Blog Archives

[FF] Trouble Maker – Chapter 16

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
kalo sempet mo d tamatin hari ini juga (sampe chapter 26). mudah-mudahan aja ya! maklum, jarang-jarang punya waktu luang kayak gini.

–Trouble Maker– Chapter 16 : Amber Escapes
Amber mengambil tasnya dan keluar. Sunny mengejarnya memegang tangannya. “Jangan bodoh, Amber! Kau tidak bisa melarikan diri dari sekolah ini!”
“bisa saja,” kata Amber. “aku akan melakukannya sekarang. Jangan coba menghalangiku, Sunny! Aku akan jalan kaki ke stasiun.”
Amber menepis tangan Sunny dan berlari menuruni tangga. Tidak ada gunanya mengejar dia. Ia telah bertekad bahwa tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Taeyeon, Sunny dan Sulli hanya bisa memandanginya.
“aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Kata Sulli tiba-tiba dengan suara gemetar. “kalau saja aku tidak menirukan Han seonsaengnim, mungkin keadaannya tidak seperti ini.”
“eotteokke?” bisik Sunny khawatir. “kita harus melaporkan bahwa Amber melarikan diri. Tapi kurasa memang tidak ada gunanya mencegahnya lari. Sebab kalau aku jadi dia, aku juga tidak berani menghadapi Rapat Besar. Kalaupun tidak sekarang, sesudah menghadapi Rapat Besar ia pun tidak akan tahan dan pasti juga tetap akan melarikan diri. Ia sama sekali tidak punya keberanian.”
Saat itu Sooyoung muncul. Ia heran melihat ketiga anak itu berdiri mematung di pintu kamar mereka dan tampak khawatir.
“kenapa kalian ada disini?” tanya Sooyoung. “apa kalian tidak tahu kalau pertunjukan music akan segera dimulai? Ppali! Wae? Ada apa?”
“banyak sekali yang terjadi,” kata Taeyeon. “sampai-sampai kami tidak tahu harus berbuat apa. Benar-benar gawat, Soo!”
“aigoo! Kalau begitu kalian harus segera memberitahuku, sebab aku Pengawas kalian.”
“kukira memang itulah yang seharusnya kami lakukan,” kata Sulli. “izinkan kami tidak menghadiri pertunjukan music itu, Soo, dan ayo kita pergi ke studio dance. Sepertinya sekarang ruangan itu kosong, jadi kita bisa ceritakan apa yang terjadi.”
Seminggu sekali, sebuah pertunjukan music diadakan oleh anak-anak yang bermain piano, biola, menyanyi, atau berdeklamasi. Biasanya seluruh warga sekolah menghadirinya, sebab mereka ingin melihat bagaimana teman-teman sekelas mereka beraksi. Benar kata Sulli, studio dance kosong. Sulli segera bercerita. Ia menceritakannya dari awal, Sooyoung mendengarkannya dengan tenang.
“kasihan, Amber!” sahut Sooyoung. “ia benar-benar mengacaukan segalanya! Kita harus segera bertindak, aku tidak tahu harus bagaimana. Lebih baik kita temui Boa dulu, dan kita minta ia mengantarkan kita ke Mrs. Park dan Mrs. Seo.”
“aigoo, apa mereka juga harus tahu?” tanya Taeyeon kecewa.
“tentu saja. masa seorang siswa melarikan diri dari sekolah dan kepala sekolah tidak mengetahuinya? Kajja! Kita tidak boleh membuang-buang waktu!”
Mereka menemui Boa di kamarnya. “Boa, ikutlah dengan kami menemui Mrs. Seo dan Mrs. Park.” Pinta Sooyoung. “seorang anak di kelas Taeyeon melarikan diri, dan kami kira kami harus menceritakan segalanya pada kepala sekolah.”
“tentu!” kata Boa terkejut. “kita harus mengajak Siwon juga. Ia harus tahu masalah ini, dan akan menghemat waktu kalau ia mengetahuinya sekarang.”
Beberapa menit kemudian 6 orang anak berkumpul didepan ruang tamu tempat kedua pimpinan sekolah itu. Mrs. Seo dan Mrs. Park sedang menulis surat waktu Boa mengetuk pintu.
“masuklah,” terdengar suara tenang dari dalam. Dan mereka pun masuk. Ternyata Sooman sajangnim juga ada disitu. Ketiga guru kepala itu sangat heran melihat banyak anak datang.
“ada apa ini?” tanya Mrs. Park segera.
“ada suatu kejadian yang memerlukan perhatian anda,” kata Boa. “Taeyeon, tolong ceritakan yang terjadi.”
Taeyeon menceritakan semuanya. Pada waktu ceritanya sampai pada saat Amber berangkat ke stasiun, Sooman sajangnim segera bangkit berdiri. “aku harus mengejarnya,” katanya. “mudah-mudahan tidak terlambat.”
“tapi kereta pasti sudah berangkat,” kata Sooyoung.
“jadwal perjalanan kereta api sudah diubah bulan ini,” kata sajangnim. “kereta yang semestinya berangkat jam ini sudah dihapus, digantikan kereta yang berangkat 1 jam lagi. Kalau aku berangkat cepat-cepat, mungkin anak itu bisa kususul. Boa, ikut aku!”
Keduanya berangkat. Beberapa saat kemudian terdengar pintu depan berdebam. Taeyeon tak henti-hentinya berharap semoga Amber tersusul sebelum naik kereta. Sekarang setelah para pimpinan sekolah mengetahuinya, Taeyeon merasa bebannya sedikit ringan. Orang dewasa tampaknya selalu bisa membereskan persoalan apapun.
“menurutku, 2 hal harus segera diselesaikan,” kata Mrs. Park. “pertama, untuk menyadarkan Amber bahwa melarikan diri sama sekali tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk keadaan. Ia harus bisa mengembalikan kepercayaan dirinya. Ia mengira dirinya gagal, ia harus sadar bahwa seseorang tidak perlu sampai menganggap dirinya gagal. Kalau dia bisa kita sadarkan bahwa masih bisa berusaha lagi, maka segalanya akan beres.”
“aku tahu yang kedua,” kata Taeyeon. “yaitu membersihkan nama baik Yesung dari berbagai tuduhan. Aku benar-benar merasa tidak enak kalau berpikir bahwa aku telah menuduhnya sembarangan, tanpa bukti. Dan yang lebih tidak enak bagiku, ternyata ia menerima saja hukumannya. Aku benar-benar malu.”
“aku senang kau merasa malu, Taeyeon.” Kata Mrs. Seo. “kita semua tahu bahwa kau sebenarnya adil dan jujur. Tapi kau tidak akan bisa mencapai apa-apa kalau selalu terburu-buru memutuskan sesuatu, tidak bisa mengendalikan kemarahanmu.”
“memang. Aku sudah banyak belajar tentang itu,” kata Taeyeon. “tapi anda tidak tahu seberapa sulitnya mengendalikan diri.”
“tentu saja aku tahu,”Mrs. Seo tersenyum. “sebab aku dulu juga tidak bisa mengendalikan diriku, aku dulu juga sangat cepat naik darah.”
Mrs. Seo tersenyum manis sekali. Kelima anak itu ternganga heran. Mrs. Seo yang selalu tampak berwajah manis itu penaik darah? Unbelieveable!
“sekarang apa yang akan kita lakukan kalau Sooman sajangnim berhasil membawa Amber kembali?” tanya Mrs. Park. “aku berpikir bahwa Siwon dan Boa merupakan orang yang paling tepat untuk menghadapinya. Mereka tidak akan membuat canggung, seperti kalau ia harus menghadapi kami, atau Sooman sajangnim.”
“ia bilang kalau ia tak sanggup menghadapi Rapat Besar, jika mereka membicarakan tentang perbuatannya itu,” kata Taeyeon. “ia tak terlalu pemberani. Walaupun kadang-kadang ia menentang guru di kelas, yang tidak akan pernah berani kulakukan.”
“itu namanya bukan pemberani,” kata Mrs. Park. “itu sesuatu yang sering dilakukan oleh orang-orang lemah namun keras kepala. Mereka selalu takut kalau dianggap bodoh sehingga mereka selalu mencoba untuk menarik perhatian dengan cara apapun. Bertengkar, membual, atau membantah, apa saja yang bisa membuat orang lain memperhatikan mereka! Kita tidak akan pernah melihat orang-orang yang berkepribadian kuat, orang-orang bijaksana bertengkar, atau membual, atau menarik perhatian orang. Itu dilakukan hanya oleh orang-orang yang berkepribadian lemah! Dan dalam kasus Amber, ini berarti bahwa ia merasa dirinya gagal. Dia mencoba menyembunyikan kenyataan itu dari dirinya sendiri dan orang lain. Sekarang ia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Dan ia melarikan diri. Tepat seperti yang biasa dilakukan orang-orang lemah.”
“jika sudah diterangkan dengan jelas, segalanya tampak berbeda, bukan?” kata Sulli. “aku tidak akan pernah menirukan Amber kalau saja aku tahu apa yang menyebabkan ia berbuat begitu. Sekarang aku merasa kasihan padanya dan berjanji akan membantu apa saja untuk kebaikannya.”
“ia bahkan malu akan bintik-bintik dimukanya,” kata Taeyeon. “padahal bintik-bintik itu muncul karena kegemarannya makan permen.”
“ia tampak manis saat tersenyum,” kata Sunny. “sudah kukatakan hal seperti itu padanya.”
“bagus!” kata Mrs. Seo. “sepertinya kalau saja Amber mau merapikan diri dan merawat dirinya, serta menghilangkan bintik-bintik di mukanya, maka anak itu akan mengawali perbaikan dirinya dengan baik. Siwon, apa kau pikir bisakah kau dan Boa memberi pengertian padanya? Tampaknya semester ini kau banyak sekali menghadapi persoalan berat. Tapi aku yakin kau akan bisa menanggulangi semuanya dengan baik.”
“dan bagaimana dengan kemungkinannya untuk menghadapi Rapat Besar?” tanya Siwon.
“kau dan Boa yang harus menentukan hal itu.” kata Mrs. Park. “kami menyerahkannya padamu. Kalau kalian berpikir tidak baik untuk memaksanya menjadi berani sebelum waktunya, maka lebih baik kalian hanya membebaskan Yesung dari tuduhan terhadapnya, kemudian kita tunggu sampai Amber cukup berani untuk mengakui perbuatannya. Mungkin sebelum akhir semester ini ia sudah berani berbuat itu, kalau kita menanganinya secara baik.”
Sungguh mengherankan betapa mudahnya kini persoalan yang mereka hadapi, setelah semuanya dibicarakan dan diteliti. Kebiasaan jahat Amber ternyata bersumber dari sesuatu yang sangat sederhana. Perasaan bahwa dia gagal dalam hidup ini. kalau perasaan itu bisa dihilangkan, maka sebagian besar kesulitan yang dialami Amber akan lenyap. Dan itu akan menyenangkan banyak orang.
Terdengar suara mobil memasuki halaman, lalu suara pintu mobil dibanting. Pasti suara taxi. Semuanya berdebar-bedar menunggu munculnya Sooman sajangnim dan Boa dengan Amber. Apakah mereka berhasil menyusul anak itu?
Terdengar langkah kaki mendatangi. Pintu terbuka. Hanya Sooman sajangnim yang ada diambang pintu. Boa tidak ada. Amber juga tidak ada.
“apa anda tidak bisa menemukannya?” tanya Mrs. Seo harap-harap cemas.
“oh, bisa,” kata sajangnim. “ia tadi kami temukan di ruang tunggu stasiun. Kasihan sekali. Begitu sedih dan tampaknya sangat menyesal sudah melarikan diri. Waktu Boa mendekatinya, ia langsung menangis, dan menurut saja kami ajak pulang. Untunglah jadwal perjalanan kereta api diubah, sehingga ada waktu baginya untuk berpikir lagi. Kalau saja kereta api datang sebelum kami tiba, maka sudah pasti ia akan berangkat, dan tidak terkejar lagi.”
“dimana dia?” tanya Siwon.
“di kamar Boa,” jawabnya. “lebih baik kau juga kesana, Siwon. Aku yakin kau bisa membantunya. Biarkan dia berbicara apa saja, biarkan ia mengeluarkan segala perasaan hatinya.”
“baiklah,” kata Siwon. Dan ia pun pergi. Keempat anak lainnya juga ikut meninggalkan tempat itu.
“aku akan mencari Yesung,” kata Taeyeon. “ini tugasku, dan harus kulakukan segera. Walaupun aku tahu pasti akan sangat berat bagiku.”
to be continue..

Advertisements

[FF] Trouble Maker – Chapter 14

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
udah nyampe chapter 14! 😀 enjoy~!
–Trouble Maker– Chapter 14 : The Match’s Day
Keesokan harinya, hari sabtu adalah hari pertandingan lacrosse! Taeyeon bangun lebih pagi dari biasanya. Penuh harap ia melihat ke luar jendela. Apakah cuaca cukup baik?
Tidak terlalu baik. Agak mendung. Yang penting tidak hujan, sudah bagus. Sungguh menyenangkan untuk mengikuti pertandingan pertamanya nanti.
“Sulli,” bisik Taeyeon kesebelahnya saat ia mendengar sahabatnya itu mulai bergerak ditempat tidur. “Sulli! Hari ini hari pertandingan! Dan aku yang main, bukan Yesung!”
Sulli mendengus. Ia tidak begitu senang pada Taeyeon, karena ia bergembira diatas kemalangan Yesung. Memang Yesung harus di hukum, tapi bergembira karena orang lain dihukum itu tidak baik menurut pendapat Sulli.
Amber juga sudah bangun. Ia mendengar kata-kata Taeyeon. Dan ia merasa berdosa. Tadinya ia merasa senang bahwa ada orang lain yang dihukum karena perbuatannya. Tapi sekarang tidak. Bahkan ia marah karena Taeyeon ternyata senang karena ulahnya itu. ia sangat membenci Taeyeon! Jadi kacau semuanya!
Dan bagaimana dengan Yesung? Yesung juga bangun lebih pagi dari biasanya. Ia langsung teringat pada apa yang terjadi semalam. Ia duduk ditempat tidur. Matanya berseri-seri saat memikirkan kuda yang dipilihnya untuk dirawat. Rasanya tidak apalah seluruh warga sekolah mengetahui ia anak jahat, sebab ia tahu kalau mereka mengetahui penyebabnya itu. dan minggu-minggu ini akan ia tunjukkan pada seluruh sekolah bahwa pada dasarnya ia memang anak baik.
Ia teringat pada pertandingan lacrosse yang semestinya diikutinya. Hatinya sedikit kecewa mengingat bahwa Taeyeon-lah yang akan menggantikannya.
“aku sebenarnya sangat ingin ikut pertandingan itu,” pikir Yesung. “sayang sekali Rapat memberikan hukuman seperti itu. padahal bukan aku yang berbuat. Tapi kukira memang sewajarnya kalau kali ini mereka lebih mempercayai Taeyeon. Aku harus menerima hukuman itu, dan kuharap siapa pun yang mempermainkan Taeyeon segera ditemukan. Dan semua orang akan menyesal karena telah menghukumku.”
Ia berpikir-pikir lagi, sementara terus duduk ditempat tidurnya, bertopang dagu. “Taeyeon itu lucu. Ia sangat pemarah tapi sangat ingin berlaku adil. Tapi ia telah berbuat sangat tidak adil padaku. seharusnya ia tahu tidak mungkin aku melakukan semua perbuatan yang menyulitkan orang yang menarik perhatianku itu dan…” Yesung tertegun dengan pikirannya sendiri. “Ya!! Kim Yesung! Apa yang kau pikirkan!? Dia anak yang pemarah dan suka ikut campur urusan orang lain! Kau tidak menyukainya!” Yesung teringat saat ia mencium bibir Taeyeon di toilet.
“arghhh! Babo! Babo!” Yesung memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Ya! Yesung! Kenapa kau memukul-mukul kepalamu sendiri? apa kau perlu bantuanku untuk memukul kepalamu? Sepertinya menarik.” Ucap Kyuhyun dengan evil smirknya.
Yesung tidak menjawab. Ia bangkit bergegas keluar dari kamar itu.
Kim Taeyeon. Yesung hampir saja memutuskan untuk tidak mau berbicara lagi dengannya. tidak mau bergaul dengannya. tapi kemudian terpikir olehnya kegembiraan hatinya nanti saat ia merawat kuda-kuda kesayangannya. Ah, sangat menyenangkan. Dan hatinya pun melembut. Ia bahkan tidak bisa memaksakan dirinya untuk membenci Taeyeon. Bahkan mungkin sebaliknya?
Bagaimana pun ia sudah berjanji untuk menunjukkna dirinya bahwa sebenarnya ia berhati baik, dan sama sekali tidak jahat. “aku tahu apa yang akan kulakukan.” Katanya kemudian pada dirinya sendiri. “aku akan menonton pertandingan. Dan kalau Taeyeon mencetak gol, aku akan bersorak seperti yang lainnya. Dan aku akan menunjukan pada semua orang bahwa aku mampu mengalahkan rasa iriku padanya.”
Yesung pergi ke kandang kuda. Ia akan berbicara pada kedua kuda yang telah dipilihnya. Dan ia akan berkuda menjelajahi bukit-bukit dengan kuda kesayangannya. Ia merasa dirinya sangat penting dan bangga saat membuka pintu kandang dan berbicara pada pengurus kandang.
“bolehkah aku berbicara pada Horsie dan Captain?” tanyanya. “aku sudah mendapat izin untuk merawat keduanya.”
“ne, ara. Aku sudah diberitahu,” kata pengurus kandang itu. “baiklah. Tapi aku harus ikut mengawasi pekerjaanmu pada minggu pertama ini. sesudah itu, kalau pekerjaanmu baik, kau boleh mengurusnya sendiri.”
Yesung mendengar suara langkah kaki berlari di halaman. Dilihatnya Ryeowook dan Victoria. Mereka hendak memerah susu. Mereka berdua menyapa Yesung. “annyeong, Yesung. Kau sudah memilih kudamu?”
“sudah,” kata Yesung. “kemarilah. Dan lihatlah kuda-kuda yang kupilih. Lihat! Ini Horsie, dia sangat manis dan penurut. Dan ini Captain. Usaplah hidungnya.”
Ryeowook dan Victoria melihat kedua kuda itu dan memperhatikan Yesung. Mereka tampak begitu heran sehingga Yesung merasa gelisah.
“ada apa?” tanya Yesung. “ada noda dimukaku? atau apa?”
“aniyo.” Jawab Victoria. “hanya saja… kau tampak berbeda. Biasanya kau selalu tampak keji, selalu cemberut dan gusar, tapi kali ini kau penuh senyum dan matamu bersinar-sinar. Benar-benar aneh melihat seseorang yang bisa berubah hanya dalam satu malam! Kajja! Lihat sapi-sapi kami. Nanti kuberi segelas susu yang masih hangat.”
Victoria dan Ryeowook menggandeng Yesung di kiri-kanan. Mereka menariknya ke kandang sapi, tempat sapi-sapi sudah menunggunya untuk diperah susunya. Mereka saling bercanda. Hati yesung merasa hangat oleh persahabatan itu. kemudian menikmati susu hangat yang baru saja diperah dari sapi pertama.
“jeongmal haengbokhae,” pikirnya. “setiap pagi aku akan menemui Ryeowook dan Victoria kalau aku akan merawat kuda-kudaku. Aku akan segera punya sahabat!”
Lima menit kemudian ia telah berpacu diperbukitan, merasakan belaian angin di rambutnya, dan guncangan punggung kuda dibawahnya. Setiap ia berbicara pada Horsie, kuda itu menggerak-gerakkan telinga seakan-akan mendengarkannya. Semua kuda menyukai Yesung, tapi baru sekarang ia menyadari hal itu. Sungguh hampir tidak bisa dipercaya bahwa sekarang ia bisa berbuat apa saja dengan binatang-binatang yang sangat dicintainya itu.
“sesudah minum teh nanti aku akan mengajak Sehun naik Captain,” pikirnya. “aku akan membuat anak itu segera melupakan kekejianku padanya.”
Setiap anak yang bertemu dengan Yesung pagi itu tersenyum melihat perubahannya. Semua menyapanya dengan riang, menepuk punggungnya, membuatnya benar-benar mereasa bahwa seluruh sekolah bersedia membantunya.
Hanya Amber dan Taeyeon yang belum bertemu dengannya pagi itu. Taeyeon sibuk menggali dengan Changmin di kebun sekolah, sedang Amber mengikuti kegiatan pengamatan alam dengan beberapa orang temannya. Taeyeon tak henti-hentinya berbicara dengan Changmin tentang pertandingan nanti.
“sangat beruntung kan. Akhirnya aku ikut main.” Kata Taeyeon. “tadinya aku benar-benar kecewa karena melihat nama Yesung yang ditulis di papan pengumuman.”
“aku rasa sekarang Yesung juga akan merasa kecewa sekali.” Kata Changmin sambil menggali kuat-kuat.
“salahnya sendiri.” kata Taeyeon. “ia benar-benar keterlaluan mempermainkanku dan Sulli. Dulu ia mengotori alat-alat berkebunku sehingga kau memarahiku.”
“aku minta maaf karena dulu memarahimu.” Kata Changmin. “tapi apa kurasa tidak baik kau bersenang-senang diatas kesedihan Yesung.”
“biarkan saja!” tukas Taeyeon. “dia pantas menerimanya.”
“bagaimana kalau akhirnya dia menyukaimu? Soal yang kau bilang di rapat itu..”
“sudahlah!” potong Taeyeon. “Aku tidak mau membahas kejadian memalukan itu. kalau aku disuruh memilih kau atau anak itu, jelas aku akan memilihmu karena aku jauh lebih menyukaimu daripada Yesung.”
Changmin menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearah Taeyeon, “jinjja?”
“ne.” jawab Taeyeon. “aku menyukaimu karena kau begitu baik. Kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri.”
“kakak?” gumam Changmin.
“ne.” kata Taeyeon. “wae? Kau keberatan?”
“oh, aniyo. Gwaenchana.” Ucap Changmin tersenyum tipis. “kalau kau menganggapku kakak, kenapa kau tidak pernah memanggilku oppa?”
“eh?” kejut Taeyeon memandang Changmin yang sedari tadi memperhatikannya.
“ayo! Katakan oppa~. Changmin oppa! Kau bilang aku ini kakakmu kan?”
“mm..tapi..” ragu Taeyeon. “rasanya aneh memanggilmu seperti itu.”
“wae? Aneh kenapa? Bukannya kau juga memanggil Kangta dengan sebutan oppa?”
“i..iya sih.”
“cha! Panggil aku oppa~”
“mm.. o..opp..oopp…” ucap Taeyeon ragu-ragu dan Changmin menunggunya mengucapkan kata itu dengan senyum-senyum. “aaarrghh…shireo! Aku tidak mau memanggilmu seperti itu, Changmin!”
“ya!! MWOYA!? menyebut oppa saja susah sekali.” Kata Changmin pura-pura marah dan kembali menggali dengan kasar.
“Cha..Changmin! kau marah?” tanya Taeyeon takut-takut. Changmin diam saja namun diam-diam ia tersenyum kecil karena sepertinya Taeyeon tampak takut ia marah. “jebal jangan marah, Changmin o..opp..oppa.” kata Taeyeon akhirnya.
Changmin mengangkat wajahnya menatap Taeyeon yang tertunduk malu. “hey~ angkat kepalamu! Jangan menunduk!” kata Changmin dengan tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Taeyeon mengangkat wajahnya dan menatap Changmin sekilas kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. “berkata seperti itu saja susah sekali!” Changmin mengangkat tangannya mengacak-acak puncak kepala Taeyeon dengan gemas.
“ya!! Shim Changmin!” pekik Taeyeon. “Tanganmu kotor! Jangan menyentuh rambutku!!”
“ya! panggil aku oppa!”
“shireo!! Aku tidak akan mengatakannya lagi!” kesal Taeyeon.
“ya sudah.” Changmin kembali mengacak rambut Taeyeon.
“YA! YA!! keumanhae~!” Taeyeon berusaha menghentikan tangan Changmin yang semakin liar(?) di kepalanya. “okay! Okay! Cukup, Changmin oppa!”
Changmin berhenti dan menatap Taeyeon yang menatap tajam kearahnya. Changmin tertawa melihat ekspresi kesal Taeyeon sebelum akhirnya berkata.
“kuharap aja apa yang kau perkirakan tentang Yesung itu benar. Kasihan sekali kalau dia harus menderita karena hal yang tidak dilakukannya.” Kata Changmin kembali menggali.
“salah atau tidak, ia memang anak yang jahat,” kata Taeyeon. “aku senang ia tidak bisa ikut bertanding. Aku yakin ia tidak akan berani datang menonton pertandingan itu. ia akan malu sekali karena akhirnya ia tidak bisa ikut bertanding.”
Tapi dugaan Taeyeon itu salah!
Anak-anak yang akan ikut bertanding harus segera berganti pakaian diruang senam, segera setelah mereka makan siang. Pertandingan biasanya dimulai pukul setengah 3, maka mereka tidak punya banyak waktu. Anak-anak sekolah Starship yang menurut rencana akan tiba pukul 2 lebih 20, dan regu SM harus berada di pintu gerbang untuk menyambut kedatangan mereka.
Taeyeon hampir tidak bisa makan. Ia begitu tegang. Ia mencuri pandang melirik Yesung, dan terlihat Yesung tampak ceria dan bahagia. Lalu ia menjauhkan piring makanannya.
“seonsaengnim, rasanya aku tidak bisa makan lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu pertandingan nanti,” kata Taeyeon pada Mrs. Song.
“baiklah, kali ini kau boleh meninggalkan piringmu dengan makanan masih tersisa,” kata Mrs. Song tersenyum. “aku tahu bagaimana rasanya pertama kali ikut bertanding dalam tim sekolah.”
Taeyeon bergegas dengan anggota tim lainnya ke ruang senam. Kemudian bersama-sama mereka menyambut kedatangan tim Starship, mengantar mereka ke lapangan tempat akan bertanding. Tim tamu menaruh pakaian mereka di paviliun yang ada di tepi lapangan.
“lihat, hampir seluruh murid sekolah kita datang untuk menonton.” Kata Taeyeon pada Sooyoung, saat ia melihat anak-anak berlarian menuju lapangan pertandingan.
“ne, bahkan Yesung!” Kata Sooyong yang sekilas melihat Yesung diantara anak-anak tadi.
“mana?” tanya Taeyeon heran. Kemudian ia bisa melihat Yesung. Heran.
Yesung datang untuk menonton pertandingan yang seharusnya diikutinya! Pertandingan yang tempatnya telah diberikan pada anak lain sebagai hukuman untuknya!
Taeyeon hampir tak mempercayai matanya. Tiba-tiba ia merasa malu. Ia tahu kalau ia tidak akan bisa berlapang dada seperti itu jika ia berada diposisi Yesung.
“dewasa sekali pikiran Yesung, mau datang dan menontonmu bermain.” Kata Sooyoung. “ia benar-benar seorang yang berpikiran dewasa dan berlapang dada. Aneh juga melihat orang yang mampu berbuat berbagai tipuan keji ternyata bisa cepat berubah pribadinya. Aku jadi bertanya-tanya apa benar dia yang melakukan perbuatan itu.”
Taeyeon mengambil tongkat lacrosse-nya. Tadinya ia merasa yakin bahwa Yesung tidak akan berani datang menonton. Tapi ternyata dugaannya salah. Bagaimana kalau seperti yang dikatakan Sooyoung bahwa ternyata Yesung dihukum secara terburu-buru? Dan itu semua karena tuduhannya! Benar-benar pikiran yang tidak menyenangkan.
“oh, biarlah!” kata Taeyeon akhirnya dalam hati. “aku tidak akan memikirkan hal itu. lebih baik aku menikmati pertandingan pertamaku ini.” ia pun segera berlari keluar paviliun dan memasuki lapangan.
Tapi ia segera merasa kecewa. Hujan mulai turun! Kedua tim dengan gelisah memandang ke langit. Mudah-mudahan hujan tidak begitu besar. Sayang sekali jika pertandingan dibatalkan.
Anak-anak berdesakan di paviliun, menunggu. Tapi makin lama hujan makin deras, makin lebat. Awan-awan hitam malah berdatangan, makin banyak, makin rendah, makin hitam. Tak ada harapan lagi.
“kurasa pertandingan terpaksa dibatalkan,” kata Mr. Choi. “semua harap pergi ke ruang senam, dan kita akan mengadakan beberapa permainan untuk menghibur tim tamu.”
Anak-anak berhamburan tunggang langgang kembali ke sekolah. Taeyeon ikut lari juga, sedih dan kecewa. Benar-benar sial! Pertandingan pertamanya, dan hujan telah menghancurkan harapannya!
Tiba-tiba seseorang membantu melindungi kepala Taeyeon dari air hujan dengan jaketnya, dan berkata, “Taeyeon! Sayang sekali! Aku juga ikut kecewa kau tidak jadi bertanding!”
Taeyeon berpaling. Yesung! Anak itu berlari disebelahnya dengan tangan keatas merentangkan jaketnya diatas kepalanya dan kepala Taeyeon. Taeyeon tertegun sehingga tidak bisa menjawabnya. Yesung terlalu ajaib saat itu.
Yesung mengatakan itu dan melindunginya dari hujan. Yesung ikut menyesal karena tidak jadi bertanding? Taeyeon sama sekali tidak mengerti.
“ya! kau ingin basah kuyup? Ppaliwa, babo!!” seru Yesung disebelahnya menyuruhnya cepat-cepat lari menuju ruang senam.
Dan Taeyeon mempercepat larinya bersama Yesung memasuki sekolah. Masih sangat heran. Tidak tahu harus berbuat apa atas kejadian yang baru dialaminya ini.
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 11

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 11 : Yesung, got you!
Untuk sekian lama Yesung menahan diri. Tidak menakut-nakuti seseorang atau berbuat jahat. Ia benar-benar takut kalau perbuatannya itu diketahui Taeyeon. Yesung tahu Taeyeon selalu mengawasinya dan ia tidak mau memberi kesempatan untuk melaporkannya lagi.
Tapi 2 atau 3 minggu setelah itu Yesung berpikir Taeyeon sudah bosan mengawasinya. Yesung tidak tahu bahwa Taeyeon menduga Yesung yang melakukan semua kenakalan. Ia bahkan melakukan pengawasan lebih sungguh-sungguh lagi.
Hari itu Yesung harus keluar mengambil air untuk melukis. Taeyeon mellihatnya keluar dari kelas dan ia berkata pada Sunny.
“Sunny, mungkin Yesung akan menyembunyikan bukuku lagi. Atau melakukan sesuatu yang akan merugikanku,” bisiknya pada Sunny. “ayo kita ikuti diam-diam.”
Kedua yeoja itu mengikuti Yesung. Ia memasuki gang dan berlari menuruni tangga. Dari balik tikungan muncul Luhan, anak yang pernah melaporkan temannya karena meminjam barang-barangnya tanpa dikembalikan. Luhan juga berlari dengan kecepatan tinggi, dan tanpa dapat dicegah langsung menubruk Yesung. Sangat keras hingga membuat Yesung jatuh ke lantai.
Luhan tertawa terkekeh-kekeh. Benar-benar lucu melihat Yesung yang angkuh itu jatuh tersungkur! Tapi bagi Yesung tentunya itu tidak lucu. Ia langsung berdiri dan tangannya langsung melesat terulur dan mencengkram Luhan. Begitu keras hingga anak itu menyeringai kesakitan.
“lepaskan!” pinta Luhan.
Yesung melihat sekeliling. Tak ada seorang pun. Ia menarik Luhan ke toilet, diguncangnya anak itu keras-keras. “berani sekali kau menubrukku seperti hah?!!” gertak Yesung. “berani sekali kau menertawakanku! Akan ku hajar kau, bocah tengil!”
“Yesung, lepaskan aku!” pinta Luhan. Ia tahu Yesung suka menyakiti anak kecil dan ia mulai takut padanya.
“kau harus bilang ‘aku mohon sudilah kiranya Tuan memaafkan hambamu ini’,” kata Yesung.
Tapi Luhan walaupun takut bukanlah seorang pengecut. Ia menggelengkan kepalanya.
“shireo!” balas Luhan. “lagipula bukan seluruhnya kesalahanku. Lepaskan aku, anak jahat!”
Yesung sangat marah. Diguncangkannya Luhan sekali lagi. “katakan apa yang ku suruh, kalau tidak kududukan kau di pipa air panas!” ancamnya.
Pipa air panas memang banyak terdapat di ruang itu untuk menghangatkan ruangan. Luhan takut melihat pipa-pipa itu, tapi tetap saja ia menggelengkan kepalanya.
“tidak! Aku tidak mau memohon maaf padamu,” katanya keras kepala. “kalau kau baik seperti anak yang lainnya aku pasti akan meminta maaf padamu. Lepaskan aku!”
“kau duduk di pipa panas dulu!” geram Yesung. Dengan sangat marah ia menyeret Luhan malang itu ke pipa terdekat. Dipaksanya anak itu duduk. Memang tidak terlalu panas, tapi cukup panas untuk membuat Luhan menjerit-jerit.
Lalu dimana Taeyeon dan Sunny? Mereka berdua bersembunyi di tikungan, melihat semua yang terjadi. Dan saat mereka mendengar jeritan Luhan, keduanya segera berlari memasuki toilet.
Yesung cepat menarik Luhan dari pipa panas, setelah melihat Taeyeon dan Sunny masuk. Tapi terlambat. Keduanya melihatnya. Muka Yesung memerah karena marah. Tertangkap basah oleh 2 orang yeoja dan salah satunya adalah Taeyeon.
“kau tertangkap basah, anak kejam!” geram Taeyeon. “Luhan, kami akan melaporkannya dalam Rapat Besar yang akan datang. Kami harap kau tidak berbohong dan membantu dia.”
“pasti.” Kata Luhan. “aku bukan pengecut seperti anak-anak lain yang tidak berani mengajukan keluhan tentang Yesung. Seperti Sehun itu. kau tahu kenapa dia tidak mengaku kalau Yesung mengayunkannya terlalu tinggi? Yesung mengancamnya dengan berbagai siksaan kalau ia menceritakannya.”
“tidak!” bantah Yesung marah, walaupun begitu apa yang dikatakan Luhan memang benar. “tunggu sampai ku temui kau sendirian, tahu rasa kau nanti!”
“see?” kata Luhan. “terang-terangan kau mengancamku. Tapi kau tidak akan mendapat kesempatan itu. aku akan melaporkanmu dalam Rapat besar, walau Taeyeon dan Sunny tidak melaporkannya.”
Luhan beranjak pergi dari tempat itu. Taeyeon berpaling pada Yesung, berkata dengan tajam, “aku tahu betul kalau kaulah yang melakukan berbagai muslihat jahat padaku dan Sulli..”
“bukan aku yang melakukannya!” tukas Yesung, dan kali ini ia memang berkata sebenarnya.
“kojitmal!” tukas Taeyeon. “kau cukup kejam untuk berbuat apa saja. kau terlalu jahat untuk berada di sekolah ini, kau patut diusir dari sekolah ini!”
Yesung menatap Taeyeon dengan mata yang berkilat-kilat lalu mendorongnya ke dinding dan menghimpitnya. Membuat Taeyeon ketakutan.
“ya!! apa yang kau laku…”
CHU~
Tidak disangka-sangka Yesung malah mendaratkan bibirnya dibibir Taeyeon.
Sunny terperangah terkejut dengan apa yang dilakukan Yesung.
Taeyeon membelalakan matanya dan sedetik kemudian ia mendorong Yesung dan menampar pipinya.
“apa yang kau lakukan hah???” geram Taeyeon menatap Yesung tajam. Yesung menyeringai sembari mengusap bibirnya yang sedikit basah.
“kau menamparku?” kata Yesung.
“kau memang pantas menerimanya!!”
“seharusnya kau yang diusir dari sekolah ini sejak semester lalu.” Yesung mengejek Taeyeon.
“diam kau!!” kata Sunny. “Taeyeon bukannya jahat, itu dilakukannya karena kebaikan hatinya padaku! aku tidak mau kau mengejeknya seperti itu!”
“akan ku katakan apa yang ingin ku katakan,” kata Yesung sambil meninggalkan tempat itu dengan tangan di saku dan bersiul seolah tidak peduli apapun.
“sekarang dia tahu kalau kita tahu dialah yang membuat kita mendapat masalah di kelas, dan ini berarti ia tidak akan berani berbuat lagi.” Kata Taeyeon senang. “lumayan juga kita bisa hidup dengan tenang.”
“Taeng..” panggil Sunny. “bagaimana soal…mmm..ciuman tadi?” tanya Sunny takut-takut. “bukankah itu ciuman pertamamu?”
Taeyeon tertegun dan menyentuh bibirnya dengan punggung jari telunjuknya. “namja gila itu!! KIM YESUNG!!!!” pekik Taeyeon.
Sunny dan Taeyeon tidak tahu kalau yang berbuat itu semua bukan Yesung. Melainkan Amber. Dan Amber tidak punya alasan untuk menghentikan perbuatannya. Amber sangat membenci Taeyeon dan Sulli. Keduanya cantik, pandai, dan disukai banyak orang.
Amber iri pada mereka. Iri melihat rambut mereka yang indah. Iri melihat mata mereka yang bersinar-sinar. Iri pada otak mereka yang cerdas serta gurauan mereka yang sungguh lucu. Ia ingin melukai hati kedua anak itu karena mereka memiliki segala hal yang diinginkannya dan tidak dimilikinya.
Taeyeon berkata pada Sulli bahwa ia merasa pasti Yesung yang mengambil tikus-tikusnya dan menaruhnya di laci Mrs. Song. Tikus-tikus itu tidak pernah bisa ditemukan lagi. Mata Sulli bersinar marah mendengar cerita Taeyeon.
“dan pasti dia juga yang menumpahkan tinta di bukuku,” kata Sulli. “dan aku tidak akan heran kalau ternyata dialah yang sudah membuat kotor alat-alat berkebunmu. Tadinya aku tidak pernah mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.”
“ne. sekarang mungkin kita tidak akan menjadi korbannya lagi, sebab Yesung pasti takut kita melaporkannya dalam Rapat Besar,” kata Taeyeon. “padahal mau dia berbuat lagi atau tidak, kita pasti akan melaporkannya.”
Tapi keesokan harinya ternyata mereka dipermainkan lagi. Tiap hari Rabu, setiap pengawas memeriksa laci-laci serta lemari anak-anak yang ada dibawah pengawasannya, untuk menjaga agar segalanya rapi. Sooyoung sangat keras dalam hal kerapian.
Taeyeon dan Sulli selalu rapi. Apalagi hari Selasa, sebab mereka tahu hari Rabu Sooyoung akan memeriksa. Tiap selasa malam barang-barang mereka sudah teratur rapi.mereka tidak pernah lupa mengerjakannya. Sehingga hari Rabu itu ketika Sooyoung melihat laci mereka berantakan, keduanya begitu heran hingga tidak bisa berkata sepatah kata pun.
“Sulli! Taeyeon! Apa maksud kalian membuat barang-barang kalian tidak karuan begini?” seru Sooyoung dengan marah. “lihat! Semuanya campur aduk. Lusuh, kotor. Terus terang saja aku belum pernah kulihat tempat seberantakan ini! kalian biasanya rapi. Apa kalian lupa aku selalu memeriksa di hari Rabu?”
“tentu saja tidak.” Kata Sulli. “dan kami sudah merapikannya tadi malam sebelum tidur. Kau juga melihatnya kan, Soo?”
“aku tidak melihat kalian melakukannya.”kata Sooyoung. “tempatku kan jauh dari sini.”
Ketiga yeoja itu memandang laci Taeyeon dan Sulli. Semuanya terbalik-balik. Taeyeon dan Sulli tahu benar tidak mungkin mereka mengatur barang mereka seperti itu. seseorang pasti telah memberantakannya. Seseorang telah sengaja mempermainkan mereka, agar mereka terkena masalah.
“pasti Yesung,” kata Taeyeon. “ia selalu berusaha mencelakakan kami, Soo. Ia membuat kotor alat-alat kotorku hingga Changmin memarahiku, menyembunyikan bukuku, menaruh tikus Sulli didalam laci meja Mrs. Song…”
“anak manis, tidak mungkin Yesung melakukan ini,” kata Sooyoung. “kau tahu, anak laki-laki tidak pernah masuk ke daerah asrama perempuan. Kalau dia kesini, pasti segera ada yang tahu. Sebab diluar selalu ada anak…”
“tapi ini pasti perbuatannya, Soo!” kata Taeyeon bersikeras. “kalau kau ingin menyalahkan seseorang karena laci yang berantakan ini, kau harus memarahi Yesung.”
“aku tidak akan memarahi siapapun,” kata Sooyoung. “pokoknya kalian kali ini tidak rapi. Mungkin juga seseorang telah mempermainkan kalian, tapi yang jelas sekarang kalian harus merapikan semua ini!”
Taeyeon dan Sulli terpaksa bekerja lagi. Keduanya marah, dan tidak memperhatikan Amber yang tersenyum. “jadi Taeyeon dan Sulli mengira ini perbuatan Yesung? Bagus sekali!” pikir Amber. Tak ada seorang pun yang mengira bahwa dialah yang melakukan semua itu. sekarang ia merasa lebih aman.
Rapat Besar akan dilaksanakan hari Jumat malam. Di hari Kamis terjadi sesuatu yang sangat mengecewakan Taeyeon. Pertandingan lacrosse akan diadakan pada hari Sabtu. Taeyeon sudah berlatih keras agar bisa terpilih untuk mennjadi anggota tim sekolah. Hanya satu orang yang akan mewakili kelasnya, dan Taeyeon merasa yakin bahwa dialah yang terpilih.
Tapi pada waktu ia melihat ke papan pengumuman, dilihatnya nama Yesung ditulis sebagai anggota tim sekolah. Dan bukan namanya!
Di papan tersebut tertulis: “Kim Yesung dari kelas 2 telah terpilih untuk bermain dalam tim sekolah menghadapi pertandingan melawan Starship School pada hari Sabtu ini.”
Kerongkongan Taeyeon serasa tercekat. Ia sudah berlatih keras karena ingin terpilih. Tapi ternyata yang terpilih adalah Yesung, yang begitu dibencinya! Ia hampir tidak bisa mempercayai matanya.
“tidak apalah.” Hibur Sunny. “lain kali kau pasti akan dapat kesempatan!”
“benar-benar tidak adil!” geram Taeyeon. “dan dia pasti akan habis-habisan mengejekku sekarang. Oh, mudah-mudahan Rapat Besar akan menghukumnya sehingga ia tidak bisa main dalam pertandingan itu.”
Yesung sangat senang melihat namanya terpampang di papan pengumuman. Tapi dibalik itu, ia merasa sangat khawatir juga. Ia tahu Taeyeon dan Sunny pasti melaporkannya di Rapat Besar. Dalam hatinya ia merasa takut juga.
Hari Jumat tiba. Yesung gelisah. Kalau saja Rapat itu diadakan sesudah hari Sabtu, ia tidak akan peduli. Toh ia bisa main dalam pertandingan itu, walaupun kemudian ia akan mendapat hukuman. Sungguh bangga bisa mengalahkan Taeyeon yang suka ikut campur urusan orang lain itu!
Waktu untuk Rapat Besar tiba.
Anak-anak memasuki ruangan dengan perasaan sedikit tegang. Mereka tahu Rapat Besar kali ini tidak akan seperti biasanya.
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 6

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 6 : Sulli’s Mouse

Taeyeon tidak bisa tidur nyenyak malam itu. ia berguling-guling gelisah di tempat tidurnya memikirkan rapat Besar tadi dan Yesung yang ia benci. Memalukan ia harus meminta maaf pada anak itu. ia harus bisa menangkap basah Yesung saat membully anak-anak kecil.

Keesokan harinya Taeyeon begitu capek dan matanya terasa sangat berat. Sulit sekali berkonsentrasi pada pelajaran, apalagi pelajaran bahasa Prancis. Mrs. Han sangat gusar melihatnya.

“Kim Taeyeon! Kenapa kau tidak menghafalkan kata kerja yang di tugaskan kemarin?” tegur Mrs. Han. “neo jinjja! Diam saja dan setengah mengantuk juga tidak memperhatikan kata-kataku!”Diam-diam Yesung mengeluarkan evil smirknya. Taeyeon melihat itu dan berusaha bersabar supaya tidak mengeluarkan kata-kata kasar.

“bagaimana? Kau tidak punya lidah?” tanya Mrs. Han tidak sabar. “kenapa kau tidak menghafalkan kata kerja kemarin?”

“kemarin aku sudah menghafalnya.” Jawab Taeyeon. “tapi entah kenapa hari ini aku jadi lupa semuanya.”

“kalau begitu hari ini kau harus menghafalnya lagi!” kata Mrs. Han dengan tajam. “kalau sudah hafal, temui aku dan ucapkan didepanku!”

“ne.” Jawab Taeyeon menunduk.

Tapi Mrs. Han masih merasa tidak puas. “kau boleh saja hanya berkata ‘ne’ begitu saja dengan caramu yang tidak sopan itu. kau harus berkata ‘ne, Han seonsaengnim’.”

“ne, Han seonsaengnim” kata Taeyeon. Dalam hati ia sangat kesal memikirkan Yesung yang pasti senang melihat hal ini. ingin rasanya ia mencabuti rambut hitam anak kurang ajar itu sekali lagi.

Selanjutnya pelajaran berjalan cukup lancar. Taeyeon bertekad untuk tidak memberi kesempatan dirinya menjadi bulan-bulanan kemarahan gurunya, sebab itu akan membuat Yesung semakin girang(?). tapi ia tidak bisa dengan mudah memusatkan pikiran pada pelajaran. Begitu ia berpikir, yang ia pikirkan adalah Yesung dan cara bagaimana ia bisa menjebak anak itu saat sedang membully anak lain.

Sorenya saat Taeyeon sedang berlatih piano, Tiffany, Sunny dan Sooyoung mengadakan pertemuan kecil. Merundingkan sahabat mereka itu.

“kita harus menjaga agar Taeyeon tidak bertemu dengan Yesung. Paling tidak untuk beberapa hari,” kata Sunny. “Taeyeon sangat marah dan membenci Yesung. Sedikit saja Yesung mencibirkan bibirnya saat mereka bertemu, Taeyeon langsung menyerangnya.”

“ne. ku pikir setelah beberapa hari kemungkinan besar kemarahan Taeyeon sudah mereda dan melupakan kejadian ini.” kata Sooyoung. “kita harus memberinya kegiatan, agar selalu jauh dari Yesung. Misalnya, kita ajak dia turun ke desa atau menyibukannya dengan berkebun bersama Changmin. Kupikir lebih jarang bertemu dengan Yesung lebih baik. Aku sendiri sebenarnya muak juga melihat anak itu.”

Hari-hari berikutnya Taeyeon dibuat sangat sibuk oleh teman-temannya. “ayolah, bantu aku memilih pita rambut, Taeng.” Pinta Tiffany. “aku harus membeli yang baru.

“Taeng, ayo latihan menangkap bola lacrosse,” ajak Sooyoung. “sepertinya kau semakin pandai bermain lacrosse. Kalau kau rajin berlatih, mungkin kau bisa jadi pemain utama kita.”

“Taeng, kita diminta Changmin membantunya mengumpulkan sampah untuk api unggun.” Pinta Sunny. “kajja!”

Begitulah. Hampir setiap saat Taeyeon harus berlari kesana kemari. Ia jarang bertemu Yesung kecuali di kelas. Tapi ia tidak melupakan tekadnya untuk menangkap basah Yesung membully anak-anak.

Tapi hasilnya nihil. Yesung seperti tidak peduli pada anak-anak lain dan malah selalu menghindari anak-anak kecil. Sepertinya ia tahu kalau Taeyeon memata-matainya dan tidak memberi kesempatan yeoja itu untuk menjebaknya. Ia berpendapat nanti juga Taeyeon bosan sendiri.

Yesung sangat suka pada kuda. Setiap ada kesempatan ia selalu berkuda. Ia tidak diperbolehkan untuk merawat kuda-kuda itu sebab tugas tersebut hanya boleh dilakukan oleh anak-anak yang sudah lebih besar. Meski begitu, Yesung sering terlihat menunggui kuda-kuda di kandangnya. Berbicara dengan mereka, mengusap-usap kepalanya dan kuda-kuda itu juga terlihat sudah dekat dengan Yesung. Tiap kali Yesung datang, mereka langsung menjulurkan kepala lewat pintu kandang. Binatang peliharaan lainnya sama sekali tidak menarik perhatian Yesung.

Jadi karena Yesung sibuk dengan kuda-kudanya dan Taeyeon disibukkan oleh sahabat-sahabatnya, maka kedua musuh bebuyutan ini hampir tidak punya kesempatan untuk bertemu dan bertengkar. Hanya di kelas saja mereka memperlihatkan permusuhan mereka.

Yesung juga bertekad untuk tidak memberi kesempatan pada Taeyeon untuk mengejeknya. Ia belajar dengan rajin, berusaha sebaik-baiknya untuk mengerjakan semua tugasnya. Mrs. Song, wali kelas mereka sendiri sedikit heran namun juga senang dengan perubahan itu. Yesung membuat kemajuan besar di semua mata pelajaran.

“Yesung, pekerjaanmu baik sekali.” Puji Mrs. Song. “aku tidak akan heran kalau suatu hari kau akan menjadi juara di kelas ini.”

Wajah Yesung langsung merah karena senang. sebenarnya ia anak yang malas belajar. Taeyeon sangat kesal mendengar pujian yang diberikan pada Yesung. Kalau ia mau, dengan mudah ia bisa memimpin dalam pengumpulan angka karena memang selama ini ia selalu menjadi bintang kelas.

Taeyeon makin rajin dan tekun belajar. Begitu pun Yesung. Tapi niat belajar mereka tidak benar. Hanya untuk bisa balik mengejek. Jadi, mereka rajin bukan karena senang belajar, tapi karena terpaksa!

Beberapa lama kemudia Taeyeon dan Yesung tampaknya mulai melupakan permusuhan mereka karena tertarik pada hal lain. Tikus-tikus Sulli membuat keributan besar dan Sulli sendiri hampir kewalahan menanganinya.

Tikus-tikus itu baru saja melahirkan 9 ekor anak tikus. Sangat lucu, menurut pendapat Sulli. Kulitnya putih lembut, hidungnya runcing lembek, matanya merah, dan ekornya kecil-kecil. Sulli sangat menyayangi peliharaannya itu. benar-benar aneh melihat yeoja ini dengan sekitar setengah lusin tikus berlarian naik turun dilengannya.

“Sulli, cepat kembalikan semua kedalam kandang.” Kata Taeyeon dengan pandangan jijik.”ppaliwa! nanti kita terlambat. Song seonsaengnim agaknya sedikit sensitive hari ini.”

“aigoo! Aku tidak bisa menemukan mereka semua!” seru Sulli meraba-raba seluruh tubuhnya. “Taeyeon, apa mereka ada dipunggungku?”

“ish, Sulli, bagaimana kau bisa tahan dirambati tikus-tikus itu. “kata Taeyeon. “tidak. Dipunggungmu tidak ada. Mungkin semua sudah masuk ke kandang. Ppali~! Kalau tidak ku tinggal kau!”

Sulli menutup kandang dengan teliti. Lalu ia berlari bersama Taeyeon. Mereka hampir saja terlambat tepat pada saat Mrs. Song masuk juga.

Mereka duduk ditempat masing-masing. Pelajaran geografi dan mereka mempelajari Indonesia dengan kepulauannya. Sulli duduk dibarisan depan, tepat dihadapan Sunny dan Taeyeon.

Ditengah pelajaran, tiba-tiba Taeyeon melihat ujung hidung seekor bayi tikus putih muncul dileher baju Sulli. Sulli juga merasakannya. Ia menggerakkan bahunya mendorong tikus-tikus itu masuk kembali ke punggungnya.

Taeyeon hampir tidak bisa menahan tawanya. Sulli merasa tikus itu seperti menggelitikinya. Ia menggerak-gerakan badan, mencoba memaksa tikus itu untuk kebahunya, tempat yang mungkin nyaman dan bisa membuatnya tertidur disana. Tapi si tikus tidak mengantuk. Malah semakin lincah. Ia berlari mengelilingi tubuh Sulli, dibawah bajunya, cium sana-sini, keluar masuk dari dalam baju dan naik ke bahu. Bolak-balik Sulli harus menggerakkan badan.

Mrs. Song melihatnya dan langsung menegurnya, “Sulli! Kenapa sih kau pagi ini? duduklah dengan tenang!”

“ne, seonsaengnim.” Jawab Sulli sambil menahan geli. Sedetik kemudian tikus itu masuk ke bawah ketiak kirinya. Sulli geli sekali. Ia terkikik sehingga Mrs. Song kembali menegurnya.

“Choi Sulli! Apa kau tidak bisa diam?! Kau juga, Taeyeon, kau kenapa sih?”

Sebenarnya Taeyeon tidak berbuat apapun. Ia hanya menahan tawanya melihat Sulli.

“benar-benar mengesalkan kelas ini.” gerutu Mrs. Song. “Sulli, maju ke papan tulis dan tunjukan padaku beberapa tempat di peta itu. kalau kau tidak bisa duduk dengan tenang, mungkin kau bisa berdiri dengan tenang.”

Sulli bangkit dan berjalan ke depan. Tikus itu merasa senang diajak berjalan-jalan. Dengan gembira ia berlarian dipunggung Sulli. Sulli susah payah mencoba meraihnya.

“Sulli, mwo haneungoya?” tanya Mrs. Song tidak sabar. Saat itu seluruh kelas sudah tahu apa yang terjadi. Semuanya terpaksa membungkuk ke buku masing-masing membunyi tawa mereka. Sampai-sampai merah padam menahan tawa. Hingga akhirnya suara tawa lolos juga dari Kangin dan Heechul.

“kalian pasti sedang menyembunyikan sebuah lelucon,” kata wali kelas mereka itu. “coba ceritakan, biar aku juga ikut mendengar. Kalau memang lucu, marilah kita tertawa bersama-sama. Kalau tidak, belajarlah dengan baik. Nah, apanya yang lucu?”

Tak seorang pun menjawab. Sulli memandang teman-temannya dengan pandangan memohon untuk tidak menceritakannya. Tikusnya juga memandang seisi kelas dari balik lengan baju Sulli. Mrs. Song sangat heran. Dan saat itu juga tikus itu memutuskan untuk meninjau dunia lebih luas. Ia lari keluar dari lengan baju Sulli dan meloncat ke meja Mrs. Song, menggosok-gosok kumisnya dengan tenang, seolah tempat itu memang khusus untuknya.

Seisi kelas tak tahan lagi. Tawa pun meledak(?). Mrs. Song terkejut dan memandang ke mejanya dengan sangat heran.

“bagaimana tikus ini bisa sampai disini?”

“mianseumnida, seonsaengnim. Tikus itu melompat keluar dari lengan bajuku,” kata Sulli. “Tadi aku sedang bermain-main dengan tikus-tikusku waktu lonceng berbunyi. Mungkin yang ini tertinggal dibajuku, tidak ikut masuk kekandangnya, bersembunyi dilengan bajuku.”

“jadi itu lelucon kalian?” kata Mrs. Song dan mulai tersenyum. “baiklah. Aku setuju, itu memang lucu. Tapi lelucon seperti ini tidak boleh diulang lagi. Kau mengerti itu, Sulli? Tikus putih lebih baik berada dikandangnya, tidak cocok berlarian dipunggung orang didalam kelas.”

“ne, arasseo seonsaengnim.” Kata Sulli bersungguh-sungguh. “ini sama sekali tidak disengaja. Boleh aku memasukannya kembali ke lengan bajuku?”

“lebih baik tidak,” kata Mrs. Song “aku percaya pelajaran kita tidak akan memperoleh banyak kemajuan selama tikus itu masih disini. Kembalikan ke kandangnya. Pasti banyak yang akan ia ceritakan pada saudara-saudaranya nanti.”

Sulli segera lari keluar dengan tikusnya sementara seisi kelas mulai belajar lagi. Sesi tawa tadi membuat gembira semua anak. Terutama Taeyeon. Setelah tertawa seperti itu, ia merasa bahwa dirinya seakan tak punya rasa dengki lagi. Tidak memikirkan keinginannya untuk balas dendam.

to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 5

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 5 : Angry Taeyeon
Kedua pengaduan yang diajukan dalam Rapat Besar itu begitu berat, sehingga lama sekali kedua hakim dan anggota Dewan Juri berunding. Sementara itu anak-anak lainnya juga sibuk membicarakan persoalan tersebut. Tak banyak yang memihak Yesung, sebab ia memang tidak disukai. Tapi hampir semua juga merasakan bahwa Taeyeon seharusnya tidak naik pitam dan melakukan pemukulan.
“lagipula,” kata Kibum pada temannya, Donghae. “dulu ia memang anak yang paling badung di sekolah kita.”
“memang. Dulu dia kita beri nama si Trouble Maker.” Sahut Donghae. “tapi setelah tengah semester kelakuannya sungguh sangat baik.”
“dan aku yakin benar ia berusaha menjadi murid yang baik semester ini,” kata Sungmin yang ikut nimbrung(?). “aku sering mendengar dia mengatakan itu. semester lalu ia pernah bertengkar denganku, tapi kemudian ia minta maaf, dan sejak itu kelakuannya terhadapku sangat baik.”
Begitulah pembicaraan terus berlangsung sementara Taeyeon dan Yesung duduk tegak, dihati saling membenci, saling ingin agar yang lain dihukum seberat-beratnya.Para hakim dan juri sulit sekali mengambil kata sepakat. Beberapa anggota juri berpendapat bahwa Yesung memang seorang yang suka menyakiti anak-anak yang lebih kecil tapi kenapa Sehun tidak memberi kesaksian tentang itu? mungkinkah desas-desus bahwa Yesung sok jago itu hanya desas-desus belaka? Semua anggota dewan juri memang terbiasa untuk berpikir dan mengambil keputusan seadil-adilnya. Mereka pun sadar bahwa mereka tidak bisa menjatuhkan keputusan tanpa bukti. Dilain pihak, semua anggota dewan juri tahu betapa badungnya Taeyeon semester lalu, dan tahu juga betapa yeoja mungil itu akhirnya bisa mengalahkan dirinya sendiri dan mengubah pribadinya menjadi pribadi yang sangat menyenangkan. Mereka tidak percaya bahwa Taeyeon menampar Yesung hanya karena iseng saja, hanya ingin berbuat nakal. Mereka tidak ingin menghukum Taeyeon, sebab jangan-jangan Yesung memang suka menyiksa anak kecil.
Akhirnya Siwon mengetuk meja, minta agar hadirin diam. Semua terdiam, menunggu dengan berdebar-debar apa yang akan diputuskan hakim. Taeyeon masih merah pipinya karena marah dan gelisah. Yesung tampak pucat namun tenang.
“menurut kami persoalan ini sungguh pelik, tak mudah untuk diputuskan,” kata Siwon dengan suaranya yang enak didengar. “memang jelas Taeyeon tidak bisa mengendalikan diri dan menyerang Yesung. Tapi tidak jelas apakah Yesung benar-benar menyiksa Sehun. Sebab betapapun kita harus mempercayai kata-kata Sehun. Toh ia mengerti bahwa tidak baik bagi kita untuk berbohong. Kita juga sudah tahu pribadi Taeyeon dan tahu benar bahwa dia biasanya bersikap sangat adil. Jadi, kalau tidak ada suatu hal yang dianggapnya keterlaluan, sulit untuk percaya bahwa ia menyerang Yesung tanpa alasan.”
Hening sejenak.
Seluruh hadirin seakan menahan napas untuk mendengarkan apa kata Siwon selanjutnya. Siwon berpikir sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya.
“baiklah. Taeyeon mungkin bersalah tapi mungkin ia merasa yakin Yesung melakukan perbuatan buruk. Karena itu ia tidak bisa menahan diri, menyerang Yesung untuk menghentikannya. Disitulah kau salah, Taeyeon. Kalau kau cepat naik darah, maka kau sulit untuk bisa berpikir secara jernih. Seharusnya kalau kau melihat sesuatu yang kau anggap salah, kau harus berpikir tenang, agar kau bisa mempertimbangkannya secara wajar, tidak melebih-lebihkannya, tidak memutar balikkannya. Kau tadi berbicara dengan sikap sangat membenci Yesung. Dan itu tidak saja melukai hatinya tapi juga pasti melukai hatimu sendiri.”
“aku memang membencinya!” sembur Taeyeon marah.
“tapi tanpa bukti yang cukup kuat bahwa Yesung sering menindas anak-anak kecil, kami tidak bisa mengadili atau menghukumnya.” Kata Siwon. “dan karena kami yakin bahwa kau sungguh berpendapat bahwa Yesung melakukan sesuatu yang salah, kami juga tidak menghukummu. Tapi kau harus meminta maaf pada Yesung karena berlaku begitu kasar padanya.”
Semua berpendapat bahwa keputusan ini adil sekali. Tak seorang pun menginginkan Taeyeon dihukum berat, sebab semua menyukai yeoja pemarah ini. jadi, semua berpendapat bahwa kemungkinan besar Taeyeon salah tafsir tentang Yesung dan karena itu Taeyeon harus meminta maaf.
Taeyeon tak berkata sepatah katapun. Ia duduk kaku, wajahnya masam. Yesung tampak senang. Siwon berunding lagi dengan Boa, kemudian ia berbicara untuk menutup persoalan itu, “itulah keputusan kami. Taeyeon kau harus meminta maaf pada Yesung. Dan Yesung, kau harus menerima permintaan maaf itu dengan baik-baik. Taeyeon, kau harus mengendalikan dirimu. Yesung, jangan sampai kau mendapat kesan bahwa kau menindas anak-anak kecil. Sebab kalau itu terjadi, maka hukumanmu akan sangat berat.”
Pertemuan itu pun beralih membicarakan hal lain. Dan setelah beberapa saat, Rapat Besar dibubarkan, sebab sudah melebihi waktu biasanya. Murid-murid keluar dari ruang auditorium tak semeriah biasanya. Persoalan yang tadi mereka hadapi, masih membekas. Perkelahian dan penindasan! Masalah seperti itu sangat jarang terjadi.
Yesung berjalan dengan riang, tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ia merasa dirinya tiba-tiba jadi anak penting. Dan ia merasa senang. ia menang.
Sekarang Taeyeon akan terpaksa meminta maaf padanya.Tapi Taeyeon tidak sudi meminta maaf. Sunny memperhatikan wajah merah sahabatnya itu saat mereka pergi ke kantin.
“Taeng, itu Yesung disana. Cepatlah minta maaf, agar persoalan ini segera selesai.” Pinta Sunny.
“SHIREO!” tukas Taeyeon, menggelengkan kepalanya keras-keras. “aku tidak mau! aku senang sudah menamparnya, menyakitinya! Untuk apa berkata menyesal kalau dalam hati sangat tidak menyesal?”
“kau kan hanya minta maaf, tidak perlu mengatakan menyesal. Itu kan tata cara kesopanan saja,” Sunny mencoba membujuk Taeyeon. “dekati dia dan bicaralah, ‘Yesung, aku minta maaf’ begitu saja. tidak usah berbicara hal-hal lainnya.”
“shireo!” kata Taeyeon. “kali ini para Hakim dan Dewan Juri sudah berbuat kesalahan. Tak seorangpun bisa memaksaku meminta maaf.”
“Taeyeon, tidak peduli bagaimana perasaanmu, kau harus mematuhi Siwon dan Boa,” kata Sunny gelisah. “perasaanmu tak penting, yang penting adalah apa yang dirasakan anak-anak lain terhadapmu. Ini adalah masalah kau sendiri menghadapi pendapat seluruh warga sekolah ini!”
“mungkin juga. Tapi harus diingat kalau kali ini aku dipihak yang benar.” Kata Taeyeon dengan suara gemetar. “aku yakin Yesung memang suka menindas anak kecil!”
“Taeyeon, kerjakan saja apa yang sudah diputuskanoleh Rapat Besar, lalu kita berdua akan mengawasi Yesung, agar suatu saat kita bisa mengangkap basah dia,” pinta Sunny. “lakukan saja. demi aku, Taeyeon. Aku akan sangat sedih kalau kau tidak mematuhi Rapat Besar, sebab seisi sekolah pasti mengira kau takut minta maaf.”
“aku tidak takut!” kata Taeyeon dengan mata memerah.
Sunny tersenyum. Ia berpaling meninggalkan Taeyeon sambil berkata lagi,”kau takut. Kau takut menyakiti hatimu sendiri, meruntuhkan keangkuhanmu sendiri.”
Taeyeon langsung berjalan mantap kearah Yesung dan berdiri kaku, “aku minta maaf.”
Yesung membungkuk sopan dan menjawab, “kuterima permintaan maafmu.”
Taeyeon bergegas meninggalkan tempat itu, begitu cepat sehingga Sunny terpaksa berlari-lari kecil mengikutinya. “jangan mengikutiku!” bentak Taeyeon marah. Ia masuk ke ruang music, duduk di kursi piano. Dimainkannya sebuah lagu, dengan keras dan menggambarkan kemarahan. Kangta yang memang berniat ke ruangan itu dengan heran memasuki ruangan itu.
“GEE! Taeyeon.” seru Kangta. “belum pernah ku dengar lagu itu dimainkan sedemikian dahsyatnya. Berdirilah. Biar ku mainkan sebuah lagu yang lebih dahsyat dari itu, penuh rasa marah, dengan hujan badai hebat didalamnya.”
Taeyeon bangkit. Kangta memainkan lagu yang yang benar-benar dahsyat, penuh bayangan angin, laut, awan hitam, angin meraung-raung, dan pepohonan yang hampir bertumbangan. Kemudian badai reda, hujan turun rintik-rintik, angin berhenti bertiup, matahari terbit. Music pun menjadi lembut dan teduh.
Taeyeon mendengarkan itu semua. hatinya menjadi sejuk juga. Teduh dan lembut pula. Ia begitu mencintai music. Kangta meliriknya.
Yeoja mungil itu kini tampak tenang, tidak gelisah dan marah seperti tadi. Ia terus mainkan lagunya sampai terdengar lonceng berbunyi waktu tidur untuk Taeyeon.
“nah, sudah.” Kata Kangta, kemudian menutup pianonya. “sehabis badai, datang keteduhan. Sekarang pergilah tidur. Tidurlah dengan nyenyak, tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, arasseo?”
“ne, gomawo, oppa.” Ucap Taeyeon. Kangta tersenyum dan mengacak gemas rambutnya. “sekarang aku merasa lebih baik. Tadi hatiku panas dan mendendam. Tapi sekarang aku lega. Annyeongi jumuseyo!”
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 4

Cast : SM Family
Genre : School Life, Friendship
Length : 26 Chapters
P.S : FF ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.

–Trouble Maker– chapter 4 : What’s Going on The Meeting?

Rapat besar tiba. Taeyeon duduk disamping Tiffany dan Sunny, tak sabar menunggu waktu untuk melaporkan Yesung. Yesung duduk tidak jauh darinya, wajahnya muram dan sama sekali tak tersenyum. Tetapi di mata Yesung tampak sekali sinar licik setiap kali ia berpaling pada Taeyeon.
“aku takut kalau-kalau Yesung juga akan melaporkanmu,” bisik Sunny pada Taeyeon “sepertinya ia membunyikan sesuatu.”
“I don’t care!” kata Taeyeon. “tunggu saja sampai rapat ini mendengar laporanku!”
Siwon dan Boa masuk, bersama beberapa guru-guru. Hadirin berdiri. Kedua Ketua Murid duduk, dan rapat pun mulai.
Uang dikumpulkan. Jumlahnya tak banyak. Key baru saja berulang tahun dan memperoleh 5000 won. Semua dimasukkan kedalam kotak. Sehun memasukkan 500 won. Kemudian setiap anak memperoleh 2000 won. Krystal memperoleh tambahan 500 won untuk uang prangko.
“kau sudah temukan buku perpustakaan yang kau hilangkan, Key?” tanya Siwon. “minggu lalu kami berjanji akan mengembalikan dendamu yang 500 won jika buku itu berhasil kau temukan.”
“belum, belum ku temukan,” jawab Key. “padahal aku sudah mencarinya kemana-mana.”
“ada yang menginginkan uang tambahan?” tanya Boa, menggoncangkan kotak uang untuk mengira-ngira berapa banyak uang didalamnya.
“bolehkah aku mendapat uang tambahan?” tanya Luna berdiri. “minggu lalu uangku hilang semua, 2000 won. Aku benar-benar sedih karena sebenarnya aku akan membeli prangko.”
“bagaimana hilangnya?” tanya Boa.
“kantongku berlubang.” Jawab Luna. “uangku sepertinya jatuh entah dimana.”
“apa kau sudah tahu kalau kantongmu berlubang?” tanya Boa.
Luna ragu-ragu sejenak. Kemudian berkata, “ne, aku tahu ada lubang dikantongku. Tadinya kecil sekali. Aku tidak tahu kalau akhirnya membesar, cukup besar untuk dilewati uang.”
“siapa pengawasmu?” tanya Siwon. “oh, kau Sooyoung. Apa kau pikir itu karena kesalahan Luna sendiri?”
“begini,” Sooyoung mulai berbicara. “terus terang saja Luna tidak begitu pandai menjahit baju. Semester yang lalu ia kehilangan pisau lipatnya yang sangat indah. Juga karena jatuh lewat lubang saku. Betul kan, Luna?”
“ne.” kata Luna gelisah. “memang benar. Seharusnya lubang dalam saku itu segera ku perbaiki. Aku agak teledor dan tak terlalu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. aku berjanji tidak akan ada sakuku yang berlubang setelah ini. dan setelah ku pikir-pikir, rasanya lebih baik kubatalkan saja permintaanku tadi. Kukira uangku hilang karena kesalahanku”
Luna duduk. Dewan Juri berunding, cukup ramai. Kemudian seorang anak perempuan berdiri. Seohyun, seorang anak yang baik hati, dengan rambut coklat panjang dan lurus.
“boleh aku bertanya sedikit?” kata Seohyun. “kukira karena Luna telah mengaku bahwa itu kesalahannya sendiri dan karena biasanya ia sangat pemurah dengan uangnya, apakah tidak mungkin Luna mendapat sedikit keringanan dengan memberinya tambahan 2000 won?”
“kami baru saja merundingkannya.” Kata Boa. “dan keputusannya sebagai berikut. Kami hanya akan memberimu 1000 won, Luna, sebab kami yakin kau tidak akan berbuat kesalahan seperti itu untuk ketiga kalinya. Dan kau juga sudah berkata sejujurnya. Baiklah. Terimalah uang tambahan 1000 won ini.”
“oh, gomaseumnida!” kata Luna dengan senang, maju untuk menerima uang yang dimintanya itu. “aku sudah meminjam prangko pada Tiffany. Sekarang aku bisa membayar kembali utangku tanpa harus mengurangi uang sakuku yang 2000 won. Aku akan lebih berhati-hati lagi.”
“ada lagi yang meminta uang tambahan?” tanya Siwon mengetuk meja, sebab anak-anak sudah mulai ramai mengobrol sendiri. segera mereka terdiam.
Seorang anak perempuan bernama Yoona berdiri. “minggu ini nenekku berulang tahun,” katanya. “aku ingin mengiriminya selembar kartu. Bolehkah aku minta uang tambahan untuk membeli kartu itu beserta perangkonya?”
“tidak.” Jawab Siwon. “kau harus membelinya dengan uang sakumu. Permintaan tidak dikabulkan.”
Yoona mendesah kecil sambil kembali duduk, “hmm..baiklah.”
“ada permintaan lain?” tanya Siwon.
Tak ada yang bersuara. Taeyeon tahu kalau acara selanjutnya adalah mendengarkan keluhan atau pengaduan. Dadanya berdebar keras. Siwon berbicara sejenak dengan Boa, kemudian kembali mengetuk meja agar hadirin diam.
“ada laporan. Keluhan, atau pengaduan?” tanya Siwon. Taeyeon langsung berdiri. Tetapi Yesung juga berdiri, dan ternyata lebih cepat darinya.
“kau duluan, Yesung,” kata Siwon. “duduklah, Taeyeon, giliranmu setelah Yesung nanti.”
“oh, tapi, Siwon, aku harus melaporkan sesuatu yang sangat penting!”
“nanti juga bisa.” Kata Siwon. “duduklah.”
“tapi, Siwon, aku ingin melapor tentang Yesung!” kataTaeyeon suaranya meninggi.
“Taeyeon, lakukan apa yang diperintahkan padamu,” kata Boa. “kau nanti akan punya cukup banyak waktu untuk mengatakan apa yang ingin kau katakan.”
Tak bisa membantah lagi, Taeyeon duduk. Ia sangat marah. Matanya bersinar tajam kearah Yesung. Tapi Yesung pura-pura tidak melihat, tampak sangat sabar menunggu waktunya untuk berbicara.
“nah, Yesung, apa yang akan kau katakan?” tanya Siwon.
“aku harap yang akan ku katakan ini tidak dianggap mengadu.” Yesung mulai berbicara dengan suara sopan dan agak malu-malu. “tapi aku terpaksa melaporkan tentang kelakuan Kim Taeyeon padaku. aku selalu berusaha bersikap baik padanya..”
“ooo..” kata Taeyeon kesal. “kau tahu sendiri kata-katamu itu tidak benar! Kau sudah..”
“Diam, Taeyeon!” perintah Siwon tajam. “ kau bisa mengatakannya nanti setelah Yesung. Jangan menyela. Teruskan Yesung!”
Dada Taeyeon bagaikan meledak menahan marah. Sunny memegang lengan sahabatnya itu agar bersikap lebih tenang. Tapi Taeyeon menepis tangan Sunny.
“aku selalu berusaha untuk berlaku baik padanya.” Yesung melanjutkan, dengan suara yang sangat sopan. “tapi toh aku tidak bisa membiarkannya mencabuti rambut di kepalaku dan menampar mukaku keras-keras!”
Hening seketika semua. heran. Semua memandang Taeyeon. Yesung melanjutkan ceritanya, sangat senang karena semua memperhatikan kata-katanya. “di amplop ini kusimpan sebagian rambutku yang di cabut olehnya, sebagai bukti, kalau-kalau kalian tidak mempercayai kata-kataku,” kata Yesung lagi. “dan ada beberapa orang yang bisa dijadikan saksi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja karena Taeyeon seorang anak perempuan maka aku tidak mau membalasnya, walaupun aku tahu kalau di semester yang lalu ia memang terkenal sebagai trouble maker di sekolah dan..”
“kau tak usah membicarakan hal itu, Yesung. Tak ada hubungannya denga perkara ini.” tukas Siwon segera. “selama ini kita mengenal Taeyeon sebagai murid yang selalu bersikap adil dan baik hati, walaupun ia pernah sangat nakal. Bisakah kau mengatakan kenapa Taeyeon melakukan hal yang luar biasa itu?”
“ia tidak suka aku mengayunkan seseorang.” Kata Yesung. “ia selalu ikut campur apapun yang sedang kulakukan. Ia selalu tertawa kalau aku berbuat kesalahan dikelas. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini. aku sedang mengayunkan Sehun, dan Sehun menjerit-jerit kegirangan, tiba-tiba saja Taeyeon menyerbuku, mencengkram rambutku dan menariknya keras-keras, kemudian aku ditamparnya dan ditinjunya!”
“sudah, terima kasih.” Kata Siwon. “duduklah! Taeyeon, mungkin kau bisa menerangkan apakah yang dituduhkan Yesung tadi benar. Apa benar kau mencabut rambutnya dan menamparnya?”
Taeyeon langsung berdiri. Pipinya merah bagaikan api, matanya menyala-nyala murka. “Benar!” katanya hampir berteriak. “dan sudah pantas dia menerima hajaran itu! kalau perlu aku ingin mencabut rambutnya lebih banyak lagi, menamparinya..”
“cukup, Taeyeon!” Boa memutus perkataan Taeyeon. “kalau kau tak bisa mengendalikan dirimu, tak bisa menceritakan apa yang terjadi dengan baik, lebih baik kau tak usah berkata-kata lagi.”
Taeyeon tahu tak ada gunanya ia marah-marah. Sekuat tenaga ia mencoba bersikap tenang. “baiklah, akan ku ceritakan baik-baik apa yang terjadi.” Katanya. “dan kau akan tahu bahwa sudah sepantasnya aku marah, dan mungkin kau bisa memahami bahwa sepantasnya aku menamparnya. Waktu itu aku akan mengunjungi kelinciku. Tiba-tiba aku mendengar seseorang menjerit-jerit. Ternyata Sehun. Ia duduk diayunan dan berteriak minta agar Yesung tidak mengayunnya lagi sebab ia sudah sangat ketakutan.”
“teruskan.” Kata Siwon dengan nada dingin.
“aku segera berlari untuk menghentikan ayunan itu. tapi Yesung menghalangiku, mendorongku hingga terjatuh,” kata Taeyeon, merasakan betapa kemarahannya makin lama makin tinggi lagi, saat ita menceritakan apa yang terjadi. “aku bangkit dan menangkap Yesung agar tidak mengayun Sehun lagi. Sehun sudah begitu pucat dan terayun sangat tinggi. Aku takut kalau anak itu jatuh. Oh, Siwon, Boa, ini bukan pertama kalinya Yesung menyiksa anak kecil! Ia benar-benar seorang anak yang kejam!”
Hening sekali lagi. Setiap orang yang hadir tahu betapa gawatnya persoalan yang mereka hadapi. Siapa yang benar? Yesung atau Taeyeon? Bersifat kejam terhadap yang lemah suatu tindakan yang sangat dibenci di sekolah itu. tapi pemarah dan suka berkelahi juga suatu kesalahan besar.
Sunny sangat bingung. Ia tahu benar Taeyeon berniat untuk berkelakuan baik semester ini, dan ternyata kini si Trouble Maker ini telah terlibat suatu kesulitan berat! Tak ada gunanya menghentikan Taeyeon. Jika Taeyeon melihat sesuatu yang dianggapnya tidak adil, ia pasti langsung hilang kesabaran dan mencoba membenarkannya. Sunny tak tahu bagaimana perkara pelik ini bisa diselesaikan.
Siwon dan Boa berunding dengan suara perlahan. Dewan Juri juga membicarakan perkara tersebut. Yesung duduk dengan tenang. Ia bahkan tidak melihat Taeyeon sama sekali.
Siwon mengetuk meja, minta agar hadirin diam. “kami ingin bertanya pada mereka yang melihat peristiwa itu. siapakah yang hadir waktu hal tersebut terjadi?”
3 orang anak berdiri. Key, Taemin dan Minho.
Secara singkat mereka berkata bahwa mereka melihat Taeyeon mencabut rambut, menampar dan meninju Yesung.
“apakah Yesung balas memukul?” tanya Boa.
“kami tidak melihatnya berbuat itu,” jawab Minho, kemudian duduk. Ia merasa kasihan pada Taeyeon.
“sekarang akan bertanya pada Oh Sehun apa yang telah terjadi,” kata Siwon dengan suara yang berubah lembut. “berdirilah, Sehun, dan jawab pertanyaanku.”
Sehun yang baru berumur 12 tahun (anggap saja begitu! XD) itu berdiri. Kakinya gemetar. Ia sangat ketakutan melihat semua mata tertuju padanya.
“apakah Yesung mengayunkanmu terlalu tinggi?” tanya Siwon.
Sehun berpaling pada Yesung. Yesung memandangnya dengan pandangan aneh. Dan Sehun berbicara dengan suara yang bergetar, “ne, ia mengayunku cukup tinggi..”
“apakah kau ketakutan?” tanya Siwon.
“ttttidak..” jawab Sehun.
“apa kau menjerit minta tolong?” tanya Boa.
“tidak..” kata Sehun, melirik kearah Yesung. “aku hanya…aku hanya menjerit kegirangan..”
“terima kasih,” kata Siwon. “duduklah.”
Taeyeon meloncat berdiri. “Yesung pasti telah memaksanya untuk mengatakan itu semua tadi!” serunya. “coba tanyakan pada anak-anak kecil lainnya, apakah mereka ingin mengadu tentang Yesung!”
Boa berpaling pada tempat murid-murid kecil duduk. “Apakah ada diantara kalian yang akan mengadu tentang Yesung?” tanyanya. “kalau ia pernah berbuat kasar, membully atau menyakiti kalian, entah dengan cara apapun, harap menceritakan hal itu sekarang juga.”
Taeyeon menunggu. Menurut perkiraannya sekitar 6 orang anak akan berdiri dan memberi kesaksian. Tetapi ternyata tidak! Ruang itu sunyi. Tak seorang pun berdiri dan melapor sungguh aneh! Lantas, apa yang akan terjadi?
to be continue..

[FF] Trouble Maker – Chapter 2

Cast : SM Family

Genre : School Life

Length : 26 Chapters

Annyeong! 😀
Akhirnya bisa comeback lagi dengan fanfiction baru. Mianhae untuk FF sebelumnya yang belum selesai, mungkin belum bisa dilanjutin. 😦

tapi sebagai gantinya author Ashiya Says geret(?) FF baru dengan cast dari rombongan SM Family (Kangta, BoA, TVXQ, Super Junior, SNSD, SHINee, F(x), EXO)

FF kali ini terinspirasi (mungkin bisa dibilang seperti itu) dari novel terjemahan karya Enid Blyton yang berjudul The Naughties Girl Again. Author ga bermaksud memplagiat karena ceritanya sendiri TIDAK diambil 100% dari novel tersebut dan juga menyertakan judul dan pengarang novel aslinya.
okay, kita mulai saja cerita khayalannya. kkkkk~

–Trouble Maker– chapter 2 The Life in School Begins

Akhirnya semua siap untuk memulai kehidupan di sekolah itu. kecuali beberapa murid baru, murid-murid lama kebanyakan berada dikelas yang sama seperti semester lalu. Beberapa orang memang pindah ke kelas yang lebih tinggi, dan untuk beberapa hari mereka merasa dirinya istimewa. Ketiga anak baru yang ditemui Taeyeon waktu mereka pertama kali datang ke sekolah itu ternyata memang sekelas dengannya.
Mrs. Song mencatat nama mereka. “Choi Sulli, Liu Amber, Kim Yesung.”
Sulli tampaknya bersifat periang, dengan rambut panjang lurus di kepang dua berwarna coklat. Matanya yang coklat selalu berseri dan membentuk eyes smile ketika tersenyum. Anak-anak lain segera merasa bahwa Sulli akan menjadi teman yang menyenangkan.
Liu Amber, yeoja berpenampilan seperti namja. Tomboy. Rambutnya di pangkas pendek seperti laki-laki dan tak pernah bisa rapi, wajahnya menggambarkan perasaan yang tidak menyenangkan, seperti cemberut terus menerus. Beberapa hari pertama tak ada yang menyukai Amber.
Kim Yesung, wajahnya memang tampan tapi juga muram. Tetapi bila tersenyum wajah itu sangat berbeda, lebih menyenangkan.

“aku tak menyukai bibir Yesung. Kalau kau bagaimana?” tanya Sunny suatu hari pada Taeyeon. “bibirnya terlalu tipis dan selalu cemberut. Tampaknya ia juga agak kejam.”
“ah, sudahlah toh kita tidak bisa mengubah bentuk bibir kita.” Kata Taeyeon.
“kukira dalam hal ini kau salah,” kata Sunny. “aku yakin wajah kita cermin pribadi kita, bisa diubah!”
Taeyeon tertawa. “kalau begitu alangkah baiknya kalau Amber segera berusaha mengubah wajahnya!”
“ssst,” bisik Sunny. “dia dengar lho!”
Minggu pertama terasa berlangsung lama sekali. Buku-buku baru dibagikan, begitu juga pensil dan pena baru. Tempat duduk dikelas ditentukan, dan ternyata Sunny duduk berdampingan dengan Taeyeon. Mereka duduk dekat jendela, bisa melihat keindahan bunga di kebun.
Siapa pun yang mau boleh bekerja di kebun. Shim Changmin membagikan petak-petak tanah pada mereka yang ingin ikut bercocok tanam dengan syarat mereka harus ikut memeliharanya dengan baik. Petak-petak kecil ini berbatasan dengan dinding pagar, merupakan petak-petak kecil indah dengan bunga beraneka warna. Ada juga yang menanam sayuran dan tanaman hias. Bahkan seorang anak yang sangat mencintai mawar menanamkan enam batang bunga mawar dipetak bagiannya tanpa tumbuhan lainnya!
Taeyeon tidak mau kalau hanya kebagian satu petak. Ia lebih suka membantu Changmin di padang yang lebih luas. Taeyeon sudah ingin membuat rencana baru bersama Changmin tentang kebun sekolah mereka. Ia banyak memiliki rencana tentang berkebun, dan semasa liburan ia tekun mempelajari buku berkebunnya.
Mereka juga diperkenankan memelihara binatang kesayangan mereka. Kecuali anjing atau kucing, sebab keduanya sulit diurus dan tak bisa ditaruh didalam kandang. Ada yang memelihara kelinci, marmut, burung merpati lengkap dengan rumah-rumahannya di puncak sebatang tiang tinggi, ada yang membawa burung kenari atau ikan emas. Sungguh menyenangkan memiliki binatang peliharaan. Tidak semua anak mempunyai binatang peliharaan, sebab hanya mereka yang sayang binatang sajalah yang diberi hak untuk mengurus binatang peliharaan mereka.
Binatang-binatang peliharaan itu dikumpulkan dalam sebuah pondok besar dan luas, tak jauh dari kandang kuda yang biasa dinaiki oleh anak-anak itu. sekolah juga beternak ayam dan itik. Ini bukan termasuk binatang peliharaan ank-anak, tetapi siapa saja yang senang boleh ikut membantu mengurus dan memberi makan unggas-unggas itu. dipadang rumput sekolah juga di gembalakan tiga ekor sapi Korea yang sehat-sehat, sumber susu tak kering-kering. Dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki bertugas untuk memerah sapi-sapi tersebut. Untuk tugas tersebut mereka terpaksa harus bangun lebih pagi setiap hari. Tetapi mereka tidak keberatan. Bagi mereka tugas tersebut adalah semacam kegemaran. Sesuatu yang menyenangkan.
Sulli memiliki beberapa ekor tikus putih kecil dan lucu. Sulli sangat senang pada tikus-tikus tersebut. Tikus-tikus itu diletakkan didalam sebuah kandang besar yang dibersihkan dengan teliti setiap harinya olehnya sendiri. Tikus-tikus ini merupakan suatu keunikan, belum pernah sebelumnya ada yang memelihara tikus. Suatu hari Taeyeon dan Sunny berkunjung kekandang tikus-tikus tersebut.
“kyeopta, ne?” kata Sulli, dan membiarkan seekor tikus lari di lengannya, didalam lengan bajunya. “lihat matanya! Merah dan lucu! Cobalah, Taeyeon, biarkan yang dia lari didalam lengan bajumu. Geli sekali rasanya, tetapi menyenangkan!”
“oh, gomapta.” Kata Taeyeon cepat-cepat. “bagimu mungkin menyenangkan, tetapi pasti tidak bagiku.”
“annyeong! Itukah tikus-tikus putihmu, Sulli?” tanya Sungmin yang tiba-tiba muncul. “manis-manis sekali! Hei, lihat! Ada seekor didalam bajumu, mengintip dari balik leher baju! Kau sudah tahu?”
“oh, tentu saja,” kata Sulli. “ambillah, Sungmin. Ia pasti lari didalam lengan bajumu dan muncul di leher.”
Memang benar kata Sulli. Tikus tadi berlari menyusuri lengan baju Sungmin dan tak lama ujung hidungnya yang kecil-mungil muncul dibalik leher baju. Sunny menggigil geli dan takut juga.
“ih! Rasanya tak mungkin aku tahan dijadikan tempat lari tikus-tikus itu.” kata Sunny berbalik melihat Jessica yang asyik dengan burung merpati peliharaannya.

Lonceng berbunyi. Tikus-tikus tersebut segera dimasukan kembali kedalam kandang. Sunny cepat-cepat menengok kedua ekor kelincinya. Gemuk-gemuk dan tampaknya tak kekurangan suatu apapun. Kelinci-kelinci tersebut dirawatnya bersama Taeyeon.
Waktu minum teh dan makan malam terasa lebih menyenangkan di minggu pertama itu. anak-anak diperkenankan untuk mengeluarkan apa saja yang mereka sukai dari kotak penganan yang mereka bawa dari rumah. Kue, kimchi, permen, coklat, sushi, daging kaleng, selai, dan lain-lain. Semua saling membagikan bawaan mereka masing-masing walaupun Yesung, si anak baru, tampaknya tidak terlalu gembira dengan kebiasaan itu. Taeyeon juga melihat Amber tidak menawarkan kuenya, walaupun tanpa keberatan ia menawarkan kimchi yang dibawanya.
Taeyeon teringat betapa pelitnya ia sendiri dulu, tak mau membagikan makanannya. Mengingat hal itu, maka ia diam saja melihat perbuatan Yesung dan Amber. “aku tidak bisa menyalahkan orang lain untuk perbuatan yang dulu juga pernah kulakukan,” katanya dalam hati. “aku harus bersyukur bahwa sekarang kelakuanku sudah berubah.”
Rapat Besar pertama merupakan suatu acara terbesar minggu pertama itu. semua murid diharuskan hadir. Guru-guru yang ingin ikut hadir boleh datang. Biasanya pimpinan sekolah, Mr. Lee Sooman, diperlukan untuk hadir. Begitu juga guru-guru yang lainnya. Tetapi biasanya guru-guru ini duduk dibagian belakang ruangan dan tidak ikut campur dalam rapat yang sedang berlangsung, kecuali diminta.
Rapat Besar tadi memang semacam Parlemen sekolah. Disitulah anak-anak membuat peraturan mereka sendiri, mendengarkan laporan tentang pelanggaran peraturan, keluhan atau kritik. Bila ada yang berbuat salah, mereka sendirilah yang mengadili serta menentukan hukuman apa yang harus dijatuhkan.
Memang tak menyenangkan bila kesalahan kita dibicarakan secara terbuka oleh seluruh murid. Tetapi disisi lain, kita juga harus berterima kasih, jarang sekali kita tahu bahwa diri kita bersalah dan bila hal ini tidak segera diakhiri maka kesalahan tersebut makin hari akan makin besar, makin sulit untuk dibenarkan lagi.
Banyak murid yang dengan cara tadi bisa “sembuh” dari kebiasaan buruk mereka, seperti mencontek, berbohong, nakal atau perbuatan tak baik lainnya, dengan petunjuk dan teguran yang dijatuhkan oleh kawan-kawan mereka sendiri di Rapat Besar.
Rapat Besar pertama diadakan sekitar satu minggu setelah sekolah mulai. Murid-murid berduyun-duyun memasuki ruang auditorium. Sebuah meja besar disediakan untuk 12 Pengawas, yang akan bertindak sebagai Dewan Juri. Mereka ini hasil pemilihan semester musim panas dan akan terus menjabat sebagai Pengawas selama sebulan lagi. Setelah waktu sebulan tersebut, diadakan pemilihan lagi. Mungkin ada yang terpilih kembali, atau mungkin juga tempat mereka digantikan anak lain.
Semua harus berdiri saat Siwon dan Boa, 2 orang Ketua Murid yang pada Rapat Besar menjadi Hakim, memasuki ruangan.
Keduanya duduk di tempat yang disediakan dan hadirin pun duduk kembali.
Siwon mengetuk meja dengan palu kecil, semua terdiam.

“tak banyak yang harus kita bicarakan hari ini.” kata Siwon. “aku yakin semua anak baru sudah diberi tahu mengapa kita mengadakan Rapat Besar ini setiap minggu, dan apa yang kita lakukan pada setiap Rapat Besar ini. kalian semua melihat, di meja ini duduk 12 pengawas kita. Kalian semua tahu mengapa mereka terpilih sebagai pengawas. Mereka kita pilih karena kita percaya akan kemampuan mereka untuk berpikir tajam dan adil, setia pada sekolah dan baik hati. Dan karena kita sendiri yang memilih mereka, maka kita harus mematuhi mereka dan mengikuti peraturan yang mereka buat.”
Kemudia Boa berkata, “kuharap kalian semua telah membawa semua uang yang kalian miliki. Mungkin anak baru sudah diberitahu, semua uang yang kita miliki harus dimasukkan kedalam kotak uang bersama. Dari kotak tersebut tiap minggu setiap anak akan diberi uang saku sebesar 2000 won. Dengan uang tersebut kalian bisa membeli apa saja yang kalian inginkan seperti perangko, makanan, make up, tali sepatu, dan sebagainya. Kalau ada yang memerlukan uang lebih dari 2000 won maka ia harus menerangkan apa sebab keperluan berlebih itu. dan Rapat Besar akan memutuskan apakah keperluan tersebut patut disetujui. Bila disetujui maka uang tambahan akan diberikan. Nah, sekarang harap siapkan uang kalian, Sooyoung akan mengedarkan kotak uang.”

Sooyoung bangkit. Diambilnya kotak, diberikannya pada anak diujung tiap baris. Anak tersebut akan memasukkan uangnya kedalam kotak dan kemudian memberikannya pada anak disampingnya dan begitu seterusnya. Semua memasukkan uang mereka, kecuali Kim Yesung. Ia tampak keberatan.
“begini,” kata Yesung. “aku punya uang 20.000 won dari kakekku. Tetapi kurasa tak ada perlunya memasukkannya ke dalam kotak. Bisa-bisa aku tak dapat melihatnya lagi nanti.”
“Yesung, di antara kita ada yang punya uang terlalu banyak, ada pula yang terlalu sedikit,” Siwon menerangkan. “kadang-kadang bila kita berulang tahun memperoleh hadiah uang banyak sekali, tetapi kadang-kadang kita juga tak punya uang sama sekali. Dengan memasukkan uang kita ke dalam kotak uang bersama, maka kita bisa yakin bahwa setiap minggu kita pasti mempunyai uang saku 2000 won. Semua mendapat uang saku yang tepat sama, jadi adil. Dan kalaupun kita memerlukan uang lebih dari itu, kita selalu bisa minta pada Dewan Juri untuk memberi ijin memperoleh kelebihan uang itu. nah, sekarang masukkan uangmu.”
Yesung memasukkan uangnya, tetapi tampak sekali ia memasukkannya dengan terpaksa. Mukanya semakin muram saja, lebih muram dari biasanya.
“jangan cemberut terus.” bisik Taeyeon. Tetapi Yesung malah memandangnya dengan marah sehingga Taeyeon tak mau berbicara lagi. Sooyoung mengambil kembali kotak uang tadi dan membawanya ke meja didepan. Kini kotak itu tampak sangat berat.
2000 won dibagikan pada semua anak, langsung mereka simpan di saku atau dompet. Siwon dan Boa juga mendapat bagian 2000 won seperti anak lainnya.
“ada yang memerlukan uang tambahan minggu ini?” tanya Siwon, melihat sekeliling.
Kim Kibum atau yang lebih akrab disapa Key berdiri, “bolehkah aku mendapat tambahan 500 won?” tanyanya. “aku meminjam buku dari perpustakaan sekolah, dan buku tersebut sepertinya terselip entah dimana. Aku didenda 500 won.”

“ambil 500 won dari uang sakumu yang 2000 won itu,” kata Siwon dan para anggota Dewan Juri mengangguk setuju. “Kurasa tak pada tempatnya bila sekolah harus ikut membayar sesuatu yang terjadi karena kelalaianmu, Key. Sudah terlalu banyak buku yang hilang. Bayar sendiri denda 500 won itu, dan uang itu akan kau peroleh kembali bila buku tersebut sudah kau temukan. Permintaan uang tambahan di tolak.”
Seorang anak perempuan berdiri.

“ibuku pergi ke luar negeri. Aku harus menulis surat padanya seminggu sekali. Tetapi surat ke luar negeri prangkonya 1000 won. Bolehkah aku memperoleh sedikit uang tambahan untuk meringankan bebanku itu?”
Para anggota Dewan Juri berunding. Mereka setuju bahwa kasihan jika Krystal harus menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk keperluan membeli prangko.
“baiklah. Setiap minggu kau akan memperoleh uang tambahan 500 won.” Kata Boa. “itu berarti kau hanya mengeluarkan uang 500 won dari uang sakumu, sedang sisanya dibayar sekolah. Kurasa itu cukup adil.”
“oh, ne!” kata Krystal bersyukur. “gomawo!” 500 won diberikan pada Krystal dan dimasukannya ke dalam dompet.
“kukira itu saja acara kita minggu ini,” kata Boa melihat buku catatannya. “kalian mengerti bukan, bahwa segala tingkah laku kasar dan buruk, seperti keji, keras kepala, berlaku curang di ujian atau ulangan, mengancam anak yang lemah dan sebagainya, harus dibawa ke Rapat Besar ini untuk diselesaikan bersama. Ku harap anak-anak baru bisa mengerti bahwa laporan di Rapat Besar bukan hanya sekedar mengadu. Kalau bingung harap bertanya pada pengawas masing-masing.”
“sekarang…ada keluhan atau pengaduan?” tanya Siwon, mengangkat wajahnya. Tak ada. Maka Rapat Besar itu pun bubar. Anak-anak berhamburan keluar. Taeyeon agak melamun waktu keluar itu. ia mengenang saat-saat pahit yang dialaminya dihampir setiap Rapat Besar semester lalu. Begitu keras kepala dan kasar kelakuannya waktu itu. ia hampir tak bisa mempercayai itu sekarang.
Ia pergi dengan Sunny untuk memberi makan kelinci mereka. Seekor diantaranya begitu jinak, berbaring diam di gendongan Taeyeon.
“tampaknya semester ini akan berlalu tenang-tenang saja,” kata Sunny. “kuharap seterusnya suasana seperti ini.”
Tetapi ternyata harapan Sunny itu tinggal harapan.

to be continue~
RCL, please! 😀