadi?”
Taeyeon menceritakan semuanya pada Sunny. “nah, bagaimana menurutmu? Bukankah Amber benar-benar jahat? Belum pernah ku pikirkan ada anak sejahat itu.” geram Taeyeon.
Sunny termenung. Ia mengingat dirinya sendiri dulu, dalam semester musim panas. Begitu sunyi sendiri bila sedang menemui kesulitan. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Amber. Sungguh hebat kesedihannya kalau sampai ia memutuskan untuk melarikan diri.
“dengar,” kata Sunny. “jangan memikirkan betapa kejamnya atau jahatnya Amber. Pikirkanlah bagaimana perasaan kalian kalau kalian berwajah seperti dia, tidak punya teman dan merasa sangat iri pada orang lain. Kalian pasti merasa sangat sedih dan juga malu. Taeyeon, semester lalu kau ditolong oleh seluruh sekolah, dan aku juga. Sekarang kurasa sudah pada tempatnya kalau aku menolong Amber. Dia belum pernah berbuat jahat padaku, jadi aku tidak merasa marah padanya seperti kalian. Aku hanya merasa kasihan.”
Sunny berlari keluar menyusul Amber. Taeyeon dan Sulli saling pandang. Mereka tahu bahwa Sunny benar. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, tidak memikirkan anak malang itu, yang memerlukan pertolongan dan hiburan. “kita harus membantu Sunny,” kata Sulli.
“tapi tunggu sampai Sunny selesai berbicara agak lama dengan Amber,” kata Taeyeon. “ia sangat pandai meneduhkan hati orang. Kadang-kadang aku berpendapat bahwa dia sudah pantas menjadi Pengawas.”
“yang jelas kita berdua sama sekali tidak pantas,” sungut Sulli. “aku tidak tahu bagaimana persoalan ini bisa diselesaikan, Taeyeon. Aku tidak tahu!”
Sementara itu Sunny sudah masuk ke kamar tidurnya dan mendapati Amber sedang berkemas. Sunny langsung berbicara padanya.
“Amber, aku sudah tahu semuanya. Kau benar-benar berani untuk mengakui perbuatanmu. Tunggulah sampai Sulli dan Taeyeon bisa berpikir lebih jernih, mereka pasti mau memaafkanmu, dan mengajakmu bersahabat. Sebenarnya mereka baik hati dan suka memaafkan. Mereka hanya memerlukan waktu untuk mendinginkan hati mereka.”
“kurasa SM bukan tempat yang tepat bagiku,” kata Amber sambil memakai syalnya. “bukan karena aku membuat banyak musuh, tapi aku memang tidak cocok berada disini. Semua menganggapku jelek. Lihat rambutmu, begitu indah dan berkilau, sedangkan rambutku seperti buntut tikus! Lihat matamu yang indah. Kulitmu yang halus. Dan lihat aku, seperti Upik Abu saja.”
“tapi ingat bahwa Upik Abu dalam semalam saja bisa berubah menjadi Cinderella yang begitu cantik,” kata Sunny, memegang tangan Amber. “Upik Abu memang tiap hari duduk didapur dan menyapu abu. Mungkin ia tampak buruk dan murung. Tapi apakah karena pakaian yang bagus-bagus serta kereta kencana yang membuatnya jadi cantik? Tidak. Kurasa untuk menjadi cantik ia juga harus menyisir rambutnya, merapikannya. Dan terutama, dia harus tersenyum. Kau benar-benar kelewatan, Amber. Apa kau tidak tahu kalau kau tampak sangat manis saat tersenyum?”
“tidak mungkin,” kata Amber keras kepala.
“siapa bilang? Kau betul-betul manis!” bantah Sunny. “kalau kau tersenyum, matamu bersinar, sudut bibirmu terangkat! Siapapun menjadi lebih manis. Kalau kau sering tersenyum, kau tidak akan malu pada wajahmu. Kau akan tampak manis juga. Cobalah itu, Amber!”
“mungkin kau benar,” kata Amber, teringat betapa manisnya ibunya saat tersenyum dan merasa bahagia. “tapi aku tidak punya alasan untuk tersenyum.”
Terdengar langkah kaki diluar. Taeyeon dan Sulli masuk, langsung mendekati Amber.
“tadi kami bersikap tidak ramah padamu, Amber,” kata Sulli. “kami minta maaf untuk itu. jangan pergi, Amber. Kami juga memaafkanmu dan melupakan apa yang telah kau lakukan.”
“tapi Yesung harus dibersihkan dari segala tuduhan,” kata Amber. “dan itu berarti aku harus menghadapi Rapat Besar. Mianhae, aku tidak cukup berani untuk itu.”
Ketiga anak itu saling pandang. Benar juga. Persoalan itu harus dibicarakan dalam Rapat Besar.
“nah, karena itu aku harus pergi,” kata Amber. “aku seorang pengecut dan itu tidak bisa kuubah lagi.” Amber meraih tasnya. “selamat tinggal semuanya. Jangan berpikir yang buruk-buruk tentangku, ya…”
to be continue..

About Ashiya Xiahtic

what should I write? kekekeke~ seriously, you wanna know about me? kepo ah! lol xD

Posted on December 27, 2012, in SMTOWN and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Nurati Suchi

    Dapat..!!
    Amber sebenarnya ingin diperhatikan..
    Itu sih yang aku dapet..🙂
    Bagus Chingu^^..

  2. Owh~ Poor Amber! Man… kalau aku yang ada di posisinya juga aku pasti mikir kabur lebih baik. Tapi di satu sisi aku juga sadar betul, kabur itu sama saja menunda masalah untuk lebih memburuk!
    Setiap anak dalam masa pertumbuhan pasti akan ingin selalu diperhatikan dan disanjung atas setiap perbuatan diri mereka. Hanya saja masalahnya, para orang dewasa tidak bisa 24 jam selalu memperhatikan mereka karena kehidupan yang sesungguhnya juga sedang mereka hadapi! *sok tua mode on*
    Jujur, membaca cerita ini juga mengingatkanku mengenai masa kecilku di mana aku pernah sekali merasa andai saja aku terlahir sebagai anak tunggal. Bukan anak ketiga dari lima bersaudara-hahahahahaha-konyol emang.
    Tapi dengan banyaknya proses hidup yang kami jalani bersama, hey… bersaudara sebanyak lima orang jaaauh lebih menyenangkan daripada sendiri atau berdua (no offense untuk semuanya) hehehehehehe….
    Oke, masalah utama sudah mulai terkuak, tinggal bagaimana penyelesaian bijak itu dipikirkan.

Leave Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: